Menua dengan Gembira merupakan buku kumpulan esai pertama Andina Dwifatma. Ia menyebut esai-esainya dalam buku ini sebagai kumpulan "rasan-rasan" tentang kehidupan warga pinggiran kota.
Tinggal di pinggiran Jakarta selama lima belas tahun memaparkan Andina pada banyak persoalan. Mulai dari perkara-perkara yang terjadi di sekitar kompleks tempat tinggalnya, hingga masalah transportasi umum yang memble, dan perkara lain yang ditulisnya dengan gaya yang sederhana, tanpa banyak jargon ilmiah, serta dikisahkan dengan cara yang memikat.
Buku ini berisikan esai-esai ringan yang sesungguhnya bisa dibereskan sekali duduk. Buku yang hanya setebal 142 halaman ini berisi 26 judul yang intriguing, relatable, dan lumayan bikin cekikikan atau ngangguk-ngangguk sok paham.
Isi setiap esainya terasa dekat, namun dengan cerdik dan tidak membosankan, Mba Andina mampu meramu itu menjadi sesuatu yang insightful.
Saya pribadi banyak mendapatkan reminder untuk bagaimana baiknya bersosial, baik di masyarakat maupun dunia maya.
Hal-hal yang sering saya alami dan amati dan merasa itu tidak begitu penting, ternyata punya 'sesuatu' untuk dibicarakan.
Judul favorit saya jatuh pada; Sebungkus Cireng di Status WhatsApp, Dilema Smartphone, Menua Dengan Gembira, The Problem That Has No Name: Sastra dan Identitas Keseharian Perempuan, Film,Televisi dan Lelucon Jorok, serta Di Pasar Malam 💖
Overall, saya suka sekali. COVERNYA JUGA CANTIK BANGET 😭😭😭👌
Bukunya tipis tapi tidak bisa ditamatkan dalam sekali duduk. Kontennya sederhana tapi terasa dekat. Untuk kita semua, menualah dengan gembira, tapi duitnya unlimited bisa gak sih? ;(
Pernah makan oki jelly drink nggak? Nah, membaca kumpulan esai ini mirip dengan makan oki jelly drink karena semuanya terasa mudah bahkan nyaris seperti minum. Hal yang paling membagongkan adalah gaya Andina menulis pun seakan tanpa beban. Semuanya effortless, meski yang dibahas soal kehidupan emak-emak, celotehan kelas menengah, menghadapi pandemi hingga beragama dalam negara Indonesia Raya. Gokil.
Bagian paling aku suka adalah cara Andina menyisipkan percakapan kita sehari-hari. Sehingga meskipun aku nggak paham apa-apa soal budaya pop (sebab aku nonton film aja nggak bisa), aku jadi mengerti apa yang dibicarakan. Pilihan panjang esai juga pas, aku kadang resah karena ini esai kok nggak kelar-kelar tapi Andina tidak membuatku begitu. Pas selesai malah berasa, eh kok sudah selesai. Besok aku baca apa ya?
Jujur, Andina menempatkan standar tinggi untuk penulis perempuan di Indonesia sekarang. Dia informatif dan menghibur, dua hal yang jarang aku temui saat membaca buku nonfiksi (terutama buku konflik SDA dan hukum yang sialnya harus aku baca selalu). Menurutku buku ini bisa untuk U13+ kok karena saking mudahnya, apalagi gen Z sekarang udah banyak baca AU daripada berita online kan?
Duh, kebanyakan muji-muji nih nanti aku dikritik karena tidak kritis dalam membaca lagi deh. Bodo amat yg jelas si Andina juga membuatku minder, apakah mungkin aku bisa nulis lagi ? 🥲
Supposedly jadi nonfiksi terakhir yang dibaca pada 2023. Ini buku yang kontemplatif. Pembaca diajak melanglang buana di dunia yang dekat; sedekat twitwar di media sosial dan keriuhan grup WhatsApp keluarga yang ada di genggaman serta pasar malam berjarak 5 menit dari rumah. Tulisan untuk anaknya, Nina, berjudul "Film, Televisi, dan Lelucon yang Jorok" jadi tulisan terkontemplatif versi saya.
Saya juga menyukai bentuk opini yang isinya lebih banyak percakapan (kalimat langsung), seperti pada "Kisah Amin" dan "WFH yang WTF". Terasa lebih menggugah. Ini sepertinya gaya baru dalam menuliskan opini ya.
Sebetulnya, ada dua unek-unek penulis dari ceceran tulisan-tulisannya di buku ini.
Pertama, ada dua tulisan yang menyebut seorang sutradara film. Di tulisan satu, si sutradara dielu-elukan berkat membuat film yang "mendobrak stereotipe" (orang Tionghoa). Tapi di tulisan dua, film si sutradara jadi contoh tidak baik yang menyodorkan "seks (yang) sering diselundupkan sebagai bahan lelucon". Meski memang dibahas dari konteks dan tema yang berbeda, dua preseden yang diangkat tersebut bikin saya mempertanyakan stand point penulis terhadap karya si sutradara.
Kedua, di beberapa tulisan (mungkin lebih dari dua), penulis kerap menyebut-nyebut tentang penulis kawakan berinisial SGA. SGA kerap dikutip oleh penulis dengan tendensi yang baik-baik. Ini sedikit-banyak memperlihatkan keterhubungan antara penulis dan SGA. Mungkin penulis memfavoritkan karya-karya SGA. Yah, sebenarnya tidak apa-apa juga. Tapi, ya masa satu orang itu saja yang dikutip ke dalam tulisan?! Padahal, konon di "Catatan Penulis"-nya, penulis ingin menulis esai dengan semangat "gaya para kolumnis senior" yang ia idolakan. Yang lebih disayangkan lagi, tidak ada satu pun kata-kata atau paragraf "para kolumnis senior" itu yang masuk ke tulisan-tulisannya.
Terlepas dari dua unek-unek itu, buku ini begitu santai mengangkat topik yang dekat dengan kita, tapi juga memberikan pesan dan kesan yang hangat. Mungkin ada pengaruh euforia jelang tahun baru juga, sehingga saya merasa begitu positif dengan buku ini.
Buat aku yang sedang senang-senangnya belajar menulis, esai Andina Dwifatma ini seperti guru yang layak digugu dan ditiru.
Mengusung (cielah) semangat menulis dengan sederhana--menulis seperti bercerita, aku dibikin menyelesaikan buku ini dalam satu kali tengkurep saja 👍🏽
Ngobrolin soal polah tingkah warga pinggiran Jakarta (iya, saya) memang nggak ada habisnya. Tapi, bukan sekadar ngobrolin, esai ini dagiing banget karena lewat peristiwa/fenomena yang kayaknya gitu-gitu aja, kok ya ternyata ada makna mendalam ya 🤔
Mana kepikiran nulis tentang kebiasaan orang liat status whatsapp ibu2 jualan cireng lalu ghibah tentang kesejahteraan finansial si pembuat status (dugaannya adalah kalau istri jualan cireng di status, maka suami penghasilannya rendah 🤣), menjadi esai berbobot yang membawa isu: 'perempuan menikah/IRT juga berhak loh berdaya!' (terlepas bagaimanapun kondisi finansial rumah tangganya).
Atau menulis tentang bagaimana seiring dengan perkembangan diri, hal-hal yang dulu kita sukai atau nilai-nilai yang dulu kita pegang, sudah berubah, lewat obrolan pembuka tentang gimana red-flagnya 🚩 Dao Ming Si di drama Meteor Garden. 🤣
Herannya, kok Mbak Andina bisa ya menjait itu semua jadi esai yang 'ada isinya' dan menghighlight pesan tersembunyi disana.
Kapan lagi coba ngobrolin nenek-nenek ngaji mulu sambil diselipin isu bahwa religiusitas dan inklusivitas sesungguhnya bisa jalan barengan, atau nyinyirin grup WA keluarga besar yang isinya flexing oom--tante/hoax tapi berkedok ✨️perhatian✨️ dan "cuma share dari grup sebelah kok" 🤣
Anjirloh. Cerdas banget mau menanges 😭
Jadi inget film Three Idiots. Salah satu scene-nya, si tokoh utama menjelaskan dengan simple soal apa itu resleting. Tapi, dosen dan temen-temennya ngetawain karena dianggap 'terlalu dangkal'.
Padahal, ketika kita benar-benar mengerti, maka penjelasannya malah semakin membumi. Karena menyederhanakan hal sulit sampai mudah diterima oleh banyak kepala, itu loh yang sulit!
Suka sekali dengan gaya bertutur penulis yang ringan dan menjurus serius. Meski isinya memang ditujukan untuk sekadar rasan-rasan, tapi kami (anggaplah mewakili sebagain besar pembaca lain) butuh tulisan-tulisan yang lebih variatif dari Andina.
Salah satu sisi penting dari ini tentu saja adalah dokumentasi dan potret kehidupan sehari-hari masyarakat urban kebanyakan, baik di Jakarta maupun kota-kota penyangga di sekitarnya, di mana Andina tinggal dan mengalami langsung sepanjang setidaknya dua dekade pertama abad 21 ini. Sebagai mahasiswa sejarah, pikiran yang pertama melintas di benak adalah bahwa nantinya -mungkin beberapa puluh tahun ke depan, buku ini akan menjadi salah satu sumber sejarah ketika ada yang ingin menulis sejarah perkotaan (Jakarta), terutama terkait masyarakat, aktivitasnya maupun kota yang mereka hidupi. Di tengah serbuan dan limpahan konten-konten keseharian yang berbasis visual/video, keberadaan tulisan seperti dalam kumpulan esai ini amat penting untuk mengimbangi, pun memberikan alur berpikir dan bercerita yang lebih runut dan, bagi saya pribadi, abadi.
Selalu menyenangkan membaca tulisan-tulisan esai Andina, terutama dulu waktu masih aktif di blog maupun Pana Journal. Ditulis dengan ringan, dekat, beberapa bagian cukup kocak, dan terutama menyajikan apa yang biasanya luput atau terlewat karena sudah dianggap wajar dan rutin terjadi dalam kehidupan. Nyaris seluruh tulisan dalam buku ini juga sudah saya baca sebelumnya, terutama yang dulu dimuat dalam Kumparan+; jadi ini semacam pengulangan-baca. Tapi memang, entah kenapa jauh lebih asik dan menyenangkan ketika sudah dibukukan secara fisik begini ketimbang masih dalam bentuk artikel daring seperti sebelumnya.
Dunia harus tau kalau buku ini dibelikan pacarku yang paling keren 🥺❤️ Sebagai hadiah ulang tahun yang ke-25. Cocok ya, aku jadi baby adult terus dikasih buku Menua dengan Gembira, yang mana emang udah masuk wishlistku.
Setelah baca Semusim dan Semusim Lagi sama Lebih Senyap Dari Bisikan, aku uda jatuh cinta sama karya-karya Kak Andina. Ditambah ternyata beliau ini juga seorang jurnalis ya, makin keren buatku. Bisa baca kumpulan esai Kak Andina ini rasanya jadi lebih banyak mengetahui pemikirannya tentang beragam isu di kehidupan sehari-hari.
Jadi tau juga semacam behind the scene dari proses pembuatan buku Lebih Senyap Dari Bisikan. Baca ini cukup maksimal 3 kali duduk jika kita memiliki banyak kesibukan. Ringan tapi padat! Bikin berefleksi juga kadang-kadang, tersenyum geli dan angguk-angguk juga iya.
Opini-opini ringan Kak Andina enak sekali dinikmati, thanks to Shira deh yang mau nerbitin ini. Jadi bisa kenalan sama Nina juga, anak Kak Andina di sini. Sukses terus Kak! Aku akan menunggu masterpiece selanjutnya! ❤️ Kekurangan buku ini kayaknya kurang tebel 🤭
Di esai "Yang Terjepit dan Terdesak". Mbak Andina menulis:
"...tulisan ini bukan sebagai upaya meromantisasi penderitaan warga pinggiran Jakarta yang hidupnya habis di jalan. [...]. Terimalah obrolan ini sekadar sebagai upaya membuktikan kreativitas manusia dalam menerima hidupnya."
Menurutku, quotes ini menggambarkan lebih dari setengah isi buku ini. Buku ini berisi 26 esai dengan topik yang ringan (grup whatsapp keluarga, WFH, kepanikan era Covid, masalah ART, dan commuting) dan agak berat (film Indonesia, kematian, dan buku bertema domestik). Persamaannya, semua esainya mudah dibaca dan bikin mikir: "iya juga,"
Yang aku suka dari tulisan-tulisan di buku ini adalah, cara penulisnya mengangkat topik yang familiar, tapi mengamatinya dengan serius (sampai ada kutipan risetnya untuk menjelaskan fenomena tertentu). Dan sebaliknya, topik-topik yang lebih serius dibahas dengan mudah dipahami.
Recommended untuk yang lagi cari bacaan non fiksi yang bisa dibaca sekali duduk dan mungkin buat warga yang tinggal di pinggiran Jakarta dan mesti commuting tiap hari.
Buku ringan yang ngajak ngakak sekaligus mikir juga lewat kumpulan tulisannya yang menarik.
Grup WhatsApp tempat berbagi banyak info yang pasti valid karena ada dotcom-nya, nikmatnya war di medsos tanpa perlu expertise di Negeri Opini, dan kemungkinan mendapat pasangan dengan kecepatan cahaya berkat Tinder.
Selain soal teknologi, dibahas juga Meteor Garden cerita romatis yang pemeran laki-lakinya ternyata banyak red flagnya, tetangga yang kalau numpang parkir bisa sampai ganti musim, nama anak yang makin kesini makin kesana (ini relate karena beberapa hari lalu aku ketemu bocah aktif suka bersosial pas di kolam renang. Sayangnya waktu ditanya namanya siapa, dia sendiri kesusahan nyebutnya😂).
Dari 24 cerita, aku paling suka Kantor Berita Medsos, Yang Kalah Pindah Agama, Di Pasar Malam!
Diantarkan "Lebih Senyap dari Bisikan", saya tertarik membaca buku ini. Bedanya, buku bersampul manis ini berisi kumpulan esai Andina yang ditulisnya pada 2017-2020. Isinya menarik. Mulai dari kehidupan kota pinggiran Jakarta, budaya pop, hingga peristiwa kecil yang ditemuinya.
Membaca buku ini, saya merasa akrab dengan beberapa tulisannya: "Indahnya Grup WhatsApp Keluarga", "Dilema Smartphone", maupun "Doom-Surfing" saat pandemi. Boleh dibilang mengalami peristiwa tersebut (yang mungkin terkesan biasa saja apabila diobrolkan dalam tongkrongan), namun Andina membuatnya asyik dan apa adanya sehingga mudah diterima.
Paragraf terakhir halaman 13 adalah salah satu contohnya. Dilema membalas pesan saja dapat diceritakan dengan jujur. Begitu juga dengan maraknya istilah skincare yang terkesan "mudah saja" bagi Andina menuliskannya. Inilah yang menjadi kelebihan. Saya pun mengagumi berbagai sudut pandang yang diambil penulis.
Sebagai bukti, kita dapat membaca "Premeditatio Malorum". Di balik sekelumit cerita Roykhan Ghifari, saya menemukan banyak pesan di sini: tentang menyelesaikan apa yang sudah dimulai, kesiapan menerima berbagai peristiwa, hingga menikmati hidup dengan sebaik-baiknya.
kita diajak untuk melihat kehidupan bermasyarakat Indonesia yang kelihatannya "normal" dengan lebih mendalam. sehingga membuat pikiran kita lebih terbuka untuk membedakan mana yang lebih baik tidak dilakukan lagi, dan mana yang dirasa bisa dilakukan lebih baik. dengan bahasa khas dosen tetapi tidak terlalu ilmiah—alias mudah dimengerti untuk aku sebagai orang yang mual dengan bahasa dosen—membuat buku ini seperti sedang mengobrol dua arah dengan seorang dosen. seru banget diajak diskusi berat dengan nuansa ringan. terima kasih banyak bu Andina telah membuka pikiran saya :)
Baca buku ini rasanya sama kaya lagi ngobrol sama temen, bahas fenomena-fenomena sosial yang ada di sekitar. Dekat dan ringan (walaupun beberapa cerita di akhir mengangkat topik yg lebih berat). Beberapa esai buat ketawa lirih karena cuma bisa meratapi nasib, beberapa menyelipkan “tips” menghadapinya. Mungkin memang aset terbesar dari negara ini ya orang-orangnya yg mudah dibuat senang 🤣
++ sebuah gerakan pintar dengan mencuplik novel kedua penulis di buku ini, lebih senyap dalam bisikan, next TBR!!
Isinya berupa kumpulan essai yang isinya tentang fenomena masyarakat pada saat pandemi covid-19 terutama untuk kaum yang tinggal di pinggiran Jakarta seperti aku huhu🥹🥹
Ringan dan ga berat sama sekali! Suka sama cara kak andina mengomentari beberapa fenomena yang marak waktu itu saat pandemi covid-19. Jadi tau beberapa informasi baru aku ketahui.
Aku suka esai-esainya yang singkat dan seru buat dibaca. Penyampaiannya ringan dan topiknya juga beragam jadinya ga bosen. Buku ini tipiiis, cocok buat dibaca sebagai selingan kalo lagi bosen sama bacaan saat ini atau pengen dijadiin sebagai weekend read.
Bacaan yang ringan, terkadang menggelitik, bikin ikutan marah dan gemas juga, terkadang ikutan ngangguk-ngangguk dan terkekeh. Mungkin akan jadi bacaan yang kurekomendasikan pada readers yang sedang mengalami reading slump.
Hanya butuh dua hari untuk melahap esai-esai dalam buku ini, yang temanya sangat menarik dan relevan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat urban Jakarta. Beberapa esai membahas fenomena yang terjadi selama pandemi, seperti meningkatnya misinformasi dan disinformasi di kalangan masyarakat menengah ke bawah yang sehari-hari hanya mengandalkan pesan di grup WA sebagai sumber informasi utama. Hal ini membuatku semakin sadar akan privilese yang aku miliki.
Esai-esainya ditulis dengan gaya yang seru, ringan, singkat, dan jauh dari nada menggurui. Beberapa isu yang dibahas terkadang sudah pernah terlintas di pikiranku, meski belum sempat kugalang sedalam Kak Andina, seperti dampak doomscrolling pada kualitas hidup sehari-hari. Barangkali saja, bisa tidak menggunakan gawai di era sekarang adalah sebuah privilese. Kenyataannya, kita sering dituntut untuk bisa membalas pesan secara responsif dan godaan dunia digital sungguh kuat untuk terus mengecek media sosial yang tak kunjung padam dari postingan baru.
Tanpa pikir panjang membeli ini setelah tahu Mbak Andina Dwifatma penulisnya. Saya dulu jatuh hati pada "Lebih Senyap Dari Bisikan" tidak hanya karena cara penulisannya tapi juga karena isinya sungguh tidak tertebak. Menua dengan Gembira berisi esai-esai Mbak Andina, satu diantaranya saya sudah baca di blog (WFH yang WTF). Tepat sekali Mbak Andina mengklaim ini sebagai rasan-rasan warga pinggiran Jakarta karena kontennya relate sekali dengan buruh ibukota macam saya. Ada beberapa hal yang saya tandai dan menjadi bahan renungan. Nanti mungkin saya update jika sudah di rumah (sekarang sedang di kantor dan tidak bawa bukunya). Dari buku ini saya juga mendapatkan referensi bacaan Mbak Andina. Salah satunya langsung saya beli di Kindle karena (dari sampelnya) bagus (dan juga saya percaya pada selera dan judgement mbak Andina haha).
Kumpulan esai yang ditulis oleh Andina dalam buku ini semuanya terasa ringan sekali dan dekat banget dengan kehidupan sehari-hari. Walau memang ada beberapa yang gak sepenuhnya cocok, karena pekerja Jakarta dan sekitarnya.
Banyak tulisan di masa pandemi, tentang WFH, tentang disinformasi di grup WA, hingga tentang perempuan dan menjadi ibu. Banyak sekali yang ditulis, saya selalu senang membaca kumpulan esai yang ringan dan gak serius banget gini.
Ketika buku ini hampir selesai saya baca, saya menunggu bus Transjakarta di bilangan Jakarta Selatan. Sebelum saya berhenti disitu, ada ibu-ibu yang sudah lebih dulu menunggu. Singkat cerita bus datang dan kamipun naik. Setibanya di kursi khusus wanita ibu tadi bilang ke pak sopir yang ditanggapi sambil lalu saja "pak kok lama banget, saya nunggu sampe 40 menit lho". Sesampainya di halte Imigrasi, ibu tadi kebingungan dan bertanya, "Duren Kalibata udah kelewat ya?" yang ditujukan entah ke siapa tapi orang disampingku merespon, "oh bus ini nggak lewat Duren Kalibata, Bu." Saya mendengar itu sedikit mencules, tapi ya kejadian yang melelahkan jiwa dan raga seperti ini memang sepertinya pasti dirasakan paling tidak sekali seumur hidup oleh setiap pengguna moda transportasi umum. Tambahkan satu, di Jakarta.
Buku Andina Dwifatma ini berisi tentang kumpulan esai. Seperti keinginan Andina, buku ini menjalankan mandat penulisnya dengan baik, yakni jadi teman bercengkrama bagi setiap pembacanya. Bahasanya tidak dibuat sulit, membahas hal-hal yang down to earth kalo kata anak kota. Alih-alih jadi yang sangat pintar karena tamat menyelesaikan puluhan esai, pembaca justru dibuat bahagia karena diberi tempat untuk menertawakan kehidupan yang kadang seperti ibu-ibu yang saya ceritakan tadi, melelahkan jiwa dan raga. Empati terbangun, dari tulisan sederhana namun tepat menyentuh inti kehidupan.
Dan sebagai warga Jakarta walau hanya seorang pendatang namun turut mencicipi hidangan sehari-harinya; kemacetan, polusi, panas, berdesakan di stasiun, KRL,TJ — saya merasakan kepemilikan penuh atas cerita-cerita yang berkenaan dengan kota penyambung kehidupan banyak pejuang hidup ini.
Ini buku yang isinya kumpulan essay tentang kisah sehari-hari. Ada yang bahas tentang Group WhatsApp keluarga, bertetangga, kegiatan di pasar malam, dan mengarungi kemacetan di Jabodetabek.
Essay yang paling membekas di aku tuh, yang tentang macet di Jabodetabek. Di situ ditulis tentang, gimana bisa kalau kita berangkat telat 5 menit aja, pasti sampai tujuan tuh bisa telat sejam? Aku pas baca bagian itu ketawa kenceng. Karena ngalamin banget, apalagi kampus ku yang ada di Jakarta bagian lain dari Jakarta tempat ku tinggal. Dulu, kalau telat 5 menit aja, bisa telat dapat bus transjakarta pagi, eh... tiba-tiba jalanan juga udah padat merayap.
Secara keseluruhan, aku bisa paham dan relate sama beberapa kisah di buku ini. Easy to read juga! Aku enjoy banget selama baca, banyak ikut ketawa dibeberapa bagian satir dan bagian "oh, eh, kayaknya pernah ngalamin juga deh!". Kayaknya buat warga Jakarta, atau terlebih yang tinggal di pinggiran Jakarta, bakal banyak relate sama cerita-cerita ini.
Aku jadi kepo sama buku-buku lainnya, mau baca Lebih Senyap dari Bisikan, deh. Untuk buku ini, [4/5] dari aku.
Apa culture shock kalian di Jakarta? kalau aku: 🍜 sarapan mie ayam 🚦 ngaret 5 menit bisa telat 30 menit 🗣️ ngomong pake aku kamu pada geli 🚍 pake transport sendiri malah bikin tua di jalan masih banyak lagi diceritain scr seru dan lawak abis lewat buku ini 😳👍
Ka Andina blak blakan bgt nyeritain kehidupannya sebagai warga pinggiran jakarta. Gimana harus dealing sama riuhnya Jakarta, bergantung sama KRL dan TJ, terus doi juga mengangkat keseharian saat puncaknya covid.
Salah satunya: wfh yang menguras banyak energi (setuju BGT) 🥴 karna ga semua org punya privilege bekerja dgn tenang di rumah.
Kumpulan essay di buku ini terasa dekat dan aku personal ngerasa relate parah. Apalagi essay yang berjudul Yang Terjepit dan Terdesak🙌 jadi bikin nostalgia saat waktu kerja di Jakarta yg serba sat set terus bikin sadar kalau bisa bengong dan gak ngapa-ngapain di zaman ini. Tapi ya mau hidup di kota slow living maupun jakarta yg serba ruwet, manusia selalu berupaya yg terbaik dalam kondisi mengenaskan sekali pun agar setidaknya berkesempatan untuk berbahagia.
Buku ini ngasih pelukan hangat bagi kalian yg kerja dan hidup jakarta. Halamannya cuman 140 halaman doang~.
Tulisan Mbak Andina selalu enak untuk dibaca. Kumpulan esai yang dekat dengan keseharian ini juga rasanya ringan, meskipun sebenarnya topiknya kalau dikupas lebih dalam bisa jadi pembahasan yang berat. Tapi karena dibawakan dengan lucu dan santai jadinya kayak ngobrol sama teman😌 Esainya juga variatif topiknya, tapi pastinya para pembaca pernah mengalami nyaris semuanya. Recommended banget untuk dibaca teman-teman milenial!
Trigger warnings: slight mentions of racism, religious bigotry, sexual assault, and sexual harassment.
Menua dengan Gembira merupakan koleksi esai karya Andina Dwifatma, seorang dosen muda Studi Komunikasi di Universitas Katolik Atma Jaya, yang mengilustrasikan sebuah gambaran kecil akan kehidupan penduduk metropolitan Jakarta yang tinggal di sekitar pinggiran kota (suburbs), dan memiliki budaya tersendiri yang muncul dan berkembang di antara padatnya manusia yang hidup di gang-gang tersebut—dan budaya-budaya ini ditilik kembali oleh sang penulis untuk melihat bagaimana tren tersebut tumbuh dan melekat, serta pengaruhnya kepada masyarakat pinggiran Ibukota Jakarta.
Dalam penulisannya, menilai koleksi esai tersebut sebagai tulisan yang 'serius' dirasa kurang sesuai. Kata-kata dan pemikiran yang tertuang di dalam buku kecil ini murni sebagai hasil observasi penulis, tidak hanya sebagai seorang peneliti ataupun dosen, tetapi juga sebagai seorang yang pun tinggal di daerah pinggiran Jakarta. Alhasil, rangkaian cerita yang disampaikan memiliki suasana yang familier, seolah pembaca dibawa langsung untuk mengingat kejadian-kejadian yang serupa dengan penyampaian penulis.
Nada komunikatif dan kadang jenaka yang melingkupi setiap esai membuat pembaca terhanyut dalam tulisannya tanpa ada rasa bosan, apalagi kesan menggurui, walaupun pada beberapa topik, terselip bias yang cukup besar dari sisi penulis. Hal tersebut menunjukkan kepiawaiannya dalam menarik empati pembaca, mendorong pembaca untuk aktif bereaksi; entah itu menyetujui ataupun menyanggah contoh-contoh yang dipaparkan. Seperti salah satu contoh yang terdapat dalam bab mengenai Work From Home (WFH), dimana penulis menyelipkan beberapa dialog yang menggambarkan perilaku semena-mena atasan yang menjadwalkan rapat tengah malam; contoh ini berkesinambungan dengan banyaknya komplain serupa yang marak di Twitter dan media sosial lainnya yang merasa bahwa fleksibilitas waktu kerja yang disalahgunakan oleh manajemen-manajemen Perusahaan.
Tidak hanya itu, koleksi esai tersebut juga menyelipkan beberapa pesan yang terbilang penting sebagai pengingat. Contoh, pada titular chapter (bab yang namanya sesuai dengan judul buku) yang membahas tentang maraknya skincare yang kian menjamur dengan menggunakan artis Korea sebagai brand ambassador, penulis mengingatkan dirinya sendiri, anaknya, dan juga para pembaca untuk menyayangi segala ketidaksempurnaan yang mereka miliki seiring mereka melanjutkan usia.
Tren-tren dan segala habit bermasyarakat yang dibahas oleh penulis tidak luput dari acuan ilmiah yang menjadi penjelasan saintifik mengenai kultur sosial tersebut, sehingga tulisan-tulisan tersebut bukan merupakan pemikiran sembarang, tetapi ada latar belakang yang memaparkan faktor-faktor dari segi sosio-ekonomis, apalagi kultur sosial yang terdapat dalam esai tersebut merupakan 'kelakuan' masyarakat yang berkembang pesat pada masa pandemi dan post-pandemi.
Oleh karena itu, Menua dengan Gembira adalah koleksi esai yang direkomendasikan untuk dibaca dalam waktu senggang—buku ini merupakan buku yang dapat diselesaikan dalam satu waktu, dan memiliki tulisan yang tidak hanya bermanfaat, tetapi juga dapat mendorong pembaca untuk refleksi diri akan habit-habit pinggiran ibukota yang melekat dalam diri kita, maupun yang kini mulai diadopsi.
Jarang sekali aku membaca buku (terutama buku Indonesia) dan merasa sangat sangat nyambung dengan penulisnya. Kalau dalam Bahasa Inggris mungkin aku bisa bilang, "I feel seen through this book."
Menua Dengan Gembira ini adalah sebuah buku yang cukup unik, karena merupakan gabungan dari anekdot-anekdot yang lucu, esai yang berdasarkan data dan riset yang lumayan, dan bahkan ada juga yang memiliki format seperti surat terbuka. Semuanya betul-betul menggambarkan dengan baik pemikiran milenial kelas menengah yang tinggal di pinggiran Jakarta—sama halnya denganku dan mayoritas orang-orang yang aku kenal.
Mulai dari topik seputar perjuangan bekerja di Jakarta, tren sosial media (termasuk Whatsapp) yang makin menjadi-jadi, isu toleransi ras dan agama di Indonesia, hingga—favoritku—isu hak asasi wanita dan feminisme yang tidak berkiblat secara buta pada barat (melainkan benar-benar berakar dari pengalaman wanita Indonesia pada umumnya).
Beberapa judul favoritku antara lain: 1. Film, Televisi dan Lelucon Jorok 2. Menua dengan Gembira 3. Indahnya Grup Whatsapp Keluarga
Film, Televisi dan Lelucon Jorok menurutku wajib banget dikirim langsung ke Depdikbud atau Komnas Anak atau instansi-instansi serupa yang sangat terlibat dengan anak-anak, agar mereka nggak lagi-lagi menyalahkan video game akan kejahatan kekerasan dan seksual yang semakin marak dilakukan oleh anak-anak dan remaja Indonesia. Tidak semua memiliki akses ke video game, tapi mereka memiliki akses yang lebih mudah ke film-film dan acara televisi karya anak bangsa. Film-film yang bisa lulus sensor tapi mengandung pesan terselubung yang menormalisasikan pemikiran ke ranah kekerasan dan seksual.
Ini esai terbaik, karena sangat menjelaskan kenapa anak-anak dan remaja Indonesia bisa begitu mesum dan keji, padahal sudah ratusan situs pornografi yang disensor pemerintah. Belahan dada di televisi dan Sandy si Tupai yang pakai bikini saja sudah di-blur habis-habisan oleh KPI. Begitu pula dengan senjata api dan tajam. Tapi tetap saja kekerasan fisik dan seksual merajalela di kalangan remaja Indonesia. Kenapa? Karena lingkungan sekitarnya yang menormalisasi hal tersebut, tanpa memberikan edukasi yang seimbang.
Meskipun buku ini ditulis dengan pendekatan yang sangat ringan—diselipkan dalam anekdot atau ditulis seperti surat—tapi tidak diragukan lagi topik-topik yang dibahas sungguh daging semua. Alangkah baiknya jika buku ini tidak berhenti di terbit saja, tapi dibawa juga ke kancah nasional dan diperdebatkan dengan benar untuk dicari solusi dari masalah-masalah yang dipaparkan. Misalnya, kenapa orang-orang pinggiran Jakarta harus bersusah payah untuk bisa pergi ke kantor setiap harinya? Kenapa film-film Indonesia yang menormalisasi kekerasan dan seks justru bisa lulus sensor?
Aku betul-betul sangat merekomendasi buku ini ke siapapun, terutama mereka yang juga tinggal di (pinggiran) Jakarta. Kamu pasti akan merasa dimengerti oleh buku ini, dan bisa belajar banyak pula.
Bagi warga pinggiran Jakarta, perjalanan ke kantor setiap pagi adalah pertempuran abadi.
Di dalam bagian Catatan Penulis, Andina menulis Siapakah warga pinggiran Jakarta? Merekalah orang-orang yang kalau ditanya tinggal di mana akan menjawab “Jakarta” padahal rumahnya di Parung. sebagai kalimat pertamanya.
Ketika membaca kalimat ini, saya membayangkan cerita-ceritanya akan mirip Cerita-Cerita Jakarta terbitan Post Press, ternyata tidak juga. Ada sedikit kemiripan, tapi sebagai seseorang yang rajin membaca blog dan mengikuti diskusi beliau, saya masih merasakan kekhasan Andina. Ia selalu menyinggungkan teori komunikasi atas sesuatu yang sedang ia paparkan. Tak terkecuali dengan buku ini.
WFH yang WTH sudah pernah dimuat dalam blog pribadinya. Begitu pula dengan ****[The Problem that Has No Name: Sastra dan Identitas Keseharian Perempuan](https://www.andinadwifatma.com/2021/0...) yang sudah pernah dimuat tanggal 7 Agustus 2021 di** https://www.andinadwifatma.com/. Ketika sudah sampai di tulisan terakhir dan membaca Catatan Publikasi, ternyata memang benar adanya bahwa 26 cerita di buku ini sudah pernah dimuat di blog pribadinya.
Jika saya adalah pembaca baru karya Andina, hal ini tidak terlalu saya pusingkan. Namun, yang terjadi adalah sebaliknya. Saya merasa membaca buku ini seperti scrolling santai blognya Andina saja. Saya menyadari ada ekspektasi tertentu di mana Menua dengan Gembira akan sebombastis Lebih Senyap dari Bisikan yang membuat melongo, menangis, dan tertawa sinis. Buku ini tidak mencapai ekspektasi tersebut dan biarlah ini menjadi urusan pribadi saya saja. Andina tidak berkewajiban memenuhi ekspektasi penikmat karyanya.
Kendati demikian, buku ini masih terasa cocok untuk menggunjingkan kehidupan warga urban, lebih-lebih dari sisi perempuan. Andina masih konsisten dengan satir dan frontalnya. Ada peran Nadya Noor menciptakan sampul buku penuh warna nan playful, menguatkan bahwa buku ini memang kumpulan tulisan yang ringan dan tidak perlu dianggap terlalu serius. Bergembiralah saja dengan buku ini sebagai kawan mengobrolmu.
Sejauh pengetahuan saya, daerah Ciputat di Tangerang Selatan belum banyak diangkat dalam karya sastra Indonesia. Dari yang tidak banyak itu, dua di antaranya adalah dalam Laut Bercerita di mana Leila S. Chudori menuliskan Ciputat sebagai rumah salah satu karakter utamanya dan dalam salah satu cerpen Yusi Avianto Pareanom yang menggunakannya sebagai judul yaitu ‘Edelweiss Melayat ke Ciputat’. Belum lama ini, Andina Dwifatma menambah daftar itu lewat novel terbarunya berjudul Lebih Senyap dari Bisikan yang menggunakan salah satu perumahan tua dan besar di Ciputat sebagai latar cerita. Tahun lalu Andina mengeluarkan buku barunya yang berbentuk kumpulan tulisan dan dalam buku ini Ciputat kembali muncul, kali ini dalam porsi yang lebih dominan. Dalam tulisan pengantar, Ciputat sudah tertulis sebagai penanda tempat bersama tanggal ketika tulisan itu dibuat. Lalu seperti yang kemudian bisa diketahui dari tulisan-tulisan selanjutnya, tidak hanya dalam novel, dalam kenyataannya pun Andina memang tinggal di Ciputat. Untuk menyebutkan daftar lain terkait Ciputat, Andina menambah daftar penulis yang tinggal di Ciputat dari beberapa yang saya ketahui. Dalam pikiran saya, jika Pamulang adalah tempat tinggal musisi-musisi keren seperti Endah & Rhesa, Jason Ranti, dan Jimi Multhazam, maka Ciputat adalah tempat tinggal para penulis yang memiliki pengaruh cukup besar dalam sastra Indonesia. Beberapa nama di antaranya adalah Sapardi Djoko Damono (perumahan dosen UI, sekarang menjadi titik pusat kemacetan Ciputat karena di depannya terdapat satu-satunya putaran balik dari sejak pertigaan Gintung sampai flyover Ciputat), Seno Gumira Ajidarma (daerah Kampung Utan, seperti yang tertulis di akhir beberapa cerpennya sebagai penanda tempat tulisan diselesaikan), dan Eka Kurniawan (sekitaran Pisangan/ Legoso seperti yang pernah beberapa kali ia sebut dalam cuitannya).
Mengenai buku ini sendiri, sebagai sesama penduduk Ciputat dan pengamat hal-hal remeh temeh, saya merasa dekat, nyambung dan terwakili oleh banyak hal yang dibahas di dalamnya. Sebagai seorang pembaca, saya mengharapkan pembahasannya bisa lebih panjang dan mendalam.
In the journey of life, it's often said that as age increases, so does wisdom. The accumulation of experiences and knowledge can bestow a fresh perspective on both the past and the present. This essay collection takes readers on a reflective voyage through her memories, offering insights shaped by her current self.
A striking example is her analysis of the characters Dao Ming Se and Shan Cai from the popular Taiwanese drama, Meteor Garden. As a teenager, the allure of Jerry Yan's –who portrayed Dao Ming Se– rugged charm overshadowed the problematic aspects of his character. Looking back, even I, a lonely and hopelessly romantic teenager, turned a blind eye to all of Dao Ming Se's red flags. Well, now... maybe not. Even though I'm still very into Jerry Yan the actor.
The book delves into various reflections, including those on parents who embrace newfound religious devotion during retirement—a phenomenon both familiar and enigmatic. Additionally, the collection addresses society's fixation on youthful appearance and the societal conditioning that fuels the fear of aging. The essays encourage readers to question whether this apprehension is genuine or merely a product of societal norms and capitalism (the root of all problems).
Beyond personal reflections, Andina's keen observations extend to the realm of social life. Residing in a suburban far from Jakarta's bustling core, she unveils a treasure trove of anecdotes—night markets held in vacant lots, nosy neighbors, and other local tales that form the backdrop of her narrative canvas.
Despite my deep disappointment with her first book, Semusim, dan Semusim Lagi, this book completely exceeds my expectations. The beauty of Andina's essays lies in their brevity, eloquence, and absence of didacticism. This collection doesn't preach; rather, it invites readers to rethink and reflect on their own past and current experiences.
It's the perfect companion for moments spent on your terrace, a cup of warm tea in hand, perhaps accompanied by the joyful cacophony of neighborhood children at play. Or just the distant hum of cars and motorcycles.
"Menua dengan Gembira" adalah buku kumpulan esai pertama dari Andina Dwifatma. Diterbitkan pertama kali pada 2023 oleh Shira Media, Yogyakarta, dan didistribusikan Solusi Buku. Bagi kamu penggemar karya sastra Indonesia kekinian, tentu tidak asing lagi dengan Andina. Namanya mulai melambung sejak menulis novel "Lebih Senyap dari Bisikan" (2021) yang dinobatkan sebagai Buku Karya Sastra Pilihan Tempo Kategori Prosa tahun 2021.
✨ Kehadiran buku kumpulan esai ini seakan menjadi gerbang awal bagi pembaca yang ingin tahu sudut pandang dan sisi lain dari kehidupan seorang Andina Dwifatma.
✨Ada 30an halaman yang saya baca di awal. Terdiri dari enam esai. Masing-masing menceritakan kehidupan maupun pengalaman Andina selama menjadi warga suburban di Kota Jakarta.
✨ Dari enam esai itu, semuanya terbilang menarik karena membuka perspektif dan saya pribadi turut merasakan persoalan yang dihadapi dialami Penulis. Salah satunya dari esai berjudul "Dilema Smartphone".
✨ Pada esai tersebut, pembaca diajak merefleksikan kejadian sehari-hari yang berkaitan dengan ponsel. Misal, respon kita terhadap bunyi/dering ponsel. Dulu, kita masih punya "cukup waktu" atau lebih tepatnya tidak merasa diburu-buru untuk membalas pesan teks yang kita terima melalui ponsel. Hari ini, kita seakan didorong untuk membalas/merespon setiap notifikasi (pesan teks/chat) pada ponsel sesegera mungkin bahkan lebih cepat dari menghembuskan nafas saat membaca notifikasi tersebut. Padahal dulu, SMS masuk jam 10 pagi, dibalas sampai 30 menit kemudian pun tidak masalah. Eh, sekarang telat semenit dua menit saja sudah uring-uringan, resah hingga (naudzubillah) jadi prasangka.
✨Itu baru soal smartphone. Soal-soal kehidupan kalangan urban/suburban lainnya dalam buku Andini ini masih banyak yang menarik dan relevan. Tapi akan menjadi terlalu panjang dibahas satu-satu di sini.
✨ Lebih baik saya cukupkan sampai di sini. Sekian dan terima kasih.
Siapa yang menolak jika bisa menua dengan gembira?
Tidak terpaku pada standar sosial atau iklan komersil yang menunda penuaan (dini) atau pemutih kulit supaya bisa sebening artis Korea.
Itu baru satu "sentilan" mbak Andina. Masih ada 25 esai lagi yang ditulis secara cerdas dan jenaka. Mengomentari hidup manusia modern dari pinggiran Jakarta.
Membaca Menua dengan Gembira seperti menertawakan hidupku sendiri. Sebagai seorang perantau yang sudah 8 tahun bermukim di sekitaran Jakarta, hal-hal "biasa" yang disampaikan oleh mbak Andina ternyata masih membawa gelak tawa saat kubaca.
Misalnya fenomena WhatsApp Group keluarga besar dan banyaknya informasi di dalamnya. Atau menjadi pelaju yang rela bangun lebih pagi dari ayam jago demi menjadi pepes dalam KRL. I have been there but still laughing at it. Mungkin ini sensasi yang aku rasakan ketika bisa melihat bahwa "menua dengan gembira" bukan sekadar judul buku ini. Melainkan semangat (atau mood) untuk "sudahlah, nggak perlu kebanyakan ngomel yang nggak perlu."
Pada bagian Catatan Penulis, mbak Andina sendiri mengatakan kalau tidak ingin menulis esai/kolom yang tendensius. Dan mbak Andina membuktikannya. Tidak ada istilah atau bahasa melip bin ndakik dalam esainya.
Aku juga kagum dengan kepiawaian mbak Andina menulis esai. Dengan jumlah karakter yang terbatas, ia bisa menyampaikan gagasan utamanya tanpa kehilangan cara bercerita. Enak diikuti tanpa harus mengernyitkan dahi.
Menua dengan Gembira mengingatkanku pada kolom bahasa Kompas yang ditulis Andre Muller. Ringan tapi berbobot. Membuktikkan hipotesa ayahku: semakin tinggi ilmu seseorang, semakin ia bisa mengutarakan opininya dengan jelas dan to-do point. Dan hal itu bisa ditemukan dalam Menua dengan Gembira ini.
Kalau kalian ingin mencoba mencicipi kumpulan esai yang bisa dibaca tanpa harus berpikir keras atau bikin galau, cobalah buku ini.