What do you think?
Rate this book


376 pages, Paperback
Published April 5, 2023
❝Awalnya, hubungan jarak jauh bukan masalah karena kami pikir cinta bisa jadi jembatan, tapi praktiknya ternyata jauh lebih sulit daripada teori.
Perasaan orang bisa berubah, Jan. Cinta perlahan jadi tawar.❞
—Page 51
❝Kenapa gue nggak heran kalau semua hubungan lo nggak ada yang umurnya panjang ya?
Apa gunanya punya hubungan panjang kalau akhirnya putus juga? Malah lebih sakit hati. Gue nggak bermaksud nyindir lo sih.
Gue nggak pernah sakit hati waktu putus. Waktu putus, gue tahu kok itu pilihan yang logis.
Cinta nggak selalu logis. Mungkin lo nggak sakit hati karena sebenarnya hubungan jangka panjang lo itu dasarnya kecocokan, bukan cinta. Cocok dan cinta itu beda. Orang bisa salah mengerti karena cocok dan cinta sama-sama bikin nyaman.❞
—Page 105
❝Menjaga hati sendiri jauh lebih penting daripada memikirkan kenyamanan orang lain❞
—Page 168
❝Kalau kita terus bertemu karena Mas ingin tahu apakah benar-benar tertarik dan bukan sekadar euforia, karena saya mungkin berbeda dengan semua perempuan yang pernah dekat dengan Mas, itu nogak adil untuk saya. Bagaimana kalau nanti saya yang suka sama Mas saat Mas sudah menyimpulkan saya benar-benar hanya euforia? Maaf, tapi saya nggak mau mempertaruhkan hati saya hanya untuk menunggu Mas memastikan perasaan. Itu egois banget.❞
—Page 171=
❝Cinta itu soal rasa, jadi jangan terlalu banyak pakai otak saat mau ngambil keputusan. Iya, kemungkinan gagalnya memang ada, so what? Nggak ada orang yang mati karena patah hati. Sakitnya mungkin bakalan lama kalau hubungan kalian berakhir saat lo lagi sayang-sayangnya. Tapi pada akhirnya lo akan move on. Semua orang juga gitu. Itu artinya dia bukan jodoh lo. Sesimpel itu.
Kira lagi bahas kisah cinta. Anjani, bukan konfik dalam none lo. Move on dalam novel lo mah gampang banget. Tinggal bikin saru karakter lain untuk bikin perempuannya jatuh cinta lagi.
Gue nggak mau kedengaran kejam dengan bilang ini, tapi Jani sudah pernah ada di fase parah patah hati dan move on itu. Gue sama lo juga sudah pernah menangis sebelum begoin diri karena jatuh cinta pada orang yang salah.❞
—Page 184
❝Aku nggak mau kamu salah paham dan menganggap bahwa aku belum mengenalkan kamu dengan orangtuaku karena aku nggak serius dengan hubungan kita, Jan. Aku juga nggak suka kamu main maklum-maklum aja dan memenggal percakapan hanya supaya kita nggak berdebat. Komunikasi itu penting, Jan. Aku jadi tahu apa yang kamu pikirkan, dan aku juga akan memberitahu keinginan dan harapanku. Kamu berhak mengeluarkan isi hati. Jangan ber-sembunyi di balik kata 'aku ngerti' padahal kamu sebenarnya sakit hati dan kecewa dengan sikap ibuku.❞
—Page 222-223
❝Siapa yang tidak suka uang? Memang ada kata-kata bijak yang mengatakan uang bukanlah penentu kebahagiaan, tapi jujur saja, tapa uang, jarak kebahagiaan itu akan semakin jauh. Hampir semua barang dan jasa nilainya ditukar dengan uang.
Anjani menjual rumah juga demi uang, demi mendapatkan perasaan tenteram itu. Dengan uang di rekeningnya, dia merasa lebih positif menghadapi hidup, karena tahu ada wang untuk membiayai pengobatan ibunya dan pendidikan Rayan.❞
—Page 279
❝Kita akan terus bertualang dari hati ke hati sampai menemukan tempat berlabuh. Akan banyak sakit hati dalam prosesnya, tapi itu hakikat hidup, kan? Nggak seru juga kali, kalau kita bahagia dan ketawa melulu saban hari.
Gue pasti sedih banget kalau beneran putus sama Dhyas. Tapi seperti yang lo bilang, itu hanya satu fase yang pasti bisa gue lalui. Akhirnya, gue akan baik-baik saja.❞
—Page 334
❝Suatu saat, ketika Rayan mengenal asmara, dia akan tahu cinta yang berbeda bisa hadir lebih dari sekali di dalam hati. Pada akhir-nya, patah hati hanya sebuah siklus yang akan terlewati.
Dan Anjani ingin segera melewati siklus yang sedang dijalaninya sekarang.❞
—Page 346
❝Lo nggak harus melarikan diri sejauh itu sih untuk melupakan Dhyas. Perasaan itu ajaib. Sehancur-hancurnya, selalu bisa sembuh dan balik utuh lagi. Kisah lo dan Pangeran Dhyastama akan berubah jadi kenangan manis saat lo sudah menemukan cinta baru.❞
—Page 347