Kali ini tingkah jahat Slappy sudah sangat keterlaluan ketika sedang tampil. Jimmy pun mengutuknya untuk melakukan tiga perbuatan baik dalam jangka waktu seminggu. Kalau tidak, Slappy akan mati selama-lamanya. Boneka itu sudah berusaha keras melakukan sesuatu yang sangat berkebalikan darinya, tapi ada sosok yang berusaha keras untuk menggagalkannya. Waktu pun makin terasa mengejarnya.
Aku suka interaksi antara Jimmy dengan Slappy. Mereka saling benci, tapi ada sedikit keakraban dan juga komedi di sana. Hati-hati karena penggunaan bahasa dan adegan kekerasan di sini tidak cocok untuk pembaca di bawah 10 tahun.
Penggunaan sudut pandang ketiga di novel ini adalah hal yang sangat fresh, menarik, dan mengejutkan. Tapi, ketika tokohnya berpikir, sebaiknya penulisan kalimatnya dibuat miring supaya pembaca bisa membedakannya dengan narasi. Selain itu, rasanya sangat fresh mendapati Slappy sebagai tokoh utama. Pembaca pun bisa memahami intensi setiap perbuatannya. Sayangnya, meski tetap jahat, dia jadi terasa kurang mengintimidasi.
Hal yang sangat menggangguku di novel Goosebumps lainnya—yang berkaitan dengan karakterisasi anggota keluarga—berhasil dipaparkan dengan matang di sini. Penggambaran tentang kedua anak yang berkata kasar karena meniru sikap ibu mereka. Sementara itu, Mrs. Boonshoft sedang dalam kesulitan untuk memenuhi keperluan hidup sekaligus mengurus kedua anak sendirian karena suaminya meninggal. Selain itu, Mrs. Boonshoft tidak sepenuhnya terlalu tegas sehingga jadi kejam karena sesekali ia mencoba memahami apa yang terjadi kepada kedua anaknya meski terdengar tidak masuk akal. Dia juga berpikir mungkin anaknya perlu diperiksakan ke dokter. Lalu, kurang lebih Stella mendapatkan balasannya karena ia selalu berbuat jahat ke Georgia. Maka, aku jadi memiliki rasa simpati kepada mereka.
Aku sudah mengkhayalkan sekitar empat ending berbeda untuk masing-masing empat perkiraan identitas penyabotase. Sayangnya, penulisnya justru memilih pelaku yang paling mudah, tapi tak apa karena ini buku anak. Untuk akhirannya, aku pun mencoba berteori dua hal, yakni antara mimpi prediksi masa depan atau looping.
Kalau Slappy memang cuma kebetulan memprediksikan masa depan melalui mimpi buruk, mungkin itu bisa terjadi karena dia boneka yang mengandung sihir. Tapi, itu sangat menjengkelkan karena semua character developments di cerita ini jadi terasa sia-sia karena entah apa yang akan dilakukan Slappy berikutnya karena dia sudah tahu apa yang bakal terjadi.
Pilihan kedua, yaitu aku menganggap mimpi buruk yang dimaksud adalah looping. Jadi, Slappy harus melakukan tiga kebaikan selama seminggu itu berkali-kali dan tanpa henti. Tapi, kalau itu benar-benar looping, seharusnya Jimmy sudah mendapatkan dan mencari tahu soal Wally untuk mengancam Slappy sebelum mengajak diskusi dia—alias peristiwa di belakang bakal sama persis dengan peristiwa di depan. Dan kalau itu benar-benar looping, pertanyaanku:
1. Kalau Jimmy adalah ahli suara perut paling hebat di dunia yang sering tampil dengan Slappy yang candaannya sangat kurang ajar, kenapa dia enggak pernah di-banned para orangtua?
2. Omong-omong, tidurnya Georgia dan Slappy sampai terlelap macam apa sampai-sampai enggak bisa dengar sosok sedang menghancurkan kamar itu?
3. Kenapa Jimmy tidak sadar Wally telah menghilang dari sisinya?
Singkatnya, meski aku enggak bisa menerima ending absurd ini, namun aku tidak merasa terlalu terganggu. Mungkin itu karena aku sudah kebal dengan cliffhanger menyebalkan yang sering dibuat penulis.