Berkata Abdullah bin Amru bin Ash: "bahwa ketika kami duduk di sekeliling Rasulullah saw untuk menulis, lalu Rasulullah saw ditanya tentang kota manakah yang akan futuh terlebih dahulu, Konstantinopel atau Roma. Maka Rasulullah saw menjawab, 'Kota Heraklius terlebih dahulu', yakni Konstantinopel." (HR. Ahmad)
Konstantinopel (yg saat ini menjadi Istanbul, Turki) menjadi tujuan utama penaklukkan pasukan Muslim, bukan tanpa alasan, karena hal ini merupakan suatu janji yg disebutkan Rasulullah kala itu. Hal ini bukan hal yang mudah, karena Konstantinopel yang merupakan ibukota dari Byzantium, kekaisaran besar penerus Romawi, memiliki pertahanan yang sempurna, dengan temboknya yang besar dan kokoh, yang terbukti mampu bertahan lebih dari 1000 tahun. Upaya penaklukan dari kaum Muslim pun sudah beberapa kali dilakukan, namun gagal. Karena itulah, hal ini terus menjadi target utama bagi penerus kekuasan kekhalifahan/kesultanan Islam.
Pimpinan kekuasan berganti dan bergeser, dari kekhalifahan yang dibangun oleh Rasulullah, ke bangsa Turki yang membangun Kesultanan Utsmaniyah. Melahirkan pemimpin2 yang tangguh, tapi masih belum berhasil merebut Konstantinopel, hingga akhirnya tiba masa Sultan Mehmed II berkuasa. Saat itu kekuatan Utsmaniyah berada pada masa keemasan, dan menunggu waktu untuk penaklukan.
"Sungguh, Konstantinopel akan ditaklukkan oleh kalian. Maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan yang menaklukkannya." (HR Ahmad)
Sultan Mehmed pun berhasil menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453, dan menepati janji Rasulullah. Setelahnya dia diberi gelar dan namanya menjadi Muhammad Al Fatih. Tapi penaklukkan ini tidak berjalan dengan mudah.
Mehmed membawa jumlah pasukan yang sangat besar, 250ribu, sementara pasukan bertahan di Konstantinopel di bawah Kaisar Konstantin jumlahnya jauh lebih sedikit. Mehmed juga mempersenjatai pasukan dengan teknologi meriam paling mutakhir, juga armada laut yang maju. Sedangkan di pihak pasukan Konstantinopel, moral mereka juga sedang turun, dan suplai logistik diblokir oleh pasukan Utsmani. Tapi bahkan dengan semua keunggulan ini, pasukan Mehmed yg notabene lebih beriman dan disiplin ketimbang pasukan Konstantin, belum berhasil menaklukkan Konstantinopel. Kegagalan demi kegagalan serangan, diiringi dengan terusnya jatuh korban di pihak Utsmani, tentu saja sempat menimbulkan kekuatiran. Ditambah provokasi dari Halil Pasha, penasehat senior yg lebih berpihak pada musuh. Untungnya, Sultan Mehmed tetap teguh dan punya penasehat dan anak buah yang taat, sehingga mereka meneruskan kembali penyerbuan, dan setelah 54 hari sejak awal penyerbuan, Konstantinopel pun jatuh. Selasa, 29 Mei 1453.
Gambaran di atas kalo dianalogikan seperti sepakbola, ibaratnya pasukan Utsmani adalah tim tangguh seperti Barcelona, sementara Konstantinopel adalah tim dengan pertahanan terbaik seperti Juventus. Akhirnya berhasil menang setelah perjuangan yang berat. Sebenarnya pihak pasukan musuh pun patut diacungi jempol, karena dengan segala kekurangannya, mereka berhasil bertahan dalam waktu yg lama sekali. Saya jadi sempat meragukan apakah betul Mehmed layak digelari pemimpin terbaik, karena kesulitannya menaklukkan Konstantinopel, sepertinya ga begitu spesial. Tapi dengan analogi Barca-Juve tadi, ya memang pasukan mereka saat itu yang terbaik, hanya musuhnya saja yg pertahanannya tangguh, jadi butuh waktu lama untuk menang.
-OooO-
Gw membaca buku ini awalnya dengan skeptis. Faktor penulis, yg berpotensi menjadikan buku ini sebagai doktrin. Juga justifikasi perang yang dilakukan khalifah, yg membuat citra Islam sebagai agama yg gemar berperang. Hingga saya terus mikir, sampai pada kesimpulan: It's okay. Karena di masa itu memang sedang jamannya bangsa-bangsa dan kerajaan saling berperang untuk memperluas daerah kekuasaan. Hal yg sama juga terjadi di Nusantara, ketika Majapahit hendak 'mempersatukan' Nusantara. Lalu hal yang sempat mengusik adalah, kenapa peperangan yg dilakukan kaum Muslim disebutnya 'pembebasan'? Nah, ini kuncinya. Karena setiap akan menaklukkan daerah lain, pimpinan khalifah selalu memberi pilihan kepada lawan, apakah untuk menyerah secara damai, kemudian masuk Islam, atau tetap pada agamanya. Atau tetap melawan, dan hasilnya perang. Pilihan itu selalu diberikan.
Sultan Mehmed tidak pernah memaksa kaum Kristen untuk masuk ke dalam agama Islam karena hal itu tidak diizinkan oleh Allah. Semua diperlakukan sama sebagai warga negara, baik Muslim maupun non-Muslim, hanya kepada penduduk non-Muslim diterapkan jizyah, sesuai dengan syariat Islam.(p 258)
Setelah daerah lawan ditaklukkan, Sultan/Khalifah menerapkan hukum dengan adil dan tidak sewenang-wenang, bahkan lebih baik ketimbang penguasa sebelumnya. Jadi betul juga kalo dibilang ini pembebasan, karena nyatanya kota/daerah tersebut menjadi lebih baik.
Sebagai biografi dan sejarah, buku ini bagus dan bisa menjadi pembelajaran yang baik.Sifat-sifat Sultan Mehmed sangat patut diteladani, dan kisahnya menjadi kebanggaan untuk kita, bahwa kaum Muslim pernah sebegitu kuatnya di masa lalu. Sehingga kita perlu untuk percaya diri dan melakukan yang terbaik di kehidupan kita saat ini.
Di bagian akhir juga dibahas hakikat dari gerakan solat yang merupakan tanda bersyukur atas kenikmatan berupa fisik yang sempurna. Nyadar kan kalo solat itu melibtkan semua anggota tubuh untuk bergerak.
-O-
Beberapa hal yang kurang berkenan buat gw: esensi perang itu sendiri. Banyak pasukan yang mati, sebagian seperti dikorbankan untuk strategi perang. Buat mereka mungkin justru itu yg dicari karena alasan syahid, tapi buat gw ga sependapat. Ya begitulah perang. Kita lebih suka menggunakannya sebagai hal yang tidak nyata seperti game atau cerita, tapi kenyataannya ga enak.
Kemudian yang juga kurang suka adalah digunakannya kisah heroik Sultan Mehmed ini sebagai motivasi untuk tujuan yang salah. Kita jadi diharapkan untuk bisa mengikutinya untuk menaklukkan Roma (target berikutnya setelah Konstantinopel) dan menegakkan kekhalifan Islamiyah. Padahal sekarang sudah bukan masanya berperang untuk memperluas daerah kekuasaan. Ya jangan dituntut seperti itu lah.
Juga bagian tentang bagaimana Sultan Mehmed memperlakukan para penduduk setelah penaklukan dengan adil. Tidak ada yg dipaksa untuk masuk Islam. Ya, memang harusnya seperti itu. Ini yg harusnya dipahami oleh gerombolan seperti FPI dan sejenisnya. Syariah tidak bisa dipaksakan, karena negara tidak dimiliki oleh orang Muslim saja, tapi juga oleh orang2 lain.