Jump to ratings and reviews
Rate this book

Life Traveler

Rate this book
‘Where are you going to go?’ tanyanya sambil meletakkan secangkir teh hangat di meja saya.

‘Going home.’ Saya menjawab singkat sambil mengamati landasan pacu yang tampak jelas dari balik dinding-dinding kaca restoran ini.

‘Going home?’ Ia berkerut. ‘You do not look like someone who will be going home.’

Kalimat inilah yang membuat saya mengalihkan perhatian dari bulir-bulir hujan yang menggurat kaca. ‘Sorry. What do you mean?’



(Satu Malam di O’Hare)

***

Kadang, kita menemukan rumah justru di tempat yang jauh dari rumah itu sendiri. Menemukan teman, sahabat, saudara. Mungkin juga cinta. Mereka-mereka yang memberikan ‘rumah’ itu untuk kita, apa pun bentuknya.

Tapi yang paling menyenangkan dalam sebuah perjalanan adalah menemukan diri kita sendiri: sebuah rumah yang sesungguhnya. Yang membuat kita tak akan merasa asing meski berada di tempat asing sekalipun…

… because travelers never think that they are foreigners.



*****

“… Windy membuat buku ini istimewa karena kepekaannya dalam mengamati dan berinteraksi. Ia juga seorang penutur yang baik, yang mengantarkan pembacanya dalam aliran yang jernih dan lancar. Dan bagi saya, itulah yang melengkapkan sebuah buku bertemakan perjalanan. Pengamatan internal, dan tak melulu eksternal.”

—Dewi "Dee" Lestari, penulis



“Semua orang bisa pergi ke Vietnam, Paris, bahkan Pluto. Tapi, hanya beberapa saja yang memilih pulang membawa buah tangan yang mampu menghangatkan hati.

Windy berhasil menyulap perjalanan yang paling sederhana sekalipun jadi terasa mewah. Bahkan, celotehannya dalam kesendirian terdengar ramai. Ramai yang membuat nyaman.”

—Valiant Budi @vabyo, penulis

381 pages, Paperback

First published September 1, 2011

83 people are currently reading
1559 people want to read

About the author

Windy Ariestanty

16 books241 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
625 (33%)
4 stars
632 (33%)
3 stars
463 (24%)
2 stars
112 (5%)
1 star
36 (1%)
Displaying 1 - 30 of 171 reviews
Profile Image for Aveline Agrippina.
Author 3 books69 followers
September 28, 2011
Perihal: Surat untuk Seorang Penulis


Kak Windy,


Tentu kau tahu saya bukanlah seorang pembaca yang baik dan bukanlah seorang penulis resensi yang arif. Saya hanya menulis tentang apa yang ingin saya tulis, saya tidak pernah peduli dengan pembaca yang akan menilai apa dan apakah tulisan saya kelak dipuji atau dicerca. Dengan menyandangi apa yang dikatakan oleh Seno Gumira Ajidarma, setidaknya tulisan yang sudah dilemparkan ke tengah masyarakat, ia sudah menjadi milik publik dan penulis tidak berhak menghujat sang pembaca.

Demikian pula tentang surat yang saya tulis dan saya publikasikan ini. Tentu orang akan menilainya dengan cara mereka sendiri. Mungkin ada yang tersenyum, mengerutkan dahinya, atau pula langsung menutup laman ini tanpa acuh. Saya pun juga tidak harus memaksa orang lain membacanya. Termasuk seorang Windy Ariestanty.

Ini hanyalah sebuah surat dari seorang pembaca kepada seorang penulis yang jatuh cinta kepada aksara yang ditulisnya. Ya, seorang pembaca yang tanpa rasa malu menuliskan suratnya kepada sang penulis tanpa ia tahu harus dituju ke mana surat itu, atau haruskah dengan cara diam-diam mengirimkannya lewat email sang penulis? Ah, saya bukan tipikal orang yang sanggup mengirim pesan untuk menyatakan langsung dan terang-terangan. Biarkan saja, dengan cara ini, ketika kau tanpa sengaja melintas di dunia maya dan membaca apa yang kutulis ini. Tapi posisikanlah kau sebagai penulis sedangkan saya sebagai pembaca. Itu sangatlah cukup.

Kali pertama saya membaca tulisanmu ketika ada di dalam buku Kepada Cinta. Kali itu juga, saya memberikan penilaian secara pribadi bahwa memang seorang Windy Ariestanty ini bukanlah penulis yang tidak bisa tidak meninggalkan kesan ketika saya mengakhiri apa yang ditulisnya. Sederhana, itu yang saya kecap saat mata melintasi baris-baris aksara yang dirawinya.

Dan saya sebut Life Traveler ini tak lain dan tak bukan adalah catatan perjalanan dari seorang pelancong yang bekerja dan berjalan-jalan, Windy Ariestanty.

Adapun kisah Life Traveler sendiri adalah kisah menatap orang, bertemu dan berpisah, berbicara dan berinteraksi dari kota ke kota, negara ke negara, dan benua ke benua. Tugasmu hanya menceritakannya kembali apa yang kau rasa ketika melintas dan bertemu dengan orang-orang yang tak pernah kau temu sebelumnya. Mungkin dengan cara inilah, Life Traveler lahir dengan proses yang berbeda daripada anak-anak pada umumnya. Karena itu pula, Life Traveler dinanti-nantikan banyak orang sejak di dalam rahim.

Awalnya, biasa saja menurutku di bab-bab awal, seperti cerita-cerita yang kau celotehkan di Twitter, seperti ketika kau beranjak dari kota ke kota dan mengunduh foto di Twitter dan bercerita sedikit banyak mengenai perjalananmu. Sampai pada akhirnya, aku terantuk di dalam surat teruntuk Pak Mula yang ternyata telah memimpikanmu untuk pergi ke Eropa, menghadiri Frankfurt Book Fair. Sayang seribu sayang, Pak Mula sudah mendahuluimu untuk berangkat ke Eropa yang sangat abadi, entah di mana. Yang tersisa adalah Eropa di dalam kefanaan yang sungguh dapat kau tapaiki jejakmu dan surat yang tak akan pernah sampai itu setidaknya dibaca Pak Mula. Itu yang kuaminkan.

Lagi, yang berkesan bagiku adalah sosok Marjolein yang mencintai Indonesia meski ia taklah berdarah bumi ini dan untuk pandai berbahasa Indonesia pun ia harus jauh-jauh belajar. Kadang, untuk menjadi seorang yang nasionalis, kita harus diperingatkan dahulu oleh orang yang berada jauh jaraknya dari tanah Indonesia. Itulah Marjolein yang kurasa sesungguhnya ia adalah orang yang rindu pulang. Tak akan ada petualang yang tak rindu pulang seperti halnya tak ada merpati yang lupa akan kediamannya. Setidaknya bagi Marjolein, Indonesia adalah 'rumah' baginya untuk melepas rindu.

Beberapa bulan yang lalu, di dalam sebuah perjalanan pulang, saya menemukan ke mana memang seharusnya kita berada. A home is a house, but a house is not always a home. Itu yang saya katakan kepada teman saya. Ia hanya mengerutkan dahinya sembari berujar dan berpikir bagaimana menerjemahkan arti 'rumah' sesungguhnya. Dan memanglah esensi pulang adalah esensi yang menakjubkan. Jarak yang membuat perpisahan begitu nyata dan menjadikan perjalanan lebih menemukan eksistensinya. Makna di dalam perjalanan pun tak akan hilang begitu saja.

Kerap kali, saya menemukan hati saya bukanlah berada di rumah, tetapi di dalam perjalanan. Entah sedang di pelosok desa, di puncak gunung, di tepi danau, atau di tengah jalan. Juga kebahagiaan yang ditemukan tak melulu ada di rumah. Saya sering menemukan apa yang dinamakan dengan cinta di tempat yang begitu jauh dari rumah. Saya pun bersepakat dengan apa yang dikatakan oleh perempuan itu,"Home is a place where you can find your love."



Kak Windy,

Mungkin perjalanan sederhana bisa menciptakan pelajaran yang tidaklah sederhana untuk kita cerna. Tetapi perjalanan sendiri membuat kita lebih banyak belajar tentang apa yang tak pernah diajarkan oleh bangku sekolah, mungkin guru-guru pun tak tahu ketika mereka harus mendefinisikan hidup seperti apa. Di dalam perjalanan, dunia lebih mendidik kita untuk lebih berani menantang kehidupan itu sendiri.

Di dalam kata-katamu, selalu ada kekuatan yang meninggalkan jejak yang membekas ketika saya mengakhiri dari keping-keping ceritamu. Inilah dari kepiawaianmu merawi dan berangkat dari sesuatu yang terlihat sepele dan bernilai nihil dijadikan olehmu lebih berisi dan tak lagi bernilai kosong begitu saja. Adalah perjalanan yang menjadikan itu semua menjadi ada. Tentang hidup yang tak akan pernah habis untuk dieksplorasikan dan catatan perjalanan ini yang merupakan dokumentasi dari langkah demi langkah sudah memuatnya dari ribuan bahkan jutaan cerita yang ada di dunia ini setiap harinya.

Kurasa perjalanan yang kulintasi bersama anak rohanimu sudah lebih dari cukup.

Terima kasih untuk sebuah sajian di mana kau ternyata masih bersedia untuk selalu berbagi tentang pengalaman di dalam perjalanan, di mana tak semua orang pernah seberuntung engkau yang menikmati perjalanan dan berinteraksi dengan masyarakat. Doaku, jangan pernah lelah untuk tetap berbagi dan tetap menulis.

Tabik!



Bandung, 28 September 2011 | 22.08
A.A. - dalam sebuah inisial

Profile Image for miaaa.
482 reviews421 followers
August 4, 2016
Truth is I find it really awkward to find myself in a published book. I meant, well, reading yourself in someone's book is like watching yourself in a film right? I wonder if Johnny Depp ever feels something similar.

With Windy every trips, no matter how short it was, would be an adventure.

I remember once we decided to go to several places with local transportation instead of her motorcycle. When we're done it was almost 9 pm and to get home we must catch three different routes public transportation, and in Malang city some transportation would not operate till that late. The final thing of the journey was we must pass a wooden bridge which has no light whatsoever and has something spooky about it. So instead of walking, we ran through the bridge and rice fields and once we're in the house, we couldn't stop laughing and cursing our silliness. 'Next time no matter what, we'll use the bike!' Windy said still trying to catch her breath.

Some other time, we were travelling to Green Canyon and Pangandaran Beach in West Java. Windy has some issues with beaches and sea, but that did not mean she wouldn't pose any time I got my camera on. Whilst we're on Green Canyon, accompanied by three local guides, we're doing some body-rafting, climbing stone walls as alternative way to the huge streams (which was not possible to get through by body-rafting) or jumped from a 3 metre high stone to the river (I just jumped yet Windy got us all worried as she kept going forth and back before she finally jumped).

They might be nothing special to you, but for me they are precious because I did it with some close friends and just having fun. You don't have to go abroad to make your journeys something special. Any trip is a journey. Forget about all technical things of having a journey. Just go and meet up interesting people throughout the journeys.

I am lucky that I can travel with Windy to some places, and I hope one day you can travel with her too. I DARE you to challenge her for a trip, ask her to travel together, she's definitely excited enough to go anywhere in this world.


****

Rasanya aneh menemukan dirimu ada dalam sebuah buku. Apa mungkin rasanya seaneh menemukan dirimu tampil di sebuah film? Johnny Depp pernah merasakan ini tidak ya?

Setiap perjalanan bersama Windy bagiku adalah petualangan. Entah itu kelayapan sampai malam di kota Malang -dan lupa kalau angkot tidak semuanya beroperasi sampai malam-, naik mobil bak terbuka dan terguncang-guncang sepanjang jalan menuju anak sungai di mana kita memulai petualangan body-rafting di Green Canyon, Jawa Barat, atau bertemu keamanan kantor pos bandara LCCT Kuala Lumpur yang berbaik hati menyampaikan buku titipan buat Nadjibah (GR Malaysia) dari Amang.

Bagiku setiap perjalanan dan petualangan bersama Windy itu berharga, sesederhana apa pun perjalanan itu. Intinya adalah pergi bersama teman dan sahabat, bersenang-senang, dan bertemu orang-orang menarik di luar sana.

Aku beruntung bisa bertualang bersama Windy, satu hari nanti mungkin kamu bisa bisa bertualang bersamanya. Kenapa tidak? Silahkan tantang Windy, ajak dia pergi ke suatu tempat di dunia ini. Bisa dipastikan dia akan mengiyakanmu dan sebelum kau berkedip kau sudah memesan tiket ke Osaka misalnya.
Profile Image for Ayu Prameswary.
Author 19 books66 followers
October 4, 2011
Dari banyak penulis dalam negeri yang saya sukai, ada tiga orang yang selalu membuat saya ingin berguru pada mereka setiap selesai membaca tulisannya. Dua orang adalah teman yang saya temui dalam suatu komunitas beberapa tahun lalu. Satu orang sudah sukses menelurkan beberapa novel. Seorang lagi sukses menerbitkan sendiri sebuah buku yang ia tulis berduet dengan temannya. Yang terakhir adalah penulis buku yang akan saya ceritakan ini; Windy Ariestanty. Tulisan mereka bertiga, entah kenapa selalu mengingatkan saya pada tulisan dua penulis asal jepang yang saya sukai; Banana Yoshimoto dan Takuji Ichikawa. Halus dan lembut, tapi tidak ‘sepi’ melainkan terasa manis (dan saya membayangkan cotton candy saat menulis kalimat ini :9).

Buku Life Traveler ini adalah catatan perjalanan dari penulisnya. Sementara buku-buku traveling lainnya menceritakan keriaan mengeksplor dunia luar, menemukan hal-hal baru yang menambah kekayaan isi kepala dan kepuasan yang tak mungkin bisa dibeli dengan uang, Life traveler mengambil tema yang selalu bisa menarik rasa penasaran saya; jalan menuju pulang.

Perjalanan-perjalanan ini dilakukan Windy Ariestanty untuk ‘menemukan rumah’ baginya, untuk kembali pulang.

Dan saya sangat setuju dengan apa yang ditulis oleh Valiant Budi dalam cover belakang buku ini;
…bahkan, celotehannya dalam kesendirian terdengar ramai. Ramai yang membuat nyaman.


Indeed! Bahkan tulisannya tentang air mineral, sebuah kesederhanaan yang mewah di Viet nam, bisa membuatmu tersenyum. Bukan karena bersyukur kamu tidak perlu merasakan kesulitan menemukan air mineral bersih di Indonesia, melainkan karena kamu bisa merasakan apa yang Windy alami ketika ia merasakan kesederhanaan yang mewah tersebut.

Untuk saya, catatan perjalanan ini berbeda dari kebanyakan yang ada. And I love it so much :) . Memiliki buku ini semakin menyenangkan karena saya menemukan tanda tangan penulisnya pada buku yang saya pesan di bukabuku.com (Yeay!^^).

Tapi yang menyenangkan dalam sebuah perjalanan adalah menemukan diri kita sendiri; sebuah rumah yang sesungguhnya. Yang membuat kita tak akan merasa asing meski berada di tempat asing sekalipun…
…because travelers never think that they are foreigners.

Profile Image for Karina.
173 reviews32 followers
November 19, 2020
Hasil reread dan masih suka! Review menyusul
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
October 14, 2011
Dalam perjalanan, sesekali kita mesti berhenti (terkadang dipaksa berhenti) sejenak untuk mengamati dan menikmati proses. Ini bukan tentang tujuan perjalanan, tapi tentang perjalanannya itu sendiri. Bukan tentang bagaimana menuju Ha Long Bay dan Angkor Wat dengan budget minim, bukan tentang mencapai Menara Eiffel nan legendaris, atau segera pulang kembali ke Jakarta. Perjalanan dalam Life Traveler adalah tentang bagaimana menemukan sebuah rumah (home) di hotel kecil milik Miss Hang di Ha Noi, tentang mengunjungi sebuah warung kopi terpencil di pedalaman Cezka, dan tentang menemukan rumah singgah di sudut Bandara O’Hare. Terkadang, rumah (home) itu bisa muncul selama di perjalanan, bukan hanya di tujuan.

“Kadang, kita menemukan rumah justru di tempat yang jauh dari rumah itu sendiri. And yes, wherever you feel peacefulness, you might call it home. (halaman 45).

Life Traveler, sekali lagi muncul seorang penulis yang mengompori pembaca untuk bepergian melihat dunia. Dalam Life Traveler ini, Windy seolah ingin menegaskan ciri khasnya sebagai pelancong yang tidak hanya menyesap pemandangan atau objek wisata semata, tapi juga menikmati manusia-manusia yang ia temui di perjalanan. Keunikan dari setiap budaya, kuliner lokal, adat istiadat nan nyentrik, hingga hikmah-himah menawan yang bertebaran di perjalanan; semuanya adalah permata-permata yang sering kita abaikan dalam sebuah perjalanan. Di Vietnam, Windy malah lebih banyak mengisahkan pengalamannya menaiki bus tidur (Sleeping Bus) dan mengomentari batas kecepatan maksimal 40 km ketimbang mengisahkan seluk-beluk keindahan Ha Long Bay. Di Eropa, porsi tentang Menara Eiffel juga sedikit, malah ia lebih banyak bercerita tentang kawasan lampu merah di Amsterdam dan kota tua Praha. Sebuah sudut pandang yang berbeda, menghasilkan rasa yang berbeda pula. Dari awal saya sudah bilang, Life Traveler ini memang berbeda.

Melihat subjudulnya, “suatu ketika di sebuah perjalanan”, Windy seolah ingin mengoreksi pandangan para pelancong yang selama ini hanya berfokus pada tujuan dan mengabaikan perjalanan. Padahal, terkadang porsi waktu yang dihabiskan untuk perjalanan mencapai tujuan sama lamanya (atau bahkan lebih lama) daripada waktu untuk menikmati tujuan itu. Lewat Life Traveler, Windy ingin mengingatkan kita, bahwa di dalam perjalanan itu juga terdapat pemandangan-pemandangan elok, yang kadang tak terlihat oleh mata lahir, tapi begitu memuaskan mata bathin. Ibarat kehidupan, prosesnya lah yang harus kita nikmati, bukan pencapaian. Waktu untuk menjalaninyalah yang merupakan anugrah terbesar dari kehidupan, di mana kita bisa bertemu orang-orang terkasih, mengalami pengalaman-pengalaman hebat—suka dan duka, beragam warna kehidupan yang selama ini kita abaikan karena kita terlalu sering berfokus pada hasil.

Dituliskan dengan begitu indah dan filosofis, pembaca akan diajak melancong sekaligus merenung, diajak berwisata sekaligus belajar budaya baru, diajak melihat monumen-monumen megah sekaligus bertemu orang-orang hebat; lengkap dan komplet. Walau lebih menekankan pada aspek perenungan tentang hidup, Life Traveler tidak kehilangan unsur “jalan-jalannya” karena novel perjalanan ini juga dilengkapi dengan tips berwisata ala backpacker di Vietnam, Kamboja, dan Eropa tengah. Windy juga menyertakan foto-foto sangat “menarik perhatian” dengan tampilan yang halus dan menyentak, sehingga pembaca niscaya tidak akan bosan melihat deretan huruf dan kalimat beraroma filosofi kehidupan.


Terlalu banyak kutipan indah yang begitu menggoda untuk diselipkan, terlalu banyak pemandangan dan pengalaman luar biasa untuk diceritakan. Dan, itu semua tidak akan bisa muat dalam satu resensi kecil dari saya yang merasa belum pergi kemana-mana ini. Anda harus membacanya sendiri untuk bisa merasakan perjalanan penulis yang penuh warna dan juga penuh makna. Sebuah perjalanan pergi untuk kembali. Empat bintang untuk Life Traveler yang mengajarkan saya tidak hanya tentang melancong dan bersenang-senang, namun juga mencari sahabat dan kenangan di perjalanan.

Dan manusia, pada kodratnya, selalu menemukan cara pulang ke ‘rumah’. Tak peduli dekat atau jauh jaraknya.” (halaman 78)
Profile Image for Wulan.
97 reviews13 followers
February 20, 2012
Life Traveler bukanlah sebuah buku panduan tentang jalan-jalan. Dari judulnya aja, kita sudah bisa tahu bahwa buku ini berisikan 'kehidupan' yang dilihat, diamati, dan diresapi Windy selama menjadi seorang pelancong. Jadi jangan harap mendapatkan informasi mengenai hotel/hostel yang lengkap dan segala macam 'tetek-bengek' yang selalu menjadi perkara ketika menjalani 'traveling on a budget'.

Sebagai gantinya, kita akan mendapatkan bongkahan-bongkahan cerita yang disusun secara rapi dan apik, curahan hati yang 'bittersweet', serta interaksi manusia yang simpel namun berkesan. Windy merangkai kata-katanya dengan keahlian yang hanya dimiliki sedikit penulis Indonesia, terutama penulis bertemakan jalan-jalan. Kita tenggelam dalam setiap cerita, dari yang 'galau' ketika duduk-duduk sendiri di Paris, sampai menonton pertunjukan di Thailand yang membuat ngilu.

Pada akhirnya -setelah membaca buku ini -kita semakin terdorong untuk melakukan perjalanan, dengan harapan kita akan mendapatkan pengalaman yang sama berkesannya dengan yang dialami Windy. Let's be honest, bukankah itu yang sebenarnya dibutuhkan dari sebuah buku tentang jalan-jalan? :)
Profile Image for Wiranto Bakri.
8 reviews23 followers
May 26, 2019
It takes 3 days to read this Book. I compared to many books in travelling genre, then this one (Life Traveller) makes me more positive from how she totally has a great interaction with People she met in every city.

You know? She is one of the Best Writer in Indonesian Traveller. You can check her Story in windyariestanty.com.

I think you will have a lot of curiosity in her blog, Twitter and Instagram.
Profile Image for Haryadi Yansyah.
Author 14 books64 followers
March 31, 2018
We just need to stay away for a moment to get back home.” Hal.65.

Kita hanya perlu menjauh sesaat untuk bisa kembali pulang… Begitulah tabiat manusia ketika mulai dihinggapi penat dan dipeluk suntuk. Biasanya, perasaan untuk pergi sesaat itu akan mencuat seketika. Tiba-tiba saja kita berharap bisa berkelana ke tempat yang jauh. Melenyapkan diri dari rutinitas dan kebosanan. Bukan untuk selamanya, namun lebih untuk merasakan getar rindu akan tempat yang sementara tertinggal. Sebuah tempat untuk kembali. Tempat yang biasa kita sebut… rumah.

Hidup adalah kejutan. Bahkan, di balik sebuah rutinitas pun saya percaya ada kejutan kecil yang bersembunyi,” ujar Windy (Hal.3). Ya, kejutan pula yang memperkenalkan Windy dengan beberapa teman baru yang akan menemani perjalanannya ke Indocina. Perjalanan yang ia sebut sebagai pencarian sekaligus ‘melepaskan diri sejenak´ dari rutinitas. Bersama teman-teman barunya –Ari, Mia dan Echa, mereka berempat memulai perjalanan mereka ke The City of Peace-Ha Noi, Vietnam.

impericalcity

Perjalanan Windy menyusuri sudut-sudut kota di Vietnam mendapatkan porsi yang cukup besar di buku ini. Dimulai dari Miss Hang, pemilik hostel tempat mereka menginap. Miss Hang menganggap semua tamunya adalah keluarga. Wajar jika hostel Miss Hang diincar oleh banyak orang. Bukan karena dia memiliki hostel terbaik, namun kehangatan dan sikap menyejukkan yang ditunjukkan Miss Hang lah yang membuat pengunjung betah. “Miss Hang buat saya tampak seperti ibu yang berperan sebagai dewi penyelamat bagi semua tamu yang mampir ke hotel ini.“ Hal.49.

Dalam perjalanan mengelilingi Indocina menggunakan bus kaki mengguntai, Windy belajar tentang toleransi. Di saat bersamaan, aku pun sebagai pembaca belajar dari kisah keberanian Nenek Rusia yang nekat keliling dunia seorang diri walaupun dia tidak bisa berbahasa Inggris! Jika selama ini pelancong mengurungkan niat menjelajah tempat baru karena kendala bahasa, Nenek Rusia mengikis keraguan itu. “Ada satu bahasa yang tumbuh besar bersama manusia tanpa membutuhkan kamus : bahasa ‘memahami’” Hal.128. “Saya percaya ‘bahasa’ manusia yang satu ini bekerja dengan cara yang luar biasa” Hal. 137.

Di Kamboja, Windy memaparkan sesuatu yang sesungguhnya menjadi hakikat hidup setiap manusia. Sesuatu itu tergambar dari perjumpaannya dengan sepasang paruh-baya yang melakukan hal romantis tanpa perlu dibuat-buat di sebuah taman di Siem Riep di pagi yang hening. Sesuatu itu ialah cinta. “Saya percaya, ada bahasa yang tak bersuara. Ada aksara yang tak membutuhkan kata-kata. Dan itu cinta.” Hal. 112. Terkadang orang melakukan perjalanan untuk menemukan sesuatu itu. Sesuatu yang universal tak tersekat antara hubungan antar jenis semata.

Selepas perjalanan dan perenungan di Indocina, Windy bercerita mengenai kehangatan sebuah keluarga baru yang ia temukan di Amerika Serikat. Cerita yang bergulir dari kedatangan kartu pos ini sangat menyenangkan. Aunty Fran, selalu mengirimi ia kartu pos tiap kali ia berkelana ke tempat yang baru. Windy tak mengangka, Aunty Fran yang seyogyanya bukan siapa-siapa secara tulus langsung menganggapnya sebagai salah satu bagian dari anggota keluarga. “Travelers never think they are foreigners… Kita tidak boleh membatasi diri. Kalau kalian terus berfikir kalian adalah orang asing di negeri ini, maka kalian akan diperlakukan seperti itu. This is just your another home.” Hal.152.

Life Traveler adalah sajian apik yang tak melulu menceritakan bagaimana perjalanan dilakukan. Tetapi lebih dari itu, paparan Windy terhadap hal-hal unik yang ia temui di perjalanan menjadikan buku ini lebih spesial. Windy adalah pemerhati ulung. Hal-hal yang terpingirkan selama perjalanan mampu dipaparkan dengan inspiratif. Sebelumnya, beberapa penulis telah melakukan formula yang sama. Diantaranya Jingga (Marina Silvia K), trilogi Selimut Debu (Agustinus Wibowo) atau Two Travel Tales (Ade Nastiti). Masing-masing buku tersebut mengangkat tema dasar yang sama. Yakni, pencarian dalam perjalanan. Namun, Windy mampu mengemas bahasa dengan ritme yang cocok dengan segmentasi pembaca (pribadi yang tengah galau?) tanpa perlu ber-lebay-ria.

praha-hrad

Sebagai pecinta Praha terus terang aku iri. Salah satu sudut surga dunia di jantung Eropa itu memang mengikat hatiku sejak lama. Dan… Windy sangat beruntung bisa melihat keelokan Praha walaupun dalam waktu singkat dan tanpa perencanaan sebelumnya. “I have fallen in love with Prague before knowing it” ujar Windy. Hal.205. Aku pribadi masih harus banyak berjuang untuk mewujudkan mimpiku itu. Tapi aku percaya, Tuhan maha mendengar dan selalu hadir di denyut kehidupan para pemimpi yang mau berusaha keras untuk mewujudkannya. Bismillah…

Masih banyak catatan perenungan yang ditawarkan oleh Life Traveler. Silahkan rengkuh sendiri cerita-cerita itu dan bawalah kedalam buaian dan dekap bersama kehidupan. Mudah-mudahan kita bisa meniru Windy. Petualang gigih yang mampu menyerap saripati perjalanan dan menyulamnya dalam kata-kata sehingga kemanfaatan perjalanan itu dapat menyebar di benak pembaca. Selamat berpetualang dalam suatu ketika di sebuah perjalanan.
Profile Image for Ellen Isabella.
164 reviews21 followers
February 17, 2012
Buku ini saya beli awalnya tertarik sama judul-nya yang menarik dan cover-nya yang sederhana tapi indah. Selain itu, tema traveling juga sangat menarik minat saya karena saya pribadi memang suka jalan-jalan.

Dari tulisan Windy Ariestanty ini saya serasa menghidupi pengalamannya selama berkelana di berbagai tempat meskipun banyak tempat yang digambarkan di buku Life Traveler ini belum pernah saya datangi sebelumnya. Pengalaman Windy juga memberikan pembelajaran bagi banyak orang, bahwa traveling dilakukan bukan sekedar untuk menghambur-hamburkan uang atau demi kesenangan semata. Namun banyak hal yang bisa kita peroleh di dalam suatu perjalanan.

Selain bisa melihat tempat-tempat yang indah di berbagai negara, kita juga bisa belajar budaya setempat dan bertemu dengan orang-orang yang luar biasa. Hal itu tentunya jauh lebih berharga daripada uang yang dikeluarkan untuk menjelajah ke daerah-daerah tersebut. Tapi bukan berarti traveling itu harus boros. Belajar dari pengalaman traveling orang lain bisa membantu kita untuk menemukan trik traveling hemat dan pintar tapi tetap seru.

Tips yang tercantum di buku ini tentunya akan dapat menolong siapapun yang punya rencana untuk menjelajah ke daerah-daerah yang disebutkan Windy di buku ini. Pastinya tidak akan rugi kalau baca buku ini.

Ada banyak hal yang saya sukai dari buku ini. Saya senang sekali membaca perspektif Windy di buku ini. Caranya memandang berbagai hal itu sangat unik. Digambarkan dengan sederhana namun penghayatannya sangat mendalam. Tidak banyak orang yang dapat mengantarkan hal seperti itu di dalam suatu tulisan. Banyak kenangan indah, kejadian unik, perasaan yang bercampur aduk dan pastinya pengalaman yang tidak dapat dibeli dengan uang.

Bagian favorit saya adalah cerita si kakek Jerman yang menolak menjual tas dagangannya karena tas tersebut memiliki cacat. Kejujuran seperti itu tentunya tidak banyak kita temui di banyak tempat. Beruntunglah orang yang pernah bertemu dengan kakek itu. Meskipun tampilannya terkesan dingin, siapa yang tahu ternyata hatinya sehangat kompor? Hehe...

Satu hal yang saya rasakan bahwa saya punya kesamaan dengan Windy adalah bahwa kami sama-sama jatuh cinta pada Prague meskipun belum ke sana. Yah, sampai sekarang pun saya belum pernah ke sana, tapi saya tidak pernah berhenti bermimpi untuk pergi ke sana. Saya memang hobi traveling tapi entah kenapa saya lebih antusias untuk mengunjungi tempat-tempat yang tidak terlalu umum digandrungi sebagai daerah wisata. Padahal tempat-tempat tersebut punya banyak hal menarik yang bisa ditawarkan. Well, meskipun begitu, saya tidak menolak untuk jalan ke mana saja. Cita-cita saya adalah menjajaki seluruh tempat yang ada di dunia. :)
2 reviews
February 2, 2012
Sebagai seseorang yang belum lama menyukai traveling books, saya cukup hati - hati dalam membeli buku traveling.

Dimulai dari serial Naked Traveler, menyadarkan saya kalau saya bisa sangat menikmati catatan perjalanan seseorang yang telah melihat berbagai warna di belahan lain bumi ini. And actually this is my second book about traveling, and I loved it so much

Who says never judge a book by it's cover? saya memperhatikan buku ini justru karena cover-nya yang, menurut opini saya, menyiratkan keteduhan, kesederhanaan, dan seakan - akan ada segudang cerita unik tersimpan di setiap lembar halaman nya.....

Hal yang membuat saya memutuskan untuk membeli buku ini adalah potongan dialog yang disertakan di cover belakang buku. Ya, potongan dialog. Bukan karena overview atau review atau komentar dari publisher, writer atau orang ternama lainnya. Terakhir kali saya membeli buku dengan cara seperti adalah untuk The Alchemist karya Paulo Coelho.

To the content,
Penuturan cerita terkesan lembut, santai, dan damai. :D
Setiap malam, saya sisihkan sedikit waktu untuk membaca buku ini, untuk mendapatkan feel tersebut. Windy membawa kita merasakan setiap sudut dunia yang dikunjunginya bukan dengan ulasan tempat - tempat terkenal atau mengunjungi tempat - tempat yang tidak biasa. Tetapi lebih dengan interaksi yang dia lakukan dengan penduduk asli di negeri yang dikunjungi nya. Membuat kita mengetahui pandangan orang asing terhadap orang Indonesia, pandangan tentang orang2 yang mengunjungi negeri mereka serta sikap2 unik mereka. Membuat kita tidak hanya membayangkan tempat2 yang dikunjungi Windy, tetapi juga bagaimana kehidupan berjalan disana.

This is a good book. In the end, I want to give big credit to the writer for giving us an opportunity to feel the world even we don't come to that far, yet.
Profile Image for Uci .
622 reviews124 followers
November 25, 2011
Keistimewaan buku ini adalah kisah-kisah menarik yang berhasil digali Windy dari orang-orang yang dia temui di sepanjang perjalanannya ke berbagai negara. Misalnya kecintaan Marjolein, wanita warga negara Prancis kelahiran Belanda, pada Indonesia, suatu negeri nun jauh di sana yang selalu dia anggap sebagai Rumah meski terpisah jarak ribuan kilometer.

Semua kisah dalam buku ini bertutur tentang perjalanan Windy mencari Rumah dan makna hidup di luar Indonesia. Mungkin sebagai penegasan bahwa Rumah tidak selalu ditemukan di tempat yang dekat. Tapi, ingin juga membaca kesan-kesan dia saat menjelajah Indonesia, orang-orang hebat seperti apa yang dia temui di Nusantara. Mungkin di buku selanjutnya? :)

Satu hal menyenangkan yang saya temukan dalam buku ini adalah: ikut tur saat mengunjungi suatu tempat terbukti tidak harus identik dengan wisata yang serba buru-buru, hanya di permukaan, tidak mendalam, dan tidak seru. Saya percaya, apa pun bentuk perjalanan kita, ikut tur atau backpackeran, selalu ada kesan dan makna yang bisa kita temukan, tergantung bagaimana cara kita menyikapi perjalanan tersebut. (Sembari nunjuk ke diri sendiri yang kadang-kadang pinginnya pergi ke mana-mana udah ada yang ngurus, tinggal ikutin itinerary :D)

So, dear travelers, let's get lost and hopefully one day we will find our self at home in a place we've never imagined...
Profile Image for lita.
440 reviews68 followers
January 22, 2012
Membaca buku ini membuat perasaan saya jadi campur aduk. Rasanya seperti membuka album kenangan lama. Lima tahun bukan waktu yang sebentar, dan selama itu saya terpaksa berdiam tanpa bisa melakukan perjalanan, kecuali dengan "pengawalan" dan aturan dokter yang begitu ketat yang harus saya patuhi. Tapi, seperti kalimat yang kau kutip: "There is always be reasons to wait." Thanks, Windy. Kau berhasil memicu semangatku untuk bisa melakukan perjalanan lagi :)
51 reviews
October 7, 2011
Yang paling saya suka dari membaca catatan perjalanan bukanlah informasi tempat-tempat menarik yang bisa dikunjungi, tapi interaksi penulis dengan penduduk lokal, budaya sekitar bahkan teman seperjalanan, 'pencerahan' apa yang didapatnya selama perjalanan. That's what I got from this book.
Profile Image for Weka Agnes.
53 reviews38 followers
March 25, 2015
Yay akhirnya selesai.
lama banget bacanya. kelemahan saya kalo baca buku non fiksi. entahlah. padahal isinya tentang jalan jalan. mungkin karena nggak ada konflik yang menantang jadi rasanya kurang greget. hehe.
Profile Image for F.J. Ismarianto.
Author 4 books21 followers
May 25, 2012
Icip-icip Life Traveler
Suatu ketika di sebuah perjalanan, Windy bertemu dengan seseorang.

“Kamu akan bepergian kemana?” Tanya orang itu sambil meletakkan secangkir teh hangat di meja Windy.

“Pulang,” jawab Windy singkat, tanpa menolehkan kepalanya, mengamati landasan pacu yang kelihatan jelas dari balik dinding-dinding kaca restoran tempat dia duduk malam itu.

“Pulang?” Ulang orang asing di depannya itu. Keningnya berkerut. Dia tampak bingung. “Tapi kamu tidak seperti orang yang sedang ingin pulang.”

Kemungkinan besar didorong oleh rasa penasaran, dan mungkin juga oleh keinginan menegaskan bahwa memang dia hendak pulang, Windy mengalihkan perhatiannya dari guratan pada kaca–hasil perbuatan bulir-bulir hujan yang ingin menerjang masuk restoran, memesan segelas cokelat panas (?). “Maaf, maksud anda apa ya?”

Apa maksud dari seorang asing tersebut? Kira-kira kalimat apa yang akan meluncur dari bibirnya setelah Windy mencurahkan seluruh perhatiannya padanya?

Lalu, apa maksud dari Life Traveler itu sendiri?

Kata Windy, kadang kita menemukan rumah justru di tempat yang dari rumah kita sendiri. Kenapa dia bisa bilang begitu?

Jelas semua pertanyaan tersebut akan terjawab dengan membaca buku Life Traveler yang memiliki tebal 392 halaman itu ;)

Cita rasa Life Traveler
Life Traveler adalah buku tentang perjalanan yang pertama aku baca. Seandainya saja Stefanie Sugia tidak ikut serta dalam BBI 1st Giveaway, mungkin aku tidak berkesempatan ikut “jalan-jalan” bersama Windy ke belahan dunia yang lain.

Kita awali dengan baju buku ini.
Aku suka kombinasi warna dan gambar daunnya! Termasuk tata letaknya. Terutama peletakan daun warna-warni yang diletakkan di bagian bawah agak ke kanan dan endorsmemnt dari Dewi “Dee” Lestari yang diletakkan di atasnya. Sederhana namun tidak sampai mencolok mata.

Perlu kalian tahu juga, cover Life Traveler ini bolak-balik. Maksudnya, kalian masih akan menemukan beberapa gambar daun di sisi belakang (dalam) covernya.

Life Traveler memiliki dua sinopsis. Satu dari cuplikan salah satu bab dalam perjalanannya. Satu lagi arti dari sebuah perjalanan, yang menurutku merupakan pesan tersirat dari pembuatan buku Life Traveler ini. (Kesan yang didapat pembaca setelah membaca buku ini, Story Eater’s Note). Kenapa Windy melakukan hal itu? Kenapa membeberkan inti dari pengalamannya secara gamblang pada sinopsis?

Jawabannya, tentu saja, ada di dalam Life Traveler, hahah. Tepatnya terletak di endorsment by Valiant Budi, penulis Joker :mrgreen:

Keunikan lainnya dapat kalian temukan pada pembatas bukunya. Ukurannya mungil. Sekitar 1/3 pembatas buku pada umumnya, tapi badannya sedikit lebih lebar. Dan, ini dia yang paling aku suka–dan bagi mereka yang suka sekali dengan gambaran tangan, di balik tulisan judul bukunya, Life Traveler, dan gambar daun yang sama seperti di cover, ada semacam ilustrasi boarding pass.

Selain foto-foto bidikan Windy, dan teman-temannya, yang keren-keren, Life Traveler juga “dipersenjatai” dengan ilustrasi yang tak kalah memanjakan mata dan membantu imajinasi kita saat “dalam perjalanan” bersama Windy ini.

Aku sendiri punya foto dan ilustrasi favorit. Tapi aku tidak akan memberitahukan yang mana :P

Terus kenapa kamu bilang, Jun? (–”)7

Novel aja ada fillernya, masa review nggak boleh ada fillernya? =))

Hnnn (‾_‾) Oke, daritadi memuja-muji gambar dan ilustrasinya, bagaimana dengan isinya? Ada typo-kah?

Tentu saja ada. Total typo yang aku temukan ada 17. Termasuk di dalamnya: dua kali kata dobel dan tiga kali salah sebut nama (dua nama agen perjalanan, dan satu nama lokasi). Aku juga menemukan dua kata yang, menurutku, kurang pas. Dan dua kata yang, lagi-lagi menurutku, tampaknya lupa diketikkan.

Oh iya, di halaman 69 buku Life Traveler ini, ada kalimat yang belum selesai. Meski kita bisa menebak kata selanjutnya, tapi tentu saja ini salah satu kelupaan yang fatal. Atau… mungkin saja karena kemampuan bahasa Inggris-ku yang masih seperti goyangan Anisa Bahar sehingga membuatku merasa salah satu kalimat di halaman 69 itu kurang? Bisa jadi juga.

Ada beberapa kata yang susah kupahami dan butuh berulang-ulang membacanya. Bahkan hingga aku menyelesaikan Life Traveler, beberapa diantaranya masih belum kumengerti.

Btw, dari semua perjalanan Windy di Life Traveler, mana yang paling kamu suka, Jun?

Hnn, susah itu dijawabnya. Aku merasa iri ketika dia berada di Frankfurt. Aku merasa ingin bersamanya ketika dia dalam perjalanan kembali setelah “curi-curi waktu” di Praha. Aku juga ingin bertemu dan ngobrol bersama Marjolein seperti Windy ketika dia berada di Paris. Jadi, coba tebak, mana yang jadi favoritku? ;)

Jelas banget, semua yang kamu sebutkan itu (‾_‾)

Hahah.

Oh iya, satu lagi, ada dua kisah perjalanan yang bukan dari Windy. Masing-masing dari Yunika dan Dominique, dua sahabat Windy. Dan tahu tidak, aku mengenal nama Yunika terlebih dahulu sebelum Windy lewat lagunya yang berjudul–apalagi kalau bukan–Inginku (Bukan Hanya Jadi Temanmu).

Seperti yang aku bilang saat mengawali citarasa Life Traveler, Life Traveler adalah buku perjalanan pertama yang aku baca. Jelas Life Traveler bukan buku panduan wisata. Namun justru sisi personal buku ini yang, menurutku, sangat mempengaruhi pembaca, termasuk diriku, untuk melakukan perjalanan wisata. Tidak hanya jalan-jalan dan memandang sisi lain dunia, tapi juga berteman dengan banyak orang dari belahan bumi yang lain.

Pernah nonton film Mr Bean’s Holiday? Mr Bean mendapat hadiah liburan, tapi karena sebuah kejadian, dia malah kehilangan beberapa hal, tapi dia mendapatkan banyak hal baru sebagai gantinya. Tempat tujuan memang penting, tapi ada yang lebih penting lagi: perjalanannya dan orang-orang yang ditemui selama perjalanan.

Itu juga yang ingin disampaikan Windy dalam bukunya, Life Traveler. Kita jelas akan senang ketika mencapai tujuan, tapi kita akan lebih senang lagi, ketika mencapai tujuan tersebut kita berbagi kesenangan dengan seorang, atau lebih, teman. Bukan sekedar teman, tapi sahabat atau saudara. Dimana kita bisa mengekspresikan diri kita apa adanya. Tanpa mempertanyakan asal dan kebangsaan kita.

“Betapa beruntungnya Windy! Bisa jalan-jalan sekaligus mendapat teman baru.” Aku tidak bisa mencegah kalimat itu meluncur setelah kelar membaca kisah perjalanannya.

Oh, dan satu lagi hal yang membuatku penasaran setelah menutup buku ini, apa arti angka 13 di setiap menjelang akhir bab–sebelum pembaca Life Traveler disuguhi Traveler’s Notes, penjelasan/info singkat, tips dan trik?
Profile Image for Tri Cardo.
9 reviews1 follower
March 5, 2018
Banyak orang bisa pergi ke Viet Nam, berjalan-jalan menyusuri Paris, Jerman, dan banyak tempat lain, namun cerita perjalanan Windy Aristanty ini sungguh bukan hanya sekedar cerita perjalanan biasa. Ia mampu membawa setiap pembaca ikut dalam perjalanan itu dan membawa banyak hal yang baru seolah-olah ikut pulang dari perjalanan.

Life Traveler, mengajak pembaca untuk pergian melihat dunia yang tidak hanya merasakan pemandangan, tapi juga menikmati manusia yang ia temui di perjalanan, keunikan dari setiap budaya, kuliner lokal, adat istiadat nan nyentrik, hingga hikmah menawan yang bertebaran di perjalanan; semuanya adalah permata-permata yang sering kita abaikan dalam sebuah perjalanan.

Dalam buku ini, saya menemukan bahwa dalam perjalanan, sesekali kita mesti berhenti (terkadang dipaksa berhenti) sejenak untuk mengamati dan menikmati proses. Ini bukan tentang tujuan perjalanan, tapi tentang perjalanannya itu sendiri. [Bukan tentang bagaimana menuju Ha Long Bay dan Angkor Wat dengan budget minim, bukan tentang mencapai Menara Eiffel nan legendaris, atau segera pulang kembali ke Jakarta].

Perjalanan dalam Life Traveler adalah tentang bagaimana menemukan sebuah rumah (home) yang bisa muncul selama di perjalanan, bukan hanya di tujuan. Yang pada akhirnya, “Kadang, kita menemukan rumah justru di tempat yang jauh dari rumah itu sendiri. And yes, wherever you feel peacefulness, you might call it home.

Terlalu banyak kutipan indah yang begitu menggoda untuk diselipkan, terlalu banyak pemandangan dan pengalaman luar biasa untuk diceritakan.
Profile Image for Nike Andaru.
1,653 reviews112 followers
August 19, 2019
162 - 2019

Udah punya buku ini sejak 2011, wah timbunan berumur 8 tahun ini akhirnya selesai juga.

Saya rasa memang gak boleh memaksakan untuk membaca suatu buku biar dapet semua rasanya sesuai mood kita, begitu juga dengan buku ini, saya merasa tak mengapa baru baca buku ini di tahun 2019. Walau kertasnya sudah menguning, buku ini tetap lah menarik hingga kini dibacanya.

Saya menyukai tulisan Kak Windy, eh pas baca ternyata ada nama Kak Mia dan Echa di dalam cerita ini, saya makin penasaran baca petualangan mereka hingga akhir. Saya kira ini adalah catatan perjalanan ke Indo China saja, tapi ternyata saya salah, bisa dibilang ini adalah kumpulan catatan perjalanan Kak Windy di mana-mana, Vietnam, Eropa hingga Amerika.

Ini bukan buku traveling biasa, di dalamnya pembaca tidak hanya disuguhkan dengan tempat-tempat wisata di daerah yang dikunjungi, tapi lebih dari itu, Kak Windy menuliskan banyak catatan hati dalam buku ini. Bagaimana 'rumah' adalah sejatinya tempat kita merasa nyaman, ada rasa bangga pada Indonesia, ada info menarik bagaimana Marjolein menjadi pemandu wisata di Paris. Ah, cerita Kak Windy mengesankan.
Profile Image for Nanaku.
155 reviews9 followers
August 7, 2017
"Home is where your love is", kata si Nenek di Bandara O'Hare.
Kesimpulan saya setelah selesai membaca buku ini : Perjalanan akan membawa kita rindu untuk pulang, tapi perjalanan juga bisa membawa kita menemukan rumah kemanapun kita melangkah :)

Awal baca, saya kira buku akan full berisi cerita petualangan penulis, dkk di Indochina. Sempet terpikir sih, hebat banget perjalanan selama seminggu di kurang dari 7 negara bisa jadi setebal ini.

Ternyata bukan cuma petualangan Indochina trip saja, tapi di buku ini si penulis memaparkan cerita perjalanannya ke banyak negara. Tapi bukan sekedar wisatanya saja, yang menarik justru cerita dan makna dibalik jalan-jalannya itu sendiri. Juga rasa yang akan membuat kita merasa seakan ikut terbawa dalam cerita. So, yes, I adore her! hohoho

Jujur saja, saya tertarik membaca buku ini karena pernah mengikuti salah satu workshop menulisnya, dan menurut saya, Windy adalah pencerita yang menarik. Jadilah saya tertarik membaca bukunya yang satu ini. Dan, setelah membaca, saya simpulkan bahwa Windy memang pencerita yang sangat menarik!
Profile Image for Anugrahni S.
10 reviews
March 10, 2019
Gaya penulisan naratifnya ciamik. Cerita perjalanan disampaikan secara menarik, tidak cuma sekedar bicara soal destinasi semata. Membaca cerita di buku ini membuat saya ikut larut dalam tiap "perjalanan" penulisnya.
Profile Image for 'Izzatil 'Adawiyah.
53 reviews9 followers
August 7, 2019
mbak w selalu menyajikan sudut pandang yang menarik dari sebuah perjalanan. saya rasa saya mulai sepakat dengan valiant : Live Traveler menggoyahkan iman saya yang selama ini percaya kalo jalan jalan itu paling asyik sendirian :)
Profile Image for Sinta Maharani.
115 reviews11 followers
November 24, 2020
I bought this book because I do really love travelling. Actually, for me years ago, this book is kind of thick yet apparently the great experience written by the writer is really interesting and remarkable that you will not feel bored therefore you will keep reading with fun. The details, interactions, attachments (pictures, tickets, etc.) will make you feel as if the writer took you to travel together as well. Not only just for fun, I believe you will gain a lot of information and values too from this book.
This book makes me want to know more of the writer, who is Windy Ariestanty, and apparently she writes everywhere and I love it! I enjoy reading (even re-reading) her writings! Love, love, love!
Profile Image for Lina.
290 reviews24 followers
January 31, 2014
Travel Lit plus Personal Literature, begitulah saya menggolongkan buku ini.

Tapi kalau ditanya, apakah buku ini bisa menjadi buku panduan untuk perjalanan, mungkin saya akan menjawab, sedikit. Buku ini lebih banyak bercerita mengenai pencarian jati diri seorang Windy Ariestanty daripada membahas objek-objek seru di tempat-tempat pariwisata, karenanya buku ini juga masuk dalam golongan Personal Literature.
"Saya tak ingin memberatkan hidup saya dengan urusan yang kurang penting." ~hal. 10
Sepertiga bagian awal buku, Windy mengisahkan mengenai perjalanannya ke negara-negara Indo China seperti Vietnam dan Kamboja. Pertama-tama sebelum memulai perjalanan, Windy mengajak para pembaca untuk belajar berkemas atau packing. Lho berkemas saja harus diceritakan? Ya, karena berkemas pun ada seninya.

Windy tidak ingin membawa barang-barang kurang penting yang bisa memberatkan perjalanannya nanti. Baginya, selalu sisakan ruang kosong dalam koper atau ransel untuk setiap barang-barang baru yang mungkin akan ditemui sepanjang perjalanan, seperti oleh-oleh atau pun barang-barang lain. Dan sama sama seperti filosofi berkemas, hidup juga seperti itu. Jangan bikin hidup menjadi berat hanya karena masalah sepele.

Selanjutnya kisah banyak menuturkan tentang Vietnam. BTW, saya agak bingung sama penulisan Vietnam di sini. Setahu saya, Vietnam itu disambung, tetapi mengapa Windy selalu menulisnya Viet Nam, begitupun dengan nama lain macam Ha Noi, Sai Gon. Sebagai pembaca awam, ini saya beneran tanya.

Di Vietnam, Windy mengajak kita berkenalan dengan kebiasaan hidup masyarakat Vietnam yang suka kumpul-kumpul di resto pinggir jalan pada malam hari dengan duduk saling bedempetan karena tempat yang sempit. Lalu Miss Hang, sang resepsionis ramah yang selalu tersenyum dan memberikan segelas air setiap menyambut para tamunya yang lelah. Alih-alih bercerita mengenai tempat-tempat pariwisatanya, Windy mengajak kita untuk berpikir dan merenung dengan mengamati manusia-manusia lain di sekitar kita. Melihat bagaimana mereka saling berinteraksi, berbicara satu sama lain. Bahkan meskipun kita tak mengerti bahasa mereka, tetap akan selalu ada bahasa manusia yaitu dengan belajar memahami seperti melihat gerak tubuh, tatapan mata, dan lain-lain.
"Waktu tak pernah memutuskan apa pun untuk kita. Kita yang harus bersikap." ~hal. 275
Pakai dan nikmati setiap waktu yang ada meskipun singkat. Perjalanan Windy, baik itu di negara-negara Indo China (Vietnam, Kamboja, dll), Eropa (Paris, Jerman, Swiss, dll) maupun Amerika Serikat atau tempat lain, banyak yang dikisahkan memiliki waktu yang sangat terbatas atau cuma sebentar. Namun meskipun hanya duduk di bus dan menghabiskan banyak waktu di jalan, Windy berusaha untuk menemukan segala aktivitas yang bisa ia lakukan, misalnya dengan mengamati orang-orang di sekelilingnya.

Saya selalu melihat, Windy berusaha memaksimalkan setiap waktu yang dimilikinya kalau berpergian. Tidak pernah ada kata lelah saat tiba di suatu negara baru dengan hanya duduk-duduk diam saja di kamar hotel. Bahkan meskipun malam telah larut dan kota tempat singgah mereka minim sarana hiburan, Windy berusaha menemukan sesuatu yang bisa ia ingat mengenai kota tempat ia singgah, seperti Goethe Haus di Frankfurt, Jerman, walau sudah tutup dan hanya bisa melihat bagian depan.

Bagi Windy bukanlah tidak ada waktu atau sebaliknya bagaimana menghabiskan waktu, namun bagaimana sikap kita terhadap waktu. Bisa saja kita punya banyak waktu namun tidak menggunakan waktu itu. Waktu bukanlah penentu keputusan, tapi kitalah yang harus memutuskan bagaimana menggunakan waktu.
"Semua tahu mereka butuh 'pulang'. Butuh rehat. Butuh mencari hangat. Mereka mencarinya dari sebuah kebersamaan. Keintiman yang menjauhkan mereka dari keterasingan."~hal. 158
Rumah bisa ditemukan di mana saja. Dalam bahasa Inggris ada 2 kata yang berarti rumah bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, yaitu house dan home. Namun walau 2 kata ini memiliki arti yang hampir mirip, namun maknanya berbeda. Rumah adalah sebuah bangunan atau gedung, a house is not always a home, because home can be anywhere as long as you comfort. Sedangkan rumah bisa berupa apa saja dan di mana saja, sepanjang kita merasa nyaman, hangat dan diterima.

Yang saya suka dari penuturan Windy. Saya suka penuturan Windy yang lepas namun positif tanpa terasa nada sinis atau sarkasme. Windy berusaha jujur dalam memaparkan laporan perjalanannya dari sudut pandangnya, bahkan saat ia mengalami kejadian kurang menyenangkan seperti saat di bandara O'Hare ataupun mendatangi tempat-tempat yang sarana hiburannya kurang seperti di Frankfurt, ia jarang berkeluh kesah.

Bahkan saat harus melihat deretan kaki dan mencium bau kaki yang tidak sedap saat menumpangi sleeping bus di Vietnam, Windy menuliskannya dengan kesan jenaka alih-alih kesal. Begitu pun saat ada cowok asing yang melambaikan ciuman jarak jauh, alih-alih dianggap kurang ajar, Windy lebih menganggapnya sebagai keramahan dari penduduk lokal atau kiss from a stranger.

Selain itu yang saya suka dari buku ini adalah banyak ilustrasinya yang kece badai dan colourful.
Profile Image for Diagnosa Fenomena.
9 reviews3 followers
October 21, 2017
Menarik, tapi mungkin karena terbiasa dengan science fiction, jadi sedikit berat baca genre ini. Di dalamnya banyak ilustrasi dan foto terkait tempat yang diceritakan.
Profile Image for Ayu.
5 reviews6 followers
January 3, 2019
A five-star book by an Indonesian editor.
Profile Image for Ainun Najib Alfatih.
14 reviews
March 28, 2019
Buku traveling pertama yang saya baca, dan buku ini yang kemudian mendorong saya untuk membaca buku-buku traveling lainnya.
Profile Image for Chyntia Devi.
27 reviews1 follower
November 14, 2020
Such a great travelogue. Ikut hanyut ke dalam rangkaian obrolan serta perjalanannya. Bisa banget bikin senyum-senyum, because I know exactly how's the feeling for every single chapter :))
Profile Image for Hana.
136 reviews3 followers
February 6, 2023
Reasons simply don't count. Kita acap kali hanya fokus pada hasil, pada tujuan. Kita lupa, it's about the journey, not the destination.
Displaying 1 - 30 of 171 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.