Jump to ratings and reviews
Rate this book

Semiotika Visual

Rate this book
semiotika memang mengkaji tanda-tanda atau, lebih tepatnya, relasi tanda-tanda. Yang menjadi kata kuncinya di sini adalah relasi, bukan tanda itu sendiri. Semiotika mengkaji relasi tanda, yakni relasi tanda yang satu dengan tanda-tanda yang lain; relasi tanda-tanda dengan makna-maknanya atau objek-objek yang dirujuknya (designatum); dan relasi tanda-tanda dengan para penggunanya, interpreter-interpreternya.

212 pages, Paperback

First published January 1, 2004

48 people are currently reading
538 people want to read

About the author

Kris Budiman

15 books13 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
69 (49%)
4 stars
40 (28%)
3 stars
17 (12%)
2 stars
8 (5%)
1 star
6 (4%)
Displaying 1 - 8 of 8 reviews
Profile Image for gieb.
222 reviews78 followers
June 12, 2009
buku ini cocok bagi seseorang yang hobinya menafsir. layak saya. semiotika adalah kajian kritis tentang tanda-tanda. tanda-tanda apa ya? ya bisa jadi dari gestur tubuh, fashion, rambu-rambu di jalan, pun sebuah teks sastra. dan buku ini mengambil kajian khusus di dunia visual. jadi semiotika visual adalah salah satu bidang semiotika yang secara khusus menaruh minat pada penyelidikan terhadap segala jenis makna yang disampaikan melalui sarana indra lihatan. di indonesia sendiri, istilah semiotika dikenalkan oleh prof teeuw di kisaran akhir tahun 70-an. jadul juga ya.

nah, biar lebih mudah mengartikan makna semiotika visual, saya ingin mengambil satu kasus yang sederhana. tentu anda semua tahu AMANG - moderator GRI-, bukan? anda bisa jadi menjawab tidak tahu. tetapi mungkin ada yang menjawab, saya tidak hanya tahu tapi juga kenal. istilah tahu dan kenal adalah istilah semiotik. karena sebelum anda menjawab dengan kata-kata itu, anda pasti membayangkan obyek yang ditanyakan, dalam kasus ini adalah amang. jadi, apakah benar-benar dia panda, seolah-olah panda, atau manusia yang nyamar jadi panda? untuk menjawab pertanyaan itu, diperlukan pisau analisis yang cukup mendalam.

saya pernah mencoba men-semiotik-an amang dalam sebuah waktu (ada dalam koleksi my writing). begini lengkapnya:

Mengingat Amang, bagi saya, seperti menemukan penanda ‘tuhan’ –dengan huruf kecil. Kata ‘Amang’ adalah semacam penanda yang maknanya baru kita ‘dapat’ tapi dalam arti sesuatu yang berbeda dari, misalnya, ‘saya’. Beda ini akan terjadi terus-menerus. Sebab itu, pemaknaan ‘Amang’ tak kunjung berhenti. Bayangan sosok yang awalnya hanya berupa kata. Menjelma keraguan bila maujud dalam bentuk materi yang menemukan apa yang ditandainya. Bisa jadi: pola makan, pola jalan, pola bicara, dan lain-lain. Tapi ini ‘Amang’. Sebuah penanda tuhan yang tak pernah menemukan apa yang ditandainya. Petanda ‘Amang’ akan muncul nanti, nanti, dan nanti. Lewat pertemuan yang intens. Karena menerjemahkan ‘Amang’ selalu berhubungan dengan penanda-penanda lain. Sebut saja, Goodreads. Maka, tiap kali ‘Amang’ kita sebut, sebenarnya kita tak menyebutnya. “Amang yang mana?” Saya ingat satu kalimat dari sebuah sutra: “Buddha bukanlah Buddha dan sebab itu ia Buddha”. Bagi saya, ini berarti ketika kita sadar bahwa “Buddha” atau “Amang” yang kita acu dalam kata itu sebenarnya tak terwakili oleh kata itu, kita pun akan sadar pula tentang Sang “Buddha” dan Sang “Amang” yang tak terwakili oleh kata itu. Mungkin, itulah kira-kira maksud Amang untuk membuat Goodreads sebagai pondasi awal bagi sebuah gerakan Masyarakat Buku Indonesia. Tak mencengangkan, bagi saya. Sebuah harapan adalah syahadat bagi Amang untuk hidup dalam sebuah janji. Bukan janji pada sebuah kepastian. Tapi janji dalam kekurangan dan kedaifan –lemah-. Sebuah ikhtiar yang tak henti-henti. Sebuah masyarakat yang akan datang.

jadi, sebenarnya, apakah makna AMANG itu? barangsiapa yang bisa menjawab, tersedia doorprize menarik. tentu yang menyediakan hadiah ya si AMANG. saya cuma ketua panitia sayembara. yuk mari.
Profile Image for Wirawan Sukarwo.
31 reviews6 followers
May 30, 2013


Sebagai sebuah pengantar dalam memahami semiotika visual, buku ini terbilang cukup baik karena meramu secara sinergis berbagai pemikiran seputar semiotika visual. Berbagai kutipan dan rangkuman pemikiran dari para tokoh besar semiotika juga disajikan secara baik dan mudah dipahami. Kris dengan sangat baik pula menyadur buah-buah pemikiran para tokoh semiotika yang berserakan di berbagai buku lalu merangkainya menjadi satu pembahasan yang terintegrasi. Buku ini tentu saja memudahkan para akademisi dalam memahami konsep semiotika visual pada tahap awal, khususnya bagi mereka yang memiliki keterbatasan dalam mengakses buku-buku para ahli semiotika.
Yang menjadi kekurangan adalah minimnya contoh-contoh operasionalisasi konsep dan teori mengenai semiotika visual itu sendiri. Beberapa contoh yang ada justru mengambil wilayah kritik sastra yang masih memerlukan penyesuaian untuk diaplikasikan pada objek visual. Bagian tengah buku yang berisi halaman full colour juga tidak memunculkan banyak contoh-contoh desain visual kontemporer yang memerlukan telisik dalam perspektif visual.
Secara umum, solusi problem metodologis dalam pendekatan semiotika visual memang tidak banyak dibahas dalam buku ini. Alih-alih mengarahkan para peneliti atau akademisi dalam mengoperasionalkan pendekatan semiotika dalam ranah objek visual, buku ini justru membicarakan silang sengkarut di antara para pencetus teori semiotika itu sendiri. Dua aliran besar yang sangat berpengaruh adalah strukturalis dan pos-strukturalis yang dalam buku ini tidak dipisahkan secara dikotomis. Padahal, kedua aliran ini menjadi sumbu utama perdebatan di semua aspek semiotika dari tipologi tanda sampai kode pembacaan sebuah tanda.
Tugas utama para pemikir dan pengkaji semiotika saat ini adalah pengembangan ide-ide strukturalis yang tidak bersifat dekonstruktif ektrim. Pos strukturalis dekonstruktif yang membongkar secara ekstrim etika pembacaan tanda justru membuat nilai spritulitas dan sakralitas yang dimuati sebuah tanda menjadi lenyap. Buah pikiran Roland Barthes yang beralih dari seorang strukturalis menjadi dekonstruktor bersama Derrida dan Kristeva tidak boleh menjadi perhentian akhir dari pemikiran semiotika secara umum dan semiotika visual secara khusus.
Kritik terhadap kelompok dekonstruktor ini sudah pernah disampaikan oleh pemikir Barat lainnya seperti John Ellis. Dalam bukunya yang berjudul Against Deconstruction, Ellis mengatakan bahwa Derrida terlalu tergesa-gesa melompat dari satu ektrim pemikiran ke ekstrim pemikiran lainnya sehingga ia mengabaikan tata karma ilmiah serta bertindak anarkis. Titik ekstrim yang pertama adalah pemikiran bahwa makna semata-mata adalah konsep yang bersifat pasti dan tertutup. Sedangkah titik ekstrim selanjutnya adalah makna adalah masalah permainan tanda-tanda yang tanpa batas dan tanpa akhir.
Kerangka filosofis yang dimiliki kelompok dekonstruktor pos strukturalis dalam semiotika tampak seirama dengan gejala post-modernisme dalam konteks sosial budaya. Post-modernisme yang bersifat irasional dan menolak klaim kebenaran universal, sangat selaras dengan semangat para dekonstruktor seperti Barthes dan Kristeva yang mengobrak-abrik kode pembacaan pada tanda. Hal ini sudah dibahas panjang lebar oleh Yasraf Amir Piliang yang kemudian membahasakannya sebagai hiper-semiotika.
Meski demikian, pemikiran semiotika dekonstruksi juga tidak perlu harus buru-buru ditolak. Tawaran yang diberikan oleh para penggagas pemikiran ini adalah pandangan terhadap bahasa sebagai suatu proses yang heterogen, plural, dan kreatif. Menurut Armahedi Azhar, pemikiran dekonstruksi hanya perlu dilenyapkan sifat-sifat anarkisnya seperti anggapan plural yang seolah harus anarkis. Setelah itu, apabila penggunanya meniupkan nafas iman, maka ia akan menjadi wahana kreatifitas yang integral.
Membawa semiotika ke titik ekstrem seperti yang dilakukan Barthes dan Derrida akan menghancurkan fungsi-fungsi komunikasi visual yang seharusnya dimiliki sebuah tanda. Gejala seperti itu merupakan gejala matinya sebuah fenomena. Karena sebuah fenomena, seperti halnya organisme, akan mati apabila dia sudah tua, terinfeksi virus, atau keluar dari sifat-sifat alamiahnya (hiper-realitas). Tanda-tanda visual seharusnya mengantarkan pembacanya untuk mendapatkan kenikmatan dari makna, dan bukan kenikmatan mengonsumsi tanda-tanda itu sendiri. Mengutip kritik transenden Yasraf, semiotika seharusnya digunakan oleh para akademisi sebagai metode untuk menegakkan yang haq dan mendekonstruksi yang bathil.
Profile Image for Yoga Pradipta.
30 reviews4 followers
June 7, 2012
Buku yang mudah dipahami untuk pemula, mahasiswa atau siapapun dalam mengenal semiotika. Buku ini sesungguhnya terdiri dari 3 buku singkat yang dijadikan satu. Pada bagian pertama membahas mengenai semiotika visual itu sendiri, bagian kedua membahas ikonisitas serta bagian ketiga merupakan glossarium (kosa kata) semiotika. Semiotika yang dibahas dalam buku ini lebih kepada teori semiotika oleh C.S. Peirce dan Ferdinand de Saussure.
Profile Image for Nonna.
137 reviews2 followers
June 25, 2010
buku yang bagus.dengan pemilihan kata-kata yang indah menurut saya menjadikan buku ini juga favorit dalam skripsi.terimakasih..
Profile Image for Nasrudin muhammad.
20 reviews
September 30, 2011
Buku unik dengan garapan menarik.
Dengan menggabungkan dengan Ikonisitas dan Kosa Semiotika, buku ini diterbitkan ulang oleh Jalasutra, 2011.
Displaying 1 - 8 of 8 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.