Jump to ratings and reviews
Rate this book

Pembantaian PKI di Jawa dan Bali 1965-1966

Rate this book

447 pages, Paperback

First published January 1, 1990

9 people are currently reading
184 people want to read

About the author

Robert Cribb

24 books7 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
16 (34%)
4 stars
18 (38%)
3 stars
8 (17%)
2 stars
3 (6%)
1 star
2 (4%)
Displaying 1 - 9 of 9 reviews
Profile Image for Deny Permana.
19 reviews1 follower
November 18, 2021
Sejarah sering kali dilihat dari siapa yang menang siapa yang kalah. Apalagi tentang hal yang sangat sensitif menjadi bahasan di Indonesia khususnya, yakni soal PKI.

Dari buku ini saya belajar bahwa ternyata sejarah itu khususnya yang berkaitan dengan PKI, tidak melulu soal menang dan kalah, justru saya melihat peristiwa ini sebagai sebuah kemunduran kemanusiaan, karena pada akhirnya puncak tragedi ini berlangsung sekitar tahun 1965-1966 tapi doktrin kebenciannya mengakar kuat hingga hari ini. Nampak sekali kan powernya rezim orde baru yang sudah bangke masih tetap jadi camilan empuk para ahli menghakimi.

Mungkin isu ini hanya akan membumi sebagai kajian akademis di Kampus, itupun kalo mau. Salah satu hal yang patut direnungkan dari buku ini kita disodorkan dengan prediksi jumlah korban genosida yang disponsori oleh negara ini. Patut selalu kita renungkan, setiap kekerasan yang timbulkan korban banyak dan dibanyak tempat dalam waktu yang singkat mustahil kalo tanpa disponsori oleh negara (kalimat ini saya ingat dari perkataan Prof. Ariel Heryanto dalam sebuah acara simposium), jadi tiap kali konflik yang bisa dikatakan skala besar ini sudah dapat dipastikan tumbal kekuasaan tentu adalah rakyat, bukankah hal yang sama dilakukan oleh rezim imperialisme Belanda, mungkin tak secepat penghancuran PKI oleh orde bangke, tapi membunuh secara perlahan dan membuat doktrin feodal mengikat ke beberapa sendi kehidupan kita hari ini rasanya tentu sama sakitnya bukan
Profile Image for Poppy Aristanti.
40 reviews1 follower
April 24, 2025
Bacaan yang sama sekali tidak ringan. Perlu landasan berpikir yang kuat dahulu sebelum membaca buku ini, agar tidak terlalu bingung. Penulisannya dilengkapi dengan catatan kaki yang cukup membantu pembaca untuk crosscheck kembali data-data yang disampaikan.

Memberi gambaran yang sangat jelas tentang bengisnya pembantaian PKI maupun orang-orang yang hanya tertuduh PKI, peran TNI untuk melatih warga dan inisiasinya untuk memulai pembantaian, dan absennya negara dalam penanganan dan pengadilan untuk para korban.
Profile Image for Afina.
26 reviews
January 12, 2019
I enjoyed reading Soe Hok Gie's writing. The Mass Killings in Bali told stories of nightmares that long have been endured by the Balinese; of how the killings were facilitated by any party as a way to show the inexistence of any involvement with the Indonesian Communist Party.
I don't recommend reading this book during the night unless you want to imagine what and how the headless corpses look like.
Profile Image for Juinita Senduk.
119 reviews3 followers
October 20, 2025
Ketika di tahun 1986 saya membaca buku Harold Crouch Militer dan Politik di Indonesia (1986), saya dipenuhi segudang pertanyaan tentang peristiwa Gerakan 30 September:
Benarkah saat itu terjadi kudeta Orde Baru?
Benarkah PKI sekejam itu?
Benarkah ada pembunuhan massal?

Pertanyaan-pertanyaan itu kembali muncul ketika membaca buku Pembantaian PKI di Jawa dan Bali 1965–1966. Bedanya, kali ini jawabannya tidak tunggal. Buku ini menghadirkan mosaik dari 10 kontributor: peneliti, wartawan Sinar Harapan dan Indonesia Raya, catatan Soe Hok Gie, hingga dokumentasi ABRI, dengan pengantar dari sejarawan Asvi Warman Adam.

Cribb dan para penulis menunjukkan bahwa pembantaian massal setelah 30 September 1965 bukanlah peristiwa sederhana. Ada dendam lama sejak Madiun 1948, ada polarisasi abangan vs santri, ada kalkulasi militer untuk menjaga pengaruh di hadapan Soekarno. Tetapi satu benang merah tampak jelas: keterlibatan militer dalam menyulut, mendukung, bahkan membenarkan pembantaian itu.

Asvi menegaskan: pengungkapan peristiwa ini bukan untuk membuka luka lama, tetapi justru untuk menyembuhkan. Ada aspek healing bagi para korban dan keluarganya, agar tragedi ini tidak terulang lagi.

Seperti yang ditulis Tristam Moeliono:
“Seandainya PKI bersalah melakukan makar, apakah manusia yang menjadi anggota PKI atau dituduh PKI layak dibunuh? Masyarakat yang dibiarkan menenggang pembunuhan akan hilang kepercayaan terhadap manusia lain, dan akhirnya berubah menjadi serigala bagi sesama...”

Nilai penting buku ini adalah keberaniannya menghadirkan beragam suara, bukan narasi tunggal. Dengan begitu, kita diajak melihat tragedi 1965 bukan sekadar hitam-putih, melainkan mosaik sejarah yang kompleks.

Buku ini tetap relevan hari ini: sebuah pengingat bahwa polarisasi, dendam lama, dan narasi kekuasaan bisa melahirkan kekerasan massal.

Yang pasti, beberapa pertanyaan saya sejak 1986, terjawab, militer dan pembantaian massal, benar adanya.
Profile Image for anis Ahmad.
47 reviews13 followers
June 26, 2008
buku ini diangkat dari serangkaian diskusi yang dilakukan di monas university tentang tragedi 1965. walaupun terdiri dari sekumpuna makalah yang disatukan, buku ini masih menyajikan satu benang merah penjelasan tentang tragedi pembantaian PKI di Jawa an Bali. akan tetapi, dalam membacanyaa saya menyarankan agar pembaca telah memiliki landasan pijak dan pengetahuan yang memadai agar tidak terjadi kekagetan. ok..
Profile Image for romy.
22 reviews
October 23, 2007
aku bacanya sih yang terjemahan, pengungkapan faktanya keren.
Profile Image for Azhar Rijal Fadlillah.
35 reviews23 followers
March 29, 2012
agak cape bacanya, terlalu banyak fakta yang membanjiri ingatan. kayak baca hard news. hmmmmhh....
Displaying 1 - 9 of 9 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.