Berdasarkan ide cerita film "Batas" oleh Marcella Zalianty dan Yosof Thaha
Di tempat itu nyaris tak ada batas negara. Mereka memiliki dua mata uang produk dari dua negara yang berbeda. Mereka bahkan tidak tahu bendera mana yang harus mereka gunakan. Pendidikan menjadi tak penting, karena anak-anak tidak perlu sekolah asalkan bisa menghasilkan uang. 'Menjual' anak gadis sendiri seolah biasa agar mereka tidak membebani keluarga.
Di tempat itu Jaleswari menetapkan pilihannya, menyelesaikan misi di bidang pendidikan yang sempat terhenti tanpa alasan jelas. Tak kuasa menolak karisma hutan dan budaya Dayak, ia melangkah mantap melintasi segala batas aturan. Namun, usahanya tidak semudah yang dibayangkan. Tidak semua warga mendukung idenya. Sementara banyak peristiwa kemanusiaan memilukan terjadi di depan matanya.
Akmal Nasery Basral adalah wartawan dan sastrawan Indonesia. Kumpulan cerpen pertamanya Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku (2006) yang terdiri dari 13 cerpen termasuk long-list Khatulistiwa Literary Award 2007. Dia menyelesaikan pendidikan sarjana di Jurusan Sosiologi Universitas Indonesia. Saat ini tinggal di Cibubur, Bekasi, bersama istri, Sylvia, dan ketiga putri mereka, Jihan, Aurora, Ayla.
Sebagai wartawan ia pernah bekerja untuk majalah berita mingguan Gatra (1994-1998), Gamma (1999), sebelum bekerja di majalah Tempo (2004-sekarang). Ia juga pendiri dan pemimpin redaksi majalah tren digital @-ha (2000-2001), serta MTV Trax (2002) yang kini menjadi Trax setelah kerjasama MRA Media Group, penerbit majalah itu, dengan MTV selesai
Sebagai sastrawan ia termasuk terlambat menerbitkan karya. Baru pada usia 37 tahun, novel pertamanya Imperia (2005) terbit, dilanjutkan dengan Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku (2006), serta Naga Bonar (Jadi) 2 (2007), novel dari film box-office berjudul sama yang disutradarai aktor kawakan Deddy Mizwar.
Di luar minatnya pada bidang jurnalistik dan sastra, Akmal Nasery Basral juga dikenal sebagai pengamat musik dan film Indonesia. Ia termasuk anggota awal tim sosialisasi Anugerah Musik Indonesia. Ketika sosialisasi terhadap penghargaan utama bagi insan musik Indonesia ini dilakukan pada 1997, kalangan jurnalis diwakili oleh Akmal dan Bens Leo. Pada pergelaran AMI ke-10 (2006), Akmal ditunjuk sebagai ketua Tim Kategorisasi yang memformat ulang seluruh kategorisasi penghargaan.
Di bidang perfilman Akmal menjadi satu dari lima juri inti Festival Film Jakarta ke-2 (2007), bersama Alberthiene Endah, Ami Wahyu, Mayong Suryo Laksono, dan Yan Widjaya.
Di perbatasan, Jaleswari–setelah ditinggal mati suami dengan pernikahan yang masih seumur jagung bersama bayi yang masih dalam kandungan-masih harus berhadapan dengan permasalahan besar masyarakat perbatasan. Perjualbelian manusia yang tak lazim di telinganya merupakan hal yang biasa di sana. Itulah salah satu batu sandungan untuk bertahan dengan tugas yang ia emban.
Pola pikir masyarakat yang menganggap hidup seperti ini pun tak apa, sekolah tak usah, cukup mengasah mandau saja, merupakan pandangan yang asing bagi dunia Jaleswari. Di tempat itu, Jaleswari harus memahami jalan pikiran masyarakat yang rumit namun sederhana sebenarnya. Caranya beradaptasi ialah dengan memakan apa yang mereka makan dan mandi dengan air yang mereka pakai demi memantaskan diri di sana.
Yang di atas itu sebagian resensi buku ini yang aku tulis waktu SMA wkwkk. Aku mau coba baca lagi dan ngebandingin sudut pandang aku waktu itu dan sekarang, tapi sayangnya bukunya aku kasih ke orang:) Tapi seinget aku, topik buku ini memang sangat menarik untuk anak SMA yang gatau apa-apa soal perbatasan waktu itu.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Tentang seorang Jaleswari yang ditugaskan ke pedalaman Entikong, Kalimantan daerah garis batas Indonesia-Malaysia. Disisi lain, Ubuh, wanita dayak yang lari dari ancaman orang-orang suruhan Tokenya di malaysia. Mereka bertemu dan saling berbagi. Cerita ini membawa kita memahami kehidupan masyarakat dayak, mereka yang kurang terperhatikan pemerintah. Tapi jangan khawatir, Akmal N Basral mengemasnya dengan apik, sehinggal jadi bacaan yang ringan :)
Tadinya aku pikir cerita ini akan lebih banyak menggambarkan Entikong secara tulisan, rupanya tidak, kurang greget menurut aku.
Berkisah tentang Jaleswari yang ditugaskan ke pedalaman Entikong, di mana di tempat itu mereka memakai dua mata uang dari dua negara, pendidikan tak penting lagi, bahkan mereka tidak tahu bendera mana yang harus mereka gunakan. Demi sebuah misi di bidang pendidikan Jaleswari memantapkan langkahnya.
Novel Batas berusaha menggambarkan keadaan sosial masyarakat perbatasan di Kalimantan. Penulis menjelaskan budaya, kondisi sosial, lingkungan, dan pendidikan di Ponti Tembawang. Konflik yang dialami tokoh menjelaskan adanya hubungan budaya dan sistem pendidikan di Ponti Tembawang. Novel ini juga memuat kritik terhadap pandangan masyarakat mengenai suku Dayak.
lumayan keren ceritanya. Si gadis bernama Jaleswari yang menjadi tokoh utamnya dalam cerita ini yang idtugaskan oleh kantornya untuk melihat program pembangunan sd di kalimantan barat.