Sitok SRENGENGE (poet, Indonesia; born 1965, Grobogan, Central Java) is Program Coordinator for the Utan Kayu Community in West Java; he is also a lecturer at the Jakarta Arts Institute, a literature teacher for Eksotika Karmawiggangga and editor of the Kalam Cultural Journal. His work has appeared in 2001: Secrets Need Words (ed. Harry Aveling, to be published by the Ohio University Press); the Nonsens Poetry anthology, and various poetry and short fiction anthologies in Indonesia. Last year, Mr. Srengenge was cited as one of his country's leaders in society in culture by Asiaweek magazine. The US Department of State is supporting his participation in the IWP.
"Di luar angan cuma angin, Namun rasa ingin masih mungkin" (h.26)
.. ***
Mungkin benar, hanya di tangan penyairlah bahasa, kata, rima, ritme, makna, bunyi, punya daya magisnya sendiri. Pilihan kata, rima, bunyi dari penyair yang satu ini memang keren, mengagumkan, meski ada sejumlah kata yang saya tidak tau artinya.
Satu lagi kumpulan puisi favorit. Berikut beberapa puisi yang paling saya sukai:
PENIUP ANGIN
Angin menghampar, menghantar suatu senja suaramu samar, kata-kata gemetar: Cinta bukan padang-padang yang menunggu, melainkan kincir yang berporos di pusar kalbu, berderak karena angin, bergerak karena ingin ..
GURIT RINDU DENDAM
Di dalam kelebatan hutan Ada tergurat kelebatan tahun
Di dalam kelam tahun Ada tersurat kalam tuhan
Di kedalaman kening Ada kau berkelebat dalam kenang
Aku mengada dari sunyi sunyaruri Maka derita yang pertama kukenal bernama sepi
Kau muncul dari kecemasanku Meluruh ruang, mengisi sepi—bagai waktu
Dengan tubuh telanjang kauusung pohon tumbang itu Akarnya bersemayam di pinggangku
“Tidakkah kaurindu daun rimbun dan buah ranum? Di pangkal yang dulu, di situlah awal aku kaukulum.” (h. 88-89)
OSMOSA ASAL MULA
Aku bertanya kepada angin, dari mana asalnya angan angin menggoyangkan pucuk-pucuk daun dan kusaksikan pohon-pohon melukis lingkaran tahun
Aku bertanya kepada pohon, dari mana datangnya waktu, pohon meekahkan kelopak bunga dan kusaksikan lebah hinggap menghisap madu
Aku bertanya kepada lebah, dari apa sel yang tumbuh jadi tubuhku, lebah menggumam terbang ke dalam gua dan kusaksikan kelelawar menangkap kuping di dinding batu
Aku bertanya kepada kelelawar, dari mana awalnya suara, kelelawar mengepak sayap ke langit malam dan kusaksikan embun bergulir serupa sungai
Aku bertanya kepada sungai, dari mana sumber air susu sungai menjulangkan gunung dan kusaksikan lembah bergaun kabut
Aku bertanya kepada lembah, dari mana mulanya tabu, lembah menyingkapkan gaun dan kusaksikan bumi bugil menggeliat anggun
Aku bertanya kepada bumi, siapa yang melahirkan Ibu, bumi tersipu, tapi kudengar laut menyahut, “Ia bersaksi atas fakta, namun tak berdaya untuk bicara!”
Aku bertanya kepada laut, siapa yang menampungnya, laut menggelora, tapi kerontang sebelum usai membilang Nama (h. 51-52)
FATAMORGANISMA
"Nasib memang tak selicin tenun linen, Tuan Lenin," ufuk hanya sepi, tak ada lagi burat matahari, ketika ia gumamkan solilokui
"Sungguh maklum, jika tak ada mausoleum bagi Mussolini, setelah ideologi yang memihak orang banyak mengeras jadi sebengis kapak, mengayau sulur-sulur nalar dan naluri." .. (h. 85)
ELEGI DOROLEGI
Ada yang melangkah dari mimpimu, Bersijingkat ke ruang tamu Membuka dan menutup kembali pintu Berjalan ringan ke luar pagar ketika suara serangga mulai lindap diganti dementing embun di daun-daun .. (h.15)
*** Dan di lembar pertama buku ini, di atas tanda tangannya, malam itu si penyair menulis,"Buat Pandasurya. Semoga tidak kecewa!" Jakarta 19 Agustus 2010.
Nonsens - tidak masuk akal atau bukan-bukan. Tapi buku puisi Nonsens Sitok Srengenge yang tidak masuk akal itu ternyata masuk akal dengan lihai kepenyairan Sitok memainkan kata puitik pada tutur ujar 'ritme' dan 'rima.' Pembendaharaan kosakata dimiliki Sitok.
Tiap bait puisinya bermakna beda tak saling kait mengait, imajinasi liar dan kreatif metafor kata melidap indah dengan gaya tutur tulisan panjang, membuat lidah keluh dan ingin berulang-ulang bersenandungkan ritme dan rima itu. Kian berulang aku membaca puisinya lamat laun bebayang prosa liris terbaca.
Unik. Itulah seni berpuisi cara Sitok Srengenge namun ia tetap setia bertutur Ritme dan Rima.
apa yang berharga dari nonsens adalah keluasan perbendaharaan kosakata penyairnya. kalau panitia indeks rima bahasa indonesia (irbi?) berniat mengarsipkan kata-kata dalam bahasa indonesia berdasarkan rima, ada baiknya mempekerjakan satu-satunya (pengklaim) matahari ini.