Jump to ratings and reviews
Rate this book

Nonsens

Rate this book

116 pages, Paperback

First published November 1, 2000

1 person is currently reading
47 people want to read

About the author

Sitok Srengenge

13 books34 followers
Sitok SRENGENGE (poet, Indonesia; born 1965, Grobogan, Central Java) is Program Coordinator for the Utan Kayu Community in West Java; he is also a lecturer at the Jakarta Arts Institute, a literature teacher for Eksotika Karmawiggangga and editor of the Kalam Cultural Journal. His work has appeared in 2001: Secrets Need Words (ed. Harry Aveling, to be published by the Ohio University Press); the Nonsens Poetry anthology, and various poetry and short fiction anthologies in Indonesia. Last year, Mr. Srengenge was cited as one of his country's leaders in society in culture by Asiaweek magazine. The US Department of State is supporting his participation in the IWP.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
7 (29%)
4 stars
9 (37%)
3 stars
7 (29%)
2 stars
1 (4%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 4 of 4 reviews
Profile Image for Rinting.
3 reviews1 follower
November 4, 2008
Penulis puisi Indonesia yang masih mempertahankan rima, sejauh yang saya tahu, sekarang hanya tinggal 1 orang. Dan Sitok Srengenge-lah orangya.

Rimanya pun tidak "maksa" sehingga menghilangkan keindahan puisi.
Profile Image for Pandasurya.
177 reviews118 followers
December 23, 2011
"Di luar angan cuma angin,
Namun rasa ingin masih mungkin"

(h.26)


..
***

Mungkin benar, hanya di tangan penyairlah bahasa, kata, rima, ritme, makna, bunyi, punya daya magisnya sendiri. Pilihan kata, rima, bunyi dari penyair yang satu ini memang keren, mengagumkan, meski ada sejumlah kata yang saya tidak tau artinya.

Satu lagi kumpulan puisi favorit.
Berikut beberapa puisi yang paling saya sukai:

PENIUP ANGIN

Angin menghampar, menghantar
suatu senja suaramu samar, kata-kata gemetar:
Cinta bukan padang-padang yang menunggu,
melainkan kincir yang berporos di pusar kalbu,
berderak karena angin,
bergerak karena ingin
..

GURIT RINDU DENDAM

Di dalam kelebatan hutan
Ada tergurat kelebatan tahun

Di dalam kelam tahun
Ada tersurat kalam tuhan

Di kedalaman kening
Ada kau berkelebat dalam kenang

Aku mengada dari sunyi sunyaruri
Maka derita yang pertama kukenal bernama sepi

Kau muncul dari kecemasanku
Meluruh ruang, mengisi sepi—bagai waktu

Dengan tubuh telanjang kauusung pohon tumbang itu
Akarnya bersemayam di pinggangku

“Tidakkah kaurindu daun rimbun dan buah ranum?
Di pangkal yang dulu, di situlah awal aku kaukulum.”
(h. 88-89)

OSMOSA ASAL MULA

Aku bertanya kepada angin,
dari mana asalnya angan
angin menggoyangkan pucuk-pucuk daun
dan kusaksikan pohon-pohon melukis lingkaran tahun

Aku bertanya kepada pohon,
dari mana datangnya waktu,
pohon meekahkan kelopak bunga
dan kusaksikan lebah hinggap menghisap madu

Aku bertanya kepada lebah,
dari apa sel yang tumbuh jadi tubuhku,
lebah menggumam terbang ke dalam gua
dan kusaksikan kelelawar menangkap kuping di
dinding batu

Aku bertanya kepada kelelawar,
dari mana awalnya suara,
kelelawar mengepak sayap ke langit malam
dan kusaksikan embun bergulir serupa sungai

Aku bertanya kepada sungai,
dari mana sumber air susu
sungai menjulangkan gunung
dan kusaksikan lembah bergaun kabut

Aku bertanya kepada lembah,
dari mana mulanya tabu,
lembah menyingkapkan gaun
dan kusaksikan bumi bugil menggeliat anggun

Aku bertanya kepada bumi,
siapa yang melahirkan Ibu,
bumi tersipu, tapi kudengar laut menyahut,
“Ia bersaksi atas fakta, namun tak berdaya untuk
bicara!”

Aku bertanya kepada laut,
siapa yang menampungnya,
laut menggelora, tapi kerontang
sebelum usai membilang Nama
(h. 51-52)

FATAMORGANISMA

"Nasib memang tak selicin tenun linen, Tuan Lenin," ufuk hanya sepi,
tak ada lagi burat matahari, ketika ia gumamkan
solilokui

"Sungguh maklum, jika tak ada mausoleum bagi Mussolini,
setelah ideologi yang memihak orang banyak
mengeras jadi sebengis kapak,
mengayau sulur-sulur nalar dan naluri."
..
(h. 85)

ELEGI DOROLEGI

Ada yang melangkah dari mimpimu,
Bersijingkat ke ruang tamu
Membuka dan menutup kembali pintu
Berjalan ringan ke luar pagar
ketika suara serangga mulai lindap diganti dementing embun
di daun-daun
..
(h.15)

***
Dan di lembar pertama buku ini, di atas tanda tangannya, malam itu si penyair menulis,"Buat Pandasurya. Semoga tidak kecewa!" Jakarta 19 Agustus 2010.
Profile Image for Josephine.
4 reviews
Read
September 25, 2010
Nonsens - tidak masuk akal atau bukan-bukan.
Tapi buku puisi Nonsens Sitok Srengenge yang tidak masuk akal itu ternyata masuk akal dengan lihai kepenyairan Sitok memainkan kata puitik pada tutur ujar 'ritme' dan 'rima.' Pembendaharaan kosakata dimiliki Sitok.

Tiap bait puisinya bermakna beda tak saling kait mengait, imajinasi liar dan kreatif metafor kata melidap indah dengan gaya tutur tulisan panjang, membuat lidah keluh dan ingin berulang-ulang bersenandungkan ritme dan rima itu. Kian berulang aku membaca puisinya lamat laun bebayang prosa liris terbaca.

Unik. Itulah seni berpuisi cara Sitok Srengenge namun ia tetap setia bertutur Ritme dan Rima.
Profile Image for kinu triatmojo.
288 reviews3 followers
October 8, 2009
apa yang berharga dari nonsens adalah keluasan perbendaharaan kosakata penyairnya. kalau panitia indeks rima bahasa indonesia (irbi?) berniat mengarsipkan kata-kata dalam bahasa indonesia berdasarkan rima, ada baiknya mempekerjakan satu-satunya (pengklaim) matahari ini.
Displaying 1 - 4 of 4 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.