Buku ini mengulas kebudayaan Indonesia yang berkembang di Jawa abad XVIII - medio abad XX
Di samping merebaknya sikap ketidakadilan serja pelanggaran hak-hak manusia yang dilakukan oleh kaum penjajah Belanda, ternyata pada waktu itu terjadi pula proses pembentukan kebudayaan yang khas, yaitu kebudayaan dan gaya hidup Indis.
Budaya Indis yang merupakan perpaduan budaya barat dan unsur-unsur budaya Timur, khususnya Jawa, dibahas dengan rinci oleh penulis. Dengan bahan-bahan arsip serta karya-karya peningalan pada masa lampau yang terdapat di negeri Belanda dan di tanah air, terungkaplah kekayaan budaya kita pada masa penjajahan yang sangat unik.
Indies culture, a mixture between Dutch and Javanese, which prevailed and developed in Java, Indonesia, between the 18th century and 1942.
Jaman kiwari kita menggemari bangunan-bangunan bersejarah dengan beragam aliran nya, itu yang menjadi alasan mengapa destinasi wisata ke tempat dengan segala hal yang tak mencerminkan jaman nya begitu digandrungi. Termasuk Kebudayaan Indis.
Melalui buku ini, kita akan diperkenalkan dengan suatu kreativitas paling brilian yang mampu dilakukan oleh manusia yaitu akulturasi budaya, antara budaya Barat (Belanda) dan Pribumi (Jawa) yang menghasilkan arsitektur, tata kota, tata pemerintahan, dan budaya yang kompleks.
Patut diingat juga, Kebudayaan Indis masih sangat terasa relevansi nya dengan kehidupan kita jaman sekarang. Sistem pemerintahan yang masih kolonialis sedikit banyak lahir dari kebudayaan ini, dan tak lupa arstitektur bergaya Indis masih berdiri megah di beberapa daerah sebagai warisan budaya.
Kebudayaan Indis adalah kebudayaan yang tercipta karena adanya asimilasi antara budaya lokal dengan budaya dari Belanda. Khususnya karena maraknya perkawinan campuran antara orang Belanda dengan warga lokal. Sayangnya, kebudayaan ini menghilang setelah masuknya Jepang ke Indonesia walaupun terdapat sedikit hal yang tersisa dari kebudayaan ini dan sayangnya jarang sekali adanya bahasan terkait kebudayaan Indis khususnya dalam pelajaran sejarah. Hal yang boleh dibilang sangat disayangkan karena ini adalah salah satu budaya yang juga turut berkontribusi terhadap perkembangan Indonesia karena boleh dibilang kebudayaan ini ada dalam waktu yang cukup lama.
Sebagai buku sejarah, buku ini mampu menelaah kebudayaan Indis dengan sangat detail dan lengkap bahkan kajiannya dilakukan dengan mendalam dan menyentuh titik dasar dalam sebuah peradaban sehingga kita sebagai pembaca pun dapat mengetahui seluk beluk kebudayaan dan masyarakat Indis serta perkembangannya.
Pembahasan Indis pada buku ini mengacu pada era akhir abad 19 hingga awal abad 20. Bermula pada tahun 1870 yakni dibukanya terusan Suez, mengakibatkan semakin pendeknya jarak antara Belanda dan Indonesia sehingga mudahnya kehadiran perempuan Eropa di Indonesia yang memperluas percampuran budaya. Enkulturasi pola gaya hidup dan budaya masyarakat di Hindia Belanda dipicu terjadinya kegiatan dalam tujuh unsur kebudayaan universal bangsa yakni; bahasa, peralatan/perlengkapan hidup, mata percaharian hidup dan ekonomi, sistem kemasayarkatan, kesenian, ilmu pengetahuan dan religi. Tentunya dalam pembahasan Indis bukan hanya budaya Belanda saja, namun Indonesia yang terdiri dari kebudayaan Prasejarah, Hindu-Buddha dan Islam pun dibahas sehingga tarikan budaya bukan hanya Barat saja.
Lagi-lagi menemukan buku yang menambah wawasan dan pandangan baru tentang kebudayaan itu sendiri. Bisa dibilang buku ini menjelaskan tentang apa itu kebudayaan indis, yakni campuran kebudayaan antara kebudayaan belanda dan kebudayan indonesia (hindia belanda) dan hal apa saja yang menjadi hasil dari perpaduan kedua budaya tersebut, yakni : bahasa, kelengkapan hidup, mata pencaharian, pendidikan dan pengajaran, kesenian, ilmu pengetahuan dan kemewahan gaya hidup serta religi.
Namun yang sangat disayangkan adalah kebudayaan indis ini telah berakhir semenjak Jepang menduduki hindia belanda pada 1942 sehingga hasil dari kebudayaan itu ada beberapa yang hancur. Mirisnya lagi dikarenakan dendam yang mengakar begitu dalam sehingga banyak peninggalan kebudayan belanda yang dihancurkan seperti bangunan rumah atau kantor. Memang benar mereka berbuat jahat dan kejam di masa lalu, tetapi ada juga hal positif dari mereka yang dalam hal ini memperkaya kebudayaan bangsa. Bahkan di belanda sendiri masih melestarikan kebudayaan indonesia sampai sekarang. Jadi bisa dikatakan kebudayaan indis di sana masih lestari.
Saya pikir penjelasan dalam buku ini sudah cukup jelas dan kalimat yang digunakan tidak begitu sulit untuk dipahami tapi menurutku kekurangannya terletak pada minimnya foto yang ditampilkan dan kadang kurang sesuai dengan paragraf yang sedang menjelaskan topik tertentu. Dan karena kemalasan serta kesibukan kuliah saya menyebabkan buku ini selesai begitu lama.
sejarah kebudayaan masyarakat Indonesia di masa pendudukan Belanda diungkapkan dengan gamblang dan jelas. Banyak hal yang luput dari perhatian selama ini. Pada awalnya bangsa Indonesia mempergunakan bahasa Belanda campuran bahasa daerah. Sungguh menarik untuk membacanya. Terutama pada bagian percakapan bahasa Belanda campur Bahasa Jawa.
satu dari sedikit sekali buku yang mereferensikan budaya Indonesia (terutama Indis) pada masa politik liberal. Soekiman membahas banyak hal menarik, dari lapis-lapis moderat pecinta damai, istilah baru water europees, sampai bebek di pucuk atap rumah.
Mengupas masalah kebudayaan Indis dari masalah kebiasaan, politik, lapisan masyarakat sampe hiasan dan ornamen2 rumah juga dibahas sama Pak Soekiman. Jarang ada buku yang membahas kebudayaan Indis selengkap ini.
lumayan bisa memberikan sedikit informasi mengenai geliat budaya Indische di Indonesia, terutama di Jawa.. hal yang paling menarik bagi saya adalah contoh penggunaan bahasa Petjok (kreol Belanda-Melayu) dan juga Javindo (kreol Belanda-Jawa)