"Buku ini saya beri nama Dari Penjara ke Penjara. Memang saya rasa ada hubunganya antara penjara dengan kemerdekaan sejati. Barang siapa yang menghendaki kemerdekaan buat umum, maka ia harus sedia dan ikhlas untuk menderita kehilangan kemerdekaan diri-(nya) sendiri." (Tan Malaka)
Tan Malaka menulis buku Dari Penjara ke Penjara dalam dua jilid terpisah. Jilid pertama menuturkan tentang pergulatannya di penjara Hindia-Belanda dan Filipina. Sedang jilid kedua menceritakan tentang "perjalan"-nya dari Shanghai, Hongkong, hingga kembali ke tanah air. Dalam buku ini, kedua jilid tersebut dirangkum menjadi satu.
Meski berada di balik jeruji, Tan Malaka tetap berusaha "mendobrak" semangat perjuangan rakyat Indonesia. Baginya, barang siapa yang ingin menikmati hakikat kemerdekaan secara utuh, maka harus ikhlas dan tulus menjalani pahit serta getirnya hidup terpenjara.
Buku Dari Penjara ke Penjara yang ditulis tahun 1948 ini di tahbiskan oleh majalah Tempo sebagai salah satu buku yang paling berpengaruh atau memberikan kontribusi terhadap gagasan kebangsaan.
Profil ----- Tan Malaka lahir di Suliki, Sumatra Barat tahun 1897. Setelah tamat sekolah, ia melanjutkan pendidikannya di Harleem, Belanda pada 1913, Enam tahun kemudian ia kembali ke Indonesia untuk menjadi guru bagi anak-anak kaum buruh perkebunan di Sumatra. Tahun 1921, ia mulai dekat dengan kehidupan politik. Sejak saat itu ia terlibat aktif dalam aksi-aksi mogok maupun perlawanan buruh di beberapa tempat. Akibatnya ia sempat dibuang ke Kupang tahun 1922. Selain itu, ia juga sempat meloloskan diri ke Filipina dan Singapura.
Tan Malaka (1894 - February 21, 1949) was an Indonesian nationalist activist and communist leader. A staunch critic of both the colonial Dutch East Indies government and the republican Sukarno administration that governed the country after the Indonesian National Revolution, he was also frequently in conflict with the leadership of the Communist Party of Indonesia (PKI), Indonesia's primary radical political party in the 1920s and again in the 1940s.
A political outsider for most of his life, Tan Malaka spent a large part of his life in exile from Indonesia, and was constantly threatened with arrest by the Dutch authorities and their allies. Despite this apparent marginalization, however, he played a key intellectual role in linking the international communist movement to Southeast Asia's anti-colonial movements. He was declared a "hero of the national revolution" by act of Indonesia's parliament in 1963.
Buku ini merupakan memoar perjalanan hidup Tan Malaka yang ia tulis sendiri di tahun 1947. Bercerita tentang kisah beliau dari waktu ketika masih bersekolah di Kweekschool (sekolah guru) Bukit Tinggi, melanjutkan sekolah ke Belanda, bekerja di Deli, tinggal di Semarang & bersinggungan dengan Sarekat Islam (SI), ditangkap di Bandung & diasingkan ke Belanda, bertualang ke Jerman, Rusia, China, Filipina, Hongkong, Birma, Singapura lalu kembali ke Indonesia (Medan, Jakarta & Bajah, Banten) pada zaman penjajahan Jepang, saat Perang Dunia 2 sedang berlangsung.
Ada banyak hal menarik dari Tan Malaka yang saya pahami & dapat dijadikan sebagai suri tauladan.
Pertama, sosok Tan Malaka yang idealis, tahan pada kondisi yang sulit & begitu jenius. Hal ini terlihat pada kemampuan beliau dalam menganalisa kondisi sosial-politik-ekonomi di tiap era & tempat melalui bacaan & pengalaman beliau, luasnya bidang ilmu yang ia kuasai (filsafat, astronomi, kimia, matematika, sejarah, hukum, politik, sosial, ekonomi & linguistik). Khusus dalam bidang linguistik, Tan Malaka menguasai setidaknya 6 bahasa (Jerman, Inggris, Prancis, Tiongkok, Tagalog & Melayu) yang bukan hanya menunjukkan intelektualitas beliau, tetapi juga turut membantu ia dalam beradaptasi & bertahan hidup selama berpindah-pindah daerah guna menghindari kejaran kolonial Belanda beserta sekutunya (Inggris, Prancis & AS).
Selain itu, beliau masih menyempatkan diri untuk membaca & menulis catatan/buku meski dalam kondisi fisik, keuangan & sosial yang buruk. Hal ini tentunya menjadi tamparan bagi orang yang hidup seleluasa zaman sekarang.
Kedua, kemampuan beliau dalam menyamar, memalsukan identitas (nama, ras, riwayat hidup, pendidikan, bahkan kewarganegaraan!) & berpindah-pindah negara. Menurutku, kemampuan Tan Malaka yang satu ini sudah melebihi intel & penjahat kelas kakap. Semua itu dilakukan bukan dengan jimat/ilmu mistik, tapi dengan dialektika & logika! Ditambah nasib baik tentunya.
Ketiga, ia masih dapat menjalin relasi dengan tokoh-tokoh penting di negara lain, terutama yang berhaluan komunis, seperti Stalin & dr. Sun Yat Sen meski dalam pelarian & tanpa status kewarganegaraan. Meski awalnya ia warganegara Belanda selama diasingkan, akan tetapi status tersebut dicabut karena beliau sudah meninggalkan Negeri Kincir Angin tersebut lebih dari 5 tahun.
Empat, tetap memikirkan kemerdekaan rakyat Indonesia meski berada di luar negri & dirinya sendiri menghadapi banyak kesulitan.
Lima, mudah menjalin relasi & berbaur dengan masyarakat lokal, terutama yang berlatar belakang buruh, petani & intelektual. Kekejaman imperialisme-kapitalisme & ketidaksetaraan hukum di zaman penjajahan juga menimbulkan empati pada diri beliau terhadap masyarakat yang tertindas. Oleh karena itu, beliau tak segan berbaur dengan mereka. Dari relasi inilah Tan Malaka juga dapat bertahan hidup & belajar banyak hal, seperti ketika beliau di Kanton, Manila & Iwe (China).
Meski aku harus membaca buku ini dengan lambat guna memahami tulisan dalam bahasa Indonesia gaya melayu lama & ada banyak kesalahan penulisan seperti kata "dari" yang malah ditulis jadi "dan", secara garis besar buku ini bagus sekali. Pembaca dibawa masuk ke dalam suasana saat suatu peristiwa berlangsung beserta pemikiran Tan Malaka itu sendiri.
Entah kapan lagi muncul sosok pejuang & pendidik sejati sekelas Tan Malaka di Indonesia. Kita berdoa semoga saja kelak ada...
Sangat menarik membaca perjalanan Tan Malaka dalam pelarian, dari Belanda, Deli, Semarang, Rusia, Kanton, Filipina, Amoy, Shanghai, hingga kembali ke Indonesia. Untuk sebuah autobiografi, Tan Malaka justru lebih banyak membahas kondisi masyarakat serta tokoh revolusi daerah-daerah yang dilaluinya. Tetapi hal itulah yang membuat buku ini sangat menarik.
Saya membaca buku ini yang diterbitkan oleh NARASI. Satu hal yang perlu saya kritisi justru adalah penerbit dan penyunting buku ini yang seakan-akan mengkhianati karya besar Tan Malaka sebagai salah satu penggagas berdirinya Republik Indonesia. Penerbit seakan tidak serius dalam menyajikan tulisan Tan Malaka ini, seperti yang saya rangkum berikut:
1. Banyak kata-kata yang salah ketik, dan beberapa justru merubah makna. Kata "dan" seringkali bertukar dengan kata "dari". Serta tidak terhitung kesalahan penulisan kata lainnya.
2. Penempatan tanda baca yang serampangan. Apakah ini kualitas penerbit yang mendapat tanggung jawab besar menerbitkan karya Tan malaka? Sering kali kalimat tidak diakhiri tengan tanda titik. Beberapa kali tanda titik justru tercecer di tengah kalimat. Jelas sangat mengganggu pembaca dalam memahami isi buku ini. Tanda petik juga tidak ditempatkan dengan benar. Maka saya beberapa kali sulit memahami percakapan dalam buku ini.
3. Tidak seperti buku pergerakan kemerdekaan lainnya yang penuh dengan catatan kaki untuk menjelaskan istilah-istilah yang sudah asing di era sekarang, penerbit dan penyunting buku ini justru tidak tergerak untuk menuliskan cacatan kaki satu pun. Maka pembaca harus mencari sendiri arti kata dan kalimat Belanda yang digunakan Tan dalam menulis. Parahnya lagi, dalam buku ini Tan melampirkan satu paragraf artikel berbahasa Jerman, dan penerbit bahkan tidak tergerak untuk membantu pembaca menerjemahkannya dalam catatan kaki.
Demikian kekecewaan saya, boleh setuju boleh tidak.
Tan Malaka adalah seorang revolusioner berdarah minang. Lahir dari keluarga yang sederhana. Salah satu pahlawan revolusi yang gelar kepahlawanannya baru diresmikan oleh Pemerintah Indonesia Tahun 1963.
Adalah sosok revolusioner, bapak dari Bangsa Indonesia. Rela mengorbankan kemerdekaannya demi kemerdekaan bangsanya. Setelah lulus dari sekolah tingkat atas, beliau melanjutkan studinya di Negara Belanda (ironis, sistem pendidikan yang dianut bangsa kolonial zaman dahulu masih kita temui dan rasakan pada sistem pendidikan di negeri ini. Dipaksa menghafal dan dijejali dengan berbagai mata pelajaran.) Tan Malaka melanjutkan studinya selama enam tahun dan kembali ke Indonesia untuk mengamalkan ilmunya. Agar rakyat Indonesia tak lagi bodoh dan tak lagi dibodohi.
Mulailah pergerakan itu dilakukan ditanah Sumatera. Walaupun banyak pertentangan, Tan Malaka tak sedikitpun gentar. Tak hanya Sumatera, beliau melakukan pergerakannya hingga ke Semarang dan Bandung. Walaupun pada akhirnya beliau ditangkap dan dipenjarakan oleh Pemerintah Hindia-Belanda yang kala itu berkuasa di Indonesia karena dianggap mengancam stabilitas Pemerintah Hindia-Belanda. Tan Malaka ditangkap dan dipenjara di Bandung, lalu dipindahkan di Semarang, hingga dibawa ke Jakarta untuk selanjutnya dibuang dan diasingkan.
Tan Malaka adalah sosok yang cerdas. Mampu menguasai berbagai bahasa, diantarantya: Jerman, Inggris, Rusia, Mandarin dan Tagalog. Maka tak terlalu sulit baginya untuk hidup dinegara perasingan. Tak sedikit pula orang yang bersimpati atas pergerakannya dan membantu Tan Malaka untuk bertahan hidup.
Di negara perasingan,beliau masih menjadi sosok yang buronan yang pada akhirnya ditangkap dengan cara yang tidak manusiawi hingga dipenjarakan kembali sebelum akhirnya beliau tewas terbunuh oleh bangsanya sendiri.
"Barang siapa yang menghendaki kemerdekaan buat umum, ia harus sedia dan ikhlas untuk menderita kehilangan kemerdekaan diri-(nya) sendiri".
"Ingatlah, bahwa dari dalam kubur, suara saya akan lebih keras daripada di atas bumi".
buku ke 4 dari Tan Malaka yang saya baca (sebelumnya Madilog, Aksi Masa, Gerpolek yang sudah 1/2 di baca namu tertinggal di kereta api bandung-jakarta ketika saya memutuskan turun di stasiun bekasi untuk mampir ke rumah pacar dulu. Harusnya turun di stasiun Gambir hehe).
Saya menyimpulkan seharusnya buku ini menjadi buku pertama yang dibaca oleh para pembaca yang ingin mengenal lebih jauh Tan Malaka, pemikirannya sekaligus sejarahnya lebih dalam khususnya terkait dengan cita-citanya untuk menuju Indonesia bebas imperialisme. Kedua silakan membaca aksi masa atau gerpolek. Kiranya Madilog diurutan terakhir.
Buku ini sangat baik untuk memperkaya literasi sejarah bangsa, menumbuhkan perasaan nasionalisme, prikemanusiaan dan perjuangan. Tan Malaka dengan cerdas menuangkan semua yang ia alami dalam periode kelahirannya hingga awal kemerdekaan (1897-1945). Walaupun buku ini adalah autobiografi namun Tan Malaka tetap berusaha memasukan hal-hal lain yang membuat pembaca menjadi paham dengan kondisi sosial, ekonomi dan politik Indonesia dan negara-negara yang pernah dikunjungi Tan Malaka khususnya kondisi Indonesia periode menuju kemerdekaan.
Setiap membaca buku Tan Malaka saya selalu mengakui bahwa Tan Malaka adalah sosok pengamat yang detail, cerdas dan memiliki literasi luas, namun tetap nasionalis dan sangat berprikemanusiaan. Saya secara pribadi merasa Tan Malaka Pantas disandingkan dengan Sukarno sebagai Founding Father. Hanya nasib yang membuat kedudukan mereka berbeda pada akhirnya.
Tan Malaka menghabiskan hidupnya sebagai pelarian politik. Sepanjang hayat ia habiskan hidupnya untuk cita-cita republik Indonesia, tetapi akhirnya mati di tangan bangsa sendiri.
Saya sangat ingin mengetahui tentang proyek pedagogi yang dibangun di SI School di Semarang, meski bagian ini hanya jadi satu episode singkat karena Tan Malaka keburu dianggap berbahaya oleh pemerintah kolonial.
Saya membayangkan betapa akan cemerlang warisan intelektual yang dibangun oleh Tan Malaka, jika sebagian hidupnya dapat lebih leluasa tanpa dikejar-kejar polisi antek kolonial.
Semangatnya akan terus nyala di dada kami: Merdeka 100%!
Sebuah memoir Tan Malaka, tokoh perjuangan Indonesia yang nyaris tak pernah terdengar namanya di buku sejarah sekolah kita. Membacanya seperti membaca buku harian. Seperti membaca petualangan luar biasa.
Dari Tan Malaka mulai bersekolah di Belanda di usianya yang masih belasan tahun, sampai kembali lagi ke Hindia-Belanda sebagai pendidik, ditarik menjadi politisi, lalu tiba-tiba jadi buangan politik, terkatung-katung di luar negeri, berkelana dan berlari dari satu negara ke negara lain, sampai kembali lagi ke Indonesia, bekerja sebagai pengatur romusha, dan tetap memperjuangkan rakyat dan Indonesia.
Beliau polyglot yang bisa banyak bahasa, karena pendidikan dan pelariannya. Luar biasa kalau dipikir-pikir jaman itu beliau belajar langsung praktek saja. Bahkan di Tiongkok, Tan Malaka pernah membuka lembaga bimbingan belajar aneka bahasa, dan sukses.
Tan Malaka dengan berbagai nama dan profesinya, memperlihatkan bahwa hidup adalah sebuah pilihan. Tan Malaka memilih hidup yang tidak biasa saja. Atau mungkin Tan Malaka dipilih oleh hidup untuk menjalani hidup luar biasa. Dan hidup beliau menunjukkan bahwa ibarat emas dibuang ke parit pun dia akan tetap menjadi emas.
Cerita dari POV beliau banyak berbeda dengan yang diceritakan buku sejarah sekolahan di masa saya sekolah dulu. Terutama yang saya cukup terkejut adalah bagian sikap pemimpin-pemimpin utama Indonesia terhadap masa pendudukan Jepang.
Jadi, mari kita gali lebih lanjut, dan kesal bersama-sama.
Cara penyampaian dan bahasa di buku ini sepertinya murni tulisan Tan Malaka tanpa diedit-edit. Jadi ada kalimat-kalimat yang harus diulang-ulang bacanya supaya paham maksudnya. Bahasanya juga banyak sisipan istilah ataupun kalimat dalam bahasa belanda, jerman, dan lain-lainnya. Siapkan google translate, ya!
This entire review has been hidden because of spoilers.
Meskipun membutuhkan waktu yang sangat lama untuk saya menyelesaikan membaca buku ini, tidak ada penyesalan sedikitpun setelah berhasil membacanya. Justru saya belajar sangat banyak dari salah satu orang yang berpengaruh dalam kemerdekaan Republik Indonesia. Perjalanannya mulai dari menempuh pendidikan di negeri Belanda, lalu pulang ke tanah air namun tidak lama kemudian dijadikan buronan politik yang berpindah - pindah menyelamatkan diri dan tetap berkontribusi untuk negara hingga akhirnya menginjakkan kakinya di negara asalnya kembali dengan nama samaran. Benar saja, selama memiliki kemampuan beradaptasi, ilmu yang tiada henti digali dan juga memiliki hubungan baik dengan orang sekitar dan kerabat, akan menyelamatkan kita dalam keadaan apapun, setidaknya itulah yang dapat saya pelajari dari buku ini. Selama membaca buku ini terasa seperti seseorang sedang menceritakan petualangan yang seru. Meskipun tetap banyak terdapat tata bahasa yang agak sedikit membuat bingung dan juga keterangan waktu yang agak sedikit melompat-lompat, tapi itu semua tidak membuat saya berhenti membalikkan ke halaman selanjutnya. Selagi itu, dari sini pun saya kembali mendapatkan kesimpulan, yang berpolitik akan berpolitik sedangkan yang terjun langsung akan tau kejadian yang sebenarnya. Kalau memang tertarik untuk mengetahui kehidupan sebelum Indonesia menyatakan kemerdekaannya, buku ini patut menjadi salah satu buku yang harus kalian baca.
Sudah dua kali saya membaca autobiografi tokoh2 besar (Otto Von Bismarck : In Erinnerungen und Gedanken dan Mohammad Hatta : Untuk Negeriku). Baru kali ini saya membaca autobiografi seperti membaca sejarah, biographie tokoh, filsafat, dan Bung Malaka yang cerdas ini seringkali menceritakan Tokoh2 lain, seperti misalnya Jose Rizal (Philiphina)dan Dr. Tsun Yat Sen (China) dan juga di buku ini Beliau seperti hanya menulis manifesto2 politik nya, singkat sekali dia menulis ttg dirinya, setelah itu dia bertemu seseorang dan malah menceritakan Orang tsb. datang ke suatu negara dan malah menjelaskan situasi politik di negara yg dikunjunginya dgn panjang lebar ( Mungkin memang itulah pengalaman Beliau, pengalaman nya sangat sangat luas! Selalu dikelilingi oleh situasi2 yang berbahaya sehingga tangannya gatel untuk menulis peristiwa tsb.) Menurut saya Bung Malaka ini jg terlalu cerdas dan tidak begitu memedulikan dirinya sendiri, sehingga dia lupa menulis ttg dirinya dgn amat detail dan terus berjuang untuk kemerdekaan orang orangnya.
Salah satu buku permulaan yang menurut saya wajib untuk dibaca, bagi mereka yang ingin mengetahui perjuangan dan pemikiran Tan Malaka. Perjuangan akan sebuah cita-cita untuk kemerdekaan dan kemakmuran bangsanya dengan memegang prinsip yang keras, kesabaran yang tinggi, pengalaman yang luas, ilmu yang dalam, taktik yang cerdas, hati yang tulus serta semangat yang tinggi sebagai jalan. Walau di akhir jalan nasib Tan Malaka jauh tersingkir dan tenggelam diantara gemilang sejarah kawan seperjuangan, Tan Malaka tetap lah Pahlawan bagi mereka yang tau arti sebuah perjuangan dan keikhlasan. Terlepas dari polemik yang beredar tentang pemikiran Tan Malaka, buku ini (Dari Penjara Ke Penjara), Beliau adalah seorang bapak bangsa yang setia berkorban banyak demi Kemerdekaan bangsanya. Semoga kedepannya kita lebih imbang dan objektif dalam menerima dan menghargai pelaku sejarah
Otobiografi yg unik. Tidak disusun secara kronologis. Ceritakan diawali dari masa sekolah Tan Malaka di Sumatera Barat dan kemudian lanjut ke Belanda. Kemudian aktivitas politik di masa pergerakan nasional. Karena aktivitasnya di komintern , menjadikan dirinya buronan banyak negara penjajah. Pelariannya dari satu tempat ke tempat yg lain , menarik untuk diikuti. Karena pernah menjadi pengajar, maka tak heran jika Tan Malaka sangat mengutamakan pendidikan untuk memajukan bangsa. Sifatnya yg kosmopolitan membuatnya dapat belajar dari siapa saja terlepas ideologi, ras, golongan. Baginya setiap pejuang kemerdekaan adalah teladan. Bila Madilog banyak membahas pandangan dunia Tan Malaka, maka buku ini banyak membahas lika-liku perjuangan Tan Malaka sang konseptor republik yg terlupakan.
Dalam benak saya Tan Malaka adalah sosok yang misterius, fotonya saja sedikit sekali. Biar lebih kenal maka saya putuskan untuk mencoba baca otobiografinya.
Buku terbitan Narasi ini ditulis sendiri oleh Tan Malaka. Tulisannya mengalir kadang ngelantur, jadi seperti membaca buku harian.
Tan Malaka menuliskan bagian hidupnya yang paling dramatis. Perjalanan hidup semasa dirinya menjadi pelarian politik, berpindah-pindah melintasi berbagai negara. Dari Belanda, Jerman, Sovyet, Filipina, Tiongkok, Shanghai, Burma, Singapura, disertai keluar masuk penjara.
***
Seusai menjalani pendidikan di Belanda, Tan Malaka kembali ke Indonesia dan mengawali karirnya sebagai guru bantu di sekolah anak kuli perkebunan tembakau Deli.
Tak puas dengan karirnya, ia lalu merantau ke pulau Jawa. Di Semarang, kepandaiannya menulis membuat dirinya bergerak menjadi aktivis Murba dan fungsionaris PKI. Selain itu bersama Sutopo ia ikut membangun sekolah rakyat.
Merasa kehadiran Tan Malaka mengganggu, pemerintah Hindia Belanda kemudian menangkap dan membuangnya ke Belanda.
Selama ini saya mengira kalau dibuang ke Belanda itu masuk penjara. Ternyata tidak. Di Belanda Tan Malaka malah asyik berpolitik dan menjadi anggota CPH (Partai Komunis Holland). Ketika di Belanda, ia merasa dirinya selalu hidup dalam bahaya, dari situlah awal ia melarikan diri ke banyak tempat.
Selama pelariannya Tan Malaka terus menerus melakukan penyamaran, berganti identitas, sampai memalsukan dokumen seperti paspor. James Bond mah ada tim khusus. Nah, ini semuanya direncanakan sendiri. Situasi darurat tersebut lama-lama menjadi bagian yang normal dalam kehidupannya.
Setiap singgah di negara tertentu, ia mengganti namanya. Di Filipina ia menggantinya namanya dengan Elias Fuentes, Estahislau Rivera, dan Alisio Rivera. Menyeberang ke Singapura ganti lagi jadi Hasan Gozali.
Di Shanghai namanya ia ubah jadi Ossorio, pindah ke Hongkong jadi Ong Song Lee, saat di Tiongkok berubah lagi jadi Howard Lee, dan ketika di Burma jadi Tan Ming Sion. Saya jadi curiga, jangan-jangan Tan Malaka itu nama karangan dan bukan nama pemberian orang tuanya.
Dalam buku ini terlihat jelas jejak-jejak perjuangan bawah tanahnya yang sangat rapi dan misterius. Hidupnya yang berat membuat Tan Malaka yang introvert tidak mudah mempercayai orang. Ia sangat tertutup, kesepian dan terasing.
Namun anehnya, dia pintar menjalin relasi dan meraih simpati dengan tokoh-tokoh pergerakan di setiap negara yang ia singgahi. Sehingga selalu punya pekerjaan selama masa pelarian.
Mulai dari juru tulis, wartawan, hingga pengajar semua dilakoni untuk bertahan hidup. Yang awalnya ia hanya bisa berbahasa Melayu dan Belanda akhirnya menguasai bahasa Jerman, Mandarin, dan Tagalog.
Buku ini menarik untuk dibaca. Banyak wawasan tentang pandangan Tan Malaka yang berhaluan kiri dan kondisi sosiopolitik di tempat yang ia singgahi, serta tokoh yang menginspirasinya.
Cuma gimana generasi muda jadi tertarik baca kalau bahasanya jadul dan terkesan berat gini ya? Mustinya ada penerjemah untuk ‘bahasa kekinian’ deh.
"Demikianlah akhirnya pada permulaan Agustus saya menuju ke arah Republik Indonesia bukan lagi dengan pena di atas kertas, di luar negeri, . . . . . . melainkan dengan kedua kaki di atas tanah Indonesia sendiri."
Buku yang sangat kaya akan perspektif yang jarang disorot oleh arus utama sejarah di negeri kita. Perjuangannya melalang buana dari satu negara ke negara sebagai buangan politik, dan konsistensinya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia yang 100% sangat layak mendapat apresiasi lebih oleh bangsa kita yang menurut saya masih amat kurang saat ini. Saya selalu terharu dengan kisah Tan Malaka dengan perjuangannya yang tidak dapat dihentikan oleh bangsa penjajah, namun ternyata akhirnya dihentikan oleh bangsanya sendiri yang ia bela.
Semoga pemikiran merdeka 100% Tan Malaka akan selalu bisa disampaikan dari satu generasi ke generasi penerus sebagai obor pengarah agar kita selalu mengevaluasi kemerdekaan kita sebagai bangsa. Terlepas dari kesepakatan atau ketidaksepakatan kita dengan pandangan ideologinya, beliau sangat berjasa bagi pergerakan lahirnya republik kita yang tercinta ini. Merdeka!
Ekspetasi saya ketika akan membaca buku ini adalah memahami Tan Malaka dan Indonesia dalam perjalanan hidupnya, dalam masa "terpenjara"nya, ternyata di buku ini, lebih dari pada itu, bahkan sebagian besar dari buku ini justru Tan Malaka mengajak para pembacanya untuk mengenal dunia politik dan sejarah di berbagai negara, negara2 yang mayoritas menjadi tempat pelariannya sebagai buronan politik, negara2 yang menjadi "penjara"nya selama lebih dari 20th. Kagum teramat kagum, bagi orang di masa itu, tidak mempunyai paspor resmi, bisa melompat tinggal dari satu negara ke negara lain, tanpa harta benda dari negara asalnya karna beliau diasingkan oleh penjajah namun terus bisa menyambung hidup dari hari ke hari, tahun demi tahun. Perjuangan bertahan hidup beliau yang tidak begitu melegenda seperti pemikiran dan usaha2nya untuk Indonesia di masa itu, sangat layak disimak melalui buku ini.
Buku ini tak hanya membahas pelarian Tan Malaka dari para imperialis yang ingin menangkap dan membungkamnya. Ia ceritakan pula keadaan negara-negara yang ia singgahi selama pelariannya. Yang menarik, saya merasa terkoneksi secara emosional dengan buku ini. Selama pelariannya, Tan Malaka tak sendirian. Ia juga dibantu oleh beberapa orang yang juga bersimpati terhadap kemerdekaan Indonesia. Interaksi Tan Malaka dengan orang-orang ini yang membuat saya terharu. Bahkan ketika sudah di penjara pun, masih ada beberapa orang yang memperlihatkan simpatinya pada Tan Malaka. Rupanya terdapat beberapa orang asing yang menghendaki kemerdekaan Indonesia saat itu.
Kita juga bisa lihat bagaimana kecerdikan Tan Malaka menghindari polisi yang hendak menangkapnya. Dengan bantuan beberapa teman, tentunya. Akan tetapi, Tan Malaka bukan seorang "Mary Sue" yang selalu lolos dari kejaran. Ada saat di mana ia ditangkap. Meski begitu, masih terlihat kecerdikannya.
Dengan pengalaman menjadi seorang yang sedang dalam pelarian, selain kecerdikan, Tan Malaka juga merupakan seseorang yang tak langsung percaya dengan kabar yang beredar di sekitarnya. Seperti pada kutipan berikut:
"Saya sebagai orang asing, tentulah tiada bisa langsung menerima kabar di atas." (Hal. 272)
Walau ternyata berita yang diterimanya benar, menurut saya tindakan yang Tan Malaka pilih tidak sepenuhnya salah juga. Sebagai seorang pelarian, tentu ia tidak bisa menelan mentah-mentah berita yang didengarnya.
Saya begitu setuju dengan kutipan di belakang buku;
"Barang siapa yang menghendaki kemerdekaan buat umum, maka ia harus sedia dan ikhlas untuk menderita kehilangan kemerdekaan diri-(nya) sendiri."
Catatan: saya membaca versi terbitan Narasi, tahun 2016
Membaca buku ini sedikit banyak harus merasionalisasi tulisan karena kesalahan pengetikan serta pengejaan. Banyak sekali ditemukan kesalahan pengetikan yang seharusnya tertulis "dari" menjadi "dan". Terlepas dari itu semua, buku ini merangkum 'petualangan' Tan Malaka dari Sumatera Barat ke Belanda ke Semarang ke Benua Eropa hingga akhirnya bisa kembali ke Jakarta. Dari buku ini pun akhirnya saya mengerti gejolak pada perumusan rencana proklamasi hingga awal Agustus 1945.
Dari buku ini, saya dapat mengerti bagaimana cintanya Tan Malaka terhadap negerinya yaitu Indonesia beserta dengan keadilan rakyatnya.
Dari 2 bagian buku ini, bagian pertama menceritakan Malaka berkelana dari penjara ke penjara di Eropa sampai Asia- sampai di bagian dua; Malaka kembali ke tanah air, bertahan hidup dan berjuang secara geriliyawan, namun semangat juangnya tiada lawan untuk mengusir rampok, maling dan bandit yang datang ke bumi nusantara. Pilu jika mengingat ulang bagaimana dirinya berjuang untuk kepentingan masyarakat di masa itu. Buku yang cocok untuk 'mengenal'lebih dekat tentang Malaka, sebelum menyelam ke buku lainnya untuk mendalami ide dan pemikirannya.
SERU BANGETT GILAAA, bab terakhir itu lebih ngebahas kehidupannya Tan di Bayah, Banten. Terakhir, dia pidato di suatu bioskop sehabis petinggi Jepang bilang kalo beras buat romusha dikurangi (awalnya 250g jadi 200g, anak istri ga akan dapet beras), setelah Tan pidato, ada orang Jepang yang mau angkat senjata ke Tan dan dia disaranin buat kabur—tapi ga jadi, Jepang keburu kalah perang, sekarang situasi terbalik. Tan akhirnya minta buat beneran dateng ke Jakarta buat ikut konferensi (?) dan dikabulkan.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Cerita Tan Malaka, yang memasuki berbagai macam pengasingan dan pengurungan sangat menarik dibaca untuk saya saat ini, karena ide yang ingin disampaikan ialah ada harga yang harus dibayar untuk mengemukakan sesuatu, tetapi kita harus pandai-pandai agar harga yang dibayar tidak terlalu mahal dan yang ingin disampaikan haruslah yang benar
This man is utterly a legend. Always a fan of the way he describe everything. This book told you about his time as a fugitive. From a country to another country. With different names, identities, friends, enemies.
Bukunya bagus, menceritakan perjalanan dari penjara ke penjara yang dialami langsung oleh penulisnya. Sayang seribu sayang, bukunya terlalu tebal setebal Madilog, dan bahasanya menggunakan bahasa minang
Saya sangat terharu saat membaca buku “Dari Penjara ke Penjara” autobiografinya Engku Guru Tan Malaka ini, perjuangan beliau yang dibalut kesulitan, kesedihan dan kesepian tersimpan rapih di sela-sela huruf dalam buku ini.
Sayang sekali di buku ini (saya baca terbitan Narasi cet. ke-6, 2022 Edisi Baru) sangat banyak kesalahan pengetikan dan pengejaan serta tiadanya catatan kaki untuk istilah-istilah dalam buku ini.
Jika dibandingkan dengan bukunya Engku Guru Tan Malaka lainnya, yaitu Madilog yang memanglah terkenal sulit untuk dipahami para pembaca, percayalah jauh lebih sulit lagi kehidupan sang penulis. Jadilah pembaca yang tangguh!