Jump to ratings and reviews
Rate this book

Pegadaian

Rate this book
Langkah yang paling mendesak, dia akan tinggal bersama keluarga orang Bali. Menyatu dan berguru apa saja yang bisa di pelajari. Itu masa gila bagi Sunar, ke mana-mana dia menenteng buku. Membaca dan meringkas, menghafal dan berlatih pidato sendiri adalah menu harian. Sebagai anak muda yang lepas dari orang tua, tentu muncul kecengengan, sentimental, naluri manja. Dia acuhkan dan tak diurus berpanjang-panjang deretan kerinduan yang bisa mengundang tangis itu. Dia tepiskan ke samping itu semua.

240 pages, Paperback

First published March 1, 2004

4 people are currently reading
40 people want to read

About the author

Sigit Susanto

13 books19 followers
SIGIT SUSANTO lahir di Kendal, Jawa Tengah, 21 Juni 1963. Ia lulus AKABA 17 – UNTAG Semarang pada tahun 1988. Sejak April 1996 Sigit menetap di Swiss.

Karyanya yang telah terbit:
Sosialisme di Kuba (2004)
Pegadaian: Novel (2004)
Menyusuri Lorong-Lorong Dunia: Kumpulan Catatan Perjalanan Jilid 1 (2005)
Menyusuri Lorong-Lorong Dunia: Kumpulan Catatan Perjalanan Jilid 2 (2008)
Menyusuri Lorong-Lorong Dunia: Kumpulan Catatan Perjalanan Jilid 3 (2012)
Surat Untuk Ayah (2016)
Kesetrum Cinta: Kisah Jenaka Pria Jawa Menikah dengan Perempuan Swiss (2016)



Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
6 (40%)
4 stars
2 (13%)
3 stars
6 (40%)
2 stars
1 (6%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 2 of 2 reviews
Profile Image for Aklam Panyun.
48 reviews6 followers
August 4, 2012
Bagian paling esensial dalam novel ini adalah pada bab "Mudik Kedua: Oleh-Oleh Kaos Barong Bali". Sigit Susanto memaparkan kebiasaan mudik ala orang jawa dan segala pernak-perniknya dalam jalinan plot cerita ala deskripsi etnografis yang kental.

Melihat peruntukkannya, wajar saja buku ini ditulis dalam nuansa semi etnografis. Dugaan saya, karena buku adalah usaha Sigit Susanto untuk mengekalkan ingatan dan kenangannya tentang Jawa. Tampaknya ini perlu dilakukan karena Sigit "yang sehari-hari bahkan harus berbahasa Jerman dengan keluarganya" tidak kehilangan rasa Indonesia. Sejak tahun 1996, Sigit memang tinggal di Switzerland.

Alasan kedua, novel ini sesungguhnya adalah warisan Sigit untuk istrinya, Claudia Beck Susanto, sebagai medium untuk mengenalkan peri kehidupan di kampungnya di Kendal.

Secara keseluruhan, saya menikmati tata bahasan Sigit yang begitu rendah hati. Sebuah signature yang juga muncul di buku travelogue "Menyusuri Lorong Dunia" yang ada tiga jilid itu.

Saya jadi terinspirasi untuk membuat tulisan serupa, tentang lebaran di kampung saya.
5 reviews
September 1, 2013
novel yang menarik dibaca oleh siapapun yang rindu akan kampung ibu. sigit susanto menuliskan detil detil antar manusia dengan sangat kaya. sayang, terlalu banyak salah ketik yang harus dimaafkan. selamat lebaran!
Displaying 1 - 2 of 2 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.