Nono ketakutan. Kenapa dia bisa tersesat di dalam sebatang pohon kenari? Padahal dia hanya ingin mengambil sepedanya yang tersandar di sana. Dan siapa pula anak berkulit hitam misterius yang memancingnya ke sana? Nono ingin keluar. Tapi di dalam pohon itu, membentang dunia berbeda. Dia tiba di zaman Belanda!
Itu belum seberapa. Masih banyak hal-hal aneh lain. Misalnya, gadis bermata biru cantik yang bisa berubah menjadi burung kenari. Gerombolan Semut Hitam. Anak Rembulan. Dunia macam apa ini? Nono ingin sekali kembali ke rumah kakek buyutnya yang nyaman di Wlingi. Tapi mungkinkah dia bisa kembali, kalau ternyata dia harus memimpin sebuah perang mencekam di dunia misteri itu?
Dua genre yang membuat penikmat buku meragukan kecanggihannya sewaktu tahu penulisnya asli Indonesia konspirasi dan fantasi. Namun, membaca Anak Rembulan, siapa pun akan mendebat pendapat itu dan waktunya anak negeri unjuk gigi. Sangat lokal, fantastik, dan tak terlupakan.
—Tasaro GK, penulis trilogi Muhammad
Saya senang bisa membaca lagi karya terbaru Djokolelono. Imajinasinya sangat kuat membangun plot cerita fantasi lokal yang nggak kalah keren dengan fantasi asing.
—Benny Rhamdani, penulis buku dwilogi Mimpi Sang Garuda dan Garuda di Da
adalah seorang penulis buku Indonesia tahun 70 hingga 80-an. Dia dikenal sebagai penulis buku fiksi-ilmiah seperti seri Penjelajah Antariksa (Bencana di Planet Poa, Sekoci Penyelamat, Kunin Bergolak), Jatuh ke Matahari dan sekuelnya, Bintang Hitam. Selain menulis buku fiksi-ilmiah, Djokolelono juga dikenal sebagai penulis buku anak-anak, seperti seri Astrid, dan beberapa cerita wayang. Djokolelono juga adalah seorang penerjemah. Buku-buku yang ia terjemahkan antara lain Petualangan Tom Sawyer dan karya Mark Twain yang lain, seri Pilih Sendiri Petualanganmu, seri cergam Mimin, seri Mallory Towers dan buku-buku Enid Blyton yang lain, dan seri Rumah Kecil Laura Ingalls Wilder[1]. Karya-karyanya diterbitkan oleh Pustaka Jaya (PT Dunia Pustaka Jaya), Gramedia, dan BPK Gunung Mulia.
3.7 deh, hehehe. Saia bulatin ke bawah karena rating keseluruhannya masi 3.89.
Ihik ihik. Kayak IP Mahasiswa teladan aja.
Saia suka Nono.
Saia sukaaaa~ banget sama Saarce.
Dan saia suka Ibu Nono, Pakde dan Bude Nono, Mbah Sastro, Mbah Pur.
Tapi saia rada kurang sreg Mbok Rimbi digambarkan bercanda dengan golok dan ada Ratu kecil yang doyan main penggal. Saia bisa mengerti kekerasan, tapi di sini penyampaiannya bikin saia sedikit bertanya-tanya.
Mengenai bagian penyelesaian cerita setelah bab 33, di satu sisi saia merasa ini agak cop-out.
Berikutnya saia juga punya keberatan sama gaya menulisnya. Terlalu banyak bentuk kalimat tidak lengkap. Awalnya sih nggak apa-apa, tapi makin ke belakang makin banyak dan makin mengganggu.
Paragraf ini contohnya,
Nono tersungkur ke dalam air. Gelagapan. Beberapa saat kepalanya berada di dalam air. Dan mukanya menyentuh pasir. Cepat ia mencoba berdiri. Dan karena tergesa ia jaduh terduduk. Di dalam air. Air sampai ke dadanya. Ia mengangkat sandal kiri itu tinggi-tinggi. Dan cepat berdiri. Melihat ke kiri dan ke kanan. Sepi. Untunglah. Kalau ada orang melihat, mungkin ia tampak aneh. Lucu. Tiba-tiba tersungkur dan terbenam sesaat itu.
Saia ngebaca ini capek banget. Kalimatnya patah-patah, nyaris kayak daftar belanjaan. Kadang saia harus berupaya ekstra untuk merunut apa yang sedang terjadi di dalam sebuah paragraf. Baru setelah itu saia bisa membayangkan apa yang terjadi.
Kalau saja gaya menulisnya lebih bagus, saia akan rela hati kasi 4 pol deh. Mungkin malah 4.5 Kenapa? Soalnya ini nggak bersekuel! Yeah! Saia suka kalau pengarang bikin cerita yang cuma satu buku langsung tamat. Bukannya saia bilang buku berseri itu jelek, tapi saia memang lebih suka yang sekali baca tamat. Somehow it makes the book more special. Apalagi karena buku ini memang ceritanya cukup spesial. Di mana lagi saia bisa menemukan tipe wise old mentor yang bekerja sebagai juragan tahu?
Seperti yang di atas itulah saia membayangkan Mbah Pur. *ngakak*
Thanks buat Om Djokolelono yang sudah menulis buku ini. Ditunggu karya berikutnya yah. ["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>
Sebagai penyeling pembacaan buku apresiasi puisi (kayak yang bakal konsisten saja), saya memutuskan untuk membaca buku fiksi terbitan Pustaka Jaya karya penulis Indonesia tertentu, yaitu Djokolelono. Kenapa Pustaka Jaya? Karena biasanya menerbitkan karya lawas yang rasa bahasanya saya suka. Kenapa Djokolelono? Karena ada beberapa karya beliau yang saya suka dan ternyata ada banyak yang belum saya baca. Buku ini saya pilih karena berada di urutan teratas saat mencari dengan kata kunci 'djokolelono' di Ipusnas.
Bab pertama buku ini langsung membuat saya takjub. Bab ini memerinci beberapa keanehan yang melingkupi sebatang pohon kenari raksasa di tepi Kali Njari. Uraian mengenai keanehan tersebut menyinggung berbagai cabang ilmu pengetahuan mulai dari sejarah lokal sampai ilmu tanah, dapat memancing rasa ingin tahu pembaca muda agar menelusuri lebih lanjut. Deskripsinya begitu mendetail, riil. Kaya, meyakinkan. Saya seakan-akan diberi tahu, "Begini lo contohnya menulis yang bagus itu!!"
Bab-bab berikutnya mulai memendek, berpacu cepat, berfokus kepada alur. Saya yang biasanya rada-rada rajin merangkum tiap bab pun kewalahan sehingga hanya menuliskan kesan singkat:
"rada horor" "kocak juga sih" "kayak mimpi buruk yang sureal" "ada typo tapi biarlah" "pusing juga ngikutinnya, kayak mimpi aneh beruntun" "Kasihan banget penculikan anak. Dunia Jawa kuno yang barbar dan kasar." "Haaa .... Ceritanya gereget sih." "Ada GSP lah .... Guruh Soekarno Putra??" "Sri Ratunya nyebelin." "Nicole Portman? Nicole Kidman + Natalie Portman? Star Wars mah Natalie Portman." "Nono jadi transgender, WTF." "Hii serem" "Saarce karakternya rada-rada mirip Sri Ratu, perempuan kecil sok berkuasa. Bedanya, dia SJW." "Literally gelap" "Cie cie Nono dicium Saarce."
Ke belakang, referensinya makin kaya saja. Menyangkut martial art, pop culture, istilah gaul 2000-an, fakta sains, teknik pembuatan tahu, hingga folklor. Saya jadi menelusuri tentang Gunung Kelud dan mengetahui bahwa gunung ini pernah erupsi pada bulan-bulan akhir 2007, sedang novel ini diselesaikan di "Jakarta, 10 April 2007". Wah! Penulis seakan-akan dapat menerawang yang akan terjadi dalam waktu dekat! Memang dalam buku ini ada adegan Gunung Kelud meletus.
Mengamati gaya bahasa penulis, saya jadi merasa fine-fine aja untuk mengumbar kalimat tidak lengkap dan bolak-balik POV 3 - POV 1 sesuka hati bila mau menulis cerita nanti.
Gabungan penceritaan ulang legenda Gunung Kelud dibumbui sejarah kedatangan Cornelis de Houtman ke Kepulauan Rempah-Rempah (istilah yang disebutnya untuk Nusantara) pada tahun 1550-an.
Seru, penuh aksi dan banyak tokoh. Menggabungkan unsur realita dan fantasi sebagai alam mimpi/bawah sadar. Alurnya cepat. Namun, saking cepatnya sampai terengah-engah. Masih banyak pertanyaan tentang tokoh dan alur cerita yang tidak terjawab dan sepertinya disengajakan agar pembaca menerka-nerka hal tersebut dengan imajinasi sendiri.
Buku perdana karya Eyang Djoko yang kubaca. Novel fantasi lokal kedua (sepertinya) yang kubaca tahun ini.
"Ku nggak ngerrtiiiiiiii" adalah reaksi awal ketika membaca buku ini hingga di halaman 140an. Lalu di 100 halaman berikutnya baru lebih jelas. Dari gaya tulisannya saja memang keliatan jelas, om djoko adalah seorang pendongeng. Dia bercerita seolah-olah pembacanya adalah para penonton drama panggung dan beliau-lah naratornya. Saya hampir bisa mendengar suaranya ketika membaca. Sangat unik. Sementara itu, ceritanya sendiri begitu aneh.
Nono tadinya akan menikmati liburan di desa di Malang. Awalnya tampak normal sampai ia mendengar legenda tentang pohon Kenari di pinggir sungai Njari. Lalu tiba2 saja ia terselip waktu dan tiba di tanah Jawa kuno ketika Belanda pertama kali memasuki wilayah jawa timur. Di sana, ia bertemu Trimo, yang sampai akhir ternyata memegang peranan penting. Dari Trimo, nono pun nyasar ke sebuah desa dan ia tidak bisa keluar dari tempat itu lalu dipaksa bekerja di warung ibu2 galak, hampir mirip penginapan sihir di Spirited Away! Di desa itu nono bertemu dengan lima pria, yang kemudian membawanya pada situasi pelik lain ketika seorang pangeran menangkap mereka dan membawanya ke hadapan Sri Ratu yang masih kecil tapi kejam. Situasinya begitu aneh bahkan Nono tidak mengerti tapi tanpa daya mengikuti saja. Orang2 yang ditemui Nono bukan orang biasa. Bagai kisah2 silat lain, mereka punya aji-ajian mandraguna. Dan setelah segala keanehan lain berlanjut mencapai klimaksnya, Nono kembali ke masa nya. Dan satu per satu dari keanehan peristiwa Nono mulai terungkap.
Sayangnya, pengungkapan misteri Nono ini malah terasa gak mulus. Seolah2 om djoko mulai bosan dengan kisahnya sendiri dan sekenanya saja menyelesaikan bagian akhirnya. Sampai rasanya saya bisa mendengar suara "sudah ah, segitu aja." yang berlalu bersama angin. *syuuuu*
Seru, nggak kalah menurut saya dengan novel fantasi karya penulis Barat, seperti Percy Jackson misalnya. Saya membandingkan dengan Percy karena sama-sama ditujukan untuk pembaca anak dan sama-sama menampilkan tokoh-tokoh legenda.
Kepiawaian Djokolelono dalam bercerita membuat kisah ini sangat mengalir dan enak dibaca, diselingi humor di sana sini.
Terlepas dari kover yang kurang menggambarkan isi novel dan dua ilustrasi yang tidak sesuai deskripsi (jadi penasaran, ilustratornya sempat membaca dulu nggak ya sebelum menggambar?), saya sangat menikmati Anak Rembulan dan malah jadi penasaran dengan novel fantasi karya Djokolelono sebelumnya, Jatuh ke Matahari. Masih ada yang jual nggak ya?
Seandainya novel ini dicetak ulang dan direvisi, saya membayangkan ilustrasi di halaman pertama sepertinya keren banget kalau dijadikan kover :D
Masih ingat dengan Djokolelono? Beliau adalah penulis novel produktif di era 70-80an. Novel debutannya yang berjudul “Jatuh ke Matahari” merupakan novel fiksi ilmiah paling awal yang ditulis oleh penulis Indonesia, novel tersebut diterbitkan oleh Pustaka Jaya pada tahun 1976, setahun sebelum George Lucas merilis Star Wars yang kelak menjadi sebuah fenomena budaya dalam sejarah dunia fiksi ilmiah.
Setelah sukses dengan novel pertamanya, Djokolelono membuat sekuelnya berjudul Bintang Hitam (Pustaka Jaya, 1976) lalu dilanjutkan dengan menulis novel berseri Penjelajah Antariksa (3 judul, Gramedia 1985-1986). Selain menulis novel fiksi-ilmiah Djokolelono juga dikenal sebagai penulis buku anak-anak, salah satunya adalah seri Astrid (Gramedia, 1980-an), selain itu juga dikenal sebagai penerjemah buku-buku fiksi seperti Petualangan Tom Sawyer, seri cergam Mimin, Mallory Towers, buku2 Enid Blyton, dll. Karya-karyanya baik novel maupun karya terjemahannya diterbitkan oleh Pustaka Jaya, Gramedia, dan BPK Gunung Mulia
Setelah sekian lama namanya tidak lagi terdengar di jagad raya perbukuan tanah air, kini Djokolelono kembali hadir dengan karya terbarunya yg berjudul Anak Rembulan – Negeri Misteri di Balik Pohon Kenari, sebuah fiksi fantasi dengan tokoh seorang anak lelaki berusia 10 tahun yang bernama Nono.
Dikisahkan Nono sedang berlibur ke rumah kakeknya di Wlingi, sebuah kota kecamatan yang letaknya diantara kota Malang dan Blitar. Saat dirinya sedang bersepeda sendirian di kota itu ia tertarik untuk melihat dari dekat sebuah pohon kenari raksaksa yang berada di pinggir kali Njari di kaki gunung Kelud. Ketika ia sampai di pohon kenari itu tiba-tiba saja ia terseret oleh aliran sungai Njari dan ia terbawa masuk ke dunia di balik pohon kenari, dunia masa silam ketika pasukan Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman tiba di tanah Jawa , 415 tahun yang lampau!
Hal pertama yang dijumpai Nono di dunia dibalik pohon kenari adalah dirinya berada diantara pasukan Belanda!, karena saat itu ia sedang memakai kaos merah Menchester United pasukan Belanda itu menuduhnya sebagai mata-mata Inggris yang di zaman itu merupakan musuh bebuyutan Belanda.
Lolos dari kepungan tentara Belanda Nono terperangkap di warung Mbok Rimbi, disana ia dipekerjakan sebagai pembantu warung tanpa bisa melarikan diri. Sebenarnya ada banyak kesempatan yang membuat ia bisa kabur begitu saja, namun anehnya setiap kali ia lari ke arah manapun pada akhirnya ia akan kembali ke warung Mbok Rimbi. Dengan kekuatan mistisnya rupanya Mbak Rimbi memang tak membiarkan Nono kabur dari warungnya karena Nono adalah Anak Rembulan, sebutan bagi anak-anak yang akan dipersembahkannya sebagai korban kepada Dewi Kali.
Walau pada akhirnya ia dapat lolos dari cengkraman Mbok Rimbi bukan berarti dia bisa pulang ke dunianya karena kemudian Nono menjadi tawanan sebuah kerajaan yang di pimpin Ratu Merah walau masih anak-anak namun memiliki sifat yang kejam. Karena Nono berani memandang wajah Sri Ratu maka ia dimasukkan dalam taman satwa untuk kemudian dikorbankan pada buaya-buaya yang eksekusinya akan ditonton oleh seluruh penduduk kerajaan.
Tak hanya itu, Nono juga terperangkap dalam sebuah intrik dan konspirasi tingkat tinggi dalam kerajaan Sri Ratu Merah. Sebuah konspirasi yang dilakukan pangeran Mahesasuro guna mempersunting sang Ratu sehingga ia bisa berkuasa. Dengan pasukannya dan bantuan dari pasukan Belanda yang menginginkan harta dari kerajaan Ratu Merah, Mahesasuro dan teman-temannya merencanakan sebuah penyerbuan yang akan dilakukan pada saat terjadi kemeriahan di lingkungan istana, yaitu saat Nono dan para tawanan lain dilemparkan ke kandang buaya dan singa.
Peristiwa itu akhirnya membawa Nono pada sebuah peperangan yang tak hanya berperang melawan senjata melainkan juga harus melawan kekuatan-kekuatan mistis yang di masa itu lazim digunakan diantara para pendekar-pendekar sakti.
Bagi penggemar kisah fiksi fantasi lokal, novel ini bisa jadi pilihan, Djokolelono dengan sangat piawai membawa pembacanya masuk dalam dalam petualangan Nono di masa lalu. Selain ceritanya yang seru novel ini juga menghadirkan 2 tokoh legenda Gunung Kelud yaitu Pangeran Mahesasuro dan Lembusuro.
Sayangnya penulis tidak mengeksplorasi legenda Gunung Kelud ini dengan lebih dalam, dua tokoh legenda itu hanya dipakai untuk sebuah perebutan kekuasaan di kerajaan Ratu Merah. Sementara legenda Gunung Kelud yang mengisahkan pengkhianatan cinta seorang putri bernama Dewi Kilisuci terhadap dua raja sakti Mahesasuro yang berkepala kerbau dan Lembusuro yang berkepala lembu hanya dikisahkan secara singkat lewat tuturan nenek Nono. Padahal kalau penulis memasukkan legenda Gunung Kelud secara utuh dimana Nono berada diantara persaingan kedua tokoh legenda itu pastinya kisahnya akan semakin menarik dan legenda ini akan benar-benar terekam dalam memori pembaca masa kini.
Walau kisahnya dan plotnya sangat menarik, tapi saya merasa ada beberapa hal yang tidak pas di novel ini. Ketika kisah bergulir ke masa kini, ketika Nono dan temannya Saarce berada di kota Blitar, mereka hendak diculik karena si penculik mengira Saarce adalah anak duta besar Belanda. Bagi saya anggapan dari si penculik ini kurang masuk akal, bagaimana mungkin anak seorang duta besar Belanda yang akan berkunjung ke Blitar dapat dengan bebasnya sepedaan bersama temannya di pasar tanpa pengawalan polisi?
Selain itu saya juga menemukan kejanggalan yang terdapat dalam ilustrasinya, di ilustrasi halaman 196 terlihat kalau Sang Ratu mengenakan pakaian wanita Jawa, padahal di ceritanya, dikisahkan saat itu Sang Ratu sedang memakai pakaian prajurit pria untuk menyamar. Lalu di ilustrasi penangkapan Saarce oleh penculik di halaman 327 terlihat bahwa si penculik itu memakai pakaian prajurit Jawa sedangkan dalam cerita dikisahkan bahwa si penculik itu menggenakan celana loreng tentara.
Terlepas dari beberapa kejanggalan di atas, imajinasi penulis yang kuat dalam membangun plot cerita fantasi dengan setting kerajaan di Jawa masa lampau, kedatangan bangsa Belanda di Jawa, plus sedikit legenda Gunung Kelud membuat novel ini memiliki keunggulan sendiri sebagai sebuah novel fantasi lokal yang dengan gagah hadir untuk bersaing ditengah gempuran berbagai novel fantasi terjemahan karya penulis-penulis luar.
Kehadiran novel ini tentunya juga bisa membuktikan bahwa tak hanya penulis-penulis luar saja yang mampu membuat sebuah kisah fantasi yang bagus. Malah dengan kisah fantasi bernuansa lokal seperti ini budaya dan legenda lokalpun turut terangkat kembali sehingga membuat para pembaca kita, khususnya generasi muda semakin mengenal dan menghargai budaya dan legendanya.
Tiga bintang untuk novel ini, apakah setelah ini Djokolelono akan kembali produktif menulis seperti dulu? Tentunya kita menghendaki demikian. Selain menulis kisah-kisah fantasi berikutnya harapan terbesar saya adalah dapat membaca karya fiksi ilmiah (science fiction) Djokolelono terbaru dengan nuansa lokal seperti yang menjadi novel debutannya Jatuhh ke Matahari
Kerenn ceritanya, alurnya maju mundur sih. Tapi saling berkaitan. Tokohnya memang banyak, tapi masing-masing memegang peranan penting. Fantasi, misteri, atau bahkan ada sedikit horornya. Aku merasa ini kisah nyata, pdahal ya fantasi. Dibikin mikir sama penulisnya 😅
Sejak membaca review anak Rembulan dari oom htanzil saya langsung kepengen banget baca buku ini secara genre favorit saya genre fantasi, ga afdol dong kalo belum baca novel fantasi lokal yg katanya oke banget ini. Tapi sayang setelah dicari-cari di toko buku masih belum ada karena novelnya tergolong baru. Jadi ketika saya beruntung memenangkan buku ini setelah ikutan Kuis Komentar "Novel Fantasi Lokal" di mizan.com (thanks mizan!!) saya langsung baca habis buku ini. Memang baru sempat di review sekarang, agak terlambat, but better late than never ya kan? Hehe.
Pemeran utama kita kali ini anak lelaki bernama Nono yang pulang ke rumah Mbahnya di Desa Wlingi saat liburan sekolah. Bocah kelas lima SD ini tiba-tiba terlempar ke dalam dunia lain yang penuh dengan keanehan. Mungkin masa lalu, atau mungkin masa yang lain ketika di tanah jawa masih ada perebutan kekuasaan di kerajaan, ada Ratu kejam dan prajurit-prajurit setianya, orang Belanda yang menginvasi demi harta, ada geng pencuri dan bahkan demit yang menyaru jadi Dewi. Semuanya berbahasa Jawa tapi memakai bahasa Jawa kuno, memakai pakaian zaman dulu dan orang-orangnya memiliki aji-aji sakti.
Selama tersesat di dunia aneh itu, Nono menghadapi berbagai petualangan seru. Mulai dari bertemu dengan Trimo--anak yang kabarnya hilang saat ikut berjuang melawan penjajah, hampir mati dipenggal pasukan Belanda gara-gara kaus merah Manchester Unitednya, sempat dikejar-kejar Macan Kumbang hitam jelmaan mbah Padmo dan berakhir jadi jongos Mbok Rimbi yang sadis dan memaksanya kerja rodi. Ia bahkan berkenalan dengan geng pencuri, si Kangka, Jagal, Jlamprong, Pinten dan Tangsen (hayo yang suka sama pewayangan pasti familiar dengan nama-nama ini).
Petualangan Nono belum berakhir lho. Ia masih nyaris di umpankan ke kolam buaya oleh si Setan Merah--sebutan untuk Ratu yang kejam. Dan tiba-tiba saja ia terlibat dalam peperangan antara Sri Ratu Kejam, pangeran Mahesasuro, pangeran Lembusuro, geng pencuri Semut Hitam, Kapitan Belanda, Mbah Padmo, dan Non Saarce yang semuanya orang-orang sakti. Mampukah Nano menyelamatkan diri dari perang dan kembali ke dunianya?
Membaca buku ini seperti menelan mentah-mentah komentar sok tahu yang membuat saya memenangkan kuis, "Novel fantasi lokal belum bisa mencuri hati pembaca negeri sendiri karena penulis lokal seringkali berkiblat pada mitos-mitos dan gaung fantasi dunia barat. Seandainya penulis lokal mampu mengolah apa yang sudah disediakan budaya lokal dengan apik dan imajinatif, saya yakin pembaca akan datang sendiri."
Jujur, novel Anak Rembulan ini memiliki segala hal yang saya sebut dengan "olahan mitos budaya lokal" yang membuat novel ini sangat spesial. Sejak kecil saya merasa mitos-mitos lokal itu tak kalah mistisnya dengan dongeng dan mitos barat. Malah saya penasaran sekali dengan aji-aji sakti orang-orang zaman dulu, tentang kerajaannya, tentang sejarahnya, tentang lakon-lakonnya~ semua diceritakan dengan apik dalam novel ini. Paket komplit!
Meskipun begitu saya masih merasa ceritanya menggantung pada plot kedua ketika Nono terbangun dan mendapati kemiripan-kemiripan nama dan orang disekitarnya. Ada sedikit gaung kosong yang menciptakan tanda tanya. Mungkin jika diolah lebih mendalam dan rapi bisa terasa lebih lengkap. Tebal halaman saya rasa bukan masalah sepanjang kisahnya menarik, pembaca tidak akan keberatan. Saya masih merasa kekosongan di akhir cerita ini ada kelanjutannya. Apakah buku ini akan dibuat sekuelnya?
Yah, meskipun ada dua tiga hal yang dianggap Bloopers (istilah dalam film) dalam novel ini tapi okelah, masih bisa di toleransi. Sepanjang plotnya jelas, karakternya kuat dan hampir tidak ada yang istilahnya kebetulan disini (ada sih, tapi itu masih bisa ditoleransi karena dalam batas logika dan saya maklum) saya sih enjoy aja. Dan menurut saya, novel fantasi lokal yang secara sederhana menjejakkan imajinasinya dengan budaya lokal, karya Djokolelono ini bisa bersaing mantap jika disandingkan dengan novel-novel fantasi luar. Saya sangat berharap sekali ada lanjutannya. Atau kalau tidak ada sekuelnya, boleh dong karya sejenis dengan tema mitos lokal yang sederhana seperti ini diterbitkan.
Membaca novel Anak Rembulan ini selain asik karena gaya ceritanya yang mengalir dan ringan. Serta kaya akan budaya Indonesia. Melalui ceritanya pun jadi belajar sejarah serta jadi penasaran dengan mitos lain yang terangkum dalam buku ini.
Seperti Kali Njari yang lokasinya ada di Blitar. Saat mencari informasi mengenai Kali Njari ini justru yang banyak keluar adalah ulasan mengenai novel ini. Tapi, ada yang unik saat mencari tahu mengenai keberadaan Kali Njari. Yang keluar dengan kata kunci berbeda justru keberadaan Jembatan yang berada di atas Sungai Lekso yang sempat muncul di kisah dalam buku ini.
Meletusnya gunung kelud pun menjadi kata kunci yang menghubungkan Nono dengan cerita yang ia alami. Pada kisah ini, Gunung Kelud meletus tahun 2007 di bulan November pada pukul 3 dini hari. Dan kembali meletus pada tahun 2014 silam.
Adalagi mengenai kenapa banyak pohon Asam berjejer di satu kota sementara di kota lain pohon yang mendominasi berbeda? Seperti contoh di Malang banyak Pohon Kenari sementara di Pasuruan banyak terdapat Pohon Asam. Dari kisah Mbah Pur, ini dilakukan Belanda sebagai cara mengetahui batas wilayah keresidenan.
Tapi, tak hanya itu. Pada masa Belanda. Kondisi geografis sebuah daerah menjadi penentu juga pohon mana yang bagus untuk mendukung struktur pembangunan wilayah keresidenan. Yang tentunya pohon tersebut harus memiliki manfaat yang mendukung wilayah itu. Entah manfaat berupa penahan banjir hingga manfaat berupa ekonomi seperti pohon kenari yang buahnya menjadi makanan yang dibawa oleh Belanda ke Indonesia.
Kemudian, kisah tentang Sumur Jalatunda. Yang kalau dicaritahu ternyata sumur ini sangat terkenal di daerah Dieng. Menjadi lokasi wisata spiritual juga. Karena mitos yang beredar tentang seorang kakek yang hidup sampai 103 tahun karena sumur tersebut. Itulah kenapa di sumur jalatunda Dieng, menjadi tempat banyak pengunjung merekam harapan mereka ke dalam sumur tersebut.
Ada banyak sekali wawasan yang kudapat dari novel ini. Itulah mungkin sebabnya, novel Anak Rembulan pun muncul cuplikannya dalam soal pelajaran Bahasa Indonesia. Soalnya lengkap dengan wawasan, sejarah dan legenda juga menghibur.
Buatku pribadi, bagian yang paling lekat banget dengan fantasi Indonesia itu momen Nono mengalami kisah astral. Ini kesan Indonesianya dapet banget. Mengingatkanku pada Om Hao dan Mbah Mada yang sering menjelaskan mengenai sejarah melalui perjalanan astral.
Bermula dari rasa penasaran dengan aneka kisah fantasi yang saya baca. Menarik memang, bahkan beberapa membuat saya terpesona. Sangat jarang mengandung banyak unsur lokal. Kalau ada, biasanya tokohnya ya dia lagi, dia lagi. Padahal dengan begitu banyak legenda masih banyak yang bisa kita olah.
Bisa buat sebuah kisah fantasi dengan unsur lokal? Tantang saya ke Andry Chang salah satu penulis kisah fantasi. Dengan ketekunannya dalam melakukan riset serta semangatnya untuk memberikan yang terbaik , tentunya hal ini bukanlah mustahil. Terbukti ada sepenggal kisah dengn judul Reog besutannya. Ternyata membaca kisah fantasi dengan unsur lokal juga menarik.
Sebuah buntelan dari Kang Fanfan yang mewakili sebuah penerbit favoritku rupanya menjadi sarana pencapaian angan-anganku. Sebuah buku fantasi dengan judul Anak Rembulan – Negeri Misteri di Balik Pohon Kenari besutan Djokolelona mendarat dengan manis di mejaku diiringi rintik hukan.
Perkenalanku dengan Djokolelono bermula dari kisah-kisah Enid Blyton terjemahan beliau dulu. Lalu ada juga seri misteri ala Astrid. Tapi kiprahnya tidak terbatas menerjemahkan buku saja, beliau juga menulis banyak kisah. Konon kisah yang berjudul “Jatuh ke Matahari” dianggap sebagai pelopor novel fiksi ilmiah.
Anak Rembulan – Negeri Misteri di Balik Pohon Kenari, merupakan sebuah kisah fiksi fantasi yang serat unsur lokal. Tokohnya Nono, anak lelaki berusia 10 tahun. Nono menggemari sepak bola, layaknya anak lain Nono juga sering menggunakan kaos bola, Salah satu yang disayanginya adalah kaos berwarna merah dengan lambang Manchester United yang oleh-oleh Om Wiedha dari Bangkok.
--------- --------- ---------
Beberapa hal janggal dalam kisah ini seperti bagaimana bisa Saarche dikira anak dubes, lalu yang ditanya oleh Suhu Tanzil seputar ilustrasi di halaman 196 dan 329 (bukan 327 Suhu) tak membuat buku ini kehilangan gregetnya. Tapi yang paling mengganjal buat saya justru pada urusan ilustrasi. Sosok Nono di kover depan. Manta kok seperti mata orang kesurupan yah. padahal dalam kisah ini digambarkan bahwa Nono adalah seorang anak yang cerdas, tapi ini kok selain seperti orang kerasukan juga berkesal bengal dam menyebalkan yah.Beda sekali sosok di kover dengan gambaran yang ada dibuku serta ilustrasi di halaman 110. Belum lagi kaos yang berbeda dihalaman 306 dengan kover.
Aku bacanya versi Pustaka Jaya. Judulnya nggak sepanjang ini. Hanya "Kenari Misteri". Aku lebih suka judul yang singkat ini. Ilustrasi sampulnya juga, aku lebih suka versi Pustaka Jaya. Ini seru sekali, dan lucu wkwk. Kisah legenda gunung Kelud berpadu dengan kaos Manchester United dan nama Om Djoko disebut-sebut pula :D. Kaos itu kayak remeh tapi perannya besar di cerita ini. Yang lucu banget pas Nono jadi Ratu, dia sibuk mbenerin kembennya yang disumpel sama kaos merah compang-camping itu :P.
Buku fantasi yang sangat keren dengan dibumbui sedikit sejarah dan adat jawa. Menceritakan tentang Nono yang tanpa sengaja terjebak di masa - masa penjajahan Belanda. Kita diajak melihat bagaimana Nono mempertahankan tanah tempat tinggal tercintanya dan yang terpenting, bagaimana cara kembali ke zamannya ?
Nama Djokokelono mungkin sudah tidak asing lagi didunia buku Indonesia. Lha mau gimana lagi, banyak banget buku yang udah ditulis sama beliau, belum lagi puluhan buku luar yang di-translate-in sama beliau.
Buku fantasi yang dia tulis ini sangat keren, bahkan menurutku selevel dengan pengarang - pengarang luar semacem Rick Riordan, Brandon Sanderson dan banyak pengarang terkenal lainnya. Alurnya enak dibaca dan aku bener - bener ngerasa gimana bingungnya Nono pas nyasar ke zaman Belanda. Sampai akhir, pembaca dibuat bertanya - tanya tentang sebenarnya apa yang terjadi dengan Nono.
Karakterisasinya bagus dan tidak seperti buku bergenre petualangan seperti biasanya, karakter Nono disini menurutku cukup grounded dan bukan seperti pahlawan keren yang terus - terusan menantang bahaya. Dan sifat karakter - karakter lainnya rasanya beneran ada dan bukan hanya omongan semata.
Cerita dibuku ini diawali dengan sabuk dan diakhiri dengan sabuk yang sama. full circle. lingkaran sempurna. Mantap. Dan endingnya yang termasuk happy ending, sukses menutup cerita dengan apik. Sayangnya, buku ini dibuat bukan sebagai series, padahal kalo series kayaknya bakalan seru tuh :v
Saya membaca novel Penjelajah Antariksa hingga kagum karena menemukan pengarang fiksi fantasi lokal yang termasuk legend. Jadi ketika saya menemukan novel Anak Rembulan, feeling saya mengatakan ini pasti seru.
Sebagai gadis asli kelahiran Jatim, saya akrab dengan beberapa setting di novel ini seperti Bale Kambang, Jolotundo, dan Kelud. Ternyata, Pak Djokolelono memang asli Jatim. Wajar jika seluk-beluk desanya juga menjadi latar belakang kisah ini.
Menggunakan konsep time traveling, petualangan Nono yang jatuh ke abad 16 setelah jalan-jalan di tepi Kali Njari, saya jadi ingat adegan Alice In The Wonderland yang masuk ke negeri ajaib lewat lubang dekat pohon. Nono diduga berpindah tempat dari zaman modern ke masa lalu karena pengaruh pohon kenari ajaib itu. Konsep plotnya, protagonis yang memasuki sebuah krisis tanpa tahu penyebabnya. Bahkan sampai beberapa bab berjalan, Nono masih mengira ia bisa segera pulang ke rumah kakeknya, ia tidak sadar kalau sedang time traveling.
Kebetulan juga saya punya ayah yang gemar cerita wayang, jadi ketika Nono bertemu pemuja Dewi Kali dan lima pemuda bersaudara gerombolan Semut Hitam, saya jadi makin terpikat dengan kisahnya. Alur berjalan seru, cepat, tapi mungkin jadi kurang terasa ikatan emosional antartokohnya. Setelah saya baca dengan cermat ciri-ciri gerombolan Semut Hitam, wah ini kan karakternya Pandawa?
Sebuah kisah fantasi yang mengaitkan dengan legenda Kelud, membuat saya jadi ingin membaca kisah lain khas kerajaan Indonesia lainnya. Adakah yang setting di luar Jawa? Penyuka fiksi fantasi buruan baca novel ini.
DEWATASLOT merupakan situs penyedia layanan taruhan online terbaik di Asia yang menyediakan permainan terpopuler dan lengkap di kelasnya. Nikmati berbagai pilihan game seperti sportsbook, e-sport, slots, idn-live, tangkas, live casino, togel hingga tembak ikan di satu tempat.
DEWATASLOT hadir sebagai standar kualitas terbaik pilihan jutaan player yang memiliki sistem enkripsi tercepat. Didukung dengan teknologi terkini yang menghadirkan permainan bebas hambatan ataupun bug. Rasakan sensasi betting online unik, seru dan menantang lewat tampilan dan desain atrakrif. Jangan lewatkan promosi, event dan bonus menarik yang Dewataslot bagikan setiap harinya. Daftar Dewataslot sekarang.
Anak Rembulan is the first book of Djokolelono that I read. This genre is one of my favorite, fantasy - adventure - history. Honestly, I still get confused from page 1 until 50 due to the quickly changing setting and plot. I had enjoyed this story when Nono started to tell Sri Ratu about his strategy. I can't stop myself speechless due to the plot and complexity that wrapped simply. With his bold yet reckless personality, Nono makes me feel his terrified and passion.
I can stop reading this book and can be finished in a day. The fantasy and history side is because Nono entered the past after he jumped to "pohon kenari" with the myth behind it. Nono back to the time when the Netherlands come to Indonesia under Cornelis de Houtman. It also has a side story of the legend of Kelud itself. This book is unique and extraordinary. Starting from this book, I will read another story from Djokolelono.
Five out of Five!! Fantasinya bener-bener fantasi Man! Lokal banget pulak! Ini buku kedua setelah The Hobbit yang bikin saya 'melongo' dan 'gak tau harus ngapain' setelah baca buku ini. Apalagi di bagian endingnya...
Cuman, yang saya masih kurang paham adalah sasaran audience untuk buku ini.. Kalau untuk anak2, agaknya terlalu vulgar karena ada lumayan banyak adegan kekerasan dan tingkah tak sopan dari tokoh di buku ini. Tapi kalau untuk orang dewasa/remaja, rasanya tak masuk di akal karena tokoh utamanya anak berumur 5 SD yang jago bela diri plus orang-orang tua seperti Paman Mahesasuro dan Lembusuro yang tunduk kepada ponakannya sendiri yang berumur 12 tahun.
Kemana aja gua selama ini? Baru kenal sama pengarang fantasi lokal sekaliber Djokolelono. Berasa hidup di balik tempurung deh.
Anak Rembulan ini punya cerita yang bikin kita ga bisa lepas dari bukunya. Cerita tentang time travel di tanah Jawa, ke jaman Kerajaan Majapahit yg bergelut dengan Kolonisasi Belanda, dengan menyelipkan sedikit unsur pewayangan.
Sebagai pecinta fantasi, buku ini bagus banget, tapi masih kurang sesuatu. Kayaknya masih bisa diexplore lebih jauh ceritanya, soalnya berasa kurang penjelasan sedikiiiiittt lagi. Masih penasaran sama berbagai aspek ceritanya yg belum terjawab semua.
Fantasinya menarik. Tidak kalah sama buku-buku luar yang sedang digandrungi oleh banyak orang. Plotnya juga seru dan bikin penasaran, meskipun di awal baca sempat kebingungan. pada beberapa moment juga alurnya terkesan melompat-lompat.
Setelah selesai membaca, sebenarnya masih banyak pertanyaan yang belum terjawab, seperti apakah seluruh petualangan Nono itu hanya sekadar mimpi saja atau memang terjadi. Dan apa hubungan antara orang-orang yang Nono temui di masa kini dengan orang-orang yang ditemuinya di masa penjajahan Belanda dulu. Sayang sekali penjelasannya masih mengawang menurutku
Aku membaca versi baru yang covernya lebih tjakep, ketje, dan menarik.
Awal membaca kisah Anak Rembulan ini agak membingungkan karena bingung ceritanya dibawa kemana. Tapi, menjelang pertengahan buku, baru deh aku paham ceritanya.
Well, kisah Anak Rembulan ini adalah kisah sejarah yang dikemas dengan cerita fantasi petualangan Nono. Aku senang membacanya karena kisah sejarahnya malah terasa jauh lebih menarik jika hanya dikisahkan "begitu saja" seperti kisah sejarah pada umumnya.
Diawal udah oke padahal. Karena aku terbiasa baca manhwa-manhwa isekai, aku bisa langsung paham kalau apa yg Nono alami adalah isekai dengan perantara pohon kenari.
Perjalanan isekai Nono jg cukup bisa dimengerti (dan terasa melelahkan). Hanya bagian akhirnya yg cukup mengecewakan.
Setelah perjalanan yg seru dan mendebarkan, akhirnya ditutup dengan cepat dan meninggalkan kesan "begitu saja?"
pertama tama bingung kok hazy banget suasananya kayak lagi mabok, eh ternyata mimpi :'). seru, tapi aku ga begitu suka sih adegan dia di dunia nyata, kesannya menggantung banget walaupun mimpinya dia ada "koneksi" sama dunia nayata.
This entire review has been hidden because of spoilers.
udh lupa sm ceritanya, tapi ak bisa ngebayangin, ga baca sampe selesai krn tb tb ga mood. tpi ak inget ini bagus, apalagi ini ada sentuhan sejarah/budaya jawanya... kek wow, i like it!