Jump to ratings and reviews
Rate this book

Fakta & Rekayasa G30S Menurut Kesaksian Para Pelaku

Rate this book
Buku ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama adalah dokumentasi dan rekaman berbagai kesaksian yang pernah dipublikasikan berbagai media massa mengenai tragedi 30 September 1965. Kesaksian ini penting untuk melihat peristiwa ini dari berbagai sisi. Sementara bagian keduanya merupakan kajian ulang semacam "rekonstruksi sejarah" dengan sudut pandang realitas, tentu saja dengan bersandar pada pengakuan tokoh-tokoh sejarah yang pernah terbungkam.

442 pages, Hardcover

First published August 1, 2011

17 people are currently reading
283 people want to read

About the author

A. Pambudi

5 books1 follower

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
17 (32%)
4 stars
19 (36%)
3 stars
9 (17%)
2 stars
1 (1%)
1 star
6 (11%)
Displaying 1 - 5 of 5 reviews
Profile Image for Agus.
25 reviews2 followers
July 15, 2014
[Writer Agus Purwanto] Kesaksian PKI Versi Soekarno menurut saya yg "Otentik", langsung saja kita awali dari pidato Soekarno pada 13 Desember 1965, pada Pembukaan Konferensi Para Gubernur Seluruh Indonesia, Jakarta.

> Saudara-saudara Sekalian,
Tadi malam saya donder, Saudara-saudara, donder kepada wartawan-wartawan. Tadi malam itu ada pertemuan di idtana Bogor antara wartawan-wartawan, terutama sekali yang bergabung dalam 'Antara', dengan Presiden. Saya tidak tahu apakah gubernur-gubernur tadi malam mencet-mencet radio atau televisi. Maka ada baiknya saya ceritakan sedikit pendonderan-pendonderan saya tadi malam.
Begini, tatkala sudah terjadi Lubang Buaya, jenazah-jenazah daripada jenderal-jenderal kita dibawa ke sana dan dimasukkan ke dalam sumur. Ooh, itu wartawan-wartawan surat kabar-surat kabar menulis bahwa jenderal-jenderal kita itu disiksa di luar perikemanusiaan. Semuanya katanya, maaf saudara-saudari, semuanya dipotong "kemaluannya". Chaerul ndak ngerti 'Kemaluan' itu apa? Malahan belakangan juga di dalam surat kabar ditulis bahwa ada seorang wanita, yang namanya Djamilah, menyatakan motongnya Kemaluan itu dengan pisau silet. Bukan satu pisau silet, tetapi lebih dulu 100 anggota Gerwani dibagi silet. Dan silet ini dipergunakan untuk "Ngiris-ngiris" kemaluan. Demikian pula dikatakan bahwa diantara jenderal-jenderal itu matanya dicukil. Malahan dengan foto pisau cukil yang untuk cukil mata, saya kira. Saya sering melihat pisau demikian ini, yaitu pisau untuk menyadap leteks daripada pohon karet. Nah, ini pisau kemudian oleh mereka di foto, dikatakan ini adalah pisau yang dibuat untuk mencukil mata!
Saya pada waktu itu memakai saya punya gezond verstand (akal sehat), Saudara-saudara. Dan dengan memakai saya punya gezond verstand itu saya betwijfelen, ragukan kebenaran kabar ini. Tetapi saya melihat akibat dari pembakaran yang demikian ini. Akibatnya ialah masyarakat seperti dibakar! Kebencian menyala-nyala, sehingga di kalangan rakyat gontok-gontokan, yang kemudian malah menjadi sebelih-sembelihan.
Nah, Saudara-saudara, waktu belakangan ini saya dapat bukti bahwa memang benar sangkaan saya itu. Bahwa para Jenderal-jenderal yang dimasukkan dalam sumur Lubang Buaya itu tidak ada satu orang pun yang kemaluannya dipotong-potong atau di silet-silet. Saya dapat buktinya dari mana> Visum repertum daripada team dokter-dokter yang memeriksa jenazah-jenazah daripada jenderal-jenderal yang dimasukkan dalam sumur Lubang Buaya itu. Saya kemudian tanya, malahan sesudah itu tanya kepada Pak Leimena, itu lo orangnya, dan kepada pak Bandrio, itulah orangnya, dua-duanya dokter, dokter membuat visum revertum itu apa bohong ? Tidak, kata pak Leimena. Tidak, kata pak Soebandrio. Visum repertum oleh dokter dituliskan-nya "pro justitia". Bahwa pro justitia tidak boleh bohong, tidak boleh menambah, tidak boleh mengurangi. Apa kenyataan itu dimasukkan dalam visum repertum. Nah, ini pak Sartono, Pak Sartono jurist mengetahui. Visum repertum, itu harus menjadi pegangan. Sebab, ini satu kenyataan, bukan khayalan, tetapi visum repertum adalah suatu kenyataan menurut apa yang ididapatkan oleh dokter itu.
1 review
September 30, 2019
this book is really interesting to read. i would love recomend this book to my friends.
Profile Image for Bozo Zo.
2 reviews
February 9, 2013
Sangat menarik bagi mereka yang masih mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi dibalik salah satu peristiwa terbesar di Indonesia, sebuah peristiwa yang menggeser roda perjalanan negri ini.

Buku ini memuat kesaksian-kesaksian dari para pelaku sejarah G30S/PKI dari perspektif mereka masing-masing. Buku ini mungkin tidak akan pernah terbit jika ORBA masih berkuasa.

Memang, buku ini tidak memuat konklusi tentang G30S/PKI, peristiwa ini masih menjadi misteri untuk bangsa Indonesia, atau memamng lebih baik seperti itu.
Profile Image for Aloysius Adhi.
8 reviews2 followers
November 21, 2011
Masih gue baca sih...baru juga beli kemaren. So far, bahasanya keren dan alurnya seru. Seperti baca novel, padahal buku ini adalah bagian dari sejarah bangsa kita
Displaying 1 - 5 of 5 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.