Satu bintang untuk Covernya yang cantik dan beberapa resepnya.
Sudah lama sih aku tertarik mau baca.. sejak dulu pertama kali lihat di Gramed.
Tapi kenapa baru baca sekarang (tanggal 14 November 2013)?
Waktu dulu pertama liat, aku memang tertarik sama covernya. Aku suka banget baca yang berbau masak-masakan gitu, makanya penasaran. Salah satu komik favoritku, Delicious, loh!
Cuma aku urungkan niat beli, karena saat itu aku trauma sama Primadonna Angela. Waktu itu aku baca buku-bukunya yang metropop (lupa apa saja judulnya), termasuk DJ and JD, dan itu bukan selera aku bangettt.
Karena aku masih kelas 3 SMP ya, aku belum ngerti bedain teenlit sama Metropop. Kalaubbukunya berwujud novel ya aku pasti baca. Sayang, jadi nyisain trauma. Aku kalau sekali baca buku si pengarang, dan gak suka, pengarang itu bakal ku blacklist.
Makanya pas kelas 1 SMA lihat Resep cinta ini, antara tergiur tapi dilemma juga, takut kecewa bacanya.
Akhirnya kelas 2 SMA, teman dekat aku, Norma, beli buku ini dan baca (aku masih belum mau baca karena trauma itu ^ ^; haha). Norm ini suka buku-buku Primadonna Angela. Memang nggak favorit sih, tapi dia lumayan ngoleksi beberapa. Dia suka Ratu Preman, Querry Pita (bener nggak sih ini judulnya?), Belanglicious, Kinta holic, Fall.. (apa gitu, lupa), dll.
Gegara sering lihat novel Belanglicious Norma beredar di kelas dari tangan satu ke tangan yang lain, gatel juga deh aku, pengen minjem. Masa yang lain pada baca, aku nggak -,-.. berasa ketinggala zaman aja gitu. Apalagi Noorma trus aja promosi kalau Belanglicious dan Kintaholic itu bagus.
Singkat cerita, aku baca deh nih.. Belanglicious. Dan, oke, aku cukup suka, karena ceritanya ringan (terlalu ringan malah), dan itu lumayan merubah pandanganku pada seorang Primadonna Angela. Aku mulai lanjut baca Kintaholic, dan melahap beberapa bukunya yang lain. Di sini aku udah bisa bedain nih, kalau ternyata ada dua jenis genre novel. Teenlit dan Metropop. Dan sekarang aku paham kenapa dulu bisa gak cocok sama buku Primadonna Angela.. itu karena yang aku baca adalah Metropop. You know, ceritanya nggak begitu remaja.. (zaman itu aku nggak suka, apalagi pertama bacanya pas SMP). Aku pun cuma melahap buku Kak Donna yang teenlit aja, dan so far aku cukup suka.
Tapi sebelum aku sempat mutusin untuk baca Resep Cinta, aku nemu Resep Cherry di rak buku. Dan ternyata itu sequel Resep cinta. Aku gak jadi beli, karena nggak lucu kannn... beli sequelnya tapi buku yang pertamanya nggak? Iya, waktu itu Resep Cinta nggak restock di Gramed.
Noorma nawarin, jual Resep Cintanya ke aku. Aku curiga dooonggg, Noorma jual novelnya?? Pasti ada yang gak beres -,,- Pasti ceritanya jelek, atau dia nggak suka. Dan bener aja, Noorma bilang bukunya nggak begitu bagus. Jelas aku gak mau lahhh..hahaha. Udah belinya bekas (memang sih masih mulus banget), ceritanya 'katanya' jelek pula.
Aku kubur niatku untuk baca Resep Cinta walau kadang kalau ke Gramed sering coba nyari.. tapi selalu aja yang kutemui Resep Cherry -,-
(Atau mungkin aku pernah nemu, tapi aku pandang sebelah mata?? o.O)
Sampai akhirnya ada obralan buku kemarin, Resep Cinta ada, dan dijual 5rb saja. Jelas aku mauuu dongggg. Langsung beli dah tuh (bersama buku-buku lain), dan yeahhh... hari ini saya baca.
Ternyata, memang bener kata Noorma.. nggak begitu bagus :s Ceritanya terlalu sederhana, dan jauh lebih sederhana daripada Belanglicious. Jauuhhh.
Dan aku nggak menemukan kepentingan dari adanya resep-resep masakan di buku ini, selain 'mungkin'si penulis mau berbagi resep aja.. -,-
Sekilas aku teringat sama Delicious, dan ngerasa konsepnya nyaris sama kayak komik Delicious itu. Tapi eksekusinya bedaaaa :s
Kalau Delicious, aku bisa ngerti kenapa ceritanya banyak adegan masak, dan aku tak terganggu dengan resep-resepnya. Mungkin karena disertai gambar, dan disajikan secara unik (lagipula resep-resep itu selalu diletakkan di belakang).
Sedangkan Resep Cinta ini? Apalah... Seorang gadis yang berusaha memasak untuk gebetannya.. simple kan? Tapi sebenarnya ide dasarnya menarik, tapi seperti yang kubilang... eksekusinya itu lohhhh.... gimana ya, nggak kena aja.
Cara penulisannya juga nggak bisa mendongkrak tulisan yang 'idenya sangat sederhana' ini.
Mungkin kalau dikemas ulang dengan penulisan lebih bagus, dan ceritanya lebih 'berisi' bakal lebih bagus. Trus, lebih seru lagi kalau ada gambar-gambar makanan atau koki atau apa,.. soalnya kalau cuma resep gitu doang, nggak menggugah selera (nggak kayak Delicious yang bisa bikin aku tadinya anti dapur jadi mau berkutat dengan Oven).
Tau Jacqueline Wilson? Ceritanya dia selalu sangat sederhana banget, plotnya ringan, gaya nulisnya juga ringan, tapi asyik! Memang gaya nulis/penyampaian cerita itu sangat beepengaruh penting banget. Ide dasar cerita sederhana, atau klise, nggak masalah. Yang penting gimana cara si penulis menyajikannya agar pembaca bisa sangat menikmati.
Jadi, berpikir ulang untuk beli buku Resep Cherry. Nunggu obralan lagi aja deh, semoga ada yang jual Rp 5 ribu atau 10 ribu.