Petualangan empat wartawan lifestyle selalu tak terduga, berlari di jalur-jalur underground Metro di Paris, terhanyut dalam dilema kesetiaan di lantai dua bus merah di London, terpelintir antara memori dan kenyataan di gedung-gedung tua di Milan, teraduk gelombang fashion dunia di Show Christian Dior, Channel, Fendi, Max Mara, Prada, dan Paul Smith. Padahal kami mereka terikat di Jakarta. Mereka adalah:
Alif Siapa saya ini? Seorang tamak cinta yang mendambakan freedom, dua sisi yang bertolak belakang. Yang pertama butuh komitmen dan perasaan, yang kedua butuh keberanian dan ketidakpedulian. God. Bagaimana harus menggabungkan keduanya? Saya tak mau hanya salah satu.
Raisa: Elu bikin gue sangat kecanduan, pingin terus-terusan ketemu. Gue pikir, friends becomes lovers? Why not? I'm good enough for him, he's always nice to me, what more? I will move first... ladies first.
Didi: Gue juga maunya hanya french kiss, dia juga gitu."Hari begene kok sesama laki-laki pacaran, too old fashioned," katanya begitu. Lagi pula kalau dipikir-pikir, sesama laki-laki pacaran, life goal-nya apa?
Nisa: Sandwich? Hah. Sandwich selain roti adalah semacam istilah untuk satu sex activity yang melibatkan tiga orang, dua sebagai roti, satu sebagai daging atau selada untuk vegetarian. Pasti ada yang tidak benar dari kode gerak bibir Gavin ke Oliver. Pasti mereka punya hidden agenda.
Menemukan buku ini di lapak buku bekas, saya langsung jatuh cinta pada sampul oranye-nya yang terang benderang disertai ilustrasi 4 orang dengan outline warna silver, keren sekali. Salah satu sampul terkeren yang pernah dibuat Gramedia.
Di sampul belakang tertulis bahwa ini kisah 4 wartawan lifestyle dari Jakarta ke Paris meliput fashion week. Tidak hanya mengejar liputan, namun mereka juga mengejar french kiss. Hah? Kasihan amat, mau french kiss aja kudu keluar benua dulu.
Baiklah, 2 bab pertama yang membosankan. Tentang Alif dan Harris yang sibuk kerja-kerja-kerja di London (yup, sekedar mengingatkan judulnya Paris lho, bukan London), setelah itu lanjut ke Milan. Seluruh kegiatan peliputan diceritakan secara detail. Sangat detail malah.
”Tidak semua brand fashion mengadakan show di Fiera Internazionale di Milano ini. Brand yang memiliki gengsi dan nama yang lebih terkenal biasanya mengadakan show di tempat tersendiri. Seperti Giorgio Armani, ia memiliki gedung teater sendiri. Prada, memiliki hall sendiri di via Fogazzaro 36. Dolce & Gabbana selalu di rumah sendiri di Via San Damiano 9. Gucci selalu menyewa aula Hotel Sheraton Diana di Piazza Oberdan. Bottega Veneta punya kantor dengan show room besar di Via Picceto 15/17. Versace kerap di Via Gesu 12, dan Gianfranco Ferre di Via Pintaccio 21. Jadwal show peserta MFW diatur dengan rapi oleh pemerintah lewat organisasi Camera Nazionale della Moda Italiana.”
Terlalu banyak informasi yang bikin muak. Mana drama cintanya? Kok isinya deskripsi fashion melulu? Saya sempat putuskan untuk berhenti baca dulu karena buku ini nggak jelas arahnya.
Dua hari kemudian saya coba baca lagi dengan perspektif yang berbeda. Saya anggap lagi baca buku non fiksi tentang “Seluk-beluk fashion editor keliling London-Milan-Paris meliput fashion week”. Nah, baru deh ini bener, dan saya mulai bisa menikmati buku ini.
Tahu nggak, lebih dari separuh halaman buku, tepatnya di bab 19, mereka berempat baru ketemu di Paris. Buat yang nguber dramanya langsung aja meluncur ke bab 19 daripada puyeng-puyeng baca liputan pekerjaan Alif dan Harris dari bab 1 sampai 18.
Dramanya pun, duh, jujur aja, mending dihilangkan semua dan jadi buku non fiksi aja deh. Karakter tokohnya kurang kuat, chemistry persahabatan tidak terasa, konfliknya juga apa sih? Nggak jelas. Dan ini ternyata tetralogi alias ada 3 buku lagi? Plis.
Sayang banget. Namun setidaknya lewat buku ini (kalau dipandang secara non fiksi) saya jadi paham betapa ribet dan sulitnya menjadi wartawan fashion.
Bahkan akhirnya terjawab rasa penasaran saya bertahun-tahun lalu ketika mengikuti serial Sex n The City di TV. Dulu, setiap nonton saya bertanya-tanya. “Gajinya berapa ya si Carrie, dengan profesi penulis artikel bisa pakai sepatu Louboutin, tas Chanel dan seabrek brand ternama lainnya?”
* Bintang 1/5 untuk dramanya Bintang 4/5 kalau ini buku non fiksi
Oh ya, saya suka ucapan terima kasih penulis di halaman belakang yang dibuat secara kreatif.
Mungkin ini buku keduanya,tapi saya nggak menyangka bakal sangat menyukainya. Waktu itu sedang iseng-iseng ke toko buku bekas seberang rel dekat St. Tebet,dan si oranye ini mencuri perhatian mata lantas saya beli. Fashion bukan hal yang lumayan asing,meski cuma suka melihat rancangan yang unik dengan permainan warna maupun motif buatan sang desainer. Begitu pula buku ini yang membahas kehidupan orang-orang yang bergelut di dalam peliputan fashion,buku kedua setelah Style karya Baek Young-Ok,yang bisa saya bilang juga keren hanya saja membuat sedikit jijik karena juga membahas sedikit hal tentang sedot lemak(Yieeeks!). Saya suka sang penulis menyajikan kisah persahabatan,cinta,masa lalu,fashion,dan sedikit bumbu dua orang pria yang bercumbu(justru itu yang bikin saya betah meski hanya sedikit). Dan ngenes-nya itu loh,benar-benar nggak menyangka untuk masuk ke dalam satu fashion show,si peliput bahkan sampai harus "ngemis" undangan untuk masuk sekalipun itu hanya untuk si fotografer. Hebat!
In a sequel from Syahmedi Dean's tetralogy, I guess it much more fully informed about fashion, life style and how Alif, Raisa, Didi and Nisa working as journalist in media industry. Actually interesting part of this book is mostly about romance. Raisa develop her feeling to Alif, while Alif is confusing his own feeling. Didi in other side is trying not to falling in love and Nisa want a little adventure in terms of love. It's complicated and even dramatic..
Saya membaca buku ini tanpa membaca buku yg pertama.
Gambaran dunia fashion yg saya dapat dari buku ini begitu drama dan gemerlap. Walaupun cara bicara Alif yang menggunakan "aku lu" bukannya "aku kamu" atau "gue lu" sedikit bikin saya gatel, tapi ceritanya berhasil membuat saya penasaran. Dialog2nya luwes dan tidak kaku. Dramanya juga tidak terlalu dipaksakan.
Penulis berhasil membangun cerita yang enjoyable, bahkan untuk saya yang tidak tertarik dengan dunia fashion.
Plotnya sebetulnya menarik, tapi karakter-karakternya banyak yang kurang tergali, jadi cetek dan stereotipikal. Ketika mereka melakukan hal bodoh demi hal bodoh, saya gagal untuk berempati.
Info yang paling seru cuma gimana "gigih"nya wartawan fesyen cari berita, sampai ngakalin segala cara biar bisa nyelundup ke fashion show desainer ternama meski ga punya undangan 😁
Enjoyable, Ringan dan menarik. Gaya penceritaan yang lancar dan enak jadi saya yang sebenarnya dalam masa reading slump berkepanjangan berhasil menamatkan buku ini hanya dalam beberapa jam. Menawarkan dunia baru bagi pembaca, dunia fashion week Eropa: bagaimana tetek bengeknya dari sudut pandang pengalaman fashion editor yang harus meliput pagelaran fashion dunia bersama fotografernya diiringi kisah kehidupan pribadi. Pengalaman dan pengetahuan yang detil dan membuat terhanyut dari sudut pandang saya yang orang awam tentang fashion. Mengingatkan sedikit tentang film The Devils Wear Prada. Untuk plot tak terlalu rumit sebenarnya. Diselingi kejadian-kejadian menarik agar tak terlalu flat. Khas Metropop tentu saja..
Peringatan: Reviu ini mengandung spoiler buku pertama. Bila kamu ingin membaca tetralogi fashion, mending abaikan reviu ini deh.
J’Adore - Jakarta Paris Via French Kiss adalah buku kedua dari tertralogi fashion yang berkisah tentang empat wartawan lifestyle, di mana fokus utama cerita adalah Alif, seorang fashion editor di sebuah majalah fashion/lifestyle terkenal di Jakarta. Di buku pertama, Alif terlibat kisah cinta ‘diam-diam’ dengan bawahannya yang bernama Edna. Sayang sekali, kisah cinta mereka amat singkat, sesingkat usia Edna. Namun, kisah yang singkat tersebut tak lantas membuat Edna terhapus begitu saja dari kehidupan Alif. Saat berada di Milan, Alif bertemu dengan seorang pria dari masa lalu Edna, seorang laki-laki yang pernah menjalin hubungan dengan Edna, dan ternyata bersama laki-laki tersebut Edna dikaruniai seorang putri kecil yang cantik. Fransesco, nama pria itu, kemudian meminta Alif untuk mempertemukan dirinya dan putrinya dengan orang tua Edna di Indonesia. Bagaimana perasaan Alif saat mengetahui fakta bahwa Edna ternyata tidak seinnocent yang dia kira? Akankah Alif meluluskan permintaan Fransesco?
Original Cover
Di buku kedua ini porsi sahabat-sahabat Alif yaitu Didi, Raisa, dan Nisa, ditampilkan lebih banyak. Didi yang ditugaskan ke Paris untuk meliput acara fashion show, menjadikan kesempatan tersebut untuk ‘berburu’ laki-laki. Didi memang penyuka sesama jenis. Sayangnya, karena terlalu asyik bersenang-senang, Didi malah jadi tidak fokus dengan pekerjaannya dan ujung-ujungnya malah merepotkan Alif. Lalu Raisa, yang diam-diam ternyata memiliki perasaan khusus terhadap Alif. Dengan segala cara, Raisa bela-belain menyusul Alif ke Paris dan berniat mengutarakan perasaannya terhadap sahabatnnya itu. Namun Alif tampaknya tak menyadari sinyal-sinyal yang dikirim oleh Raisa. Parahnya lagi, Raisa terancam akan kehilangan pekerjaannya terkait kepergiaannya secara ‘ilegal’ ke kota fashion tersebut. Terakhir adalah Nisa, yang ingin ke Paris demi bertemu seorang pria dari masa lalunya—pria Perancis yang jago dalam urusan french kiss. Nisa sama sekali tidak menduga bahwa kunjungannya ke Paris akan menempatkan dirinya dalam posisi yang mengancam keselamatan hidupnya.
Secara keseluruhan, novel ini menawarkan pernak-pernik cerita yang lebih berwarna dibanding buku pertama. Hanya saja alur ceritanya masih terasa datar. Awalnya memang cukup seru mengikuti petualangan Alif dalam meliput acara fashion show di berbagai negara di Eropa (yang berakhir di Paris). Saya jadi tahu bagaimana suasana pagelaran busana tingkat dunia dengan sangat detail melalui sudut pandang Alif. Hanya saja, menurut saya bagian ini terlalu banyak dan penyampaiannya pun terasa datar layaknya membaca sebuah laporan wartawan yang meliput berita. Saya jadi sedikit jenuh.
Kehadiran Didi, Raisa, dan Nisa pun di Paris pun terasa sedikit dipaksakan (menurut saya loh ya). Didi okelah, karena dia memang ditugaskan untuk meliput berita di sana, sayangnya konflik yang dialami Didi terasa konyol, meski sempat membuat saya tersenyum sekaligus bergumam, “Oh, ada tempat kayak gitu toh di sana. Baru tahu.” Hehe. Sementara Raisa, uhm, apakah ia memang harus ke Paris demi mengungkapkan perasaannya terhadap Alif, sampai-sampai rela terancam kehilangan pekerjaan? Kenapa tidak menunggu hingga Alif kembali ke Indonesia saja? Dan Nisa, alasannya ke Paris lebih konyol lagi. Memangnya untuk dapat merasakan french kiss yang sesungguhnya harus dari cowok Perancis ya? Nggak mesti kan? Kalau cuma french kiss kan, di McD juga banyak. (ITU FRENCH FRIES PAAAAN! *disambit berjamaah*).
Overall, buku ini tetap merupakan bacaan wajib bagi mereka yang mempunyai passion di bidang fashion. Info tentang fashion week di Eropa sana benar-benar detail. Hanya saja, saya belum belum bisa move on dari fakta bahwa tetralogi fashion ini ternyata tidak menceritakan masing-masing karakter empat wartawan lifestyle secara detail, hanya fokus terhadap Alif saja, sehingga belum bisa memberi lebih dari tiga bintang terhadap buku ini (iya, alasannya subjektif sekali, terima kasih). Meski demikian, saya tentu saja akan tetap membaca buku ketiga dan keempat. :)
Campur aduk. Itulah perasaan saya ketika membaca buku ini. Dibilang suka, cerita buku ini bisa dibilang lumayan seru, bikin penasaran. Dibilang membosankan, bisa juga, sebabnya terlalu banyak detail tentang fashion dibahas di buku ini, yaa... namanya juga buku bertemakan fashion.
J.P.V.F.K. alias Jakarta-Paris via French Kiss. Judul yang cukup menantang, apalagi ada kata-kata French Kiss-nya, pastilah banyak yang menganggap buku ini vulgar. Kenyataannya memang seperti itu walaupun kevulgarannya masih dapat ditolerir. Buku ini bercerita tentang persahabatan empat orang yang bekerja di dunia fashion. Alif, Raisa, Didi dan Nisa, merekalah tokoh-tokoh di dalam buku ini, meskipun menurut saya tokoh utamanya lebih cenderung kepada Alif. Saya bahkan beranggapan bahwa Alif ini ialah si penulis sendiri yaitu Syahmedi Dean. Buku ini sendiri menurut anggapan sok tahu saya ialah sedikit memoar tentang si penulis.
Tema besar buku ini yaitu tentang fashion. Sehingga seperti telah saya sebut di atas, terlalu banyak detail tentang fashion yang dikenakan seseorang di dalam buku ini. Nah, sempat saya bilang campur aduk juga bukan di atas? Itu merujuk juga kepada tema yang coba diusung buku ini. Ya, selain fashion, menurut saya buku ini juga bisa dikatakan bertema traveling, bahkan LGBT! Traveling, karena setting buku ini lebih banyak di kota-kota yang memiliki jadwal Fashion Week, yaitu London, Milan, dan Paris. Banyak tempat-tempat di ketiga kota tersebut yang disebut-sebut di sini, membuat pembaca seolah-olah sedang berada di kota tersebut. LGBT, karena kelakuan Didi di buku ini mencerminkan tema ini. Ya, french kiss yang dilakukan Didi ialah terhadap sesama jenis! Diceritakan juga sebuah tempat sauna khusus gay di Milan walaupun hanya sekilas, tetapi saya tidak tahu apakah itu fakta atau fiksi, maklum saya bukan gay...
Melalui buku ini, kita diajak untuk menelusuri glamornya dunia fashion. Tak hanya itu, celah-celah ketika diadakannya fashion show pun banyak diceritakan, belom lagi bagaimana meriahnya suasana-suasana Fashion Week yang terjadi melalui sudut pandang wartawan dalam diri Alif. Pembaca jadi banyak tahu bagaimana sulitnya menjadi wartawan fashion, kejar sana kejar sini guna menuju tempat pergelaran, kiat-kiat mencari tiket guna masuk tempat pergelaran, sampai trik guna mengakali postur orang Indonesia yang di bawah orang Eropa. Di sini, diceritakan Alif dan haris (fotografernya) sampai membawa tangga untuk mendapatkan posisi yang enak guna meliput acara-acara tersebut. Tangga itu dibawa jauh-jauh dari Indonesia lho!
Tentang tokoh Alif sendiri, saya salut atas apa yang si penulis buat. Di balik glamornya dunia Alif, ia tak lupa pada Tuhannya. Memang, bagian Alif sholat ini hanya muncul sedikit sekali, tetapi hal ini menurut saya cukup unik, penulis seolah ingin menceritakan bahwa kehidupan dunia fashion tak selalu lupa pada Tuhan. Keunikan lain tokoh Alif yaitu tentang keyakinannya pada satu wanita, yaitu mantan istrinya, Saidah. Memang, banyak godaan-godaan yang menghampiri Alif, tetapi ia selalu yakin bahwa suatu saat ia akan kembali lagi bersatu dengan Saidah.
Tak ada masalah berarti dalam menyelesaikan buku ini, kecuali dalam kebosanan tentang detail dan cerita yang itu-itu saja (Fashion Week), konflik yang ada cukup wajar dan menarik, dan terutama sesuai dengan realita yang ada. Cuma satu hal yang saya sangat sayangkan, ending buku ini menggantung sangat, tak selesai. Untungnya, saya punya lanjutan buku ini yaitu P.G.P.D.C.. Tetapi untuk melengkapi koleksi 4 buku ini? Hm, nunggu obralan kali ya... 3 bintang...
Well, I must say that the second novel is way more neat then the first novel (Ednastoria). Saya dapat melihat ada bagian yang improving dari yang sebelumnya. Penulis sudah mulai mendeskripsikan detail lingkungan di sekitar tokoh dan tidak menyebutkan merk secara berlebihan, sehingga tidak mendistraksi konsentrasi pembaca. It doesn’t feel like reading a fashion encylopedia anymore. Penulis juga mulai ‘berani’ menyertakan adegan french kiss dari pasangan gay walau masih secara implisit. Hanya saja masih ada bagian-bagian nonsense, yang membuat cerita ini ngalor ngidul. For example, ketika Raisa mau menjalin kerjasama dengan Pipe Dream, penulis tiba-tiba menceritakan panjang lebar tentang chill-outer. Padahal tanpa penjelasan panjang lebar tentang geng hedonis tersebut, cerita tetap akan berjalan dengan baik. Saya rasa penulis menyertakan tulisan ini hanya untuk ‘show-off’. Sometimes you have to kill your darlings, darling. Hanya karena penulis merasa informasi itu berguna bukan berarti informasi itu dibutuhkan. Atau saat scene dimana Alif dan Haris ada di bus untuk ke show berikutnya. Ada seorang wanita yang ingin masuk namun sudah terlanjur penuh, dan walaupun dia memohon tak diberi izin. Kenapa pula penulis harus mendeskripsikan pakaiannya secara mendetail? Pembaca sudah fokus pada peristiwanya, tapi tiba-tiba teralihkan dengan informasi tentang pakaiannya yang by the way, is very not important. Saya juga kecewa karena pengembangan plot sudah bagus, dengan twisted drama yang sebenarnya terlihat agak weird but okay, tapi tiba-tiba teralihkan dengan kesibukan Alif yang berusaha masuk ke dalam fashion show. Seakan-akan masalah yang tadinya ada itu sudah hilang membekas. Padahal konflik utama tersebut yang seharusnya mendapat porsi utama, bukan konflik ‘God-I-want-to-get-in-the-freakin-damn-fashion-show’ yang terus berulang, sehingga jadi monoton. Ednastoria terlalu fast-paced, tapi novel ini malah terlalu draggy. I can see the author is trying, but he’s certainly not trying really hard. Intinya, penulis harus belajar untuk mencoba fokus pada satu hal saja, jadi fokus novel tidak melantur. Kalau saja penulis mengupas rasa insecure Alif yang cinta Saidah namun takut kembali ‘cause well, he’s not so loyal, dan dia berspekulasi bahwa Saidah pasti begitu juga, itu sudah sangat bagus. Pembaca ingin melihat sisi manusia dari Alif, sisi yang bahkan tak dilihat oleh kawan-kawannya, sisi yang dia sendiri ingin sembunyikan dan anggap tak ada. Kepahitan akan cinta yang gagal, itu tema yang akan bagus sekali untuk menggugah hati pembaca. Tetapi penulis malah terus membeberkan jadwal kerja Alif, dan yang saya saksikan hanyalah Alif yang berputar-putar dari satu kesibukan ke kesibukan yang lain. Untuk apa saya beli novel ini dan mempercapek diri dengan membaca jadwal ketat Alif?
"Siapa pun harus peduli pada penampilan, karena pada dasarnya manusia itu 'Do judge a book by its cover.' What can we do, except... enjoy it."
"Apa pun orientasi kita, kita harus menjaga karakter asli. Kalau laki-laki ya tetap laki, kalau perempuan ya tetep pere. Jangan rancu."
"People is just like fashion, always changing, always asking for more. Time, term, and certain situation affect their taste and judgement, meaning new thing or new body is always needed for some adjustment. One suit's only perfect for one season, then better find a new one. And it will never stop. Just like fashion. Therefore, I need my religion to stop me."
"Kalau orang hanya mencari uang dalam hidup ini, mudah sekali untuk disetir otaknya."
---
Lebih complicated dari seri pertamanya Ednastoria (Lontong Sayur dalam Lembaran Fashion), tapi saya juga merasa more excited di novel ini. Apalagi di dua pertiga buku, saat setting tempat akhirnya sampai di Paris.
Well, saya suka Alif. Lagi-lagi kedewasaan cara berpikirnya bikin saya kagum. Sisi agamisnya pun juga, di balik profesinya dia sebagai Fashion Editor yang hidup hedon, dia seperti tidak melupakan Tuhan. But, agak annoying juga kenapa dia masih tergoda affair sama perempuan lain, padahal katanya cuma cinta Saidah--his ex wife. Yeah, memang complicated, sih.
Di buku ini konflik Didi, Raisa, dan Nisa pun mulai diungkit. Dan tanpa sadar saya menunggu adanya hint Alif-Raisa, lho :3 walaupun kemungkinannya kecil, tapi saya suka ada hint friendzone di sini xP (fans friendzone story garis keras).
Overall, saya lebih merasakan emosinya di sini. Meski pada awalnya memang agak jenuh dengan banyaknya pendeskripsian merk dan fashion show, tapi saya tetap menikmatinya. Ditambah lagi, penulisannya Bang Dean sering mengandung kalimat-kalimat yang ngocol dan bikin ngikik sendiri. Kepikiran gitu, seeeeh, nulis kayak gini? (btw, sampai sekarang saya masih agak lucu banyaknya kata 'seh' dan 'neh' di novel ini. Looks too old hehehe). Terus pendeskripsian percakapannya yang unik, like this:
Beberapa mungkin merasa terganggu atau menganggap nggak penting, tapi saya enjoy-enjoy aja. Jadi bisa dijadikan ciri khas, kan? Hehehe.
Meskipun saya terkadang merasa buku ini masih too adult untuk saya, tapi no worries, ada banyak pesan moralnya juga, kok. Ambil positifnya saja. Really, novel ini realistis.
Eh, btw, saya suka model ucapan terimakasihnya Bang Dean di akhir! Berbentuk behind the scene gitu, para tokohnya yang seolah-olah menyampaikan pesan penulis. Haha you cool, Bang!
So, saya harus bersabar untuk membaca buku ketiga dan keempatnya! Soalnya belum beli ;p but, I'll get soon.
Buku ini ngambil latar belakang dunia fashion, atau lebih tepatnya dunia fashion editor, jelas. I don't have much comment there, except that it is really exciting (and disheartening at the same time) for someone like me, who has a "black out symptoms" and blind to the fashion world. Exciting karena gue seperti berjalan-jalan di dunia yang baru (dan menyenangkan), disheartening karena fashion sebenernya adalah kejadian sehari-hari disekitar kita. Semua orang berpakaian dengan accessoriesnya. Dari tukang sayur sampe komisaris utama, dari kondektur sampe presiden, semua berfashion. Orang gila aja kebanyakan masih pake baju, bahkan baju rawing (sobek-sobek) ala orgil pun pernah jadi trend. Bagaimana dengan orgil yg bugil, nude model, dan nudist? well, in a way, mereka juga ber-fashion, cuma caranya yg (agak) ekstrim. Hehehee.
Anyway, gue cukup enjoy membaca buku ini sebenernya lebih karena buku ini more than just about fashion. Buku ini lebih bercerita ttg kehidupan, dengan cara pandang seseorang yang cukup humoris. Kebetulan aja kehidupannya seorang fashion editor. Unsur2nya cukup kumplit kok, ada persahabatan, persaingan, cinta (in lots of forms), masalah pekerjaan, trust, dishonesty, critics, a little thriller, etc etc. But the underlaying foundation, I think, is how to enjoy our life to the fullest, and have a sense of humour to brighten up the mood even in the bleakest condition. Di satu sisi buku ini pop culture novel banget, di sisi lain kadang-kadang muncul kontemplasi dari tokoh cerita tentang how's life suppose to be lived. Lumayanlah, nggak dangkal.
Penyampaian cerita juga ngalir dengan cukup bagus, meskipun ada sedikit yang mengganggu karena gue ngga biasa dengan gaya menulis percakapan Syahmedi Dean yg kek begini: "...blablabla..." Saya. "...blablablabla..." Didi. dst.
Quotable Quote: "...Didi sangat kasihan pada orang-orang yang mengagungkan kalimat "Don't judge a book by its cover". Menurut dia kalimat itu lari dari kenyataan. Denial. Siapapun harus peduli pada penampilan, karena pada dasarnya manusia itu "Do judge a book by its cover". What can we do, except... enjot it. Banyak sih quotable quotes yg laen, tapi ntar kebanyakan, malah jadi spoiler.
All in all, gue pengen ngasih 3.5 bintang. Sayang belom ada juga nih pilihan half star nya...
Hal lain, gue curiga ni pengarang orang sunda or medan. Why? Dia pake kata "kenek" instead of kondektur atau kernet yang lebih "NgIndonesia". Hehehehe...
Sudah lama saya penasaran dengan tetralogi ini, apalagi setelah cetak ulang dengan cover yang menarik. Kebetulan saya dapat buku ke2 dan ke4 dari sale koleksi teman.
Buku ke2 ini berkisah tentang Alif yang ditugaskan oleh majalah tempatnya bekerja untuk meliput 3 acara fashion di Eropa (London, Milan dan Paris). Bersama Haris, fotografer andalannya, mereka mengejar setiap kesempatan untuk mendapatkan liputan yang menarik. Kalau novel metropop biasa saja sudah bertabur merk2 ternama, apalagi metropop dengan tema fashion seperti J'Adore ini. Dalam novel ini setiap merk nyaris dijelaskan sedetail mungkin. Kadang 2-3 halaman hanya untuk menjelaskan masalah fashion dan pernak-perniknya. Buat saya, jatuhnya jadi membosankan.
Karakter tokoh Alif dalam novel ini yang tergambar paling jelas (bisa jadi karena dia tokoh utama), beberapa kali alif tampil sebagai induk semang bagi karakter lainnya, menjadi penyelamat atas masalah2 yang ditimbulkan oleh teman2nya.
Ada juga sahabat-sahabatnya Alif yang juga wartawan di bidang fashion (Didi, Nisa dan Raisa). Keempatnya berjanji untuk bertemu di Paris. Sebenarnya hanya Alif dan Didi yang mendapat tugas meliput di Paris Fashion Week. Tapi Nisa dan Raisa juga ingin menghadiri event tersebut sambil berkumpul dengan sahabatnya. Ternyata Nisa dan Raisa punya alasan tersendiri ingin ke Paris. Raisa ingin menyatakan cintanya pada Alif di kota cinta itu, sementara Nisa "mengejar" french kiss dari seorang pria bernama Gavin.
Ngomong2 soal french kiss yang menjadi judul di buku ini, saya agak heran mengapa french kiss ini jadi penting bagi Nisa dan Didi. Seolah2 mendapatkan french kiss itu hal yanh sangat istimewa. Nisa sampai merelakan tabungannya untuk merasakan sensasi ciuman itu. Didi bahkan melewatkan beberapa acara karena bertemu dengan seorang pria yang juga memberikan ciuman khas itu.
Selain fashion, tema LGBT juga ada di novel ini lewat tokoh Didi. Ada juga romansa CLBK antara Alif dan Saidah, mantan istrinya. Alif juga mencoba mencari jejak mantan pacarnya, Edna di Milan, yang kemudian menemukan fakta yang mengejutkannya.
Ada model penulisan kalimat dialog yang "baru" saya temukan di novel ini. Penulisan nama di akhir kalimat langsung yang menandakan siapa yang sedang bicara terasa aneh dan useless menurut saya. Apalagi kalau yang berdialog hanya 2 orang, rasanya tidak perlu mencantumkan hanya nama di belakang kalimat dialognya.
Bisa dibilang ternyata novel ini not my cup of tea. Tapi saya akan tetap membaca buku ke4, soalnya sdh terlanjur beli ;))
akhirnya rasa penasaran saya sama tetraloginya syahmedi dean yg semuanya pake rentetan inisial ini terobati. rasanya seperti membaca majalah fashion dan novel metropop secara bersamaan karena novel ini setengahnya persis membahas seputar dunia fashion.
Yang menarik bagi saya dari novel ini, cara Syahmedi Dean menuliskan percakapan. "bla bla bla" Saya. daripada "bla bla bla" kata saya. "bla bla bla" Haris daripada "bla bla bla" ujar Haris. terus cara dia membuat ucapan terimakasih juga kind a creative and interesting :)
terus soal ceritanya sendiri...wah sayang saya belom dapet bukunya yang pertama, lsdlf. jadilah hingga sekarang saya masih penasaran kenapa Dean memunculkan tokoh bernama Saidah (kenapa namanya Saidah banget gitu) sbg mantan istrinya Alif. Dan saya agak ngga puas karena ngga menemukan latarnya Didi yg berorientasi sejenis. mungkin akan saya temukan Di novel pertama ya. betewe karena setengah buku ini isinya tentang bahasan fashion, interaksi dan emosi tokoh-tokohnya terasa dangkal-dangkal saja.
buku ini emang isinya drama dunia fashion bgt, ada beberapa istilah yg g sendiri kerja di media kagak nyampe, plagi klo dah menyangkut fashion, secara g suka ogah mengikuti pergerakan roda fashion, hihi..
tp intinya buku ini refreshin untuk segi drama, dibandingkan seri pertama, seri kedua ini klimaks-nya lebih banyak jd ceritanya lebih beragam, pergerakan ceritanya cepat dan agak aneh aja sama konflik antara pemeran utama dan istrinya yg ko malah makin gelap. Plus keruwetan sandwich dan resiko dipecat dari kerjaan yg selama ini menopang hidup... drama-king bgt lah! tp ga kayak sinetron yg over-loaded bgt, akhirnya dipindah ke buku berikutnya ;p
yang real dari buku ini juga dikupas, gimana kerja editor fashion itu, susahnya business traveling yg selama ini dipandang asik2 aja oleh sebagian kalangan asal bisa menginjakkan kaki di tanah yg berbeda dengan biasanya.. salute!
hmm, mengenai buku ini, saya tidak tahu harus memulai dari mana. Memang pertama kali baca karyanya Syahmedi Dean ya baru buku ini aja, tapi menurut saya, buku yang berlatar belakang fashion ini cukup menghibur. Humor-humornya cerdas dan karena expertise penulis memang di dunia fashion, jelas buku ini memberi wawasan lebih bagi pembacanya yang tidak terlalu faham soal dunia mode seperti saya. untuk alur dan konfliknya juga enak untuk dinikmati, tidak terlalu lambat, juga tidak terlalu cepat. Highlight yang paling saya suka adalah ketika di adegan tangga ada, dilihat dari berbagai sudut pandang, itu keren!
Yang paling annoying dari buku ini: 1. Bikin mupeng pengen ke fashion show dan jalan-jalan ke luar negri, apalagi kalo sudah bicarain merek-merek yang harganya aduhai 2. Rapuhnya si tokoh utama dan ketidak-tuntasan cerita dengan mantan istrinya (ya jelas karena ada lanjutannya)
WEll....awalnya aku excited banget baca nih buku coz...i'm not a fashion maniac but i know a little bit of that world so....it was an amazing feeling when someone lending me this book but.....Begitu aku selesai baca....I got nothing!Gak ada yg bisa dipetik dari buku ini kecuali perasaan menyenangkan tahu ttg negara2 di Eropa,khususnya basis fashion,ttg serunya fashion week and th lbh bnyk ttg perancang2 yug sebelumnya blm pernah aku dgr,selain itu....nothing,i just got nothing much from this book. But.....buat ngisi waktu luang Ok lah,buat fashion maniac maybe it's a kind of book that they are looking for. Andai aja Bang Dean nulis juga ttg MAthias LAuridsen,pasti aku suka,hehehehehehehehe. But.....buku ini emang fashion bgt,knapa g coba bikin ttg modelny aja one day?
Bingung. Ini buku kedua tapi aku belum baca buku pertama. :(
Tapi lumayan tertarik soalnya bahas dinia permodelan dan fashion. Jadi pengen ke LFW, PFW, MFW. Sebenernya aku agak bingun pas pertama bacanya. soalnyaya itu tadi nggak baca buku pertamanya. trus pas baca myampek ending malah bikin penasaran. Beneran deh di buku ini semuanya serba nanggung. mulai ceritanya Alif sama Saidah, ceritanya Didi-pas awal baca tak kira dia cewek lho sumpah-dengan Frederico, cerita tragedi ketahuannya Raisa cintanya juga, trus cerita tragedi hampir diculiknya Nisa.
But lumayan mengalir ceritanya dan semakin lama semakin bisa mengikuti. Nggak sabar pengen cepet2 beli novel ketiganya. tapi sebelum itu baca novel pertamanya dulu kaliya. :) GOOD.
aku beli cetakan terbarunya. dan aku baru tau juga ini novel lama. novel ini gak begitu wow aku kira. tapi aku suka klo ada novel yang isinya seputar profesi. dan fashion editor, mmm, tadinya aku bahkan gak tau itu makanan kering jenis apa. tapi rasanya, itu keren.
kamu bakal ketemu alif. cowok yang gak pernah nyerah. sensitif. baik dan, ntahlah, doi tipe cowok perfect yang keren dan cowok banget. ya. cowok banget. beda sama didi yang kadang banci dan karena aku baru baca buku ini, didi tu, aku kira gay. *angkat bahu
dua tokoh lainnya lagi. ada raisa dan nisa. raisa cantik nisa smart. intinya sih gitu. mereka semua fashion editor.
konfliknya beragam. karena ada 4 tokoh utama sih. jadi seru aja. baca deh
Gaya menulisnya sudah beda dari buku pertama. Saya merasa aneh sama gaya bicara Alif. Dia pake kata aku dan lu di satu kalimat. Belum lagi banyaknya kata french kiss di buku ini. Memang sih, di judul buku ini ada kata french kiss tapi kan nggak berarti frase ini diumbar sepanjang buku. Soalnya menurut saya nggak umum orang make kata french kiss di percakapan. Apalagi di percakapan bahasa indonesia. Saya suka sama cerita peliputan fashion week Alif di Eropa. Walaupun bisa dibilang ini bagian yang nggak glamour dari pekerjaan Alif. Saya selalu suka melihat behind the scene industri fashion. Bagi saya, liputan fashion week jadi highlight buku ini :D
Sekuelnya Lontong Sayur niy... Bagus juga...serasa pernah ke Paris dan Milan gituw...hahhaha..serasa datang langusng di fashion show para designer ternama dunia..huaaaa...emang yah pengarangnya jago abis menggambarkan kehidupan metropolitan yg gaul dan fashionable abis...hidup Syahmedi Dean!! Yang gwe kurang suka dari novel yg ini tuw...terlalu fokus di Alif dan didi...seruu sih, tapi yg lain kagak kebagian..owya, cerita Saidah dan alif plus misteri hidupnya Edna bagus banget..kagak kepikiran ampe kesitu tuh..banyak kejutan di novel ini..hehehhee...
ini buku seri kedua setelah LSDLF (Lontong Sayur dalam Lembaran Fashion). sbenernya kedua buku ini, meskipun bagus, gak istimewa amat. tapi, detail ttg segala hal menyangkut dunia fashion yang dijelaskan di buku ini emang terasa pas banget. yah, konon penulisnya fashion editor, jadi pantes aja kalo tau banyak.
jadi, meski diksinya juga termasuk biasa aja, berhubung pada dasarnya aku suka sama tulisan yg penulisnya tau dan ngerti ttg apa yang ditulisnya (gak sok tau, sok ngerti, padahal ketauan kalo cetek banget), maka aku cukup suka buku ini.
Buku tentang fashion people dalam tugas meliput Fashion Week di London, Milan, Paris dan segala bumbu2nya.
Penggambaran detail di buku ini pas, tidak over-descriptive dan tidak kurang. Dengan membaca saja seperti dapat merasakan bagaimana ikut jalan2 ke Eropa ;), sulitnya peliputan, dll. Plus menambah perbendaharaan mengenai Labels :P
Cerita terlalu banyak fokus pada tokoh2 utama pria saja, yg cewe2nya kurang ter-explore.
Baca novel ini kaya ngasih pencerahan ditengah novel-novel cinta yang akhir-akihir ini nangkring dirak buku saya. Ya novel ini masih tentang cinta sih tapi bahasan utamanya ga melulu tentang dua orang. Andai bahasanya bisa diterima otak saya dengan baik dan benar, mungkin saya ngasih bintang 4 buat novel ini. Ceritanya oke tapi narasinya puanjang banget, ending nya lebih bikin penasaran ketimbang novel pertamanya
Buku ini banyak salah ngeja nama orang. That's one of my biggest pet peeves. Menurut gw, kalo mau nulis buku, apalagi tentang industries like Fashion or Music, setidaknya nama orang harus dieja dengan bener. Terus gaya bahasanya dan cara ngalir cerita juga gw kurang suka. Jadi males nerusin baca akhirnya.
Persahabatan gak kenal musim dan cuaca akan kita temui di buku ini. Mau temen lagi susah, seneng, jatuh cinta, patah hati or even gay.... friends are forever.Setting paris bukan cuma buat gaya2an, tapi karena keempat tokoh adalah orang yang bergelut di bidang fashion. dan sang tokoh utama adalah seorang fashion editor.met menjelajahi dunia fashionista...
Bertugas meliput fashion week di London, Milan, dan Paris, ternyata tidak membuat minggu-minggu Alif di luar negeri hanya berkutat dengan pekerjaan. Kematian Edna, sosok yang pernah memiliki hubungan rahasia dengan Alif, ternyata menyimpan rahasia mengejutkan di Milan.
I like it less than LSDLF... di sini terlalu kompleks, masalah dan keruwetan 4 orang ditumplekkan sekaligus, meski tetap Alif sentralnya. Belum lagi deskripsi yg kebanyakan saat dia sedang meliput fashion week di Eropa. Suka capek bacanya. Meski, secara keseluruhan masih bisa bilang ceritanya bagus. :)
Dua chapter pertama saya langsung gak suka novel ini. Saya baca cetakam barunya yang j'adore. Mungkin karena saya gak suka fashion dan saya gak nangkep gaya hidup hedonisme jetset metropolitan jekhardah yang mabur ke paris, london, milan dan kota-kota lainnya. Ceritanya loncat-loncat, karakternya rapuh dan malesin baget, pokoknya...... ah sudahlah.
Buku ini gue beli pas ada obralan. Harganya waktu itu cuma 10 ribu. Gue nggak punya firasat baik. Gue pikir cuma bakal ngekspose hedonisme metropolitan. Tapi.... setelah gue baca GEELAAAAAAAAAAAAAAAA, keren keren keren keren! Nggak murahan. Mengalir. Sangat detail. Dan nggak bikin ngantuk. Salah satu novel terbaik yang pernah gue baca.