"Siapa pun harus peduli pada penampilan, karena pada dasarnya manusia itu 'Do judge a book by its cover.' What can we do, except... enjoy it."
"Apa pun orientasi kita, kita harus menjaga karakter asli. Kalau laki-laki ya tetap laki, kalau perempuan ya tetep pere. Jangan rancu."
"People is just like fashion, always changing, always asking for more. Time, term, and certain situation affect their taste and judgement, meaning new thing or new body is always needed for some adjustment. One suit's only perfect for one season, then better find a new one. And it will never stop. Just like fashion. Therefore, I need my religion to stop me."
"Kalau orang hanya mencari uang dalam hidup ini, mudah sekali untuk disetir otaknya."
---
Lebih complicated dari seri pertamanya Ednastoria (Lontong Sayur dalam Lembaran Fashion), tapi saya juga merasa more excited di novel ini. Apalagi di dua pertiga buku, saat setting tempat akhirnya sampai di Paris.
Well, saya suka Alif. Lagi-lagi kedewasaan cara berpikirnya bikin saya kagum. Sisi agamisnya pun juga, di balik profesinya dia sebagai Fashion Editor yang hidup hedon, dia seperti tidak melupakan Tuhan. But, agak annoying juga kenapa dia masih tergoda affair sama perempuan lain, padahal katanya cuma cinta Saidah--his ex wife. Yeah, memang complicated, sih.
Di buku ini konflik Didi, Raisa, dan Nisa pun mulai diungkit. Dan tanpa sadar saya menunggu adanya hint Alif-Raisa, lho :3 walaupun kemungkinannya kecil, tapi saya suka ada hint friendzone di sini xP (fans friendzone story garis keras).
Overall, saya lebih merasakan emosinya di sini. Meski pada awalnya memang agak jenuh dengan banyaknya pendeskripsian merk dan fashion show, tapi saya tetap menikmatinya. Ditambah lagi, penulisannya Bang Dean sering mengandung kalimat-kalimat yang ngocol dan bikin ngikik sendiri. Kepikiran gitu, seeeeh, nulis kayak gini? (btw, sampai sekarang saya masih agak lucu banyaknya kata 'seh' dan 'neh' di novel ini. Looks too old hehehe). Terus pendeskripsian percakapannya yang unik, like this:
"Tapi, blablablabla." Saya.
"Iya, sih, blablabla." Didi.
"Eh, tapi blablablabla." Raisa.
"Ih, blablablabla." Nisa.
Beberapa mungkin merasa terganggu atau menganggap nggak penting, tapi saya enjoy-enjoy aja. Jadi bisa dijadikan ciri khas, kan? Hehehe.
Meskipun saya terkadang merasa buku ini masih too adult untuk saya, tapi no worries, ada banyak pesan moralnya juga, kok. Ambil positifnya saja. Really, novel ini realistis.
Eh, btw, saya suka model ucapan terimakasihnya Bang Dean di akhir! Berbentuk behind the scene gitu, para tokohnya yang seolah-olah menyampaikan pesan penulis. Haha you cool, Bang!
So, saya harus bersabar untuk membaca buku ketiga dan keempatnya! Soalnya belum beli ;p but, I'll get soon.