Jump to ratings and reviews
Rate this book

Quarter Life Dilemma

Rate this book
Sekuel dari Quarter Life Fear yang menyelami kehidupan Ine Puspitasari, sahabat Belinda yang terkesan memiliki segalanya. Namun ternyata terganggu berbagai dilema seperti yang dialami mayoritas perempuan seumurnya.


"Quarter Life Dilemma is more than just a sequel to Quarter Life Fear... This is a book that makes you think about your life and how you choose when the choice is the hardest of all: between right and right."
--Erwin Sagata

320 pages, Paperback

First published January 1, 2006

4 people are currently reading
109 people want to read

About the author

Primadonna Angela

50 books375 followers
Call her Donna or Angela, she might respond with a smile. This Indonesian writer divides her time juggling to make ends meet, writing, balancing her attention between her partner (Isman H. Suryaman) and children, managing the household, and of course, occasionally sipping earl grey tea to keep her sane. She has written twenty books so far, popular fiction, in Gramedia Pustaka Utama (GPU). Her newest book, Candrasa, is published in August 2017.

Her passion for new experiences propels her to seek new chances to meet more people. Enthused for fresh inspirations, she longs to join multicultural events, collecting data and broadening her horizon.

She claims to be unique, independent and strong. She dreams and imagines a lot. "But what is love, and what is life, if you do not let yourself live?"

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
31 (9%)
4 stars
74 (22%)
3 stars
143 (43%)
2 stars
68 (20%)
1 star
12 (3%)
Displaying 1 - 30 of 34 reviews
Profile Image for Afrianti Pratiwi.
100 reviews28 followers
February 1, 2018
Judul: Quarter Life Dilemma | Pengarang: Primadonna Angela | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Tahun Terbit: Februari 2011 | Jumlah Halaman: 320 hlm. | ISBN: 9789792266733 | Harga: Rp 47.000,-

Awal mula membaca buku ini karena saya penasaran dengan penulisnya. Saya sudah pernah membaca dua karya Mbak Donna sebelumnya; satu novel teenlit dan satu lagi novel remaja bertema Jepang. Dan novel kali ini berjudul Quarter Life Dilemma, merupakan spin off dari novel Quarter Life Fear, yang sama-sama bergenre metropop. Untuk novel QLF sendiri saya belum membacanya, jadi memang agak aneh ketika membaca QLD dan langsung disuguhkan persahabatan antara Ine dan Belinda. FYI, Belinda merupakan tokoh utama di QLF, sedangkan di novel ini Ine-lah yang jadi tokoh utama.

Apa yang sebenarnya dipikirkan oleh seorang perempuan berusia lewat dari setengah abad (quarter life) dalam hidupnya? Dilema apa saja yang menghantui ketika kemapanan hidup telah dicapai? Disinilah poin itu dikedepankan oleh Mbak Donna, sang penulis, untuk menggambarkan tokoh Ine yang punya karir bagus, tetapi lama-kelamaan merasa hampa dengan hidupnya.

Melihat dari segi sampulnya, saya cukup tertarik dengan desain sampul yang "wanita metropolitan" banget. Ditambah sudut pandang orang pertama yang digunakan di buku ini membuat pembaca tahu apa yang dipikirkan langsung oleh Ine, sebagai tokoh utama.

Perempuan metropolis lebih banyak menghabiskan waktunya untuk berkarir. Begitu juga dengan Ine Puspitasari, gadis 26 tahun yang bekerja sebagai Creative Director di sebuah agensi iklan ternama. Sebagai wanita karir, ternyata ia belum juga menemukan kebahagiaan yang berarti di hidupnya. Awalnya ia menganggap menjadi seorang copy writer di awal karirnya adalah sebuah pencapaian besar. Sampai di posisinya yang sekarang, Ine merasa pekerjaannya hanya sebuah rutinitas.

Beruntung ia masih memiliki sahabat yang selalu menyemangatinya. Belinda, sahabat Ine, yang kini sedang hamil 7 bulan selalu memberinya motivasi dengan menuliskan banyak keunggulan yang dimiliki oleh Ine. Tetapi, hal itu nyatanya tidak cukup membuat kebimbangan dalam hati Ine menghilang. Termasuk ketika teman kantornya, Hans, yang seorang gay, menikah dengan Pras, yang merupakan mantan pacarnya.

Buku ini sebenarnya bikin kita belajar juga, kalau apa yang sudah kita dapat semuanya belum tentu membuat diri kita bahagia. Misalnya saja di kasus si Ine ini, dia punya karir bagus, tapi dihadapkan antara dua pilihan: menemani sahabatnya melahirkan atau mengurusi klien di kantornya. Pada akhirnya, hatinya nggak bisa berbohong.

Kalau tidak tahu kapan kita akan bahagia, memang kita tidak akan bahagia. Mau berbahagia? Resepnya gamoang. Mulailah mencoba untuk bahagia sekarang juga (Hlm. 80).

Buku QLD ini menuurut saya agak kurang greget di konfliknya. Saya sendiri kurang bisa menikmatinya. Mungkin penggambaran dilemanya agak kurang menohok bagi saya. Semacam cuma dilema-dilema kecil yang memang muncul si kehidupan nyata. Tapi mungkin memang itulah poin yang diambil Mbak Donna, agar cerita ini terkesan hidup dengan keberadaan dilema kecil selain dilema besar seperti pekerjaan dan kehidupan asmaranya.

Kenapa sih manusia cenderung membandingkan diri dengan sesama? Kalau kita berada di pihak yang unggul, rasanya jumawa, ingin pamer. Kalau kebetulan kita berada di pihak hang tidak beruntung, kita bakal iri sampai nyaris tewas. Seakan manusia bergantung pada pihak lain untuk merasa bahagia atau merana. (Hlm. 213).

Semua pilihan mengandung konsekuensi. Kadang kita tidak menyukainya, tapi itu risiko. San kalau tidak miengambil risiko, manusia akan cenderung statis seperti robot. Tidak ada inovasi. Meskipun dunia berubah, kita akan tetap begitu-begitu saja. Manusia memang ditakdirkan untuk terus berubah mengikuti perkembangan yang terjadi di hidupnya. Tapi hal ini bukan berarti setiap saat berganti keputusan. (Hlm. 219).

Any excuse will do. As long as it keeps me alive and productive. (Hlm. 220).

RATE: 2,5/5
Profile Image for an.
764 reviews22 followers
December 26, 2014
ini buku sempalan dari buku ntah yang rhe juga belon baca. tapi ketika baca buku ini aja, rhe malah ngebayangin buku yang lain na. pasti cerita na akan kaya' shopaholic, ibu-ibu yang gila belanja dalam kondisi hamil sekalipun. dan tentang sahabat na yang diceritakan dalam buku ini...

wah, klo dia punya karir yang secemerlang itu, klo memang dia orang yang menjanjikan dengan apa yang bisa diraih na saat itu. kenapa ya dia begitu pasif na. menutupi apa yang diarasakan demi membahagiakan orang lain. sedikit aneh ketika dia yang bisa banyak hal seakan 'menjilat' dengan tidak menjadi diri na sendiri.

pufh... capek baca na

-79-
Profile Image for Ani Andriyanti.
108 reviews4 followers
November 23, 2012
Buku ini menceritakan tentang cinta, karir dan persahabatan. Pertama kali melihat cover dan judulnya, saya langsung mikir “ini mungkin ceritanya tentang seseorang yang usianya 25 tahun an gitu kali ya, yang lagi bingung memahami apa sih sebenarnya yang dicari di umur segitu”.

Dan ternyata benaaar :D Adalah Ine puspitasari, seorang perempuan muda berusia 26 tahun yang cantik, modis, supel, prestasinya mengagumkan dan masih belum menikah.

Ine adalah sahabat dari Belinda di buku Quarter Life Fear, tetapi saya belum membacanya. Perempuan muda, di umur segitu, tetapi sudah menjadi creative director di sebuah perusahaan Agency. bagaimana orang lain tidak merasa iri terhadapnya, memuji-muji sambil melontarkan kata penuh iri. Tetapi Ine sendiri sebenarnya bisa dibilang tidak bahagia. Menurut saya, Ine ini terkena sindrom “what are you looking for in life”. Apa sih sebenarnya yang dia inginkan. Karir sudah sedemikian tingginya, apakah dia ingin mempunyai perusahaan Agency sendiri? Atau apakah dia ingin seperti Belinda, sahabat baiknya yang sudah menikah dan sedang hamil, menikah dengan seorang lelaki yang memujanya dan kemudian memiliki anak-anak yang rupawan dan jelita. Entahlah, Ine tetap belum menemukan kebahagiaan itu. Dia tidak tau…

Selengkapnya di http://bagianperjalanan.wordpress.com...
Profile Image for Laras.
204 reviews10 followers
January 22, 2016
Ini adalah cerita tentang Ine the special snowflake, yang tanpanya segala hal pasti berjalan kacau. Hal supercemen pasti akan menimbulkan masalah superbesar, orang-orang lain akan jadi superbodoh sampai Ine sang superhero datang dan menyelamatkan hari ini dengan cara supermudah, yg di dunia nyata pasti sudah langsung dibereskan oleh orang lain di lokasi. Tapi ini dunia Ine kan, she's so speshul and the only one allowed to save the day.

Dunia Ine ini juga adalah dunia di mana orang cantik/ganteng, kaya, apalagi kalau terkenal, berhak untuk membuat masalah tanpa Ine merasa mereka kelewatan. Akan ada pembenaran untuk mereka, alasan akan dicarikan, Ine akan memahami mereka dan memaafkan. Dunia di novel ini adalah dunia di mana mereka yang menarik dan berduit pasti orang baik, dan Ine mudah sekali menilai tidak baik orang yang tidak sesuai standarnya--fisik dan finansial.

Dan pertanyaan-pertanyaan bodoh yang diajukan Ine kepada dirinya sendiri seputar pernikahan sesama jenis itu? Ine berusaha keras meyakinkan dirinya (dan pembaca) bahwa ia berpendapat netral, tapi malah terasa ofensif dengan semua pertanyaannya.
Profile Image for Nona.
51 reviews
November 18, 2008
Sebenernya gue belom baca buku pertamanya yang bercerita tentang Belinda (jadi bingung juga, kenapa gue bisa skip tuh buku ya?? hmm)...

Tapi sekuel dari Quarter Life Fear yang (menceritakan kehidupan Ine Puspitasari, sahabat Belinda yang terkesan memiliki segalanya. Namun ternyata terganggu berbagai dilema seperti yang dialami mayoritas perempuan seumurnya), itu pasti pernah terjadi ama kehidupan yang sebenarnya.

Belum tentu 'wanita karier' yang bisa dikatakan 'perfect' itu bahagia dengan kehidupannya. Seperti Ine yang bisa dikategorikan 'sempurna' dalam hal karier, materi, penampilan. Dia harus merelakan mantan pacar yang ternyata 'not straight', bertemu dengan seseorang yang baru, tapi takut salah langkah, menghadapi client yang annoying sampai harus memilih antara sahabat dengan pekerjaan. What a life, huh...

So, no body perfect.. kita kudu pinter-pinter memilih apa yang menjadi prioritas dalam hidup kita, kan?? :)


Profile Image for Nike Andaru.
1,666 reviews115 followers
July 3, 2010
Cerita menarik dengan tema persahabatan, karir dan juga cinta di usia pertengahan 20an. Saya suka penulisan buku ini, ya tentang ceritanya yang memang dialami banyak perempuan di usia segitu.

Beberapa pilihan yang harus dipilih dengan hati, bahwa persahabatan itu menjadi sangat penting untuk diukur. Bahwa karir bisa dikesampingkan jika tidak sesuai dengan nurani. Bahwa cinta akan datang padamu pada saat yang tepat :)

Buku menarik, tapi memang agak mengesalkan karna footnote yang diceritakan, kok catatan kaki malah bercerita yak? Dan beberapa bagian terlalu banyak diceritakan tidak sesuai alur ceritanya, misal saat Ine akan kencan pertama dengan Marco, kenapa harus menceritakan kejadian konyol pengalaman kencan dengan cowo terdahulunya dengan panjang sampai 2 halaman.

Jadi, cukuplah 3,5 bintang saja :)
Profile Image for Meinar.
48 reviews4 followers
September 5, 2010
26 years old...

I am on that situation right now ! Masa-masa yg katanya penuh dilema terutama kalo Anda jg wanita bekerja. Terjebak antara karir dgn pernikahan, belum lg tuntutan keluarga dan sahabat yg spertinya ga mau kehilangan.. Pff, what a 'wonderful world'!

Itulah yg mungkin mau diceritakan oleh penulis dlm Quater Life Dilemma. Bukan ide yg baru sebenarnya, krn sudah banyak sekali chicklit dan novel2 metropop yg menyajikan hal yg sama. Terlebih gaya bahasa yg digunakan jg agak 'dipaksakan' dan sdkt berputar2, menurut saya.. Alhasil, krn agak boring, saat membaca buku ini saya banyak tergoda utk membaca buku yg lain jg..

Namun ini mungkin krn masalah selera ya? Bkn krn novelnya yg krg bagus barangkali, tapi memang krn saya yg krg suka genre ini.. But, if you love metropop so much, you've got to read this book !
86 reviews23 followers
January 4, 2012
Libur kuliah, tidak ada kerjaan, saya membaca Quarter Life Dilemma, metropop karangan Primadonna Angela yang bikin saya tersenyum-senyum sendiri saat membacanya. Sudah dua kali saya membaca novel ini, pertama kali waktu SMA kelas 2 yang saya pinjam dari teman. Saya akhirnya menemukan cetakan barunya tahun 2011 ini lalu membelinya dan kembali membacanya. Ringan, sederhana, lucu, dan sangat cocok dibaca saat santai, di tempat tidur sambil ngemil coklat atau potato chips. Primadonna berhasil membangun karakter Ine Puspitasari dengan sangat cerdas dan kuat, saya suka gaya bercelotehnya yang tidak bisa berhenti tapi tetap terdengar cerdas. Sayangnya, ending dari novel ini sangat mudah ditebak. Not surprising. Tapi bagi pembaca metropop kategori pemula, novel ini lumayan recommended :)
Profile Image for Suci ays.
19 reviews8 followers
December 20, 2010
Buku yang renyah dapat dibaca dalam sehari

Bercerita tentang pilihan - pilihan yang kerap terjadi dalam hidup, dari yang ringan, hampir tidak penting sampai pilihan yang akan mengubah hidup selamanya

Kalau ada yang bilang lucu, aku malah mikir lucunya dimana ya??
Engga deh, tapi buku ini juga tidak termasuk dalam jejeran buku serius
Santailah, oke sebagai selingan baca

Bahasanya santai, mengalir, banyak istilah - istilah bahasa inggris yang sering digunakan dalam percakapan sehari - hari, sedikit bahasa gaul.

Plotnya sederhana, pokoknya baca ini bisa bikin relaks, ga usah mikir kalo baca buku ini
Profile Image for Yuliana  Permata Sari.
208 reviews11 followers
May 30, 2013
http://thelittlepresent.blogspot.com/...

Pokoknya dari tiga karya-nya beliau yang saya baca, selalu mengisahkan wanita biasa yang menikah dengan pria tampan dan kaya gak ketulungan. Hellooo... saya bosan, mbak!

Walaupun begitu, saya tetep ajungin jempol dengan gaya penulisannya. Mungkin dari pemilihak kisah, beliau harus mencari referensi lain. Mengingat novel ini di labeli dengan label Metropop, rasanya isinya terlalu dunia khayal banget. Tapi kalau gaya penulisan, beliau tidak perlu di ragukan lagi.

Satu bintang untuk cover dan satunya lagi untuk gaya tulisnya. :)
Profile Image for Prita Wulandari.
2 reviews
April 18, 2014
Sedikit membosankan karena selalu yang diceritakan adalah Belinda yang belanja pernak-pernik bayi, padahal novel ini lebih menjurus kearah Ine dan kehidupannya. Cukup edun juga ternyata Pras sama Hans, tidak disangka haha.
Cukup penasaran sama alasan kenapa Marco balik ke Singapore tanpa memberi tahu Ine yang sayangnya tidak dijelaskan. Kurang romantis apa Marco... huhu saya jadi ingin mempunyai pasangan seperti dia :D
I demand for after-story when Ine already married with Marco! Penasaran kehidupan mereka seperti apa :D
Profile Image for Caca Venthine.
372 reviews11 followers
June 8, 2014
telat amat roman nya baru baca ini yaa.. eh sebenernya udah minggu lalu bacanya, hanya aja ketunda2 terus karena ceritanya agak bikin bete.

kali ini nyeritain tentang Ine, temannya Belinda.. yang gue tangkep disini kenapa tetep aja Belinda yang lebih banyak diceritain ya dibanding Ine sang tokoh utama? baca ini juga kebanyakan di skip sih, jadi memang gk gitu nangkep alir ceritanya.. yang gue tau endingnya Ine pacaran sama Marco.

sama sekali gk nikmatin baca ini, sorry mbak Donna.. entah kenapa gue malah lebih nikmatin teenlit2 tulisannya mbak Don dibanding cerita dewasa gini :p
Profile Image for Septianing Tyas.
16 reviews1 follower
January 27, 2012
Sebelumnya agak malas bacanya. Terlalu banyak membahas hal-hal yang melenceng dari topik yang sedang dibicarakan.
Seperi gaya Primadonna Angela pada novel-novelnya sebelumnya, selalu mengangkat cerita sehari-hari yang ceritanya enteng-enteng aja. Jadi nggak terlalu hayal, bagus.
Kadang terlalu lebay sih, tapi lucu.
Jadi pengin seperti Ine atau Belinda. Beruntung banget dapat pekerjaan dan suami yang dicintai.
Profile Image for Nur Ramadani.
24 reviews1 follower
November 10, 2012
Entah kenapa saya kurang 'sreg' dengan gaya penceritaannya.
Kesan penceritaannya yang 'self-centered' membuat seakan-akan karakter lain tidak turut berpartisipasi dalam cerita.
Tebal buku yang notabene memang lebih tebal dari buku terdahulunya, 'Quarter Life Fear' malah membuat saya yang membacanya jadi semakin boring.

Akhirnya, saya merating buku ini 'it was ok' alias dua bintang hanya karena aku tak ingin rugi karena telah membaca buku ini.
Profile Image for Sulis Peri Hutan.
1,056 reviews304 followers
February 23, 2011
dapet dari mb Donna langsung, menang kuis di twitter hehehehe. ceritanya lebih ke masalah Belinda yang ribet belanja untuk kebutuhan melahirkan,isinya ngublek - ngublek itu aja sih kalo menurutku. pengennya sih kisah Ine sama Marco yang dibanyakin tapi ya sudahlah, lebainya Belinda dalam mengalami masa kehamilan lucu, cukup menghibur disitunya.
Profile Image for Vika Atika.
46 reviews2 followers
August 8, 2016
seperti biasa, Mbak Donna selalu jadi favorit bacaan saya kalo seri metropop :)
gaya bahasa gak bikin bosen. yang bikin bosen cuma bagian cerita ine yang kalo ketemu Bella kenapa pasti selalu ke toko perlengkapan bayi, menurut saya kurang variatif aja. Sama ending cerita kurang klimaks. Hidup Ine setelah sama Marco gimana? Penasaraaann! :D
Profile Image for Nia F. S. Kartadilaga.
168 reviews37 followers
November 26, 2016
Dulu, saya mau membaca buku ini karena karakter Ine dibuatkan kisahnya sendiri di Quarter Life Dilemma ini. Waktu membaca Quarter Life Fear, saya cukup suka dengan karakter Ine di sana. Jadinya, saya pikir, kisah dia mungkin akan digarap dengan asyik juga seperti Bellinda. Tetapi, hasilnya, nggg... Cukup oke, tapi tidak begitu saya sukai.
Profile Image for Bubbleteagirls.
26 reviews3 followers
October 9, 2007
persiapan buat gw menapaki umur 25(walau masi lama...)...
cari buku ini buat gw lumayan susah...(bis dah lama terbitnya gw malah baru nyari..). perjuangan gw terbayar kok setelah bca buku ini..seru dan easy to read
Profile Image for Ayu Zuraidah.
30 reviews15 followers
Read
October 2, 2007
NR.
Kurang menarik, tak bermakna.
(Maaf, kalau terlalu jujur. Tp itulah yg gw rasa ktk baca ini, dan...alhasil tak terbaca sampai akhir)
Profile Image for Christine.
15 reviews
May 8, 2008
Ceritanya kurang menarik dan gampang ditebak..i feel dissapointed reading this book..
Profile Image for Rini.
12 reviews2 followers
May 25, 2009
to be honest, I didn't finish this book. It's torturing me if I should.
it's not my reading... sorry to say...
Profile Image for Qonita.
51 reviews
August 5, 2016
walaupun gak baca buku pendahulunya, tapi tetap bisa mengikuti ceritanya. buku menarik utk cewe2 quarter life. seperti membaca curhatan seorang teman cewe.
Displaying 1 - 30 of 34 reviews