"Bangsa ini sedang terserang virus apa sebenarnya?... Di rumah, di jalanan, di lapangan bola, di gedung DPR, bahkan di tempat-tempat ibadah, kita menyaksikan saja orang yang marah-marah. Tidak hanya laku dan tindakan, ujaran dan kata-kata pun seolah-olah dipilih yang kasar dan menusuk. Seolah-olah di negeri ini tidak lagi ada ruang untuk kesantunan pergaulan
Kiai Mustofa Bisri kembali membuka pintu langit. Setelah Membuka Pintu Langit laris manis, Gus Mus kini menghadirkan Membuka Pintu Langit: Momentum Mengevaluasi Perilaku, buku hasil revisi yang diperkaya dengan sejumlah tulisan barunya.
Gus Mus menekankan perlunya kita mengevaluasi perilaku masing-masing. Ia mengajak kita mendidik diri sendiri untuk bersikap jujur dan ikhlas, termasuk dalam mengevaluasi perilaku kita dalam berhubungan dengan sesama manusia maupun dalam kaitan dengan Tuhan.
Membuka pintu langit atau pintu sorga bermakna bahwa diturunkannya rahmat Allah memberi peluang kepada kita untuk mengabdi kepada-Nya. Hanya Dia yang mengetahui seberapa besar ganjaran yang akan dilimpahkan. Inilah momentum untuk mengevaluasi perilaku kita sendiri.
Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), adalah pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuth Thalibin, Rembang. Mantan Rais PBNU ini dilahirkan di Rembang, 10 Agustus 1944. Di masa mudanya ia pernah nyantri di berbagai pesantren seperti Pesantren Lirboyo Kediri di bawah asuhan KH Marzuqi dan KH Mahrus Ali; Al Munawwar Krapyak Yogyakarta di bawah asuhan KH Ali Ma'shum dan KH Abdul Qadir; dan Universitas Al Azhar Cairo, di samping mengaji di di pesantren milik ayahnya sendiri, KH Bisri Mustofa Rembang.
Gus Mus menikah dengan St. Fatma, dan dikaruniai 6 (enam) orang anak perempuan serta seorang anak laki-laki.
Selain dikenal sebagai ulama dan Rais Syuriah PBNU, Gus Mus juga budayawan dan penulis produktif. Ia kerap menulis kolom, esai, cerpen, dan puisi di berbagai media massa seperti: Intisari; Ummat; Amanah;Ulumul Qur’an; Panji Masyarakat; Horison; Jawa Pos; Republika; Media Indonesia; Tempo; Forum; Kompas; Suara Merdeka dll.