Sebelum Islam datang, Jawa telah memiliki ajaran-ajaran kearifan yang mapan. Kehadiran Islam tidak menghapus kearifan-kearifan itu, tapi justru menyempurnakannya. Orang Jawa sangat terbuka terhadap keyakinan dan semua agama, terutama Islam. Namun, mereka tak mau ketika harus "diarabkan". Sebagaimana mereka juga menolak mati-matian saat hendak "dibelandakan" atau "diinggriskan".�
Buku ini menyuguhkan salah satu khazanah kearifan yang kaya itu dari "Sang Matahari Jawa", Ki Ageng Suryomentaram. Sang Pencerah dari Mataram ini dipandang berhasil membumikan ajaran adi luhung leluhurnya. Dengan bahasanya yang sederhana, dia juga mampu menerangkan berbagai wacana filsafat tentang awal mula dan akhir alam semesta ke dalam penjelasan yang mudah dicerna.�
Dalam buku ini, kita juga mendapatkan tips dari Ki Ageng untuk menempa diri:� 1. Mengamati dan meneliti rasa batin kita yang muncul serta bertanya dan menjawabnya dengan jujur; dari mana dan ke mana rasa batin kita menuju?� 2. Membangkitkan kesadaran "aku sejati" agar senantiasa menjadi subjek dalam menghayati hidup dan kehidupan ini dengan penuh kesabaran, sehingga selalu memiliki keberanian untuk menghadapi kenyataan saat ini, di dunia ini, apa pun wujudnya! (saiki, ing kene, ngene!).� 3. Mengambil keputusan atau menentukan sikap/tindakan berdasarkan pemahaman terhadap situasi yang sedang dihadapi, dengan memperhatikan dan mengkritik nilai-nilai yang kita yakini dengan sesungguhnya, dan tidak hanya berlandaskan kepada "katanya-katanya", "pantasnya-pantasnya", dan "duga-duga" semata.
Belajar dari jejak-jejak kearifan yang tersirat dan tersurat dalam ajaran-ajaran Ki Ageng, spiritualitas bukanlah tujuan, melainkan seperti vitamin atau suplemen penambah energi untuk membangkitkan semangat yang mulai mengendor. Karena itu, jika ada pemburu spiritualitas yang sampai terlena, berasyik masyuk "enak sendiri" dan menutup mata terhadap penyakit sosial (tanpa ngenakke liyan) di sekitarnya, ia bukan lagi menjadi vitamin tetapi telah menjelma sebagai candu.�
Makrifat Jawa untuk semua mengajarkan kepada saya perihal pembebasan jiwa. Saya belajar untuk bagaimana untuk tidak menuhankan hal kecil seperti amarah, gila harta, dan nafsu-nafsu lainnya. Pun, kebahagiaan materi hanya bersifat sementara. Kebahagiaan adalah ketika kita mampu merasakan proses-proses yang sedang terjadi dalam kejiwaan kita.
Walau lahir dan besar di Jakarta, sejak kecil saya sudah diajar untuk menyelami dan memahami tata cara kehidupan orang jawa, lebih tepatnya Jawa Tengah mengambil alur dari pihak mama saya. Contoh kecil saja, sampai saya kelas VI Sekolah Dasar, atas dawuh Eyang Putri, setiap Rabu saya dan para saudara harus mengikuti les menari plus kerawitan. Kebetulan salah satu bude memiliki gamelan lengkap dan membuat sanggar. Sementara anak-anak lain mungkin sedang sibuk les balet, piano dan sejenisnya, kami harus melatih keluwesan tubuh. Setiap Halal Bhihalal kami harus membuka acara dengan kerawitan. Kadang saya kangen saat-saat itu. Menari membuat saya merasa berada di dimensi lain dimana waktu terhenti. Di halaman belakang, tercetak beberapa kutipan dari berbagai sumber yang sangat bermanfaat. Misalnya saja dari 100 Kalimah Imam Ali, kutipan dari kita-kitab karya Al-Ghazali. Kutipan favorit saya adalah " Etika seseorang mencerminkan kualitas akalnya"
Terakhir.... mari menutup curatan hati ini dengan menembang.
amenangi jaman edan ewuh aya ing pambudi melu edan ora tahan yen tan melu anglakoni boya keduman milik kaliren wekasanipun dilalah karsaning Allah begja-begjana kang lali luwih begja kang eling kelawan waspada