In The Complete Lives of Camp People Rudolf Mrázek presents a sweeping study of the material and cultural lives of twentieth-century concentration camp internees and the multiple ways in which their experiences speak to the fundamental logics of modernity. Mrázek focuses on the minutiae of daily life in two camps: Theresienstadt, a Nazi “ghetto” for Jews near Prague, and the Dutch “isolation camp” Boven Digoel—which was located in a remote part of New Guinea between 1927 and 1943 and held Indonesian rebels who attempted to overthrow the colonial government. Drawing on a mix of interviews with survivors and their descendants, archival accounts, ephemera, and media representations, Mrázek shows how modern life's most mundane tasks—buying clothes, getting haircuts, playing sports—continued on in the camps, which were themselves designed, built, and managed in accordance with modernity's tenets. In this way, Mrázek demonstrates that concentration camps are not exceptional spaces; they are the locus of modernity in its most distilled form.
Pernahkah kamu berpikir, bagaimana kehidupan orang-orang yang ada di kamp kolonial? Setiap manusia membutuhkan kebutuhan pokok dan hiburan setiap hari. Apalagi mereka yang diasingkan dan dibuang ke kamp kolonial, pasti memerlukan sesuatu untuk menunjang kehidupan mereka disana.
Buku ini menjelaskan bagaimana kehidupan orang yang hidup di kamp kolonial. Mulai dari pakaian, penyakit serta obat yang dikonsumsi, hingga hiburan musik. Orang-orang yang hidup di kamp kolonial memiliki ciri yang berbeda-beda, tergantung kampnya. Namun, satu hal yang pasti: semua jenis kamp memiliki kebiasaan dan aturan unik sendiri terkait hiburan. Dari segala jenis kamp kolonial, buku ini berfokus pada kamp kolonial Boven-Digoel dan Theresienstadt. Secara geografis keduanya sangat berjauhan, namun juga memiliki ciri khas yang hampir sama; orang-orang yang hidup di kamp kolonial hampir semuanya necis dan fashionable. Mereka terpaksa harus menggunakan seragam yang sama—yang terlihat menjijikkan di mata mereka. Namun, beberapa kamp—Boven Digoel misalnya—memperbolehkan mereka untuk memiliki baju sendiri asalkan tidak berlebihan. Jadi ada lagi aturan-aturan terkait berpakaian.
Hiburan musik yang boleh mereka dengarkan pun terbatas pada apa yang disetujui pemerintah dan kamp terkait. Bisa dikatakan, buku ini cukup membuka pengetahuan kita tentang hal-hal yang ada di balik buku cerita sejarah—semua yang tidak pernah terungkap dalam buku-buku tersebut.
Buku ini adalah karya Mrázek yang saya rating cukup rendah bukan marena riset dan data, namun narasi yang sangat membosankan. Dalam buku ini, Mrázek kembali membawa pembaca untuk menyelami mentalitas dan merasakan sensibilitas kehidupan orang-orang di kamp dan diproyeksikan melalui Theresienstadt di Cekoslovakia dan Boven Digoel di Hindia Belanda. Keduanya kontras, Theresienstadt oleh Nazi kepada Yahudi Eropa dan Digoel untuk para komunis Hindia. Namun, jelas bahwa Mrázek ingin menyampaikan bahwa ini bukan Auschwitz karena modernitas memiliki jalannya sendiri di dalam kamp. Keberatan dalam membaca ini adalah penyelarasan, suntingan, dan bahasa yang sukar dipahami. Kebiasaan Mrázek dalam difusi sastra dan sejarah sering membuat pembaca non-sastra merasa kabur dan berujung salah memahami maknanya.