Sejarah tidak layak untuk dilupakan begitu saja. Pak Habibie menganggap, peristiwa Reformasi adalah catatan terpenting kehidupan bangsa Indonesia, termasuk detik-detik pergantian kekuasaan 21 Mei 1998.
Mengingat bahwa buku ini ditulis berdasarkan catatan harian beliau dan komentar berbagai surat kabar nasional pada masa itu maka buku ini seolah-olah merupakan rekaman ulang sebuah realitas politik yang amat mencekam saat itu. Meskipun demikian sisi-sisi kelembutan, di tengah-tengah ketegasan sikapnya, seorang anak bangsa yang bernama B.J. Habibie sangat jelas tergambarkan pula di dalam buku ini. (Hermawan K. Dipojono)
Tokoh yang dengan reformasi berubah dari wakil presiden menjadi presiden dan kemudian meninggalkan kursi kepresidenannya dengan bibir yang tersenyum dan kepala yang tegak. Semua berlaku dengan konstitusional, damai, tanpa setetes darahpun yang tertumpahkan, dan kemudian membuka pintu lebar-lebar untuk para pemimpin penerusnya agar dapat mengisi momentum-momentum yang hadir dengan lebih sukses. (Hidayat Nur Wahid)
Banyak hal yang sangat menarik dari buku B.J. Habibie "Detik-Detik yang Menentukan", banyak juga yang menarik dari kepribadian penulisnya, setelah membaca buku itu. Namun demikian tidak meleset jika disimpulkan bahwa: "Buku dan penulisnya menyatu dalam kata "Demokrasi". Itulah uraian buku ini dan itu pula kunci kepribadian penulisnya yang taat beragama Islam itu. Dengan demikian terbukti bahwa tidak ada pertentangan sedikit pun antara penegakan demokrasi dan pelaksanaan ajaran Islam. (M. Quraish Shihab)
As those move further into the past, the scale and scope of Habibie's achievement seems ever more astounding and surprising. How was it that an administrative technologist with weak political skills and almost no political support could change Indonesia so rapidly, decisively and fundamentally, and in ways that no one could have expected? (Robert.E. Elson)
Kesalahfahaman seolah-olah Presiden Habibie menciptakan "bom waktu disintegrasi" melalui kebijakan desentralisasinya adalah sesuatu yang berangkat dari argumen yang keliru dan tidak berdasar. (Ryaas Rasyid)
Whether one believes in the 'Great Man' or 'Great Idea' concept of leadership, Pak Habibie succeeded, within the shortest time possible, in mobilizing every resource that was available, to launch a 'new Indonesia'. (Bilveer Singh)
Bacharuddin Jusuf Habibie (lahir di Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936; umur 74 tahun) adalah Presiden Republik Indonesia yang ketiga. Ia menggantikan Soeharto yang mengundurkan diri dari jabatan presiden pada tanggal 21 Mei 1998. Jabatannya digantikan oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang terpilih sebagai presiden pada 20 Oktober 1999 oleh MPR hasil Pemilu 1999.
B.J. Habibie menikah dengan Hasri Ainun Besari pada tanggal 12 Mei 1962, dan dikaruniai dua orang putra, yaitu Ilham Akbar dan Thareq Kemal.
Gue itu adalah satu dari bermilyaran warga NKRI yang ga tau apa-apa tapi sok tau dan selalu negatif sama pemerintah. Makanya, buku ini telah membuka pikiran gue bahwa masalah politik itu ga selalu hitam atau putih.
Berawal dari rasa penasaran gue, kenapa banyak orang yang ngefans sama BJ Habibie? Padahal bagi gue sosok dia ga ada yang spesial dan mudah terlupakan. Tapi setelah baca buku ini, gue bersimpati, kagum dan salut sama dia. Ternyata dari sebagian besar pemerintah orde baru yang kotor, ternyata ada juga yang lumayan bersih. 'It was a wrong time to become a president', tapi dia bisa bertahan dan melakukan perubahan yang memang dibutuhkan. Ketabahan dia menghadapi kritikan dan hinaan, hebat banget. Padahal orang yang mengkritik atau melakukan demo mungkin ga ngerti apa-apa dan hanya terprovokasi oleh pers atau omongan oposisi.
Gue ga menutup mata, kalau buku ini ditulis oleh BJ Habibie, maka isinya pasti adalah pembelaan dari sudut pandang dan persepsi BJ Habibie.
Buku ini menjawab semua kritikan atas tindakan yang dia lakukan selama jadi presiden. Namun pasti masih ada beberapa kekurangan dia yang tidak dicantumkan di buku ini, jadi gue ga segitu menyesali kalau dia ga jadi presiden ke 4. Gue ga yakin saat itu rakyat Indonesia akan sanggup menerima kalau ternyata yang jadi presiden ke 4 dari partai golkar lagi. Kalau Habibie dari partai lain, mungkin masih bisa diterima di masyarakat.
Hal-hal yang dibahas di buku ini dan gue anggap 'eye opening':
1. Masalah Timtim
Karena bagi gue, BJ Habibie terkenal sebagai presiden yang membuat Indonesia kehilangan Timor Timur, maka dengan adanya penjelasan di buku ini, gue jadi lebih ngerti dan bisa menerima. Dulu sebelum krisis, gue ga peduli sama konflik di Timtim. Provinsi itu begitu jauh dan ga penting untuk gue perhatiin. Tapi ketika Indonesia kehilangan provinsi itu dan mendengar beberapa kritikan tajam yang bilang Habibie bego, kenapa Timtim dilepas padahal itu bagian dari Indonesia. Gue jadi ga rela. Kesannya Indonesia lemah banget, ga bisa ngurus warga negaranya sendiri, ga bisa mempertahankan NKRI. Dipaksa sama luar negri dikit aja, langsung takut.
Tapi setelah baca buku ini, gue setuju dan mendukung tindakan Habibie. Ngapain provinsi yang memang bukan bagian dari Indonesia waktu proklamasi kemerdekaan terus menghabiskan uang APBN Indonesia melulu, dan ga terlalu menghasilkan pemasukan ke Indonesia, masih mesti dipertahankan? Intinya: udah nyusahin, masih belagu? Mending duit APBN nya dipakai untuk provinsi lain yang lebih berguna. (note: memang mungkin APBN nya bukan masuk ke rakyat Timtim, tapi ke pejabat-pejabat yang mempunyai kepentingan di Timtim. Tapi setidaknya, ketika Habibie melepaskan Timtim, aliran dana ke pejabat itu jadi terhenti)
Pertanyaannya: sekarang setelah Timtim jadi negara merdeka, apa mereka lebih makmur? (ini pertanyaan beneran loh, bukan bermaksud sarkastik)
2. Masalah perubahan UU dan fungsi pemerintahan
Gue juga salut pada pemikiran dia atas desentralisasi kekuasaan dari presiden ke MPR/DPR, pemisahan Bank Indonesia dari presiden, pemisahan kekuatan ABRI. Pemikiran yang hebat! Kalau pun bukan asli hasil pemikiran dia, tapi dengan dia mengundang semua tokoh pinter dari dalam atau luar negri untuk mendapat masukan, dan setelah menimbang apa yang dibutuhkan Indonesia, dia bisa memberikan keputusan yang tepat.
Salah satu ciri pemimpin yang gue kagumi: berani mengambil resiko yang terkalkulasi untuk tujuan yang baik walau banyak pihak yang tidak setuju.
3. Masalah Soeharto
Sampai beberapa kali ganti presiden pun Soeharto belon pernah diadili. Belum ada kemajuan dari penyelidikan Soeharto, jadi kenapa pemerintahan BJ Habibie di kritik masalah Soeharto? Kayaknya sampai kapan pun ga akan selesai deh. Padahal daripada duit yang dimiliki Bambang Tri dikasih ke Mayangsari, mending kan di balikin ke rakyat.
Intinya, gue suka sama buku ini. Walaupun katanya penulisannya seperti diary, tapi bagi gue seperti research paper doctorate contohnya: banyak memberikan deskripsi permasalahan, menimbang beberapa alternatif solusi dan akibat yang mungkin ditimbulkan, kemudian mengambil keputusan dengan kembali menjelaskan alasan kenapa diambil solusi tersbut. Banyak pengulangan pembahasan masalah, penuh dengan data statistik dan format teori. Gue suka banget deh, walau karena banyak pengulangan jadi agak bosen. Tapi yang rada aneh sih, penulisan doa yang dipanjatkan. Gunanya untuk apa? penegasan bahwa Habibie orang yang soleh?
Buku ini buku perkenalan yang bagus untuk orang yang ingin tahu situasi politik Indonesia. Ada pokok permasalahan, intrik politik, good guy dan bad guy. Recommended untuk semua warga negara Indonesia.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Detik - Detik Menentukan : Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi, merupakan rekaman ulang sejarah bangsa Indonesia yang ditulis sendiri oleh Presiden Ketiga Republik Indonesia, B.J. Habibie.Dalam masa - masa tersebut dimana terjadi pergolakan di negeri ini akibat berubahnya secara drastis sistem pemerintahan sebagai tuntutan rakyat setelah Krisis Moneter yang menjatuhkan perekonomian negeri.
Memikul tanggung jawab sebagai presiden setelah Presiden Soeharto mengundurkan diri (ketika itu ia sebagai wakil presiden), ia mewarisi berbagai permasalahan bangsa ini yang multikompleks dan multidimensi yang mana ia sama sekali tidak memiliki gambaran tentangnya. Berbekal pengalaman selama belasan tahun dalam kabinet pemerintahan dan keyakinan kepada dirinya sendiri dan Tuhan YME ia memberikan yang terbaik untuk bangsa ini.
Perubahan - perubahan yang dilakukan Habibie dalam masa pemerintahannya tak elak lagi bermuara di satu tujuan, membuka pintu Demokrasi bagi Indonesia. Dasar - dasar pemikiran serta langkah - langkah pada kepemimpinannya pun mencerminkan sosok sebenarnya seorang Habibie yang menjunjung demokrasi.
Dengan gaya penulisan "inner dialog" ia membawa kita ke dalam alam pemikirannya. Membuka cakwawala pembacanya akan sudut pandang seorang Habibie sebagai presiden dalam membawa bangsa ini kepada semangat demokrasi.
Buku ini tidak hanya menceritakan bagian sejarah Indonesia dari sisi pandang BJ Habibie, tapi juga terdapat teladan dan sikap beliau yang baik, kredibel, dan prediktibel yang dapat dijadikan contoh dan motivasi, sebagai seorang intelektual maupun sebagai pemimpin. Tidak heran setelah membaca buku ini, saya semakin kagum dengan BJ Habibie.
Dari sisi tulisan, buku ini secara umum ngejlimet, terlalu banyak teks, dan banyak menggunakan paragraf atau kalimat yang sebenarnya tidak perlu. Jika dapat meringkas penggunaan paragraf atau kalimat, buku ini pasti akan lebih baik. Tapi kehadiran buku ini sudah sangat baik, karena jarang sekali ada Presiden yang dapat menulis buku seperti ini. Salut dan hormat terhadap BJ Habibie.
Bagian sejarah yang paling saya ingat dari buku ini: * Jas Merah
* Hubungan dekat antara BJ Habibie dan Soeharto yang terjalin sudah lama sejak 1950. Faktor kedekatan ini membuat sebagian pihak sangat menolak BJ Habibie karena menganggapnya antek dan murid utama Soeharto. Dan ketika BJ Habibie menjadi Presiden, hubungannya dengan Soeharto menjadi renggang hingga Soeharto wafat, yang penyebabnya pun tidak diketahui BJ Habibie, hal ini tentu sangat menyedihkan bagi BJ Habibie.
* BJ Habibie berhasil menguatkan rupiah dari level 15.000 menjadi 6.500, satu-satunya Presiden Indonesia yang berhasil membuat seperti ini! Hebat!
* Beberapa kebijakan yang baik seperti pemisahan Gubernur BI tidak berada langsung di bawah Presiden; keberpihakan UMKM; UU Zakat; dll
* Timor Timur sayang sekali memilih berpisah dari Indonesia, entah murni pilihan mayoritas Timor ataupun ada campur tangan dari pihak asing.
* Ada cerita dan misteri seru berkaitan dengan Wiranto dan Prabowo. Siapakah yang sebenarnya yang paling salah dan harus bertanggung jawab?
* Nurcholis Madjid, Amien Rais, dan Gus Dur, termasuk orang yang meminta BJ Habibie mundur menjadi Presiden.
* Sikap MPR kayak anak-anak (meneriaki Habibie) disikapi dengan gentle oleh BJ Habibie. Dan pada akhirnya laporan Pertanggungjawaban Presiden BJ Habibie ditolak MPR. [Menolak 355 (51.45%), Menerima 322 (46.59%)], dan ini menyebabkan Habibie tidak mau mencalonkan diri menjadi Presiden lagi. Saya termasuk kecewa dengan hasil voting tersebut.
* Ada musyawarah untuk menentukan capres tandingan Megawati, usulan Habibie adalah: 1. Amien Rais --> Ditolak oleh Amien Rais, menyarankan Gus Dur. Habibie mengkhawatirkan keadaan fisik dan kesehatan Gus Dur jika menjadi Presiden.
2. Akbar Tandjung --> Ditolak oleh Akbar, menyarankan Habibie. Marwah Daud menyebut Akbar Tandjung berbohong dan seorang pengkhianat yang menyebabkan voting kalah.
3. Wiranto --> Ditolak oleh Wiranto yang ingin netral.
4. Hamzah Haz --> Ditolak oleh Hamzah, menyarankan Habibie.
5. Abdurrahman Wahid. Pilihan terakhir
6. Yusril Ihza Mahendra. Usulan ini diajukan Yusril dan disetujui oleh Habibie dengan syarat merupakan opsi terakhir jika 1-5 tidak ada yang mau menjadi Presiden.
"Seorang pemimpin haruslah bagaikan sebuah mata air yang bersih dan jernih yang mempengaruhi lingkungannya. Setiap pemimpin apakah besar atau kecil, termasuk Presiden, harus berperilaku sebagai sumber air yang bersih dan jernih, yang dapat memberi kehidupan di sekitarnya agar dapat mekar dan subur, sehat berkembang. Janganlah berperilaku sebagai sumber air yang kotor dan beracun, sehingga lingkungan sekitarnya tidak dapat tumbuh bahkan mati. "
finally...with so many distraction arround. I completely read this book. its more like memoir, memoir of BJ Habibie former president of Indonesia. its interesting specially his point of view behind East Timor referendum. banyak yang mengkambing hitam kan beliau atas lepasnya Timor Leste. saya pribadi bisa mengerti mengapa beliau mengadakan jajak pendapat padahal kemungkinan Timor Leste akan merdeka sangat besar. Seperti dikatakan dalam buku ini APBD Timor Timor selama ini sebagian besar adalah dari pemerintah pusat bukan dari pendapatan daerah seperti sebagian besar wilayah lain di Indonesia. lebih baik fokus membenahi kondisi negara dan tidak diganggu oleh issue pemberontakan dari GPK di Timor Timur. banyak sekali yang menarik dari buku ini. menurut saya BJ Habibie mencoba untuk jujur dalam buku ini, salah satu teman saya bilang buku ini sarat muatan politis. well, mungkin memang ada muatan politis disini tapi menurut saya tidak banyak. pada dasarnya BJ Habibie adalah lebih condong ke arah akademisi atau ilmuwan dibanding politisi. dan menurut saya BJ Habibie tidak gagal menjadi Presidan RI ke 3. for me he has done his best .. dengan atau tanpa bayang bayang dari Presiden RI ke 2.
Buku yang menceritakan tentang momen-momen krusial pada era reformasi 1998 yang sangat menggemparkan pada saat itu. Salah satu momen paling menentukan dalam sejarah Indonesia. Cerita yang ada pada buku ini tidak dikisahkan di tempat lain. Disampaikan langsung oleh salah satu kunci pelaku sejarah pada saat itu yaitu Presiden BJ. Habibe. Menggambarkan kondisi ekonomi, politik dan sosial pada saat itu , terutama dari sudut pandang beliau. Keputusan-keputusan penting yang beliau harus ambil dengan cepat dan akurat yang sangat menentukan perjalanan hidup bangsa ini sampai hari ini. Buku ini sangat menarik dan sangat tebal tetapi bahasanya ringan.
This book is a very good book, considering that it is written by Indonesia third president, Habibie. Not many, maybe only Habibie, president of Indonesia that could write his memoirs on what happens during the most crucial event in Indonesian history. However, this book is become popular not because of Habibie point of view during the transition. This book becomes popular as the counter opinion of Prabowo Subianto, the presidential candidate from 2004-2019. This book is referred by a lot of newspaper opinion, in the discussion and various event. So, as this is an important book, why not try to read this.
In general, there is two biggest mystery in contemporary Indonesia (and this book is one book that can be used as a key to the mystery). First is 30 September 1965 Movement and May 1998 Riots. For September 1965, due to its significances, (victim, regime change, ideological change), there are many book and analysis. However for May 1998, as it is mainly a regime change (victim and ideological not so much) and it still an ongoing event, therefore it will have difficulties to have an in-depth analysis. This book by Habibie is one of the books that describe May 1998 event and of course, this is my main reason to read this book.
For 30 September Movement, there is four theory for an alleged mastermind, based on two main actors PKI vs Military. (Noted there is also military people in PKI). 1.PKI 100%. Attempted Coup d'Etat by the PKI (Indonesian Government version). This is the politically correct theory as it only harms PKI, the only one that should responsible is PKI. 2.Military 100%. Military internal conflict. Mutiny of Junior Officers (Anderson and McVey aka Cornell paper, Jan 1966). This is the first academic analysis. 3.PKI use Military. PKI lead the movement and alliance with Army officer (Harold Crouch 1978, Roosa 2006), PKI lead the movement. This is the latest update academic analysis and the widely accepted academically. 4.Military use PKI. Frame-up of the PKI (W.F Wertheim), main weakness assuming Suharto is super genius. This is most absurd theory. But still a popular theory that many common people accept this. This kind of pulp fiction theory.
For May 1998 Riots, there is only two theory for an alleged mastermind. As the public widely accepted that this is a military internal conflict between Wiranto and Prabowo. Similar with the September 1995 event, there are two opposing forces that can be tributed to communism and anticommunism. This time can be attributed to status quo vs revisionist. However, this classification is very complicated and fluid. A person can be red, green or both.
For example, the conflict in red vs green military is very fluid and complicated as shown below: Phase one: 1970-1983 1. M Jusuf 2. Moerdani
Phase two: 1980-1998 (Kingsbury) 1. Red: Moerdani, Edy Sudrajat, Try Sutrisno, Prabowo (peak during 1983-1991) 2. Green: Feisal Tanjung, R Hartono, Wiranto (peak during 1991-1998) 3. Red White (another theory): Hendropriyono, Wiranto (seeing as green, Aspinal), SBY
Dari buku ini saya jadi tahu kalau yang dihadapi Indonesia ketika reformasi terjadi sangat kompleks. Selama ini yang saya tahu hanya faktor ekonomi yang terdampak, tapi ternyata di luar itu pun, banyak.
Walaupun beberapa topik di buku ini cukup 'berat' bagi saya, tapi ada beberapa topik yang saya sangat enjoy membacanya. Salah satunya yaitu cerita tentang bagaimana Timor Leste lepas dari Indonesia. Mungkin juga hal tersebut karena ada kenangan tersendiri antara Timor Leste dengan semasa kecil yang saya habiskan di sana. Jadi, cara Habibie menceritakannya sangat detail, hingga saya sangat bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi saat itu.
After all buku ini sangat menarik untuk dibaca. Setidaknya ketika mahasiswa dan masyarakat berdemo tentang reformasi yang dikorupsi, saya benar-benar tahu apa saja yang terjadi ketika reformasi tersebut baru seumur jagung.
Buku ini menceritakan situasi-situasi penting pada masa pemerintahan pak Habibie dan dasar-dasar pemikiran di balik kebijakan yang almarhum ambil. Selepas orde baru, perkembangan politik Indonesia sangat tidak menentu. Dalam kondisi yang rumit tersebut almarhum dituntut untuk berfikir cepat dan akurat demi menentukan arah baru bumi pertiwi. Buku ini menjadi bentuk tanggung jawab almarhum terhadap keputusannya dimasa lalu; mulai dari kebebasan berdemokrasi, usaha pengendalian nilai Rupiah hingga pembebasan timor leste.
Saya rasa setiap presiden perlu mendokumentasikan apa yang mereka lakukan seperti yang dilakukan oleh bapak B.J. Habibie. Terima kasih pak Habibie atas pengorbanan-pengorbananmu.
"Detik-Detik Yang Menentukan" offers a fascinating glimpse into the tumultuous Indonesian reformation era through the eyes of President B.J. Habibie. The book details his struggles navigating economic upheaval, political unrest, and social tensions in the wake of Soeharto's resignation.
Witnessing Habibie's decisive actions during the MPR special session, his deft handling of the Megawati conflict, and his efforts to stabilize the rupiah truly opened my eyes to the immense pressure he faced. The book helped me understand the context and reasoning behind his choices, even if I don't necessarily agree with all of them.
Saya salut dengan keputusan Bp. Habibie menulis buku ini. Sangat berguna bagi masyarakat Indonesia dalam memperluas wawasan kebangsaan, bagaimana menjalani kehidupan bernegara khususnya mengenai pentingnya mewujudkan cita-cita bersama berkenaan dengan keberagaman masyarakat Indonesia.
Yang perlu dicatat di sini adalah, buku ini semacam hak jawab Bp Habibie atas beberapa isu terkait dengan masa 512 hari kepemimpinannya. seharusnya Presiden2 selanjutnya juga membuat buku semacam ini, agar menjadi pelajaran bagi seluruh warga negara Indonesia.
A very personal history of Indonesia's most defining moment -- from May 1998 to October 1999. Third Indonesian President BJ Habibie recounts his 512 as a president, who must lead the country in both political and economic crisis after Soeharto's notorious 32 years came to an end. A New Order man himself, Habibie proved to be the leader Indonesia needed to lead the country in its first steps toward democracy.
bagi Saya buku ini menjadi catatan penting bagaimana Indonesia memulai hidup baru Setelah 32 tahun dikuasai partai Golkar Dan Soeharto sebagai Pemimpinnya. Habibie bercerita dengan sangat baik mengenai konflik, intrik, Dan sejarah tanah air. bagaimana kondisi dirinya secara pribadi, kedekatannya dengan Soeharto juga menjadi Hal yang menarik bagi Saya. konsekuensi hukum Dan politis saat kerusuhan 1998 terjadi digambarkan jelas.
Kalau pak Habibie punya tumblr, maka tulisan di buku ini yang bakal jadi postingan-postingannya. Yah, kalau kalian berharap buku ini dibuat seperti buku sejarah saintifik, kalian mungkin bakal agak kecewa. Buku ini lebih mirip diary atau memoar, yang semuanya ditulis dari kacamata pak Habibie.
Overall, menurut saya, buku ini selain penting untuk khazanah sejarah Indonesia kontemporer, buku ini juga sangat menghibur, thrilling, dari judulnya pun sudah mengisyaratkan seperti itu. Saat-saat tersebut merupakan saat-saat genting, ketika satu saja kebijakan yang salah dapat berujung pada revolusi dan pertumpahan darah (dan memang sudah terjadi). dan Habibie, menurut saya, sudah berhasil membawa bangsa ini melewati detik-detik itu dengan sangat baik.
Kalau kalian suka baca novel John Grisham, maka buku ini bakal membuat kalian seolah membaca salah satu karyanya yang seringkali bertema legal thriller. Tapi, seperti novel-novelnya John Grisham, bisa jadi thrilling bisa jadi awfully boring buat yang ga minat.
awal-awal baca ni buku bingung banget ama kata-kata'nya (beda bgt bukunya org jenius), sampe gw baca di satu bab buat memecahkan masalah negara juga pake rumus. Habibie emang bener2 outstanding person. kekuatan religius yang kuat ditambah otak yang kelewat encer (jenius banget bo...!) bikin beliau memiliki pandangan yang berbeda dalam menghadapi masalah. ini bisa jadi pelajaran buat kita dalam menyikapi suatu masalah maupun. Habibie selalu tenang dalam menghadapi situasi apapun, sesulit apapun. Really, he's very amazing person...! 2 thumbs up
Secara tidak langsung, buku ini menjelaskan beberapa kejadian yang membuat hubungan kel. Habibie dengan Cendana menjadi tidak mesra. Sisi emosional Habibie (vid. Tariq untuk Mata Najwa, 2010) terasa pekat di sini sehingga membuat buku ini lebih mirip seperti sebuah jurnal--atau bahkan diari. Oleh karenanya, penjudulannya sedikit melenceng dengan isinya yang mendetil pemikiran Habibie perihal hubungan antarpersonalnya dengan para elit politik dan cendikiawan. Di luar itu, salut dengan rangkaian usaha Habibie dalam mereformasi negara ini.
what a great book!! i luurv history :) but what i hate about history is that it can differ from one leader to another - on the other word, history will follow who is the leader of country..
after i read this book, at least i know the reformation process from Habibie's perspective, whom very close to it since he is the President after Soeharto.. I like him, but unfortunately many ppl still think he is one of Orde Lama ppl..
Kesaksian B.J Habibie sekitar proses lengsernya Presiden Soeharto dan berbagai peristiwa yang terjadi saat ia menjadi Presiden RI, dan akhirnya menjadi polemik dan menuai isu rencana kudeta. Tapi setidaknya kita tahu apa yang terjadi pada masa itu dari versi seorang B.J Habibie, diluar apa yang telah kita ketahui dari pemberitaan media massa.
Bener-bener nich orang, beda banget cara pemikirannya. Buat memecahkan masalah negara juga pake pendekatan matematis. Diluar itu gue juga salut, ditengah kesibukannya masih nyempetin bikin diary. Thus, kita bisa tau informasi kelabu seputar reformasi, kisah sang jenderal yg diberi supersemar II tp ga bisa gunain, eh sekarang mo nyalonin diri jd presiden... wuih pasti nyesel banget tuch...kali...
I bought this book after watching Kick Andy in Metro TV when BJ Habibie was the guest star in that show. He was a leader in confuse that faced his former superior in unpleasant situation. Just read this book if you want to know the way he though and he did in that situation.
cukup detail menggambarkan apa yang terjadi di era komunikasi. meskipun itu dari sudut pandang habibie sendiri. bagaimanapun, inilah salah satu orang hebat dari indonesia yang pemikiran maupun opininya perlu kita renungi.
Pertanyaan dan ketidakjelasan Tahun 1998 akhirnya dapat kita ketahui melalui buku ini. Buku ini isinya komplit banget dan terdapat para tokoh-tokoh politik yang wajib kita ketahui (biar enggak salah pilih pemimpin). Sayang jika dilewatkan.