“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” (Johanes: 1: 1)
“Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia mengatakan kepadanya: Jadilah, maka jadilah ia.” (Al-Baqarah: 2: 117)
“Amicus Plato, amicus Aristoteles, magis amica veritas (Plato adalah temanku, juga Aristoteles, tetapi sihir adalah teman yang lebih baik dari keduanya).” (Isaac Newton, Quaestiones Quaedam Philosophicae, 1661)
“Dan tanggung jawab besarlah ada pada kita. Karena kita diberi anugerah untuk mencicipi kuasa yang menciptakan alam ini. Kepada kitalah terbebani tugas untuk meneruskan karya agung Sang Pencipta.” (Kredo San Sebastian)
Dunia Sihir telah menua dan terus dirundung krisis. Melalui sebuah ramalan, Dewan Sihir Tertinggi di Shangri-La, sebuah kota rahasia di negeri Tibet yang menjadi ibu kota Dunia Sihir, mengetahui bahwa krisis itu bakal dituntaskan oleh anak-anak usia 13 tahun dalam waktu 13 minggu. Francine Masissou adalah anak paling berbakat dari tujuh anak multietnis yang terpilih melalui ramalan itu. Malangnya, menjelang dia dijemput menuju Shangri-La, orangtuanya menjadi korban pembunuhan politik di negerinya. Bersama enam teman barunya, dia kemudian memasuki sebuah dunia baru, mempelajari ilmu sihir, geometri, dan angka-angka, guna mempersiapkan diri menghadapi para penyihir jahat yang berniat menghancurkan Shangri-La. Dan dia hanya punya waktu 13 minggu!
Dalam pada itu, kaum Penghisap Darah, yang dipimpin seorang keturunan Vlad Dracul, telah berhasil menaklukkan kawanan Manusia Serigala. Pertikaian dunia sihir dengan Manusia Serigala tengah memuncak. Pertikaian yang nyaris setua dunia sihir ini mengancam menenggelamkan Shangri-La dalam kubangan darah. Mereka semua menanti kesempatan dalam kegelapan.
Francine memanggul harapan banyak orang atas keselamatan Shangri-La. Sementara dia masih menghadapi trauma atas kematian orangtuanya, kecemburuan teman-temannya yang menganggap dirinya diistimewakan, serta intrik-intrik politik di Dunia Sihir. Para musuh pun berusaha menyingkirkannya sejak ramalan besar itu tersiar. Rencana demi rencana digulirkan. Dan huru-hara pun tak terhindarkan!
Kekuatan buku ini ada di tiga hal: tokoh-tokohnya yang multi benua dan multi etnis, penggambaran settingnya yang detail, dan sistem sihirnya yang rapi. Mari kita bahas kekuatan ini satu-persatu.
Kayaknya udah banyak yang bilang kalau tokoh-tokoh buku ini memang multi benua dan multi etnis. Mulai dari Afrika, Amerika, Asia, sampai Eropa. Sayang Australia nggak ada. Masing-masing benua ini pun terwakili daerahnya di buku ini. Ada tokoh dari Asia Timur, Asia Tengah, Timur Tengah, dan seterusnya. Sangat politically-correct dah. Anehnya tokoh Indonesia nya malah nggak ada. Entah ini karena pengarang nggak mau dituduh kelewat nasionalis (buku Indonesia mesti ada tokoh Indonesia nya!) atau memang nggak ada penyihir Indonesia yang cukup kuat sehingga layak disebut di buku ini hahaha.
Tokoh-tokoh di buku ini sangat banyak. Sebut saja tujuh Perantas dan tujuh anak magangnya. Belum ditambah Nischal, Jane, para Dewan Tertinggi Shangri-La, dan seterusnya. Penulis memang berhasil memberikan karakterisasi yang cukup unik untuk setiap tokohnya sehingga mereka berhasil dibedakan. Sayangnya karakterisasi ini memang hanya kulit luarnya saja. Bahkan tokoh-tokoh utamanya pun jadi kurang tergali karakternya. Tapi secara keseluruhan penulis sudah berhasil membangun karakterisasi ini dengan cukup baik.
Ada satu hal yang kuprotes soal karakterisasi ini. Di akhir-akhir cerita John Stanton, si Perantas paling hebat dan guru Francine, digambarkan membanting-banting kaki karena kesal. Penggambaran ini membuat selera bacaku terjun bebas ke titik minus. Ayolah, sepanjang cerita John digambarkan sebagai sosok pria yang cool, hebat, tenang, berkepala dingin namun sanggup mengambil keputusan cepat di tengah sebuah pertarungan. Lalu dia banting-banting kaki karena kesal? Image-nya langsung hancur berantakan jadi remaja alay dan emosional. Masih banyak cara lain untuk menggambarkan kekesalan seseorang, kali. Makian "Sial" nya saja sebenernya udah cukup, nggak perlu dibuat hiperbolik dengan banting-banting kaki segala.
Kedua, penggambaran settingnya sangat detail. Mulai dari kamar Francine di N'djamena, lobi penginapan Nischal Agarwal di Tibet, sampai istana pualam putih di Shangri-La. Juga makanan khas, transportasi khas, dan seterusnya. Hal ini menunjukkan kalau penulis betul-betul sudah melakukan riset yang matang, selain karena penulis betul-betul sudah pergi ke salah satu tempat tersebut (tertulis di akhir buku).
Sayangnya masih ada sedikit kekurangan dalam penggambaran ini. Lobi penginapan Nischal memang digambarkan dengan detil, tapi sama sekali nggak disebutkan penerangan di tempat itu pakai apa, padahal setting nya sedang malam hari. Pakai lilin? Lampu minyak? Sihir? Jadinya aku membayangkan lobi itu dalam keadaan siang hari, yang jelas-jelas nggak match sama settingnya yang saat itu digambarkan sedang malam hari.
Kekuatan ketiga terletak pada sistem sihir di Shangri-La yang penulis susun dengan baik. Ada tiga level mantra, yang antara mantra level satu, dua, dan tiganya memiliki nama sama namun ada akhiran atau awalan yang sama (contohnya Thunrazkhagjia-Thunrazkhrengaz-Thunrazstakhala). Di atas itu pun masih ada sihir tingkat empat dan lima yang tidak sembarang orang bisa menguasainya. Sebenarnya sistem seperti ini sudah sering dipakai di JRPG (uhuk-dengan penamaan yang lebih simpel-uhuk) tapi oke lah. Masih bisa kuterima.
Kekurangan buku ini ada beberapa. Yang pertama adalah masih ada beberapa kesalahan penulisan. Sinar matahari digambarkan menembus tirai di kamar Francine, padahal saat itu pukul 03.45 pagi (hal. 25). Awalnya kupikir ini karena malam dan siang di N'djamena memang beda dengan di Indonesia (bisa saja matahari sudah terbit jam segitu di sana) tapi di penceritaan seterusnya digambarkan kalau kamar Francine itu gelap.
Hal. 81: "Titik putih itu tampak seperti sebuah tetes darah yang segar dan mengundang di tengah padang yang putih kemilau..." --> titik merah kali seharusnya.
Hal. 317, Master Aleksey digambarkan sudah menarik keluar barsomnya. Tapi beberapa paragraf berikutnya ia digambarkan menarik keluar lagi barsomnya. Sempet disimpen dulu barsomnya, makanya bisa ditarik keluar lagi, atau gimana nih?
Kekurangan lainnya adalah pertempuran akhir di buku ini cenderung datar dan kelewat cepat selesainya. Baru adu beberapa mantra sihir, eh udah kalah. Rasanya nggak seimbang aja ama semua build-up yang sudah disusun sepanjang 3/4 cerita.
Dan ending ceritanya!
Lalu di buku ini ada adegan Danny memberi minum ramuan pada Tara yang sedang pingsan (hal 452-453). Ayolah, orang-orang dan para penulis! Orang pingsan itu sama sekali nggak boleh dikasih minuman apa pun! Coba tolong baca prinsip-prinsip dasar Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan!
Secara keseluruhan, kisah dalam buku ini sudah digambarkan dengan sangat baik, rapi, dan detil. Masih jarang lho ada penulis fantasi Indonesia yang bisa seperti ini. Sayang tone ceritanya agak datar, dan endingnya kurang diengkapi dengan penjelasan yang memuaskan.
Daya yang ada di pundakku, bangkitlah cacing putih yang ada di tulang belakangku, bangkitlah sang puter putih yang ada di mata kaki, bangkitlah sang jati putih yang ada di telapak kaki, bangkitlah aku kuat dan perkasa mendapat tenaga dari Allah Laillah Haillalahtak Muhammadurasullulah
Mantra Menambah Kekuatan dari Buku Mantra Orang Jawa oleh Supardi Djoko Damono
Kalian percaya sihir? Frencine tidak pada awalnya hingga suatu saat ia mengalami kejadian aneh dalam kehidupannya.
-------- -------- --------
Paragraf mengenai perantas yang menggunakan t-shirt gambar seorang penyihir remaja berkaca mata bundar berjubah hitam dengan sebatang tongkat pendek berdiri di depan Downing Street no 10 bertuliskan Prime Minister of Magic menunjukan walau bagaimana penulis mengagumi tokoh tersebut hingga memberikan sebuat kalimat khusus.
Sedangkan paragraf mengenai Hikoza, Si Pedang Tujuh Bintang segera mengingatkan saya pada Mas Yudhi Herwibowo penulis kisah J-novel dari Solo. Bagian ini menunjukan keaneragaman bacaan sang penulis.
Penulis juga beberapa kali menggunakan kata "meluruk" Maafkan pengetahuan bahasa saya yang minim, tapi sepertinya kata tersebut masih jarang digunakan. Saya mencoba mencari di KKBI kok malah mumet, duh sepertinya saya kurang konsentrasi nih.
petualangan anak 13 tahun dengan kekuatan sihir yang sangat besar. sejujurnya dipertengahan udah mulai bosen karna terlalu banyak penjelasan tentang sihirnya. pertarungan sesungguhnya malah cuma 1-3 bab(?) dan kurang klimaks. tapi ternyata emang ada lanjutan bukunya jadi wajar aja kalo ngegantung. penggambaran sangat detail, cuma kalo aku pribadi ga begitu merhatiin, justru ada bbrp penjelasan yg ke skip karna saking detailnya. karakternya bagus, sesuai sm orang dewasa, anak" juga. jadi pas karakternya ngelakuin sesuatu, aku yg kek "ohiya wajar sih soalnya masih kecil" gitu-gitu hohoho
This entire review has been hidden because of spoilers.
Secara bahasa lebih "memper" ke bahasa terjemahan. Ada beberapa kata baru yang baru saya kenal seperti: perantas, barsom, dll. Ada beberapa typo yang saya catat di cellphone saya yang mungkin kalau tak terlupakan akan saya kirim ke Penerbit Dolphin.
Basically yang bikin saya suka cerita ini adalah karena tokoh utamanya - Francine Masissou - adalah seorang gadis remaja kulit hitam montok yang secara fisik tidak bisa dibilang sempurna. Bahkan dibanding Tara, salah satu tokoh pembantu dia kalah keren. Tapi jangan salah tentu si Francine ini menang di kesaktian dan kecepatan berpikir dong...
Yang bikin lebih seneng lagi adalah tokoh John Stanton sang guru buat Francine. Dalam bayangan saya kok dia keren ya... Bule yang nggak tingg-tinggi banget tapi tetap sedap dipandang mata hihihi...
Segitu dulu deh... Kalian semua mesti baca deh ini buku...
akhiirrnyaa selesai juga dan udah gak penasaran lagi :) terlalu banyak deh kalo mau ditulis pokoknya 1 hal deeh kereeenn,tapi masih penasaran sama tetua putih dan tetua hitam itu siapa??