Simfoni I yang terhimpun dalam kumpulan sajak ini pernah terbit sebagai "Simphoni" pada tahun 1957, dan kemudian mengalami cetak ulang pada penerbit Pustaka Jaya tahun 1971 dan 1975.
Simfoni II merupakan kelanjutannya, yang baru selesai ditulis dalam dua tahun terakhir ini. Dalam gabungan dua kumpulan sajak ini Simfoni I menjadi pengantar Simfoni II.
Subagio Sastrowardoyo dilahirkan di Madiun (Jawa Timur) tanggal 1 Februari 1924. Dalam sastra Indonesia Subagio Sastrowardoyo lebih dikenal sebagai penyair meskipun tulisannya tidak terbatas pada puisi.
Nama Subagio Sastrowardoyo dicatat pertama kali dalam peta perpuisian Indonesia ketika kumpulan puisinya Simphoni terbit tahun 1957 di Yogyakarta.Ia ditulis oleh seorang yang tidak memberi aksentuasi pada gerak, pada suara keras, atau kesibukan di luar dirinya.
Ia justru suatu perlawanan terhadap gerak, suara keras, serta kesibukan di luar sebab Subagio Sastrowardoyo memilih diam dan memenangkan diam.
Subagio tidak saja dikenal sebagai penyair, tetapi sekaligus sebagai esais, kritikus sastra, dan cerpenis. Ajip Rosidi yang menggolongkannya ke dalam pengarang periode 1953—1961 menyatakan bahwa selain sebagai penyair, Subagio juga penting dengan prosa dan esai-esainya. Ia meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 18 Juli 1996 dalam usia 72 tahun.
Waktu kemaren ke TIM inginnya mencari buku Pak SS yang Dan Kematian Semakin Akrab: Pilihan Sajak malah nemunya masih buku yang ini. Tapi toh saya pulangnya kembali baca buku ini. Masih mengalami hal yang sama dengan perasaan yang dibangun dalam puisi Sajak dibawah ini. Dibaca lagi ketika membeli buku tak bisa dibedakan antara kebutuhan dan obsesivitas.
Membaca sajak ini membuat saya lebih mikir kalo beli buku. Tapi sajak ini bukan mantra penolak buku.
SAJAK
Oleh : Subagyo Sastrowardoyo
Apakah arti sajak ini Kalau anak semalam batuk-batuk, bau vicks dan kayuputih melekat di kelambu. Kalau istri terus mengeluh tentang kurang tidur, tentang gajiku yang tekor buat bayar dokter, bujang dan makan sehari. Kalau terbayang pantalon sudah sebulan sobek tak terjahit. Apakah arti sajak ini Kalau saban malam aku lama terbangun: hidup ini makin mengikat dan mengurung. Apakah arti sajak ini: Piaraan anggerek tricolor di rumah atau pelarian kecut ke hari akhir?
Ah, sajak ini, mengingatkan aku kepada langit dan mega. Sajak ini mengingatkan kepada kisah dan keabadian. Sajak ini melupakan aku kepada pisau dan tali. Sajak ini melupakan kepada bunuh diri.
Saban beli buku, selalu ingat sajakmu yang satu ini Pak SS. Saban beli buku saya tahu kenapa Tuhan melahirkan saya melalui kedua orang tua itu. Sabar keduanya semoga terbayar.
Terbayar hingga akhirnya petualang ini tiba di "Setasion" lama yang menelurkan rindu akan surga. Seperti rindumu pada 60 tahun lalu Pak SS.
Setasion
(Subagijo Sastrowardojo)
Adakah surga seperti setasion ini tempat kereta lelah berhenti dengan tulang besi-besi bersilang dengan muka penumpang gilap berkeringat dan debu arang mengendap. Adakah gerimis itu di djendela dan puntung rokok mengepul. Dan berita politik dari koran dengan inflasi, kelaparan dan bunuh diri. Nabi, aku terlalu sajang kepada petualangan ini di mana hati mendjadi botjah lagi orang asing mendjadi sobat dan gadis alim di sudut mendjadi iseng karena resah mengharap. Adakah di sorga kasih dan derita ini dengan senang sebentar mendjelang. Nabi, aku ingin masuk ke sorga.
Di buku inilah, aku pada akhirnya menyadari satu unsur penting yang harus dimiliki setiap penyair: Kredo.
Nada Awal Oleh : Subagyo Sastrowardoyo
Tugasku hanya menterjemah gerak daun yang tergantung di ranting yang letih. Rahasia membutuhkan kata yang terucap di puncak sepi. Ketika daun jatuh takada titik darah. tapi di ruang kelam ada yang merasa kehilangan dan mengaduh pedih
Seolah aku menemukan kesadaran puitik yang selama ini aku idam-idamkan. Sekaligus menjawab balik kata-kata Vermouth, "Secret makes woman woman" itu. Tetapi pengucapan di puncak sepi, adalah jawaban atas rahasia-rahasia yang setiap orang miliki. Termasuk rahasiaku, atau bahkan rahasia Tuhan.
Subagio Sastrowardoyo yang muncul pada tahun 1950-an, puisi-puisinya sempat menarik perhatian banyak pengamat. Puisi-puisinya dinilai berani menggugat hakikat hidup dan sikap keagamaan, yang kemudian banyak dihubungkan orang dengan filsafat eksistensialisme.
Tapi dalam suratnya kepada H.B. Jassin yang merupakan kritik atas kritik, Subagio terang-terangan menolak anggapan tersebut: “Di dalam dunia sastra aku tak mau ikut-ikutan mengulang-ulang pandangan filsafat yang tidak menarik lagi bagiku, baik yang Sartreaans, karena absurditas yang terlalu palsu romantis, maupun yang Nietzcheans, karena cita-cita Uebermensch-nya terlalu mengingatkan aku pada pada bayangan cita-cita dan sikap hidup anak puber. Aku bukan penganut buta suatu ajaran filsafat atau dogma agama. Aku mau dengan persediaan pengalaman dan studi mengisi dan membentuk diriku mencapai kesadaran yang setinggi-tingginya tentang hidup ini dan tentang manusia. Dan aku beranggapan, bahwa kebenaran yang hakiki hanya dapat disorot dengan matahari, dengan menggali lebih dalam ke dalam bawah sadar”. [Selengkapnya]
Sementara pada diriku, Nada Awal dan Subagio membuatku kembali mengingat masa-masa awal menulis puisi. Tidak ada tujuan lain selain untuk menyampaikan perasaan. Ketulusan. Berusaha menihilkan posisi "aku" di hadapan objek. Inilah sepertinya fungsi puisi, membuang ego manusia. Juga perasaan ingin bertanya, rasa ingin tahu yang lekat pada diriku. Kepedulian terhadap hal-hal yang terjadi di sekitarku.
Kalau aku pergi ke luar negeri, dik karena hawa di sini sudah pengap oleh pikiran-pikiran beku.
Hidup di negeri ini seperti di dalam kampung di mana setiap orang ingin bikin peraturan mengenai lalu lintas di gang, jaga malam dan daftar diri di kemantren.
Di mana setiap orang ingin bersuara dan berbincang tentang susila, politik dan agama seperti soal-soal yang dikuasai.
Di mana setiap orang ingin jadi hakim dan mengeroyok keluarga berdansa, orang asing dan borjuis yang menyendiri.
Di mana tukang jamu disambut dengan hangat, dengan perhatian dan tawanya. Di mana ocehan di jalan lebih berharga dari renungan tenang di kamar.
Di mana curiga lebih mendalam dari cinta dan percaya.
Kalau aku pergi ke luar negeri, dik Karena aku ingin merdeka dan menemukan diri.
salah satu buku kumpulan puisi dan juga penyair yg berpengaruh pada masanya bahkan sampai saat ini. Bacaan wajib untuk siapapun (apalagi calon penyair, buku ini @ referensi) yang tidak hanya menyukai kata2 indah, tapi juga ingin mempelajari sesuatu dari padanya.
ada beberapa hal yg menjadi topik dalam album sajak ini: kesepian & kehampaan, penderitaan (yg bersifat personal maupun sosial), perempuan, perbuatan dosa, ketimpangan sosial, dan kematian. tapi ada satu semangat yg menjiwai semuanya: usaha membuat jarak dengan Tuhan--atau malah bisa disebut sebagai gugatan dan perlawanan.
artinya, saya kira, pak subagyo bukan termasuk golongan yang ingin menolak keberadaan Tuhan. justru pemilihan kata, penggunaan metafora, dan penyusunan analogi dalam sajak-sajaknya menunjukkan suatu kesadaran yg mendalam akan ketuhanan. hanya saja, barangkali, beliau merasa tidak/belum puas atas "cara kerja" Tuhan.
"Tuhan, Tuhanku, mengapa kami kau terlantarkan?" gugat beliau dalam salah satu sajaknya.
bisa juga kita tafsirkan bahwa sebenarnya itu semua adalah kritik pak subagyo kepada kaum beragama--yg mengaku sebagai wakil tuhan, percaya pahala & dosa--tapi membiarkan manusia lain menderita, bahkan justru menjadi penyebabnya.
atau anda boleh curiga, jangan-jangan saking perhatiannya pada penderitaan manusia dan kerusakan tatanan dunia, pak subagyo sebenarnya hanya lupa bersyukur. tapi yg jelas album sajak ini memang memberi kesan muram & murung. sangat cocok dibaca oleh mereka yg sedang menikmati dunia & bergembira agar supaya heuheu~
Puisi yang mengendap dalam benak saya berjudul "Simfoni". Dalam puisi itu Subagio Sastrowardoyo mengutip ucapan Beethoven. "Saya tidak bermain untuk babi-babi".
Saya bilang, "Anjing! Bagus betul kutipannya..."
Dari situ saya mencoba baca puisi Subagio yang lainnya.
Salah satu puisinya lagi yang saya suka dari buku ini, "Adam dan Firdaus". Dalam puisi ini, misalnya, Subagio menulis:
Ah, perempuan! Meski beratus kali kuhancurkan tubuhmu di ranjang tapi kesepian ini... kesepian ini terus berulang.
Sajak Subagio Sastrowardoyo memiliki keindahan yang tidak begitu muluk ia sembunyikan dalam lema-lema yang cantik dan di saat yang bersamaan lema-lema rangkaiannya tidak terbatas pada lema-lema yang kita gunakan sehari-hari.
Tuhan telah meniupkan nafasnya kedalam hidung dan paruku. Dan aku berdiri sebagai adam di simpang sungai dua bertemu.
Aku telah mengaca diri ke dalam air berkilau. Tiba aku terbangun dari banyanganku beku: Aku ini mahkluk perkasa dengan dada berbulu.
Aku telanjangkan perut dan berteriak: "Beri aku perempuan!" dan suaraku pecah [ada tebing-tebing tak berhuni.
Dan malam Tuhan mematahkan tulang dari igaku kering dan menghembbus napas di bibir berembun. Dan subuh aku habiskan sepiku pada tubuh bernapsu.
Ah, perempuan! Sudah beratus kali kuhancurkan badanmu di ranjang Tetapi kesepian ini, kesepian ini datang berulang
***
Sajak Tak Pernah Mati
Sajak menyuarakan puncak derita yang pernah ditangggung oleh manusia. Injak, robek atau bakarlah sajak, jerit sakit masih menyayat malam sunyi.
Seperti berabad lalu anak Tuhan Sebelum ajalnya di salib berteriak : :Allah, Allah, mengapa daku kau terlantarkan!" keluh itu terus berkumandang sampai kini.
Kalau aku mampus, tangisku yang menyeruak dari hari akan terdengar abadi dalam sajakku yang tak pernah mati.
Kadang saya menganggap membaca karya-karya sastra Indonesia ini sebagai sebuah PR. Dan berhasil membaca satu kumpulan sajak ini, bukan hanya saya berkenalan dengan sastrawan yang nama-nya masih 'baru' untuk saya tetapi PR saya berkurang. Well, ini semacam PR yang menyenangkan. Meski saya masih sangat jauh dari menikmati karya sastra (dan menanggapinya) dengan seharusnya. See, I'm learning.
Puisi yang berjudul "Senja" mengingatkan saya pada salah satu quote dari buku The Little Prince "you see, one loves the sunset when one is so sad."
"Senja mengingatkan aku kepada perpisahan yang diulur-ulur dan kepada keraguan antara kehadiran dan kemusnahan. Aku terus menghindari senja. Senja yang membawa sedih selalu."
Ah, Subagio, kita memang manusia perasa yang lekas terharu.