Jump to ratings and reviews
Rate this book

Dan Kematian Makin Akrab: Pilihan Sajak

Rate this book

152 pages, Paperback

First published January 1, 1995

11 people are currently reading
298 people want to read

About the author

Subagio Sastrowardoyo

19 books37 followers
Subagio Sastrowardoyo dilahirkan di Madiun (Jawa Timur) tanggal 1 Februari 1924. Dalam sastra Indonesia Subagio Sastrowardoyo lebih dikenal sebagai penyair meskipun tulisannya tidak terbatas pada puisi.

Nama Subagio Sastrowardoyo dicatat pertama kali dalam peta perpuisian
Indonesia ketika kumpulan puisinya Simphoni terbit tahun 1957 di Yogyakarta.Ia ditulis oleh seorang yang tidak memberi aksentuasi pada gerak, pada suara keras, atau kesibukan di luar dirinya.

Ia justru suatu perlawanan terhadap gerak, suara keras, serta kesibukan
di luar sebab Subagio Sastrowardoyo memilih diam dan memenangkan diam.

Subagio tidak saja dikenal sebagai penyair, tetapi sekaligus sebagai esais, kritikus sastra, dan cerpenis.
Ajip Rosidi yang menggolongkannya ke dalam pengarang periode 1953—1961
menyatakan bahwa selain sebagai penyair, Subagio juga penting dengan
prosa dan esai-esainya. Ia meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 18 Juli 1996 dalam usia 72 tahun.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
70 (49%)
4 stars
52 (36%)
3 stars
10 (7%)
2 stars
7 (4%)
1 star
3 (2%)
Displaying 1 - 27 of 27 reviews
Profile Image for Arief Bakhtiar D..
134 reviews82 followers
October 30, 2020
AKRAB

“Nabi, aku ingin masuk ke sorga.”
—Subagio Sastrowardoyo, Setasion, 1957

SEORANG jenderal yang hidup dalam puisi memerintahkan pasukannya untuk menyerbu sebuah dusun di lembah yang terlihat dari kemah. Jenderal itu tak peduli hari telah gelap.

Tanpa perlu menabuh genderang perang ia menyerang ke lembah itu.

Lu Shun, nama jenderal itu, membutuhkan “kebengisan untuk menulis puisi” yang tak selesai-selesai.

Ia membutuhkan ayunan pedang dan darah mengalir untuk “menulis tentang langit dan mega”, “pohon bambu yang merenung di telaga”, dan tentang “burung bangau putih” yang mengepakkan sayapnya perlahan di “alam yang sunyi”.

Pada sajak Jenderal Lu Shun itu Subagio Sastrowardoyo menempatkan ilham sebagai kemewahan yang mahal harganya bagi seorang yang ingin menghasilkan puisi—apakah itu puisi dua baris atau empat baris. Sampai-sampai ada kontradiksi di sana: seorang jenderal, manusia ksatria dengan pangkat yang tinggi dan terhormat dalam keprajuritan, menjadi tak peduli betul meski disamakan dengan “perampok dan pengecut” karena menyerang musuh diam-diam; semua demi urusan puisi.

Barangkali menulis puisi, apalagi puisi yang bagus, bukan hal yang mudah. Tapi alam adalah kitab terbuka. Eksperimen tafsir yang selalu terbuka di alam memberikan gairah pada diri penyair untuk terus melihat pertanda-pertanda. Subagio Sastrowardoyo dalam tulisan “Catatan Tentang Simphoni” yang dimuat di Mimbar Indonesia tahun 1957 pernah berbicara tentang sikap seorang arkeolog dalam diri penyair. Baginya membuat puisi adalah menyusun “batu berdebu yang berantakan menjadi candi yang utuh dan keramat”. Dengan itu seorang penyair “melihat pada bangun” dan “makna perlambang” sekaligus. Kalau kita baca puisi-puisi Subagio, kita bisa jadi tak tahu persis makna sajak-sajaknya, tapi kita tahu gagasannya dalam puisi penuh beban filsafat. Pada sajak Burung dalam kumpulan Simfoni, misalnya, kita ambil beberapa bait:

Burung
masih dekat dengan malaikat
karena bersayap
dan berbisik dengan kepak
dalam basa
asing tertangkap.


Burung, bagi indera seorang penyair seperti Subagio Sastrowardoyo, bukan hadir sebagai makhluk hidup biasa. Burung memberikan kesan yang bersatu dengan imajinasi, dan kita termangu: kehadirannya, yang terasa dalam baris-baris sajak di atas, seperti kehadiran malaikat. Ketika kita mendengarkan kepakan sayapnya yang seolah berbisik, atau angin yang mendesir “di mula dan akhir hari” di bumi, saat itu “hidup jadi berarti dan keramat”.

Saya kira di sana ada semacam pergulatan penyair dengan apa yang disebut ilham, yang menghasilkan eksperiman filsafat tertentu dalam puisi. Ada pertemuan antara indera penyair dan alam mengenai apa yang “berarti dan keramat”, meski dalam puisi, seperti yang dikatakannya sendiri, ”selebihnya kitalah/ yang berurusan dengan makna”.

●●●

Pada tahun 1957, Subagio Sastrowardoyo menerbitkan kumpulan puisi Simfoni yang salah satunya berisi sajak Burung di atas. Tiga belas tahun kemudian, tahun 1970, ia menerbitkan Daerah Perbatasan. Yang menarik dalam beberapa puisinya adalah tema kematian yang didekati secara filsafat, misalnya, puisi Dan Kematian Makin Akrab (yang nantinya menjadi judul buku kumpulan puisi-puisi terbaiknya). Kutipannya:

Sekali waktu bocah
cilik tak lagi
sedih karena layang-layangnya
robek atau hilang
— Lihat, bu, aku tak menangis
sebab aku bisa terbang sendiri
dengan sayap
ke langit —


Bahasanya punya kesan ceria dan “akrab” sebagaimana kata yang menjadi judulnya. Nyawa yang melayang sebagai penggambaran mati disituasikan sama dengan potret khas kehidupan bocah cilik bermain dengan layang-layang (anak kecil mana yang sedih saat bermain layang-layang?). Kalau kita percaya terhadap proses kematian seperti yang dibayangkan secara umum, tak ada kesedihan waktu nyawa itu keluar dari jasad dan barangkali melayang-layang seperti layang-layang. Malah menakjubkan, sampai-sampai bocah cilik itu berkata: “aku bisa terbang sendiri”.

Dalam puisinya yang lain, Di Ujung Ranjang, kematian seolah-olah bukan beban. Kematian hanya “tidur lebih lelap” ketimbang tidur yang kita lakukan sehari-hari. Kematian adalah tidur yang ditemani “bidadari/ menyanyi nina-bobo” di tepian ranjang.

Pembicaraan mengenai kematian dengan filosofi serupa masih diteruskan dalam kumpulan sajak selanjutnya. Pada kumpulan puisi Simfoni Dua yang terbit tahun 1989, Subagio Sastrowardoyo menulis sajak Tamu: tentang malaikat maut pencabut nyawa yang datang menyaru sebagai “lelaki yang mengetuk pintu pagi hari”, yang tiba-tiba saja “sudah duduk di ruang tamu”, yang lalu berkata pendek dan pasti mengenai kehadirannya: “Aku mau menjemput”. Sementara pada sajak Pertanyaan Bocah tahun 1990-an, kematian seorang anak disetarakan dengan api yang padam, jam yang rusak mesinnya, dan kucing yang mati lemas: kita hanya harus menerimanya dengan sikap lapang dada.

Jika kita melakukan sedikit perbandingan, berbeda dengan Chairil Anwar dalam puisi Yang Terampas dan Yang Putus atau Nisan yang tegang dan kejang, Subagio Sastrowardoyo mendekati kematian dengan rileks, tanpa memekau, bahkan, menurut Bakdi Soemanto, cenderung main-main. Tak perlu ada gerutu di situ. Pada puisi Variasi Pada Tema Maut, Subagio Sastrowardoyo menunjukkan kecenderungannya untuk main-main dengan kematian: “yang menakutkan hanya air/ —bukan kematian”.

Dalam ceramah berjudul Mengapa Saya Menulis Sajak yang dibacakan di Melbourne, Subagio Sastrowardoyo menjelaskan bahwa puisi-puisi semacam itu ditulis untuk “mengatasi ketakutan” dari mati, yang muncul justru karena manusia ingin abadi dan kekal. Ia, sebagai seorang penyair, menawarkan cara pandang lain tentang mati yang ditakuti.

●●●

Dengan kontras pula ia menghadirkan 17 baris puisi Kayal Arjuna:

tanpa sekali
melangkah ke medan Kuru
hanya dibayangkan saja rupa lawannya
di dalam angan-angan dan ditusuknya dengan pedang
jantung dan perutnya
sehingga keluar darah dan ususnya
dan terang terdengar teriak aduh
dan rubuhnya ke tanah
laki-laki itu terbunuh dari jauh
— bagaimana melepaskan dendam berahi?
lihat, ditegangkannya pikirannya
di kening terkenang kekasih
mukanya bersimbah peluh
tubuhnya menggeliat dan mengerang
dan dari alat jantannya
mengalir air mani
seperti di dalam mimpi


17 baris itu menghadirkan kontras dengan adanya dua peristiwa imajiner yang berbeda dalam waktu yang seketika: Arjuna yang membunuh “tanpa sekali/ melangkah ke medan Kuru” dan Arjuna yang membayangkan kemolekan dan kecantikan kekasihnya. Yang sadis bergabung dengan yang erotis.

Saya kira Subagio Sastrowardoyo menampilkan yang erotis dan yang sadis dalam beberapa sajak yang lain. Khayalan erotis muncul dalam Lima Sajak Tentang Perempuan, ketika seorang perempuan “berdiri telanjang” di hadapan seorang lelaki, dan mereka bercinta. Tetapi yang sadis adalah bahwa perempuan itu bercinta dengan membayangkan “lelaki lain yang lebih sempurna” dan menyimpan surat rahasia yang tak boleh dibaca—barangkali surat dari “lelaki lain yang lebih sempurna”. Sajak lain, Asmaradana, yang mengambil kisah Ramayana, menceritakan perjalanan Sita yang berakhir sadis di api pembakaran. Tapi sekaligus ada yang erotis: Sita menerima pembakaran itu, karena ia memang telah menyerahkan tubuhnya kepada Rahwana dengan “cinta” dan “berahi”—bukan keterpaksaan.

Pokok lain yang rupanya menggelisahkan Subagio Sastrowardoyo adalah soal kehidupan manusia yang muram. Puisi Kisah Kasih, misalnya, bercerita tentang seorang lelaki yang sedih mengetahui kekasihnya yang enam belas tahun sudah mengikuti jejak ibunya membawa lelaki berganti-ganti ke kamarnya. Dalam Doa Seorang WTS, seorang perempuan mengaku “lelaki yang sempat tidur sama saya./ Bisa saya renteng sepanjang jalan dari Solo ke Yogya”, sementara ia memiliki suami. Kedua puisi itu punya semangat manusia yang sama: saya menjual tubuh ini, pemberian Tuhan ini, sekedar untuk memenuhi kehidupan yang tak seberapa.

Puisi muram juga terasa dalam sajak Dunia Kini Tidak Peka yang mengenang seorang buruh lelaki yang bunuh diri. Lelaki itu kalah bertubi-tubi baik dalam hidup dan mati: saat hidup dibilang istri “tak becus cari duit”, saat mati dibilang istri “laki tak bertanggung jawab”. Juga anaknya menghapus nama bapaknya di rapot karena malu punya ayah yang mati bunuh diri. Dalam Paskah di Kentucky Fried Chicken, Subagio membayangkan suatu malam Paskah di KFC di hadapan ayam goreng yang sedap dan, agak jauh di muka restoran, di hadapan “bayi/ menangis di gendongan — karena lapar/ dan perempuan kurus mengorek sisa roti/ di tong sampah”. Dalam Pidato di Kubur Orang, Subagio Sastrowardoyo menempatkan diri sebagai saksi suatu peristiwa ngeri: orang ini, yang telah berpeluk di kubur, mengalami penyiksaan berganti-ganti: gerombolan yang menjarah rumahnya, dengan sambil menghajarnya, telah menculik istri dan memperkosa anaknya, yang diakhiri dengan menembak kepala orang dalam kubur itu.

Sama seperti pandangan Subagio mengenai kematian, sajak yang muram itu agaknya bukan untuk disesali. Sang penyair menjadi saksi peristiwa-peristiwa muram itu diliputi suasana yang tenang. Bakdi Soemanto menyebut puisi-puisi muram dalam karangan Subagio sebagai “keprihatinan yang tidak cengeng”. Dosa-dosa pelacur barangkali akan terhapus oleh “api neraka/yang menyala sepanjang hayat kita/ yang akan sempat menghanguskan semua noda/ sehingga kita murni kembali/ telanjang sebagai bayi”.

Dan dalam himpitan kebutuhan yang memerosokkan manusia dalam dosa, selalu ada doa yang selalu terucap dari hati yang lemah: “Tuhan, jangan harapkan saya sempurna".

Dan bukankah dalam sesaknya nasib, selalu ada doa yang kita panjatkan buat menghibur kematian orang-orang kalah, bahwa mereka barangkali “terlalu baik buat dunia ini”?
Profile Image for Nanto.
702 reviews102 followers
August 28, 2011
Diangkat lagi demi keinginan saya buat memiliki buku ini. Buku ini sama nilainya dengan Hujan Bulan Juninya Sapardi Djoko Damono: kumpulan karyanya yang terbilang terbaik. Waktu kemaren ke TIM masih gagal buat didapatkan. Kemana yah biar bisa punya buku ini? thx buat yang nanti mau berbagi info.

Mana lagi pengalaman paling misterius bila bukan kematian. Dengan apa mendekatinya? Mendengar cerita mereka yang mati muda, yang mati menentang angin? Atau hanya cerita kanak-kanak hilang layang-layang terbang ke langit?

Lihat, bu, aku tak menangis
sebab aku bisa terbang sendiri
dengan sayap
ke langit -

(lengkapnya "DAN KEMATIAN MAKIN AKRAB")

Nyatanya seperti itu. Atau hanya seperti itu yang berhasil diakrabi, karena yang bercerita dan yang bertanya sudah tidak lagi duduk bersama. Kematian tetap misteri. Mungkin misteri adalah Pak SS itu sendiri. Seperti waktu ia menulis "Proklamasi", maklumatnya dibarengi dengan misteri. Sebuah maklumat membawa bersamanya "pohon ketapang", "huruf lam" dan "orang kidal" yang malah menggelitik tanda-tanya baru. Puisi yang selalu enak dibaca sambil menelisik maksud Pak SS dibalik syairnya.

PROKLAMASI

(Subagyo Sastrowardoyo)

Ketapang yang bercumbuan dengan musim
menjatuhkan daunnya di halaman candi
Aku ingin jadi pohon ketapang yang tumbuh
di muka gerbang berukiran huruf lam
yang dijaga orang kidal


Sementara saya terus bertanya, semoga "orang kidal" itu belum terbang ke langit dengan sayapnya. Agar pertanyaan ini tak berhenti pada tanda-tanya yang sempurna.

*Pemutakhiran 15 Juni 09*

Bila SDD berhasil membuat saya ngelangut dalam sajaknya, SS membuat saya ngelangut sambil dahi berkerut. Tapi ah itu tetap nikmat buat saya. Percayalah!

Namun, taukah juga kenapa sajak-sajaknya membuat dahi saya berkerut? Adalah cara mendapatkan buku ini yang belum juga kesampaian. Saya hanya berhatap akan kesampaian. Sampai suatu saat ada warta dari rekan gudrids yang mengabarkan buku ini dicetak ulang. Hadir bersama buku-buku baru lainnya. Dalam pameran buku tahun ini kah? Hingga Subagio Sastrowardoyo semakin akrab? Amin!

DAN KEMATIAN MAKIN AKRAB
(Sebuah Nyanyian Kabung)


Oleh :
Subagio Sastrowardoyo

...
Di muka pintu masih
bergantung tanda kabung
Seakan ia tak akan kembali
memang ia tak kembali
tapi ada yang mereka tak
mengerti - mengapa ia tinggal diam
waktu berpisah. bahkan tak
ada kesan kesedihan
pada muka
dan mata itu, yang terus
memandang, seakan mau bilang
dengan bangga : - Matiku muda -
Ada baiknya
mati muda dan mengikut
mereka yang gugur sebelum waktunya
Di ujung musim yang mati dulu
bukan yang dirongrong penyakit
tua, melainkan dia
yang berdiri menentang angin
di atas bukit atau dekat pantai
dimana badai mengancam nyawa.
Sebelum umur pahlawan ditanam
di gigir gunung atau di taman-taman
di kota
tempat anak-anak main
layang-layang. Di jam larut
daun ketapang makin lebat berguguran
di luar rencana
Dan kematian jadi akrab, seakan kawan berkelakar
yang mengajak
tertawa - itu bahasa
semesta yang dimengerti -
Berhadapan muka
seperti lewat kaca
bening
masih dikenal raut muka
bahkan kelihatan bekas luka
dekat kening
Ia menggapai tangan
di jari melekat cincin
- Lihat, tak ada batas
antara kita. Aku masih
terikat kepada dunia
karena janji karena kenangan
Kematian hanya selaput
gagasan yang gampang diseberangi
Tak ada yang hilang dalam
perpisahan, semua
pulih
juga angan-angan dan selera
keisengan -
Di ujung musim
dinding batas bertumbangan
dan kematian makin akrab
Sekali waktu bocah
cilik tak lagi
sedih karena layang-layangnya
robek atau hilang
-Lihat, bu, aku tak menangis
sebab aku bisa terbang sendiri
dengan sayap
ke langit -


Profile Image for Sam Haidy.
Author 4 books35 followers
November 13, 2010
Subagio Sastrowardoyo undoubtedly is the best Indonesian poem-philosopher. Most of his poems reflecting his innermost view upon essential aspects of life, written in superb words and strong arrangements of poetic devices.
Profile Image for Merenung.
29 reviews3 followers
January 12, 2022
Sensasi membaca buku ini: merinding dan takut tapi juga kagum.
Profile Image for lazycalm.
48 reviews
August 5, 2016
Manusia Pertama di Angkasa Luar
(Subagio Sastrowardoyo)

Beritakan kepada dunia
Bahwa aku telah sampai pada tepi
Darimana aku tak mungkin lagi kembali.
Aku kini melayang di tengah ruang
Di mana tak berpisah malam dan siang.
Hanya lautan yang hampa dilingkung cemerlang bintang.
Bumi telah tenggelam dan langit makin jauh mengawang.
Jagat begitu tenang. Tidak lapar
Hanya rindu kepada istri, kepada anak, kepada ibuku di
rumah.
Makin jauh, makin kasih hati kepada mereka yang berpisah.
Apa yang kukenang? Masa kanak waktu tidur dekat ibu
Dengan membawa dongeng dalam mimpi tentang bota
Dan raksasa, peri, dan bidadari. Aku teringat
Kepada buku cerita yang terlipat dalam lemari.
Aku teringat kepada bunga mawar dari Elisa
Yang terselip dalam surat yang membisikkan cintanya
kepadaku.
Yang mesra. Dia kini tentu berada di jendela
Dengan Alex dan Leo, —itu anak-anak berandal yang
kucinta—
Memandangi langit dengan sia. Hendak menangkap
Sekelumit dari pesawatku, seleret dari
Perlawatanku di langit tak berberita.
Masihkah langit mendung di bumi seperti waktu
Kutinggalkan kemarin dulu?
Apa yang kucita-cita? Tak ada lagi cita-cita
Sebab semua telah terbang bersama kereta
ruang ke jagad tak berhuni. Tetapi
ada barangkali. Berilah aku satu kata puisi
daripada seribu rumus ilmu yang penuh janji
yang menyebabkan aku terlontar kini jauh dari bumi
yang kukasih. Angkasa ini bisu. Angkasa ini sepi
Tetapi aku telah sampai pada tepi
Darimana aku tak mungkin lagi kembali.
Ciumku kepada istriku, kepada anak dan ibuku
Dan salam kepada mereka yang kepadaku mengenang
Jagat begitu dalam, jagat begitu diam.
Aku makin jauh, makin jauh
Dari bumi yang kukasih. Hati makin sepi
Makin gemuruh.



Bunda,
Jangan membiarkan aku sendiri.


[Irfan Darajat, Manusia Pertama di Angkasa Luar]

[Broadcast, Arc of Journey]



Profile Image for ade_reads.
317 reviews19 followers
April 4, 2016
"Dan Kematian Makin Akrab". Judulnya...... :'( Suka :)

Ternyata ada ya (atau mungkin saya aja yang kudet ya? memang gak terlalu suka sama puisi juga sih, hehe), puisi super canggih dari karya penulis lawas Indonesia, judulnya saja super keren :
"Manusia Pertama di Angkasa Luar"
(1961)

dari buku ini, puisi inilah yang paling saya suka, dan berikut potongan dari puisi tersebut :

... Memandangi langit dengan sia.
Hendak menangkap sekelumit dari pesawatku,
seleret dari perlawatanku di langit tak berberita.
Masihkah langit mendung seperti waktu kutinggalkan kemarin dulu?

Apa yang kucita-cita? Tak ada lagi cita-cita.
Sebab semua telah terbang bersama kereta ruang ke jagat tak berhuni.
Tetapi ada barangkali.
Berilah aku satu kata puisi daripada seribu rumus ilmu yang penuh janji
yang menyebabkan aku terlontar kini jauh dari bumi yang kukasih.

Angkasa ini bisu.
Angkasa ini sepi
Tetapi aku telah sampai pada tepi
Dari mana aku tak mungkin lagi kembali.
....
Dan salam kepada mereka yang kepadaku mengenang.
Jagat begitu dalam, jagat begitu diam.
Aku makin jauh, makin jauh
Dari bumi yang kukasih.

Hati makin sepi
Makin gemuruh
Bunda,
Jangan membiarkan aku sendiri.
Profile Image for Rido Arbain.
Author 6 books99 followers
February 18, 2025
...

Dan kematian makin akrab, seakan kawan berkelakar
yang mengajak
tertawa—itu bahasa
semesta yang dimengerti—
Berhadapan muka seperti lewat kaca
bening
Masih dikenal raut muka,
bahkan kelihatan bekas luka
dekat kening
Ia menggapai tangan
di jari melekat cincin.
—Lihat, tak ada batas
antara kita. Aku masih
terikat kepada dunia
karena janji karena kenangan
Kematian hanya selaput
gagasan yang gampang diseberangi
Tak ada yang hilang dalam
perpisahan, semua
pulih,
juga angan-angan dan selera
keisengan—
Di ujung musim
dinding batas bertumbangan
dan
kematian makin akrab.
Sekali waktu bocah
cilik tak lagi
sedih karena layang-layangnya
robek atau hilang
—Lihat, bu, aku tak menangis
sebab aku bisa terbang sendiri
dengan sayap
ke langit—
Profile Image for Moyank.
12 reviews4 followers
June 23, 2007
Setelah Chairil Anwar, dialah penyair yang aku kagumi. Beberapa puisinya telah mengusikku untuk lebih mempelajari dan mendalami pemikiran-pemikirannya, salah satu contoh: Genesis, yang menceritakan tentang penciptaan manusia.
Profile Image for Abdullah Hussaini.
Author 23 books80 followers
September 2, 2019
Begiti kental sajak2nya, begitu selamba dilafazanya dan begitu akrab si penyair dengan kematian...
48 reviews
May 5, 2025
menudaftar

DEWATASLOT merupakan situs penyedia layanan taruhan online terbaik di Asia yang menyediakan permainan terpopuler dan lengkap di kelasnya. Nikmati berbagai pilihan game seperti sportsbook, e-sport, slots, idn-live, tangkas, live casino, togel hingga tembak ikan di satu tempat.


DEWATASLOT hadir sebagai standar kualitas terbaik pilihan jutaan player yang memiliki sistem enkripsi tercepat. Didukung dengan teknologi terkini yang menghadirkan permainan bebas hambatan ataupun bug. Rasakan sensasi betting online unik, seru dan menantang lewat tampilan dan desain atrakrif. Jangan lewatkan promosi, event dan bonus menarik yang Dewataslot bagikan setiap harinya. Daftar Dewataslot sekarang.
1 review
January 20, 2019
Tak banyak buku puisi yang saya punya. Bahkan saya baca. Dengan 2 dan 3 alasan untuk itu.

Tapi andai diminta untuk menyebut 1 penyair favorit, pilihan saya akan jatuh pada Subagio Sastrowardoyo. Bukunya yang paling melekat tentu buku yang mengumpulkan buku2nya ini: Dan Kematian Makin Akrab.

Boleh jadi, buku yg memuat 100 puisi pilihan itulah yg tak akan pernah bosan dibaca berulang-ulang, meski sampai entah. Terutama untuk 2 judul ini:
1. Manusia Pertama di Angkasa Luar
2. Dan Kematian Makin Akrab

Keduanya berkisah tentang perpisahan dan kematian tanpa gelap. Syair yang seolah memyampaikan cara menikmati kematian dengan bijak.

-- Lihat, bu, aku tak menangis
sebab aku bisa terbang sendiri
dengan sayap
ke langit --

Dan memang, meski berulang kali membaca puisi itu, tak sekalipun saya melihat kesedihan di dalamnya. Yang muncul adalah kesunyian yang selalu berlipat ganda.
Profile Image for Septyawan Akbar.
111 reviews13 followers
March 12, 2020
"Nada berawal dari kecemasan ke kekecemasan.
Denting suara menelusuri hingga hilang batas semua janji, harapan, dan cinta akan kemanusiaan. Dan kematian disapa seakan teman lama"

"Nada hadir dalam riuh rendah. Di kamar sunyi, di kota yang sepi. Saat berada di titik nadir. Sajak terus bersuara"
"Ada satu sajak yang belum terbaca"
"Kesepian dapat diredam lewat satu puisi lama"
"Sastra yang baru akan terus hadir"
"A new good books make life worth living"

"Dan kata - kata terus bergulir, lepas 1/4 abad sejak nafas berakhir"
Profile Image for Trian Lesmana.
77 reviews1 follower
December 8, 2020
Kumpulan puisi pamungkas Subagio yang terbit tahun 1995—tahun ia wafat. Ia kerap dibandingkan dengan Chairil Anwar dlm menulis puisi tentang kematian. Katanya, kematian itu kawan berkelakar yang mengajak tertawa.
Profile Image for 沈沈.
738 reviews
September 8, 2021
Rumit, tetapi selalu merangsang kita untuk dapat lebih memahaminya.
Profile Image for Lisna Laela.
15 reviews
July 13, 2022
Aku personally suka banget gaya bahasa yg ditampilkan dalam buku ini, indah banget.
Profile Image for Gharonk.
53 reviews2 followers
August 8, 2007
almarhum Kakeknya dian sastro ini memang terkenal sebagai penyair kawakan. Syaa menyukai puisi puisinya tentang kematian, sangat telak kengusung kematian ke hidangan kita sehari hari. gayanya yang berbeda baik dengan sapardi, saut situmorang, terlebih dengan taufik bolehlah untuk diperbandingkan. hingga kematian benar benar menjemputnya (2002?) sosoknya sebagai penyair galau rasanya pantas untuk membuat bukunya yang ini saya koleksi
Profile Image for Puri Kencana Putri.
351 reviews43 followers
February 17, 2014
Saya ingat ketika mendiskusikan buku ini dengan mantan pacar. Mendeskripsikan kegelisahan-kegelisahan Subagio dengan keresahan-keresahannya (si mantan pacar) akan topik-topik kematian yang kian akrab ia ceritakan, saat itu. Mungkin hanya Subagio yang layak mengungkap tabir kemisteriusan kematian dalam puisinya. Nostalgia.
Profile Image for kinu triatmojo.
288 reviews3 followers
July 8, 2008
Banyak penyair yang terobsesi dengan kematian akhirnya bertemu dengan kematian itu sendiri, sebelum secara ukuran wajar, tugasnya selesai. Subagio dan Kriapur salah duanya. Dan buku Soebagio ini sudah susah dicari *fiuh* Ada yang bersedia berbagi? :D
Profile Image for Asep Sambodja.
28 reviews35 followers
October 25, 2007
Kenapa penyair baru harus membaca buku ini? Karena di dalamnya ada puisi yang sangat bagus. Judulnya "Mata Penyair".
Profile Image for Amik koofee.
7 reviews
February 13, 2009
subagio,sebuah kedewasaan..buku ini menikam dengan pelan,menggiring perlahan..dan kita menikmati saat-saat itu
Profile Image for eti.
230 reviews107 followers
July 9, 2013
#18 - 2013

...
sajak sempurna sebaiknya bisu
seperti pohon, mega dan gunung
yang hadir utuh tanpa bicara.

(salam kepada Heidegger, 103)
1 review
Want to read
February 22, 2016
i want to rading this book
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Wawan Kurn.
Author 25 books36 followers
April 5, 2017
buku ini jadi ruang yang pas untuk mempelajari perkembangan sajak dari Subagio Sastrowardoyo.
buku yang menghimpun sejumlah puisi dari beberapa buku SS sebelumnya.
Displaying 1 - 27 of 27 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.