Jump to ratings and reviews
Rate this book

Memilikimu

Rate this book
Saat memejamkan mata, aku membayangkan surga—bahagia saat dicintaimu, juga saat mencintaimu. Semuanya terasa begitu indah, terasa sempurna. Seperti cerita cinta sepanjang masa, aku bersyukur takdir membuatku jatuh cinta padamu.

Namun, semakin lama mata ini terpejam, air mata malah jatuh perlahan-lahan. Aku menangis, kini teringat setiap perih yang ditorehkan dustamu di hatiku. Tak sekali dua kali aku mencoba membuat pembenaran, menciptakan alasan bahwa kau mungkin tak bersungguh-sungguh melukaiku. Kau bahkan tak mencoba membela dirimu. Kau menundukkan kepala, membisu.

Dan kini, lihat, aku menertawakan diriku sendiri. Betapa ironisnya hidup ini, sayangku. Kau yang selalu bisa membuatku tertawa justru yang paling bisa membuatku menangis....

292 pages, Mass Market Paperback

First published November 1, 2011

15 people are currently reading
262 people want to read

About the author

Sanie B. Kuncoro

13 books85 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
43 (19%)
4 stars
53 (24%)
3 stars
78 (35%)
2 stars
36 (16%)
1 star
8 (3%)
Displaying 1 - 30 of 34 reviews
Profile Image for MY.
92 reviews14 followers
July 1, 2012
Inilah kelemahan terbesar kalo beli bukunya sebelum liat Goodreads. Saya lebih banyak kecewa daripada tidak. Nyatanya, kover dan sinopsis bukan janji yang patut dipegang. Mungkin ini terakhir kalinya saya beli buku random sebelum konsul ke Goodreads. Saya lelah terus dibodohi kover, sinopsis, dan random pages yang saya buka. ._.

Pertama kali tertarik sama buku ini dari isinya yang saya baca secara random (kebetulan dapet narasi tentang kepompong yang ditulis dengan indah) di toko buku setempat. Saya suka karena isi dan sinopsis sama-sama puitis, gak seperti novel Gagas kebanyakan yang sinopsisnya naudzubillah puitis, tapi isinya acak-acakan.
Kebetulan saya juga lagi cari bacaan karena Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas saya udah mau selesai dibaca, jadi saya putuskan untuk membeli novel ini.

Dan....saya kecewa.
Gak kecewa banget, tapi kecewa. Apa boleh buat, ekspektasi terlanjur besar, namun kenyataan tak sebanding.

Baca bab pertama berasa alurnya lambat banget. Bener-bener lambat. Bosen.
Jujur aja, saya penyuka narasi yang 'mendayu-dayu' tapi gak segininya. Dalam novel ini rasanya terlalu banyak diksi ajaib yang diletakkan tidak pada tempatnya. Seolah-olah penulisnya cuma ingin tebar pesona pada pembaca: "Eh saya bisa nulis keren loh~ Bagus kan?"
Saya berusaha 'bertahan' karena diksi ajaib itu (seburuk apa pun) tetap menambah perbendaharaan kata saya.

Saya semakin 'males' saat menemukan kalimat "That's the friends are for."
Gak tau saya yang norak atau belajar Inggris kurang bener, tapi setahu saya harusnya kalimat itu berbunyi "That's what friends are for."
Iya, sepele. Tapi dari sini saya jadi meragukan kemampuan linguistik si penulis.
Ini sih harusnya kerjaan editor yah. ._.
Terus saya juga nemu typo nama Samara ditulis Samar. Posisinya deketan pula sama kalimat Inggris itu. Bikin tambah capek.

Membaca novel ini saya seperti orang buta yang diajak untuk meraba-raba mau dibawa ke mana. (Dan demi apa pun sinopsisnya sama sekali tidak bisa dijadikan sebagai penuntun.)
Karena sampai halaman 34 (saya pribadi) belum bisa memprediksikan tujuan, ahirnya saya memutuskan untuk nekat lihat ending. Setelahnya saya baca dari belakang ke depan. Baru saya paham ceritanya.

Sebenarnya ada beberapa adegan yang bisa dipangkas. Istilahnya novel ini bisa dipadatkan. Misalnya dialog antara si 'penghubung' dengan Lembayung, (menurut saya) akan lebih apik bila diceritakan dalam narasi, bukan dialog berdua seperti itu. Selain mempercepat alur yang kurang penting, juga menghemat kertas. Hehehe...

Ada beberapa repetisi dalam satu paragraf yang mengurangi keasyikan membaca. Seperti pada halaman 9, paragraf pertama: ada pengulangan kata 'tetapi' dan struktur kedua kalimatnya serupa. Saya rasa itu bukan majas yang enak dibaca.

Soal isi.
Kok si Anom bisa nekat gitu sih? Padahal di awal kan dia udah janji. :(
(Mungkin bolong logika ini disebabkan karena saya bacanya skip-skip....tapi masa sih?)
Ya meskipun dia bilang sudah dipertimbangkan matang-matang, rasanya lelaki yang 'menyuruh istrinya menangis agar kembali ke pelukan' itu bukan tipikal yang bisa sembarangan pinjem rahim orang.
Itu menandakan dia adalah pribadi yang egois. Dan (saya rasa) pribadi yang egois tidak akan bisa segitunya mencintai sang istri.

Melihat jiwa puitis si penulis, kenapa gak diselipin puisi-puisi di dalam novelnya? (Padahal itu yang saya harapkan. ._. )
Daripada 'nyeret' pembaca dengan diksi yang terus-terusan ajaib, lebih baik ditumpahkan ke puisi, jadi narasinya gak kelewat nyastra. (Anggap saja ini pendapat pribadi yang sok tahu.)

Yang saya suka, beberapa struktur kalimatnya indah dan diksinya yang 'ajaib' menambah pengetahuan saya. Saya juga yakin penulisnya melakukan berbagai macam riset untuk menulis novel ini. Dan saya jelas menyukai kisah yang tidak ditulis asal-asalan. :)

Baiklah. Saya rasa segitu aja. Lebih baik saya segera undur diri sebelum dilempari bedug mesjid.

Sampai nanti. Salam sejahtera. Sukses selalu buat penulis, semoga karya-karya selanjutnya lebih baik dari ini.
Profile Image for Sulis Peri Hutan.
1,056 reviews297 followers
January 19, 2012
nangis baca ini, sumpah.

Awal baca buku ini menginggatkan saya akan bukunya Andrei Aksana yang Karena Aku Mencintaimu di mana sama-sama meminjam rahim orang lain agar mendapatkan anak. Bedanya, kalau di buku itu sang istri yang menyuruh di buku ini kehendak sang suami sendiri yang sangat ingin memiliki anak.

"Aku tidak seberapa hafal janji sumpah pernikahan itu, dulu aku membacanya dengan gemetar dan jantung berdebar keras," katanya pelan, "tapi, pembacaanku atas janji itu, bukan demi pemenuhan syarat belaka, melainkan karena niat hatiku kepadamu.
Kalau ada bagian dari sumpahku yang mengatakan bahwa aku akan mendampingimu dalam segala duka dan bahagia, bahwa aku menjadi bagian dari segenap sakit dan sehatmu. Maka, kuucapkan sepenuh ketulusan yang kupunya."
"Maka, janganlah menaggungnya sendirian. Apa lagi berpikir bahwa akan kuubah sumpahku. Aku tetap bersamamu, apa pun dirimu, dengan atau tanpa seorang anak."
Anom Ilalang, dia sangat mencintai istrinya, Samara, walaupun vonis dokter mengatakan kalau dia mandul. Dari luar Samara terlihat kuat, tidak pernah menangis tapi Anom tahu betapa sakitnya dia. Samara tidak mempunyai keinginan untuk adopsi karena dia tidak bisa mengurus orang asing. Anom hanya bisa mendukung keputusan istrinya dan selalu menjaga kesetiaannya, hanya saja sewaktu temannya meminta dia untuk menjaga anaknya Lotus, rasa yang amat besar memiliki seorang anak muncul kembali.

Dia pun akhirnya membuat keputusan, menyewa rahim perempuan, melakukan kontrak rahim tapi bukan dari seorang perempuan baik-baik karena akan merusak masa depannya. Temannya mengusulkan seorang perempuan yang sebenarnya tidak cocok dengan pekerjaan ini, dia seorang PSK freelance, dia harus membiayai ibunya yang sakit-sakitan dan demi mengambil kembali Ladang warisan yang ada di desa, Lembayung namanya.

Anom pun setuju setelah beberapa kali mengamati Lembayung di tempat kerjanya, dan karena cita-cita ibunya yang ingin kembali ke desa demi Ladang waridan serta dia tidak ingin melakukan pekerjaan hina itu lagi dia pun menyetujui. Malam itu, Lembayung merasa ada yang berbeda dengan laki-laki yang menyewanya, dia grogi dan tidak punya inisiatif, lain daripada yang lain, dan laki-laki itu menjelaskan kalau apa yang mereka lakukan tidak ada artinya, dia hanya ingin seorang anak, anak kandung, ingin membuat istrinya bahagia. Lembayung tahu kalau Anom sangat mencintai istrinya.

Lembayung positif hamil dan Anom sangat bahagia, dia berpesan agar Lembayung menjaga kesehatannya, dia juga membiayai semua kebutuhannya, kontrak mereka juga sudah jadi, Lembayung mendapatkan Ladang di desanya. Pertama kali Anom merasakan gerakan anaknya rasa bahagia membuncah di hatinya, apalagi anak itu berjenis kelamin perempuan, anak impian Samara, dia sangat bahagia. Rencana dibuat, setelah melahirkan dan ASI pertama sudah diberikan, Lembayung akan menaruh anak mereka di depan rumah Anom dan Samara, alih-alih menemukan anak tak dikenal tapi sebenarnya darah daging Anom, penerus keturunan. Sayangnya Anom tidak tega berbohong kepada Samara, dia tidak bisa menghianatinya. Anom pun menjelaskannya dan meminta agar Samara memaafkan dan mau menerima anak itu. Samara marah besar, kecewa karena dikhianati oleh orang yang dicintainya, dia pun pergi meninggalkan rumah untuk menenangkan diri. Pada hari kepergiannya, Anom mengalami kecelakaan.

Kalimatnya indah-indah, puitis, penjabaran suasana hati ataupun tempat pun juga detail. Tapi mbak Sanie kenapa kejam sekali? Saya mbrebes mili membaca buku ini.

Betapa Anom sangat mencintai Samara sangat kerasa sekali, dia benar-benar ingin membahagiakan keluarga mereka, ingin membuat istrinya tersenyum kembali. Hanya saja penghianatan selalu susah untuk dimaafkan. Lembayung, dia sangat pengertian, dan memegang teguh janji yang pernah dibuatnya untuk Anom, dia juga memahami betapa Anom sangat mencintai istrinya. Sedangkan Samara dia wanita yang keras dan tidak pedulian. Awalnya saya menyukai karakter Samara tetapi setelah kecelakaan itu saya hilang respek. Justru Lembayung yang lebih bisa menerima dan lebih dewasa. Seberapa besar kesalahan Anom perbuat, dia tetap menjadi tokoh favorite saya di buku ini.

Bagian yang paling mengharukan adalah ketika Lembayung menyerahkan anak Anom ke Samara, sedangkan Samara menolak mentah-mentah dan menyuruh membuangnya ke panti asuhan. Saya hanya bisa membayangkan bagaimana perasaan Anom ketika mendengarnya.

Untuk cover saya setuju ucapan mbak Sanie waktu diwawancarai di radio Proresensi, dia sebenarnya ingin kupu-kupu menjadi gambar covernya bukannya burung. Soalnya sewaktu membaca buku ini kupu-kupu memang mempunyai andil, beberapa kali disebut. Saya juga tertawa ketika mbak Sanie bilang kelemahannya tidak bisa membuat peran antagonis, sekali buat terkesannya malah kasihan, mungkin yang dimaksud Samara kali ya? :D. Masih ada beberapa typo, selebihnya bagus. Memilikimu adalah buku kedua mbak Sanie yang saya baca setelah Kekasih Gelap. Oh ya cerita ini pernah dimuat di majalah Nyata sebagai cerita bersambung.

Terus menulis ya mbak, ditunggu buku selanjutnya, kangen maen ke rumah batanya nih :)

3 sayap untuk kesetiaan Anom


Read more: http://kubikelromance.blogspot.com/#i...
@peri_hutan
Profile Image for thuthur22r.
243 reviews
July 22, 2016
(2.5/5)

"Tangis adalah pintu pelepasan bagi sesuatu yang tak layak disimpan."

Anom Ilalang, tak pernah menyangka bahwa kehidupannya akan berubah pada hari itu. Hari sebagaimana adalah hari yang biasa saja. Lotus, seorang anak perempuan dari teman Anom, harus tinggal bersamanya beberapa waktu. Ibu Lotus sendiri pergi entah kemana, sedangkan Ayah Lotus, teman Anom, harus menyelesaikan pekerjaannya pagi itu dan, tentu saja, mencari Ibu Lotus.
Kehadiran Lotus tak ubahnya memunculkan kembali kerinduan Anom Ilalang akan seorang buah hati, seorang anak. Padahal keinginan itu telah ia simpan rapat-rapat di dalam hatinya, sejak vonis itu, vonis pada Samara--istri yang dicintainya--yang disebut anovulasi. Gampangannya, Samara mandul. Tidak bisa memiliki anak.
Tentu saja, Anom juga memikirkan tentang adopsi anak. Tapi, Samara menolak hal itu. Ia menginginkan seorang anak yang memiliki pertalian darah di antara keduanya.
Maka, keinginannya itu harus ia pendam rapat-rapat dalam hatinya.
Lalu bagaimana perasaan Anom saat Lotus, anak dari teman Anom membawanya pulang?
Kontrak Rahim. Hal itulah yang dilakukan Anom dengan perempuan yang bahkan tak di kenalnya: Lembayung. Sedangkan Lembayung sendiri, memenuhi permintaan Anom demi Ibunya, yang menginginkan Ladang tercintanya. Ladang itu telah terjual, tapi 'impian' ibunya yang sering menceritakan masa lalunya yang menggarap Ladang itu tak ayal membuat Lembayung merasa kasihan.
Semua biaya tentu saja di tanggung oleh Anom, Lembayung hanya perlu menjaga bayi itu dalam kandungannya.
Itulah rencana mereka. Tapi, bagaimana jika suatu hal yang tak pernah mereka sangka akan terjadi?

Nggak nyangka kalau buku ini dan Mayan pengarangnya sama. Dulu ingat sekali, cerita Mayan benar-benar memotivasiku. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk cepat-cepat membacanya. Kendalanya, bahasa buku ini sangatlah berat, dan menghanyutkan menurutku karena kental sekali sastranya. Terlebih, ada beberapa kalimat yang membuatku mengernyit saking rumitnya untuk di pahami.
Aku suka sosok Anom. Suka sekali. Tapi nggak nyangka kalau akan berakhir seperti itu. Aku juga bisa memahami perasaan Samara saat mengetahui Anom mempunyai anak dari wanita lain, dan juga ia diharuskan menjaga anak itu. Dia tidak mau. Aku bisa merasakan sakit yang dirasakan Amara, dan paham jika ia menyebut Anom sebagai 'sang penghianat'. Untuk Lembayung, di beberapa bab, aku mulai suka dengan sosoknya. Akan tetapi, di beberapa Bab terakhir aku kurang merasakan lagi 'bagian' Lembayung.
Endingnya, walau sudah bisa ditebak, membuatku merasa terharu. Bagaimana Samara harus merawat bayi itu. Padahal Samara sendiri membencinya.
2.5 bintang buat Bunga Lotus dan Merah Magenta. :)
Profile Image for Tirta.
252 reviews38 followers
June 10, 2012
I read this book in the bookstore. Can't bring myself to buy it because of the ending...
But I really, really, liked it. The author's writing is unique. I love how she put all the words and sentences together, so poetic and so beautiful.

The plot is simple yet complicated tho, about a couple who can't have children because the wife suffered from anovulation. To make it simple, anovulation is a condition where the uterus can't functions normally. The husband loves his wife dearly, but as natural as any other married man (and woman), he's also longing to have a child.

Then he comes up with the worst idea ever.

Cheating is never a good idea. Death, too, for me. It's exactly why I didn't want to bring the book into the cashier, have it on my own and read the rest of it at home. The rest of the book is heartbreaking yet I can't stop myself from reading until the very last page because, again, it's beautiful. Beautiful writing with a heartbreaking story.

Looking forward to another book from the author, but maybe with a lighter mood. :)
Profile Image for Ifa Inziati.
Author 3 books60 followers
Read
January 20, 2024
Ini novel dewasa. Kalau saya pribadi baca ini beberapa tahun lalu atau saat baru rilis, saya akan kesulitan menghargai keindahan diksi, kompleksitas emosi, dan atmosfer breezy yang ditawarkan cerita ini. Bisa jadi saya akan meminta penjabaran yang lebih realistis, misalnya apa Lembayung tidak dites kesehatan dulu? Apa ketika mereka melakukannya, mereka sudah memperhitungkan masa subur Lembayung? Apa pekerjaan Anom hingga dia bisa membiayai Lembayung? Herannya, masalah teknis cukup penting itu tidak mengganggu saya. Dengan mood baca yang tepat dan pengalaman melahap genre sejenis yang sudah mencukupi di usia ini, saya cocok dengan Memilikimu.

Paling "komplain" saya ada di pengulangan kata dan makna, dan meski Anom dapat membuat pembaca bersimpati, keputusannya yang egois tidak bisa dibenarkan. Kalau keinginannya memiliki anak sudah sebesar itu, berarti dia dan Samara sudah beda prinsip, sebesar apa pun Anom mencintainya dan mencoba menjustifikasi perbuatannya kepada Samara. Namun, saya nggak bisa benci sama Anom. Mereka—Anom, Samara, dan Lembayung—muncul dengan dimensi manusianya, membawa kualitas dan kelemahan masing-masing. Kupu-kupu memegang metafora penting dalam cerita, tapi saya suka kovernya yang menampilkan burung. Karena kalau diganti mungkin saya urung mengambil buku ini.

Penggemar domestic drama, bahasa puitis, serta tema kehamilan dan perempuan, mari berkumpul dan bacalah novel dari tiga belas tahun lalu ini yang masih relevan sampai sekarang.
1 review
March 19, 2021
Pertama kali mendapat nomor kontak Sanie, saya coba menghubunginya untuk bertanya2 tentang karya terbarunya ini. Tak disangka orangnya SOMBONG GAK KETULUNGAN.

"Kalau belum beli dan baca buku saya, jangan tanya!," Katanya dengan ketus waktu itu dan langsung menutup telponnya. Padahal saya nanya juga baik2..

Padahal saya sudah membaca MaYan sebagai novel yg cukup baik yg ditulis oleh amatiran seperti Sanie.
Karena penasaran, akhirnya saya membaca buku ini. Ah, ternyata dia memang cuma pandai merangkai kata2. G menyentuh esensi. Kalo boleh dibilang, Anies Baswedan jika disuruh menulis novel, hasilnya bisa jadi sama seperti karya Sanie ini. Murahan.
Profile Image for Anggita Sekar Laranti.
104 reviews33 followers
August 10, 2016
Syukurlah, aku bisa menyelesaikan baca novel ini :') Itu pun karena aku bacanya dengan teknik kepo-in nomor telpon rumah orang di yellow page :')

Aku maksa-maksa temanku buat meminjamkan novel ini ke aku. Soalnya aku lagi nggak ada kerjaan. Dia bilang novelnya nggak terlalu bagus. Tapi aku tetep pengen baca. Segala ujian akhir semester itu bikin otakku kram (/~o~)/

Oke, kembali ke novel.

Dari segi cerita, novel ini menarik. Aku sukses baca sampai akhir karena ceritanya yang nggak biasa, jadi aku nggak bisa nebak endingnya mau dibawa ke mana.

Buat cems-cems yang penasaran ya, novel ini bercerita tentang sepasang suami istri. Si istri (namanya Samara) ini menderita anovulasi. Jadi dia nggak bisa punya anak. Padahal suaminya (Anom) pengen banget punya anak. Anom sudah mengusulkan soal adopsi, tapi Samara nggak mau soalnya dia nggak pengen mencintai anak orang asing. Semacam itu lah. Pokoknya gara-gara itu aku jadi sebel banget terus pengen bejek-bejek Samara bersama dengan teri dan terasi. Terus si Anom memutuskan buat mengontrak rahim seseorang yang bernama Lembayung. Anom butuh anak, Lembayung butuh uang. Jadilah mereka seperti enzim bertemu substratnya. Oke, kalian bisa mengabaikan analogi itu. Aku memang keracunan materi UAS.

Sebetulnya kalau dipikir-pikir, si Anom nyebelin juga ya. Cuma waktu baca novelnya, aku keburu nggak suka sama Samara. Jadi ya, dengan kekuatan bulan purnama, aku memaafkan Anom. Kali ini saja~~

Seperti yang aku bilang tadi, ceritanya oke. Anom sayang banget sama anak yang ada di rahim Lembayung. Aku jadi teringat masa-masa ketika aku baca Chicken Soup for the Mother's Soul *sambil mengusap titik air mata*. Iya, aku suka cerita tentang orangtua-anak gitu. Dan yang ini cukup menyentuh sanubariku.

Terus kalau ceritanya bagus, kenapa aku kasih bintang dua?

Entah memang aku yang dodol sehingga otakku nggak sampai, atau ini memang masalah selera. Penulis pakai bahasa yang, uhhh, sumpah yah, kitty swear pity swear banana cherry strawberry swear, puitiiiiiiiiiiiiiiiiis banget. Pada bab-bab pertama, aku sempat mikir "Ini sebenernya mau nyeritain apa, sih?". Dengan ekspresi wajah yang sepertinya terlihat begini, nih --> ("-_-)

Untuk membangun image palsu dalam diriku sendiri, sehingga aku tetap berpikir bahwa aku cerdas, aku memutuskan untuk men-skip beberapa paragraf. Dan ternyata aku tetap bisa mengikuti ceritanya cuma dengan baca paragraf yang ada dialognya dan sedikit keterangan setelah dialog. Jadi kesimpulannya, bahasa puitis yang dipakai di novel ini cenderung boros. Aku gadis yang menjunjung tinggi prinsip "hemat pangkal kaya", dan karena aku ingin kaya, maka aku nggak suka yang boros-boros. Yakali gitu -__-

Aku lebih suka bahasa novel yang simpel dan mudah dimengerti, sehingga pembaca bisa mengikuti jalan ceritanya. Kalimat puitis di novel ini juga diucapkan sama tokohnya, lho. Jadi terkesan kaku. Aku betul-betul nggak bisa bayangin ada orang yang beneran ngomong begitu ._. Padahal aku suka banget novel yang pakai bahasa baku, bahkan dalam dialognya. Tapi entah kenapa aku nggak bisa menikmati kebakuan kalimat di novel ini. Tetap deh, salut sama penulis karena bikin kalimat sesusah itu.

Karakter-karakter dalam novel ini juga nggak terbangun dengan baik. Mungkin karena penulis lebih fokus sama membentuk kalimat indah, sehingga karakter agak terabaikan. Aku sama sekali nggak merasakan sosok mereka dalam cerita. Maksudku, novel ini kan memakai konflik batin, dan menurutku yang sotoy ini kalau karakternya kurang kuat jadi nggak berasa gitu konfliknya. Aku nggak paham jalan pikiran Anom, Samara, dan Lembayung. Yang aku rasakan setelah baca novel ini justru jadi bete sama tiga orang itu -_-

Oh ya, katakanlah kerja otakku ini setara dengan prosesor Intel Pentium 1, sehingga ketika baca paragraf berikut:

Mula-mula, hari itu tampaknya akan menjadi sebuah hari yang biasa. Sama seperti hari-hari yang sejauh ini telah dilalui.

Anom Ilalang mengawalinya dengan sebuah desiran angin yang lembut membelai daun telinga. Meskipun lembut, angin itu memecah kepulasan tidur, mengakhiri lelap panjang. Begitulah istrinya membangunkannya setiap pagi.


...aku melongo. Kerutan di dahiku terbentuk. Berbagai pertanyaan merasuki pikirku. Istrinya membangunkan suaminya dengan desir angin? Apakah angin itu berasal dari hair dryer? Ataukah dari kipas angin? Ataukah istri Anom adalah seorang pengendali udara???

Dan ada satu lagi paragraf yang membuat aku bertanya-tanya.

Di meja makan, seorang ibu melengkapi kesempurnaan pagi dengan sajian sarapan yang sedap. Sepiring nasi lemak lengkap dengan empal yang empuk dan sambal teri kacang plus sepotong dadar. Sajian yang memadukan rasa gurih, manis, dan pedas, masing-masing dengan presentase yang pas. Tidak selalu mudah mendapatkan ketepatan rasa yang pas seperti itu. Seorang ibu telah bermurah hati meracik sajian sedap itu sepagi ini.


SUNGGUH DEH, SEBETULNYA ITU IBU SIAPA, SIH????

Karena itu di bab awal dan sampai ngomongin soal presentase rasa masakannya segala, kirain penulis mau membahas soal ibu itu yang selayaknya dijadikan seorang Master Chef dan mendapatkan sebuah acara masak tiap hari Minggu di stasiun TV. Tahunya itu nggak ada kelanjutannya. Aku telah termakan harapan palsu :(

Sebetulnya masih beberapa yang pengen aku omongin. Tapi malu, ah, udah panjang gini review-nya. Ntar disangka aku cerewet, lagi. Sudah ya, cems. Semoga penulis terus berkarya dan membuat novel yang lebih baik lagi ^^. Maaf ya Kakak Penulis, aku sotoy abis. Ihihi.
1 review1 follower
December 23, 2017
novel ini menceritakan masalah yang kompleks, namun dibuat sangat mudah untuk saya pahami. saya dapat merasakan apa-apa yang menjadi kebingungan tokoh, yang tentunya atas bantuan penggambaran penulis dengan rangkaian kata-kata yang sangat indah, puitis serta sangat mendalam.
i wasnt expected this book would be a really good book, because the cover and the title didnt really grab me to read but like what people always say, "dont judge the book by its cover" and YES, this is the Book.
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book265 followers
February 3, 2013
Anom dan Samara, sepasang suami istri yang tidak dikaruniai seorang anak. Samara mengalami anovulasi, suatu kelainan di dalam rahimnya yang menyebabkan sel telurnya tidak dapat dibuahi. Karena hal itu, Samara menjadi sangat sedih. Ada yang hilang dalam diri Samara ketika dia menyadari bahwa anugerah seorang wanita untuk melahirkan anak tidak akan dia alami. Tetapi Anom, suaminya, justru menjadi orang yang membesarkan hatinya. Dengan sepenuh hati pada sumpah pernikahannya untuk mendampingi istrinya dalam susah dan senang dia jalani, meski tanpa seorang anak.

Tetapi, ketika Anom diminta oleh sahabatnya untuk menjaga anak perempuannya, keinginan memiliki anak itu kemudian kembali muncul. Bahkan sampai menghantui Anom lewat mimpi-mimpinya. Keinginan mengadopsi anak ditolak oleh Samara, karena Samara tidak yakin bisa mencintai anak yang tidak dikenal dari mana asalnya. Anom memilih cara lain untuk memiliki keturunan.

Dia kemudian mendekati Lembayung, seorang wanita pelayan restoran sekaligus pekerja seks komersial temporer. Anom menawarkan kontrak kerjasama dengan Lembayung, menyewa rahim Lembayung untuk mendapatkan seorang anak. Rencana Anom adalah ketika anak itu lahir, maka sepenuhnya anak itu akan menjadi milik Anom dan Samara. Tentu Samara tidak akan menolak seorang bayi mungil yang diletakkan di depan rumahnya. Lagipula, pikir Anom, dia hanya berhubungan fisik dengan Lembayung. Tanpa perasaan, tanpa berahi.

Maafkan saya kalau saya mengatakan rencana Anom itu sangat picik. Dari mana dia melihat hubungan badan dengan wanita lain untuk memuaskan keinginannya sendiri memiliki anak itu tidak sama dengan menkhianati janji pernikahannya? Sebegitu yakinnya dia istrinya akan bahagia mendapat seorang anak hasil hubungannya dengan wanita lain? Tanpa berahi katanya? Mana mungkin kopulasi terjadi tanpa membangkitkan hasrat manusiawi itu?

Okeylah Anom kemudian menyesali perbuatannya, dan menceritakan hal itu kepada istrinya. Dia meminta maaf sambil bersimpuh di depan istrinya yang marah dan terluka. Saya ada di pihak Samara. Siapa wanita yang tidak terluka jika mendapati dirinya tidak bisa memberikan anak bagi suaminya, dan kemudian mengetahui suaminya memilih wanita lain untuk menghadirkan anak baginya?

Lembayung sendiri mengalami konflik batin. Alih-alih mendapatkan sejumlah uang atas “jasanya”, tentunya dia juga mencintai janin yang tumbuh di dalam dirinya. Terlebih lagi, tanpa disadarinya dia menyisakan ruang di hatinya untuk ayah dari anaknya itu. Meskipun demikian, dia tidak mungkin menghindari kontrak yang sudah dilakukannya. Karena dengan kontrak itu sebenarnya Lembayung ingin membahagiakan ibunya.

Novel ini benar-benar bermain-main dengan perasaan. Saya tidak menyesal membaca novel ini, tapi saya juga tidak mengatakan menyukai kisahnya. Tapi dua bintang saya berikan untuk pilihan diksi puitis oleh penulis dari awal hingga akhir novel ini.
Profile Image for Stefanie Sugia.
731 reviews178 followers
February 9, 2012
"Apakah yang lebih melukai dari pengkhianatan?... Serapi apa pun tebal pembungkus pisaumu, tak akan mengurangi tajamnya pisau pengkhianatanmu. Menjadikan perempuan lain sebagai penyimpan benih dan ibu anakmu, tetaplah pengkhianatan keji yang tak akan terkamuflase."


Buku ini diawali dengan kisah sepasang suami-istri: Anom dan Samara. Mereka adalah pasangan suami-istri yang berbahagia, saling melengkapi satu sama lain. Akan tetapi ada sesuatu yang kosong dalam kehidupan pernikahan mereka. Kekosongan yang disebabkan oleh takdir hidup yang tak mereka sangka. Kenyataan bahwa Samara tidak akan bisa mempunyai anak dari rahimnya; dengan kata lain ia adalah seorang wanita yang mandul. Dokter-dokter telah memvonis dirinya mengalami anovulasi.

Anom, selayaknya suami yang baik, menerima keadaan istrinya dengan lapang dada. Akan tetapi ia tidak bisa mengelak dari kenyataan bahwa ia sungguh menginginkan kehadiran seorang anak. Bayangan seorang anak yang diidamkannya selalu menghantuinya lewat mimpi-mimpi. Awalnya Anom menawarkan untuk mengadopsi anak; namun Samara dengan cepat menolak dengan alasan bahwa ia tidak mungkin bisa menyayangi seseorang yang asing baginya. Tak lama kemudian, muncullah rencana itu dalam benak Anom. Sebuah rencana yang mengubah banyak hal.....

Review selengkapnya baca di:
http://thebookielooker.blogspot.com/2...
Profile Image for Delisa sahim.
274 reviews13 followers
January 21, 2012
Saya tak harus berkata apa,
Didalam rumah tangga sering kali pasangan selalu memikirkan momongan. Kalau pun tak bisa mendapatkan sepasang suami-istri pun berjanji bahwa permasalahan tersebut tidak menjadi kendala.

Seperti halnya mami saya, dia sepupu jauh saya. Sudah sepuluh tahun lebih berrumah tangga dan tidak bisa memiliki anak padahal Mami dan suaminya "tidak bermasalah" untuk mempunyai anak. Tetapi mereka berdua menjalankan hidupnya dengan ikhlas dan tawakal.

Didalam novel ini saya merasakan bahwa anak itu penting baik anak kandung maupun anak dari orang lain.

siapa sih yang mau dikhianati ? Di lukai ?
Tetapi dalam proses sebuah kehidupan rasa tersebut pasti ada. Sebaik-baiknya saja kita menyikapi.percayalah di balik semua rasa sakit itu pasti ada kebahagian.

Aku suka ceritanya dan aku suka kandungan isi dalam novel ini.
Profile Image for Nur Fauziah.
109 reviews
April 21, 2013
ini asli buku yang bikin aku mewek-mewek, dan bacanya malem-malem lagi.
ceritanya agak mirip film India Chori-Chori Chupke-Chupke, tapi dari tengah ke belakang agak berbeda.
Yang aku suka tentu pilihan katanya. Mbak Sanie ini jadi salah satu penulis idolaku karena kepandaiannya memilih kata hingga tulisannya jadi terasa istimewa.
Dan, emosi bener-bener kerasa waktu diceritakan Anom menyimpan perasaan gelisah karena telah membohongi Samara. Juga waktu Samara mengetahui kalau Anom menaruh benih di rahim perempuan lain hanya karena Samara tidak bisa hamil.
Sayang, kenapa Anom harus meninggal di menjelang akhir cerita. Sehingga udah sedih, aku jadi tambah sedih lagi.
Terakhir, sinopsis di belakang yang bikin siapa sih? Aku tambah suka deh sama novelnya. Setelah selesai baca, aku baca lagi halaman belakangnya. Dan hasilnya makin mewek.
Profile Image for Inge.
150 reviews3 followers
March 21, 2012
Banyak sekali rangkai kata indah dibuku ini, kata-kata yang tak sekedar indah tetapi penuh makna.

Walau menurutku akhirnya kata-kata indah itu sedikit kebablasan. Kebablasan disini maksudnya, bahkan terucap dr tokoh laki-lakinya. Atau mungkin tokoh laki-lakinya memang mau dihadirkan yg begitu lemah lembut yak... :D

Aku paling suka pada kalimat manis yang terucap dari nenek yang merupakan doa untuk cucunya, sebelum akhirnya mereka berpisah.

3bintang untuk keindahan rangkai kata... untuk ketulusan cinta Anom... untuk kebaikan hati Samara.
Profile Image for Ajeng Sekar.
37 reviews5 followers
February 4, 2016
Buku ini saya pilih ketika menelusuri deretan buku di rak Perpusarda, lalu voila! Ada terbitan Gagas *biased*

Agaknya saya 60% puas dengan buku ini, sisanya tidak. Kenapa? Banyak terdapat kalimat puitis berisikan berbagai majas, namun justru bikin saya capek sendiri *hue* juga ada beberapa kalimat yang grammatically wrong. Tapi, bagus-bagus aja sih! Hehe.

Read the full review at: https://t.co/g1StKQbOvX
Profile Image for Niratisaya.
Author 3 books45 followers
November 21, 2012
Membaca buku ini membuat saya ingat pada satu film India: Chori Chori, Chupke Chupke. Sama-sama melakukan pembuahan (XD) alami dan sama-sama menggunakan jasa PSK. Bedanya, di sini tidak ada ribetnya cinta segitiga. Atau tarian India tiga kali sehari.

Sebaliknya, yg ada adalah pertarungan moral, egoisme dan cinta.

Siapa yang menang di antara ketiganya?

Coba baca sendiri :)
Profile Image for Salwa Nahlya.
2 reviews
May 13, 2013
Diliat dari covernya,saya ga nyangka kalo ceritanya akhirnya jadi begini. jujur saja saya kurang suka sama jalan ceritanya,terus sama kaya yang udah komentar sebelum sebelumnya,bahasanya emang terlalu berat. tapi sebenernya didalem dialog itu ada yang pengen disampein sama penulisnya dan itu dalem banget. cuma ya terlalu ngebosenin dan bertele tele.
Profile Image for Ima Nurcahyanti .
25 reviews
July 24, 2013
buku ini memang tercipta sangat cocok dengan usia orang dewasa, dan saat saya membacanya, saya masih berusia u-16.. tapi meski begitu, konflik dalam keluarga membuat saya semakin miris dan hampir tak mau membayangkan akhir ceritanya yang mungkin saja memilukan pembacanya. namun, secara total, novel ini mampu membangun sebuah pemikiran positif bagi siapapun yang membaca.
Profile Image for Erig zentgraf.
8 reviews
June 18, 2012
magenta, dia harus tau kenyataan bahwa ayahnya adalah seorang yang paling menginginkan kehadirannya, kurasa dia akan bahagia :D
sangat mengapresiasi loyalitas janji Lembayung ..
aku salut dengan Samanta, hidup dengan penghianatan bukan hal yang mudah, tapi Samanta dapat melakukannya dengan baik :)
Profile Image for Rahma.
138 reviews8 followers
December 11, 2011
walau akhirannya sedih, tapi suka ama tulisan Sanie di sini.., puitis..

pengen banget baca2 tulisannya yg dulu..
Profile Image for Fita.
28 reviews
November 5, 2012
cocok buat yang suka cerita en drama romantis or even yg kecewa karena cinta..dijamin bakal nangis menye-menye.
Profile Image for an.
764 reviews22 followers
August 28, 2012
ternyata belum terbiasa membaca fiksi cantik

-32 '12-
Profile Image for Nanda Eka Saputri.
2 reviews
August 29, 2012
cerita nya yang dramatis, dikupas dalam bahasa sastra yang keren. penuh analisis untuk memahami setiap kata yang penulis tumpahkan.
Profile Image for Caca.
12 reviews
November 27, 2012
meneteskan air mata, bukan cuma karena cerita yang ditulis, tapi kata-kata yang dipilih Sanie sehingga membuat novel ini menjadi indah
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
February 28, 2013
Nyesek ah ... diam2 mengelap air mata yang hampir menetes.

Ini Lembayung trus ilang begitu saja ya?
Displaying 1 - 30 of 34 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.