Novel ini bercerita tentang pergumulan konflik di dalam keluarga Letnan Jenderal Wiranto, mantan duta besar, Komisaris Bank Pusat Negara, generasi gerilyawan 1945 dengan 5 putra-putriny ayang lahir setelah kemerdekaan. Yang sulung Ny. Anggraini, wanita karirer, janda kayar raya. Yang kedua, Dr.Dr Wibowo, pakar fisika nuklir dan astro-fisika di laboratorium CERN di Jenewa. Adiknya, Letnan-Kolonel Candra, instruktor pesawat-pesawat pemburu jet Madiun. Marineti, sarjana antropologi, sosiawan penuh idealisme. Yang bungsu, Edi, almarhum di usia muda karena morfin-heroin.
Yusuf Bilyarta Mangunwijaya was an architect, writer, Catholic priest, and activist. Romo Mangun (Father Mangun) was publicly known by his novel "Burung-Burung Manyar" which was awarded Ramon Magsaysay Award for South-East Asia Writings on 1996.
Not only active in the fiction genre, Romo Mangun also wrote many non-fiction and architectural works such as "Sastra dan Religiositas" [tr.: Literature and Religiosity] which won The Best Non-Fiction prize in 1982.
Bibliography: * Balada Becak, novel, 1985 * Balada dara-dara Mendut, novel, 1993 * Burung-Burung Rantau, novel, 1992 * Burung-Burung Manyar, novel, 1981 * Di Bawah Bayang-Bayang Adikuasa, 1987 * Durga Umayi, novel, 1985 * Esei-esei orang Republik, 1987 * Fisika Bangunan, buku Arsitektur, 1980 * Gereja Diaspora, 1999 * Gerundelan Orang Republik, 1995 * Ikan-Ikan Hiu, Ido, Homa, novel, 1983 * Impian Dari Yogyakarta, 2003 * Kita Lebih Bodoh dari Generasi Soekarno-Hatta, 2000 * Manusia Pascamodern, Semesta, dan Tuhan: renungan filsafat hidup, manusia modern, 1999 * Memuliakan Allah, Mengangkat Manusia, 1999 * Menjadi generasi pasca-Indonesia: kegelisahan Y.B. Mangunwijaya, 1999 * Menuju Indonesia Serba Baru, 1998 * Menuju Republik Indonesia Serikat, 1998 * Merintis RI Yang Manusiawi: Republik yang adil dan beradab, 1999 * Pasca-Indonesia, Pasca-Einstein, 1999 * Pemasyarakatan susastra dipandang dari sudut budaya, 1986 * Pohon-Pohon Sesawi, novel, 1999 * Politik Hati Nurani * Puntung-Puntung Roro Mendut, 1978 * Putri duyung yang mendamba: renungan filsafat hidup manusia modern * Ragawidya, 1986 * Romo Rahadi, novel, 1981 (he used alias as Y. Wastu Wijaya) * Roro Mendut, Genduk Duku, Lusi Lindri, novel trilogi, 1983-1987 * Rumah Bambu, 2000 * Sastra dan Religiositas, 1982 * Saya Ingin Membayar Utang Kepada Rakyat, 1999 * Soeharto dalam Cerpen Indonesia, 2001 * Spiritualitas Baru * Tentara dan Kaum Bersenjata, 1999 * Tumbal: kumpulan tulisan tentang kebudayaan, perikemanusiaan dan kemasyarakatan, 1994 * Wastu Citra, buku Arsitektur, 1988
“Negeri ini sungguh-sungguh membutuhkan pemberani-pemberani yang gila, asal cerdas. Bukan yang tahu adat, yang berkepribadian pribumi, yang suka harmoni, yang saleh alim, yang nurut model kuli dan babu.”
Harus mulai dari mana ya? Ini buku yang menurut saya sangat bagus. SANGAT. Banyak sekali isi pemikiran Romo Mangun bercampur aduk menyentuh berbagi topik mulai dari modernisasi, nasionalisme, spiritualisme, hingga soal fisika dan biologi yang mengalir dalam satu benang tentang humanisme. Jarang saya menemukan karya penulis Indonesia yang begini kompleks dan mendalam dalam penuturannya, padahal jalan ceritanya sendiri begitu sederhana.
Disini dikisahkan keluarga Purnawirawan Letnan Jenderal Wiranto yang terdiri dari seorang istri, ibu Yuniati, dan ke-5 anak-anaknya yang berbeda karakter. Anggraini, sang puteri tertua, pengusaha sukses lintas negara. Wibowo, putera pertama, seroang ilmuwan CERN sukses berbasis di Jenewa. Candra, putra kedua, tentara AU berpangkat Letnan Kolonel penggila pesawat jet. Neti, putri bungsu, yang sedang menempuh jenjang S2 bidang antropologi dan paling humanis jiwanya. Serta Edi, si bungsu yang nasibnya berujung maut akibat jeratan narkoba.
Sungguh keluarga yang tergolong sukses jika dilihat secara sekilas. Namun ternyata dibalik itu banyak konflik mental diantara karakter yang berbeda satu sama lain dan memang tidak bisa disatukan. Membaca kisah keluarga ini saya jadi ingat Hundred Years of Solitude karangan Marquez. Disitu diceritakan semacam takdir solitude atau kesendirian antara tiap-tiap individu di keluarga tersebut yang sulit untuk dipenetrasi oleh orang lain, bahkan anggota keluarga yang terdekat sekalipun.
Membaca buku ini saya jadi banyak berpikir soal rasa individualitas. Apa memang selamanya yang berbeda itu harus dianggap asing, jelek, dan sebaiknya dihindari? Jika semuanya sama rata, sama hak, sama kewajiban, sama pemikiran, mungkin dunia akan lebih damai dan nyaman, tapi apa yang seperti itu bisa disebut hidup? Hidup sebagai bagian kolektif yang aman, nyaman, dan terjamin tapi hanya semu karena manusia jadi tidak ada bedanya dengan produk hasil pabrikan. Membosankan dan tidak berwarna. Tapi apa iya ini pemikiran yang betul? Apa bukan karena saya duduk nyaman di ruangan ber-AC dan punya akses internet serta kemudahan dalam memenuhi kebutuhan primer makanya saya bisa bilang begitu? Bagaimana dengan orang-orang di belahan bumi yang bahkan untuk mencari air bersih saja harus berjalan sekian kilometer? Apa bagi mereka yang sama rata dan kolektif itu lebih baik?
Yang saya rasa patut untuk dicatat juga adalah gaya narasi stream of consciousness yang dikembangkan dengan apik dan menarik di karya ini. Monolog diri Neti yang kritis menganalisa dunia di sekitarnya memberikan pandangan-pandangan baru yang menarik soal kehidupan, karma, sejarah dunia, humanisme, tujuan hidup, eksistensi Tuhan, jalan hidup, dan keindahan alamiah planet Bumi ini. Saya jadi penasaran ingin ke Yunani menjelajah Akropolis dan juga menikmati birunya laut Pulau Banda.
Pun dialog-dialog yang disematkan diantara jalan cerita sangat cermat disusun dan cerdas saat dicerna. Proses pencarian Tuhan Wibowo dari segi ilmu pasti ditemukan dengan sisi falsafah Neti mengenai jiwa manusiawi dan insting. Prinsip hidup Candra yang melihat dunia sebagai dualitas menang dan kalah namun cinta mati terhadap negaranya. Anggraini yang gigih berjuang sebagai wanita di dunia bisnis yang membuatnya keras hati melintasi benua dan masuk ke ranah global. Serta sisi lain transisi budaya antara generasi LetJen Wiranto dan Ibu Yuniati dengan generasi Neti yang meninggalkan adat tradisi dan mulai beranjak dekat dengan asimilasi budaya barat. Tak lupa arti hidup berbangsa dan bernegara dimana geografi tidaklah menjadi batasan kehidupan.
Ah. Tidak ada habisnya kalau mau mengupas buku ini lebih jauh. Akan lebih baik jika dibaca sendiri.
"Patriotisme bukan seperti yang diindoktrinasikan orang-orang kolot zaman agraris itu. Aku tetap cinta Tanah Air, tetapi tidak dalam arti birokrat. Cinta saya kepada Tanah Air dan bangsa kuungkapkan secara masa kini, zaman generasi pascanasionalisme. Jika aku menjadi orang, pribadi, sosok jelas, yang menyumbang sesuatu yang berharga dan indah kepada bangsa manusia, disitulah letak kecintaanku kepada bangsa dan nasion." -- Wibowo
"Tanah air adalah tempat penindasan diperangi, tempat perang diubah menjadi kedamaian, kira-kira begitu. Tempat kawan manusia diangkat menjadi manusiawi, oleh siapa pun yang ikhlas berkorban. Dan patriotisme masa kini adalah solidaritas dengan yang lemah, yang hina, yang miskin, yang tertindas." -- Maraneti
Tuntas membaca buku mahakarya Y.B.Mangunwijaya rasanya plong. Buku ini sejak awal minim gejolak, terkesan datar namun ketika kita perhatikan isinya terdapat banyak muatan pesan moral.
Salah satu yang berkesan dari buku ini adalah pesan penulis tentang karir politik. Poliik itu tujuan mulianya untuk kepentingan orang banyak.
Elegan adalah kata pertama yang didapat ketika membaca awal cerita Burung-Burung Rantau. Kemahiran merangkai kata serta melihat jaman adalah kelebihan yang terdapat pada buku ini.
Hingga kita mencapai 1/3 akhir buku ini baru kita diberikan pencerahan tentang pesan utama yang ingin disampaikan kepada pembaca.
Sebagian besar isinya memang agak njelimet, harus dibaca dengan perlahan sehingga setiap kata dapat terserap di dalam batin dengan baik. Saya rasa pembaca masa kini belum tentu berminat membaca novel "berat" ini.
Namun tetap ada rasa puas setelah membaca buku ini.
‘Burung-burung Rantau’ karya Y. B. Mangunwijaya merupakan karya yang mengeksplorasi gagasan ‘generasi pasca-Indonesia’. Dalam mengelaborasi gagasan itu, Mangun mengisahkan sebuah pertempuran pikiran dan konflik batin dalam keluarga Letjen Wiranto, seorang purnawirawan kawakan angkatan gerilyawan 45. Selain Letjen Wiranto (yang sepanjang buku ini saya bayangkan berwajah Luhut), keluarga ini terdiri dari ibu Yuniati, dan kelima anaknya yaitu Anggriani, Bowo, Candra, Neti, dan Edi. Setiap anggota keluarga memiliki sifat yang sangat berlainan satu sama lain. Pergulatan ide dan gagasan antar anggota keluarga inilah yang menarik dari ‘Burung-burung Rantau’.
Istilah ‘generasi pasca-Indonesia’ dicetuskan oleh Neti saat berdiskusi mengenai generasi dengan ayahnya. Saat itu, Neti mendeskripsikan kakaknya, Bowo, pakar fisika nuklir dan astrofisikawan CERN sebagai seorang pasca-Indonesia. “Pasca artinya masih tetap sama sekaligus menjadi lain. Papi di KTP ... berbangsa Indonesia, tetapi kan tetep orang Jawa yang suka wayang, alias manusia Indonesia pasca-Jawa. Pascasarjana kan tetap sarjana juga, tetapi meningkat” (hal 58). Bagi Neti, sang kakaklah yang memenuhi kriteria-kriteria tersebut. Seorang fisikawan Indoneseia yang bekerja di Swiss. Melakukan penelitian demi kepentingan ‘umat manusia’. Kalau kata Neti, “Jika aku menjadi orang, pribadi, sosok jelas, yang menyumbang sesuatu yang berharga dan indah kepada bangsa manusia, disitulah letak kecintaanku kepada bangsa dan nasion” (hal 170).
Mudahnya, pasca-Indonesia berarti bersifat mengglobal tanpa kehilangan sifat lokalnya (glokal). “Pascanasional dan pasca-Indonesia tidak berarti kami bukan orang Indonesia lagi dan menjadi entah apa, tanpa identitas, tanpa kesadaran nasional, akan tetapi lihatlah kalian generasi tua dulu menjadi nasional, kalian bisa menjadi nasional pasca-Jawa atau tidak berhenti menjadi orang Sulawesi, manasuia Kawauna atau Jawa” (hal 378-379). Meskipun begitu, ada penekanan-penekanan yang bagi saya kurang tepat sasaran. Konsep manusia Indonesia yang glokal, agak tereduksi hanya dengan keberadaan fisiknya semata. Saya yakin Mangunwijaya tidak bermaksud demikian. Saya hanya merasa bahwa penekanan ke arah tersebut kurang adanya. Apalagi, konsep ‘Burung-burung Rantau’ sebagai karya yang berlatar di Jakarta, Yunani, Swiss, India, dan Kepulauan Banda bisa membuat pembaca yang kurang berhati-hati dapat salah paham. “Kita tetap Indonesia, seperti Mohammad Hatta tetap manusia Minang juga, dan Soekarno tetap orang Jawa, walaupun lingkungan hidup mereka bukan lagi Bukittinggi atau Blitar” (hal 171). Memang betul, tetapi tidak serta merta sifat global ini hanya didefiniskan karena orang tersebut pernah keluar dari tempat asalnya sendiri. Soekarno, sebelum menjadi presiden bagi saya mungkin bisa dibilang merupakan generasi pasca-Indonesia bukan karena dia pernah mengunjungi negara di luar Indonesia, tetapi karena pola pikirnya yang kosmopolitan. Menjadi generasi pasca-Indonesia bukan berarti dirimu harus pergi ke Eropa atau Amerika. Orang-orang yang sering melancong ke luar negeri juga tidak serta merta menjadikan mereka adalah seorang generasi pasca-Indonesia.
Apalagi, keluarga Letjen Wiranto merupakan keluarga dengan sentimen khas kelas menengah. Seorang purnawirawan yang saat ini diberi jabatan sebagai direktur bank, tentu keluarganya memiliki privilese yang kokoh. Apa keluarga yang tidak memiliki privilese semacam ini bisa menjadi ‘pasca Indonesia’? Boro-boro keluar dari Indonesia, bagi keluarga lain keluar dari kemisikinan sudah sangat amat sulit. Untung saja, Mangunwijaya sedikit menenangkan saya melaui bab terakhir, ‘Anak-anak Burung Rantau.’ Saat Neti sang tokoh utama berefleksi mengenai penderitaan dan kemiskinan. Mengenai seorang anak yang sampai mengorbankan nyawa hanya untuk keluar dari kampungnya untuk melihat kota besar. Meskipun begitu, refleksi Neti sedikit absurd bagi saya. Neti terlihat seolah sebagai agamawan/misionaris ketimbang seorang antropolog. Mengapa Mangunwijaya memilih anak-anak Letjen Wiranto sebagai contoh generasi pasca-Indonesia? Pertanyaan inilah yang tidak terjawab dengan baik.
Selain gagasan ‘internasionale’, ada dua topik menarik yang disuguhkan Mangunwijaya. Kedua topik itu adalah gagasan klasik timur dan barat, serta perdebatan mengenai generasi. Yang kedua bagi saya yang lebih terelaborasi dengan baik di buku ini. Generasi Neti adalah generasi yang dibayang-bayangi generasi revolusi kemerdekaan, generasi ini adalah generasi yang merantau (thus, Burung-burung Rantau). “Panggilan sejati bagi kita generasi sekarang ini bukan di masa lampau ... generasi kita adalah burung-burung rantau yang sedang terang ke benua lain” (hal 324). Pada akhirnya, generasi sebelumnya harus rela, melepas generasi yang sudah berbeda sekali problem dan kondisinya dari generasi yang terdahulu. “Tugas orangtua ... memberi iiklim, memberi syarat-syarat kehidupan dan perkembangan, dan selanjutnya merestua kemerdekaan” (hal 379). Sudah jelas, terjadi sebuah patahan, generasi tua dan muda, seperti yang selayaknya terjadi, dan Mangunwijaya sedang mendefinisikan generasi muda itu sendiri. Sebuah generasi yang bebas, terbang merantau melewati batas-batas nasionalisme/patriotisme yang sempit.
“Patriotisme masa kini adalah solidaritas dengan yang lemah, yang hina, yang miskin, yang tertindas” (halaman 171).
Terakhir, ada beberapa catataan. Pola diskusi yang digunakan dalam ‘Burung-burung Rantau’ pada awalnya menarik, tapi lama kelamaan cukup membosankan. Perdebatan yang dilakuan masuk terlalu jauh ke ranah teknis yang menurut saya tidak terlalu perlu. Satu keluarga ini hobinya ngobrol berat semua (dengan beberapa bagian percakapan yang kesannya tidak natural). Sampai di bagian-bagian akhir ini saya heran, apa ga capek ini orang ‘ndakik-ndakik’ terus haha. Meskipun begitu, saya menyukai gaya penulisan Mangunwijaya, terutama bagaimana caranya dia mendeskripsikan suatu sifat dengan dua kata. Semisal ‘abstrak keras’, ‘konkret manusiawi’, ‘ningrat hati’, ‘bijak bestari’. Ada beberapa kata khas lain yang juga selalu muncul, semisal ‘invalid’ atau ‘interesan’. “Anak-anak diculik, dibuat invalid karena dicukil matanya” (hal 346). Kata-kata itu selalu terngiang di kepala.
Roman mit dem Titel Birds Birds of-Rantau Essay Y.B. Mangunwijaya in Indonesien und Griechenland gesetzt in Indonesien nach der unabhängigkeit, oder genauer, Indonesien und Griechenland bis zur Neuzeit.
Neti ist eine Frau, die energisch und frei war. Als gelehrter der Anthropologie, er hat eine seele sosiawati hoch. Obwohl so ist er nicht leicht von anderen beeinflussen. Mit ihrer mutter, Yuniarti, Neti ein schlechtes mädchen, das nicht versteht, wird die traditionalisten, die ihre mutter verstehen verabschiedet werden. Auf die frage der kleidung und geschmack, sie auf Kriegsfuß stehen, so Neti hält seine mutter als eine schöne frau, die nicht anfällig für Humor. Sein Vater, Wiranto, ist viel offener und demokratischer zu gestalten. Beide haben ihre eigene Meinung über den Tod von Eddie, mein jüngster Bruder Neti. Wiranto Berichten zufolge fühlte, daß seine Sache zu hart zu EDI. EDI Rückgang war in den falschen Umgang.
Neti selbst betrachtete sich als den meisten in der nähe von Eddie. Jedoch wegen zu viel zuneigung und liebe von Neti am Edi gegeben, schien Edi persönlichkeit schwach. Er war von der idee von Karl Marx und fallen durch eine fehlgeleitete und wechselwirkungen von medikamenten durch temen-Immobilie beeinflusst. Während ältere Schwestern schienen anderen Neti eigenen ansichten über den Tod von Eddie haben.
Chandra, ein US-amerikanischer Luft-und Hobby-Piloten basteln, mit Motor mit brennenden Verlangen nach Rache an Freunde EDI. EDI, die in dem einfluss von Drogen stürzt. Doch im Laufe der zeit wurde ein großer Chandra kampfpilot und reifer denken. Er hat oft sendet nachrichten über jäger und ihre arbeit inzwischen die verhältnisse zu seinem vater.
Anggraini ist eine sehr erfolgreiche Geschäftsfrau und eine reiche Witwe. In Bezug auf den Tod von Eddie, er reagierte nur mit einem kalten. Die Vergangenheit ist die Vergangenheit. Er Oft stehen oft im Widerspruch mit dem Neti. Neti Anggi betrachten verschwendet seine Zeit mit der Pflege der Armen, während Neti einzigen eigenen. Anggi argumentieren häufig mit anderen Familienmitgliedern, aber auf der anderen Seite fühlen Anggi einsam.
Wenn Sie fertig mit dem Argument Neti, unbewußt Wohnzimmer sah er seine Familie und zog. Vater, Mutter und Schwester leben in Einfachheit, während Anggi Luxus. Einer seiner älteren Bruder Neti, Bowo ein Mann mit einem brillanten Geist, den CERN Teilchenphysiker aber sehr ruhig. Bowo wählen Agatha, ein griechisches Mädchen als recht kontroverse durch Anggi. Darüber hinaus wurde die Hochzeit in Griechenland statt, nicht in Jakarta. Bowo bewerten Jakarta betriebsamen ungeeignet für eine Hochzeit.
Allerdings blieb es für dadakannya Anggi Partei in Jakarta einladen Verwandten der Familie wegen ihres Prestiges. Anggi prüfte auch die Möglichkeit Bowo sehr seltsam. Aber gerade leicht gemacht Neti Freunde mit Agatha, eine energische Mädchen und kann eine starre Bowo Leben als Wissenschaftler zu animieren. Wiranto Familie Ankunft in Griechenland wurde herzlich von Herrn Anaxopoulos,
Agatha Vater begrüßte. Zusätzlich zu seinen Brüdern, Neti auch Freunde mit Kindern im Waisenhaus, so er nicht begrüßen die Ankunft des Bewerbers Frau Bowo. Nicht zu vergessen, er war auch Thema in antyropologi smart. Neti Professor vorausgesetzt, groß genug, um eine Diplomarbeit mit dem Titel Impact Einfluss der Makro-und Mikro-Kosmos Universe gegen traditionelle Mensch, vor allem den Übergang in Indonesien zu machen. (Ungefähr so der Titel). Die Idee dieser Arbeit wurde durch Bowo inspiriert.
Beenden der studie des multikulturalismus in Rantau vögel müssen vorgetragenen, dass die anwesenheit der multikulturellen literatur ist eine Reaktion auf das phänomen des lebens der menschen sind für die Änderung der pluralistischen und reflexion über die sozio-kulturellen realitäten des global-universelle tendenz. Autor antwortet auf und interpretiert in form von literatur. Dies steht im einklang mit der existenz der literatur als ein dokument, was die sozio-kulturellen dynamik, die dialektik, und die romantik einer pluralistischen gesellschaft in bezug auf ethnische zugehörigkeit, religion, sprache oder kultur.
Multikulturalismus ist eine idee, die kulturelle vielfalt ansicht als eine grundlegende realität im leben der gemeinde. Offenheit gegenüber der lebendigen leben zusammen mit einer vielzahl von aufnahme und verständnis als eine notwendigkeit verbarg ups unvermeidlich. Kulturelle vielfalt in der dynamik des lebens ist eine realität, die nicht in das leben der modernen gesellschaft verweigert werden kann. Novel Rantau vögel Y.B. Mangunwijaya express ideen durch das gewebe der multikulturellen veranstaltungen und die charaktere, besonders die kinder paar Wiranto und Yuniati: Anggi, Neti, Bowo und Candra ist ein symbol der post-indonesischen generation.
Die idee des multikulturalismus in BBR gehören: (1) The beginning post-indonesischen generation, die globale kultur neigen, (2) Sie sind die generationen von heute sind kostenlos, überall fliegen sogar mancanegera seine eigene welt zu entdecken, (3) Sie wollen weg aus traditionen und kulturellen bindungen lokal Sogar nationale, um den freien kreativität, (4) muncu! Auftaen kulturelles phänomen! Oka! Und nationaler Ebene, West und Ost, (5) in der lage, durch die grenzen des multikulturalismus ethnische zugehörigkeit, nationalität zu brechen, und kaste, und die stärkung der frauen-dasein.
Indonesische literatur eine multikulturelle dimension ist teil des prozesses "Indonesianization" von vielen ausdrucksformen der kulturellen guten geschmack! Okal, national und global-universal.
Bukan novel dengan plot yang menarik, penuh kejutan, ataupun keunikan jalan cerita yang membuat pembacanya terkaget-kaget ataupun bahkan terkagum-kagum. Secara alur, cukup lurus, bahkan tidak ada klimaks yang benar-benar klimaks. Namun selama membaca saya pelan-pelan sadar bahwa novel ini adalah semacam pelajaran eksistensialisme dan globalisasi yang disastrakan.
Dari novel ini, pembaca dapat melihat betapa luasnya pengenalan Romo Mangun akan berbagai isu dunia, paling tidak secara generalis. Ini dapat dilihat dari keluarga yang diceritakan di sini. - Wiranto, sang bapak, seorang jelata yang lalu menjadi tentara dan "terpaksa" memimpin perjuangan-perjuangan negara yang baru merdeka dalam konsolidasi melawan pemberontakan, kini menjadi purnawirawan yang masih dipercaya menjadi duta besar maupun mengemban posisi komisaris. - Yuniati, sang ibu, seorang Jawa-Manado yang totok tradisional dan Katolik taat, cantik-namun-kurang-selera-humor, ibu rumah tangga yang setia dan dewasa mengikuti kebutuhan waktu, aktif berorganisasi wanita istri tentara. - Anggi, anak pertama, berkemauan kuat, businesswoman yang telah ditempa kerasnya dunia dagang dan melanglang buana penuh koneksi ke seluruh penjuru dunia, menyelami bisnis-bisnis rahasia sekalipun. - Bowo, anak kedua, seorang rasionalis sejati yang berpikir global, doktor astrofisika sekaligus fisika nuklir, bekerja di pusat penelitian atom nuklir CERN di Swiss, beristrikan Agatha, seorang Yunani ahli sejarah-antropologi - Candra, anak ketiga, pilot angkatan udara yang ulung, begitu cinta dunia dirgantara dan pesawat-pesawat canggih hasil inovasi teknologi, ambisius, tegas keras khas tentara, namun juga diam-diam penyayang - Neti, anak keempat, tokoh utama, perempuan pemberontak yang memberikan warna di keluarga ini, seorang sarjana antropologi yang tergerak terjun lebih dalam di dunia pekerja sosial membela mereka yang tersingkirkan, yang motivasinya awalnya karena pelampiasan atas meninggalnya adiknya, Edi, karena narkoba, tapi kemudian menguatkan idealisme-idealismenya karena melihat kenyataan dunia hina dina yang tak terjamah kemegahan perkembangan dunia modern.
Percakapan-percakapan yang hadir lewat setiap tokoh di novel ini mungkin terdengar tidak klimaks, namun begitu "sehari-hari", mulai dari kasih keluarga, pemberontakan anak terhadap orang tua, perselisihan paham saudara, sampai pertanyaan-pertanyaan makna hidup yang tak mungkin ditanyakan tanpa kedekatan relasi yang hangat.
Novel ini, bila kita coba dalami, akan memberikan krisis eksistensial atas rumitnya dunia dengan globalisasi yang terkadang makin tak memanusiakan manusia, namun juga memberikan pengharapan akan kesempatan-kesempatan menjelajah kehidupan melampaui sekat negara, ideologi, maupun pembatas yang selama ini dianggap tak boleh dilewati.
Bagai burung-burung rantau yang terbang bebas menjelajahi alam, demikianlah kehidupan yang Romo Mangun harapkan diresapi generasi-generasi mendatang, bukan dengan kemudahan, malah dengan kerumitan, namun juga dengan semangat menemukan diri justru lewat keluasan alam semesta yang Tuhan karuniakan.
Seekor induk burung, setelah mengerami telur, kemudian burung-burung kecil itu menetas, dikasih makan, dan mampu terbang, maka burung-burung itu akan membuat sarang sendiri dan hidup dengan kehidupan baru. Sepertinya inilah filosofi sederhana dari novel Burung-burung Rantau milik Romo Mangun.
Berbeda dengan Burung-burung Manyar,novel ini bersetting modern paska orde baru. Pensiunan Jendral Wiranto memiliki lima anak dengan karakterisktik macam-macam. Bowo adalah seorang ahli fisika yang kaku dan logik sekali.Chandra adalah pilot pesawat yang ternyata menyukai budaya. Anggi adalah janda pengusaha yang orientasinya adalah benefit. Netti adalah seorang filantrofi dan pekerja sosial. Dan Edi meninggal karena obat-obatan terlarang.
Mereka adalah burung-burung rantau dari keluarga Wiranto. dan novel ini sangat berfilsafat. Banyak kalimat-kalimat yang lebih seperti sedang mendakwahi pelajaran filsafat.
(Jujur bingung mau nulis apa? Terlalu bagus dan terkesima dengan kemahiran Romo Mangung)
Ditulis di awal tahun 90-an tetapi masih sangat relevan untuk dibaca saat ini, bahkan sampai tahun-tahun yang akan datang. Buku ini penuh berisi sejarah dan pengetahuan tentang dunia dan mengajak saya untuk berpikir lebih jauh dan dalam tentang kehidupan.
Bukan termasuk buku yang mudah untuk dibaca; setidaknya untuk saya. Informasi yang terselip dalam setiap dialog antaranggota keluarga ini terkadang cukup panjang dan membosankan tapi bisa memberikan ilmu baru. Pemikiran Neti yang 'modern' juga tampaknya cukup mendominasi buku ini.
Buku ini tidak menghadirkan alur cerita yang rumit, bahkan terkesan tidak memiliki konflik sama sekali. Namun saya cukup menikmati membaca setiap dialognya dan masih sangat layak untuk dibaca hingga akhir.
First impression setelah baca beberapa bab: wah, ternyata kaya buku filsafat. Hehe.
Buku ini menceritakan tentang keluarga Wiranto dan Yuniati, dengan kelima anaknya, Anggraini, Bowo, Candra, Neti, dan yang terakhir Edi. Nah uniknya, yang diceritain lebih ke konflik batin dan pemikiran masing-masing tokoh. Walaupun satu keluarga gini, pemikiran mereka bener-bener beda antara satu sama yang lain. Nggak ada konflik yang klimaks di buku ini, melainkan buku ini lebih membawa pembaca untuk ikut ‘hidup’ dan ‘merenungi’ permasalahan-permasalahan di keluarga Wiranto.
Menurutku, tema yang mendasari buku ini adalah tentang Anggi, Bowo, Candra, dan Neti, generasi muda yang punya pandangan serta tujuan hidup yang lebih bebas, melampaui batas-batas geografis. Tema tersebut dibahas secara baik dalam novel ini.
“generasi kita adalah burung-burung rantau yang sedang terbang ke benua lain.” (hal 324).
Baik Anggraini, Bowo, Candra, dan Neti punya caranya masing-masing dalam memaknai hidupnya. Anggi dengan bisnis internasional, Bowo dengan dunia penelitian Astro-fisika di CERN, Candra dengan pesawat jet, dan Neti dengan dunia pengabdian sosial.
Buku ini bikin aku MIKIR BANGET, karena satu keluarga ini isinya orang pintar semua, hahaha. Pembahasan masing-masing topik: bisnis, Astro-fisika, pesawat jet, dan dunia pengabdian sosial, dibahas dengan cukup detail. Juga, novel ini mengambil latar di beberapa negara: Indonesia, Yunani, India, dan Swiss, dan lagi-lagi diceritakan secara detail bagaimana keadaan di negara-negara itu. KARYA NYA ROMO MANGUN KEREEEN! T_T
Lagi-lagi tulisan dari Romo Mangun sukses bikin aku kagum dan banyak juga insight yang aku dapet dari buku ini.
Sudah berjalan hampir 2 tahun dari waktu pertama kali saya membaca tulisan Romo Mangun dan sampai saat ini pula saya masih terjebak di dalam ceritanya. Tema cerita yang ringan mengenai masing-masing personil keluarga Letnan Jenderal Wiranto dengan segala keunikannya, tetapi membungkus banyak sekali pesan moral. Cara bercerita Romo Mangun yang lambat membuat saya merasa menjadi bagian dari cerita. Serta tak lupa deskripsi keindahan Kepulauan Banda dan Yunani yang membuat saya jatuh hati dan ingin lebih jauh mengenal kedua wilayah tersebut menjadi poin plus menurut saya untuk buku ini.
Sebuah cerita yang mengisahkan tentang satu keluarga dimana tiap anggotanya memiliki suatu keunikan tersendiri dalam pemahaman filosofi kehidupan diselimuti oleh kejujuran terhadap hati nurani. Dengan setting tempat yang bervariasi, beserta latar belakang yang menarik dari tiap anggota keluarga membuat novel ini kaya akan pengetahuan umum termasuk general knowledge tentang alam semesta raya.
Sangat disarankan untuk pembaca yang berekspetasi lebih dari reading for pleasure.
Bagiku, warna buku ini adalah abu-abu. Fiksi tapi non-fiksi, roman tapi juga bukan roman, dramatis filosofis sekaligus realis. Dalam keabu-abuan, Romo Mangun menuliskan kegelisahan generasi baru Indonesia. Generasi yang bebas bergerak bagai burung, merantau menyeberangi pulau bahkan benua, berani terbang menembus batas keilmuan apalagi keimanan. Buku ini sekilas mengingatkanku pada Anak Segala Bangsa-nya Pramoedya Ananta Toer.
Burung-Burung Rantau ditulis dengan sedikit klimaks, atau malah tidak ada klimaks. Tapi bukannya tiada konflik, kalau direnungi, buku ini adalah konflik belaka. Marineti sebagai tokoh sentral, generasi muda ber-privilege, nyatanya tidak hidup dengan mudah. Semakin dipenuhi kebaruan, maka semakin banyak kerumitan yang perlu dipikirkan. Maka pertanyaannya, apakah burung-burung rantau dapat terbang menembus cakrawala abu-abu Indonesia?
Wiranto pasti amat pusing jika memikirkan anak-anaknya yang memiliki perbedaan yang ekstrem. Anggi, Bowo, Chandra, sampai Neti, dan almarhum Edi. Tapi beliau memilih membiarkan anak-anaknya menjadi burung-burung rantau. Sebuah keputusan yang bijaksana dengan mengembalikan anak-anak itu kepada sang hidup.
Buku yang bagus dan dapat dijadikan sebagai bahan diskusi yang menarik.
Bacaan yang cukup berat untuk saya tetapi juga membuka mata saya. Buku ini banyak mengajarkan tentang pandangan warga asli dari beberapa negara mengenai negaranya. Ada juga beberapa bidang ilmu dan pekerjaan yang masih asing untuk saya yang dibahas di buku ini.
Buku ini cukup menarik, dan pada dasarnya, sejauh apa kita melangkah, kita semua adalah seekor Burung Rantau..
Another beautiful narration from Y.B. Mangunwijaya.
Buku ini menceritakan tentang perjalanan hidup Wiranto—seorang mantan duta besar dan gerilyawan di tahun 1945. Cerita diawali dengan buah pemikiran dan kehidupan anak-anak Wiranto.
Meskipun buku ini disebut sebagai salah satu buku best seller dari Mangunwijaya, jujur saja, saya kurang menikmati membacanya, entah kenapa.
Salah satu buku yang PALING bagus yang pernah aku baca. Aku suka jalan ceritanya, dinamika penokohannya, konfliknya, metaforanya, cara berfikirnya. Ah, suka semuanya!
Jatuh hati pada kompleksitas cakrawala berpikir manusia, kemanusiaan dan kerinduan memahami misteri ilahi di tiap sendi alam semesta. Sesungguhnyalah kita burung-burung rantau ...
Banyak nilai-nilai baik yang disampaikan dalam buku ini dan menambah banyak sudut pandang baru. Tapi mungkin buat saya agak sulit mencerna lompatan-lompatan alur dan diksi yang digunakan.
Sepanjang tahun 2015 ini saya telah membaca beberapa karya dari sastrawan dan rohaniwan Romo Yusuf Bilyarta Mangunwijaya (Romo Mangun). Selain Burung-Burung Manyar, Ikan-Ikan Hiu Ido Homa, dan Pohon-Pohon Sesawi, Burung-Burung Rantau merupakan salah satu di antaranya. Membaca karya Romo Mangun memang selalu menarik. Ia memiliki kemampuan untuk membuat tiap kalimat yang ditulisnya menarik untuk dibaca, baik karena gaya bahasa, pilihan kata, maupun struktur kalimatnya. Begitupun pengalaman membaca Burung-Burung Rantau yang pertama kali terbit pada 1992 ini.
Burung-Burung Rantau mengisahkan drama keluarga Letnan Jenderal Purnawirawan Wiranto, seorang pensiunan perwira tinggi dan mantan duta besar yang tengah menikmati masa pensiun sembari tetap menyibukkan diri sebagai komisaris sebuah bank milik pemerintah. Di tengah hari-hari senjanya itu, ia bersama Yuniati, istrinya yang gemar bersosialisasi dan berorganisasi menyaksikan anak-anaknya yang telah dewasa tumbuh menjadi pribadi unik yang masing-masing memiliki karakter individu, kisah hidup, dan pemikiran yang sama sekali berbeda dalam memandang arti kesuksesan dan makna kehidupan.
Anggraini atau Anggi, si putri sulung, merupakan seorang wanita pebisnis ulung, yang kerap mendasari segala langkah hidupnya berdasar untung-rugi yang saklek dan tidak dapat ditawar-tawar. Wibowo atau Bowo, sang putra kedua yang pendiam dan introvert meniti karir di bidang ilmu pengetahuan dengan menjadi seorang fisikawan nuklir dan astrofisika yang cemerlang di CERN. Adiknya, Candra Sucipto mengikuti jejak ayahnya di bidang militer sebagai seorang Letnan Kolonel penerbang yang kerapkali menerbangkan pesawat supersonik. Candra berkembang sebagai manusia teknis praktis yang selalu patuh pada komando meski tetap mempertahankan sisi humanisnya dengan mempelajari sejarah dan sosiologi kemanusiaan. Anak keempat adalah seorang putri, Marineti Dhianwidhi atau Neti, seorang sarjana antropologi yang kritis, pembangkang, dan kadangkala bersikap nyeleneh. Ia menjadi anak bungsu di keluarga Wiranto sejak adik bungsunya, Edi meninggal setelah jatuh ke dalam jurang maut narkotika. Narasi cerita berada di sekitar Neti serta pemikirannya yang kritis mempertanyakan segala sesuatu tentang eksistensi kehidupan.
Meski dengan plot cerita yang sederhana, buku ini toh tetap begitu menarik karena deksripsi karakter yang kuat serta monolog-dialog yang dengan piawai menyelingi jalan cerita. Karakter-karakter unik pada kisah ini mengalami pergolakan batin masing-masing yang membuat cerita pada buku ini seperti sebuah kronik. Argumentasi dan dialog cerdas antar-karakter tak jarang terkesan metaforis dan filosofis yang kerap mempertanyakan intisari kehidupan sehari-hari di sekitar mereka. Tentang bagaimana menyikapi keberadaan Tuhan, eksplorasi dunia fisika makro-kosmos maupun mikro-kosmos, tentang liberalisme dan modernitas, sistem demokrasi dan filosofi Yunani, hukum karma dan kasta India, hingga realitas sosial-masyarakat di bumi pertiwi. Semua itu dituliskan dengan bahasa percakapan colloquialism yang renyah yang tak lepas dari unsur jenaka khas Mangunwijaya sehingga tanpa sadar pembaca telah menikmati subjek yang kompleks namun disajikan dengan menarik. Tokoh-tokoh pada cerita ini diibaratkan pengarang tak ubahnya bagai burung-burung rantau yang senantiasa berusaha menemukan lingkungan yang ideal dan sesuai dengan apa yang mereka cita-citakan demi membentuk pribadi yang lebih baik di masa mendatang, namun tak lupa untuk kembali ke akarnya.
Melalui buku ini, Romo Mangun seakan mengajak pembacanya untuk berdiskusi, berpikir, dan mensintesis beragam peristiwa yang dialami para karakter dalam bukunya untuk dapat direfleksikan pada kehidupan kita. Membaca buku ini juga membuat saya berpikir bahwa pemikiran manusia sebagai makhluk individual dapat menjadi begitu rumit, namun sebagai makhluk sosial juga tetap menghargai kebebasan berpikir dan bertoleransi antar individu.
Secara umum buku ini merupakan bacaan yang menyenangkan meskipun dipenuhi oleh berbagai topik yang tampak berat dan rumit. Pada karyanya ini, Romo Mangun berhasil mengemas pemikiran kompleks dalam sebuah fiksi sastra yang menghibur, yang membuat para pembaca rindu padanya baik sebagai pribadi maupun terhadap karya-karya sastranya. Sebuah bacaan wajib bagi mereka yang mengagumi Romo Mangun atau siapapun yang ingin mengeksplorasi sastra tanah-air Indonesia.
Novel ini berkisah tentang keluarga Purnawirawan Letnan Jendral Wiranto. Istrinya Ibu Yuniati yang tidak peka dengan humor, dan kelima anaknya dengan karakteristik dan jalan hidup mereka masing-masing. Anak pertama, Anggraini atau Anggi, seorang janda sukses yang mengembangkan bisnisnya melalui wirausaha dan sukses, kaya raya. Anak kedua mereka, Bowo, adalah seorang ilmuwan fisika yang bekerja pada Laboratorium CERN di Swiss. Anak ketiga, Letkol Penerbang Candra, berkarir sebagai seorang tentara, meneruskan jejak ayahnya, dan menggeluti dunia penerbangan. Sementara Marineti Dianwidhi atau Neti (di mana Neti inilah penggerak dalam cerita ini), adalah seorang sarjana Antropologi yang bergulat dalam dunia sosial, menganggap dirinya seorang sosiowati, hidup bebas menurut versinya, dan senang berkumpul dengan masyarakat kelas bawah. Adiknya, Edi, meninggal dunia akibat kecanduan narkoba.
Neti yang begitu akrab dengan sang adik adalah orang yang paling terpukul akan kepergiannya. Neti mencurahkan hidupnya bergelut dengan kemiskinan ibukota, sebagai pelampiasan atas ketidakmampuannya menyelamatkan sang adik.
Marineti berkawan dengan anak-anak kolong jembatan, mendedikasikan hidupnya sebagai guru bagi anak-anak kampung miskin kumuh di sana. Mengajar baca dan menulis, serta berharap akan memberikan warna dan mengubah kehidupan mereka menjadi lebih baik lagi.
Kisah ini begitu menarik. Bagaimana tidak, cakupan bahasan yang diangkat oleh Romo Mangun cukup banyak dan mendetail. Mulai dari mengangkat latar belakang akademis Neti yang mendalami antropologi, tentang fisika nuklir yang digeluti Bowo, masalah bioteknologi, sejarah filsafat Yunani, dan masih banyak lagi. Belum lagi, gaya penulisan Romo Mangun yang tidak bisa tidak membuat decak kagum pembacanya, terutama saya. Oh ya kisahnya memang sarat konflik fisik, lebih banyak menguak konflik batin para tokoh-tokohnya. Bagaimana di sini digambarkan bahwa sosok Letjen Wiranto dan istrinya merupakan induk burung yang menelurkan jenis-jenis burung yang berbeda. Di mana anak-anaknya merupakan perlambangan burung-burung rantau yang pergi bermigrasi keliling dunia. Dan ada saatnya mereka akan kembali, sesuai dengan pengelanaan mereka masing-masing.
Nah balik lagi ke isinya, saya suka sekali karena banyak makna filosofis yang bisa digali dari novel ini. Seperti misalnya ketika berbicara tentang sejarah peradaban Yunani, tentang studi S2 Antropologi yang hendak ditempuh Neti, tentang kegiatannya sebagai sosiowati di kolong jembatan. Apalagi sewaktu Krish menceritakan tentang negerinya, di mana penggambaran kemiskinan di India mengingatkan saya pada film peraih Oscar, Slumdog Millionaire. Benar-benar mengagumkan sekaligus membuat miris. Apalagi saat mengaitkan tentang konsep ketuhanan dengan realita perkembangan ilmu pengetahuan saat ini.
Novel ini, menyuguhkan kisah cinta tanah air, globalisasi, dengan caranya tersendiri. Bagi yang kurang suka deskripsi atau narasi tebal, mungkin akan bosan membaca novel ini. Tapi untuk yang suka menyelami kedalaman maknanya, saya yakin akan banyak menggali pemahaman serta banyak makna yang mendalam.
Novel ini merupakan karya Y.B. Mangunwijaya -lebih beken dengan nama Romo Mangun- kedua yang saya baca. Sebelumnya saya sudah membaca Burung-Burung Manyar. Lewat novel ini Romo Mangun menceritakan kehidupan keluarga Wiranto khususnya lima anaknya yang memiliki perangai berbeda-beda. Anggi, anak sulung, adalah perwujudan wanita karier yang tidak bisa terlepas dari dunia bisnis. Adik laki-laki tertua Anggi, Bowo, adalah peneliti Fisika Nuklir di CERN. Berbeda dengan kakaknya, anak ketiga, Candra, memilih untuk mengabdikan diri kepada bangsa sebagai pilot militer. Neti, anak keempat, adalah mahasiswa Antropologi nan idealis. Si bungsu, Edi, menyerah kepada narkotika dan sudah meninggal sebelum cerita dimulai.
Serupa dengan Burung- Burung Manyar, Romo Mangun mampu meramu dialog- dialog yang ada di novel ini menjadi sangat hidup dan mengalir apa adanya. Sayangnya aliran dialog-dialog tersebut tidak didukung oleh plot yang menarik. Pembaca seolah-olah dibiarkan tenggelam dalam banjir dialog antartokoh tanpa adanya inti cerita yang jelas. Permasalahan yang seolah menjadi konflik utama di cerita ini, kisah cinta Krishna dan Neti, baru muncul di pertengahan novel. Berulang kali pula saya merasa bosan membaca buku ini karena tidak adanya konflik yang "asyik" untuk disimak.
Meski memiliki plot yang cukup lemah, Burung- Burung Manyar memiliki gagasan- gagasan yang menarik untuk direnungkan. Salah satunya adalah Bowo, yang menurut Neti adalah manusia Pasca - Indonesia. Manusia yang sudah lepas dari ikatan nasionalisme dan mengabdikan diri sebagai makhluk bumi ini. Sebagai burung rantau yang mengembara di dunia. Saya pribadi menganggap novel ini adalah sebuah pesan Romo Mangun untuk Indonesia yang mulai terdampak globalisasi. Sebagai bangsa yang sedang menghadapi pusaran globalisasi, janganlah kita takut menghadapinya. Jadilah seperti Bowo, yang mengembara di atasnya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Dasyat banget lah ini buku. Dari gaya bahasa, segi bercerita, sampai ke bobot isinya. Saya gak rela tidur buat nuntasin sampai tamat buku ini. Dan akhirnya rasa penasaran saya terpuaskan ke si penulis, yang jelas masuk ke daftar penulis yang saya idolakan. Padahal baru baca bukunya satu, tapi emang layak koleksi, meskipun prinsip saya sih, selagi bisa minjem kenapa beli? #hehbanget maaf ya, mahasisa beginilah, pengen baca banyak buku tapi isi dompet gak mendukung.
Neti, si Binal, saya kepo akhirnya dia nikah gak ya, di sini saya dapat istilah-istilah baru semacam pasca-Indonesia (?) mungkinkah saya golongan itu juga tapi dari kalangan bukan siapa-siapa, cuma rakyat jelata. Karena entah kenapa prinsip-prinsip perempuan satu ini mirip saya, yang menganggap pria itu beban dan saya bisa kok hidup sendiri, bukan anti-menikah, tapi emang gak mau menikah sama sembarang orang, ngapain? Meskipun akhirnya dia jatuh cinta ke Krish, hanya untuk patah hati karena si duda anak satu dijodohin sesi dua sama keluarganya. Semoga saya gak seapes Neti sih. Saya mah doki-dokian banyak. Tapi untuk sebuah komitmen? Nyari laki-laki yang pas dan sreg itu bukan hal mudah. Gak segampang itu. Dan saya ngerti konflik-konflik yang dihadapi Neti, jalan-jalan yang kami tempuh pun sedikit-banyak mirip.
Anggie mengingatkan saya pada Elizabeth, ibu yang overprotektif ke anaknya dan bukain jalan buat kesayangannya, seorang wanita karir yang mandiri dan independent, yang gak pernah puas. Meski dari segi cinta-cintaan beda sih.
Bowo mirip Moira, si Jenius, yang otaknya, saya pun gagal paham. Tapi senanglah lihat muda-mudi sukses ini. Bowo aja ketemu Agatha, semoga Moira punya jodohnya juga ntar. Gak nerd-nerd amat.
Tapi yah, balik ke realitas, buku ini mengajari saya banyak hal.
Buku ini bercerita tentang keluarga Letnan Wiranto dan Ibu Yuniati. Dalam, kritis, dan filosofis kesan dari buku ini. Bertahan membaca dan merenungi isinya sampai akhir adalah sebuah tantangan tersendiri di tengah banyaknya narasi yang nampaknya tak memiliki ujung titik. Panjaaaanggg. Jadi, yang aku tangkap dari makna burung-burung rantau ini adalah penggambaran manusia yang pada perjalanan hidupnya 'hijrah', berpindah dari satu dimensi ke dimensi yang lain. Dimensi ruang, waktu, budaya, dll. Terutama pada kelima anak Letnan Wiranto dan Ibu Yuniati. Edi yang pada akhirnya meninggal karena memilih jalan sesat pada narkoba menjadi burung yang merantau dari alam dunia menuju alam kubur. Candra Sucipto, seorang pilot pesawat tempur yang serba cepat dan tepat namun humoris, menjadi rantau yang tergila-gila dengan udara, terbang menukik dengan manuver-manuver. Wibowo Laksono, ilmuwan fisika yang merasa diri sudah menjadi manusia pasca-Indonesia, merantau menjelajahi dimensi ruang yang begitu luasnya, hingga tak lagi menjadi manusia Indonesia. Anggraini, si sulung pebisnis yang tak hanya ingin menjadi biasa-biasa saja, melejit dengan segala serba high-level standar hidupnya. Dan terakhir, bungsu perempuan sarjana antropologi, Marineti Dianwidhi yang sedang merantau menemukan jawaban-jawaban atas kegelisahan hidupnya-pernikahan, pendidikan.
Sungguh mendalam, tapi butuh perjuangan menyelesaikan. Dengan banyak ilmu-ilmu baru dari narasi tentang Yunani dan India yang membuktikan betapa kedalaman ilmu dan riset yang dimiliki Y.B Mangunwijaya menambah pengetahuan bagi pembacanya.
Buku yang sangat bagus karena mengandung banyak ilmu dan pengetahuan. Tidak menyangka samasekali dari sebuah buku bisa mengenal permukaan Yunani, India, dunia sains nuklir, penerbangan, antropologi, bahkan hingga ke surga BandaNeira. Membaca buku ini harus dalam keadaan hening karena banyak sekali informasi dan pemikiran yang perlu disimak dengan sungguh-sungguh. Tidak jarang saya menemukan Romo membahas hal-hal yang selama ini menjadi sumber kegelisahan diam-diam. Nyatanya tidak semua pertanyaan akhirnya terjawab, tetapi meski begitu kesadaran menjadi terbuka dan tidak berlebihan jika ada yang berkomentar jika dihayati dengan mendalam buku ini akan menuntun pembaca mengalami revolusi mental. Gaya bertuturnya menginspirasi, joke-jokenya pas, dan eh ternyata ada satu bagian yang bisa bikin airmata menetes juga. Saya penggemar Sang Romo yang baru deh pokoknya :D
Akhirnya selesai juga membaca buku karya Mangunwijaya. Pasangan Bapak Wiranto dan Bu Yuniarti dengan empat anaknya dengan berbeda-beda dunia dan sudut pandang, penuh dengan dialog mendalam tentang pemikiran, filosofi, sudut pandang. Memaksa untuk membuka pikiran lebih luas.
Suka sekali dengan gaya menulis Romo Mangun, dan ini karya Romo yang pertama saya baca.
Dan yang tak akan terlupa dari buku ini: “Negeri ini sungguh-sungguh membutuhkan pemberani-pemberani yang gila, asal cerdas. Bukan yang tahu adat, yang berkepribadian pribumi, yang suka harmoni, yang saleh alim, yang nurut model kuli dan babu.” Ya, ini untuk Indonesia.
membahas permasalahan era kontemporer, quote2 menarik: "..para leluhur manusia Yunani, yang untuk pertama kali dalam sejarah para bangsa, memberanikan diri untuk melawan dunia mitos, dongeng, serta takhayul, untuk percaya kepada segala yang benar dan berharga dalam manusia, teristimewa daya inteligensi, daya abstraksi, daya berfilsafat yang di dalam dunia Barat sangat dihargai dan dilindungi, esensi manusia sejati." (hal.269) “Negeri ini sungguh-sungguh membutuhkan pemberani-pemberani yang gila, asal cerdas. Bukan yang tahu adat, yang berkepribadian pribumi, yang suka harmoni, yang saleh alim, yang nurut-taat model kuli dan babu.” (hal.106)