Gerundelan Orang Republik merupakan esei Romo Mangun yang pernah dimuat di berbagai media massa -- seperti harian Kompas, Indonesia Raya, Suara Karya, Jawa Pos, Majalah Mingguan Tempo dari kurun waktu 1972 sampai tahun 1995, terutama yang menyangkut tema dasar kemerdekaan Republik Indonesia.
Dalam buku ini Romo Mangun mengajak kita mempertanyakan kembali esensi kemerdekaan yang terdalam, mempertanyakan kembali apa perbedaan setelah 'merdeka' bagi rakyat!
Gerundelan Orang Republik oleh Romo Mangun ditujukan terutama bagi generasi muda. karena Romo Mangun ingin mengekspresikan simpati dan kepercayaan kepada mereka.
Tentu ada satu dua kaum tua, yang dapat bernostalgia melalui esei-esei ini, membandingkan dengan pengalaman waktu itu (zaman Belanda, Jepang, Soekarno), kemudian merasakan bagaimana situasi kondisi sampai di zaman Orde Baru.
Menurut Romo Mangun, esei bukan merupakan gugusan dalil-dalil yang mampu mengklaim kebenaran secara mutlak, melainkan merupakan upaya, ikhtiar dalam rangka memahami sesuatu yang dianggap penting, dan -- terutama -- sebagai media untuk dialog, setidak-tidaknya berfungsi semacam pemantik untuk menyalakan reaksi, baik yang berasal dari nalar, afeksi maupun cita rasa yang mudah-mudahan, mampu menggerakkan semacam keterlibatan diri dan bertanggungjawab sesuai kedudukan serta kemampuan kita masing-masing.
Yusuf Bilyarta Mangunwijaya was an architect, writer, Catholic priest, and activist. Romo Mangun (Father Mangun) was publicly known by his novel "Burung-Burung Manyar" which was awarded Ramon Magsaysay Award for South-East Asia Writings on 1996.
Not only active in the fiction genre, Romo Mangun also wrote many non-fiction and architectural works such as "Sastra dan Religiositas" [tr.: Literature and Religiosity] which won The Best Non-Fiction prize in 1982.
Bibliography: * Balada Becak, novel, 1985 * Balada dara-dara Mendut, novel, 1993 * Burung-Burung Rantau, novel, 1992 * Burung-Burung Manyar, novel, 1981 * Di Bawah Bayang-Bayang Adikuasa, 1987 * Durga Umayi, novel, 1985 * Esei-esei orang Republik, 1987 * Fisika Bangunan, buku Arsitektur, 1980 * Gereja Diaspora, 1999 * Gerundelan Orang Republik, 1995 * Ikan-Ikan Hiu, Ido, Homa, novel, 1983 * Impian Dari Yogyakarta, 2003 * Kita Lebih Bodoh dari Generasi Soekarno-Hatta, 2000 * Manusia Pascamodern, Semesta, dan Tuhan: renungan filsafat hidup, manusia modern, 1999 * Memuliakan Allah, Mengangkat Manusia, 1999 * Menjadi generasi pasca-Indonesia: kegelisahan Y.B. Mangunwijaya, 1999 * Menuju Indonesia Serba Baru, 1998 * Menuju Republik Indonesia Serikat, 1998 * Merintis RI Yang Manusiawi: Republik yang adil dan beradab, 1999 * Pasca-Indonesia, Pasca-Einstein, 1999 * Pemasyarakatan susastra dipandang dari sudut budaya, 1986 * Pohon-Pohon Sesawi, novel, 1999 * Politik Hati Nurani * Puntung-Puntung Roro Mendut, 1978 * Putri duyung yang mendamba: renungan filsafat hidup manusia modern * Ragawidya, 1986 * Romo Rahadi, novel, 1981 (he used alias as Y. Wastu Wijaya) * Roro Mendut, Genduk Duku, Lusi Lindri, novel trilogi, 1983-1987 * Rumah Bambu, 2000 * Sastra dan Religiositas, 1982 * Saya Ingin Membayar Utang Kepada Rakyat, 1999 * Soeharto dalam Cerpen Indonesia, 2001 * Spiritualitas Baru * Tentara dan Kaum Bersenjata, 1999 * Tumbal: kumpulan tulisan tentang kebudayaan, perikemanusiaan dan kemasyarakatan, 1994 * Wastu Citra, buku Arsitektur, 1988
Kumpulan esai Romo Mangun di media sampai tahun 1995, umumnya tentang kebangsaan dan keberpihakan terhadap kaum tak berpunya dan kritik terhadap kaum berpunya. Cukup menarik mengenal posisi-posisi sosialnya, yang banyak mengkritik kapitalisme dan sistem tak adil lainnya seperti kolonialisme dan imperialisme, juga pengaruh globalisasi di mana negara-negara dunia pertama diuntungkan dan negara-negara dunia ketiga diisap.
Menarik juga melihat dalam esai-esainya dia nampak memiliki kekaguman tersendiri terhadap duet Hatta dan Sjahrir, juga pandangan rasionalnya mengenai Soekarno tua yang mulai kehilangan tajinya dan terus-menerus mengambil keputusan salah, tapi pada hakikatnya adalah sejati apa yang dikenal sebagai "penyambung lidah rakyat".
Dari kumpulan esai ini saya juga menyadari sudut pandangnya melihat diplomasi orang seperti Sjahrir yang amat vital dalam kemerdekaan, dan bahwa merdeka memang bukan hanya soal bambu runcing, senapan, dan heroisme khas film aksi saja, namun juga diplomasi serta rumusan para cendekiawan, juga yang sering dilupakan, rakyat kecil biasa yang sering jadi korban, yang menyediakan diri untuk para kaum heroik yang membela mereka, yang jauh dari hingar-bingar namun sejatinya paling ditumbalkan dalam perang.
Ada beberapa sudut pandangnya tentang kenegaraan maupun stereotip suku dan gender yang mungkin bila dibaca hari-hari ini nampak usang, juga optimismenya yang lumayan meleset bahwa kaum muda pasca-Indonesia akan semakin melek dengan yang baik dan adil tanpa dibutakan patriotisme sempit. Namun untuk masa penulisannya, Romo Mangun tetap setia pada panggilannya, menggaungkan pembelaan kepada kaum yang tertindas, karena memilih "netral" dan diam melihat penindasan dan pengisapan berarti memilih untuk berpihak pada penindas, yang seringkali malah berasal dari bangsa sendiri pasca-merdeka sebagai negara.