Saat pertama film ini muncul, ketertarikan saya lebih pada animasi yang tampak baru. Shrek dipromosikan sebagai clay animation. Gambarnya lebih tampak tiga dimensional. Tawaran yang cukup menggiurkan yang mendorong saya untuk menonton di bioskop.
Menyaksikan film ini, saya sungguh terhibur. Bukan cuma oleh penampilan gambar yang berbeda dari animasi Disney, film garapan Dreamworks ini menawarkan sudut pandang yang tidak saya sangka. Shrek adalah sebuah dekonstruksi dari kemapanan fairy tales. Sejumlah karakter fairy tales tampil sebagai pesakitan yang harus mencari perlindungan di hutan kediaman Shrek. Kisah pangeran tampan yang harus menyelamatkan putri jelita berganti menjadi kisah gergasi yang kepepet menyelamatkan Putri Fiona yang juga sesungguhnya menyimpan sisi kegergasian. Tokoh antagonis di seri pertama adalah Lord Farquaad. Seorang penguasa kastil yang dipenuhi bangunan besar. Saat pertama kali datang ke kasti Farquaad demi menyelesaikan persoalan geger pengungsi kaum fairy tales, Shrek berkata kepada keladai ceriwis yang menemaninya, "semua kebesaran bangunan di kastil ini membuat saya curiga. Bisa jadi kemegahan ini adalah upaya menutupi hal sebaliknya yang tak tampak saat ini." Dugaan Shrek terbukti saat bertatap muka dengan Farquaad. Penguasa kastil megah ini bertubuh kuntet. Infer
Kisah berlanjut hingga Shrek dan Fiona adalah lakon yang membuat semua tokoh dongeng yang masyur itu cukup jadi pengungsi dan penggembira saja. Shrek sendiri buat saya tetap fairy tales, namun berangkat dari sisi yang lain. Sisi lain yang nampaknya akan dieksplorasi di dalam buku ini...