What do you think?
Rate this book


240 pages, Mass Market Paperback
First published December 1, 2011
Ya Tuhan, ia bisa melihat cinta di sorot mata Mardi. Cinta yang sama, yang berbalut kesabaran dan pengertian. Cinta yang tidak akan menyerah. Cinta yang penuh perjuangan dan tekad. (Pandangan Audy tentang Mardi hal (33)
“Bagaimana cara kamu bilang pada matahari supaya dia jangan terbit lagi?,”
“Mm...” Audy gelagapan, berpikir keras.
“Bagaimana cara kau bilang pada orang yang mencintaimu sepenuh hati, supaya dia tidak usah kuatir lagi padamu?,” sambung Mardi, tak ingi disela. (Percakapan Mardi dan Audy hal 22)
“Audytha Amarilis Capelle, aku cinta padamu. Dan aku akan menunggumu sampai kau siap. Tidak peduli sakit jantung atau tidak, Rose atau siapapun yang membuatmu bimbang akan tetap menunggumu.”
“Ami, aku cinta padamu,” Mardi mengulang kata-katanya dengan lembut. “Dan cinta itu tak berubah, bahkan jika aku berharap demikian. Karena memang semua akan lebih mudah jika cinta ini hilang, Mi. Tapi sekali lagi, tidak semudah itu. Aku sadar, biarpun jalan kita sulit dan berliku, penuh tanjakan dan tikungan, tapi aku tetap memilih untuk melewati semua ini bersamamu.”
“Tidak semua yang kau inginkan bisa kau dapatkan” (hal 17)
“Yah, kadang aneh bagaimana hidup bisa membawamu ke jalinan cerita yang tak pernah kau tebak sebelumya. Jalinan yang tak pernah kau duga ada. Tahu-tahu kau sudah ada di tempat ini, bersama orang yang kemarin asing bagimu. Dan kamu merasa bahagia” (hal 101)
“Tawa adalah obat paling manjur untuk kesedihan” (hal 118)
“Cinta yang tulis ialah terapi paling sempurna untuk semua sakit dan duka” (hal 118)
“Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik” (hal 130)
“When you lost one thing, you'll find another for sure” (hal 231)