Ini negeri besar dan akan lebih besar . Mengeluh dan mengecam tidak akan mengubah sesuatu. Nyalakan lilin, lakukan sesuatu, Setahun Mengajar, Seumur Hidup Menginspirasi.
Pendidikan, masih saja menjadi barang mahal di tanah saudara-saudara kita yang jauh dari pusat. Bangunan yang hampir roboh, fasilitas yang kurang memadai, jarak yang jauh dan terjal, kurangnya tenaga pengajar, dan masalah-masalah lain masih saja terjadi.
Lalu, bagaimana ceritanya kalau anak-anak muda, generasi penerus bangsa ini tergerak hatinya. Mereka adalah 51 Pengajar Muda yang terpilih dari 1.383 calon. Mereka rela meninggalkan kenyamanan kota dan jauh dari keluarga untuk mengabdi di pedalaman, sebagai guru. Mereka berusaha melunasi janji kemerdekaan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Tak sekadar mengajar baca tulis hitung, mereka juga mengajar banyak nilai-nilai kebaikan, pun gantian belajar pada masyarakat asli.
Buku ini menceritakan kisah para Pengajar Muda yang ditempatkan di beberapa pelosok negeri. Kesulitan, kebahagian, tangis, dan tawa mewarnai kisah mereka. Buku ini juga menunjukkan seperti apa wajah pendidikan negeri ini. Apa benar ada kebiasaan guru memukul muridnya dengan rotan? Apa benar guru-guru jarang datang ke sekolah, terutama saat hujan deras?
Nikmati seluruh kisah mengharukan itu di buku ini!
Pengajar Muda adalah generasi muda terbaik bangsa yang direkrut, dilatih dan dikirimkan oleh Indonesia Mengajar untuk mengabdi di masyarakat sebagai guru di daerah terpencil selama 1 (satu) tahun.
Buku ini merupakan kumpulan tulisan para Pengajar Muda angkatan pertama yang dikirim ke berbagai tempat di pelosok Indonesia. Saya pertama kali mendengar tentang gerakan Indonesia Mengajar di TEDxJakarta, saat pak Anies Baswedan menjadi pembicara di konferensi tersebut. Saat ini, animo pemuda terhadap Indonesia Mengajar sangat tinggi, terlihat dari banyaknya jumlah pendaftar yang mau menjadi guru di tempat-tempat terpencil.
Sebagai sebuah gagasan dan gerakan, Indonesia Mengajar layak mendapatkan 5 bintang. Tapi sebagai buku, rasanya kualitasnya terkesan biasa saja. Ada beberapa hal yang membuat saya mengatakan bahwa buku ini tidak mendapatkan 5 bintang. Pertama, buku ini merupakan kompilasi dari catatan harian, jurnal, dan postingan blog para Pengajar Muda. Jadi pada awalnya mereka tidak memiliki rencana untuk menyatukan semua tulisan mereka menjadi satu buku. Saya pun mengamati ada sedikit typo yang belum diperbaiki oleh editor. Kedua, meskipun para Pengajar Muda ini memang merupakan pemuda-pemudi terbaik (terlihat dari profil mereka), tidak semuanya dibekali dengan kemampuan jurnalistik yang baik. Hal ini membuat kualitas tulisan setiap Pengajar Muda memiliki kualitas yang berbeda-beda. Saya akui memang ada beberapa Pengajar Muda yang kualitas tulisannya membuat saya terkagum-kagum dan terharu, tapi ada juga yang terkesan hambar.
Karena buku ini merupakan kompilasi postingan blog dan jurnal pribadi para Pengajar Muda, saya sulit melihat benang merah dalam setiap cerita. Mungkin ini juga disebabkan karena penulis buku ingin memuat seluruh Pengajar Muda (agar jatahnya cenderung merata). Judul setiap bab kurang menggambarkan isi postingan di dalamPadahal akan sangat menarik sekali jika terdapat satu uraian yang menyatukan seluruh tulisan di buku ini.
Di akhir resensi ini, saya ingin menekankan lagi bahwa yang sedang saya bahas adalah buku Indonesia Mengajar, bukan gerakan atau yayasannya. Secara pribadi, saya mengacungkan jempol kepada gerakan dan yayasannya, tapi saya rasa kualitas bukunya bisa lebih ditingkatkan lagi.
SEORANG anak berumur 6 tahun berdiri di gelap malam. Diam. Mematung. Memandang seorang pengajar muda dan teman-temannya. Namanya, singkat saja disebutkan, Rijin. Badannya penuh luka. Darah mengalir, sedikit-sedikit tapi ngeri, di sekujur tubuh. Kata orang intelek, mungkin hampir persis body painting, tapi digores oleh luka dan darah. Maka inilah yang sebenarnya telah terjadi, seperti dikisahkan Aisy Ilfiyah dalam buku Indonesia Mengajar terbitan Bentang: malam itu Rijin membantah perkataan orangtuanya, dan seketika, tanpa baju, tubuh Rijin dipukuli menggunakan batang pohon lemon berduri.
Maka semua mata melongo, malahan dengan sedikit takjub. Pengajar muda yang baik itu cepat-cepat membawa Rijin ke kamarnya, mengobati seadanya, menahan sesuatu di hatinya yang belum pernah ia temui sebelumnya, atau hanya pernah mendengar dari berita-berita di teve. Mungkin pula ia pernah membacanya sekilas suatu kali, dengan judul yang mirip-mirip ini: kekerasan terhadap anak.
Kisah Sabda Aji Pambayu, yang menjadi guru di Halmahera Selatan, cukup menjadi contoh lain. Suatu sore ia mendapati murid-murid kelas 5-nya jalan terpincang-pincang. Kaki mereka memar-memar, membiru. Apa pasal? Anak-anak itu baru saja dipukul oleh kepala sekolah dengan bambu kering. Sebabnya, seperti sering kita dengar untuk kasus anak sekolahan, anak-anak itu tidak bisa diam.
Apakah yang diperoleh dari pendidikan keras semacam itu kemudian?
Yang menarik ialah, sepanjang kita telusuri kenyataan-kenyataan selama ini, dari kisah-kisah pendek pengajar muda itu, tidak pernah ada satu generasi anak-anak yang terus diam, selalu bersedekap di kelas, dan tertib seluruhnya. Guru dan orang tua─dua pihak paling penting bagi dunia pendidikan─boleh saja terus mendidik dengan pukulan atau bentakan. Guru dan orang tua boleh saja memaksa anak untuk tenang. Tapi, akhirnya, cara itu tidak pernah benar-benar menciptakan satu generasi yang pandai sekaligus tertib. Dari zaman ke zaman anak-anak tidak pernah membuat kesimpulan bahwa mereka akan kena hantam kalau terus membuat keributan. Bahkan mungkin anak-anak menjadi kebal atau tak peduli. Itu terlihat pada anak kecil bernama Rijin yang tidak menangis, bahkan saat sekujur tubuhnya diobati dengan obat merah.
Akibat lebih buruknya kemudian adalah ini: anak-anak terbiasa dengan bahasa pukulan dalam menyelesaikan masalah.
Apakah ini terkait ekonomi sang guru yang biasanya kurang sejahtera? Kesulitan ekonomi sangat mungkin berpengaruh terhadap sikap seseorang. Terlalu sering kita dengar seorang guru tiba-tiba marah di kelas, yang ternyata sedang punya masalah dengan istrinya di rumah perihal uang makan. Richard Mulcaster, seorang guru yang hidup di abad ke-16 dan 17 dari tanah Britania sana pernah berseru, “panggilan tugas kami merayap begitu rendahnya dan hanya berteman kepedihan”. Henry Peacham yang hidup pada masa yang sama menceritakan sebuah kisah memilukan tentang seorang guru yang tak mampu membeli batubara untuk memanaskan ruangan rumahnya saat musim dingin, dan agar tubuhnya hangat, di pagi hari yang membekukan tulang, guru itu memecuti anak-anak didiknya.
Tentu saja alasan ekonomi tidak bisa dijadikan alasan seorang guru buat memukul anak didiknya. Percakapan intelektual terlalu sering mengobralkan kebobrokan akhlak, berita-berita menuliskan kisah tentang guru yang bejat─dan itu nyata. Tapi bukan berarti kita tidak punya sesuatu untuk mengatasinya. Sebab, rupa-rupanya, ada cara-cara lain yang kalau kita tekun menemukannya, sekolah akan menjadi tempat belajar yang menyenangkan, dan ilmu dapat masuk dengan mudah bagaikan ilham.
Seorang pengajar muda di Bengkalis, menghadapi murid-muridnya yang tidak fokus belajar, mencoba suatu metode sederhana untuk meredam keributan: ia memberi kartu yang berisi pertanyaan pada masing-masing anak. Setiap anak akan ditunjuk untuk maju di depan kelas untuk membacakan soal di kertasnya. Soal itu akan dijawab oleh teman-teman yang lain. Sang pengajar muda kemudian menemukan hubungan kertas dan tertib: anak-anak menjadi relatif tenang karena menunggu namanya disebut.
Saya tidak sedang menulis tentang sekolah sebagai segala-galanya. Itu terlampau berlebihan, itu terlalu berat. Para pengajar muda yang dikirim ke daerah atau pulau-pulau yang jauh itu juga tahu bahwa tiap kali mereka melangkah sampai ke depan gerbang sekolah, lalu berdiri mengajar di depan anak-anak, mereka tetap bukanlah pembawa masa depan yang cerah. Mereka bukan pembawa rute yang pasti. Mereka hanya ingin, seperti cahaya lilin yang menyala kecil, memberi sepotong harapan yang tinggi bagi anak-anak kumal itu daripada sekedar menantikan maut di tempat terpencil dalam peta besar Indonesia.
Toh, pada akhirnya kita mungkin tidak harus membuat anak-anak sekolah kalem dan tertib. Kita belum lupa sosok Hitler semasa sekolah: seorang murid yang rajin, tidak banyak bicara, tidak pernah bikin ulah, tidak pernah curang dalam ulangan, hampir tak pernah membolos, dan punya huruf A berderet-deret di rapornya.
Ada bagian yang mengharukan, ada yang bikin ketawa, dan ada juga yang terlalu datar. Tapi semuanya menggambarkan betapa wajibnya kita untuk saling berbagi ilmu dengan sesama, mensyukuri semua yang kita miliki saat ini, dan termotivasi untuk menjadi bagian dari pengajar muda Indonesia :D
Indonesia Mengajar merupakan sebuah gerakan sosial kesukarelawanan untuk mengembangkan pendidik muda yang berkualitas yang disebarkan diberbagai pelosok tanah air. Gerakan ini dipelopori anatra lain oleh Anis Baswedan (Rektor Universitas Paramadina). Para anak muda diseleksi dan direkrut dari berbagai disiplin ilmu. Mereka kemudian dibekali melalui suatu pelatihan kependidikan dan baru diterjunkan di lapangan.
Buku ini merupakan kumpulan tulisan pengalaman para pengajar muda yang ditempatkan di pelosok terpencil Kab. Bengkalis- Riau, Kab. Tulang Bawang- Lampung, Kab. Paser - Kaltim, Kab Majene - Sulbar, dan Kab Halmahera Selatan - Maluku Utara. Banyak cerita yang mengharukan dan membanggakan dari para pejuang muda ini. Saya berulangkali menghapus air mata haru dan bangga membaca kisah-kisah mereka yang rela terjun ke masyarakat terpencil untuk membaktikan diri bagi nusa bangsa. Dalam diri mereka telah tumbuh sikap altruisme dimana mendidik tidak hanya menjadi tanggung jawab negara atau pemerintah, “mendidik adalah tugas mural bagi setiap orang terdidik”.
Dari berbagai pengalaman Pengajar Muda tersebut ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik yakni: • Di berbagai pelosok tanah air, dijumpai banyak anak-anak desa terpencil yang sangat cerdas yang selama ini tidak bisa dikembangkan dengan baik karena metode pengajaran yang kurang memberi kesempatan pada mereka untuk mengembangkan diri. • Di beberapa wilayah seperti Maluku dan Sulawesi, proses pendidikan di sekolah maupun di keluarga sering disertai dengan penggunaan kekerasan (sebagai hukuman). Hal ini membuat karakter anak menjadi cenderung kasar dan menyukai kekerasan (termasuk terhadap teman sekolahnya). • Dalam beberapa kasus, kemiskinan keluarga membuat seorang siswa menjadi rendah diri (inferior) dan menyukai budaya “bisu”. • Kasus multi etnis di sekolah di Bengkalis-Riau, membuat adanya segregasi atau pengelompokan2 dalam lingkungan pergaulan anak sekolah. Sistem pendidikan yang ada belum banyak mencoba mengembangkan multi kulturalisme. • Dalam setiap sekolah pasti ditemukan anak-anak yang dianggap “nakal” atau agresif. Dalam sistem pendidikan yang ada, penanganan anak agresif cenderung dilakukan dengan hukuman. Hal ini menjadi stigma bagi siswa yang bersangkutan bahwa dirinya memang nakal.
Para Pengajar Muda menghadapi masalah-masalah diatas dengan pendekatan “hati” dan “lateral”. Mereka ternyata bisa mengembangkan kecerdasan anak didik sesuai dengan kompetensinya, mereka mampu menyalurkan energi anak didik yang agresif melalui cara-cara yang positif, mereka mampu membangun cinta kasih antara guru dan siswa serta sesama siswa. Para pengajar muda juga mempunyai kerendah hatian dimana mereka juga mengakui bahwa mereka juga belajar banyak dari anak didiknya, dari para guru senior dan juga dari masyarakat di lingkungan tinggalnya.
Sangat mencerahkan bila sistem pendidikan seperti yang diterapkan oleh Pengajar Muda itu bisa dicangkokkan dalam sistem pendidikan resmi di Indonesia yang ada saat ini. Sistem penddikan yang ada saat ini cenderung menggunakan keseragaman perlakuan terhadap semua siswa dan cenderung memberlakukan siswa sebagai obyek dalam proses belajar. Proses pendidikan harus dibangun bukan secara mekanistis karena murid adalah manusia yang punya hati dan jiwa.... Proses pendidikan harus dibangun dengan memanusiakan manusia dengan dilandasi dengan hati dan kasih sayang.
Tentunya, salah satu dari berjuta masalah yang ada di setiap negara adalah pendidikan. Orang tua sibuk mencarikan dana sampai kepada sekolah terbaik untuk mempersiapkan masa depan anak-anak mereka. Pemerintah pun demikian, yang (mungkin) mempersiapkan pengelolaan pendidikan sampai pada tingkat yang paling maksimal.
Lantas, bagaimana dengan wajah pendidikan Indonesia? Anies Baswedan setidaknya membuka mata hati para pemuda untuk bergerak lebih banyak di saat pemerintah tidak mau dan atau tidak sanggup memberikan kontribusi lebih di dalam bidang pendidikan.
51 Pengajar Muda dikirimkan ke wilayah-wilayah terpencil. Untuk apa? Tentunya memberikan kontribusi yang lebih kepada wilayah yang belum terjangkau oleh pendidikan yang memadai.
Buku ini merupakan cerita-cerita para Pengajar Muda saat berada di tempat mereka mengajar. Mereka berbagi kisah mengajar-diajar, kesan, dan hal-hal kecil di wilayah mereka.
Saya pikir akan terketuk hati saya. Ternyata tidak. Buku ini hanya seperti diary para Pengajar Muda yang diambil dari blog Indonesia Mengajar. Hanya bercerita tentang kehebatan-kehebatan anak yang mereka didik, bercerita kemampuan mereka mendidik, dan hampir tidak ada yang saya harap menjadi titik fokus: seperti apa sesungguhnya sistem pendidikan di Indonesia terpencil itu.
Rasanya, kalau bercerita tentang kehebatan Pengajar Muda, kita pun bisa dan kita pun (mungkin) sama tahunya dengan apa yang mereka bagi. Tetapi bila mereka memperkenalkan Indonesia yang terpencil akan pendidikan dari dekat, saya rasa buku ini akan berbeda.
Kesalahan-kesalahan remeh pun terjadi di dalam buku ini seperti menggunakan 'aku' dan 'saya' di dalam narasi yang di dalam satu cerita yang sama, atau tidak ada catatan kaki untuk menerjemahkan bahasa daerah yang belum pasti dipahami pembaca seluruhnya.
Setidaknya untuk tahun yang akan datang, bila Indonesia Mengajar ingin menerbitkan buku catatan semacam ini, saya pikir ada pertimbangan yang cukup baik seperti melihat Indonesia dengan lebih dekat dari sisi pendidikan yang sampai hari ini (bisa saja) masih dilupakan oleh pemerintah.
Jakarta, 27 Desember 2011 | 15.03 A.A. - dalam sebuah inisial
Didepanku, siaran kotak ajaib mencuci otak para penikmat kegalauan negeri ini. Kanan kiri, meng"gibah"kan negeri dengan segala kenegatifannya. "Sudahlah, takkan bisa negeri ini bangkit". "Haduh, kau liat itu di TV, sudah kacau lah negeri kita ini" dan segala ocehan sempit dari pita suara parau seorang bapak tua perokok berat yang masih diberi hidup. Tapi ditanganku, kisah ini bergulir, kawan. Membaca baris demi baris harapan. Senyum, tawa, tangis yang bersatu mewarnai negeri. Kecil memang yang mereka lakukan. Tapi untuk itulah kisah ini dibukukan. Inspirasinya mengalir. Memberi semangat luhur. Bercerita tentang pengalaman-pengalaman indah para pengajar muda di pelosok negeri. Menghadapi karakteristik daerah yang berbeda dan keunikan masing-masing adik didik mereka. Dan aku yakin, ketulusan belajar dan mengajar akan membangun bangsa ini sedikit demi sedikit. (sebelum membaca buku ini, salah satu sahabat dekatku bernama Verawati berhasil mendapatkan kesempatan emas menjadi seorang pengajar muda tahun ini. Beliau menceritakan segala kejadian ketika seleksi dan macam-macam hal ekstrim yang sebenarnya tidak terdapat pada buku. Good luck, vhe. Semoga bisa menginspirasi bangsa seumur hidupmu. Dan semoga aku dapat mewujudkan cita-citaku terkait dengan hal ini di masa depan kelak.)
Buku yang agak memalukan. Indonesia Mengajar adalah gagasan yang amat sangat bagus, mulia dan inspiratif tapi kenapa bukunya seperti ini. Sama seperti blog-nya, editing bukunya nyaris nol. Seolah penulisnya (para pengajar muda) sekaligus juga jadi editor dan proofreader dan beberapa kelihatan tidak mau susah payah (saya tidak menyalahkan mereka, mestinya memang bukan tugas mereka).
Ada beberapa kesalahan yang sangat mencolok dan bukan sekedar salah ketik atau tata bahasa, melainkan kesalahan faktual sederhana yang mestinya tidak usah terjadi. Wajar jika beberapa pengajar mudanya bikin kesalahan dalam penulisan blog, mungkin waktu nulis mereka mengantuk, tapi sayang kesalahan itu masih dibiarkan sampai versi cetaknya.
Tapi sudahlah, tidak adil hanya menyebut kelemahan buku ini. Untungnya buku ini terselamatkan oleh beberapa bab yang luar biasa brilian, inspiratif dan/atau mengharukan dengan bahasa yang simpel dan efektif.
setelah membaca buku ini,,, tak bisa berkata apa-apa,,sangat salut dengan semangat para pengajar muda,,begitu besar semangat mengajar di daerah yang terpencil,dengan segala keterbatasan tak ada keluhan yang terpancar,,tapi SEMNGAT membangun bangsa yang tampak, dan ternyata tak kalah semnagat dengan para pengajarnya,,anak didik yang merupakan generasi muda penerus bangsa ini,,begitu sangat antusias dalam menuntut ilmu,,sungguh mereka yang begitu haus akan ilmu,,dan akhirnya terobati dengan adanya para pengajar muda,, membaca buku ini sungguh sangat ingin ikut bergabung menjadi pengajar muda kelak,,
Andai program ini sudah ada saat kuliah dulu, bisa dipastikan saya akan langsung ikut mendaftarkan diri. Melihat salah satu bagian dari tanah air sambil melakukan sesuatu yang bermanfaat tentunya akan sangat bermanfaat bagi perkembangan jiwa.
Terbagi dalam beberapa bagian yaitu Anak-anak Didik Pengajar Muda, Memupuk Optimisme, Belajar Rendah Hati, dan Ketulusan Itu Menular. Membaca profile para pengajar muda, rasanya kita tak akan kehilangan calon pemimpin bangsa.
Guru adalah agen perubahan, setitik makna tentang pembelajaran. Dari aksara biasa hingga tentang bagaimana memupuk berbagai pandangan. Bensin masa depan para anak didik dalam uraian setiap episode kehidupan. Kini dan masa datang. Fenomena adalah ketika anak-anak muda terbaik bangsa meninggalkan kemapanan kota melewatkan segala kenyamanan yang ada memilih menjadi guru SD di desa-desa.
51 pengajar muda memilih untuk mengabdi. Rakyat di pelosok sana sudah hafal janji kemerdekaan, tetapi kita tak kunjung melunasi janji itu. Merekalah yang mendapatkan kehormatan untuk melunasinya : mencerdaskan kehidupan bangsa. Merekalah yang terpilih dari tantangan kolosal yang dijawab lantang 1.383 anak muda yang siap bekerja nyata. Membebaskan adik-adik sebangsa di desa untuk mencintai ilmu dan memandang para Pengajar Muda sebagai visualisasi mimpi mereka dan orang tua.
Sukses itu sering bukan karena berhasil meraih sesuatu, melainkan berhasil menyelesaikan dan melampaui tantangan dan kesulitan, kata Anies Baswedan. Pelopor gerakan Indonesia Mengajar. Mendidik adalah tugas konstitusional Negara, tetapi sesungguhnya mendidik adalah tugas moral tiap orang terdidik. Tutupnya pada baris kata pengantar.
Banyak sekali kisah yang menginspirasi di buku ini, keseluruhan cerita dapat dilihat di web Indonesia Mengajar. Buku ini hanya sedikit nukilan kisah nyata mereka.
Beberapa begitu terkesan untuk saya. Misalnya, betapa pemalunya mereka untuk sekedar menuntut ilmu, padahal mereka sangat berpotensi untuk menjadi orang terpelajar. Seperti kisah Erwin Puspaningtyas, yang harus ‘berkirim ilmu’ lewat lemparan segenggam kertas melalui jendela kamar nya. Berbagai surat dan puisi indah para murid untuk mereka, cukup membuat bulu roma ikut berdiri dan teriak dalam hati. “Oh Tuhan, sedahsyat itukah wujud cinta tulus yang mereka berikan? Lalu apa yang bisa saya lakukan ya sekarang? “
Banyak murid berpotensi hebat, sang penghapal angka, dan salah satunya bahkan berhak menemui wakil presiden yang berkunjung di daerahnya. Dengarlah kutipan inspiratif ini :
Satriana dipilih karena ia berhasil menuliskan sebuah surat yang cukup menyentuh hati. “Pak, saya ucapkan selamat kepada Bapak karena Bapak telah berhasil menjadi wakil presiden. Waktu kecil Bapak pasti bercita-cita menjadi wakil presiden, dan sekarang sudah terwujud. Saya juga bercita-cita jadi dokter, Pak. Doakan agar saya bisa jadi dokter, ya, Pak”. Surat Satriana pun diterima secara langsung oleh wakil Presiden. Dan Satriana pun mendapat doa dari wakil Presiden, “Kamu akan menjadi orang besar, Nak”
Mereka, para murid yang mungkin terlihat begitu dekil, dan tak banyak bicara. Bukan tidak bisa, hanya tidak percaya akan kemampuan masing-masing mereka.
Mungkin beberapa anak terlihat begitu kasar, namun para pengajar muda tidak boleh kalah. Karena mereka sudah pasti memiliki daya analisis diatas rata-rata. Mengutip kata novel To Kill a Mockingbird, “Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya … hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya.” Dan merekapun harus rela dan tulus menyelaminya.
Rasa buku ini lengkap, dari mengharu, kecewa degan sikap pemerintah selama ini, miris dengan kenyataan yang ada sampai tertawa geli karenanya. Tapi kalo boleh jujur sih, pengemasan bukunya masih kurang oke yah. Terlihat datar. Pemilihan cerita kurang pas. Padahal yg saya baca di web nya banyak juga yang lebih baik penguraiannya. baiklah kita ambil saja salah satu cerita lucu yang saya sangat ingat dari bukunya adalah nukilan kisah Firman Budi K berjudul Namaku Masa Depanku. Keheranannya atas sebuah kehormatan untuk memberikan nama bagi bayi-bayi di desa tempat tugasnya. Penduduk berharap banyak agar anaknya kelak sama sepertinya. Cerdas. Bahkan sampai ada yang minta diganti nama bayinya melalui keputusannya. Dan lucunya mungkin karena sudah mepet ide, tercetuslah nama seorang temannya yang juga Pengajar Muda. Karena nama dapat menentukan masa depan anaknya.
Beberapa pengajar muda juga ikut memberikan ide untuk kemajuan desanya. Intinya mereka harus berupaya nyata. Nah, coba deh lihat websitenya atau beli bukunya.
Inilah Indonesia, tanah air kita dengan pakaian pendidikannya yang masih kumal dekil dan bolong dimana-mana.
Beberapa pengajar muda adalah teman main saya jaman dahulu kala. Saya? Terpikir kok masih disini saja ya. Apa saja yang sudah saya lakukan coba? Boro-boro untuk Indonesia, untuk hidup saya sendiri pun saya masih belajar dan belum berupaya nyata #ngomong sama kaca.
Semoga setiap kita juga bisa berupaya nyata. Dengan ikut serta gerakan Indonesia Menyala misalnya yang mengumpulkan buku bermutu untuk disalurkan ke desa. Yang salah satu kegiatannya adalah Pack Your Spirit. Pada apapun, ayo kita bekerja nyata! Sebagai manusia Indonesia seutuhnya. Memperjuangkan kehidupan bangsa dengan sedikit saja usaha atau sebatas doa :D yang salah itu kalau cuma diam saja melihat kenyataan bangsanya. #kembali bicara sama kaca :)
One of my good friends gave me this book last year, thank you my friend!
Setelah beberapa bulan tersimpan baik di dalam lemari, pada bulan Desember 2013 akhirnya saya menyempatkan membaca buku ini.
Kesan saya secara umum setelah membaca buku ini adalah saya merasa salut dan sangat mengapresiasi usaha para Pengajar Muda yang telah menyempatkan satu tahun mereka untuk mengajar dan mendidik anak-anak sekolah di berbagai pelosok terpencil di Nusantara.
Masing-masing Pengajar Muda pasti memiliki pengalaman yang mungkin berbeda-beda, mereka menceritakan sebagian pengalaman di buku ini. Beda orang, beda pengalaman, beda cara pengajaran, beda juga ceritanya. Ada yang menulis pendek, sedang, ada juga yang panjang. Ada yang ceritanya fokus di satu anak, ada yang secara umum, ada yang dengan bentuk narasi cerita, ada juga yang bentuk puisi. Berbagai kisah diceritakan mereka, ada yang serius, menyentuh, lucu, bahkan gajebo juga ada hehehe.
Menurut saya pribadi dari banyaknya kisah yang ada pada buku ini ada beberapa yang kena bookmark saya : - Ibu Guru Laini, oleh Junarih. Siapa sangka anak yang terkenal tukang ngeyel, tipe memberontak, susah diatur ternyata .... ! - Namaku Masa Depan oleh Firman BK. Tulisannya bagus dan lucu, sepertinya ada beberapa persamaan antara penulis ini dengan saya :D - Uwanya Pula, oleh Adeline Magdalena. Saya suka tulisannya yang membahas tentang perbedaan dan toleransi, walaupun tergolong tulisan pendek tapi bagus dan pesan yang ingin disampaikannya sampai, mantap! - It's About Choice, It's About Choose, by Zaki Laili Khusna. Tulisan yang paling saya suka pada buku ini, tulisan ini saja bagi saya layak mendapat lima bintang. Sangat salut, sangat kagum terhadap apa yang diperjuangkan oleh bapak di pedalaman Kalimantan yang datang dari meninggalkan kampung halamannya, Gunung Kidul, Yogyakarta yang padahal kondisi tempat asalnya masih jauh lebih baik daripada tempat perjuangannya sekarang dari banyak aspek.
Lalu selain tulisan, ada lagi hal yang saya sukai pada buku ini yaitu foto. Ya, beberapa foto anak-anak dan guru ikut ditampilkan di buku ini. Dan menurut saya yang juga seorang "tukang poto keliling", foto-foto tersebut sangat bagus, kalau foto itu ada di Flickr pasti sudah saya masukkan ke favorite! Nilai tambahnya lagi, jenis dan gaya portrait foto yang ditampilkan buku ini sama dengan jenis dan gaya portrait saya, yaitu sama-sama suka dengan senyum :) dan tawa riang :D Ah... priceless photo collection, it makes me wanna see the color version too :)
Aspek foto dan tulisan yang kena bookmark bisa membuat saya memberi bintang lima, namun karena buku ini campuran tulisan dari banyak Pengajar Muda, maka sayang sekali saya ga bisa memberi rating bintang lima secara umum. Sebagai penutup resensi, semoga usaha yang dilakukan para Pengajar Muda yang sudah dilakukan selama setahun di berbagai tempat di pelosok pedalaman Nusantara diteruskan, baik di tempat yang sama, maupun ditambah di tempat pedalaman lainnya, baik oleh Pengajar Muda yang sama (jika mereka mau lagi) ataupun Pengajar Muda yang berbeda angkatan berikutnya. Dan semoga kita semua bisa ikut membantu (semaksimal kemampuan kita) dalam mengajar, mendidik, membimbing, memberi teladan anak-anak di Nusantara!
“Berhenti mengecam kegelapan. Nyalakan lilin. Ini negeri besar dan akan lebih besar. Sekedar mengeluh dan mengecam kegelapan tidak akan mengubah apapun. Nyalakan lilin, lakukan sesuatu.”
Kalimat tersebut adalah kalimat yang terpampang jelas di halaman situs Indonesia Mengajar. Gerakan Indonesia Mengajar yang diprakarsai oleh Anis Baswedan, seorang intelektual muda yang kharismatik dan sangat mencintai tanah airnya ini, memiliki misi mengisi kekurangan guru berkualitas di daerah yang membutuhkan dan menjadi wahana belajar kepemimpinan bagi anak-anak muda terbaik Indonesia sebagai bentuk dari sebuah ikhtiar untuk ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. Ya, alih-alih mengecam dan mengkritik segala kekurangan di bidang pendidikan yang ada di negeri ini tanpa ada tindakan nyata untuk mengubahnya seperti yang kebanyakan kita lakukan, Anis Baswedan menyalakan lilin, melakukan tindakan kecil (yang bagi saya bukan kecil lagi, tapi luar biasa) dengan mendirikan Gerakan Indonesia Mengajar.
Tidak sia-sia, gerakan mengajak para generasi muda Indonesia untuk berbagi ilmu dengan sesama anak bangsa yang kurang beruntung dalam memperoleh berbagai fasilitas pendidikan ini mendapatkan sambutan luar biasa. Sejak 2010, 11.017 sarjana Indonesia telah mendaftar untuk mengabdi pada negeri dan 170 dari mereka terpilih sebagai Pengajar Muda untuk mengajar 18.003 siswa di 117 desa di 14 kabupaten (Indonesia Mengajar page 294). Dan di buku inilah terangkum kisah-kisah inspiratif dari 51 Pengajar Muda angkatan pertama yang memilih menjadi guru dan tinggal selama setahun di 5 Kabupaten di pelosok negeri. Buku ini berjudul Indonesia Mengajar, Kisah para Pengajar Muda di Pelosok Negeri.
Kisah-kisah yang dimuat dalam buku ini adalah kisah keseharian dari para Pengajar Muda yang ada di Kabupaten Bengkalis di Riau, Kabupaten Tulang Bawang Barat di Lampung, Kabupaten Paser di Kalimantan Timur, Kabupaten Majene di Sulawesi Barat, dan Kabupaten Halmahera Selatan di Maluku Utara. Mulai dari kisah tentang interaksi antara para Pengajar Muda dengan anak-anak didik mereka yang memiliki berbagai macam karakter, kisah interaksi para Pengajar Muda dengan masyarakat, sampai kisah pahit manis kehidupan yang serba kekurangan di pedalaman disajikan di buku ini. Ditulis langsung oleh para Pengajar Muda dengan penuh rasa cinta, ikhlas, dan kepedulian. Walaupun kadang kisah-kisah yang diceritakan itu pahit, namun inilah kenyataan. Potret dunia pendidikan yang ada di Indonesia.
Membaca buku ini membuat saya termenung, berpikir, dan tersadar betapa Indonesia sebenarnya mempunyai potensi besar untuk menjadi negara yang maju. Membaca buku ini membuka mata saya bahwa banyak sekali generasi muda Indonesia yang berkualitas. Membaca buku ini rasanya seperti diajak sama-sama untuk tetap optimis pada masa depan bangsa ini. Membaca buku ini membuat hati saya tergerak. Membaca buku ini sadar atau tidak sadar mengajak saya untuk lebih peka sosial. Dan yang pasti, membaca buku ini membuat saya terinspirasi. Ya, karena Indonesia Mengajar yakin bahwa “Setahun mengajar, seumur hidup menginspirasi”.
Sekitar dua tahun yang lalu adalah pertama kalinya saya mengetahui tentang program Indonesia Mengajar. Waktu itu, dalam acara Kick Andy diudang beberapa Pengajar Muda (istilah dalam Indoensia Mengajar untuk guru) yang telah menyelesaikan tugasnya di berbagai pelosok bahkan pedalaman di Indonesia. Dari situlah dimulai ketertarikan saya pada keberadaan program ini.
Program Indonesia mengajar merupakan suatu wadah yang luar biasa menurut saya. Salah satu hal dari IM yang saya ingat sampai sekarang ialah tentang janji kemerdekaan yang notabene saya baru sadar. Janji kemeredekaan yang mungkin kita semua sudah hafal, janji kemerdekaan terhadap pendidikan, janji bersama (rakyat Indonesia) yang pernah melafalkan, namun tidak kunjung dibayar. Buku ini tidak kurang untuk memberikan bukti, memberikan inspirasi, memupuk motivasi seluruh pembacanya. Dibuka dengan kata pengantar dari Sang Pemprakarsa: Anies Baswedan, memberikan rasa tersendiri untuk membuka lagi lembar demi lembar buku ini. Diselipkan juga gambar-gambar keadaan sekolah-sekolah di mana PM mengajar. Hampir seluruh bagian dari buku ini membuat saya tercengang. Bagaimana setiap anak-anak Indonesia bertahan dengan ketidakberadaan listrik di wilayah mereka. Kehidupan malam mereka lalui dengan kegelapan, walau masih ada beberapa tempat yang mampu menggunakan mesin pembangkit listrik yang hanya bertahan tidak lebih dari 4 jam. Bagaimana anak-anak Indonesia bertahan dalam ketidakberadaan buku-buku dan alat tulis yang mana mereka mendapatkannya harus menempuh perjalanan panjang, pun dengan keadaan jalan yang rusak dan kendaraan seadanya. Bagaimana anak-anak Indonesia di sana tidak mengenal Kota, menganggap pulau Jawa sebagai negeri yang jauuuuh sekali. Dan bagaimana mereka dengan keadaan serba kekurangan masih bersemangat untuk sekolah, walau keadaan tak kunjung berubah.
Lebih dari itu semua adalah semangat yang begitu menyala yang ada pada para Pengajar Muda. Mereka adalah orang-orang yang meninggalkan pekerjaan dan calon pekerjaan yang mapan dan bergaji tinggi untuk berangkat ke berbagai pelosok Indonesia. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kesempatan mulia untuk melunasi janji kemerdekaan yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Semoga semua bangsa Indonesia bisa memanfaatkan semua yang ada untuk melakukan hal yang dapat mendukung kehidupan bangsa walau dengan cara yang berbeda.
Buku setebal 322 halaman ini merupakan kumpulan kisah pengajar muda di berbagai penjuru Indonesia. Sekolah seperti yang Andrea Hirata deskripsikan di “Laskar Pelangi” itu banyak dan nyata bertebaran di Indonesia, bahkan yang kondisinya tidak lebih baik pun banyak.
Ada 2 cerita yang paling saya suka dalam buku ini. Yang judulnya “Rizki, My Genius Student” (Erwin Puspaningtyas Irjayanti) dan “Manusia Auksin” (Bagus Arya Wirapati).
Cerita pertama itu bener-bener menyentuh. Terharu ga sih kalo ada anak kelas 3 SD nanya, “Kapan Tamaluppu akan mengalami musim salju seperti di Amerika?” Pemalu, tapi ingin tahu. Terus waktu Rizki tertidur di luar waktu nunggu “bola kertas”. Ya Allah TT.TT saya nyaranin baca dan resapi sendiri aja untuk cerita “Rizki, My Genius Student”. Biar feelnya dapet. :D
Beda lagi dengan “Manusia Auksin”. Tahu kan hormon auksin yang ada di tumbuhan? Yang percobaan kacang hijau disimpen di tempat gelap, dia akan tumbuh lebih tinggi. Akibat hormon auksin. :) Nah, saya kutip aja ya bagian “kenapa manusia auksin”nya.
“kita harus tumbuh subur di bawah sinar matahari yang merupakan perumpamaan dari sebuah kondisi yang mudah dan menyenangkan. Tetapi, tak selamanya kita akan menemukan matahari dalam kehidupan kita. Kadang ada kondisi dimana semuanya gelap, seperti tak ada harapan. Karena itu, kita harus menjadi manusia auksin. Dalam terang kita tumbuh subur, dan dalam gelap kita menjadi lebih tinggi, lebih dewasa.”
***
Banyak banget sebenernya orang berbakat dan pinter di Indonesia. Cuma ga semua punya kesempatan, ga semua mau nyari kesempatan, dan ga semua yang punya kesempatan melakukan yang terbaik. Saya pribadi agak gimana ya, ada passing grade sekolah-sekolah, anggapan “sekolah favorit”. Anak sekolahan di kota sering kali cuma peduli gimana saya bisa masuk sekolah favorit, sekolah dengan passing grade tinggi. Tapi ga disertai mimpi lebih tinggi. Udah, stuck, cita-citanya masuk sekolah favorit. Saat itu tercapai, entah jujur entah nggak, semua selesai. Tapi saya percaya ga semua orang kaya gini. Ga salah juga kalau ingin berada di tempat terbaik.
Dan poinnya adalah, bukan soal ada dimana kita sekarang. Tapi apa yang kita lakukan dimana kita berada sekarang. Menjadi manusia auksin. :) Makasih Kak Bagus, untuk inspirasinya.
Judul : Indonesia Mengajar Pengarang : Pengajar Muda Penerbit : Bentang Tahun : November 2011 Jumlah Halaman : 322 halaman Kota Terbit : Jakarta Isi
Keharuan dan kekaguman yang saya rasakan setelah membaca dan menyimak kisah-kisah dalam buku ini. Bagaimana tidak, para guru muda yang ditempatkan untuk mengajar di daerah-daerah terpencil di Indonesia, telah menemukan berbagai pengalaman yang memberikan makna lain pendidikan.Mereka tidak lagi bicara soal teori pedagogi ataupun jargon-jargon yang diungkapkan oleh kebanyakan otoritas terkait mengenai pendidikan. Sebaliknya, mereka melakukan sebuah tindakan konkret dalam dunia pendidikan. Inilah yang sebetulnya dibutuhkan oleh Indonesia pada saat ini.
Apa yang mereka dapatkan selama satu tahun berada tempat mereka ditugaskan? Apalagi kalau bukan sebuah pengalaman batin, pengalaman kemanusiaan dan pengalaman keindonesiaan.Pengalaman-pengalaman itu sering kali bukan didapat dari peristiwa-peristiwa besar atau bernuansa heorik. Pengalaman semacam itu justru dari hal-hal sederhana, terutama dari hasil interaksi mereka dengan murid-murid dan orang-orang yang ada di sekitar mereka.
Di sinilah tugas seorang pendidik sesungguhnya. Pendidik bukanlah memberikan label buruk pada si anak, justru harus menemukan cara agar kemampuannya dapat berkembang, sekaligus mengubah perilaku yang secara umum dianggap “mengganggu”.Selain itu, hal yang lebih penting adalah, usaha untuk terus menumbuhkan optimisme kepada para murid. Di tengah fasilitas serta ketersediaan dana yang terkadang serba terbatas dan tidak mencukupi, guru harus menumbuhkan semangat dan optimisme kepada para murid untuk berbuat sesuatu bagi diri maupun masa depannya.
Buku ini memberikan inspirasi bagi guru-guru di daerah lainnya. Mendidik bukan sekadar menabungkan ide atau gagasan secara sistematis, melainkan memberikan bekal kepada mereka untuk menemukan dan mengembangkan jati diri yang dimilikinya. ^_^
Buku ini berisi pengalaman para Pengajar Muda dan beberapa esai mereka yang dituangkan kebanyakan hanya dalam 3-5 halaman, dilengkapi dengan peta penyebaran tempat bertugas, profil, kata pengantar dan pengenalan Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar.
Pertama kali yang saya baca adalah kata pengantar di bagian paling awal dan pengenalan Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar di bagian akhir. Kedua bagian ini terus mengelu-elukan kata "terbaik": "sarjana-sarjana terbaik" "anak-anak muda terbaik" "putra-putri bangsa terbaik".. lalu saya membaca profil para Pengajar Muda yang memang wowww prestasinya baik nasional dan internasional sampai membuat saya keder.
Beberapa hal yang berkesan untuk saya: 1. Pak Guru: "269x10?" Siswa: "Dua ribu enam ratus sembilan." Pak Guru: "Bagus. Jawabannya benar." Saya ga tahu apa ini typo atau bagaimana.. tapi kalo memang, well, ga da guru yang sempurna toh walaupun catatan prestasinya mendominasi lebih dari setengah halaman.
2. Seorang pengajar muda menceritakan pengalamannya sehubungan dengan luka di sekujur tubuh seorang muridnya, begini salah satu pikirannya: ".. anak sekecil ini diperlakukan seperti binatang peliharaan oleh orang tuanya." --- Hmm.. jadi begitu cara si pengajar muda memperlakukan binatang peliharaannya, dengan melukainya di sekujur tubuh.
Buku ini merupakan sekumpulan tulisan yang ditulis lebih dari 50 orang (dengan asumsi tiap tulisan pengajar dapet jatah dipajang) jadi gaya bercerita sangat bervariasi. Belum lagi cerita disusun berdasarkan kesamaan tema, jadi dari tulisan satu ke tulisan berikutnya lokasi bisa langsung berbeda dan tentu saja penceritanya juga. Anyway, bacalah buku ini kalau ingin tahu keadaan pendidikan di pedesaan/ pendalaman Indonesia.
Buku ini sebenarnya mempunyai semangat yang baik dalam pesan2 yang ingin disampaikan. Bahwa pendidikan di negeri kita masih banyak yang terbelakang. Selayaknya untuk mencapai mimpi negara yang besar maka modal sumber daya manusia inilah yang sebenarnya harus ditempuh. Walau jalan ini sering kali berliku dan hasilnya baru terasa satu generasi mendatang namun inilah sebenarnya jalan yang terbaik ditengah bangsa kita yang seringkali menyukai hal2 instan.
Namun karena isi buku ini hanyalah merupakan kumpulan catatan pribadi para pengajar di pedalaman sehingga tidak semua penulisnya memiliki rasa tulisan yang baik. Ada kalanya tulisan tersebut terasa hambar dan datar2 saja, tidak lebih sebuah laporan belaka. Namun, ada juga yang dapat mengharu biru para pembcanya.
Secara keseluruhan kita bisa mengetahui kualitas calon generasi penerus bangsa kita yang ada didaerah tertinggal. Semangat para pengajar yang sebenarnya dapat hidup mapan dalam gemerlap kota besar namun memiliki komitmen tinggi untuk mau menyisihkan waktu hidupnya selama 1 tahun dalam suasana keterbatasan, layak diacungi jempol.
Seperti, kata2 yang seringkali diulang dalam buku ini. Tugas mendidik adalah tugas semua orang yang terdidik. Sangat cocok daripada kita hanya berani mencemooh bangsa ini tanpa pernah mau berbuat sesuatu bagi bangsa ini.
Beberapa cerita cukup menarik, namun beberapa yang aku maksud disini jumlahnya tidak terlalu banyak, masih lebih banyak cerita yang (mohon maaf, menurutku) membosankan. Hampir semua cerita yang ditampilkan merupakan pengalaman para PM dalam menjalankan tugasnya. Hampir semuanya mempunyai gaya bahasa yang sama dan inti cerita yang sama pula. Ditambah lagi, para PM memanglah bukan seorang penulis handal yang mampu menarik minat para pembaca buku. Di siniliah aku mulai bosan setelah membaca tidak lebih dari 6 kisah (err.. --").
Yang aku sayangkan, kenapa yang ditampilkan hanyalah kisah para PM dari beberapa kota saja (tidak semua kota). Dari awal aku pikir yang ditampilkan di dalam buku adalah kumpulan kisah terbaik para PM dari semua kota, namun kenyataannya yang ada di buku hanya kisah para PM dari beberapa kota saja, dan itu ceritanya juga gak baik-baik amat. Aku yakin kok pasti ada kisah yang bagus dari para PM selain yang bertugas di Majene, Tulang Bawang Barat, Paser, Halmahera Selatan, dan kota lainnya yang ada di buku. Aku yakin itu.
Membeli buku ini karena semata-mata aku sangat mendukung gerakan yang didobrak oleh Anies Baswedan dan ada setitik harapan kecil yang membuatku ingin bergabung di dalamnya.
Aku suka ide untuk mengumpulkan beberapa cerita tentang perjalanan dan pengalaman pengajar muda kedalam suatu buku. Ada beberapa cerita yang mengharukan seperti cerita mengenai kepolosan dan ketulusan anak-anak dalam menghadapi pengajar muda di dalam maupun diluar kelas.
Ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil untuk dijadikan pengalaman. Karena pengalaman adalah guru yang paling berharga. Saya salut kepada para pengajar muda angkatan 1 dibuku ini yang bersedia ditempatkan di seluruh Indonesia.
Akan tetapi saya boleh donk melakukan saran agar buku ini lebih baik. Pertama buku ini sudah bagus dikelompokkan berdasarkan tema dan topik yang relevan atau sesuai dengan ide masing-masing cerita. Akan tetapi kurang dalam hal keajegan penulisan dan proses penyuntingan lebih lanjut. Nggak enak kan kalo baca kumpulan cerita terus apa yang ada di belakang buku terasa membosankan dibanding pas baca diawal. Terus lagi setelah membaca satu cerita yang mengharu biru selanjutnya datar sama sekali. Bener-bener nggak enak menurut saya.
Tapi dengan segala kekurangan tersebut saya acungi jempol untuk ide pembuatan buku ini. Semoga untuk buku sejenis kedepannya agar mutu dan kualitasnya lebih ditingkatkan lagi.
jujur aja,sempet gak tertarik pas buku ini digembor2 ama penerbitnya di twiter trus pas ada di kick andy jg ya gw lewatin gt aja,sempet apatis sama buku ini :malu: entah kenapa tiba2 tertarik baca pas buku ini datang sebagai hadiah bentang,padahal review di belakang buku jg gw baca gt2 doang :malu: setelah membuka cerita pertama,ternyata bukunya keren,buka wawasan kita tentang daerah2 yg selama ini gak terbayangkan,membuka kesadaran jg kalo kisah di buku ini nyata,tentang pengalaman para pengajar muda yg merelakan masa hura2nya untuk mengajar di daerah yg mungkin mereka pun gak tau dimana itu. Baca buku ini jg bikin kita berimajinasi hidup dan mengajar di daerah2 itu,dan membuat kita pengen juga jadi pengajar2 muda itu. Kisah2 di dalamnya inspiratif,banyak jg cerita yg bikin terharu,mata berkaca2..Terbayang kehidupan tanpa listrik,tanpa hiburan2 elektronik,hanya ditemani bulan ketika malam tiba. Well,salut buat para Pengajar Muda,mudah2an lanjut terus dan daerah2 yg tadinya tertinggal jd lebih maju & berkembang..
"Mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik"
ini adalah kumpulan tulisan, yang dibuat oleh banyak penulis, dengan kemampuan yang berbeda-beda dalam menulis. oleh sebab itu, membaca buku ini bisa dari arah mana pun. tidak harus dari depan. tidak ada pola linier dari muka ke belakang. boleh pilih-pilih mana yang secara sekilas menarik. bunga rampai semacam ini bermanfaat untuk memberi harapan pada pembacanya, bahwa di indonesia ini ada sekelompok orang yang bergerak secara strategis mengisi posisi-posisi edukatif. suatu gerakan yang idealis, yang dengan penerbitan kumpulan kesan-kesan pelakunya ini diharapkan akan memekarkan gerakan ini sendiri, melalui simpati yang dibangkitkannya. semoga saja banyak yang bersimpati dalam gerakan ini. sebagai buku, memang fungsi kumpulan tulisan ini hanya segitu: membangkitkan minat anak-anak muda agar ikut terlibat. bukunya sendiri tidak semenarik gerakannya tadi. bukunya ya cuma semacam jari penunjuk yang mengarah ke posisi di luarnya: yakni gerakan "indonesia mengajar" itu sendiri.
Buku ini adalah hadiah ulang tahun dari bunda yang pernah dengan kalo salah satu obsesuku adalah pergi ke daerah bwt jadi guru. Pas dah baca buku ini jadi tambah penasaran n pengen banget bwt jadi salah satu pengajar "yang dah ga" muda, tahun depan patut dicoba, untuk sesuatu yg baik pasti ada jalan. Buku yang inspiratif banget, kagum dan bangga bwt smua pengajar muda yang dah bela2in jadi guru, smoga bukan cuman 1 tahun aja ya jadi pengajar mudanya... Jazakumallah, bwt bukunya ya bund... Jazakumullah, bwt yg punya ide Indonesia Mengajar, tim, pengajar muda n smua pihak yang peduli dengan pendidikan di Indonesia Jazakumullah trutama bwt anak-anak yang ga pernah berhenti n menyerah bwt belajar, doakan saya biar bisa berbagi sedikit ilmu dan belajar bersama kalian suatu hari nanti...amin
Well, sebenernya sebelum buku ini terbit gue udah pernah denger soal kegiatan IM ini dari temen gue. Tapi waktu itu gue cuma WOW aja waktu denger ceritanya temen gue. Begitu gue lagi jalan-jalan ke Gramedia Purwokerto, gak sengaja gue nemu buku ini. Tanpa ba-bi-bu lagi, gue langsung beli buku ini. Begitu mbaca buku ini, gue cuma ternganga-nganga aja, kagum sama perjuangan dan pengalaman IM selama 1 tahun mengajar di daerah-daerah pelosok nusantara. Dan begitu ngebaca profilnya para anggota IM ini, gue terkagum-kagum, mereka dari lulusan PTN-PTN favorit Indonesia. Overall, buku ini cukup menginspirasi gue, khususnya, buat lebih peduli, bahwa banyak yang lebih butuh tenaga gue, pengetahuan gue, dan keuletan gue, walaupun mungkin ga begitu bonafit secara finansial, tapi memang, esensi dari IM ini yang bisa gue simpulin dari buku ini adalah KEPEDULIAN. Salut buat gerakan IM!
Kisah-kisah para pengajar muda dalam program Indonesia Mengajar ini, dirangkum dalam tulisan yang sangat menyentuh. Terkadang kita dibawa menangis, tertawa atau berimajinasi bagaimana sulitnya kehidupan di pelosok desa yang minim akses air dan listrik. Kisah-kisah ini, juga mampu menuturkan sisi humanis dari seorang guru muda, terkadang mengalami keputusasaan namun tak pernah jatuh selamanya karena ada idealisme dan semangat yang terus menyala. Yakni, berkontribusi setahun untuk berkontribusi selamanya dalam hidup. Buku ini, mampu membukakan informasi pada kita yang hidup di perkotaan, bahwa pendidikan bagi sebagian masyarakat di pelosok adalah barang dengan harga yang sangat mahal. Tidak ada mekanisme pasar yang mampu menyediakan barang tersebut, yang nyata2 sangat berguna untuk menyokong pembangunan manusia yang seutuhnya. Dua jempol untuk anak-anak muda yang hebat ini!
sejak ada gerakan indonesia mengajar di berita2, jd penasaran gmn kisah2 sang pengajar di daerah antah-berantah tersebut ?
untungnya, kisah itu dibuat di bukunya. pembaca diajak mengenal karakter anak-anak, ada yg bandel, ada yg pemalu abis, semuanya campur sari...dan salut deh kpd bapak/ibu pengajar muda yg kreatif dan ga mengenal kata menyerah memperkenalkan sisi pendidikan yg menarik.
sempet miris jg ngeliat gmn anak-anak maluku dididik dg kekerasan.apalagi mereka jarang mengeluh saking polosnya.
ada quote salah satu pengajar, intinya : pendidikan anak-anak bukan hanya tanggung jawab guru-guru di sekolah tapi juga orang-orang dewasa yg pernah mengenyam sekolah apalagi yang memiliki gelar di belakang nama. jadi, bagilah pendidikan yg kita punya ke generasi di bawah kita.
Masih terkategori buku bagus sih, tapi jujur agak kecewa dengan isinya. Dalam artian tidak sesuai ekspektasi saya :).
Bisa jadi karena buku ini merupakan kompilasi cerita yang ditulis langsung oleh para pengajar muda angkatan pertama (kalau saya tidak salah ingat). Dimana belum tentu mereka punya basic menulis yang mumpuni, jadi kadang ada beberapa cerita dengan pilihan kata yang agak aneh (masih menurut saya loh ya).
Tapi tetap tidak mengurangi kekaguman saya akan mereka yang mau menyisihkan waktunya selama setahun untuk di'buang' ke pedalaman. Sekaligus kekaguman saya kepada adek2 diujung negeri yang dengan segala keterbatasannya tetap bersemangat untuk menjemput salah satu janji kemerdekaan, yakni pendidikan. Wajib dibaca terlebih bagi mereka yang masih suka menyia2kan kesempatan belajarnya.
Sort of disappointing. I don't know what the planned format for this book, but it looked very unstructured for me. Yes, I know that most of the pages are taken from the teacher's blog. But even then, I don't know whether it was edited or not. I do not see the thread that binds it as whole. Somethings are not even explained or given background. Hopefully it will be better in the second time around.
However, the movement is highly applaudable, everyone involved in making a better future for Indonesian kids will get my support. :) Teachers, mentors, money-backers. Everyone should pat themselves in the back because you dare to change the face of education, even if it's seems like nothing, but your efforts bring tears to my eyes.
Luar biasa. Patut dijadikan renungan di saat banyak yang berlomba-lomba jadi guru bukan karena "panggilan hati" tapi hanya karena "besarnya gaji".
Banyak kisah menarik di dalamnya.
Tapi tetep, yang paling bikin berdecak kagum adalah biodata para pengajar muda angkatan I yang disisipkan di bagian akhir buku. Sosok-sosok mawapres semuanya. Benar-benar membuat saya merasa tidak ada apa-apanya.
Harapan saya setelah baca buku ini cuma 1, semoga suatu saat nanti saya bisa menjadi bagian dari mereka dan bisa ikut menyebarkan inspirasinya ke seluruh Indonesia.
Karena menjadi pendidik adalah tugas (moral) setiap insan terdidik.
Membaca buku ini sedikit banyak kayak membaca kisah hidup beberapa bulan terakhir :p
Saya yang bertugas sebagai salah satu Pengajar Muda jadi semakin bisa melihat bagaimana perjuangan dan kisah teman-teman PM 1 di daerah penempatannya. Kisah mereka begitu menginspirasi sehingga saya merasa mewajibkan diri untuk ikut terlibat dan turun tangan. Menyaksikan sendiri betapa berwarnanya Indonesia. Betapa kayanya potensi anak-anak Indonesia. Dan betapa ajaibnya dunia pendidikan kita.
Dengan 1001 moments yang saya alami setelah menjadi pengajar di daerah pelosok, buku tetap memberi warna tersendiri. Saya tunggu buku kedua, daaaan.... semoga ada tulisan saya di situ hihi.
buku yang menginspirasi. berisi kisah-kisah para pengajar muda selama masa mengabdinya di daerah-daerah terpencil di Indonesia. ternyata mengajar tidak semudah yang saya kira, tetapi juga tidak sulit. setelah membaca buku ini, saya termotivasi untuk lebih sering berbagi dengan mereka, anak-anak kurang mampu yang belum tersentuh pendidikan. pendidikan itu penting, apalagi pendidikan di usia dini. di usia anak-anak lah karakter seseorang mulai dipersiapkan. maka, untuk menyiapkan karakter bangsa yang hebat dibutuhkan juga guru yang hebat! salam Indonesia Mengajar :) *semoga 4 tahun lagi bisa join jadi relawan dan korps pengajar muda. aminnn