Jump to ratings and reviews
Rate this book

Dunsa

Rate this book
Seumur hidupnya, Merphilia tidak pernah bertemu dengan orang lain selain bibinya. Tidak ada lagi kegiatannya selain melakukan pekerjaan rumah tangga, belajar beladiri dengan Bibi Bruzila, atau membaca buku--satu-satunya hal yang menghubungkannya dengan dunia luar.

Namun, di ulang tahunnya yang ketujuh belas, dia bertemu dengan seroang Zauberei yang mengatakan bahwa Merphilia adalah si Gadis Prajurit dalam Ramalan. Hidupnya berubah drastis saat dia ditugasi untuk membunuh seorang penguasa kegelapan dan monster-monster ganas yang telah memorak-porandakan Empat Negeri Besar Prutopian. Dia harus memusnahkan sang Ratu Merah, Veruna. Ibunya.

Merphilia memang tumbuh besar tanpa kasih sayang ibunya. Namun tetap saja, ketika harus berhadapan dengan sang ibu, dan membunuhnya, itu bukan hal yang mudah. Terlebih ketika semua orang membencinya lantaran dia adalah putri sang Ratu Merah. Termasuk Pangeran Skandar Ardelazam, lelaki paling tampan yang diam-diam mencuri hatinya.

453 pages, Paperback

First published November 20, 2011

10 people are currently reading
84 people want to read

About the author

Vinca Callista

14 books52 followers
Published Novels:

1. Sang Panglima Laskar Onyx (fantasylit, GagasMedia 2007)

2. Semburat Senyum Sore (teenlit, Grasindo 2011)

3. Lima Mata Manusia (short stories, nulisbuku.com 2011)

4. Dunsa (fantasylit, Atria 2011)

5. SERUAK (psychothriller novel, Grasindo 2014)

6. Nyawa (psychothriller novel, Bentang Pustaka 2015)

7. Kilah (psychothriller novel, Grasindo 2015)

8. Daddy's Little Girl (psychothriller novel, coming soon)

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
38 (37%)
4 stars
19 (18%)
3 stars
27 (26%)
2 stars
13 (12%)
1 star
5 (4%)
Displaying 1 - 30 of 30 reviews
Profile Image for Luz Balthasaar.
87 reviews69 followers
March 26, 2012
Setelah The Ask and the Answer yang begitu intens, kayaknya saia belum siap lanjut ke Monsters of Men. Jadi ini dulu deh.

...sampai halaman 140, saia bisa menarik beberapa kesimpulan:

1. Cara berceritanya lumayan.

2. Prolognya menarik!

3. Konfliknya bagus. Tapi dah dispoil di blurb di depan buku. Argh.

4. APHUAAAH? Celana Dalam Kembang-Kembang punya rival? Dan rivalnya itu adalah CAWAT BALIHO NEON!!!??? What Tje Fuk?

5. Tokoh utamanya ini pure, undiluted Mary Sue. Bisa main pedang/panah, jago menunggang kuda, suka membaca, 'cerdas', suaranya indah bangetz, dan... dibilang 'cantik' sama semua karakter lain kecuali cewek b*tchy-nya.

6. Pengarang nggak tahu apa-apa tentang bagaimana kompleks istana sungguhan dibangun, atau bagaimana kehidupan istana itu berjalan. Ch.

7. Pengarang nggak tahu apa-apa tentang bagaimana pemerintahan monarki berjalan. ~_~ Sh*t. Kenapa banyak pengarang fantasi lupa bahwa pangeran itu TITEL untuk seorang pemerintah/calon pemerintah, bukan cowok cakep yang ada di satu cerita cuma untuk naik kuda putih, tebar pesona, dan mengawini tokoh utama yang Mary Sue abis? Princes are supposed to RULE (or learn to rule), first and foremost. I don't really like it if they are depicted merely as wish-fulfillment tools for princess wannabees. >_<

*Ngelirik Cesare-nya Fuyumi Souryo dan Il Principe yang nangkring manis di rak*

In short, Snark Bait Alert. Yea.


***


Sudah selesai baca, dan... what is this piece of sh--I mean, 'plot device'...?

OH THE HORROR!!!

Harapan saia sempat naik begitu baca twist di hal 384 sampai 392. Tapi lewat dari itu... NO. By Jeragorn and all the Saints, just NO. NO NO NO and a thousand more NO.

Ijinkan saia merenung dulu sebelum nulis repiu buku ini di Fikfanindo. I mean, saia pengen fair. Ada bagian dari buku ini yang layak dipuji, ada potensi yang layak dibahas, tapi masalah di bagian akhir itu benar-benar major turn-off buat saia. Selama saia belum berpikir jernih, saia gak akan ngasih buku ini lebih dari dua bintang.

***

Dah dibikin repiunya di Fikfanindo. Tunggu tayang. Saia akan taruh tautannya setelah tayang.

Pendek kata, saia bisa menyukai buku ini, kalau saja bukan karena tokoh utamanya. Bintang akhir 2.8, saia bulatin ke bawah karena overall rating waktu saia ngasih 3.45. Kalau tokoh utamanya saia suka, atau kalau ada dua atau tiga tokoh sampingan aja yang saia suka, saia akan kasih buku ini 3.3, paling sedikit.

***

Sudah Tayang!!! Silakan klik link berikut:

CAWAT BALIHO NEON YEA!!!
Profile Image for R.D. Villam.
Author 641 books82 followers
March 14, 2012
Apa yang terjadi ketika seorang gadis mendapat tugas untuk membunuh ibunya demi menyelamatkan dunia? Apakah dia bisa melakukannya?

Sudah pasti itu adalah premis yang sangat menarik. Apalagi prolognya bagus, dan ceritanya pun benar-benar terasa fantasi. Vinca punya imajinasi berlimpah. Dia bikin dunianya lumayan lengkap dengan sederet nama dan cerita, ada sejarah-sejarahnya, ada monster-monsternya, ada perjalanan ke tempat-tempat aneh. Walaupun, pada akhirnya tidak semua hal itu benar-benar nyangkut di plot dan bisa nyambung ke imajinasi saya. Sebagian deskripsinya cukup detil, tapi di bagian lain yg mestinya penting malah kurang. Tapi secara keseluruhan narasi dari Vinca lancar, dan editingnya pun rapi. Itu kelebihannya.

Kekurangannya, saya rasa ada di tokoh-tokohnya, dan kedalaman konfliknya. Hampir semua tokohnya pada dasarnya seragam. Hitam, putih, sempurna, ekstrovert, terbuka, semua bisa bicara apa adanya tanpa ada yang disembunyikan, hampir semua rahasia bisa terbuka lewat omongan langsung di kesempatan pertama. Gak ada yang benar-benar cerdik atau licik, atau bermain tipu-tipu (kecuali twist menjelang akhir cerita). Protagonis tidak punya cacat jahat, dan antagonis tidak punya cacat baik. Pengembangan konflik dan romancenya pun ringan, yang mungkin, khas cerita remaja. Bahkan orang-orang dewasanya (termasuk raja dan ratunya) seringkali punya pemikiran yang terlalu sederhana.

Intinya, jika dilihat dari kacamata saya, dari segi logika, saya memang rada gemas: kok raja/ratu bisa kayak begini? pangeran/putri ini begini amat? tokohnya ini sempurna banget sih? masih muda-muda, tapi udah pada jago luar biasa. trus udah tau mereka punya masalah besar, masih sempet2nya berpesta, bikin2 baju, jalan-jalan, dilukis, berjemur? kok bisa-bisanya berita tragis mengerikan diumumkan begitu saja saat pesta, alih-alih disembunyikan? kok bisa ada koran yang memberitakan begitu saja soal pembantaian, lebih sadis daripada koran Pos Kota atau Lampu Merah? dan lain-lain. Yang mungkin, dari sisi saya yang udah terlalu tua (hehehe), hal-hal itu akan terasa janggal.

Kemudian, saya juga bingung dengan penutupnya. Saya pikir ini sebenarnya berpotensi untuk jadi cerita yang epik. Tentang seorang gadis yang berjuang untuk menghadapi masa lalunya, mendapatkan tempatnya, mendapatkan pengakuan atau semacamnya. Ada pengorbanan, ada pertempuran, dan kemudian dia berhasil. Bisa bagus dengan cukup berhenti sampai di sana. Sayangnya setelah puncak pertarungan yang cukup seru, di bagian akhir cerita lalu berbelok, dengan tambahan soal cinta, pernikahan dan asal usul yang seperti agak dipaksakan. Lalu dengan epilog yang kabur dan seolah lari dari ceritanya sendiri. Jadi seperti status quo. Akhirnya itu membuat saya bertanya, jadi apa masih ada artinya semua yang diperjuangkan oleh Merphilia selama ini?

Tapi okay, itu hanya sedikit pertanyaan dan komentar dari saya. Terlepas dari kekurangan-kekurangan yang ada, toh buku ini juga masih punya banyak kelebihan, di mana saya bisa belajar.

Untuk Vinca, terus menulis dan berimajinasi ya. Ditunggu cerita-cerita darimu selanjutnya. :-)

Salam.

Villam
Profile Image for Truly.
2,764 reviews13 followers
December 20, 2011
Anure vutar nakhalak retkatgna yhalil abmek! Gnugag nilapasa ugnephaluc numeknak iskay nemnaipot urpraga ini anugrebkat hubuti kusam! Anure vutar iskasgna yhalpu dihil abmek! Ukuta rgnugag nayhalil abmek!

Beberapa sahabat saya sudah mulai menguliti kisah ini. Belakangan buku ini memang sedang gencar dibicarakan. Bahkan saat MATA GRI 2011 yang lalu, buku ini menjadi rebutan saat keberadaannya sebagai buku hadiah diumumkan.

Sepertinya kisah mengenai buku ini sudah diketahui banyak orang. Maka izinkan saya menguliti dari sisi lain.

Pertama saya hanya bisa bilang MENYEBALKAN!
Betapa tidak...., buku ini hadir saat saya sedang kejar tayang urusan kantor sehingga tertunda untuk membacanya. Tapi... terus terang duet dua oknum, Jia dan Ida sudah menjadi jaminan buat saya, ada ”sesuatu” di buku ini. Nekat mencuri-curi waktu untuk membaca, malah kian MENYEBALKAN karena saya sering kehilangan sensasi keseruan cerita. Akhirnya diputuskan untuk begadang guna menuntaskan buku ini tanpa disela apapun! Setelah kejar tayang semalam, harus menyebutkan lagi kata MENYEBALKAN! Kenapa enggak dibaca dari kemarin he he he

Idenya sungguh patut dipuji! Seorang anak yang harus bertarung dengan ibunya, bahkan harus membunuhnya demi kebaikan orang banyak.. Bagaimana juga seorang ibu adalah tetap menjadi ibu. Walau Phi, panggilan untuk Merphilia, tokoh kita sudah dimantrai agar melupakan masa lalunya, tapi ia tetap tidak mengubah sebuah fakta bahwa ia memiliki seorang ibu yang kebetulan harus bersebrangan. Membunuh berarti menyelamatkan banyak orang, tapi di sisi lain berarti berbuat dosa besar dengan menyakiti seorang ibu yang selama sembilan bulan menjaga dalam kandungan.

Akan lebih mengusik emosi pembaca jika Phi dibuat tidak begitu saja pasrah akan :”takdir” yang disandangnya. Mungkin dengan membuatnya merasa penasaran dan mencari tahu siapa ibunya, tidak hanya puas dengan cerita dari pihak istana dan Bruzila pengasuhnya. Sisi ini harusnya bisa diolah dengan lebih menarik.tidak hanya adegan perkelahian saja antara Ratu Merah dan Phi yang selalu kelihatan begitu bernapsu membunuhnya.

Tokoh Bruzila sepertinya kurang diberi peran kecuali sebagai seseorang yang mengasuh Phi. Kalau pun sedikit menonjol hanya betapa besar pengaruhnya pada Phi dihalaman sekian he he he Begitu juga dengan beberapa tokoh yang sepertinya hanya sebagai bumbu penyedap saja. Jadi berkesan seperti sinetron kolosal.

Kisah di halaman 322-323 sebenarnya sedikit membingungkan saya, bagaimana bisa benda itu ditemukan dengan begitu mudahnya? Bukannya Ratu Veruna seharunya sudah mengantisipasi hal tersebut dengan melakukan penjagaan yang ketat dan sejenisnya? Andai saja ini bisa dikembangkan, kisah Dunsa bisa lebih dari satu buku.

Kisah kasih antara tokoh utama memang selalu menjadi bumbu penyedap. Begitu juga kisah kasih Phi. Sudah tertebak bahwa kelak akan ada bagian yang menyebutkan bagaimana Phi dijodohkan dengan pangeran Z tapi justru menjalin cinta terlarang dengan pangeran Q. Sikap mereka yang bersikap acuh tak acuh pada status mereka membuat pembaca langsung bisa menebak kemana hubungan mereka akan dibawa (alah!)

Belakangan ini penulis kisah fantasi sering menambahkan data pendukung seperti peta dan silsilah guna membantu pembaca kian menikmati cerita. Dalam Dunsa kita akan menemukan peta serta silsilah keluarga kerajaan. Peta yang ada persis dengan penggambaran penulis mengenai suatu lokasi. Konsisten dan sangat teliti. Saat membaca sebuah lokasi, saya langsung terbayang dengan peta yang ada di halaman awal buku. Membuat saya kian berasa ikut bersama mereka dalam kisah ini, berada di sisi Pangeran Skandar (gak mau rugi cari yang guanteng)

Lain lagi untuk urusan silsilah, selain tidak nyaman dibaca, saya harus menduga-duga perbedaan kotak yang satu dengan yang lain, yang menandakan si pemilik nama masih hidup atau sudah meninggal. Coba ada penjelasannya dan font lebih nyaman pasti lebih menyenangkan untuk dibaca.

Penjabaran penulis mengenai suatu hal langsung di kalimat berikutnya sungguh sangat membantu pembaca menikmati kisah yang ada. Misalnya perihal Zauberei dihalaman tiga puluh, lalu Oro-Roku di halaman 10-11. Disana ditulis, “ Kabarnya mereka terkena Kutukan Ora-Roku…. Ora-Roku adalah monster ular raksaksa berkepala enam yang legendari dan dianggap telah punah.” Pembaca tidak perlu bolak-balik mengintip glosarium agar mengerti apa itu Ora-Roku.

Di akhir buku ternyata terdapat glosarium, sayang kurang lengkap. Andai perihal Ora-Roku dan lainnya juga dicantumkan kembali di glosarium tentu akan lebih membantu menikmati kisah ini, terutama bagi mereka yang menikmati kisah tidak dengan sekali baca. Maklum begitu banyak makhluk dan tumbuhan yang ada Usul jahil, bagaimana jika diciptakan sebuah suplemen yang berisi hal-hal yang ada di Dunsa, seperti hewan, tumbuhan, mosnter dan sebagainya. Jika ditambah dengan ilustrasi tentu kian seru. Oh yah makhluk fantasi favorit saya adalah Wyattenakai.

Satu lagi kelebihan buku ini, penulis tidak latah membangun sebuah dunia seperti LOR, HP dan lainnya. Unsur lokal juga ditawarkan disini. Lebih baik hanya sedikit dari pada tidak ada sama sekali.

Secara garis besar kisah ini diramu dengan apik. Semuanya mengalir dengan manis, walau ada kekurangan di sana-sini tapi cukuplah tertutup dengan kelebihan yang disajikan. Hanya kadang perpindahan sebuah peristiwa atau lokasi masih kurang manis sehingga terasa janggal seakan ada bagian yang dibuang. Harry K. P, Bonmedo Tambunan, Andry Chang awas... ada pesaing baru!

Setelah Tasaro dengan bahasa Kedalunya, buku ini juga menawarkan sebuah bahasa khusus yang membuat kisahnya kian seru.Hem ada artinya atau sekedar permainan huruf yahhh

Saat membaca nama-nama di belakang saya baru sadar nama saya tidak ada di sana. Sepertinya saya sudah melakukan preorder. Tapi biarlah, enggak penting. Toh buku ini mendarat dengan manis atas jasa Bapak Peri Buku a.k.a M Dyan Prianto.

Apa lagi yahhhh?
Sementara itu dulu lah....

Ekzh ierebu aziam admal-as ekzh.
Profile Image for Annisa Anggiana.
283 reviews53 followers
May 1, 2012

Sayang sungguh sayang. Sebuah cerita fantasy yang sungguh punya potensi dikembangkan menjadi sesuatu yang luar biasa namun tidak begitu dimanfaatkan dengan maksimal. Di mata saya Prutopian adalah sebuah dunia yang indah dan otentik berasal dari daya khayal pengarangnya. Bukan dari adaptasi cerita2 fantasy yang sekarang sudah menjamur.

Ada empat negara besar di Prutopian, Naraniscala, Delmorania, Ciracindaga dan Fatacetta. Tokoh utama kita adalah seorang remaja perempuan bernama Merphilia Dunsa. Ia tinggal di sebuah daerah nan sepi bernama Tirai Banir dekat Ibu Kota Naraniscala bersama Bibinya yang bernama Bruzila. Seumur hidup Merphilia, atau biasa dipanggil Phi, belum pernah keluar dari daerah tersebut.

Semenjak kecil Bruzila telah melatih Phi dengan berbagai macam kemampuan beladiri. Hasilnya Phi tumbuh menjadi gadis yang tangguh (dan digambarkan secara fisik sangat cantik). Ketika akhirnya Phi diizinkan untuk ikut bibinya ke ibu kota Naraniscala, disanalah ia pertama kali mendengar tentang Ratu Merah.

Tak lama kemudian secara mengejutkan rumah mereka yang terpencil didatangi oleh seorang Zauberei (semacam kaum sakti Prutopian). Dan Phi lebih terkejut lagi ketika tahu bahwa bibinya mengenal Zauberei yang bernama Hewit tersebut. Ada sesuatu kondisi yang teramat penting sehingga mereka harus ikut ke tempat tinggal para Zauberei di Pegunungan Isaura.

Disana Phi menemukan kenyataan aneh bahwa semua orang memanggilnya Putri Cleorinda. Melalui pimpinan kaum Zauberei ia memperoleh informasi bahwa di masa lalu pernah ada seorang penyihir jahat yang mencoba untuk menguasai seisi Prutopian. Penyihir tersebut bernama Ratu Veruna, masyarakat umum memanggilnya Ratu Merah karena warna rambut dan mata nya berwarna merah menyala. Di masa itu Ratu Merah menggunakan bermacam bala tentara dan sebagian besarnya merupakan monster-monster mengerikan yang berasal dari berbagai zaman yang berhasil ia bangkitkan. Masa-masa pemberontakan tersebut dinamai Masa Merah.

Ratu Merah kemudian berhasil dibunuh oleh Jendral Alanisador, yang kini telah menjadi Ratu Alanisador. Pemimpin negeri Naraniscala. Alangkah terkejutnya Phi ketika mendengan bahwa Ratu Merah kini telah bangkit kembali, Ratu Merah tidak pernah benar2 mati, ia menyimpan jiwanya dalam danda merah nya untuk suatu saat dibangkitkan. Dan kali ini ada seseorang yang telah membangkitkan Ratu Merah, jiwanya merasuk pada manusia lain yang belum diketahui identitasnya.

Setelah tiba di istana dan bertemu keluarga kerajaan, Phi lebih terkejut lagi ketika menerima informasi bahwa Ratu Merah hanya dapat dihancurkan oleh sesuatu yang berasal darinya, yang diartikan sebagai keturunannya. Dan anak dari Ratu Merah atau Ratu Veruna adalah Putri Cleorinda alias Merphilia Dunsa.

Phi harus membunuh Ibunya demi seisi Prutopian.

The great side dari buku ini adalah dunianya Prutopian yang indah dengan segala mahluk eksotik dan anehnya yang original berasal dari daya khayal sang pengarang. Gambaran empat negara besar Prutopian juga sangat khas dan unik dan rasa2nya saya belum pernah menemukannya dimana pun. Sangat luar biasa, untuk itu saya acungkan jempol buat pengarang.

Beberapa hal to improve. Pertama karakter Phi, pada awalnya cukup menjanjikan karena ia digambarkan sebagai tough girl. Saya mulai terganggu ketika Skadar masuk ke dalam cerita dan di titik itu karakter Phi kehilangan gregetnya. Romantismenya agak over dan nyinetron, apalagi ketika udah menginjak ke cinta segitiga. Hadeeuuuh. Karakter Phi jadinya ngga berkesan. Dan begitu pula dengan beberapa tokoh lainnya. Yang paling ganggu buat saya adalah Jendral Adelarda yang hobinya marah-marah ngga jelas. Terlalu kekanakan.

Kedua, plot dan alur yang klise. Garis besar atau kerangka dari cerita ini udah keren. Kalo diolah dengan benar bahan bakunya, cerita ini bisa jadi buku berseri yang mengandung kisah yang masuk ke dalam kategori epic. Sayang, sayaaaaang banget deh. Semuanya dibikin selesei secara rusuh dan jatuhnya jadi ngga dalem. Ceritanya jadi ngga punya jiwa.

Ketiga adalah mantra2 dan bahasa native nya yang ngga terkonsep dengan baik. The simpler the better kalo buat mantra sedangkan untuk bahasa native akan lebih baik kalo diberi footnote arti dari kalimat-kalimat tersebut.

Ah sayang deh (udah keberapa kali nih nulis begini). Definitely great material, but unfortunately lack in execution. Maap beribu maap kalo agak nyelekit reviewnya, bukan2 kenapa2, tapi bener2 saya cuma ngerasa lebar pisan (sayang banget.red). This book could be the first Fenomenal Indonesian Epic Fantasy.
Profile Image for Ardani Subagio.
Author 2 books41 followers
November 26, 2012
Sebenernya pertama kali aku tahu soal buku ini aku ga seberapa tertarik buat mbaca ato sekedar nyari tahu lebih lanjut. Bukannya karena apa, tapi, buatku, kover buku ini terlihat seperti kover buku anak2.

Minta maaf sebesar2nya buat orang yang mendesain kover buku ini kalau memang tidak bermaksud demikian, tapi dari penggunaan warna, monster dan kereta di kover, ditambah konsep latar, aku sama sekali tidak mendapat kesan fiksi fantasi yang "serius". Lebih terasa seperti kover buku untuk anak2. (perihal apakah pas kalo buku untuk anak2 ada tagline membunuh ibu di kover depannya, itu masalah lain deh ya)

Tapi setelah beberapa lama, teman2 di internet mulai ngobrolin buku ini, dan mulailah saya tertarik. Saya pun mencoba mencari buku ini dan membelinya sembari sesedikit mungkin menyimpan rasa praduga dan sangkaan saya akan novel ini sebelumnya. Berniat untuk menimpan semua putusan sampai buku ini akhirnya selesai saya baca.

Ternyata, untuk menyelesaikan membaca pun saya tidak sanggup.

Jadi, buku ini saya sarankan salah satunya untuk para penulis atau calon penulis kisah fantasi, tujuannya tak lain untuk mempelajari cerita seperti apa yang seharusnya TIDAK mereka buat. Yep, this book is a how-not-to-write-fantasy-fiction guide book.

Buku ini berisi segala macam klise yang pernah ditulis pada genre fiksi fantasi dan disarankan kepada penulis baru untuk tidak menulisnya lagi. Granted, klise terkadang memang bisa membuat cerita jadi jalan, dan beberapa orang bisa menggunakan klise dengan asik, tapi kalau terlalu banyak ya, well, bisa bikin capek juga bacanya.

Buku ini berkisah tentang Merphilia, seorang perempuan yang cantik, tinggi, cerdas, digandrungi banyak orang dan pangeran, yang awalnya tinggal di sebuah gubuk kecil di pinggir hutan lalu tiba2 mendapat takdir besar sebagai penyelamat dunia.

Yeah,cliche down to the dots and letters.

Kalau saja ada satu saja hal menarik dari buku ini yang bisa mengalihkan pikiranku dari keklisean buku ini, mungkin Dunsa bisa dapet nilai lebih bagus. But no, kisah ini memiliki banyak sekali kekurangan sampai (menurutku) buku ini tidak bisa digolongkan sebagai karya fiksi fantasi. Mungkin lebih tepat sebagai dongeng hasil nulis di diary penulis sendiri trus dianggep cukup bagus buat naik cetak.

Why do I sound so harsh? Karena untuk membuat fiksi fantasi yang enak dibaca, hanya mengandalkan imajinasi tinggi saja tidak cukup. There's this little extra hard work we call "research". Hasil riset inilah yang membuat dunia fiksi fantasi terasa hidup, lengkap, dan benar2 terasa seperti dunia yang bisa ditinggali. Riset inilah yang membedakan sebuah dunia fantasi yang hidup, dengan dunia yang lebih pas disebut dunia dongeng anak2.

I know some groups of authors who work really hard to make their world looks, and feels, real. Authors who spend extra time in finding out about how little things work in order to carry their readers into their world of imagination. It saddens me that those authors have to struggle their way to publication while this kind of book exists.

Tanda2 kekurangan riset ini jelas terlihat. Ada review lain yang menyebutkan bahwa sang penulis tidak tahu bagaimana sebuah kerajaan monarki beroperasi. I'd go so far as the writer doesn't even know how the world works. How simple logic works.

Dan kalau saya bicara tentang logika cerita, bukan berarti sebuah cerita fiksi harus berjalan seperti logika dunia nyata. Yang saya maksud adalah logika sebab-akibat kenapa sesuatu bisa terjadi, atau bahkan tercipta. Something exist because something exist because something exist because something exist. Alur sebab-akibat ini yang sepertinya sama sekali tidak dipikirkan oleh sang penulis hingga membuat dunia yang menimbulkan banyak sekali tanda tanya.

Seperti misalnya, di awal disebutkan bahwa kerajaan Naraniscala adalah kerajaan terkaya di dunia karena kerajaan ini memiliki sumber minyak bumi. Aku langsung berpikir "Bagaimana sekedar memiliki minyak bumi membuat sebuah kerajaan menjadi kaya raya?" Minyak bumi bisa membuat sebuah negeri menjadi kaya karena mereka adalah sumber energi yang digunakan oleh semua orang di seluruh dunia. Sumber energi adalah alasan utama minyak bumi menjadi sangat berharga di dunia nyata, dan sepanjang saya membaca buku ini sama sekali tidak ada tanda keberadaan peralatan atau mesin atau apapun yang membutuhkan minyak bumi sebagai sumber tenaga.

Dalam hal ini, buku ini terjebak dalam masalah yang sama dengan buku Phoenix yang juga pernah saya review dalam hal kedua penulis sama2 sekedar memindahkan logika dunia nyata ke dalam bukunya. Tanpa ada pertimbangan sama sekali tentang pengaruhnya terhadap alur sebab-akibat dalam kisah cerita. (Heck, dalam buku ini bahkan ada sebuah pengeras suara. PENGERAS SUARA. Entah apakah sudah ditemukan listrik, mic, loudspeaker, dan segala macamnya di dunia ini. Tapi kalaupun ada, semua perlengkapan itu hanya digunakan dalam satu adegan saja)

Narasi yang digunakan dalam buku ini pun sangat lemah dan tidak menggugah, and the characters are even worse. Setiap karakter terasa hanya muncul untuk mengagung-agungkan tokoh utama, membuatnya hebat dalam segala hal, walau hal tersebut justru menjatuhkan nilainya di mata saya. I mean, who would a perfect, 6 foot tall, claims-to-be-smart, beautiful-than-princess, 16 years old! It drops all of the charms she possibly have!

Saya tidak tahu apakah ada yang benar2 suka dengan karakter Merphilia atau tidak, tapi saya tidak akan bisa menyukai perempuan seperti dia.

And I don't think I need to rant any longer. I've concluded why I don't like this book in a long enough review. Yang pasti, kalau ada yang mau membaca buku ini, gunakan sebagai panduan How-not-to-write-fantasy-fiction.
Profile Image for Magdalena Amanda.
Author 2 books32 followers
December 21, 2012
Phwa, akhirnya selesai juga bacanya, rawr.

Sejujurnya, saya bingung dengan buku ini.

Kenapa saya bingung?

Pertama, saya sukar mendapatkan gambaran yang tepat tentang setting berlangsungnya cerita. Ada nuansa medieval, tapi ada kacamata hitam dan label baju. Ini berbeda dengan Incarceron yang jelas ada teknologi maju namun kehidupan dipaksa "stuck" di sebuah era Victorian atau medieval. Di Dunsa, ya ... begitulah, tidak ada sesuatu yang membuat keberadaan label baju dan kacamata hitam dapat terasa dimaklumi bentroknya dengan nuansa medieval di sepanjang cerita.

Kedua, karakter. Rasanya seperti melihat sinetron Indonesia (apakah ini berarti sebagai sebuah fikfan lokal, Dunsa sukses mengangkat sesuatu yang Indonesia banget? Sinetron lokal?). Yang baik ya baik (tapi di sini tegar masih bisa melawan, bukan karakter baik dan lemah kayak di sinetron yang kalau dijahati pola selanjutnya adalah berdoa sambil menangis--promosi make-up yang tidak mudah luntur barangkali ...) yang jahat ya digambarkan nyebelin dari awal sampai akhir dan gak berguna dari awal sampai akhir.

Ketiga, dengan 2 hal yang telah saya sebutkan di atas, saya bertanya-tanya siapa gerangan target pembaca Dunsa?

Untuk hal pertama, oke, saya membaca jawaban dari penulis sendiri di review ttg buku ini yang juga dimuat di Goodreads, jadi saya tidak akan mengajukan "mestinya begini" dan "mestinya begitu" karena penulis saya anggap sudah menganggap buku ini adalah hasil imajinasi dan kreasi kreatif. There's nothing wrong being imaginative and creative, right?

Nah, dengan asumsi saya tidak akan membantah bagian yang menggoda saya untuk "mestinya begini" dan "mestinya begitu", saya akan mengkategorikan ini dongeng/cerita fiksi-fantasi untuk anak-anak. Banyak orang bilang cerita anak-anak pun dibuatnya harus mikir dan mempertimbangkan hal-hal yang "mestinya begini" dan "mestinya begitu", tapi untuk kali ini, kita akan ikut aliran yang bilang cerita anak-anak itu boleh imajinatif dan kreatif sepol-polnya.

Oke? Deal?

Kemudian, dengan asumsi saya seperti itu, saya menemukan konten cerita yang menjurus sinetron Indonesia banget.



Barangkali akan ada yang bilang bahwa buku ini memang bukan buat anak2, tapi untuk remaja usia 14-15an tahun ke atas.

Oke.

Kovernya itu lebih mencerminkan Dunsa sebagai buku anak2 atau buku remaja? Itu pertanyaan selanjutnya.

Ya? Jangan menilai buku dari kovernya? Di toko buku itu buku2 disegel, petunjuk mengenai isi buku cuma bisa dinilai dari kover dan blurb/sinopsis yg jg nempel di kover belakang buku. Gimana "jangan menilai buku dari kovernya" kalo gitu caranya ...?

Jadi, sungguh, saya bingung dengan buku ini. Tidak jelek, tapi beberapa faktor membuat saya tidak bisa memberikan nilai bagus untuk buku ini. Banyak faktor malah lebih tepatnya.

Terutama karakter.

Dan konflik yang sangat lokal banget tapi lokalnya adalah sinetron yang dari dulu sampai sekarang plotnya hampir nggak ada tanda2 pertobatan.

Aslinya malah kalau bisa sebenarnya saya lebih suka memberikan 1,5 bintang.
Profile Image for Fredrik Nael.
Author 2 books45 followers
March 29, 2012
Jelaslah bukan tipe bacaan favoritku.
And nooo, I can't be objective on this. ^^;
Profile Image for Sulis Peri Hutan.
1,056 reviews298 followers
May 5, 2015
Awalnya tidak tertarik baca buku fantasy dalam negeri ini karena sebelumnya saya pernah membaca buku karya Vinca Callista yang berbau fantasy juga: Ratu Callista Sang Panglima Laskar Onyx di mana saya tidak berhasil menyelesaikannya. Tapi, saya 'terusik' oleh beberapa teman BBI yang sudah mereview dan memberi tanggapan yang bagus, terlebih saya mendengarkan ulasan Dunsa dua kali di radio secara streaming menambah rasa ingin tahu saya seperti apa dunia yang dibuat oleh Vinca Callista, dunia Prutopian.

Prutopian dibagi menjadi empat Negeri Besar, yaitu Delmonaria (menyatu dengan laut), Ciracindaga (kaya akan hasil alam), Fatacetta (negeri para peri), dan Naraniscala (paling kaya karena tanahnya mengandung minyak bumi dan batu-batu mulia). Empat Negeri Besar Prutopian masing-masing dipimpin oleh seorang raja atau ratu. Biasanya penguasa Negeri adalah anak pertama, baik laki-laki maupun perempuan. Keluarga kerajaan beserta para menteri dan keluarga mereka tinggal di istana. Tirai Banir terletak di tengah-tengah Fastehagan (ibu kota Naraniscala) dan Negeri Ciracindaga.

Merphilia Dunsa, gadis muda yang cantik sekali, hidup terisolir di daerah Tirai Banir bersama bibinya Bruzila Bertin. Mereka tinggal di sebuah pondok kecil, dikelilingi hutan dan seumur hidup Phi, begitu panggilannya tidak pernah menjumpai ada tamu datang yang berkunjung. Bibinya sangat tegas dan disiplin kepada Phi, membuatkan jadwal harian dan melatih Phi menjadi gadis yang tangguh, belajar pedang, memanah, dan masih banyak lagi. Merphilia mengenal dunia luar dari buku-buku yang dibacanya seperti Legenda Masyarakat Pulau Antares, Silsilah Keluarga Istana Naraniscala, dsb. Pada hari ulang tahun Phi ke tujuh belas, bibi Bruzila mengahdiahi Merphilia seekor kuda yang diberi nama Trisna dan ada satu hal yang dimintanya lagi ke orang yang paling disayangnya itu, dia ingin mengunjungi Fastehagan, ingin sekali saja keluar dari Tirai Banir. Bibinya pun mengabulkan karena dia juga ada kepentingan ke Fastehagan untuk mengambil sebuah pedang yang sudah dipesannya di Natha, seorang pandai besi dan ahli senjata. Sambil menunggu bibinya menyelesaikan urusannya, Merphilia melihat sekitar hampir ditabrak seekor kuda putih dengan penungang yang sangat tampan, tapi sayang sebelum berkenalan dengannya dia sudah diseret bibinya untuk pulang.

Beberapa hari berikutnya pondok kecil Merphilia kedatanggan tamu, baru kali ini, dan sangat memuat penasaran Phi. Pondok mereka kedatangan tamu, seorang Zauberei -seorang penyihir laki-laki yang netral- bernama Ipyan yang menyapa Merphilia dengan sebutan Puteri Cleorinda. Penyihir itu membawa kabar tentang desas-desus Reinkarnasi Ratu Merah yang belum terungkap siapa yang sengaja membangkitkannya. Tapi Manggala Zauberei sudah tahu petunjuk untuk memusnahkannya kembali, yaitu melalui Merphilia Dunsa.

Merphilia sangat bingung, sebelumnya bibinya tidak mau menjelaskan siapa sebenarnya Ratu Merah atau Ratu Veruna dan kenapa orang-orang memanggilnya dengan Puteri Cleorinda. Untuk menemukan semua jawaban tersebut, Phi mematuhi perintah Zauberai dan bibinya untuk segera berkemas ke Pegunungan Isaura (tempat tinggal para Zauberei, sekarang) dengan menggunakan Pusaranadim. Di sana Phi bertemu dengan Manggala Hekatoth dan di sana juga Phi mengetahui kebenaran hidupnya.

Dahulu ada seorang perempuan yang sangat pintar sekaligus licik yang membangun sebuah keratuan di Pulau Rigelion, Kepulauan Borelis. Dia menamai dirinya Ratu Veruna. Karena keratuannya dibangun di atas api yang semerah kemarahannya maka penduduk Prutopian menyebutnya Ratu Merah. Ratu Veruna ingin balas dendam kepada Negara Naraniscala terlebih terhadap sang Raja Claresta Ardelazam, kekasihnya. Nama asli Veruna adalah Mergogo Dunsa, seorang gadis yang amat cantik, karena kecantikannya juga dia berhasil menarik hati Pangeran Claresta. Tapi keluarga kerajaan tidak mau merestui karena Mergogo berasal bukan dari kerajaan, tidak sederajat sehingga dia dinikahkan dengan Danella Narwastu, putri dari Raja Sumaziel Narwastu - Penguasa Circandaga. Tapi setelah menikah dan menjadi Raja tidak menyurutkan perasaan cinta Claresta terhadap Mergogo, dia tetap menemuinya secara sembunyi-sembunyi, hingga sampai Bruzila -sahabat sekaligus kaki tangan Veruna- mengatakan kalau Raja Claresta telah mempunyai ahli waris bahkan berita terakhir yang didapat adalah Ratu Danella sedang hamil anak ke dua. Hal ini sangat membuat Mergogo kecewa dan marah, dia pun belajar sihir atas usulan Bruzila untuk menghilangkan patah hati yang tidak tahunya dengan ilmu yang dipelajarinya itu menjadikan dia gelap mata, menjadi jahat. Atas dasar balas dendam dia menyerang Naraniscala, membuat negeri itu kacau balau, banyak moster dilepas dan dia berhasil membunuh Raja Claresta Ardelazam. Sayangnya Veruna tidak berhasil merebut Naraniscala karena dia lebih dulu dibunuh oleh Jendral Alanisador, adik Raja Claresta, yang sekarang menjadi Ratu di Naraniscala.

Dan sekarang ada orang yang menghidupkan Ratu Veruna dari Mantra Bayatarwa yang dirapalkan oleh Kahrama, dalam raga yang baru, dalam jiwa yang tebagi menjadi dua; Jiwa jahat yang masuk ke dalam achar-nya Danda Merah, sebuah tongkat sihir, sementara Jiwa baik-nya yang terperangkap dalam Lukisan Putih. Ratu Merah siap memporak-porandakan Prutopian dengan lebih kejam dari sebelumnya dan hanya ada satu orang yang dapat membunuhnya, orang yang menjadi bagian hidupnya, keturunannya, dialah Puteri Cleorinda yang sekarang bernama Merphilia Dunsa, anak dari Ratu Veruna dan Raja Claresta.

Merphilia Dunsa tidak mempunyai ingatan apa pun tentang masa lalunya karena bibinya telah menyihir dan menghapus ingatan tersebut, dia pun bersedia mempunuh Veruna, dia tidak sendirian karena ada Pangeran Skandar yang selalu ada disampingnya dan Jendral Alderada bersama pasukannya, Sena Naraniscala. Oh, konfliknya tidak hanya memburu Ratu Veruna karena Merphilia juga jatuh cinta kepada Pangeran Skandar, kakak tirinya.

read more: http://www.kubikelromance.com/2012/01...
@peri_hutan
3 reviews
January 10, 2020
Merphilia Dunsa yang menjadi tokoh utama, bersama Bruzilla Bertin, Bibi atau lebih tepatnya keluarga satu - satunya yang ia miliki. Bruzilla menyimpan cerita klasik ibunya yang ia selalu rahasiakan dari Merphilia. Hidup ditengah Tirai Banir, layaknya antah - barantah, dengan monster - monster yang hidup di sekeliling Tirai Banir. Membuat hidupnya mampu beradaptasi dengan kehidupan yang selalu dihindari oleh manusia normal. Setelah mengetahui bahwa "Ratu Veruna" adalah ibu kandungnya. Batinnya begitu sakit saat mengetahui bahwa cerita mengenai ibunya telah meninggal, layaknya manusia normal lainnya. Adalah dusta cerita Bruzilla. Belum lagi ibunya (Ratu Veruna) yang dibankitnya dengan reinkarnasi oleh ketua Zauberei (Manggala Hekatot) hendak memporak - porandakan 4 kerajaan dan kesan mengesalkan bagi Merphilia adalah saat tahu bahwa hanya keturunannya lah yang mampu menghadapinya. Yaitu dirinya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Myami.
10 reviews
July 20, 2019
Buku Dunsa buat aku cukup menghibur.. apalagi kalau udah bagian mereka ceritain makhluk dan dunia baru dalam buku. Pendeskripsiannya beneran bisa bikin aku ada dalam sana. Plot twistnya pun ga ketebak.

Sayang pendalaman tokohnya kurang, bagian bagaimana karakter bertindak masih kurang eksplor. Meskipun kalau ditambah akan mempertebal bukunya aku pikir. Dan karakter Phi disini seolah yang paling sempurna disini. Pangeran Skandar yang awalnya buat aku "oke dia pasti keren" pada akhirnya malah hanya jadi yang mengekor di belakang Merphilia.

Mungkin serasa masakan yang kurang bumbu, overall aku nikmatin makanan yang biasa. Ga memberikan efek berselera untuk cepet-cepet diabisin apalagi nambah.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Lisra Yenny.
96 reviews1 follower
March 23, 2021
Buku kedua dari Vinca Callista yg saya baca. Seperti genre fantasi lainnya buat saya begitu baca bab awal udah bikin penasaran dan g bisa kalo g langsung kelar, alamat kebawa mimpi..jadi mending dituntaskan.
Sooo...saya suka banget tokoh2 dalam cerita ini, bebas ngayalin secantik apa Phi itu, Seganteng apa Skandar dan Wavi. Segagah apa Jenderal Adelarda.. Begitu juga dengan karakter2 hewan yg hidup di Prutopian.
Jalan ceritanya rapi, eksekusi nya juga rapi. Dan seneng banget pengen nya Phi bukanlah adik tiri Skandar kesampean
Tapiii... Akhirnya mereka menikah g sih... Berhubung masih 17 thn jalan mereka masih pjg ya tapi...raja dan ratu itu biasa kan menikahkan anak2nya selagi remaja..
Profile Image for Alvina.
732 reviews119 followers
January 17, 2012
Judul Buku : Dunsa
Penulis : Vinca Callista
Penyunting : Jia Effendie
Penerbit : Atria
Cetakan Pertama : November 2011
ISBN : 978-979-024-492-4

Dunsa adalah sebuah novel fiksi Fantasi dengan penulis orang Indonesia. Sebenarnya sejak awal, kehebohan novel ini terus muncul di antara review teman-teman. Bahkan bintangnya pun cukup tinggi di Goodreads. Alhasil, saya sebagai konsumen novel fantasi ikut mencoba rasa fantasi dalam buku ini.

Dunsa bercerita tentang seorang gadis bernama Merphilia Dunsa. Seperti yang sudah ditulis di covernya, gadis ini harus membunuh Ibu kandungnya yang bernama Ratu Veruna. Alkisah, ketika Phi, panggilan akrab Merphilia, berulang tahun yang ketujuh belas, ia dan Bibinya didatangi oleh seorang Zauberei. Sebuah berita kemudian diterimanya, Phi harus membunuh Ibu kandungnya yang sangat Jahat. Ratu Merah atau Ratu Veruna, atau Mergogo Dunsa adalah seorang wanita yang pernah mencintai Claresta Ardelazam, maharaja yang memimpin negeri Naraniscala. Kecintaan itu sayangnya tidak berjalan dengan baik, karena perbedaan status mereka membuat Mergogo Dunsa ditolak mentah-mentah oleh Ibu dari Claresta. Akhirnya Mergogo tersingkirkan, Claresta terpaksa menikahi Danella, wanita pilihan Ibunya.

Batas antara cinta dan benci itu sangat tipis, karena kemudian Mergogo memberontak terhadap Istana. Claresta bahkan mati ditangannya saat mencoba membujuk wanita yang dicintainya itu untuk tidak membelot terhadap Istana. Perang kemudian terjadi, sampai Mergogo yang kemudian dikenal sebagai Ratu Merah berhasil dibunuh. Sialnya, Jiwa Ratu Merah berhasil disimpan oleh orang kepercayaannya dan kemudian dibangkitkan lagi.

Perang yang terjadi saat Ratu Merah berkuasa disebut Masa Merah, kali ini Naraniscala tidak ingin peristiwa itu terjadi lagi. Ratu Merah harus dimusnahkan, dan menurut penafsiran Zauberei atas kitab Kahrama, hanya dapat dilakukan oleh Merphilia Dunsa.

Phi yang merasa tidak pernah mengenal ibunya, mengiyakan perintah Ratu Alanisador untuk mencari Ratu Merah dan membunuhnya. Tapi cerita Phi tidak hanya tentang membunuh ibunya. Di buku ini juga diceritakan bagaimana kisah cintanya dengan Pangeran Skandar Ardelazam, kakak tirinya. Serta cinta segitiga yang terjadi antara Phi, Skandar dan Putra Mahkota Naraniscala.

Buat pembaca yang suka akan makhluk magis, di buku ini ada banyak makhluk baru yang bisa anda temui, seperti Wyattenakai, Ororoku, Fata dan lainnya. Anda bisa membayangkannya berbekal glosarium yang ada di bagian akhir buku. Masing-masing makhluk dijelaskan dengan rinci. Di bagian awal buku, kita dapat membaca peta dan silsilah Istana Naraniscala. Sayangnya, huruf yang dipakai agak “keriting” dan ukuran yang mungil membuat saya agak susah membacanya.

Kelemahan buku ini juga terlalu banyak judul buku yang disisipkan di dalmnya. Okelah kalau Phi dan Skandar suka membaca, tapi mas aiya perlu sedetail itu sampai menulis judul-judul buku yang panjang itu? Kejanggalan lainnya saya rasakan di awal cerita, ketika Bruzila membereskan kamar Phi dan kasurnya yang basah karena hujan menghancurkan langit-langit kamar. Bruzila membereskannya dengan cepat. Padahal kalaupun memanggil tim “bedah rumah”, saya rasa juga tidak akan secepat itu beresnya. Dan anehnya, Phi terima begitu saja, kesan curiga kalo Bibinya pakai sihir juga terkesan hanya main-main.

Kenapa ya di dalam cerita tidak banyak diceritakan tentang kerajaan Ciracindiga? Padahal ketiga negeri lainnya mampu dilibatkan ke dalam jalannya cerita. Kejanggalan lainnya ketika Phi harus masuk ke Lukisan. Awalnya dia tidak mampu menyentuh lukisan tersebut tanpa berhalusinasi bahkan sampai kejang-kejang, tapi kenapa dia bisa masuk tanpa kejang-kejang lagi? Apakah karena pengaruh Wyattenakai, atau karena sudah dijampi jampi dulu begitu? Mungkin penulis bisa lebih mengembangkan bagian ini. Serta saat di mana Phi dirasuki dua jiwa selain jiwanya sendiri. 3 jiwa dalam satu tubuh? Wow, bagi saya terlampau berat untuk dipahami. Tapi selain itu, saya suka adegan perangnya, ketegangan yang ditimbulkan saat membaca dan akhir percintaan phi yang… emmm.. baca sendiri aja ya… XD

Secara keseluruhan, 3 bintang untuk buku ini. Dua jempol untuk penulisnya, yang mampu membangkitkan kembali fiksi fantasi dalam negeri.
Profile Image for June Tan.
6 reviews4 followers
May 12, 2013
Jadi penasaran ingin membaca buku ini sejak baca repiunya di fikfanindo :D. Seteruk apa sih, sampai cc Luz nge-rant di sana?
dan... yah, setelah mengorbankan sekian puluh ribu untuk membeli, ini pendapat saya tentang Dunsa.

Dilihat dari worldbuilding, saya pengen banget bilang buku ini oke. makhluk2-nya, peta dunianya, penamaannya... aiii... iriii pengen bisa bikin yg tertata rapi begini.

Premisnya juga lumayan, tentang anak yg karena suatu sebab harus turun tangan membunuh ibunya sendiri.
Tapi sayang, konsep sebagus ini dirusak oleh...

karakter...

yeah, beberapa repiuwer sebelum saya juga sudah menyebutkannya. Tokoh utama di cerita ini, Phi, amat sangat Mary Sue. Cuantik, bertubuh indah, pinter berkelahi, suaranya merdu, keturunan bangsawan, muda, digadang2 sebagai 'the chosen one', ditaksir semua lelaki muda... dsb, dsb, dsb.
Tapi sebenernya saya nggak terlalu gimana banget soal ke-mary sue-an si Phi. Toh pas pertama baca Breaking Dawn, saya sempat ber-woohoo~ ria ketika kekuatannya Bella Swan keluar. Atau waktu Jake meng-imprint Reneesmee *ngakudosamodeon*

Cuma nggak suka pas Phi dengan entengnya bertekad buat bunuh ibunya saat dikasih misi tersebut. Yakin tuh non? Sejahat apapun ibumu, juga meski udah nggak inget pernah diasuh sama si ibu, rasanya kok gimana gitu ya kalo seorang gadis dengan ringannya bilang mau bunuh2 gitu? Tanpa konflik batin blas pula.

Saia juga lama2 eneg tiap kali Phi mulai ngomong: 'aku pernah baca di buku ini, bla, bla, bla....' Kesannya jadi textbook banget gitu. Ah, jadi terkesan Phi disebut2 pinter itu semata2 karena dia menghapal sesuatu yang berasal dari buku. Rasanya kok jadi sama dengan memuji anak SD yg dapet nilai 100 di pelajaran hapalan. :v :v

Tapi daripada Phi, toh saya lebih sebel lagi sama Pangeran Skandar. Dibilangnya 'pangeran', tapi toh sama sekali nggak terasa aura pangerannya. Dia ini lebih kayak fanboy-nya Phi. Lebih parah lagi, kalo tiap karakter boleh digambarin pake binatang, Skandar ini langsung kebayang sebagai anjing kecil dengan mata berbinar2 yang selalu membuntuti Phi sambil goyang ekor. :p

Selain 2 tokoh utama itu, tokoh2 lain, terutama beberapa orang 'tuan putri' terkesan sinetroniyah banget. Mereka membenci Phi karena alasan sederhana: sirik krn Phi cantik dan ditaksir banyak cowo. Cewe2 ini disebut tuan putri tapi toh kerjaannya cuma dandan n nyuruh2 pelayan. Para pangeran juga sejenis.
Astagaa... jadi peran bangsawan tuh cuma gitu doang ya? Cetek amat gitu. Dan mereka2 ini yg kelak diharapkan menggantikan kedudukan ortu untuk mimpin negara. Yeah...

Yang rada mending paling Jenderal Adelarda, biarpun hobi marah2 gajelas. Setidaknya dia bisa mimpin pasukan pas last battle.

Detil yg aneh adalah mengenai isi istana yg terdiri dari kastel2, di mana tiap kastel ada wilayah khusus macam area bermain, area belajar, area pemerintahan... Terus juga soal keluarga bangsawan n para pejabat (plus keluarga loh) SEMUAnya tinggal di istana. Wew... yakin tuh orang sekian buanyak bisa hidup rukun tetanggaan?
Mau bikin kota elit sendiri kayaknya. Tapi bukannya dengan begitu malah membuat para pejabat dan keluarganya jadi lebih terasing dari rakyat yak.

*garukgarukpala*

kayaknya si penulis kudu riset lagi soal sistem beginian deh, serius.

yah, gitu deh.
sisa repiu lebih komplit termasuk bolong besar di plot sudah pernah dibahas ama cc Luz. Jadi sy nggak mau cape2 ngetik lagi. Hehe
Profile Image for Mia Prasetya.
403 reviews267 followers
January 31, 2012
Mari masuk ke dunia fantasi ciptaan Vinca Callista, Prutopian. Dunia di mana sihir itu nyata dan di sana tersebutlah seorang gadis rupawan bernama Merphilia Dunsa yang tinggal di hutan terpencil Tirai Banir bersama bibinya Bruzila Bertin. Semenjak kecil Merphilia sudah fasih menggunakan pedang dan berbagai senjata tajam lainnya. Ternyata memang ada maksud tersendiri kenapa Bruzila mengajarkan keahlian pada Merphilia, tak lain karena asal usul Merphilia yang misterius.

Merphilia adalah anak dari ratu Veruna, sang Ratu Merah, pemberontak yang menghancurkan Naraniscala karena ia merasa dikhianati oleh Raja Claresta Ardelazam. Ratu yang memiliki nama asli Veruna adalah Mergogo Dunsa, adalah gadis yang sangat cantik, buktinya pangeran Claresta pun terpikat, sayang keluarganya tidak menyetujui hubungannya karea Mergogo adalah seorang gadis dari khalayak biasa.

Ada harga yang harus dibayar mahal, pemberontakan Ratu Veruna dibayar dengan nyawanya sendiri. Semenjak itu di masyarakat Naraniscala diharamkan menggunakan warna merah. Memang untuk beberapa saat negara itu aman tentram sampai suatu ketika ada yang menghidupkan kembali Veruna dalamtubuh gadis lain, dan mau tak mau Merphilia sebagai keturunan asli yang mampu membasmi Veruna.

Dan dimulailah petualangan seorang gadis desa yang hijrah ke keluarga kerajaan. Kerajaannya sama dengan dunia kita ternyata, ada iri-irian, cemburu dan tentu ada kisah cinta. Nah ini yang menjadi kekuatan utama novel ini di kalangan anak muda tapi tidak untuk saya pribadi. Di sini dikisahkan Dunsa jatuh cinta dengan pangeran Skandar yang tak lain adalah kakak tirinya. Nah ini yang agak mengganggu, walau ada rahasia yang terungkap di akhir kisah namun sikap Merphilia yang senantiasa menempel-nempel bawaannya pengen saya pentung deh.
Untuk ukuran novel fantasi, Dunsa bisa dibilang mampu memuaskan pembaca. Mantra sihir yang terasa eksotis ketika dibaca, silsilah keluarga istana yang lengkap dengan bagan serta peta dunia Prutopian. Terasa sekali novel ini dibuat sungguh-sungguh oleh pengarang. Hanya saja perlu beberapa polesan, karakter yang ada masih terasa mentah. Yang baik, baiik banget dan tokoh jahat itu ditekankan berkali-kali kalau ia jahat. Padahal dengan tindakan saja pembaca sudah bisa menyimpulkan bagaimana karakter si tokoh. Nama tokoh di buku Dunsa hampir semua memiliki arti, saya suka dengan pilihan Vinca, walau terkadang susah dilafalkan

Beberapa kritik saya di bagian awal Reinkarnasi, banyak pengulangan kata ‘nya’dan kata ‘ini’. Kemudian di halaman 2 saat pengarang melukiskan benda misterius yang dibungkus oleh kain beledu hitam. Paragraf selanjutnya kembali diulang : Sejak tadi benda tersebut tidak mau diam, seolah-olah ingin melepaskan diri dari kain beledu hitam yang selama ini membungkusnya. Sepertinya lebih bagus jika tidak usah dipertegas lagi, kalau menurut saya.

Bicara soal mantra, mau tak mau saya membandingkan dengan Harry Potter, nuansa magisnya dapat tapi bedanya mudah diingat. Sama seperti Accio! Atau Lumos! Sejalan dengan waktu saat membaca akan tahu kalau mantra Lumos dirapal ketika penyihir sedang berada di tempat yang gelap. Dan ya elaah baru tahu kalau mantra ala Vinca ini mantra pembalikan kata-kata, jiahahah. Pantesan mantranya aneh :p
Profile Image for Shandy Yeo.
134 reviews4 followers
June 27, 2015
Ada beberapa hal yang saya suka dari novel ini, tapi ada juga beberapa hal yang mengganggu pikiran saya.

Saya suka novel ini menambahkan peta dan silsilah keluarga di bagian depan. Hal ini sangat membantu dalam memetakan dunia Prutopian. Di bagian belakang bahkan ditambahkan glosarium makhluk-makhluk Prutopian. Vinca Callista tampaknya memang berniat menciptakan dunia imajinasi yang seolah-olah ada dalam kenyataan dan menyatu dalam sejarah. Hal ini juga terlihat dari dunia yang dibangun dengan cukup kompleks.

Dalam menamai setiap tokoh, makhluk, dan tempat dalam Prutopian pun Vinca Callista menggunakan nama ciptaan sendiri. Setiap nama sepertinya punya makna tersendiri, walau saya tidak tahu asal usul nama yang dipakai. Mungkin ada riset tertentu dalam membuat nama, tapi mungkin juga tidak ada riset yang mendasari, semua hanya imajinasi semata dalam membuat nama yang terdengar asing dan baru. Saya salut pada penulis yang mau bersusah payah menciptakan nama baru bagi tokoh maupun latar tempat, tapi nama itu harusnya ramah bagi interpretasi pembaca. Nama-nama yang dibuat dalam novel ini banyak yang tidak cocok dengan hal yang diwakilinya. Beberapa nama orang seperti nama tempat atau makhluk. Beberapa nama tempat malah seperti nama orang. Butuh imajinasi yang lebih untuk menciptakan nama yang sesuai benda yang diwakilinya.

Dari segi cerita tidak ada yang janggal, semua berjalan sesuai seharusnya. Begitu juga watak tokoh yang baik selalu baik dan yang jahat selalu jahat. Tidak ada perubahan yang signifikan dari kedua hal itu.

Hal terakhir yang membuat saya bingung adalah alur zaman yang terkesan abad pertengahan tapi dengan versi modernisasi. Setelah melalui beberapa bab awal, saya menetapkan zaman yang tampak kuno ini adalah latar Prutopian, tapi ada benda-benda yang menghancurkan pemikiran ini. Saya heran ada merek baju, kacamata hitam, surat kabar dengan foto, konferensi pers, pengeras suara, dan penyanyi idola layaknya penyanyi modern dengan lagu andalannya. Semua itu bertabrakan antara ambang zaman kuno-pertengahan hingga modern. Mungkin itu yang sengaja ditampilkan penulis atau imajinasi saya yang terperangkap dalam rasionalitas suatu cerita.
Profile Image for cindy.
1,981 reviews156 followers
July 13, 2012
Terikut arus melihat banyaknya yang membicarakan buku ini, jadi pengin baca juga. Beruntung mendapat pinjaman. *terima kasih tezar*

Ceritanya sebenarnya lumayan menarik walau standar. Apalagi dibuka dengan prolog yang cukup menjanjikan dan ditambah bahasa mantra yang cukup aneh untuk dilafalkan membuatnya penuh aura sihir dan menggelitik rasa penasaran. Seorang Ratu telah dibangkitkan dari dunia kematian.....

Lalu kita dikenalkan pada sang tokoh utamanya cewek. Dibesarkan tanpa orang tua, cantik, jago berkelahi, cantik, bersuara merdu, cantik (eh, cantik udah disebut ya?!?), cerdas, dst, dst, dst. Pokoknya tanpa kekurangan sama sekali. Sedangkan cowoknya Pangeran, cakep, baik hati dan tidak sombong. Si tokoh cewek ini 'katanya' adalah satu-satunya yang bisa mengalahkan penjahat shuper-duper-jahat-bengis-galak-kejam. Tapi, ada tapinya nih, si penjahat itu ternyata adalah ibu kandung si cewek jagoan. Nah lo!

Di sini saya mulai mempertanyakan jalan ceritanya. Apa iya, si Merph ini, yang dibesarkan yatim piatu, yang katanya cerdas, berpengetahuan luas dan berpikiran terbuka, tiba-tiba diberi mandat oleh Sang Ratu, "Eh sana lo bunuh ibu kandung lo!" ya langsung saja mengangguk senang dan mengiyakan, "Ok d, no problemo." Tidak ada pergulatan batin *halah* atau secuilpun kebimbangan. Atau paling tidak mencari tahu kebenaran kisah lampau itu dari sumber-sumber lain. Mendengar 'kebenaran' versi Sang Ibunda. Tidak, tidak perlu. Apapun perintah Ratu dan keinginan Pangeranku. Duh...

Si Pangeran, itu masalah lain lagi. Yah, kalau memang isu kakak-adik-cinta-terlarang mau diangkat, ya harusnya dari awal sudah dibentur-benturkan. Kakak, bukan, kakak, bukan. Bukannya sepanjang buku, asyik-asyikan melulu, nah sudah di akhir kisah baru galau melanda. Bukankah fakta (atau tepatnya fakta tersirat) bahwa mereka saudara tiri sudah dikemukakan di awal cerita? Plus mereka berdua juga sama-sama tahu kenyataan ini.

Jadi, karakterisasi yang sangat hitam putih, jalan kisah yang sangat dangkal dan sederhana dan konflik yang standar, mengingatkan saya akan sinetron. Itu saja.
138 reviews1 follower
December 19, 2016
welcome to Prutopian...
;)
tadinya mo dikasih bintang 3, karena khas Indonesia sekali.., the character is too perfect to be true.., and the end is too easy to guess hehehe.., tapi yah.., g bisa boong jg.., saya menikmati ceritanya.., mungkin karena saia orang indonesia asli sih.. hehehe... yah..., cerita ini mewakili semua cerita karangan saya waktu sd hingga sma.., dimana tokoh utama wanita-nya selalu cerdas, hebat, dan mandiri.., banget.., dan tokoh lelakinya.., sooo... prince charming lah.., y.., mungkin karena sy orang indonesia itu tadi yah..

at least.., tadinya saya nyaris membandingkannya dengan Torak series.. yang..., wow..., sampai saat ini menurut saya belum ada yang nyamain nih di hati.., aih..
dengan dunia ther melian.., yup.., setara.., mengasyikkan.., menyenangkan untuk dijelajahi...
yang saya sesalkan cuma 1, di Dunsa, endingnya dibuat sok penuh tanda tanya..., tapi plotnya dibuat terlalu mudah ditebak, jadi.., saya agak kecewa hohoho.., mungkin sebaiknya ditulis sekalian aja.., klo akhirnya phi menikah dan hidup bahagia bersama skandar di pondok bruzilla.. ;)
hehehe.., tapi yah.., hak penulis lah ya...

over all.., yes, saya menikmatinya.., mungkin kalo ada sekuelnya.., sy akan pertimbangkan beli.. ;) akan cukup inspiratif klo yang baca anak anak atau remaja kita.., jadi.., buku ini akan jadi investasi cukup berharga di perpustakaan sy nnti.. ;)

selamat bertualang di prutopian.., merasakan keajaiban di Delmorania.., mencicipi kebahagiaan di Fatacetta, bertualang di Tirai Banir, Fastehagan dan berburu di hutan Indurasmi, dan mencintai keindahan di Ciracindaga... ;)
Profile Image for Dhyn Hanarun .
329 reviews203 followers
March 29, 2013
Akhirnya aku beres baca novel ini dalam waktu seminggu. Lama banget ya? Kuliah dan beberapa acara lainnya jadi penyebab semua itu. Tapi tak apalah, sekarang kan novelnya udah beres dibaca dan ini dia review dari aku. Enjoy :)

Sampul

Depan
Sampul depannya unik dan cukup berani. Unik karena sampulnya tidak memperlihatkan si tokoh utamanya. Sampulnya malah memperlihatkan sebuah pertempuran yang melibatkan dua ekor makhluk yang menyerupai singa dan elang. Ini berarti genre fantasi dari novel tersebut lebih ditekankan dan memisahkannya dari novel-novel teenlit dan chicklit yang lain. Samar-samar terlihat lukisan seperti batik yang jadi latarnya dan juga di kain yang melingkar di makhluk yang mirip singa. Aku langsung mikir kalo ceritanya bakal ada sedikit soal Indonesianya. Benar apa tidak? Baca saja review ini sampai selesai :) Sampul ini juga cukup berani karena ada dua kalimat yang terpampang jelas di bagian bawahnya. "Konspirasi terungkap. Merphilia harus membunuh ibunya". Kalimat tersebut yang secara otomatis juga mengungkapkan konflik utama novel ini. Hmm, ada dua kemungkinan dari dua kalimat tersebut. Satu, calon pembaca jadi tidak tertarik karena 'rahasia' novelnya sudah ketauan dan dua, calon pembaca malah jadi makin penasaran dan pengen baca. Untungnya aku lebih condong ke kemungkinan kedua. :)Baca review lengkapnya disini --> http://dhynhanarun.blogspot.com/2012/...
Profile Image for Haefa Azhar.
79 reviews
December 28, 2013
Sebelumnya saya pernah membaca novel fantasy karya orang Indonesia, tapi saya berhenti di tengah jalan. Saya lupa apa judulnya. Namun, saya tidak ingin menghakimi dengan cepat bahwa novel fantasy Indonesia tidak layak berkembang. Oleh karena itu, saya kembali membaca fantasy Indonesia yang lain, yaitu Dunsa. Dan hasilnya, saya berhasil membacanya sampai selesai dan menikmatinya. Banyak orang berkomentar bahwa ceritanya terlalu mengada-ada, begini, begitu. Bukankah ini cerita fantasy? Bisa jadi ini cerita dongeng untuk remaja. Seharusnya kit tidak terlalu memikirkan ini seharusnya begini atau begitu, cukup membacanya dengan menikmatinya tanpa mencari celah kelemahannya. Maka, Anda akan fokus pada kekurangannya, bukannya menikmatinya. Biarkan kekurangan muncul di saat Anda tidak menikmatinya tanpa diundang.
Alurnya yang cukup seru dan karakter bangsa manusia dan mahluk magis yang beragam membuat kita terpesona dengan imajinasi sang penulis. Yang membuat saya gatal adalah pengkarakteran para remaja di novel ini yang terkesan seperti karakter sinetron Indonesia yang penggambarannya sangat "kasar" antara protagonis dan antagonis.
Profile Image for Maulana Ibrahim.
3 reviews
April 15, 2015
Waktu pertama baca, baru dihalaman-halaman awal bab satu gw tetiba aja jadi agak males untuk ngelanjutin. Ntah kenapa, sebagai penikmat fantasi yang awam, gw ngerasa ada "sesuatu" yang aneh, ada bagian yang ga bisa diterima sama alam bawah sadar fantasi gw dan gw ga tau itu apa. Akhirnya setelah sempat mendekam beberapa hari diatas tumpukkan buku-buku lain, gw mencoba untuk mengulang baca dengan menghiraukan ganjalan tentang "sesuatu" itu.

Dan ceritanya ternyata bagus! Wyattenakai-nya terasa original banget. Overall, dengan mengabaikan "sesuatu" itu, gw suka sama buku ini. Dan sebagai novel fantasi Indonesia yang pertama gw baca, buku ini berhasil bikin gw penasaran untuk baca karya-karya Made in Indonesia lainnya.

P.S: Misteri "sesuatu" itu baru gw temuin setelah baca review Mbak Luz di Fikfanindo. Yah, kurang lebih seperti itulah.
Profile Image for Yola NY.
253 reviews
December 24, 2011
owh..

ini fantasi lokal, so aku bisa bilang "u did a great job", hmm, except the romance part..

jadi intinya si merphilia ini jadi kisah pahlawan bermasa-masa gitu? gimana dunk ama skandar? aih, beneran bs nikah gak? soalnya kan ada masalah "hidup sederajat" dan balum lagi ibu skandar yg gak stuju.

dan, kok aku ngerasa agak trganggu ya, bagian merphilia yg slalu ngomong "sesuai di buku aku baca..." atau "oh, aku pernah baca di buku, kalau makhluk ini...."

yaah, kesannya ngafal banget. haha

tapi keren deh!
kasian juga ama ibu merphilia pas "sisi baik". haha, dan kasian jg ama romance-nya ardelaida.

kebangetan deh ya deskripsi cantiknya merphilia,..
arrgh, pangeran skandar. serius, aku ngebayangin tokoh ini jadi skandar keynes lhooo
Profile Image for Nalia.
405 reviews44 followers
December 29, 2011
Hem, to the point aja...
aku suka alurnya
aku suka negerinya, Prutopian pasti negeri yang indah, aku suka novel yang selalu menggunakan negeri fantasy dengan peta di dalamnya...
aku suka monster-monsternya... keren!!!

hem, tapi banyak bahasa sihir yang aneh dan ga dimengerti... jadinya malah membingungkan...
untuk bagian romantisnya hm... no comment... biasa aja sama skandar dan wafi...

tapi selain itu, semuanya keren... alur ceritanya tetep juara
Profile Image for Mahfudz D..
Author 1 book21 followers
September 2, 2015
Mandeg di halaman seratusan. Nggak kuat lanjut. Ini buku pertama yang gak berhasil saya lanjutin. Entah, mungkin ceritanya yang nggak sesuai selera, terlalu drama, atau saya saja yang lagi males, atau malah gabungan dari ketiganya... :(

Bintang yang saya kasih buat nilai sampai halaman yang saya baca, bukan keseluruhan buku...
Profile Image for Dhia Citrahayi.
Author 3 books21 followers
January 14, 2013
Bagaimana, ya...

Ceritanya tidak jelek menurutku. Bagus tetapi yang hanya itu tanggapanku :D

Di bagian awal ceritanya menarik tetapi, mulai dari tengah cerita sampai akhir cerita, rasanya agak datar. Overall, ceritanya lumayan :)

Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
December 12, 2011
Untuk kelas fiksi fantasi lokal, cukup memuaskan walaupun bumbu2 percintaan antara merphilia dan Skandar agak terlampau "banyak" hehehe
Displaying 1 - 30 of 30 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.