Jump to ratings and reviews
Rate this book

Winter Dreams

Rate this book
Nicky F. Rompa tak sengaja terdampar di negeri orang bersama jutaan imigran ilegal yang membawa kisah mereka masing-masing ke dalam salah satu kota paling bersejarah di Pantai Timur AS.

Mengambil setting di Boston, Mass., - dan dikemas dalam atmosfir romantisme urban - "Winter Dreams" menyajikan mimpi-mimpi yang tak jarang melebur ke dalam realita dan melahirkan sebuah ilusi epik.

Sekali lagi, Maggie Tiojakin menunjukkan kepiawaiannya dalam menghadirkan tokoh-tokoh anti-hero klasik yang berpotensi memicu perdebatan baru dalam kancah penulisan fiksi di Indonesia.

DDC: 813

291 pages, Mass Market Paperback

First published December 1, 2011

8 people are currently reading
156 people want to read

About the author

Maggie Tiojakin

15 books43 followers
Maggie Tiojakin adalah seorang jurnalis, copywriter, dan penulis fiksi pendek. Karyanya telah dimuat di The Jakarta Post Weekender, Asian News Network (ANN), The Boston Globe, Brunei Times, Writers’ Journal, Voices, La Petite Zine, Femina, Kompas, Eastown Fiction, Somerville News, etc. Buku kumpulan cerpen pertamanya, berjudul Homecoming (and other stories) diterbitkan di tahun 2006 oleh Mathe Publications. Dia juga telah menerjemahkan dan mengadaptasi: buku karya Jason F. Wright yang berjudul Wednesday’s Letters (Surat Cinta Hari Rabu); Sugar Queen karya Sarah Addison Allen; serta mengadaptasi dari film-ke-buku Claudia/Jasmine berdasarkan skrip karya Awi Suryadi. Keduanya diterbitkan Gagas Media (2008/2009).

Saat ini, Maggie tengah menerjemahkan buku karya Sarah Addison Allen yang berjudul Garden Spells. Buku kumpulan cerpen ke-duanya, berjudul Balada Ching-Ching, diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, kini telah hadir di toko buku.

Di waktu luangnya, Maggie mengelola sebuah situs gratis yang menghadirkan cerpen klasik karya pengarang dunia baik yang sudah ternama maupun belum dan telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia untuk asupan masyarakat luas. Situs ini dinamakan Fiksi Lotus.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
36 (19%)
4 stars
58 (31%)
3 stars
68 (37%)
2 stars
17 (9%)
1 star
4 (2%)
Displaying 1 - 30 of 62 reviews
Profile Image for ndari.
100 reviews
December 11, 2011
Sejujurnya, saya tidak ingin terdengar biased karena Maggie adalah salah satu pengarang favorit saya dan saya cukup dekat dengannya di Twitter. Buku ini pun saya dapatkan dari dia - sekali lagi terima kasih, Kak Maggie! - tapi saya berusaha untuk menulis review buku ini sejujur dan seobyektif mungkin.


“Baru kusadari bahwa aku tidak datang membawa mimpi ataupun aspirasi. Aku tidak ingin jadi apa-apa. Aku cukup puas berbaring terlentang di atas ranjang sambil menatap langit-langit kosong. Aku seperti pelampung yang mengapung di atas permukaan laut luas dan terkatung-katung tanpa arah; menelan perguliran hari dan malam tanpa henti seolah aku abadi.”

Nicky F. Rompa adalah seseorang yang mungkin kita kenal dalam kehidupan sehari-hari; lelaki biasa yang hidupnya lurus-lurus saja, tanpa punya keinginan dan harapan akan masa depan. Karena ingin kabur dari ayahnya yang kasar, ketika kesempatan untuk pindah ke Amerika datang, dia ambil dengan harapan bahwa dia bisa menemukan aspirasi dan keinginannya di sana. Meninggalkan Ibu dan Shanaz, adiknya, dan Reno, sahabatnya.
Di Amerika, Nicky tinggal bersama keluarga tantenya, Tante Riesma. Sebagai pendatang di sebuah negeri yang asing dan megah, di mana jutaan orang dari seluruh dunia menggantungkan mimpi, Nicky perlahan-lahan beradaptasi dan bertahan. Nicky bertemu dengan orang-orang yang luar biasa menarik dan berasal dari latar belakang yang menunjukan betapa multikurturalnya Amerika. Yang pertama adalah Mr. & Mrs. Wong, imigran asal Vietnam pemilik toko serba ada di mana Nicky pertama kali bekerja. Leah sepupunya dan pacarnya, Richard Klaus. Polina, gadis Rusia bermata hijau yang tidak bisa Nicky lupakan dari awal bertemu. Dev Akhtar, pemuda Pakistan yang berpacaran dengan Natalie Black, seorang gadis Yahudi. Artin Rucci, guru menulis Nicky yang meyakinkan Nicky bahwa dia bisa menjadi penulis hebat kalau dia tekun. Esmeralda de Luca Garcia – Esme – kekasih Nicky yang berasal dari Meksiko.

Winter Dreams adalah buku berisi 287 halaman tentang perjalanan hidup seseorang di negeri orang, yang mungkin terlihat simpel dan membosankan karena tidak ada plot maupun konflik yang menggebu-gebu. Nicky menjalankan hidupnya sebagaimana sebagian besar dari kita menjalani hidup; berteman dengan orang-orang lalu kehilangan kontak dengan mereka, pacaran lalu putus, bersenang-senang, mencoba sesuatu yang baru dan berbahaya, berhenti dari satu pekerjaan untuk bekerja di tempat lain, jatuh cinta dengan pasangan sahabat sendiri, lalu patah hati. Tidak mengerti dengan masa lalu dan masa depan seolah-olah semua itu ilusi. Menjalani hari ini tanpa sesuatu yang berarti. Segala kebosanan ini terdengar familiar dengan kita, bukan? Karena begitulah hidup. Kadang kalau kita beruntung, kita tumbuh menjadi seseorang yang penuh semangat, memiliki keseharian yang luar biasa menarik dengan pengalaman-pengalaman yang bisa membuat banyak orang lain iri. Tapi sering kali, kita tidak seberuntung itu. Kita cuma tokoh anti-hero yang kalau kisah hidupnya dibukukan, mungkin hanya akan muat sampai 50, 75 halaman. Di buku ini Maggie tidak berusaha untuk mencekoki kita dengan ilusi, fantasi tentang mimpi-mimpi muluk, tapi dia hanya ingin menunjukan bahwa ketika muda, merasa bingung itu wajar. Tidak punya harapan, juga wajar. Dan ketika punya harapan tapi tidak kesampaian, ya apa boleh buat. Kita cuma punya dua pilihan: duduk dan menghabiskan sepanjang masa muda dan masa depan kita berfikir bahwa kita bisa merubah hidup, atau bangkit dan benar-benar membuat perubahan. Bahwa “Life has a strange sense of humor and sometimes God makes up for it by working in mysterious ways,” dan “Waktu berlalu. Banyak hal yang akan berubah. Hidup akan terus bergulis seperti mimpi.”

Dengan prosa yang memukau, detil yang kaya, dan karakter yang warna-warni, Maggie berhasil membungkus kisah Nicky menjadi sesuatu yang mengikat kita dalam satu pertanyaan yang membuat kita berpikir dan merefleksikan diri, apakah selama ini kita sudah cukup bermimpi? Apakah kita sudah cukup mengenal diri kita?
Profile Image for Dewi.
177 reviews67 followers
December 13, 2012
Hmm...ini buku yg bagus sih. Enak banget baca petualangan Nicky dan makna-makna tersirat yang digambarkan Tiojakin.
Cuma aja, settingnya itu lhooo. Gak ada yg salah kok dengan penggambaran Boston dalam novel ini. Ini alasan pribadi aja. (hehehe...)
That's why it's available for swap (haalaaahhh....mo iklanin swap aja panjang amat ;p)

========================================
Edited at 13/12/2012

Errr...jodoh banget sih sama buku ini. Udah diswap, eh ada yang kasi lagi (_ _"). Mana alasan ngasinya gegara setting novel ini pula #tepokjidat #jidatobama #kenapaharusobama

Hmm...diswap lagi ndak yaa?

=======================================

Edit lagiii...

Membaca buku ini untuk yang kedua kalinya menghidupkan memory terakhir saya tentang kota tua yang muram namun cantik itu.



Aneh sebenarnya karena tempat yang saya kunjungi berbeda dengan yang ada di buku. Tapi tetap aja, penggambaran Boston selalu mampu membuat beberapa memori berpendar kembali.

Makasi Tiojakin karena memberi saya ruang untuk bernostalgila #bhahak
Profile Image for Indri Juwono.
Author 2 books307 followers
September 19, 2012
129. Most truth are not worthy of the lies we create to conceal them; for it is in the absence of lies that the truth almost always become irrelevant, unimportant.

Siapa punya impian Amerika? Setiap orang yang pergi ke Amerika selalu punya angan-angan untuk meraih keberhasilan di negeri ini. Tak sedikit di antara mereka juga yang merupakan pelarian dari negerinya yang kebetulan sedang kacau, atau juga pergi dari masalah-masalahnya sendiri. Karena itu kedutaan Amerika menjadi sensitif, mengingat negerinya adalah impian seluruh dunia untuk bertinggal di situ, yang mau tidak tahu bahwa negara ini juga yang menjungkirbalikkan perekonomian dunia. Untuk mendapatkan visa Amerika saja seseorang harus melalui serangkaian wawancara (yang belum tentu berhasil) dan akan lebih mudah apabila paspormu sudah bercap berbagai negara. Wow, Amerika sebagai negara saja seperti tahapan tertinggi untuk pencapaian kunjungan. Glam-nya Vegas, calm-nya New York, pride-nya Washington, georgeous-nya Chicago, naughty-nya Los Angeles, seolah menjadi daya pikat untuk mendatangkan uang untuk penduduk negara dunia ketiga, juga menjadi warga dunia yang 'gaul' ketika berkata mereka bertinggal di negara adidaya itu.

141. Life has a strange sense of humour, and sometimes God makes up for it by working in mysterious ways.

Sahabatku di kantor yang lama mendapat kesempatan untuk tinggal di Seattle, Amerika untuk mengikuti istrinya yang mendapat tugas di sana. Awalnya terasa berat untuknya namun setelah ia mendapatkan pekerjaan, ditambah dengan kecakapannya berbahasa, ia memutuskan untuk tinggal di Amerika. Kedua anaknya lahir di sana, di foto-foto mereka terlihat begitu bahagia. Beberapa kali atasanku yang sering ke Kanada bertemu dengan pasangan ini. Pernah dalam satu kesempatannya pulang ke Indonesia, ia berkata, "Kayaknya lebih enak tinggal di sana, In. Lebih teratur, lebih rapi, mau membesarkan anak-anak juga enak, pendidikan bagus." Wha, berarti ada kemungkinan ia nggak pindah lagi ke Indonesia. Sebenarnya tidak terlalu mengejutkan, mengingat ia dan istrinya memiliki saudara kandung yang tinggal di negara-negara lain juga. Jadi terpisah dengan keluarga besar ribuan kilometer sudah biasa baginya.

172. Sebagai warga ilegal, aku termasuk dalam kategori buronan. Aku sedang berlari bahkan saat aku duduk. Aku sedang berlari saat aku tidur. Aku lelah berlari terus. Aku tidak tahu hendak ke mana.

Tidak semua orang berhasil di Amerika. Salah satu mantan atasanku, senior arsitek berkewarganegaraan Filipina (the handsome one), yang sudah menjelajah berbagai negara untuk bekerja, memilih Amerika sebagai salah satu goal sesudah Singapura, Jepang, Hongkong, mendapati bahwa Amerika tak semudah bayangannya semula sebagai seorang profesional. Mula-mula ia bekerja pada sebuah konsultan kenamaan yang memukulnya mundur pada krisis ekonomi tahun 2008 lalu (dan hoi, sampai sekarang Amerika masih krisis dengan utang membengkak gara-gara membiayai perang).
“When America crisis, I got fired from the company I worked, then I listed 100 consultant or contractor company, and I applied all of them, but no vacancies, no project, no job. They are bankrupt.” Kemudian akhirnya ia beralih ke kenalan-kenalannya di Asia, yang ternyata membawanya ke Indonesia kembali. “One thing that I don't like America is during winter. It was very cold. I had to walk from my house to bus station within hard wind everyday to my office.” Sekian lama tidak mendapatkan pekerjaan, akhirnya ia menyerah dengan Amerika, lewat koneksinya sewaktu tinggal di Indonesia, ia dipercaya untuk menangani sebuah proyek mal di Jakarta. Ia berangkat ke Asia.
Apakah ia menyesal? Sepertinya tidak. Sebelum ia kembali ke Filipina untuk mengelola perkebunannya (ya, ia memutuskan untuk pensiun jadi arsitek dan menjadi tuan tanah saja), ia bercerita bahwa anak pertamanya (yang juga bercita-cita menjadi arsitek) akan kuliah di Amerika dan mencari pekerjaan di sana. He is encourage his kid to challenge America.

187. Entahlah, aku tak tahu jawabnya. Menurutku tidak ada yang murni dari diri manusia. Saat orang membicarakan jiwa yang murni, aku tidak tahu apa maksudnya. Apa itu mengacu pada seseorang yang tidak berdosa atau seseorang yang berniat baik? Semua orang berdosa. Niat baik itu relatif. Aku tidak tahu. Di mana satu batas berakhir dan batas lain dimulai. Tidak ada yang murni.

Nicky F. Rompa, tokoh di buku ini, melarikan diri dari Indonesia, tanpa satu pun impiannya tentang Amerika. Ia tinggal dengan sepupunya, pacarnya, kemudian tinggal sendiri menjaga toko, lalu mendapatkan tantangan menjadi supir limosin, kemudian hidupnya terus bergulir..

Jika dilihat dari fragmen hidup Nicky, tak ada yang istimewa dengan yang dijalaninya. Namun hebatnya Maggie dengan buku ini, ia menceritakan hal-hal yang dialami Nicky dengan detail. Tempat-tempat, suasana yang dilalui, gelisahnya mengisap kokain, gerahnya mengenakan seragam supir, kendaraan-kendaraan yang dinaiki, seolah aku berada di sebelah Nicky untuk melihat apa yang ia lakukan, apa yang ia rasa, mendengarkan gelisahnya, ketakutannya, keriaannya, gairah dan debarannya.

Nicky yang mengawali kehidupan Amerika-nya dengan hura-hura ala anak muda, sebelum satu kejadian membuatnya harus bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Nicky yang terperangkap pada cinta yang tidak bisa ia miliki (tapi ia harus saksikan).Ia tidak memiliki impian apa pun ketika tiba di Amerika, sampai pada satu titik ia menulis. Di situlah ada orang yang membesarkan hatinya untuk terus menulis apa yang ada di pikirannya, dan berbesar hati akan tanggapan orang. Ia belajar berani untuk mengambil langkah yang ditempuhnya, apakah melanjutkan hidup yang biasa-biasa aja, atau mencoba mencari impian di negeri yang ia tak berhak juga berada di situ.

128. Penulis fiksi tidak bisa menyimpan rahasia. Untuk menyampaikan pesan kepada orang lain, seorang penulis harus bisa membuka dirinya - seluas dan sedalam mungkin - untuk dicela, dicemooh dan dilihat orang. Ini resiko profesi. Fiksi adalah bentuk tulisan paling jujur yang akan pernah kau temui. Imajinasi adalah manifestasi pikiran, iman, serta ketakutan. Tiga hal yang membentuk pribadi manusia. Tanpa imajinasi, kita - penulis - tidak punya apa-apa.

Hidup kita, hidup Nicky. Di sini, di sana. Sama saja. Cuma keberanian dan impian kita yang akan menentukan ke mana hidup akan berjalan. Sedikit keberuntungan, selain itu ada kerja keras.

"Now follow your gut and try to keep up with the game!"



Profile Image for Ayu Yudha.
Author 3 books202 followers
January 24, 2014
suka!

memang ceritanya hampir seperti tidak terarah. hanya berpusat pada hidup Nicky dari hari ke hari, tanpa ada konflik puncak ataupun penyelesaian yang spektakuler.

tetapi saya sebagai pembaca dapat menikmati perkembangan karakter Nicky, baik dalam setiap pilihan yang diambil -meski kebanyakan pilihannya justru membuktikan kalau Nicky agak pengecut, bagi saya- maupun pada kesalahan-kesalahan yang tidak disengaja.

benar, hidup Nicky yang diceritakan di sini bisa saja terjadi pada semua orang. hidup yang biasa-biasa saja, dan justru karena hal tersebut saya semakin menyukai buku ini.

tidak, saya tidak mengidolakan Nicky. tapi saya sangat menyukai bagaimana penulis berhasil membuat Nicky menjadi tokoh yang sangat manusiawi.

jadi, mari melanjutkan peran dalam permainan bernama hidup.


*menutup buku sambil tersenyum manis*
Profile Image for cindy.
1,981 reviews156 followers
August 1, 2016
Novel ini sesuai judulnya, mengalun tenang seperti mimpi di musim dingin. Sebuah jendela masa mungil yang membiarkan kita mengintip secuplik episode dalam kehidupan seorang Nicky. Tanpa pretensi apa-apa. Hanya menjejak nyata.

Bbrp review menyebut ini sebagai novel yg menyenangkan. Aku tdk setuju. Menurutku, ini cerita yang benar-benar-benaaaar menyenangkan untuk di dibaca. Menikmati pendewasaan diri di setiap bagian kisahnya.

Review lengkap ada di https://readbetweenpages.blogspot.co....
Profile Image for htanzil.
379 reviews149 followers
February 17, 2012
Bagi sebagian penduduk dunia, Amerika adalah negeri impian untuk mencapai kesuksesan, ada banyak caranya, mulai dari yang menempuh pendidikan lanjutan lalu meniti karier disana atau hanya dengan modal pendidikan dan uang seadanya nekad mengadu nasib dan menjadi bagian dari 12 juta masyarakat intenasional yang memilih menjadi imigran gelap di Amerika dengan segala resikonya demi sebuah mimpi.

Beda halnya dengan Nicky F. Rompa pemuda Indonesia berusia 20-an tahun. Berawal dari perceraian kedua orang tuanya ia lari dari kenyataan pahit yang dialaminya dengan mencoba mengadu nasib sebagai imigran gelap di Amerika Serikat. Kehidupan Nicky di negeri asing Inilah yang menjadi inti kisah dari novel Winter Dreams karya Maggie Tiojakin yang sebagian besar kisahnya mengambil setting di Boston, Mass. Amerika Serikat.

Dikisahkan Paska perceraian kedua orang tuanya Nicky tinggal di Jakarta bersama ayahnya, sedangkan adik perempuannya tinggal bersama ibunya di tempat lain. Ayah Nicky adalah seorang pemarah yang ringan tangan.

Lambat laun Nicky tak tahan dengan perlakuan ayahnya yang kasar dan suka memukuli dirinya hingga babak belur, akhirnya ketika ibunya menawarkan agar Nikcy meninggalkan ayahnya dan pergi ke Amerika ia menerima tawaran itu. Nicky berangkat meninggalkan keluarga dan sahabatnya tanta tahu berapa lama dan apa yang harus ia kerjakan disana kelak.

Di sana awalnya Nicky tinggal bersama keluarga kerabat ibunya yang telah lama menetap disana. Sebuah peristiwa membuat ia harus meninggalkan mereka dan mencari tempat tinggal sendiri. Di Boston Nicky mencoba mengisi kehidupannya dengan berbagai pekerjaan mulai dari pegawai toko, supir limousine, ikut kursus menulis, hingga bekerja di sebuah koran lokal. Di novel setebal 287 halaman inilah pembaca diajak mengikuti perjalanan Nicky dari satu pengalaman ke pengalaman lainnya. Dari satu pertemanan ke pertemanan lainnya.

Dari perjalanan hidupnya ini Nicky bertemu dengan orang-orang yang berasal dari berbagai kultur yang berbeda, mulai dari Mr. & Mrs. Wong, imigran asal Vietnam yang menjadi majikan Nicky saat ia bekerja supermaket. Polina, gadis Rusia dimana Nicky pernah tertarik padanya. Sepasang kekasih Dev Akhtar dari Pakistan dan Natalie Black, gadis Yahudi, yang keduanya tinggal seapartemen dengan Nicky , Artin Rucci, guru menulis Nicky, Esmeralda de Luca Garcia – Esme – kekasih Nicky yang berasal dari Meksiko. dll

Dari seluruh kisah yang dialami Nicky walau ada berbagai peristiwa dan konflik yang dialami Nicky dengan orang-orang yang ditemuinya namun tak ada konflik yang menonjol dalam novel ini, tak ada dramatisasi yang berlebihan dalam kehidupan Nicky. Apa yang dialami Nicky begitu alami dan mungkin pernah dialami oleh kita semua seperti jatuh cinta pada seorang gadis, tertarik pada kekasih sahabat, patah hati, mencoba berganti-ganti pekerjaan, pesta-pesta anak muda, melakukan perjalanan antar kota, dsb.

Karakter Nicky F Rompa sendiri bukanlah sebuah tokoh hero yang sempurna, namun disinilah justru karakter dan pengalaman hidup Nicky berpotensi mengundang simpati dari para pembacanya, ia mewakili tokoh pemuda yang galau, kesepian, dan bingung menentukan tujuan dan pilihan hidupnya hingga akhirnya pada satu titik dalam kehidupannya ia menyatakan bahwa kehidupan dirinya mengalir begitu saja seperti yang terungkap dalam sebuah dialog dengan salah seorang temannya.

Aku bisa tinggal di sini seperti sekarang dan tidak melakukan apa-apa, just going with the flow; atau aku bisa tinggal di sini dan melakukan sesuatu yang berarti bagiku. Atau aku bisa pulang dan berusaha untuk memecahkan teka-teki abadi: apa yang akan kulakukan dengan hidupku? Semua orang ingin menjadi seseorang, terutama di Amerika – aku mengerti itu sekarang. Dan, entahlah, rasanya sungguh tidak nyaman jadi orang yang tidak ingin jadi apa-apa.” (hal 231)

Nicky juga tidak digambarkan sebagai manusia suci, walau tak terseret dalam dunia narkoba seperti yang dialami oleh sepupunya namun ia menjalani kehidupan cintanya layaknya masyarakat urban di sebuah kota Metropolitan.

Status Nicky sebagai imigran gelap juga memberi warna tersendiri, melalui novel ini pembaca akan diajak melihat kendala-kendala seorang imigran gelap dalam memperoleh pekerjaan karena tidak semua orang mau mempekerjakan imigra gelap sebagai pegawainya. Peristiwa 11 September 2001 membuat pandangan masyarakat dan pemerintah AS terhadap para imigran gelap semakin sinis sehingga memunculkan istilah ‘ilegal allien’ bagi mereka, seakan meraka adalah mahluk asing yang harus diusir dari negeri Amerika.

Selain pembaca diajak menyelami kehidupan Nicky melalui novel ini pembaca juga akan diajak melihat kehidupan dan budaya multikultural masyarakat Amerika melalui tokoh-tokoh yang dijumpai Nicky di sana sehingga wajah amerika sebagai negara multikultural akan terdeskripsikan dengan baik.

Dari percakapan Nicky dengan tokoh-tokoh yang bersinggungan dengan kehidupannya itu akan muncul dialog-dialog soal cinta, persahabatan, kepenulisan, dll yang tidak terkesan mendikte pembacanya melainkan memberi kebebasan pada pembacanya untuk menyimpulkan sendiri apa makna dari semua dialog itu.

Sepeti yang diungkap di atas, walau kisah kehidupan Nicky dalam novel ini nyaris tanpa konflik yang mencuat, namun ini bukanlah novel yang membosankan karena dengan kalimat-kalimat yang mengalir pembaca dibuat betah dan penasaran untuk menyimak perjalanan hidup Nicky hingga lembar terakhir novel ini. Selain itu karakter Nicky dan tokoh-tokoh lain yang digambarkan apa adanya membuat kisah dalam novel ini terasa dekat dengan keseharian dan realita yang kita hadapi

Dan yang membuat novel ini semakin menarik adalah bagaimana penulis mampu menghidupkan suasana kota Boston dengan begitu hidup. Pegalaman penulis yang pernah tinggal 6 tahun di Boston membuat ia mendeskripsikan makanan, jalanan, setting, dan perilaku masyarakat Boston terkisahkan dengan detail dan filmis sehingga pembaca seolah melihat secara langsung apa yang dilihat dan dilakukan oleh Nicky.

Selain itu karakter Nicky yang dihidupkan dalam novel ini juga seolah mewakili perasaan para remaja/pemuda kita yang umumnya mengalami kebingungan dalam hidupnya seperti yang diungkap penulisnya dalam live tweet –nya di #Twtiteriak beberapa waktu yang lalu.

Dalam live-tweetnya penulis mengungkapkan sebuah kenyataan yang dirasakan oleh para pemuda tentang tujuan hidup mereka. Walau umumnya para pemuda di usia 20-an mengatakan telah memiliki tujuan hidup namun kenyataannya mereka hanya memproyeksikan hal tersebut dalam lingkup sosial, di mana mereka selalu berusaha menunjukkan ‘ilusi hidup’ yang terarah sementara saat mereka sendiri, kebingungan yang sama seperti yang Nicky rasakan juga mencekam pikiran mereka. Inilah yang dinamakan quarter-life crisis yang dalam novel ini dialami oleh Nicky.

Dengan tuturan kalimat sederhana yang enak dibaca, kaya akan detail, karakter tokoh utama yang mengundang simpati pembacanya dan tokoh-tokoh lainnya yang penuh warna, serta tema yang universal, tak mengherankan kalau novel yang dikerjakan selama hampir 6 tahun ini sudah dilirik oleh 2 penerbit asing. Satu dari Amerika, dan satu lagi dari Australia.

Saat ini pengalih bahasaan dan beberapa penyesuaian untuk konsumsi pembaca luar sedang dikerjakan oleh penulisnya. Jika jadi diterbitkan maka satu lagi penulis Indonesia memasuki kancah literasi Internasional dan hal ini tentunya membanggakan sekaligus menjadi pemacu kreatifitas bagi penulis-penulis kita lainnya untuk go international.
Profile Image for Lila Cyclist.
856 reviews71 followers
January 14, 2020
Buku ini sudah tertimbun sejak tahun 2013. Saking kesengsemnya dengan dua buku yang saya baca lebih dahulu, Balada Ching-Ching dan Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa, saya ngidam banget buku ini. Karena sudah susah cari barunya waktu itu, jadi saya nyari di meja diskon tiap kali ada diskon buku dimana-mana. Dan akhirnya saya dapatkan buku ini, di meja diskon. Ihiirrr... Dan apakah saya langsung membacanya, seperti yang sudah tulis di awal, saya menimbunnya. Ternyata keinginan saya cuma ingin memiliki saja, tapi membacanya entah hahaha...

Di tahun berapa, saya sudah mencoba membuka bugkus plastiknya, memberi sampul plastik, membaca beberapa halaman awal, tapi entah karena alasan apa, saya masukkan kembali ke dalam lemari. Berkat tantangan baca Joglosemar 2020 dengan tujuan utama babat timbunan, akhirnya saya tergerak untuk kembali membuka timbunan, dan ajaibnya saya selesaikan buku ini. Horeeeee....

Terus terang, saya bingung mau nulis apa. Ceritanya yang tanpa konflik membuat saya tulis hapus tulis hapus review berulangkali di dokumen. Ceritanya datar tanpa konflik, sangat detil dalam penggambaran kota yang menjadi latar belakang cerita, Boston, para karakter yang ikut di dalamnya hingga budaya di luar Amerika memperkaya kisah kehidupan Nicky. Beberapa kali saya tertipu dengan bayangan konflik yang nanti akan terjadi, tapi ternyata itu hanya harapan saya. LOL. Lmebar-lembar halaman yaang semakin menipis menjelang akhir kisah, saya sempat berharap apakah Nicky akan pulang ke Jakarta, apakah Nicky akan menjadi warga AS secara legal, apakah Nikcy akan menjadi penulis sesuai yang ia idamkan, dll. Jawabannya, baca sendiri ya. :D

Ah, satu buku timbunan terlampaui, masih banyak timbunan yang harus saya taklukkan. Yuk, ganbatteee...
Profile Image for Vidi.
97 reviews
February 16, 2013
“… I figured my options are limited. Aku bisa tinggal di sini seperti sekarang dan tidak melakukan apa-apa, just going with the flow; atau aku bisa tinggal di sini dan melakukan sesuatu yang berarti bagiku. Atau aku bisa pulang dan berusaha untuk memecahkan teka-teki abadi: apa yang akan kulakukan dengan hidupku? Semua orang ingin menjadi seseorang, terutama di Amerika – aku mengerti itu sekarang. Dan, entahlah, rasanya sungguh tidak nyaman jadi orang yang tidak ingin jadi apa-apa.” (hal. 231)

Penggalan percakapan yang dikutip dari buku ini rasanya cukup mewakili isi dari buku ini. Pencarian diri. Soul searching. Pencarian identitas. Mushashi pergi berkelana meninggalkan kampung halamannya untuk mencari ‘Jalan Pedang’. Ke tempat di mana tidak ada orang yang mengenal dirinya. Menghindari orang-orang yang dicintai dan mencintai dirinya untuk sebuah pencarian tanpa intervensi ke dalam jiwanya, mau ke manakah hidup ini. Mungkinkah lingkungan di sekitar kita mengaburkan antara ingin menjadi apa kita dan seperti apakah kehidupan yang diinginkan oleh orang-orang di sekitar kita. Maggie menciptakan sebuah pencarian jati diri tanpa intervensi.

Nicky F. Rompa terdampar di Amerika Serikat sebagai illegal aliens, imigran gelap. Sebuah lingkungan baru di mana tidak ada seorang pun mengenal masa lalu dirinya. Di tempat itulah Nicky berusaha berdamai dengan hidupnya, memulai dari awal dan mulai bermimpi. Dari mimpi-mimpinya itulah, Nicky mulai memecahkan teka-teki: apa yang akan kulakukan dengan hidupku?

Dalam pencariannya, Nicky juga menemukan cintanya sekaligus juga menyadari sebuah fakta bahwa menemukan cinta bukan berarti memilikinya.


NB: You’re right Maggie, sometimes we should stop thinking and it’s better to just… jump.
Profile Image for Maggie Tiojakin.
25 reviews14 followers
Read
September 19, 2015
Dari konsep sampai bentuk novel utuh, penulisan Winter Dreams memakan waktu tidak kurang dari 7 tahun (mungkin lebih) -- dan proses penulisannya, bagi saya pribadi, merupakan pengalaman yang penuh dengan jatuh-bangun tapi selalu terasa magis. Saya memang sempat tinggal di Boston, Mass. selama 6 tahun -- tetapi novel ini 100% fiksi. Untuk saya, pengalaman menulis novel ini merupakan sesuatu yang unik -- dan, kalau saya berhasil, novel ini dapat menjadi pengalaman unik juga bagi pembaca. Thanks for reading it, and for stopping by. Untuk kisah behind-the-story yang lebih lengkap tentang Winter Dreams, silakan akses www.maggietiojakin.com
Profile Image for Imas.
515 reviews1 follower
January 3, 2014
Membaca buku ini seperti mengikuti aliran air, seperti mendengarkan suara hujan, mengasyikkkan dan membuat perasaan sendu tapi tak sampai tersedu-sedu.Diceritakan secara sederhana, buku ini bukan jenis cerita yang menghentak emosi tapi menarik.

Pada satu bagian buku ini diceritakan bahwa Nicky (tokoh utama) mengikuti kelas menulis dan mengerjakan tulisan yang dianggap tidak biasa karena semua yang terjadi tidak harus ada alasannya.
14 reviews
September 10, 2022
Buku Winter Dreams merupakan rekaman perjalanan dari seorang Nicky F. Rompa, seorang pria dewasa awal yang tinggal bersama ayahnya setelah perpisahan kedua orang tuanya. Karena kekerasan sang ayah yang membuat ibu Nicky dan adiknya mengambil keputusan untuk meninggalkan rumah dan meninggalkan Nicky yang tetap ingin tinggal dengan ayahnya. Sampai ibunya mengusulkan agar ia tingal sementara bersama dengan Tante Riesma, kerabat jauh ibunya yang tinggal di Boston, Amerika. Walaupun pada awalnya Nicky menolak, namun karena sebuah peristiwa akhirnya membuatnya mengambil keputusan tersebut. Tidak ada tujuan dan tidak tahu ingin menjadi apa, Nicky pergi ke Amerika tanpa sepengetahuan ayahnya dan tinggal bersama keluarga Tante Riesma yang menjadi rumah baru untuk Nicky. Melalui anak perempuan tante Riesma, ia mengenal kehidupan Amerika, mengenal anak-anak baru serta seorang gadis yang lantas menjadi pacarnya dan memasuki siklus romantisme yang cukup lambat. Sebuah kejadian yang tidak menyenangkan akibat ulah sepupu jauhnya membuatnya harus terusir dan tidak memiliki jaminan untuk visanya yang membuat Nicky kerap bergonta ganti pekerjaan dan menjadi imigran gelap yang tidak dapat memiliki hidup yang tenang akibat berkas kewarganegaraannya yang tidak lengkap.

Novel ini semacam sebuah perjalanan, dimana tokoh utamanya tidak hanya memiliki satu konflik tunggal yang dipikirkan selama beberapa waktu tertentu. Konflik yang dialami oleh Nicky sewajarnya akan dapat relate dengan kehidupan sehari-hari karena ini merupakan sebuah perjalanan hidup. Seperti yang sudah Nicky katakan, Amerika membuat setiap orang yang datang tak memiliki pencapaian atau kegagalan. Mereka yang datang harus membangun semuanya dari awal tak peduli seberapa tinggi kualitas pendidikan dan apa saja yang sudah ia capai.

Buku ini seolah di design oleh Maggie untuk menjawab rasa penasaran orang-orang tentang bagaimana kehidupan sebenarnya serta bertahan hidup di Amerika. Menjalin hubungan yang baik dengan teman atau kenalan dari teman akan sangat berharga dimanapun. Tokoh Nicky yang Maggie gambarkan merupakan proyeksi dari pria yang tidak memiliki arah dan tujuan hidup yang jelas, tanpa ambisi dan sedang dalam pelarian dimanapun ia berada.
Maggie membawakan representasi kilas hidup seseorang dimana satu momen ketika orang tersebut menentukan hidupnya sendiri, terlepas dari sukses atau gagal, bahagia atau menderita, memiliki cinta atau harus merelakannya, dan lain-lain.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Meli Vedder.
3 reviews27 followers
March 20, 2012
Sebenarnya sudah beberapa kali saya mendengar nama Maggie Tiojakin sebelumnya di ranah tweeter, khususnya tweeps yang berkecimpung di dunia buku. Tapi baru beberapa minggu yang lalu akhirnya benar-benar mencari tahu apa yang sudah ditulisnya. Nah, kebetulan di akun @twitteriak yang saya follow, yang di dalam laman twitnya terdapat beberapa wawancara dengan sejumlah tokoh yang berkecimpung di perbukuan nasional. Salah satunya adalah Maggie.

Dari fotonya Maggie tampak muda sekali, maybe under 25years. Tapi nyatanya ia adalah seorang jurnalis, tulisannya sering dimuat di The Jakarta Post Weekender. Dia sudah banyak menulis cerpen, terakhir ia menulis naskah untuk film Simfoni Luar Biasa. Ia juga punya situs gratis, Fiksi Lotus, yang memuat cerpen2 klasik dunia yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Nice.

Dalam wawancara bersama @twitteriak, Maggie khusus bercerita tentang Winter Dreams, novel keduanya. Sebenarnya temanya nggak begitu istimewa, hanya seorang yang senantiasa gelisah sampai2 nggak tahu bahkan apa mimpi-mimpinya. Hanya seorang yang tengah mencari jati diri. Pemuda galau, istilah sekarang. Tapi penjelasan Maggie yang runut dan tertata itulah yang membuat saya tertarik hunting novel satu ini. Simple. Saya suka penulis yang berpikir secara sistematis, logis. Campurkan sedikit saja sinisme, komedi tragis ironis di dalamnya maka ia akan menjadi penulis favorit saya.

Oke, di Gramedia ternyata saya menemukan buku antologi tentang poligami, dimana dua orang teman turut menyumbang ceritanya. Harganya hampir sama dengan Winter Dreams. Budget saya hanya cukup untuk satu buku dewasa dan dua buku anak2. Hmm, pikir punya pikir. Bagaimanapun sistem buku nulis keroyokan itu punya sisi jelek paling dominan, dari 20 penulis paling hanya 1-3 penulis yang ceritanya bagus. So, I picked Maggie.

Saya nggak ngerti istilah resminya, jadi ternyata Maggie bertutur dengan bahasa ‘aku’. I like it. Mengamati dunia melalui cara pandang si karakter utama, Nicky F. Rompa, pemuda tanggung, 22 tahun, ayah ibu bercerai, putus kuliah karena ia pindah ke Boston US supaya terhindar dari perangai ayahnya yang tukang pukul. Seorang tokoh anti-hero yang bergumul mencari apa yang ia paling inginkan dalam hidup. Hmm. Pergumulannya mungkin membosankan tapi karakter anti-heronya itulah yang membuat menarik.

Padahal baru kemarin saya nonton Kick Andy dengan Award Super Hero 2012-nya. Yang sempet saya perhatikan adalah Siska Ridwan, seorang palaeontologis sekaligus remaja penderita lupus yang memilih berjuang melawan penyakitnya, sambil terus meneliti naskah2 kuno Indonesia. Ia berhasil membangun situs ensiklopedi digital naskah kuno, dimana semua orang bisa belajar membaca naskah2 berat tersebut. Ia bahkan memberi kursus. Betapa penuh semangat berbagi, vitalitas, heroik. Jauh berbanding terbalik dengan seorang Nicky di Winter Dreams.
Meski antihero, Nicky adalah pemuda yang realistis. Ia rajin bekerja dan tetap gaul. Ia bahkan masih mau mengembangkan wawasannya. Nggak seperti remaja2 gagal lain yang hanya bisa gaul dan galau. Mulai dari penjaga toko kelontong, supir limosin, atau ambil kursus creative writing.

Kegelisahan Nicky tentang mau jadi apa di dunia ini tentu nggak cukup menjadikan novel ini menarik. Mesti ada bumbu asmara. Seorang sobat Nicky di awal2 cerita mengatakan, “Temukan seorang wanita yang bisa membuatmu lupa akan segalanya. Tatap matanya saat kau bercinta dengannya. Nanti saat kau menemukan apa yang kumaksud, kau pasti bisa merasakannya.”

Jadi untuk seterusnya ia bertemu satu demi satu perempuan, berusaha mencari sosok yang dimaksud. Sampai suatu hari ia bertemu satu. Natalie Black. Hanya saja yang satu ini adalah istri temannya. Meski jalinan cerita di awal pertemuan begitu ngambang, membuat saya mengira2, apa yang sebenarnya Nicky rasakan untuk Nat. Juga apa yang sebenarnya dirasakan Nat. Mereka doyan sekali tarik ulur. Tidak tegas2 bilang, aku cinta padamu. Pasangan payah.

Tapi fragmen terakhirlah yang terindah. Ia diundang keluarga Nat di malam Thanksgiving. Nggak taunya Nicky malah tak ingin masuk dan memilih jalan2 bersama Nat. Saat kembali Nat duluan menaiki anak tangga menuju pintu depan. Merasa tak diikuti, ia menoleh ke belakang. Tampak Nicky hanya diam memandangnya, berusaha mengingat wajah, ekspresi dan postur tubuh Nat, yang saat itu bagai sebuah portret mental, seolah itu pertemuan mereka yang terakhir. Dan Nicky ingin mengingat semuanya. Great scene kan kalau dijadikan film?

Momen selanjutnya tetap memukau. Nat menyuruh Nicky masuk, Nicky nggak mau. Ia hanya ingin pulang. Nicky diam kembali menatap Nat sambil menghembuskan nafas panjang. Natalie balas menatap Nicky, bisu.

Suatu hari semua ini akan terasa nyata, bukan ilusi semata. Aku tidak tahu apa yang kutunggu. Aku hanya tahu saat kami kehabisan kata-kata dan tidak bisa mengutarakan hal yang sejujur-jujurnya, kami beralih mengutarakan kebohongan yang luar biasa.

Lalu mereka saling berjanji menelepon. Padahal tidak. Nicky pun pamit.
“Happy Thanksgiving,” kata Nicky.
“Happy Thanksgiving,” jawab Nat.
Pikir Nicky : Aku takkan pernah melihatnya lagi.

Great momento, uh? Persis seperti apa yang sobatnya bilang beberapa tahun kemudian. “Ingat apa yang kubilang dulu soal wanita yang bisa membuatmu lupa akan segalanya? Aku lupa bilang kalau terkadang kau tak bisa memiliki wanita itu.”

Terakhir, saya suka cara Maggie menutup cerita. Mengingatkan saya cara Stephenie Meyer menutup Eclipse, saat Jacob Black mengatasi kesedihannya karena Bella tetap memilih Edward, dengan cara pergi dari La Push dan mengembara dalam bentuk werewolf ke hutan belantara bagian utara, sampai saatnya ia siap kembali. Tentunya nggak persis2 amat dengan karakter heroik Jacob Black, karena Nicky adalah karakter anti-hero, maka ia hanya memilih berjalan kaki menyusuri kota Boston yang sepi di malam Thanksgiving. Ia berhenti di sebuah lapangan es kecil, iseng memperhatikan sekelompok remaja bermain hoki. Ia hanya berdiri di situ mengamati mereka bermain dan bermain hingga ada satu pemain kecapaian. Tahu2 ia dipanggil, diajak bermain.
“Can you skate?
“I think so.”
“Kenakan helm ini. You good?”
Nicky mengangguk.
“Now follow your gut and try to keep up with the game.”
Ia pun meluncur ke tengah lapangan.
The end.

Kalimat penutup yang dashyat. Now follow your gut and try to keep up with the game. Bener kan? Bukannya itu solusi sebenarnya dari semua kegalauan? Bahkan untuk urusan cinta sekalipun? Apalagi soal jati diri, ya kan? Adegan yang dipilih pun asyik banget. Inline skating, pelan2 meluncur, lalu tenggelam dalam keseruan bermain.
Profile Image for Monika.
44 reviews5 followers
September 24, 2018
4/5 stars
Novel yang realistis, dan penuh dengan makna hidup.
Seperti biasa akan saya bagi dalam beberapa poin.
1. Cover : Cover terlihat simpel dan menarik. Awalnya saya sempat pikir ini novel fantasi misteri gitu entah karena latar senjanya atau bayangan burung dan gedung. Tapi tetap menarik dan mengundang perhatian para pembaca.
2. Alur dan Plot : Untuk alur dan plot menurut saya, kak Maggie ini menuturkannya enak meski dari sudut pandang orang ketiga. Bisa jadi inspirasi saya dalam menulis juga. Jalan ceritanya benar-benar menunjukkan betapa realistisnya hidup terutama bagi para perantau. Terlebih lagi yang ke luar negeri. Meski di media sosial tampak menyenangkan tapi sesungguhnya banyak suka duka yang dilewati para perantau itu.
3. Penokohan : Nah untuk tokoh aku suka banget! Tiap tokohnya meskipun ada yang hanya sekedar cameo alias numpang lewat tapi kak Maggie menjelaskannya dengan rinci dan jelas. Imajinasi saya pun berkembang.

Meskipun begitu ada hal yang kurang membuat saya terlalu ingin segera menyelesaikan novel ini, seperti sedikit membosankan di tengah, meski begitu setelah dicoba terus untuk dibaca saya penasaran juga untuk mengikuti kisah tiap tokohnya hingga habis. Jadi saya berikan 4 bintang :)

===================
Quotes Favorit :
- "Penulis fiksi tidak pernah bisa menyimpan rahasia" (Artin)
- "Terkadang permasalahan orang tampak lebih sederhana dari permasalahan kita, dan apa yang sederhana justru sebenarnya jauh lebih kompleks." (Nicky)
Profile Image for Vina Falah.
12 reviews15 followers
March 21, 2021
In youth we feel richer for every new illusion; in mature years, for every one we lose – Madame Anne Sophie

Maggie mengambil kutipan ini yang kurang lebih menggambarkan perjalanan tokoh utama, Nicky F. Rompa, bahkan mungkin perjalanan hidup kita semua. Nicky, pemuda biasa yang tidak tahu apa yang dia cari bahkan inginkan, pergi ke Boston, Amerika untuk menghindar dari kehidupannya di Indonesia. Berbekal visa kunjungan, ia mulai bekerja di toko kelontong milik imigran Vietnam dan tinggal di rumah tantenya. Perlahan ia mulai bertemu banyak imigran-imigran lain dari berbagai negara dan menyesuaikan diri dengan gaya hidup di Amerika.

Karakter yang singgah di kehidupan Nicky justru membuat cerita ini lebih menarik dibanding tokoh utama sendiri. Sesuai kutipan di atas karakter inilah yang memperkaya kehidupan Nicky. Penggambaran Boston pun sangat detil, sepertinya penulis pernah banyak menghabiskan waktu di sana.

Cerita mengalir ringan, tipe novel yang cocok dibaca kalau sedang tidak ingin terlalu berpikir. Namun, kehidupan Nicky adalah gambaran perjuangan imigran dan pendewasaan. Terkadang kita bingung dengan apa yang ingin kita lakukan, tidak tahu kelebihan diri sendiri, dan tidak tahu apa yang ingin diraih, meskipun menurut saya pribadi, karakter Nicky agak keterlaluan lack of self-knowledge-nya.
Profile Image for Lina Maharani.
274 reviews15 followers
February 14, 2019
"...berlari sejauh apapun, rumah adalah dimana hatimu merasa nyaman & aman. bahkan di tempat yang mustahil kau pulangi sekali pun, tetaplah rumah mu."

Buku ini mengajarkan soal jujur. Iya, sederhana saja. jujur pada diri sendiri, sesulit itu kita mengatakan kalo diri kita tidak baik2 saja dan butuh bantuan. kadang, kita lbh memilih berlari, menghindari & akhirnya tdk selesai.
Profile Image for elynn.
51 reviews
October 13, 2024
Tentang pengalaman Nicky di "negeri orang" yang banyak naik turunnya. Yang membuat menarik adalah, banyak makna tersirat di buku ini.
Profile Image for Gil Haryanto.
11 reviews
May 8, 2025
following Nicky's adventure, i can feel how lonely he is, how sickening the world that revolves around him. as if all struggles--no matter how hard--do not always get instant results.
Profile Image for Putra Harahap.
29 reviews3 followers
March 24, 2017
Saya suka dengan cerita dalam buku ini. Buku ini mengambil "merantau" sebagai tema besarnya, tema yang ada dalam semua kisah hidup manusia. Maggie menceritakan usaha Nicky untuk tetap bertahan dalam perantauannya di Boston. Cerita didukung dengan narasi yang mengalir dan detail tentang kota, pergantian musim, gaya hidup, dll.
Profile Image for Truly.
2,764 reviews13 followers
March 28, 2021
Hibahan Mas T, editor sahabat saya yang hobi beberes koleksi bukunya.
Karya yang unik. Membuat saya tertawa, tapi juga sedih di bagian yang lain. Ada juga beberapa ucapan jika direnungkan lebih dalam mengandung petuah yang berguna. Lengkap!
Profile Image for Uthie.
326 reviews76 followers
January 31, 2013
Amerika Serikat adalah dambaan dan mimpi bagi banyak orang untuk bisa menetap dan berkarya disana. Segala cara ditempuh agar tujuan tersebut tercapai. Nicholas "Nicky" F. Rompa beruntung. Ia diajak ke "negeri impian" itu oleh Tante Risma karena menurut sang Ibu ia pun tak punya kehidupan yang jelas di Indonesia. Lagi pula perlakuan buruk sang Ayah membuatnya tak tahan lagi untuk tinggal bersama sang Ayah.

Boston pun ternyata tak mampu membantu Nicky menemukan tujuan hidupnya di Amerika. Selain bekerja full time di toko Mr. dan Mrs. Wong, ia juga mulai berkenalan dengan kehidupan anak muda ala kota Boston. Satu kejadian membuatnya tak lagi bisa tinggal bersama Tante Risma dan beliau juga tak lagi bisa menjadi sponsor bagi Nicky untuk tinggal di Amerika. Kini Nicky resmi menjadi pendatang ilegal bersama ratusan ribu orang lainnya yang tak ingin meninggalkan Amerika Serikat.


Kehidupan Amerika Serikat yang semarak dengan berbagai suku bangsa juga bersinggungan dengan hidup Nicky. Ia bersahabat dengan Dev yang orang Pakistan, Natalie yang Yahudi, Mr. dan Mrs. Wong yang Vietnam, dan Esmeralda alias Esme yang warga Meksiko. Ketika tinggal bersama Dev dan Natalie, Nicky mulai mengikuti kelas "creative writing" dengan seorang mentor bernama Artin yang percaya jika Nicky mempunyai potensi untuk menjadi seorang penulis.

Tapi Nicky tetap tak berubah. Tidak langsung fokus dan berjuang menjadi penulis seperti yang diyakini Artin. Hidupnya terus saja berjalan tenang. Ia tetap saja menjadi pendatang ilegal yang keadaannya semakin terdesak sejak kejadian 9/11. Ia tetap menjadikan pengemudi limousine sebagai tumpuan keuangannya dan tetap mengikuti kelas "creative writing" sambil sesekali bertemu dengan Artin diluar jam kursus.

Membaca Winter Dreams seperti membaca kehidupan kita semua. Tanpa disadari ada banyak dari kita yang tak tahu bahkan tak mengerti tujuan hidupnya. Hanya melakukan rutinitas biasa untuk bertahan hidup dan melewati hari. Hidup namun tidak "hidup".

Sepotong kejadian saat Remo sahabat Nicky sedari kecil di Jakarta yang datang berkunjung ke Boston sambil membawa aura kesuksesan seorang profesional muda, Dev, Natalie yang notabene telah mapan dengan pekerjaan dan hidup mereka serta Esme yang punya gelar S2 dalam bidang pendidikan bersulang untuk kesuksesan Nicky sebagai penulis justru dirasakan sebagai hinaan atau ejekan bagi Nicky. Meski mereka jelas tak bertujuan untuk itu. Tapi hati, yang bertanggung jawab atas segala emosi dan perasaan, tak bisa dibohongi saat berbagai kesuksesan mengelilingi kita ia justru menafsirkannya sebagai sebuah peringatan akan hidup kita tak tak seperti mereka.

"Kami bersulang untukku dan karier gemilangku sebagai penulis best-seller yang bagiku justru terasa sebagai hinaan atau ejekan. Aku tahu mereka tidak bermaksud menghina ataupun mengejek tapi itu yang kurasakan dan karenanya aku jadi sedikit kesal." (p. 263)


Dituturkan dengan alur yang relatif tenang layaknya kehidupan Nicky secara tidak langsung membuat pembaca bertanya kembali pada diri sendiri akan tujuan hidupnya. Penggambaran kota Boston yang begitu jelas hampir disetiap sudut kotanya tapi tidak dengan paparan deskripsi yang panjang lebar cukup membuat saya penasaran ingin merasakan denyut kehidupan kota itu.

Pada akhirnya sepotong kalimat yang mengatakan "life has a strange sense of humor, and sometimes God makes up for it by working in mysterius ways" membuat kita harus percaya jika ada kekuatan tak kasat mata yang membuat kita bertahan dan mampu melewati semua hal yang terjadi di setiap detik kehidupan ini.
Profile Image for Megaft.
13 reviews
December 26, 2021
Being lonely is hard but sometimes fun, I dont expect this book will make me feel comfort although there is no emotional peak
Profile Image for Melody Violine.
Author 27 books45 followers
September 26, 2012
Winter Dreams adalah karya Maggie Tiojakin, seorang penerjemah yang terkenal dengan terjemahan cerpen-cerpen sastranya dalam Fiksi Lotus. Pertama kali saya mendengar tentang novel ini adalah ketika Maggie menjadi pembicara di Festival Pembaca Indonesia akhir tahun lalu. Selain sampulnya yang cantik dengan misterius, Maggie juga menggugah penonton dengan menegaskan kehadiran tokoh utama yang anti-hero dan latar cerita Amerika Serikat.

Sederhananya, seorang tokoh anti-hero tidak memenuhi harapan kita tentang pahlawan atau teladan yang sedikit-banyak kita harapkan dari sosok protagonis. Nicky F. Rompa tidak mempunyai prestasi khusus atau bahkan sekadar hobi yang membuat dirinya menarik. Dia hidup seperti hanya demi melewati hari demi hari tanpa tujuan yang berarti. Pertengkaran Nicky dengan ayahnya membuat ibunya, yang sudah bercerai dengan ayahnya, mengirimnya untuk tinggal di Amerika Serikat. Meninggalkan bangku kuliahnya di Indonesia, Nicky memulai hidup di negeri Paman Sam sebagai illegal alien atau pendatang gelap.

Kecenderungan Nicky yang membiarkan hidupnya mengalir saja ini memengaruhi keseluruhan cerita. Kita akan melihat bermacam-macam hal terjadi kepada Nicky, menyimak kehadiran orang-orang yang berbeda dalam hidup Nicky. Sang tokoh utama tidak memandang apa pun keadaannya sebagai sesuatu yang perlu diperjuangkan, apalagi ditaklukkan. Semua reaksi Nicky adalah usaha untuk bertahan. Dapat dikatakan ini perubahan yang menenangkan setelah membaca banyak buku dengan tokoh utama menerobos segala rintangan dengan penuh tekad.

Lantas tidak berarti novel ini minim arti. Maggie mempunyai cara sendiri untuk menyuguhkan makna keluarga, persahabatan, percintaan, kepercayaan, dan kehidupan pada umumnya. Saya terkejut, dan terkesan, dengan sudut pandang tokoh utama laki-laki yang sangat apa adanya, jejak penulisnya yang wanita hampir tak terasa. Cara Nicky menghadapi akhir hubungannya dengan Polina merupakan bagian yang paling mengesankan bagi saya. Ketegangan demi ketegangan hadir secara halus kala Nicky bergonta-ganti pekerjaan dan merindukan keluarganya. Ketegangan yang lebih tajam terasa ketika kelanjutan tragedi 11 September mempersulit keadaan Nicky dan teman-temannya sesama pendatang gelap. Pada akhir novel ini, ketika Nicky mempertimbangkan untuk kembali ke Jakarta, sebuah sederhana justru merupakan hadiah sejati bagi perkembangan pribadi Nicky selama ini, yaitu penerimaan.

Memang ini bukan novel yang membuat tangan saya tak sanggup melepaskannya sebelum habis dibaca, tapi saya merindukan Nicky sebagaimana merindukan sahabat yang telah lama pergi.
Profile Image for Helvira Hasan.
Author 2 books8 followers
April 4, 2012
Awal saya tertarik membeli buku ini adalah karena nama penulisnya yg tak asing lagi bagi saya--Maggie Tiojakin-karena blog fiksi lotus-nya yang menyajikan sastra dunia. Saya follow akun twitternya, saya tahu bibliografinya, latar belakangnya, dan barulah ketika novel perdananya terbit(sebelumnya Maggie menulis kumcer saja) saya sangat antusias utk membacanya.

Buku ini terasa mengalir ceritanya, tak ada metafor-metafor yang tak penting (yg menurut orang2 begitulah sastra dgn metafor rumit berbelit), tak tampak konflik yg begitu mengguncang, semuanya tenang tapi menghanyutkan. Saya rasa ini karena kedalaman ceritanya atau karakter tokohnya sendiri yang memang tampak biasa tapi punya daya tarik yg memikat saya untuk terus menyimak perjalanan hidupnya.

Ya, cerita ini merupakan kisah perjalanan seorang pemuda Jakarta yg bermigrasi ke Amerika (dari legal menjadi ilegal). Nick F.Rompa hanya pemuda biasa (tapi sebenarnya punya sisi yang tak biasa), baru lulus SMA, sempat kuliah di Jakarta, mengalami perceraian orangtua, tinggal bersama ayah kandung yg kurang ajar. Anak tetangga depan rumahnya, Reno, beberapa tahun lebih tua, jadi teman dekatnya. Bercerita tentang apa saja, tentu juga tentang perempuan. Perjalanan Nicky di Amerika terkait dgn petualangan wanita kiranya dipengaruhi oleh pemikiran dari Reno. Dari Polina, Esme, dan ternyata hingga Natalie.

Kehidupan Nicky sbg warga ilegal di tanah impian Amerika juga menarik. Bagaimana dia bekerja sbg penjaga toko, sopir limousine, hingga bekerja di surat kabar sbg mailman. Dan di waktu senggang ia mengambil kursus menulis kreatif. Di bagian ini, Maggie menyisipkan pelajaran menulis yg ia kuasai. Jadi, saya sendiri (yg juga belajar menulis) sangat menikmati buku ini dari kisah perjalanan Nicky dan secuil pelajaran menulisnya, hehehe..

Tagline dari judul buku Winter Dreams ini adalah Perjalanan Semusim Ilusi. Bukan 3 bulan, bukan 6 bulan, tapi sepanjang Nicky masih tak menentu dengan apa yang sesungguhnya ia cari dalam hidupnya.

Tagline itu tampak makin berkesan dengan final sentence yang inspiratif:

"Now follow your gut and try to keep up with the game." Aku meluncur ke tengah lapangan.

Nice story, Maggie!
Profile Image for Winna.
Author 17 books1,967 followers
February 5, 2012
Naskah novel ini saya baca saat menjadi salah satu first readers Maggie, sebelum novelnya diterbitkan. Saya pun sangat mengagumi Maggie setelah membaca karyanya, terutama dalam antologi cerpen Balada Ching Ching, so naturally I'm really anticipating her novel.

Basically, ini adalah cerita tentang seorang pemuda Indonesia yang merantau ke Amerika. Saya menikmati setiap deskripsi mengenai 'dunia luar' yang diperlihatkan oleh Maggie, apalagi terasa sekali sang penulis sangat mengenal settingnya, dan hal ini membuat esensi Amerika yang ditonjolkan terasa natural juga nyata. Walaupun deskripsinya terkadang terasa terlalu detil, tetap saja terasa benar-benar nyata. Membaca Winter Dreams terasa bagai membaca novel terjemahan, in a good way. It feels authentic.

Awalnya, saya sempat mengira konflik akan segera terjadi. Tapi ternyata tidak demikian, dan begitu mencapai akhir cerita, baru saya sadari, ini bukan jenis buku seperti itu. Bukan buku bertempo cepat dengan adegan laga sarat gerakan, banyak dialog atau pun kisah romantis yang bikin gregetan. No, this is a different kind of book entirely, and when I finish it I know why I've always liked the writer's style.

Ini adalah kisah pahit manis kehidupan seorang pemuda biasa, lengkap dengan karakter yang punya kelebihan dan kekurangan. Ada cerita sedihnya, ada juga senangnya, ada datarnya, ada juga kejadian menariknya. Because that is life. Tidak selalu hidup kita bergejolak, tapi selalu ada banyak rasa yang mewarnai, dari sesal, kesal, sedih, angan, mimpi, kesalahan-kesalahan, cinta yang tak terbalas, persahabatan, keluarga, and everything else in between.

Jadi, saya merasa cukup bersyukur telah mengenal Nicky dan sekelibat perjalanan hidupnya, mencapai apa pun itu yang ingin dia capai. Kehidupannya yang jatuh bangun, sekelibat kisah dengan orang-orang yang melintasi hidupnya. Thank you Maggie, for allowing me to be in one of your stories.

3.5 stars :)
Profile Image for Anastasia Cynthia.
286 reviews
February 2, 2013
Nicky F. Rompa, bukan bocah kikuk kesayangan ayah. Dicerca, diolok, bahkan hendak dibelikan gincu merah. Memang hanya Nicky yang tahan dengan sikap ayah. Ibu mangkir bersama Shahnaz, adik perempuannya, beberapa tahun lalu. Dan kini, malah menyuruh anak remaja lelakinya itu pergi melarikan diri ke negeri antah berantah. Siapa lagi yang tahan dengan sikap ayah? Tidak ada. Nicky, seorang remaja delapan belas tahun, tidak perlu izin atau sekadar berpamit dengan ayah. Kedatangannya di Boston serta-merta disambut hangat oleh keluarga Tante Riesma dan suaminya, Frank. Mereka memiliki seorang anak perempuan, Leah. Juga jangan lupakan kekasihnya yang bernama Richard itu.

Melandaskan langkah pertama di pelipir Boston; hidup Nicky seolah mengaras sebuah kebebasan. Ya, mungkin itu yang dicarinya selama ini? Diuliknya hingga ke kolong ranjang, tapi takkan terwujud seandainya ia bersikukuh menetap di rumah ayah.

Dibalut overcoat tebal, agaknya di sanalah perjalanan Nicky F. Rompa dimulai. Mencucuh satu batang rokok hingga rokok kretek berikutnya, sembari bekerja di toserba mini milik imigran asal Vietnam, Mr. Fong. Nicky bertemu dengan sesosok jelita di suatu siang, sembari bertukar senda dengan Leah, Polina, si pemilik pinggang lencir itu datang bersama seorang pemuda Rusia, Yuky.

Polina tak mengenal status dalam sebuah relasi. Mungkin saja ia benar menyukai Yuky, tapi mungkin saja tidak. Hingga senyuman hangat itu mencuat di pelipir bibirnya, memagut bibir Nicky di tengah dentum musik trance. Akhirnya, Nicky tahu, apa yang selama ini dimaksud Reno, si Raja Porno – tetangga berbagi gentengnya itu.


Baca selengkapnya di: http://echoesofmyheartbeat.blogspot.c...
224 reviews
March 17, 2012
Baca reviewnya disini http://sinopsisuntukmu.blogspot.com/2...

Pertama kali membaca Winter Dreams, saya terkesima dengan cara penuturannya Maggie Tiojakin yang indah. Dengan sudut pandang orang pertama dari tokoh utama rasanya saya sedang membaca terjemahan buku klasik atau historical-fiction asing. Saya hampir tidak pernah menemukan tipe penulis yang memiliki gaya bahasa sedemikian indah. Alurnya begitu enak diikuti—sendunya suasana musim dingin menemani kita dalam menikmati kisah perjalanan hidup Nicky.

Selain fakta diatas, menarik sekali membaca kisah hidup Nicky dan berkenalan dengan penokohan karakter Nicky yang kuat. Nicky tidak punya tujuan hidup, tidak punya cita-cita. Jika ada yang bertanya ia kelak ingin menjadi apa? Jawabnya, jangankan sepuluh tahun lagi, ia bahkan tidak tahu akan kemana dirinya pergi esok hari. Baginya hidup seperti air mengalir, ia hanya tinggal mengikuti. Just going with the flow.

Walaupun begitu, Nicky tidak membiarkan kehidupan menyeretnya agar bisa memakannya hidup-hidup. Meskipun Nicky bukan orang paling alim sedunia, tapi ia tidak menjerumuskan diri seperti yang Leah alami dengan narkoba. Ya, dia menghamili Polina dan membiarkan Polina menggugurkan kandungannya. Ya, ia tinggal serumah dengan Esme yang lebih tua. Ya, ia tidak punya tujuan hidup. Tapi Nicky tidak pernah merusak hidupnya sendiri.

Hidup Nicky bersinggungan dengan sedikit orang, tokoh-tokoh sentral yang itu-itu saja. Tokoh-tokoh itu datang dan pergi tapi keberadaan mereka selalu ada disana, bersama kenangan Nicky. Namun tema utama dari novel ini yang saya tangkap adalah ketidakyakinan manusia terhadap hidup.
Profile Image for Niratisaya.
Author 3 books45 followers
July 6, 2012
My Summary...
Menceritakan kehidupan urban seorang pemuda bernama Nicky F. Rompa, yang terus melangkah dalam hidupnya, tanpa benar-benar tahu kemana dia akan melangkah. Alih-alih mengendalikan hidupnya, Nicky membiarkan hidup mengatur dirinya. Sampai satu kali dia dihempaskan oleh gelombang hidupnya pada satu kesadaran dan kekosongan. Tapi benarkah hidup Nicky kosong? Sementara berbagai kehidupan masyarakat Amerika telah dia cicipi.


My Opinion...
Membaca novel tak ubahnya menyantap sebuah hidangan bagi saya dengan cerita, plot, twists, konflik dll. sebagai bumbu-bumbu dan bahan-bahannya. Hidangan (baca: novel) sempurna bagi saya adalah bila dia mampu menjaga keseimbangan antara tiap-tiap bumbu, tanpa saling berlebihan dan menimbulkan rasa enek. Atau saling bertubrukan dalam masakan hingga masing-masing tak mampu saling menompang dan tak menyediakan apapun, kecuali rasa hambar. Sekedar menyajikan cerita tanpa meninggalkan after taste.

Bagi saya Winter Dreams karya Tiojakin ini adalah salah satu contoh hidangan yang sempurna. Dia mampu mewakili sense dari karakterisasi sang tokoh utama (Nicky) yang terdampar, tak hanya di Amerika tetapi juga dalam kehidupan. Di tiap lembar yang saya balik, saya merasakan kegamangan Nicky - seakan saya mencecapnya di otak saya.

Pace dan suasana yang diciptakan Tiojakin pun terjalin sempurna dg plot. Sebagian karena detil yang diberikannya atas kehidupan di Amerika dan bagaimana masyarakat imigran menjalani kehidupannya. Dapat saya katakan Tiojakin berhasil menciptakannya. Dan betapa brilian keputusan yang diambilnya di akhir cerita, ini juga masih menurut saya.


Last Words...
I really, really like this novel!
Profile Image for Vinska Andrias.
23 reviews1 follower
December 27, 2014
Saya sebelumnya sudah membaca karya Maggie, Balada Ching-Ching, dan sangat menikmati cara Maggie 'menyembunyikan' kejutan-kejutannya. Di novel ini, Maggie tetap Maggie yang memvisualisasikan sebuah bentuk, seujung rasa, dan sebuah pikir dengan sangat fokus dan detail namun tidak membosankan.

Cerita yg dibawa di sini sederhana, sesederhana buku harian seorang Nicky yang berisi kemelut kisah Nicky sebagai remaja yang menjelang usia di mana tanggung jawab tiba-tiba diberatkan ke pundaknya. Sulit, namun terkesan aman terkendali karena pembawaan dirinya yang tak banyak ambil pusing. Mungkin karena itu buku ini terasa tidak memiliki suatu konflik tinggi, saya sendiri di lembar demi lembar seperti terus-terusan mencari. Kadang saya terhenyak, tapi ikut 'nrimo' saja seperti yang dilakukan si Nicky. Sampai akhir pun saya seperti, oh... gitu... Tapi ya sudah. Kisah ini seperti asal cukil. Kita lebih kepada singgah di partisi kehidupan seseorang, dan terpotong di suatu bagian yang belum banyak menjelaskan hal-hal yang sebelumnya memunculkan banyak tanya.
Mengambil sebagian besar latar di Boston, gaya hidup yang dikisahkan sangat urban, American urban to be exact. Sampai kadang juga saya seperi merasa membaca buku metropop terjemahan.

Over all, 3.5 stars for an enjoyable book for a slow vacation day. Jangan lupa baca Balada Ching-Ching. Menurut saya pribadi Maggie ini lebih asyik buat bikin cerita pendek, karena kemampuannya mencuri sedetik atau dua napas pembaca.
Profile Image for Happy Dwi Wardhana.
244 reviews39 followers
May 7, 2016
Ketika membaca beberapa halaman awal saya sudah tidak tahan untuk menyumpah-serapahi alur cerita novel ini. Mungkin buku ini saya baca setelah saya membaca O nya Eka Kurniawan yang 'Indonesia' sekali. Sedangkan saya sangat anti novel yang kebarat-baratan. Di sisi lain, saya penggemar tulisan-tulisan Maggie di Jakarta Post, dan berawal dari itu pula saya mempunyai semangat melanjutkan membaca.

Winter Dreams adalah cerita petualangan Nicky seorang mahasiswa tingkat akhir dari keluarga broken home yang menjadi imigran gelap di Amerika. Bisa dibayangkan seluruh setting, dialog, dan penokohan semua berbau negeri Paman Sam.

Saya berpikir, apakah saya harus meneruskan membaca? Tapi kemudian saya sedikit menurunkan ego. Baiklah saya membaca ini tanpa standarisasi, biarlah cerita mengalir. Apapun yang prosesnya, tetap saya akan nikmati.

Setelah dua mingguan mengikuti petualangan Nicky, tibalah saya pada kesimpulan. Buku ini memang buku tentang Amerika. Petualangan dari satu tempat ke tempat lainnya, makanannya, cuaca, dan kebiasaan orang Amerika dengan sangat mengesampingkan kekuatan penokohan dan konflik.

Meskipun demikian, saya tetap menikmati novel ini dengan deksripsi yang detil tentang Amerika. Dan membuat saya semangat lagi untuk apply Fullbright scholarship hehe...
Displaying 1 - 30 of 62 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.