ini buku lama yang dicetak baru. dan buku ini adalah perkenalan pertama saya dengan discourse analysis. di sini saya ingin sampaikan terima kasih saya kepada penulisnya! [emang ngikut di goodreads? he..he..]
posisi media ketika menjadi penengah antara pengirim pesan dan penerimanya, tidaklah netral. media sebagai pihak ketiga yang punya peran menyajikan, mengemas pesan kepada penerima, bisa membentuk kesan atau kecenderungan tertentu, tanpa pembaca atau penerima pesan menyadarinya.
pilhan kata, susunan kalimat, pilihan gambar, beserta perletakannya.. pun menyampaikan pesan tertentu. media ketika berfungsi sebagai media, ia sendiri sudah punya kepentingan. tidak bisa bebas darinya. bagaimana peran media yang seperti itu dioperasikan? buku ini memberi contoh analisis atau pembedahan media, baik teksnya maupun gambarnya, dari media massa yang ada di indonesia. buku ini saya pujikan karena mengambil contoh-contoh dari negeri sendiri, meski pun teori-teorinya banyak mengambil dari barat. secara khusus pada pemikiran teun van dijk.
rupanya buku ini sangat laku, buktinya edisi 2011 ini adalah cetakan ke-9 yang berjarak dari edisi perdananya di tahun 2001. lha emang bagus kok... pantes dah!
Buku ini adalah sebuah pengantar metodologis dan teoritis ke analisis wacana, terutama analisis teks media. Analisis wacana adalah alternatif terhadap kebuntuan-kebuntuan dalam analisis media yang selama ini lebih didominasi oleh analisis isi konvensional dengan paradigma positivis dan konstruktivisnya. Lewat analisis wacana ini, kita akan tahu bagaimana dan mengapa pesan itu dihadirkan.
Dalam buku ini dikemukakan konsep-konsep penting dalam analisis wacana, tokoh-tokoh pemikirnya, pendekatan yang dipakai, dan dilengkapi dengan contoh penerapan analisis wacana konteks sosial-politik di Indonesia.
Buku ini mencoba keluar dari mainstream kajian komunikasi yang ada di negeri ini y6ang cenderung konservatif.Bukan hanya membedah teks tapi latar belakang kenapa teks itu tampil.pada pekembangannya kini dibeberapa kampus malah menjadi mata kuliah
Apa yang dijelaskan Eriyanto sepanjang saya membaca cukup lengkap dan jelas. Bahasanya tidak membosankan, hanya saja saya malas membacanya. Dan akhirnya...selesailah saya membaca buku itu....
Pada dasarnya, banyak buku teks dengan tujuan mirip dengan “Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media” milik Eriyanto. Dalam sebuah situasi ketika ilmu bercabang dan beranting perlu ada karya yang mengantarkan kembali pembelajar ke arah dimana titik ilmu bermula (rekapitulasi). Sebagai contoh, jika mahasiswa belajar pemikiran politik barat dari klasik hingga kontemporer, maka yang mereka butuhkan bukan semata karya-karya para pemikir. Sebagai batu pijakan justru mereka perlu membaca ensiklopedia tentang pemikiran politik barat. Jika dikontekkan pada keilmuan analisis teks media, tentu kerja Eriyanto bukan lah yang pertama. Tetapi saya berkeyakinan bahwa penulis berhasil menjadi pembeda. Perbedaan itu lah yang membuat pekerjaan Eriyanto mirip dengan buku teks milik William Ebenstein (Today’s Isms) dan Frederick Taylor (Principles of Scientific Management). Tetapi, bahwa buku Eriyanto berbahasa Indonesia membuatnya lebih mirip dengan karya Ahmad Suhelmi (Pemikiran Politik Barat) sebagai pegangan oleh pembelajar di bidang ilmu masing-masing. Dengan tuturan ringan, buku ini mampu menjadi primadona di antara deretan buku pintar tentang analisis wacana kritis.