Mengejar impian metropolis, Jakarta dipenuhi dengan infrastruktur dan fasilitas-fasilitas seperti kota-kota besar dunia. Gedung-gedung tinggi, jalanan yang luas, jalan tol yang membuatnya. Nampak megah di mata warga mancanegara yang berkunjung ke Indonesia.
Namun kenyataan di balik wajah megah itu? Kampung-kampung tersebar di tiap pelosok Jakarta, menyempil di halaman-halaman belakang bangunan tinggi itu, tidak sebagai bagian perencanaan, tapi menjadi masalah yang tertinggalkan, kurang dipikirkan. Seharusnya tidaklah masalah karena kampung-kampung itu sudah ada lebih dulu sebelum bangunan-bangunan tinggi tersebut. Tapi tingkat urbanisasi yang tinggi akibat volume kepadatan yang meningkat di gedung-gedung tersebut, membuat kampung-kampung ini menjadi padat, cenderung kumuh dan tak bersahabat.
Tunggang langgang dan selalu berlari.
Itulah wajah penduduk Jakarta sekarang. Lari karena terpinggirkan, tergantikan oleh penghuni musiman siang hari, mereka yang bekerja di Jakarta. Bersaing, memperebutkan segenggam emas di Jakarta. Berebut waktu yang tetap 12 jam siang hari, untuk menangguk untung sebesar-besarnya. Hari-hari di jalan berdebu dan berkebul asap knalpot. Sampai bernafas pun menjadi sulit. Karena sulit mencari taman penghasil oksigen. Hijau menjadi mahal, karena lahan hijau dimanipulasi supaya bisa dijual.
Jakarta, masihkah kau layak untuk ditinggali? Atau hanya dijadikan perahan untuk hidup kami?
Buku yang keren banget --kayaknya belum pernah saya baca sebelumnya yang sejenis ini-- yang membahas Jakarta, mengupas dan menelanjangi arsitekturnya, tata ruangnya dan refleksi budaya dari sudut itu. Membaca buku ini, saya jadi pesimis membayangkan Jakarta yang sekarang norak itu bisa berubah jadi kota yang lebih 'berseni' dan 'berkelas'. Tapi ada sedikit harapan sih. Walaupun tentu saja nggak dalam waktu dekat.
Found this book at one of my bookshelves. I think I read it twice or so. It is good reminder to understand this old lady, since I have returned back for the last 2 months. I agreed with Marco, the author that states "All people who lives in Jakarta have to stampede in order to adjust themselves with the chaotic rhythm." Isn't it we all?
Membahas tentang seluk beluk kota Jakarta mulai dari sudut pandang historis, sosiografis, planologis, hingga populis. Untuk yang bermimpi ke Jakarta baca dulu buku ini, Siapa tahu anda tertarik untuk mendalami lebih dalam tentang Jakarta.
Macem2 masalah kota Jakarta dari tata letak arsitektur lingkungan. Warga ibukota yg ngerasa cinta ama kotanya...ada bagusnya baca buku ini. www.iralennon.blogspot.com