Setelah membaca buku ini saya setuju dengan pernyataan Romo Mudji Sutrisno yang beliau sampaikan dalam salah satu prolog buku ini, yaitu Trias Kuncahyono mampu berkisah tentang Jerusalem lewat—bahkan melampaui—empat model mata. Keempat mata atau cara melihat itu adalah: pertama, mata seorang wisatawan, di mana ia datang dan melihat; kedua, mata peziarah yang mengunjungi Jerusalem dengan motivasi mencari oasis spiritual untuk penyegaran rohani; ketiga, mata seorang pengelana yang setelah mendapatkan peta Jerusalem lalu memakai peta tersebut untuk berkelana sendirian; dan keempat, mata seorang wartawan dengan sudut pandang humanisnya.
Melalui buku ini kita akan dibawa Trias Kuncahyono berkeliling dan menelusuri sejarah Jerusalem (dan Palestina) yang sudah terkenal sebagai tempat suci bagi tiga agama samawi—Yahudi, Kristen, dan Islam. Seakan-akan kita memang melancong, berkelana, dan berziarah ke sana. Di tempat ini pula nabi-nabi besar ketiga agama tersebut dilahirkan dan menyebarkan ajarannya. Sehingga tidak salah jika Jerusalem disebut sebagai “Tanah Para Nabi”.
Dalam buku ini pula kita akan diajak Trias Kuncahyono mengikuti diskusi yang dia lakukan bersama salah satu sahabatnya di Jerusalem dan salah satu ahli sejarah Yahudi. Dari diskusi-diskusi tersebut kita akan mengetahui sejarah Jerusalem yang sangat detail, mulai dari zaman Abraham (Ibrahim) hingga zaman di mana salah satu tragedi terbesar dalam sejarah umat manusia terjadi, yaitu penyaliban Yesus Kristus.
Secara umum Trias Kuncahyono juga mengulas sejarah negeri Palestina—negeri di mana Jerusalem berada—secara mendetail. Mulai sejarah perubahan nama negeri tersebut yang pada zaman Ibrahim disebut negeri Kanaan hingga menjadi Palestina. Dan sekarang oleh bangsa Yahudi disebut negeri Israel. Pemaparan kondisi alam negeri tersebut juga dijelaskan secara apik. Kemudian kita diajak mempelajari sejarah para nabi dan keturunan-keturunannya di negeri tersebut. Lalu kita akan diajak menuju masa ketika negeri tersebut diperintah oleh Imperium Romawi. Bagaimana sejarah masyarakat dan kondisi sosial budaya di negeri tersebut dari zaman Ibrahim sampai Yesus. Hingga mengapa sampai sekarang negeri tersebut penuh dengan konflik yang berlatar belakang agama.
Di bagian-bagian terakhir buku inilah kita akan diajak mempelajari sejarah bagaimana Yesus sampai disalib. Berbagai kepentingan politik dan agama—hingga disebut perselingkuhan agama dan politik dalam buku ini—mampu dijelaskan dengan baik oleh Trias Kuncahyono. Tidak hanya itu, kita juga akan diberi suguhan sejarah berbagai macam jenis hukuman yang diterapkan pada zaman itu—cambuk, rajam, dibakar hidup-hidup, penggal kepala, dan salib. Hingga kita diajak untuk menguak sebuah misteri, pada tanggal berapakah sebenarnya Yesus disalibkan?
Buku ini menurut saya sendiri adalah sebuah buku sejarah. Buku ini benar-benar kaya akan detail dan fakta sejarah. Sejarah Imperium Romawi pun dijelaskan secara detail, meskipun cukup singkat. Tidak seperti buku sejarah pada umumnya—yang cenderung membosankan dan bikin ngantuk, buku ini justru disajikan dengan gaya bahasa yang lancar dan mudah dipahami. Namun, banyaknya detail dan fakta sejarah tersebut terkadang membuat saya kebingungan. Sehingga butuh waktu lebih untuk menyelesaikan dan memahami buku ini. Buku ini memang menitikberatkan pada sejarah Yahudi dan Kristen, tapi saya dapat memastikan orang yang awam terhadap sejarah Yahudi dan Kristen pun dapat dengan mudah mengikuti buku ini. Meski saya sendiri agak kesulitan mengikuti sejarah bangsa Yahudi yang dipaparkan dalam buku ini karena banyaknya silsilah dan suku dalam bangsa Yahudi. Tapi, hal tersebut tidak terlalu menghambat untuk mengikuti dan memahami buku ini. Salut untuk Trias Kuncahyono atas karyanya ini!