Jump to ratings and reviews
Rate this book

Pulang

Rate this book
... Kemana hamparan sawah, pohon karet yang tinggi langsing berjajar rapi, dan juga pohon-pohon rindang lainnya? Semua terbabat habis, kemana mereka? Kicau burung sudah tidak seramai dulu lagi. Sungai yang dulu mendendangkan gemericik alam yang bening, kehilangan auranya, keruh, pekat! Semua menghilang bersama derai tawaku semasa kecil. Tak ada lagi keindahan seperti ketika aku dan adikku berlari kecil bersama kawan-kawan sepermainan. Tak ada lagi dangau tempat aku tertawa mesra bersama kekasih. Semua menghilang, hilang sudah. Tinggal tunggul-tunggul kecoklatan yang terguyur hujan dan terpanggan matahari silih berganti.

120 pages, Paperback

First published January 1, 2006

2 people are currently reading
26 people want to read

About the author

Happy Salma

6 books5 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
5 (8%)
4 stars
7 (12%)
3 stars
21 (36%)
2 stars
17 (29%)
1 star
8 (13%)
Displaying 1 - 11 of 11 reviews
Profile Image for Roos.
391 reviews
November 27, 2008
Buku yang saya baca setelah buku Telaga Fatamorgana, yang notabene adalah buku kedua Happy Salma. Kebalik euy bacanya...harusnya buku ini dulu. Tapi siapa pedulilah...hehehehe. Yang jelas terima kasih ma Mas Nanto karena dah ngasih buku ini.

Yah, seperti yang saya bilang pada review saya bahwa Neng Happy ini pandai menulis cerita yang diakhiri dengan sedikit kejutan diakhir cerita, kejutan tidak terduga yang kadang lucu, sedih bahkan menyenangkan yang terkesan ironis. Ya, seperti pada cerita pertama Pertemuan, tapi saya tidak mau membahas cerita-cerita Pulang dibuku ini. Saya malah suka pada puisi dibalik cover buku ini, berikut puisinya:

Tidak ada yang salah
apalagi terlambat
yang pintar bisa menjadi bodoh
aku yang bodoh pun
bisa menjadi pintar

kukerahkan anugerah
untuk menjadikan kekuatan
menaikkan derajatku

aku perempuan
aku bercerita sebagai perempuan
dalam perasaan
gejolak
lamunan
yang kadang tak aku mengerti

sederhana saja
aku menulis hanya untuk
memperkaya batin
belajar mengenali diri

yang penting

agar pada suatu masa nanti
engkau, yang jauh disana
bisa merasakan desahku
yang menyatu dengan waktu


Puisi Happy Salma diatas, saya persembahkan untuk sahabatku SYL, yang SEMANGAT!!!

Dan Puisi dibawah untuk diri saya sendiri...

Ibu cuma bisa memberi ini, Nak
(enam lembar puluhan ribu lusuh kuterima)
Di Jakarta jaga dirimu,
dua orang membencimu
lima orang mencintaimu.
Nak, hidup paling indah bila kau punya kampung.
Ibu dan teman-temanmu selalu menanti.
Pulang,
Pulang, Nak
Kapanpun,
bila kau rasa sepi


Iya Bu, saya akan pulang...akan saya bawa kado terindah dan terbesar buat Ibu, meski tidak mahal semoga Ibu suka, anakmu ini rindu akan kedua matamu yang berbinar indah saat melihat anakmu ini pulang...huehuehuehue. Met Ulang Tahun, ya Bu. ( 1 Januari 2009 ).

Profile Image for A.J. Susmana.
Author 3 books13 followers
November 27, 2009
Cerpen sebagai Ajang Aktualisasi Diri

Kepada siapa saja yang menulis karya sastra (cerpen, puisi dan sebagainya) dan mengusahakan untuk konsumsi umum, tentu patutlah didukung. Kerja seperti ini tentu membutuhkan keberanian, keuletan dan ketekunan, termasuk dalam hal dana. Karya sastra bagi siapa saja ataupun di tangan siapa pun bisa mempunyai arti dan fungsi yang berlain-lainan. Bisa saja sekadar iseng; memanfaatkan kebebasan berekspresi, alat perjuangan ideologis, atau cukup sebagai alat atau cara mengaktualisasi diri. Begitulah Happy Salma dalam kumpulan cerpen pertamanya: “Pulang”, sengaja menuliskan cerpen-cerpennya sebagai ajang aktualisasi diri. Namun, perlu dicatat, setidak-tidaknya, bagaimanapun juga sastra adalah alat aktualisasi diri pengarangnya sebagaimana Pramoedya Ananta Toer juga menyatakan dalam Pidato tertulisnya ketika menerima penghargaan Magsaysay, 1995 di Manila bahwa Setiap karya sastra adalah otobiografi pengarangnya pada tahap dan situasi tertentu. Maka juga ia produk individu dan bersifat individual. Persembahannya kepada masyarakat tak lain dari sumbangan individu pada kolektivitas. ( baca: Sastra, Sensor dan Negara: Seberapa Jauh Bahaya Bacaan?)


Sebagai ajang aktualisasi diri, tentu saja kualitas cerpen-cerpen Happy Salma ini akan mencerminkan kualitas hidup (pun pemikiran) Happy Salma sendiri. Karenanya tampak, cerpen bagi Happy adalah proses pencarian diri dan mematangkan diri sebagai ...(tentu ini juga terserah Happy Salma sendiri sebagai manusia yang punya hidup). Filsafat atau ilmu-ilmu humaniora bisa saja membantu dalam proses ini. Sebagai ajang aktualisasi diri, cerpen-cerpen Happy Salma pun tampak ringan dan gampang bahkan dalam memandang kehidupan itu sendiri. Sedikit gelisah, sedikit kerinduan, sedikit peduli, tanggung, tak ada keberanian, bahkan keragu-raguan yang ada, begitulah cerpen-cerpen Happy Salma. Karenanya cerpen-cerpen Happy Salma ini tak beranjak dari tema-tema lama: kekalahan, kepasrahan tapi ingin keluar dari situasi seperti ini walau tanpa perspektif yang jelas. Ujung-ujungnya justru membingungkan: apa sih maunya? Sementara ia punya peluang untuk mengungkapkan itu semua dengan baik dan berani setidaknya ada editor bahasa dan logika cerita yang siap setiap saat di samping hidupnya sendiri yang sudah menarik dan dahsyat untuk menjadi tumpuannya: artis dan selebritis.

Untuk menyelesaikan ke delapan cerpen Happy Salma dalam kumpulan cerpen ini, pembaca tak perlu pusing tujuh keliling. Pilihan diksi, alur kalimat dan ceritanya sungguh sederhana. Dalam cerpen “Pertemuan” dan “Adik” barangkali, Happy sepertinya hendak bermain teka-teki yang mengejutkan. Kakaknya yang laki dan empat tahun tak bertemu, ketika bertemu dengannya tiba-tiba telah menjadi perempuan yang cantik. Tapi, hakiki pertemuan sebagai fokus cerita sendiri tak detail termasuk sebab perpisahannya. Begitulah juga “Pada Sebuah Pementasan”. Hakiki pementasan sebagai cerita sendiri tak terjadi baru sebuah rencana dan latihan diiringi dengan cemburu buta tanpa sebab dan berakhir dengan penyesalan yang dalam. Justru pada cerpen “Adik”, pengungkapan cerita cukup menarik: yakni berangkat dari “yang mati”. Kakaknya yang telah mati memandang keceriaan adiknya, Kiki, hilang berganti dengan terpekur di pusara.

Pada cerpen “Ibu dan Anak Perempuannya”, “Pulang”, “Umi”, “Perjalanan Jauh”, “Kenangan Singkat”, tampak keragu-raguan selalu muncul. Cerpen “Ibu dan Anak Perempuannya” (mungkin judulnya lebih pas: Aku dan Ibu, sehingga lebih dekat dan akrab karena ternyata anak perempuannya ini adalah “aku”) mungkin tak ada yang baru. Kasih yang digambarkan dari seorang pelacur kepada Ibunya seperti klise. Begitu-begitu saja. Ibu yang sakit dan berangkat tua dibiayai dengan segala cara: melacur. Pengungkapannya bisa saja tidak menjadi klise bila ada terobosan-terobosan baru, terutama dalam hal nilai-nilai misalnya. Lebih parah lagi pada cerpen “Pulang”, bahkan kebudayaan metropolis yang dia kecap tak sanggup membuka mulutnya melawan bapaknya yang feodal dan otoriter atau setidaknya berargumen. “Sekarang aku benci bapak, walaupun kuikuti keinginannya”.(h. 96) Justru yang tinggal sisa sampah kebudayaan metropolis: egoisme dan sinis pada “keterbelakangan” walau setengah merindukannya sebagai bagian yang eksotik dan kalau jengkel, nihilismelah yang dipeluk.

Begitulah, keraguan kembali muncul pada “Umi”: “aku”, suster yang berpendidikan ilmiah tak berdaya bersikap terhadap Umi-nya yang sakit-sakitan, tapi menghantui mimpi-mimpinya bahkan mengetahui kedatangannya. Cerita mistis, tapi mengapa bisa seperti itu, tak jelas. Umi sendiri yang seharusnya menjadi sentral cerita justru tampak menjadi angin lalu. Kegelisahan, ketakutan “aku” yakni Ratih yang membingungkan justru menonjol sampai pada kepergiannya waktu subuh. “Perjalanan Jauh” semakin kekanak-kanakan. “Aku” yang sudah melanglang buana ke luar negeri pun tak sanggup mengungkapkan keinginannya dengan terbuka pada kekasihnya yang sibuk membaca. Apa susahnya mengatakan pada kekasihnya: “Hai, kenapa tidak kamu letakkan saja bukumu dan kita nikmati perjalanan jauh ini berdua?” Dengan begitu, “aku” yang merasa tak diperhatikan kekasih pun terpecahkan keraguannya alias menemukan jawaban: mengapa kekasih sibuk membaca dan perjalanannya pun tak menjadi hambar. Masih begitu rendah posisi perempuan pada lelaki? Bertanya saja tak sanggup? Lebih banyak bermain perasaan? Tak rasional? Seandainya perasaan itu diungkapkan, termasuk bahkan kerinduan pada Ibunya...? Keraguan dan bermain perasaan itulah yang juga muncul pada cerpen tentang Papua: “Kenangan Singkat”. Perasaan salahnya pada Daniella kemudian menjadi janji hati untuk kembali ke Papua.

Begitulah gambaran aktualisasi diri Happy Salma melalui cerpen-cerpennya lebih tepatnya aktualisasi perasaan-perasaan Happy Salma melalui cerpen. Dengan demikian kumpulan cerpen “Pulang” ini pun tampak seperti loncatan-loncatan perasaan Happy Salma. Tak ada arahnya yang pasti: bahkan cerpen “Pulang” yang menjadi judul buku kumpulan cerpen ini justru menjadi kebalikannya: “tak berkehendak pulang” karena “semua sirna, hanya tinggal kenangan”. (h.97)

Walau begitu tentu patut dihargai kejujuran Happy Salma dalam menuliskan cerpen-cerpennya: yakni sebagai ajang aktualisasi diri. Jika peran editor atau penyunting cukup banyak, tentu akan mengurangi kerja aktualisasi diri ini.

***

AJ Susmana, Kamis, 23 Oktober 2008 12:32

http://www.bekasinews.com/berita/daer...

Merged review:

Cerpen sebagai Ajang Aktualisasi Diri

Kepada siapa saja yang menulis karya sastra (cerpen, puisi dan sebagainya) dan mengusahakan untuk konsumsi umum, tentu patutlah didukung. Kerja seperti ini tentu membutuhkan keberanian, keuletan dan ketekunan, termasuk dalam hal dana. Karya sastra bagi siapa saja ataupun di tangan siapa pun bisa mempunyai arti dan fungsi yang berlain-lainan. Bisa saja sekadar iseng; memanfaatkan kebebasan berekspresi, alat perjuangan ideologis, atau cukup sebagai alat atau cara mengaktualisasi diri. Begitulah Happy Salma dalam kumpulan cerpen pertamanya: “Pulang”, sengaja menuliskan cerpen-cerpennya sebagai ajang aktualisasi diri. Namun, perlu dicatat, setidak-tidaknya, bagaimanapun juga sastra adalah alat aktualisasi diri pengarangnya sebagaimana Pramoedya Ananta Toer juga menyatakan dalam Pidato tertulisnya ketika menerima penghargaan Magsaysay, 1995 di Manila bahwa Setiap karya sastra adalah otobiografi pengarangnya pada tahap dan situasi tertentu. Maka juga ia produk individu dan bersifat individual. Persembahannya kepada masyarakat tak lain dari sumbangan individu pada kolektivitas. ( baca: Sastra, Sensor dan Negara: Seberapa Jauh Bahaya Bacaan?)


Sebagai ajang aktualisasi diri, tentu saja kualitas cerpen-cerpen Happy Salma ini akan mencerminkan kualitas hidup (pun pemikiran) Happy Salma sendiri. Karenanya tampak, cerpen bagi Happy adalah proses pencarian diri dan mematangkan diri sebagai ...(tentu ini juga terserah Happy Salma sendiri sebagai manusia yang punya hidup). Filsafat atau ilmu-ilmu humaniora bisa saja membantu dalam proses ini. Sebagai ajang aktualisasi diri, cerpen-cerpen Happy Salma pun tampak ringan dan gampang bahkan dalam memandang kehidupan itu sendiri. Sedikit gelisah, sedikit kerinduan, sedikit peduli, tanggung, tak ada keberanian, bahkan keragu-raguan yang ada, begitulah cerpen-cerpen Happy Salma. Karenanya cerpen-cerpen Happy Salma ini tak beranjak dari tema-tema lama: kekalahan, kepasrahan tapi ingin keluar dari situasi seperti ini walau tanpa perspektif yang jelas. Ujung-ujungnya justru membingungkan: apa sih maunya? Sementara ia punya peluang untuk mengungkapkan itu semua dengan baik dan berani setidaknya ada editor bahasa dan logika cerita yang siap setiap saat di samping hidupnya sendiri yang sudah menarik dan dahsyat untuk menjadi tumpuannya: artis dan selebritis.

Untuk menyelesaikan ke delapan cerpen Happy Salma dalam kumpulan cerpen ini, pembaca tak perlu pusing tujuh keliling. Pilihan diksi, alur kalimat dan ceritanya sungguh sederhana. Dalam cerpen “Pertemuan” dan “Adik” barangkali, Happy sepertinya hendak bermain teka-teki yang mengejutkan. Kakaknya yang laki dan empat tahun tak bertemu, ketika bertemu dengannya tiba-tiba telah menjadi perempuan yang cantik. Tapi, hakiki pertemuan sebagai fokus cerita sendiri tak detail termasuk sebab perpisahannya. Begitulah juga “Pada Sebuah Pementasan”. Hakiki pementasan sebagai cerita sendiri tak terjadi baru sebuah rencana dan latihan diiringi dengan cemburu buta tanpa sebab dan berakhir dengan penyesalan yang dalam. Justru pada cerpen “Adik”, pengungkapan cerita cukup menarik: yakni berangkat dari “yang mati”. Kakaknya yang telah mati memandang keceriaan adiknya, Kiki, hilang berganti dengan terpekur di pusara.

Pada cerpen “Ibu dan Anak Perempuannya”, “Pulang”, “Umi”, “Perjalanan Jauh”, “Kenangan Singkat”, tampak keragu-raguan selalu muncul. Cerpen “Ibu dan Anak Perempuannya” (mungkin judulnya lebih pas: Aku dan Ibu, sehingga lebih dekat dan akrab karena ternyata anak perempuannya ini adalah “aku”) mungkin tak ada yang baru. Kasih yang digambarkan dari seorang pelacur kepada Ibunya seperti klise. Begitu-begitu saja. Ibu yang sakit dan berangkat tua dibiayai dengan segala cara: melacur. Pengungkapannya bisa saja tidak menjadi klise bila ada terobosan-terobosan baru, terutama dalam hal nilai-nilai misalnya. Lebih parah lagi pada cerpen “Pulang”, bahkan kebudayaan metropolis yang dia kecap tak sanggup membuka mulutnya melawan bapaknya yang feodal dan otoriter atau setidaknya berargumen. “Sekarang aku benci bapak, walaupun kuikuti keinginannya”.(h. 96) Justru yang tinggal sisa sampah kebudayaan metropolis: egoisme dan sinis pada “keterbelakangan” walau setengah merindukannya sebagai bagian yang eksotik dan kalau jengkel, nihilismelah yang dipeluk.

Begitulah, keraguan kembali muncul pada “Umi”: “aku”, suster yang berpendidikan ilmiah tak berdaya bersikap terhadap Umi-nya yang sakit-sakitan, tapi menghantui mimpi-mimpinya bahkan mengetahui kedatangannya. Cerita mistis, tapi mengapa bisa seperti itu, tak jelas. Umi sendiri yang seharusnya menjadi sentral cerita justru tampak menjadi angin lalu. Kegelisahan, ketakutan “aku” yakni Ratih yang membingungkan justru menonjol sampai pada kepergiannya waktu subuh. “Perjalanan Jauh” semakin kekanak-kanakan. “Aku” yang sudah melanglang buana ke luar negeri pun tak sanggup mengungkapkan keinginannya dengan terbuka pada kekasihnya yang sibuk membaca. Apa susahnya mengatakan pada kekasihnya: “Hai, kenapa tidak kamu letakkan saja bukumu dan kita nikmati perjalanan jauh ini berdua?” Dengan begitu, “aku” yang merasa tak diperhatikan kekasih pun terpecahkan keraguannya alias menemukan jawaban: mengapa kekasih sibuk membaca dan perjalanannya pun tak menjadi hambar. Masih begitu rendah posisi perempuan pada lelaki? Bertanya saja tak sanggup? Lebih banyak bermain perasaan? Tak rasional? Seandainya perasaan itu diungkapkan, termasuk bahkan kerinduan pada Ibunya...? Keraguan dan bermain perasaan itulah yang juga muncul pada cerpen tentang Papua: “Kenangan Singkat”. Perasaan salahnya pada Daniella kemudian menjadi janji hati untuk kembali ke Papua.

Begitulah gambaran aktualisasi diri Happy Salma melalui cerpen-cerpennya lebih tepatnya aktualisasi perasaan-perasaan Happy Salma melalui cerpen. Dengan demikian kumpulan cerpen “Pulang” ini pun tampak seperti loncatan-loncatan perasaan Happy Salma. Tak ada arahnya yang pasti: bahkan cerpen “Pulang” yang menjadi judul buku kumpulan cerpen ini justru menjadi kebalikannya: “tak berkehendak pulang” karena “semua sirna, hanya tinggal kenangan”. (h.97)

Walau begitu tentu patut dihargai kejujuran Happy Salma dalam menuliskan cerpen-cerpennya: yakni sebagai ajang aktualisasi diri. Jika peran editor atau penyunting cukup banyak, tentu akan mengurangi kerja aktualisasi diri ini.

***

Kamis, 23 Oktober 2008 12:32

http://www.bekasinews.com/berita/daer...
Profile Image for Maryani Thaif.
14 reviews7 followers
September 6, 2022
Naskah dalam buku ini bukan sekadar butuh editor yang andal, tapi yang mau menjadi teman berdiskusi. Banyak kisah yang menarik (dan menyentuh) sebenarnya. Hanya saja serba sepotong-sepotong, dan lari begitu saja.
Profile Image for Tri Tanto.
33 reviews
March 28, 2018
Usaha yang baik. Tapi tetap, menulis bukan hanya sebuah usaha, tapi cara penyampaian.
Profile Image for Meimei Camui.
63 reviews6 followers
October 12, 2011
Aku beli buku ini, tanggal 12 juni 2011, lima tahun setelah tanggal cetaknya :D
tidak sengaja juga 'menemukan' buku ini. Bukan karena nama "HAPPY SALMA" yang membuat aku tertarik untuk membeli. tapi review di belakang buku yang cukup simple tapi bahasanya cukup bagus untuk ukuran cerpen... jadi penasaran sama isinya tentang apa aja.

Ada delapan cerita pendek yang cukup berkesan di bagian akhirnya. Tapi ada satu sih...yang kurang aku suka, judulnya sih bagus "Kenangan singkat" tapi di bagian akhir agak sedikit berlebihan.

Cerpen pertama judulnya 'Pertemuan' bikin aku bengong di-ending. WHAT? ternyata... Si kakak sudah 'sangat berubah'

'Ibu dan anak perempuannya' Bagian awal sangat mengharu-biru, tapi di belakang... berjejer nama laki-laki yang... ah sudahlah. Jalan hidup orang memang selalu tidak sama.


'Adik' Awalnya aku bingung, karena cerita hanya berjalan satu arah. Tapi setelah masuk bagian akhir, DEG! aku langsung merinding.... 'pulang yang sesungguhnya.'

'Perjalanan jauh' Hahahaha...jujur deh, ini cerita bikin aku parno, pikiran aku udah melantur kemana-mana gitu, ternyata... gak ada sangkut pautnya sama kematian.

'Pulang' Tidak seperti judulnya yang sederhana. Isi cerita malah berbelit-belit dengan perasaan tokoh utamanya.

'UMI' Ihhh... aku baca cerita ini tengah malem... merinding banget.


*Dan dari keseluruhan cerita, Happy salma penuh kejutan dengan ide-idenya :)
Profile Image for Bunga Mawar.
1,356 reviews43 followers
January 24, 2009
Saya comot bintang 2,5 buat buku pinjaman ini. Terimakasih Kak Roos... *Upin dan Ipin mode on*

Salut buat keberhasilan seseorang, termasuk Happy Salma ini, yang bisa melahirkan karya untuk dinikmati orang lain.

Alurnya seragam, lambat seperti orang yang masih ragu-ragu. Wajar banget, it's ok. Latar dan karakter cerita ternyata beraneka ragam. Salut lagi atas kesediaan Happy untuk melihat "dunia lain". Untuk sementara saya cuma mau menambahkan, sayangnya setiap cerita selalu memperlihatkan satu wajah buat saya: Happy Salma. Seperti nonton sinetron beda judul. Jadi ada Happy Salma jadi adik, Happy Salma jadi kakak, Happy Salma jadi anak emak, Happy Salma patah hati, atau Happy Salma jadi hantu.

Lah! Mendingan begitu sih. Daripada Happy Salma jadi Vera yang belum juga selesai bukunya...
Profile Image for Nabila Budayana.
Author 7 books80 followers
October 11, 2012
Akhirnya saya bisa baca juga buku ini. Ternyata bagi saya, buku ini sangat ber-diksi. Seperti puisi yang dijalin menjadi sebuah cerita pendek utuh. Dan itu menjadi karakter kuat pada penulis. Buku ini seharusnya menjadi indah, jika saja jalan cerita lebih twisting ada kejutan-kejutan yang dibagikan agar tak datar. Ide cerita yang unik pun seharusnya dapat dikembangkan lebih baik. Tiga bintang karena saya mencintai diksi penulis yang apik.
Profile Image for Nanto.
702 reviews102 followers
January 15, 2008
ada tiga hal yang membuat saya menoleh buku kumpulan cerpen ini:
1. Happy Salma
2. Covernya
3. Pertanyaan "ada ide apa neng Happy dibalik cover anggun itu?"

Faktor ketiga itu terpuaskan dengan cerpen yang kerap memainkan penasaran saya sebagai pembaca. Terutama cerpennya yang berjudul "Adik": Pencerita yang tidak terduga dari sebuah kerinduan dan sayang seorang kakak kepada adiknya!
Profile Image for Dian.
64 reviews8 followers
February 14, 2009
ada yang bilang, buku ini ga bagus, jelek, dsb. diluar semua itu ini buku gw beli juga. penasaran. ga jelek2 bgt kok. cuma alurnya kok sama semua disetiap ceritanya ya?. namanya jg pemula. yg penting happy...^-^.
Profile Image for Tidar Rachmadi.
32 reviews9 followers
January 10, 2011
Faktor kehappy-salmaan ialah faktor determinan untuk baca buku ini. Not bad untuk sebuah awal karir menulisnya. Nuansa 'gadis desa' dan romantisme kampung halaman sangat kental.
Profile Image for Nia.
486 reviews24 followers
Want to read
January 5, 2009
jadi penasaran pengin baca....
Displaying 1 - 11 of 11 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.