Dari buku ini, saya jadi tahu bahwa istilah 'mata keranjang' yang telah bikin saya bingung bertahun-tahun sebenarnya adalah 'mata ke ranjang'. Penggabungan kata 'ke ranjang' yang berkonotasi seksual menjadi 'keranjang' ternyata adalah akibat penggunaan huruf arab gundul untuk menuliskan bahasa Melayu di masa lalu.
Masih banyak hal menarik lain mengenal asal-muasal kata dan perkembangan bahasa Indonesia yang bisa diperoleh dari buku ini. Dan yang lebih penting lagi dari buku ini adalah kesimpulan - atau mungkin tepatnya pertanyaan-pertanyaan lebih lanjut yang muncul setelah kita menelusuri asal-muasal berbagai kata dalam Bahasa Indonesia.
Apa itu bahasa Indonesia? Haruskah perkembangannya kita hambat dengan berbagai aturan, sikap anti-kata baru dari bahasa 'asing', pembinaan melalui berbagai institusi (Pusat Pembinasaan Bahasa, kata Remy Sylado alias Alif Dasya Munsyi, sang penulis buku)?
'9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia Adalah Asing' terdiri dari kumpulan tulisan pendek yang ringan dan cukup enak dibaca, bukan pembahasan linguistik yang berat-berat. Kadang-kadang memang jadinya terlalu ringan dan tak menawarkan banyak hal dalam satu bab selain kumpulan daftar karya tempat suatu kata (pernah) digunakan.
Kata horas dalam bahasa Batak, yang diucapkan sebagai kata sapa, sejatinya berasal dari Mesir, yaitu horus, salah satu dewa Mesir. Bagaimana bisa? Batak dan Mesir, adakah hubungan tali keluarga?
Begini riwayatnya. Sekitar abad ke-5 masehi, di Timur Tengah berkembang aliran Kristen Nestorian. Nestorian, atau dalam bahsa Arab disebut nisturiayah, berasal dari nama Nestorius, patriarkh yang dikucilkan oleh Paus Celestine ke Mesir karena pandangan-pandangan teologinya yang membahayakan. Walau dilarang oleh Paus, nestorianisme tetap berkembang di Timur Tengah hingga ke Tiongkok, dan pada abad ke-12 sampai di tanah Batak. Apakah semboyan horas dilakukan oleh orang Batak meniru kebiasaan dari Mesir, bisa jadi demikian. Kini horas sering diucapkan, tidak saja oleh orang Batak, namun oleh orang dari etnis lainnya. Karena lazim digunakan, W.J.S. Poerwadaminta memasukan horas dalam entri kata Kamus Umum Bahasa Indonesia.
Pendapat asal-usul kata horas memang mengejutkan dan tidak terduga sama sekali. Sama halnya dengan fakta bahwa teks Proklamasi yang ditulis oleh Soekarno ternyata mengandung banyak kata ‘serapan’, seperti kata tempoh, dari kata tempo yang artinya waktu dalam bahasa Italia. Belum lagi ketika pada teks tersebut ditulis bilangan tahun ‘05’, kependekan dari 2085, yang merupakan tarikh Jepang saat itu.
Gejala apakah ini? 9 dari 10 kata Bahasa Indonesia adalah asing. Itu adalah jawaban singkat dari Alif Danya Munsyi. Jawaban untuk menunjukan bahwa Bahasa Indonesia memiliki banyak kata serapan (istilah sekarang yang sering dipakai untuk mengganti asing) dari banyak bahasa di dunia. Mulai dari Belanda, Portugis, Prancis, Inggris, Italia, dan kemudian bahasa-bahasa yang telah punah semacam Kawi, dan Sansekerta, hingga bahasa-bahasa dari suku-suku di Kepulauan Nusantara. Belanda memberi kata kalender, Portugis memberi kata roda, Perancis memberi kata sepeda, Arab memberi kata majalah. Itu tadi hanya contoh kecil, masih ada begitu banyak kata yang bisa dijadikan contoh. Bisa jadi dari bahasa Ibrani, hingga Yunani, maupun Sunda, Jawa, Manado, Bugis, Makasar, dan Maluku.
Dengan demikian, mana yang asli Indonesia? Manakah 1 dari 10 kata yang asli Indonesia. Mencari yang asli Indonesia, atau mencari 1 dari 10, bisa menjadi usaha yang yang tidak perlu, bahkan seperti menghindar dari kenyataan yang lebih besar bahwa Indonesia memang bhineka.
Buku 9 dari 10 kata Bahasa Indonesia adalah Asing seakan hanya buku remeh-temeh, terutama bagi mereka yang tidak bergelut dalam studi linguistik. Namun sebenarnya Alif Danya Munsyi sedang mengajak sidang pembaca pada persoalan lain yang lebih besar, yaitu persoalan berbangsa satu, bertanah air satu, dan berbahasa satu, yaitu Indonesia.
Suatu kelompok manusia disebut sebagai suatu bangsa karena berciri budaya satu. Dalam kasus Indonesia, apakah yang disebut Kebudayaan Indonesia? Inilah persoalan besarnya. Mengidentifikasi secara pasti apakah kebudayaan Indonesia bukan perkara mudah, karena memang suatu kenyataan bahwa sebenarnya Indonesia bukanlah suatu bangsa. Kata Indonesia juga bukan asli Indonesia. Adalah J.R. Logan, seorang Inggris, yang pertama kali menggunakannya pada tahun 1848.
Kita sering berada pada pusaran pencarian jatidiri bangsa yang tidak kunjung usai dengan cara melegitimasi masa lalu. Namun kita jarang berorientasi pada masa sekarang dan masa depan yang ada di depan batang hidung. Dengan jelas dan berulang kali Alif Danya Munsyi mengingkatkan kita semua agar kita jangan terjebak pada pusaran yang tidak perlu. Cukuplah kiranya pencarian asal-usul suatu kata menjadi tugas peminat studi linguistik, walau bukan berarti kita tidak boleh melakukannya. Hal penting dalam studi linguistik tidak terorientasi pada pencarian yang asli atau yang tidak asli. Studi ini lebih menekankan pada pencarian perkembangan dan ragam kata, hasilnya dengan studi ini, kita dapat dengan baik memilikh ragam kata, tentu dengan ragam makna yang baik dan sesuai kebutuhan.
Apa yang dilakukan oleh Alif Danya Munsyi bukanlah suatu hal spektakuler. Alif banyak mengutip sumber-sumber dalam studi linguistik yang telah ada sebelumnya. Namun kita harus mengacungkan dua ibu jari kita sebagai bentuk apresiasi tinggi karena Alif dengan cerdas membahasakan hasil studi linguistik dengan ragam populer sehingga orang awam sekalipun bisa paham. Lebih lagi Alif mengungkap fakta kebhinekaan (dan Pancasila) bukan hanya sebatas jargon, namun dengan bukti yang ada di sekitar kita. Sadar atau tidak, sehari-hari kita menggunakan banyak kata bentukan dari bahasa asing.
Keragaman adalah kekayaan, oleh karena itu harus kita jaga. Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang kaya karena bersumber dari banyak bahasa di dunia. Dengan demikian tidak ada satupun kelompok yang berhak memonopoli penggunaanya.
Tidak pula harus sangat ketat menggunakan aturan yang disusun oleh Pusat Bahasa. Tidak perlu pula alergi terhadap perkembangan bahasa gaul. Bahasa Indonesia yang terbentuk hingga sekarang ini merupakan hasil dari proses interaksi dari penggunanya.
Hanya saja, kita memang turut prihatin karena ada kecenderungan memiskinkan bahasa Indonesia. Salah satunya fakta bahwa bahasa Indonesia memiliki kata kami (kata ganti persona kesatu dan ketiga) dan kita (kata ganti persona kesatu dan kedua). Dalam bahasa Inggris kekayaan semacam ini tidak ada. Hanya ada kata we yang dipakai bersamaan untuk kata ganti kita dan kami. Tidak tahu atau memang sengaja para pesohor sering menjawab pertanyaan wartawan infotaiment dengan berkata,”Kita pacaran sudah lama!” Jika wartawan penanya adalah pria, dan pesohor yang ditannya adalah Asmirandah atau Sandra Dewi, pasti akan tertegun dalam hati,”Oh … iya toh, kapan kta jadian?” Alif Danya Munsyi adalah nama samaran dari Yapi Tambayong (atau ini juga nama samaran?). Dalam bidang penulisan novel, Yapi sering menggunakan nama Remy Silado. Buku 9 dari 10 kata Bahasa Indonesia adalah Asing merupakan buku kumpulan tulisan-tulisan kecil tentang suatu persoalan kata. Tidak ada kesan menggurui karena yang dilakukan
Alif adalah pengungkapan fakta. Alif pun tidak merasa menjadi orang yang sok tahu, karena dengan terus terang ia menuliskan sumber-sumber kutipan yang dia gunakan. Cara bertutur yang digunakan juga baik dan mudah dipahami, bahkan pada beberapa tulisan Alif menggunakan cara bertutur yang penuh dengan kekayaan bahasa, seperti layaknya suatu karya sastra (padalah tulisan yang dia buat adalah ilmiah populer). Alif seperti ingin menunjukan bahwa bahasa Indonesia memang benar-benar kaya, dan dengan penggunaan yang tepat, tulisan yang dia buat memang menjadi benar-benar lezat luar biasa (dan juga bergizi).
Akhirnya jika ada ungkapan bahasa menunjukan bangsa, buku ini secara nyata menunjukan bahwa Bahasa Indonesia yang berasal dari berbagai bahasa lain di dunia menunjukan karakteristik Bangsa Indonesia yang beragam dan berasal dari berbagai suku bangsa bahkan juga keturunan orang asing.
1. Buku ini menarik karena memuat banyak kosakata tidak lazim digunakan dalam keseharian. 2. Buku ini tidak menarik karena tidak disertai referensi yang tepercaya. Tidak ada daftar pustaka. 3. Esei-eseinya mengecewakan, tampak penulis tidak tahu betul rumpun bahasa Austronesia. 4. Judul bombastis, seolah-olah bahasa Indonesia memang gado-gado.
Buku yang berisi kumpulan esai tentang asal-muasal kata atau istilah bahasa indonesia. Cukup bagus dan menarik. Dan tentunya menambah wawasan kita tentang bahasa Indonesia.