Cinta barangkali memang indah, namun cinta di kota metropolitan yang begitu longgar norma-normanya, ternyata tidak selalu pas tidak selalu berakhir dengan : "dan mereka hidup bahagia selama-lamanya".
Dalam buku kumpulan cerita pendek ini, penulisnya merekam peristiwa cinta yang menghinggapi pasangan-pasangan yang tidak pas tersebut : antara seorang gadis dengan suami orang, antara seorang suami dengan istri orang lain, antara seorang istri dengan pria lain entah siapa, bahkan cinta antara pasangan sejenis. Namun, antara pasangan yang resminya pas, boleh, dan halal, ternyata cinta pun tidak dengan sendirinya beres. Selalu ada Sebuah Pertanyaan untuk Cinta dalam kehidupan nyata bukan dalam dongeng.
Ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma, penulis Atas Nama Malam, Kematian Donny Osmond, dan Sepotong Senja untuk Pacarku, yang juga diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.
Seno Gumira Ajidarma is a writer, photographer, and also a film critic. He writes short stories, novel, even comic book.
He has won numerous national and regional awards as a short-story writer. Also a journalist, he serves as editor of the popular weekly illustrated magazine Jakarta-Jakarta. His piece in this issue is an excerpt from his novel "Jazz, Parfum dan Insiden", published by Yayasan Bentang Budaya in 1996.
Cinta, apa boleh buat, ternyata selalu klasik. (hal. 58)
Cinta menghabiskan tenaga dan pikiran untuk perkara-perkara sepele, tetek bengek, dan tidak begitu berguna untuk orang lain, tapi apakah bisa menghindarinya? (hal. 57). Pertanyaan-pertanyaan klasik. Pertanyaan-pertanyaan klise. Pertanyaan-pertanyaan yang menjengkelkan (hal. 58).
"Ternyata kamu bohong, kamu tidak mencintaku," (hal. 2) "Kamu tidak pernah bisa percaya padaku?" (hal. 76) "Masalahnya bukan aku bisa percaya atau tidak. tapi kamu itu bisa dipercaya atau tidak." (hal. 76) "Kenapa, sih, kamu selalu begitu?" (hal. 64) "Selalu begitu bagaimana?" (hal. 64) "Selalu membutuhkan pernyataan." (hal. 64) "Aku ingin yakin bahwa kamu memang cinta padaku. Aku harus yakin kamu memang cinta, kamu memang sayang, kamu memang selalu memikirkan aku. Apakah kamu selalu memikirkan aku? Katakan padaku kamu cinta, cinta, cinta...." (hal. 3) "aku tahu, sayang, aku tahu." (hal. 9) "Aku cinta padamu. Jangan tinggalkan aku. Aku tidak mau berpisah denganmu." (hal. 58)
Api cinta membakar hatiku, seperti kebakaran yang yang dikobarkan Hanoman sewaktu membumihanguskan Alengka. Brengsek! Kenapa manusia harus mempunyai perasaan seperti itu? (hal. 57). Debu cinta bertebaran seperti virus --kurang sehat sedikit, kita pun jadi korban (hal. 51).
***
...dan terang itu bukan milik kita (hal. 7)
"Aku harus pergi," (hal. 18) "Janganlah kau tinggalkan aku, kekasihku. Jangan sekali-sekali kau berpikir untuk meninggalkan aku." (hal. 54) "Jalani saja apa rencana hidupmu," (hal. 41) "Aku cinta padamu. Jangan tinggalkan aku. Aku tidak mau berpisah denganmu." (hal. 58) "Sudahlah. Tidak ada gunanya. Aku akan segera berangkat, dan tidak akan pernah kembali lagi. Tidak usah sedih. Tidak ada yang patut disesali. Selamat tinggal. Goodbye!"(hal. 19) "Jangan pernah kau tinggalkan aku...jangan pernah" (hal. 69)
Aku tak mampu menahan senja. (hal 72). ..di luar jendela itu kulihat kabut menelannya (hal. 69). Terus terang aku tidak pernah tahu kemana dia pergi(hal. 68). Dari radio...mengalun sepotong lagu (hal. 61).
maafkanlah daku, lupakanlah kita pernah saling cinta...(hal. 61)
Aku hanya melihat senja mendekati selesai (hal. 43). Di tengah angin senja yang mendesak, aku merasakan kekuasaan waktu, yang tanpa pandang bulu mengubah segala-galanya (hal. 43). Hidup mempertemukan kita dengan seseorang, lantas memisahkannya lagi (hal. 68). Kadang-kadang kita bertemu begitu saja dengan seseorang yang tidak pernah kita kenal, menjadi begitu lengket seperti ketan, lantas mendadak berpisah begitu saja tanpa penjelasan apa-apa (hal. 68). Mengapa begitu sulit untuk bicara, meski sudah terlanjur mesra? Kupandang senja yang gemilang, yang cahaya keemasannya menyapu langit, kamu ada dimana?(hal. 68) Dari balik jendela, kulihat dirimu melangkah semakin jauh..(hal. 67)
...hidup ini memang penuh dengan rahasia. (hal. 16)
***
Aku sendiri saja di dalam kamar, tidak ingin menjadi bagian waktu (hal. 67). Sunyi dan dingin malam melanda menjauhkan aku darimu dan kakiku pun berat rasanya untuk mengejarmu, hanya bisa memandangimu saja dari tempat ini, bahkan kamu pun mungkin sudah tak mengenali aku lagi. (hal. 83). Angin yang telah mengembara ke segenap penjuru bumi, masih berhembus dan berbisik, seperti mengingatkan, "Di dunia ini, tidak ada sesuatu pun yang tetap tinggal abadi." (hal. 20)
O, angin, sampaikanlah salamku....(hal. 19)
Mengapa aku jadi tolol? (hal. 38) Dengan hati yang patah, perasaan kosong dan kelabu, kusurukkan diriku dalam beban kerja yang mengalir seperti tiada habis-habisnya. (hal. 60). Kini aku betul-betul sendiri. (hal. 78).
***
Review ini berisi potongan-potongan kalimat yang saya ambil dari buku ini. Untuk kemudian saya rangkai menjadi satu adegan cinta yang mungkin terjadi dalam hidup anda. dalam hidup saya juga iya :D
Sebuah buku kiriman dari si burhan gara-gara dia kalah taruhan *nyengir durjana* sebuah buku bergambar tangkai telpon yang tergantung pasrah berdampingan dengan setangkai bunga yang tergantung secara terbalik sebuah buku yang penuh dengan coretan2 pensil dari mantan pemiliknya yang nampaknya sangat memberi perhatian penuh pada halaman dan kalimat2 tertentu
Cerita pembukanya lumayan "kena" buat para jaduler yang mengalami jaman2 ngantri ditelp umum dengan berbekal satu dua keping ato bahkan segenggam koin untuk menelpon seseorang yang mereka sayangi meski ada kalanya pembicaraan itu didengar oleh orang2 yang ikut ngantri telp. hahahahaha. jadi inget dulu dengan sabar menanti berbekal dua keping gocapan buat nelp stasiun radio buat minta lagu untuk dikirim ke seseorang tapi yang nongol malah lagu ICWF. yah begitulah *tutupin muka pake bakul*
Bukunya sendiri terdiri dari beberapa kumpulan cerpen yang intinya mengisahkan cinta dengan cara yang tidak biasa. cinta yang tidak lazim, cinta yang bukan mainstream seperti buku2 tentang anak sma ato sekarang mungkin buku ciklit *seperti yang dikoleksi adek* dan sebangsanya. tapi cinta dengan nuansa sedikit gelap, cinta yang katakanlah "tersaruk-saruk" dijalan yang (mungkin) tidak pada tempatnya. Cinta dalam perselingkuhan, cinta sesama, cinta segitiga.. toh semuanya juga atas nama cinta. seperti itulah mungkin. gak tau juga deh *teu puguh*
ada beberapa cerita yang yang gw suka, terutama yang berjudul "Kasih dan Sepatu Balet" selain cerita yang dijadikan judul buku ini tentunya. Ato cerita yang bikin bulu kuduk berdiri seperti "Lelaki yang Terindah" yang menceritakan kisah cinta dua lelaki
Ia mengamuk seperti orang gila. Diambilnya pedang samurai yang terpajang diruang tamu "Kupotong barangmu!" .......................
rasanya lebih mengerikan daripada saat-saat akan disunat.
waduh... ampuuuuuuun
jadi kalopun disuruh menarik semacam "kesimpulan" dari buku ini mungkin gw akan mengatakan
Jangan sekali-sekali merendahkan hal-hal yang mungkin anda anggap remeh. karena mungkin hal yang anda anggap remeh tersebut bermakna segalanya buat orang lain
yah seperti itulah mungkin kira2
Nah, begitu kelar baca buku ini ternyata masih ada coretan lagi di halaman paling belakang. coretan dari sang mantan pemilik buku ini yang mungkin saja mencoba merefleksikan apa yang dia rasakan setelah membaca buku ini *maap rada sotoy* :)) dan seperti inilah coretannya. gak dikasi judul seh
Cinta cinta cinta Berhentilah mempertanyakan cinta Berhentilah menyalahkan ia Cinta itu mati Manusia yang membuatnya hidup Cinta hanya sebuah kata Manusia yang membuatnya bermakna Cinta seperti mengejanya; mudah! Manusia yang membuatnya susah
Cinta tidak membawamu kemana-mana Ia tak membawamu bahagia Apalagi merana Kaulah kuncinya
Ibaratnya, ia sebuah rumah kosong Kau adalah tuan yang menentukan Mau seperti apa rumahmu? nyaman untuk ditinggali, atau hanya cukup disinggahi
Kaulah nafas yang membuat rumahmu hidup, terawat, nyaman Untuk kau tinggali sendiri dan orang-orang yang kau undang datang
-Owl- 21.5.11
*kemudian ditendang si burhan gara2 majang puisinya*
Tangkai telepon bergantung di sampul buku ini sangat menggambarkan isi dari cerpen yang diangkat jadi judul kumpulan cerpen ini. Lokasi kejadian di sebuah telpon umum, wah...situs yang tidak terpikirkan untuk sebuah pertanyaan besar yang diceritakan dalam sebuah alur sederhana.
Ingatan kembali ke jaman box telpon umum dipinggir jalan menjadi media telekomunikasi alternatif. Pilihan terbaik selain telepon rumah, karena yang lain itu akan sarat dengan pendelikan dari orang tua bila berlama-lama bicara.
Saya pun pernah mengalaminya; menelpon berlama-lama di telepon umum dan menerima pertanyaan untuk cinta. Cuma pertanyaan yang saya terima berbeda. Berbekal koin sekantung plastik es mambo, saya pergi antri ke telepon umum, dan pertanyaan untuk cinta datang dari embak di belakang saya, "nabung...mas?" Hua...haha kontan batal kisah cinta terajut lewat kabel telepon umum. Ilang rasa pun.
Judul: Sebuah Pertanyaan untuk Cinta Penulis: Seno Gumira Ajidarma Cetakan: Keempat, Juli 2002 Penerbiit: PT. Gramedia Pustaka Utama Tebal: vii + 86 halaman
Jika kamu diberi kesempatan untuk mengajukan sebuah pertanyaan untuk cinta, pertanyaan macam apa yang akan kamu ajukan?
Apa itu cinta? Bagaimana cara kerja cinta? Cinta itu siapa? Kenapa harus ada cinta? Dimana bisa kutemukan cinta? Kapan waktu yang tepat untuk jatuh cinta? Atau mungkin akan lebih banyak bentuk pertanyaan lain tentang cinta?
Bagaimana kalau cinta salah ditempatkan? Cinta yang haram? Perselingkuhan karena bosan dengan cinta? Melahirkan anak karena cinta yang dipaksakan?
Apa kamu mencintaiku? Bagaimana dengan istrimu, kamu masih mencintainya? Bagaimana aku bisa mencintaimu sementara kamu mendengkur didekap istrimu? Tololnya aku!
Cinta apa yang bisa menyebabkan perceraian dua orang yang saling mencintai? Cinta yang ketiga, bukan?
Meski hanya sebuah cinta. Di tangan Seno, cinta bisa menghadirkan sebuah-sebuah cinta yang lain. Cinta menjadi begitu haram dan jahanam, kata Leila S. Chudori. Memang begitulah yang diceritakan Seno. Cinta tak melulu soal keindahan, kehangatan, atau kebahagiaan. Dalam kehidupan nyata, cinta terkadang menjadi pengkhianatan, kekhawatiran, atau kesedihan.
Cinta yang rumit namun dikisahkan dengan apik dan.. mm, menarik. Karena, selalu ada sebuah pertanyaan untuk cinta. Seperti kata pat kay, "cinta, deritanya tiada akhir."
Love it! Buku ini adalah buku Seno Gumira Ajidarma yang pertama kali kubaca, cerpen favoritku di buku ini adalah cerpen yang berjudul Petai. Meskipun buku ini adalah kumpulan cerpen, kurasa buku ini cocok juga bila dikatakan omnibook karena kumpulan cerpen yang ada memiliki benang merah, yaitu membahas tentang cinta dan ketiadaan komitmen. 4/5 would recommend!
Buku cetakan pertama tahun 1996 ini saya temukan dari hasil ngubek-ngubek toko buku bekas di market place.
Bukunya tipis, cuma 96 halaman. Ada 14 cerita pendek. Oke sih untuk saya yang sedang malas baca buku tebel-tebel.
Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta | 5/5
Bercerita tentang seorang wanita yang sedang menelpon seseorang di telepon umum. “Katakanlah sekali lagi, kamu cinta padaku.”
Hadeh. Gak penting. Saya bacanya gemes banget, sepakat dengan gerutu orang-orang yang antri panjang dibelakangnya.
Ide ceritanya sederhana, lucu, ngeselin.
Empat Adegan Ranjang | 5/5
Maya bercinta dengan Johan, selingkuhannya. Maya bercinta dengan Anton, suaminya. Anton bercinta dengan Susan, selingkuhannya. Susan bercinta dengan Johan, suaminya.
Cinta segi empat. Eh, cinta bukan ya? Entahlah.
Rahasia | 4/5
Ketika Jose, suaminya meninggal, terlihat seorang wanita menangis terisak-isak sambil sesekali menyebut nama Jose. Saat itu Dewi begitu sedih sampai tidak terpikir untuk bertanya, “Anda siapa?”
Sampai 1000 hari kematian suaminya, pertanyaan itu belum ada jawabannya. Dewi tidak pernah meragukan cinta Jose, namun hidup ini penuh rahasia.
Geregetan. Saya pengen tahu lanjutannya. Mustinya cerbung, bukan cerpen.
Nocturno | 1/5
Embuh. Nggak ngerti. Saya gagal paham.
Petai | 5/5
Sepasang kekasih diskusi tentang petai. Mereka memang baru saja makan malam dengan lauk petai. "Bayangkan kalau di dunia ini tidak ada petai."
Awalnya memang petai, lama-lama topik petai bergulir menjadi sebelas dua belas dengan 'cinta yang lain'. Bayangkan kalau di dunia ini tidak ada cinta yang lain.
Astaga. Sungguh kreatif. Saya nyengir membacanya. Kok bisa ya terpikir bikin cerita seperti ini?
Kasih & Sepatu Balet | 4/5
Kasih, anak seorang pembantu ingin seperti Nyonya, majikan ibunya. Menjadi seorang penari balet.
Sering kali ia merengek-rengek ibunya minta dibelikan sepatu balet. Tapi ibunya hanya bisa tersenyum. Dalam pikirannya, Kasih memang mungkin akan disekolahkan Nyonya. Mungkin sampai SMA. Setelah itu, mungkin belajar mengetik atau menjahit, tapi tidak menari.
Dari keseluruhan buku, kisah ini menurut saya yang paling bikin sedih.
Seorang Wanita Yang Menunggu Telepon Berdering | 5/5
Sore tadi suaminya pergi bertugas terbang, dan kini ia hanya berdua dengan anaknya di rumah.
Ia ingin bicara dengan seseorang di telepon pada malam selarut ini.
"Dulu kamu menelponmu tengah malam, ketika aku sedang sendirian di rumah dan tak bisa tidur. Mengapa kamu begitu iseng? Begitu berani. Apakah kamu seperti aku yang suka memutar nomor-nomor dengan harapan bertemu kekasih di jalur yang kosong, sunyi, dan bisu?"
Dua Lelaki | 5/5
Rusli yang baru saja bercerai dengan Maya istrinya, berceloteh kepada temannya, bahwa perceraian ternyata sama indahnya dengan pernikahan itu sendiri.
Sok merasa paling berpengalaman asam garam kehidupan, Rusli menasehati untuk menjalani rencana hidup, selebihnya jangan terlalu dirasakan. Dst.. dst. *saya malas ngetik*. Sementara temannya hanya diam menyimak tanpa menginterupsi.
Sampai akhir paragraf, endingnya bikin ngakak. Puas banget bacanya. Rusli, Rusli, makan tuh nasehat bijak.
Wanita Di Muka Cermin | 4/5
Hari ini umurnya tepat mencapai 40 tahun, dia dan keluarganya akan merayakan di sebuah hotel. Sebelum pergi dia berkaca di depan cermin, benarkah di usianya sekarang dia telah mengenal dirinya sendiri?
Lelaki Yang Terindah | 5/5
Sebelumnya dia merasa bahwa dia pria normal, sampai suatu hari ia ke salon.
Dia tak pernah bisa mengerti kenapa wajah itu terus menerus terbayang olehnya. Sampai berhari-hari kemudian setelah peristiwa itu wajahnya masih terbayang dan setiap kali dia menyadarinya dia serasa mau muntah. Meskipun dia seorang lelaki, setiap kali dia terbayang wajahnya, semakin dia menyadari betapa cantiknya wajah itu dan betapa laki-laki itu memandangnya dengan penuh cinta.
Adegan lucu, sedih, campur baur jadi satu.
Gelang Untuk Kaki Seorang Wanita | 5/5
Seorang pria ngotot untuk memakaikan oleh-oleh gelang kaki dari Nepal pada seorang wanita.
“Berikan saja gelang itu padaku, aku bisa memasangnya sendiri.” “Lho, ini bukan hanya soal sebuah gelang.” “Soal apa?” “Soal perasaan.”
Endingnya asik. Saya jadi tahu siapa yang menyimpan perasaan.
Senja Di balik Jendela | 2/5
Males ngereview. Intinya kaga bisa move on walaupun udah tua.
Je t'aime | 5/5
Nggak pernah terpikir bahwa perselingkuhan bisa ketahuan karena uban. Kok nemu aja ide cerita kayak gini.
Malamnya Malam | 5/5
Cerpen yang paling pas untuk menutup buku ini. Dalem banget dan menyayat hati. Kalimat-kalimatnya Seno Gumira banget.
***
Bintang 5 untuk buku ini. Seneng deh punya buku ini. Heran juga, buku sebagus ini kenapa nggak dicetak ulang ya? Padahal tema ceritanya bagus-bagus.
Buku ini sudah ada di rumah saya sebelum saya lahir, atau setidaknya, sebelum saya bisa membaca. Saya memulainya dengan ekspektasi, karena, hei, ini Seno Gumira, salah satu penulis paling pertama yang cerita-cerita pendeknya saya baca; saya bahkan masih ingat kesan ketika pertama kali mengenal "Sepotong Senja untuk Pacarku" di rumah makan sebelah SMP saya. Sudah bertahun-tahun berlalu ya.
Ada 14 cerpen dalam buku ini. Banyak di antaranya bikin bosan ... bisa jadi karena saya nggak punya kedekatan dengan emosinya, ya? Tapi, nggak tahu juga sih. Yang jelas, saya berusaha bertahan dalam menamatkannya. Mungkin karena ada yang dari sudut pandang seseorang yang punya pacar simpanan, atau cinta mampus dengan seseorang? Sebagai contoh, dua cerpen pertama itu bikin keki betul. Hiiih. Saya paling nggak suka cerpen kedua, "Empat Adegan Ranjang". Kliseeeee banget. Kamu coba baca judulnya berulang-ulang dan nebak sendiri ceritanya kayak gimana, mungkin 70% betul.
Makin ke sini, cerpennya makin bagus. Cerpen kelima, "Petai", itu kocak. Saya suka. Mungkin karena mereka mengampanyekan bahwa kebahagiaan orang-orang kecil terhadap petai harus dihormati setara dengan kebahagiaan orang-orang besar terhadap dasi atau benda bagus lainnya. Lucu gitu, menurut saya. Bagian akhir yang rada-rada hiiih lagi. Cerpen keenam, "Kasih & Sepatu Balet", saya suka karena ada porsi yang membebankan sudut pandang anak-anak yang kejadiannya apa, nganggapnya apa. Sekilas, saya jadi ingat cerpen Seno lainnya yang nggak ada di kumcer ini, "Pelajaran Mengarang".
Nah, cerpen kedelapan, "Dua Lelaki", itu lucu lagi. Suka saya. Plot twist semacam ini cheesy sih, tapi guilty pleasure bagi saya, jadi ... :P Selanjutnya, di cerpen kesepuluh, saya ketemu istilah yang dalam catatan kakinya merujuk pada novel Musashi. Ini kali kedua ada karya yang nyebut novel ini. (Yang pertama ini.) Saya makin penasaran jadinya.
Saya bukan pembaca setia Seno (pernah sih) tapi saya merasa kalau cerpen kedua belas, "Gelang untuk Kaki Seorang Wanita", itu sangat Seno sekali, dari awal saya baca. Mungkin karena ada dialog ya, dan saya nemu kekhasan Seno dalam bikin percakapan. Ini cerpen yang bikin saya nyaman baca dari awal sampai akhir. Senyum-senyum bacanya. Lucu. Simpel. Dan akhirnya juga memuaskan. Tetap suram, tapi nggak bikin kesal. Malah manis, kalau menurut saya yang aneh ini.
Cerpen terakhir, "Malamnya Malam", juga Seno lagi. Kesan-kesannya mirip cerpen dia yang judulnya "Tong Setan". Sekalipun nggak semenggigit cerpen itu dan saya tetap harus berusaha bertahan untuk menyelesaikannya, tapi saya suka kalimat terakhirnya. Saya bahkan baca paragraf terakhir dua kali. Begini bunyi kalimat terakhir itu, yang makin saya suka lagi karena ini ditaruh sebagai cerpen terakhir:
Sungguh rasanya malam telah tambah sunyi dan berat dan lebih-lebih setelah gerimis turun dan di ujung jalan itu aku dengar suaramu menjerit dan kamu tak kulihat lagi dan aku berlari mencari tempat yang terlindung dan kehilangan jejakmu dan tak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa mendengar suara hujan yang menderas dan akhirnya aku memutuskan untuk kembali memasuki sebuah bar.
Sangat 👏👏👏
Jadi, dua bintang ini saya kasih untuk perhitungan super tidak dapat dipertanggungjawabkan dari saya yang memberi hormat pada 5 cerpen dari total 14.
This entire review has been hidden because of spoilers.
"Senja turun di antara riuh jalanan. Senja turun di antara wajah suram para penumpang bis kota yang saling berpandangan tanpa senyum sama sekali. Wajah-wajah yang lelah dan berkeringat, sehingga kosmetik tipis para wanita kantoran itu meleleh, dan wangi bau ketiak orang-orang bertebaran di sela-sela lengan yang bergelantungan. Senja turun dalam mata orang-orang yang liar berkelejatan, melesat keluar dari kesumpekan bis kota keparat yang ditakdirkan menjadi kendaraan orang-orang yang tak bisa berbuat lain kecuali naik bis." (Dua Lelaki, Halaman 42)
Seno dan narasi senja-nya di beberapa cerpen dalam buku tipis ini. Salah satu yang menarik adalah ketika SGA menyelipkan kalimat terkenal atau khas dari beberapa karya sastra penulis lain dalam cerpennya.
Saya sangat menyukai buku ini. Hampir seluruh cerpen dalam buku ini bisa saya ingat bahkan setelah membacanya. Mungkin karena saya pernah (masih) merasakan pahitnya cinta, jadi saya sangat sangat setuju dengan semua tulisan Pak Seno dalam buku ini. Yang salah bukanlah cinta tapi hubungan itu sendiri. Hanya akan ditemukan kisah pengkhiatan atau perselingkuhan dalam buku ini. Terbaikkk! Jatuh cinta sama saja dengan masuk neraka.. haha
cerpennya berkelas walaupun saya baca sedikit tertatih bukan karena tidak bagus, ada beberapa bagian dari cerpen beliau yang harus saya baca dua kali karena kurang fokus atau paham dan entah gangguan apalagi yang membuat saya harus berada dalam konsentrasi tinggi membacanya. Kumpulan cerpen berikut ini patut dan sangat layak dibaca, apalagi bagi yang haus akan bacaan-bacaan berkualitas.
Cinta yang tragik-komedik. Seorang kawan pernah meminjam buku ini dan dimarahi pacarnya, menganggap buku ini punya pengaruh buruk untuk orang yang asik berpacaran.. :p Tidak mengherankan, kumpulan cerpen ini memandamg cinta jauh dari romantis. Cinta bukanlah jawaban, melainkan kumpulan pertanyaan yang dijawab (kebanyakan) oleh manusia-manusia yang pahit dengan hidup.
Sekumpulan cerpen Seno Gumira Ajidarma dari selang 1982-1996.
Adegan-adegannya terasa anekdotal namun ironi-ironinya mudah ditangkap. Padat dengan observasi sosial yang banal, sarat dengan tema cinta terlarang yang am.
Karena sedang banyak berpikir tentang ekonomi dan politik, buku ini banyak memantik pikiran gue di area ini. Gue banyak merefleksikan titik bentur antara yang publik dan yang privat, kompromi kontrak sosial dan pengetahuan tersituasi. Di bagian manakah matematika dapat berperan? Melalui apa? Multi-scale modeling dan asymptotic analysis?
Lagi-lagi saya sangat menyukai kisah-kisah yang dituturkan oleh SGA. ceritanya mengalir, seperti melihat langsung kejadiannya yang secara sadar bisa kita temukan di sekitar kita.
seperti mengisahkan seorang laki-laki yang terjebak antara kisah cinta segitiga antara laki-laki dan wanitanya. Atau seorang gadis yang masih meneriakan apa arti cinta yang terus ia tanyakan kepada kekasihnya. Kisah cinta metrooloitan yang penuh dengan dusta dan perserongan. Dan bahkan hanya sekdar kisah keinginan seorang anak hasil hubungan gelap kedua wanita dalam satu atap, yang menginginkan sepasang sepatu ballet. Penuh makna dan pesan.
* "Aku bagaikan layang-layang putus." * Barangkali Dewi lupa, hidup ini memang penuh dengan rahasia. * "Semesta itu luasnya tak terbatas, seperti hatimu." * "Di dunia ini, tidak ada sesuatu pun yang tetap tinggal aabadi." * Barangkali malam itu dia akan menunda kepergainnya. Barangkai ia pun tak akan tahu: di luar, langit malam sudah penuh bintang. * Zaman sekarang orang hanya bisa berbahagia jika punya kebanggaan. * Hidup sudah semakin sulit . Ukuran-ukuran keberhasilan semakin melambung. Akibatnya, terlalu banyak orang akan merasa hidupnya gagal dan sia-sia jika tidak mampu memenuhi ukuran-ukuran itu. * Dunia ternyata bisa lebih dari apa yang selama ini dilihatnya. * "Jalani saja apa rencana hidupmu." (..) "Selebihnya jangan terlalu dirasakan, kita punya perasaan karena kebetulan saja kita jadi manusai, kan? * "untuk apa hidup ini kalau hanya duduk-duduk saja, heh?" * Menangis kadang kala juga menjadi semacam kosmetik. Sekedar pengesahan dari suatu rasa sedih. * Bukankah banyak wanita sering kali diselamatkan- atau dicelakakan- hanya karena kewanitaannya? * senja begitu cepat menajdi kelam. Aku tak mampu menahan senja. Siapakah yang mampu menahan senja supaya tidak menjadi malam? * Banyak hal yang tidak usah, dan tidak perlu dikatakn bukan? * (..) Tapi, bolehkah seseorang melupakan sejenak kisah-kisah sedih dalam kehidupan manusia? *
Cinta tuh sangat abstrak, tak terdefinisikan dengan sepakat bulat oleh semua orang. Cinta bisa membuatmu berbunga2 seharian dan lupa tidur kalau malam; cinta bisa membuatmu cemburu tak tertahan; cinta bisa menjadikanmu manusia paling ikhlas sedunia asal "dia" bahagia; cinta bisa membuatmu produktif dan mengeluarkan lebih dari satu single tentang separuh hatimu yang pergi; cinta bisa menjadikanmu babak belur dihajar hujatan dan hantaman, sekaligus sorot lampu kamera infotainment tapi membuatmu amit2 merindukannya...
Cinta membuat segala stasiun televisi tak alpa berlomba membuat acara untuk mewujudkan gambarannya. Termehek-mehek. CLBK. Playboy Kabel. Take Me/Him Out. Hotshot. Insert. Silet. Tukar Nasib. Patroli. Bedah Rumah... *ngelantur*
Alaaaah... apalah itu cinta? Sungguh saya sangat tak pandai membolak-balik maknanya. Seperti kampanye gubernur Jakarta dua tahun lalu, serahkan urusan cinta pada ahlinya, yaitu Ibu Indri Juwono. Saya cuma punya unek2, bukan pertanyaan ya, mengapa buku ini cuma saya petikkan dua bintang.
Iya tadi... karena saya sadar sesadar-sadarnya memang tidak semua cinta di dunia ini berakhir bahagia, betapa pun usaha yang para pencinta lakukan. Dan banyak juga cinta yang tak terpuaskan malah berakhir dengan mutilasi (hiiii...!) dan jerit2an di depan kamera tivi. Tapi ya.... ya... sebagai pembaca saya ingin dong ada cinta yang bahagia... hiks!
*curhat setelah nemu buku ini di antara buku2 yang dikeluarkan ibu pasca bongkar2 kamar adik yang udah seminggu ga mampir di rumah, setelah itu menonton Tyra Banks di Oprah Show yang menampilkan remaja2 amrik yang ga kapok2 mau aja dipukuli terus oleh pacar biadabnya*
Ada banyak peristiwa cinta yang begitu sederhana, wajar namun sayangnya kerap tidak pas muncul dalam buku kumpulan cerita pendek ini. Seno memulai dengan kisah antrean sebuah telepon umum koin. "[...] apakah kamu selalu memikirkan aku? Katakan padaku kamu cinta, cinta, cinta..." Dalam cerita ini digambarkan ada para pengantre 'telepon koin cinta' yang juga mendengarkan desah cemburu si tokoh yang masih belum puas mendengar kata cinta dari pasangannya. Kumpulan cerita ini juga banyak memberikan kisah yang tidak berakhir dengan 'mereka hidup bahagia selama-lamanya' namun juga penuh filosofi. "Kadang-kadang kita bertemu begitu saja dengan seseorang yang tidak pernah kita kenal, menjadi begitu lengket seperti ketan, lantas mendadak berpisah begitu saja tanpa penjelasan apa-apa." Meski getir "cinta, apa boleh buat, ternyata selalu klasik." Sama seperti perasaan si tokoh lain yang tetap mengirimkan kartu pos kepada mantan kekasihnya dan tetap menuliskan, "Je t'aime".
Seno Gumira...salah satu penulis yang saya kagumi...
gw pertama kali jatuh cinta sama tulisannya di buku "Atas Nama Malam", entah kenapa, gw chemistry sama kata2 yang diuntai beliau...dan berasa sangat 'deep'
nah buku ini direkomendasikan oleh teman2 gw..katanya ini adalah salah satu buku terbaik beliau..and i love recommended things!!
tapi... setelah gw baca, dan baca lagi....dibalik untaian kata2 dasyat dia...gw tidak berhasil menemukan chemistry yang sama seperti bukua Atas Nama Malam itu... dan jujur, gw malah jadi penasaran bgt, krn this book supposed to be the best one kan? dan udah banyak orang yang bilang gt...tp, kenapa gw ga berasa yah... hummm mungkin karena topicnya 'ga ngena' ke gw kali yah?
yah well... it's just me then..
but overall, this book is splendid.. just didnt get those tickling chemistry ajah...
Terus terang aku tidak pernah tahu ke mana dia pergi. Hidup mempertemukan kita dengan seseorang, lantas memisahkannya lagi. Tidak selalu kita bisa berpisah dengan lambaian tangan. Tidak selalu kita bisa berdiri di tepi dermaga, melambaikan tangan kepada seseorang di atas kapal yang juga melambaikan tangan kepada kita sambil berseru, “Jangan lupakan aku!”. Tidak selalu. Kadang-kadang kita bertemu begitu saja dengan orang yang tidak pernah kita kenal, menjadi begitu lengket seperti ketan, lantas mendadak berpisah begitu saja tanpa penjelasan apa-apa.
..Senja di Balik Jendela..Seno Gumira Ajidarma…
*dari semua tulisan Seno, paragraf ini yang bertahan paling lama di ingatan saya
Suka dengan gaya penulisan Seno. Membaca cerpennya, membuat saya bertanya-tanya akan kejutan apa yang akan saya temukan di akhir cerita. Cerita yang sederhana bisa menjadi dramatis.
Sebuah pertanyaan untuk cinta yang dijawab dengan tidak adanya cinta yang benar-benar tulus, tidak adanya cinta yang berakhir dengan kebahagiaan, tidak adanya cinta yang menimbulkan ketentraman... Sudah tak ada lagi rambu-rambu tata susila yang membatasi langkah para tokoh untuk mengekspresikan cintanya. Benarkah itu cinta? Bukan nafsu yang mengatasnamakan cinta?
Membeli buku ini, karena obral di Gramedia seharga 3000 saja.
Seno is one of my favorite Indonesian writers. Maybe because he is a little bit naughty in a way that not to naughty, but a cool naughty if you understand what I mean. He brings up the most simple, common yet a basic question of love in every relationship (i guess): do you love me? A simple question that may stimulate another question on what is our perception of the notion of love itself as a concept and as active activity. As my sister said once: I love. I care. I am the (active) subject of love.
inilah AWAL dari segalanya awal gw mengenal bahasa kata yang bisa diuntai sedemikian rupa,(beside Mas Chairil Anwar yg sudah memukau gw dengan puisi2nya di buku pelajaran Bahasa Indonesia ntu..) buku yg mampu menciptakan emosi pembaca dan TERUTAMA membuat gw menulis (dengan serius ;p) untuk pertama kalinnya....telat ga c..hehe tapi abis tu gw langsung dikirim lomba mengarang BI, lolos sampe tingkat DKI...lho kok narsis..hehe
Semua orang tahu, cerita cinta tidak pernah mati, Selalu dipertanyakan keberadaanya.Buku Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta ini memuat 14 cerita pendek (cerpen. Semuanya tentang cinta, realis, nakal dan menggairahkan pembaca untuk menuntaskan bacaanya. Meski memuat 14 cerpen tapi buku ini ringan dan tipis jadi bisa dibawa dalam tas dan dibaca dimana saja.