Isu tentang kebangkitan spiritualitas di abad 21 sudah menjadi hal klise yang sering memancing antusiasme. Munculnya gerakan New Age, filsafat perenial, SQ, bahkan isu titik temu sains dan agama kerap dipandang sebagai isyarat kebangkitan tersebut.
Indonesia pun tidak ketinggalan memeriahkan antusiasme isu kebangkitan spiritualitas tersebut. Salah satunya adalah proyek islamisasi oengetahuan yang ternyata kandas juga. Bukan itu saja. Kini pun ramai berbagai training "spiritual" yang menawarkan paket "menangis" (menyesal) bersama-sama.
Apakah karena sekarang adala zaman instan, maka spiritualisme pun menjadi instan juga? Seringkali spiritualitas diposisikan sebagai salah satu nilai tawar dalam industri kiat praktis. Spiritualitas pun berubah rupa menjadi terapi, dan bukan lagi praktik penempaan dan penyucian jiwa sepanjang hayat.
Terkait dengan isu-isu tersebut, buku ini membahas tentang posisi spiritualitas dalam kebudayaan dan peradaban kontemporer, baik dalam wacana perenisalisme, tashawwuf, sains, sastra, media massa, dan sebagainya. Selain itu, buku ini juga mengkritisi pemikiran tentang spiritualitas, (hiper)realitas, dan posmodernisme yang telah banyak diangkat oleh seorang kritikus budaya, Yasraf Amir Piliang tentang tawaran pemikirannya untuk kembali kepada spiritualitas.
Ada apa di balik maraknya pertunjukan agama di layar kaca, baik khotbah ataupun drama? Ternyata bukan semakin religiusnya masyarakat tapi sebaliknya, semakin dangkalnya pemaknaan kita terhadap religiositas juga spiritualitas. Buku terbiatan Jalasutra ini menjelaskannya.
Buku setebal 366 halaman ini membahas bagaimana spiritualitas, terutama di kalangan kelas menengah ke atas perkotaan, justru menjadi begitu instan. Melalui tontonan di teve, pertemuan singkat, ataupun kegiatan-kegiatan massal, para peserta seolah-olah sudah menemukan spiritualitas itu. Padahal, menurut buku ini, kesesaatan amat rentan membawa ke kesesatan.
Maka, bukannya menemukan spiritualitas adiluhung yang diterapkan para sufi, kyai, dan semacamanya, maka para pemburu spiritualitas kontemporer ini hanya terjebak pada euforia. Mereka membeli, bukan mencari spiritualitas.
Para penulis di buku ini menggunakan kajian budaya (cultural studies) sebagai alat untuk membedah fenomena spiritualitas dalam budaya kontemporer. Secara kolaboratif, mereka menganalisis dengan kekuatan nalar masing-masing. Beragam dan menyegarkan. Memberi perspektif kritis baru pada keganjenan spiritualitas masyarakat kota saat ini.
Selain membahas tentang spiritualitas itu sendiri, para penulis, di antaranya Bambang Sugiharto, Bagus Takwin, Donny Gahral Adian, dan lain-lain juga memberi catatan kritis pada pemikiran dan karya-karya Yasraf Amir Piliang (YAP), yang layak disebut sebagai pemikir terkemuka cultural studies di negeri ini. Buku-buku YAP ini, antara lain Dunia yang Dilipat, Posrealitas: Realitas Kebudayaan dalam Era Postmetafisika, dan Hipersemiotika.
Dengan tema, bahasa, dan gaya penulisan khas intelektual pengkaji cultural studies, menurut saya, buku ini kok lumayan berat untuk dipahami. Terlalu akademis dan dipenuhi istilah tanpa penjelasan cukup untuk orang awam seperti saya.