Jump to ratings and reviews
Rate this book

China: An Introduction

Rate this book
Latest edition of a standard introductory text that places the description of modern Chinese politics (from the rise of Mao to the present) in historical and cultural context. Pye (MIT) is a noted authority on Asian and comparative politics. Annotation copyright Book News, Inc. Portland, Or.

Paperback

First published January 1, 1972

2 people are currently reading
39 people want to read

About the author

Lucian W. Pye

48 books17 followers
Lucian Wilmot Pye (Chinese: 白魯恂) was an American political scientist, sinologist and comparative politics expert.

Pye focused on the characteristics of specific cultures in forming theories of political development of modernization of Third World nations, rather than seeking universal and overarching theories like most political scientists. As a result, he became regarded as one of the foremost contemporary practitioners and proponents of the concept of political culture and political psychology. Pye was a teacher at the Massachusetts Institute of Technology for 35 years and served on several Asia-related research and policy organizations. He wrote or edited books and served as advisor to Democratic presidential candidates, including John F. Kennedy. Pye died of pneumonia at age 86.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
2 (28%)
4 stars
3 (42%)
3 stars
2 (28%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 2 of 2 reviews
Profile Image for Arief Bakhtiar D..
136 reviews84 followers
January 5, 2023
CAPUNG

MAHASISWA-MAHASISWA menulis tentang Cina, dan Konfusianisme, ringkasan dari buku China: An Introduction karya Lucian W. Pye yang terbit tahun 1972. Ditulis tentang suatu “tradisi” ─kata-kata yang menunjukkan pada kita proses yang sangat lama dan mengakar, di benua tua yang agak dekat dengan tanah kita:

“Sejak 500 tahun SM hingga abad ke-21 ini peradaban Cina dibentuk oleh suatu sistem politik yang berdasarkan pemikiran humanis, yaitu konfusianisme. Bangsa Cina memberikan tempat terhormat bagi Konfusius dan ajarannya yang dianggap hebat karena konfusianisme terlihat sekuler, valid, dan cocok bagi persoalan setiap orang. Perintah Kaisar boleh saja identik dengan “Kehendak Surga”, namun pemerintahan tersusun atas standar-standar manusiawi menurut prinsip-prinsip etis Konfusian yang didasarkan pada pengalaman dan bukannya wahyu-wahyu Tuhan.

“Menurut ideal Konfusian, pemerintahan merupakan dasar peradaban. Tradisi Konfusian menghubungkan pemerintah dengan kaum terpelajar. Hal ini didukung fakta bahwa bangsa Cina sejak dulu telah mengangkat aspek pendidikan menjadi yang terpenting sebagai sarana penyempurnaan manusia. Keseluruhan peradaban Cina merupakan hasil pemikiran bahwa semua individu harus menyemprunakan dirinya sendiri, menemukan kebajikan dalam menjalankan peran mereka, dan memberikan kontribusi bagi kesejahteraan umum. Kebajikan dan jasa akan mendapat balasan, kerja keras dan usaha pencapaian merupakan pendekatan yang tepat bagi kehidupan…”

Dosen yang kemudian membaca salah satu ringkasan itu merasa ada yang salah di perutnya. Mungkin terlalu banyak sarapan roti tawar. Ia pergi ke toilet sebentar. Lalu segera kembali.

“… Konfusianisme muncul dari pergulatan panjang peradaban Cina yang berawal dari lembah Sungai Kuning. Para arkeolog dan ahli sejarah percaya bahwa sejarah Cina dimulai sejak dinasti Shang dengan masyarakatnya yang agraris dan budaya perunggu yang lebih bagus daripada budaya bangsa Eropa sampai zaman Renaisans.

“Dinasti Shang jatuh di tahun 1122 SM, takluk oleh penguasa Zhou yang muncul dari barat laut. Kemudian berdirilah dinasti Zhou. Namun raja-raja Zhou tidak mampu mengontrol raja-raja vassal sehingga muncul persaingan antarkerjaaan. Bangsa Cina mengalami kegelisahan mendalam. Kekacauan dan ketidakpastian tatanan politik semakin menjadi-jadi. Disinilah kepercayaan terhadap ideologi lahir. Muncul tiga pandangan besar: Konfusian, Taois, dan Legalis.

“Menurut mazhab Konfusian, yang akhirnya mendominasi Cina, masyarakat kacau karena standar-standar moral telah merosot dan orang-orang tidak hidup menurut cita-cita mereka yang tertinggi. Langkah awal menuju pemerintahan yang baik dan tercapainya masyarakat yang harmonis adalah pemahaman setiap orang akan peran dan kemampuaannya menjalankan peran tersebut menurut interpretasi yang paling tepat…”

Setelah meneruskan membaca dokumen berlembar-lembar itu akhirnya sang dosen tiba di bagian akhir.

“… Pemerintahan Konfusian berhasil mengembangkan nilai-nilai ideal masa depan yang luar biasa: bahwa pemerintah seharusnya membantu individu untuk mewujudkan secara penuh potensi moralnya. Konsep bahwa pemerintah harus terlibat dalam pencarian kesempurnaan manusia berlangsung di Cina hingga kini.”

Tapi tiba-tiba sang dosen ingat! Beberapa pekan lalu seorang wartawan, dengan kepala masih terngiang kemegahan dan kemewahan Olimpiade Beijing, dan selembar data statistik yang menunjukkan ekonomi Cina telah menjadi no. 2 di dunia, datang ke Cina dan mengecek apakah kebangkitan ekonomi tersebut memiliki hubungan dengan Konfusianisme. Orang-orang Cina sendiri hanya ketawa, seakan-akan bilang: Anda tahu apa.

Konfusianisme yang dulu tumbuh di masyarakat agraris itu memang berhadap-hadapan dengan kapitalisme ─sesuatu yang secara de facto, meskipun Cina mengklaim dirinya sosialis, menurut Daniel Bell, diterapkan di Cina sekarang yang menitikberatkan industri. Konfusianisme, yang menganjurkan rakyat untuk patuh pada pemerintah, sementara pemerintah mesti sadar dalam perannya, bersaing dengan basis individu dan persaingan tanpa batas yang ditawarkan kapitalisme.

Tentu saja hal itu sebuah problem. Konfusianisme ternyata tersingkir. Kapitalisme tak bernilai bukan saja praktis meningkatkan ekonomi tanpa resiko atau akibat-akibat negatif. Ia, meski banyak orang membela namun banyak bukti, memunculkan kesenjangan ekonomi, juga di Cina. Yang menyeramkan tentang kesenjangan, yang masih berlangsung dan entah berakhir seperti apa, adalah revolusi-revolusi domino di Timur Tengah. Mubarak, yang hampir mustahil dipaksa turun dengan segala kekuasaan dan kebijakan selama rezim pemerintahannya, toh menyerah. Bukan tidak mungkin giliran Cina.

Dengan ketakutan akan protes dan revolusi itu Konfusianisme agaknya bisa menjadi jalan selain demokrasi ala Barat: ia menghubungkan sang kaya dan sang miskin, untuk memperpendek jarak, agar pemerintah, seperti kata Hu Jintao bulan lalu, “menyelesaikan masalah penting yang bisa membahayakan harmoni dan stabilitas masyarakat”. Kita tahu kata “harmoni” di Cina lebih berarti sebuah sunyi. Tapi mungkin itu sebuah upaya: bagi Konfusian, pemerintah adalah kaisar sekaligus bapak yang baik. Ia adalah pengayom, penanggung jawab setiap urusan. Yang mau ditampilkan selain memperpendek jarak adalah lukisan indah bertirai bambu dan bergambar panda yang imut, serta sedikit waktu tanpa ribut-ribut. Konfusianisme sendiri lahir dari suatu chaos yang besar dalam satu masa peradaban Cina, dan chaos yang kita tak tahu pasti kapan mau stop ini mesti disikapi dengan memilih.

Yang agak membuat tak terlalu tegang akan datangnya revolusi rakyat di Cina mungkin Hannah Beech. Dalam kolomnya di majalah Time edisi awal Maret, ia memberi alasan “perbedaan krusial” yang menyebabkan erupsi di Dunia Arab tak akan segera terjadi di Cina. “Di Timur Tengah dan Afrika Utara”, tulisnya, “pemerintah dilihat sebagai sebuah problem. Di Cina, dengan segala dosa Partai Komunis dan ideologi yang lentur, rezim dianggap sebagai insinyur dari ekpansi ekonomi spektakuler yang pernah dilihat dunia”.

Mahasiswa-mahasiswa menulis tentang Cina, dan meleset. Tapi siapa tahu mahasiswa-mahasiswa Cina pun menulis tentang Indonesia, dan filosofi lambang Garuda Pancasila. Mereka menghitung jumlah sayap, ekor, bulu leher garuda kita tercinta itu, dan bertanya-tanya bagaimana bila hari kemerdekaan Indonesia jatuh pada 03-01-05.

Yang terbayang: seekor capung.
Profile Image for Stephen.
1,971 reviews142 followers
April 26, 2017
Lucien Pye was born in China and later returned there to advise the US government. China: An Introduction is written in that spirit, being a review of the making of Communist China and its attempts to find policies to modernize China from the inside out.

The volume opens with a hundred pages covering Chinese history, with an emphasis on the philosophical schools which contended for preeminence in the old Empire: Taoism, Confucianism, and Legalism. That drama is applicable to the more extensive coverage of the evolving Communist party in China, for Confucianism so under-girded China that it continued to influence the expression of communism in China even after every aspect of the old civilization was set ablaze. For instance, Chinese communism did not view itself as supremely scientific and inevitable; instead, Mao and others believed that a cyclical model would continue, and China would ever be tugged between communism and capitalism. The Confucian emphasis on perfectibility and self-sacrifice in pursuit of social virtue also lent themselves to early propaganda, in which people were expected to labor in hardship and poverty not for themselves, but for the good of the communist experiment in China.

Pye devotes the bulk of the book to covering the rise of the Communist party, and its internal politics through to the end of the 1970s. The book indicates to me that Mao was a singular figure, not simply for his role in the revolution but for his conceits in office: intriguingly, Pye writes that Mao scorned cities, viewing them as hotbeds of capitalism. I also didn't realize how quickly the Chinese learned from Russian mistakes: as early as 1959, they reintroduced privatization in agriculture, creating private plots that remained unmolested even amid the nightmare of the cultural revolution.

While I am not particularly interested in Communist party politics, I found the discussion of China's early philosophical debates fascinating -- especially because while Confucianism was not a religion, it permeated every level of society and shaped China in the manner that a religion would. Pye has engendered in me an excitement for reading about Confucianism proper a little later on.
Displaying 1 - 2 of 2 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.