Satu lagi buku yang saya tutup sebelum sampai pada halaman akhirnya. Padahal awalnya saya sempat punya harapan tinggi untuk buku ini.
Ketika pertama kali membaca kisahnya, saya merasa buku ini sangat hebat, dan menyegarkan. Hebat karena pak LKH mampu membawa nuansa Jawa kuno dalam buku ini. Bab pertama yang berisi nama2 Raja dan silsilahnya berikut dengan nama gelar mereka memberikan dasar yang baik bagi pembaca untuk tau sekilas tentang kerajaan Majapahit dan kerajaan2 lainnya yang nantinya akan disinggung dalam buku ini. Begitupun dengan pemilihan kata yang digunakan pak LKH.
Pemilihan kata inilah yang bagi saya memberikan rasa "menyegarkan" selama membaca seperempat awal buku ini. Mungkin ini karena saya juga lebih terbiasa membaca buku2 terjemahan, sehingga pemilihan kata seperti "dikemuli" dan bukan "diselimuti" terasa baru walaupun memiliki arti yang sama.
Dan adegan perangnya, bagi saya yang hebat bukan perangnya, tapi bagaimana pak LKH memberi "iming-iming" bahwa akan terjadi perang. Mulai dari kedatangan kabut tebal yang diyakini membawa pertanda buruk, pembawa pesan misterius yang keluar dari dalam kabut, dan aksi Gajahmada yang mesti pontang-panting kesana kemari mencari kebenaran tentang gosip perang yang akan datang. Sungguh, dalam masa ini saya ingin memberi buku ini empat bintang.
Dan perang pun dimulai, dan penilaian saya akan buku ini perlahan-lahan mulai menurun.
Bukan berarti adegan perangnya jelek. Saya cukup suka dengan adegan perang di adegan awal buku ini. Saya cuman merasa adegan perangnya terlalu panjang, dan ada terlalu banyak karakter yang terlibat. Bukan cuma Gajahmada dan para pemimpin pasukan, tapi juga anak buah Gajahmada sendiri, Patih yang menjadi atasannya, musuh yang bersembunyi, dan juga beberapa anak buah mereka.
Mungkin saya sudah beberapa kali mengatakan ini di review buku2 lain terdahulu, tapi saya sering bingung membedakan karakter kalau mereka muncul dalam rentang waktu berdekatan dan sama sekali tidak ada pembeda yang jelas diantara mereka. Selain Gajahmada sendiri, yang menjadi tokoh sentral, satu2nya yang menancap kuat di kepala saya adalah salah satu Rakrian yang ahli pengobatan (lupa namanya). Selebihnya seolah hanya menjadi karakter "numpang lewat". Sekedar ada untuk menjelaskan adegan yang tidak mungkin diketahui Gajahmada.
Berhubungan dengan karakter, yang menjadi masalah bagi saya adalah nama mereka. Bukannya saya mau protes nama mereka yang kerasa "jadul banget" (karena toh, settingnya emang di jaman dulu), tapi semua karakter di buku ini disebut dengan nama lengkap terus menerus. Ya, SEMUANYA. Entah apakah itu tokoh penting atau hanya karakter yang numpang lewat itu tadi.
Saya ga ngerti, apa karakter2 itu ga punya nama panggilan yang lebih pendek? Apalagi antar prajurit Bhayangkara yang semestinya sudah saling akrab. Sehingga saya sering merasa aneh ketika pembicaraan antara prajurit Bhayangkara terasa begitu formal. Jauh dari nuansa pembicaraan antar sahabat dekat yang berlatih dan bertempur bersama.
Masih tentang karakter adalah sifat mereka yang terlalu hitam putih. Oke, saya memang tidak membaca buku ini sampai selesai jadi saya tidak tahu kalau salah satu dari karakter itu ada yang berubah atau tidak. Tapi sejauh yang saya baca, karakter2 di sisi antagonis dikesankan terlalu jahat dan berambisi (kecuali si rakrian dokter yang kayanya dibikin ga boleh jahat karena wajahnya yang ganteng); sementara karakter2 protagonis selalu baik dan "putih". Tambahkan atribut "terlalu kuat dan cerdas sampai2 dia jadi prajurit tanpa tanding, dan tanpa banding" dalam diri Gajahmada selaku tokoh utama dan bertambahlah ketidaksukaan saya pada karakter dalam buku ini.
Review belum selesai. Selain tentang karakter, satu yang membuat saya memutuskan untuk tidak melanjutkan membaca buku ini adalah cara pak LKH menceritakan perpindahan adegan satu ke adegan lain. Pak LKH suka sekali "menceritakan kembali" adegan2 yang baru saja dialami oleh para tokohnya. Apa maksudnya?
Bayangkan Anda membaca potongan adegan si Gajahmada dikejar2 oleh lawannya. Gajahmada dan pasukan Bhayangkaranya melarikan diri diatas kuda, sudah maju lebih dulu beberapa ratus meter sebelum pihak musuhnya mengejar. Lalu, dengan ilmu panah dan bela diri lainnya, Gajahmada dan anak buahnya berhasil menumbangkan beberapa pasukan pengejar itu sehingga mereka mau tidak mau harus menahan rasa malu dan berbalik kembali ke pimpinan mereka sambil membawa berita mereka baru saja dikalahkan.
Pada paragraf berikutnya, pak LKH menceritakan kembali adegan itu. Dengan cara yang lebih ringkas dan singkat, tapi intinya tetap sama. Gajahmada yang melarikan diri baru saja menghajar habis musuhnya sehingga mereka harus berlari tunggang langgang kembali ke Tuan mereka.
Pertanyaannya, buat apa ngasih tau pembaca lagi soal Gajahmada mengalahkan musuhnya ini? Toh, pembaca sudah melihat sendiri aksi Gajahmada berikut anak buahnya secara langsung sehingga saya merasa tidak ada gunanya penceritaan kembali seperti ini. Bahkan terasa membuang2 halaman. Entah berapa kali saya berpikir buku ini akan menjadi jauh lebih tipis seandainya Pak LKH tidak menggunakan cara bercerita yang seperti ini.
Dan ada juga paragraf yang tidak nyambung antara apa yang diceritakan sebelumnya dengan adegan dialog berikutnya. Contohnya pada bab 32. Sekitar sepuluh (atau lebih) paragraf awal di bab ini menceritakan after effect perang pemberontakan yang terjadi di bagian awal buku. Dari tatanan negara yang kacau, pasar yang hancur berantakan, sampai anak2 gadis yang luluh lantak diperkosa. Bahkan kalimat akhir dari paragraf kesekian itu berbunyi seperti ini:
"Gadis itu mencoba mengakhiri hidupnya dengan membenamkan sebuah cundrik ke perutnya. Kedua orangtuanya terpaksa harus menjaga gadis itu supaya tidak kehilangan akal."
Tapi dengan sangat anehnya adegan dialog yang terjadi tepat di bawah paragraf itu berbunyi:
"Aku sudah tidak kuat lagi," Sri Jayanegara yang berjalan terseok-seok itu akhirnya tidak tahan lagi.
Padahal dari belasan paragraf sebelumnya di satu bab itu nama Jayanegara sama sekali ga disebut-sebut.
Prabu Jayanegara minta disembah
Buuu, ga nyambung ah!
Dan entah kenapa pak LKH suka sekali mengulang-ulang kondisi Majapahit yang hancur berantakan setelah terjadi perang. Bukan cuma diulangi terus menerus dalam satu bab, tapi pada bab berikutnya diceritakan lagi dan pada bab berikutnya diceritakan lagi kalau Majapahit kacau setelah perang. Plis deh, pak LKH, kita udah tahu Majapahit kacau balau setelah perang semalam suntuk itu. Jangan diulang-ulang terus dong. Pembaca ga bego kok.
Pembaca ga bego.
Ah, itu satu lagi kesan yang kudapat dari membaca buku ini setengah jalan. Saya merasa kalau pak LKH menempatkan pembaca buku ini seolah-olah lebih bodoh dari Beliau. Karena itu adegan yang baru saja mereka lihat perlu diulangi sekali lagi. Karena itu mereka perlu dijelasin berulang-ulang kalau Majapahit itu kacau balau setelah perang. Dan karena itu pula, Beliau harus menjelaskan kalau nama kecil Jayanegara itu Kalagemet, sampai sekitar lima atau enam kali dari titik dimana saya memutuskan berhenti membaca. Dengan cara yang sama pula, selama enam kali menyebutkan kalau Jayanegara sewaktu kecil bernama Kalagemet. Seolah-olah pembaca ga bakal paham kalau cuma dikasih tahu sekali sehingga Beliau perlu menjelaskannya lagi, dan lagi, dan lagi, dan lagi, dan lagi. In the most boring way possible.
Yes, this book is boring.
Tapi terima kasih, Pak LKH. Paling tidak sejarah tentang Majapahit yang pernah saya dapat sewaktu SD sedikit diingatkan kembali melalui buku ini. Walaupun caranya masih kurang lebih sama dengan buku sejarah yang saya baca tiga belas tahun lalu itu.