28 kisah dalam buku ini, kecuali “Pengarang Telah Mati”, dapat dikelompokkan ke dalam genre short-short stories, dan dari sisi penjelajahan tematik berada dalam tradisi dongeng kearifan Timur, khususnya yang berakar dari literasi Zen dan Sufi, yang padat dan singkat secara naratif, kaya makna secara tafsir, dan indah secara bahasa. Lu Xun di Cina, Augusto Monterroso di Meksiko, D.J. Enright (khususnya dalam Under Circumtances) di Inggris, termasuk para pengarang yang menyukai gaya penulisan serupa. Kisah-kisah dalam buku ini umumnya kuat karena bersifat to show, bukan to tell.
Pengarang bertutur dengan semangat “filsafat berpakaian” kaum memiliki kecenderungan yang tertutup untuk terbuka, dan kecenderungan yang terbuka untuk tertutup. Dengan cara seperti itu, pembaca dipaksa secara halus untuk membaca yang tersirat, melihat yang disembunyikan. Dengan cara itu pula sejumlah cerita seperti “Untuk Elisa”, “Adam”, “Sungai”, “Sup Gibran”, “Saksi”, akan membuat pembaca jatuh cinta…” (Horison, Agustus, 2001)
Riwayat hidup Masa mudanya dihabiskan di Surakarta. Pada masa ini ia sudah menulis sejumlah karya yang dikirimkan ke majalah-majalah. Kesukaannya menulis ini berkembang saat ia menempuh kuliah di bidang bahasa Inggris di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Sejak tahun 1974 ia mengajar di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia, namun kini telah pensiun. Ia pernah menjadi dekan di sana dan juga menjadi guru besar. Pada masa tersebut ia juga menjadi redaktur pada majalah "Horison", "Basis", dan "Kalam".
Sapardi Djoko Damono banyak menerima penghargaan. Pada tahun 1986 SDD mendapatkan anugerah SEA Write Award. Ia juga penerima penghargaan Achmad Bakrie pada tahun 2003. Ia adalah salah seorang pendiri Yayasan Lontar.
Karya-karya Sajak-sajak SDD, begitu ia sering dijuluki, telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Sampai sekarang telah ada delapan kumpulan puisinya yang diterbitkan. Ia tidak saja menulis puisi, tetapi juga menerjemahkan berbagai karya asing, menulis esei, serta menulis sejumlah kolom/artikel di surat kabar, termasuk kolom sepak bola.
Beberapa puisinya sangat populer dan banyak orang yang mengenalinya, seperti Aku Ingin (sering kali dituliskan bait pertamanya pada undangan perkawinan), Hujan Bulan Juni, Pada Suatu Hari Nanti, Akulah si Telaga, dan Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari. Kepopuleran puisi-puisi ini sebagian disebabkan musikalisasi terhadapnya. Yang terkenal terutama adalah oleh Reda Gaudiamo dan Tatyana (tergabung dalam duet "Dua Ibu"). Ananda Sukarlan pada tahun 2007 juga melakukan interpretasi atas beberapa karya SDD.
Berikut adalah karya-karya SDD (berupa kumpulan puisi), serta beberapa esei.
Kumpulan Puisi/Prosa
* "Duka-Mu Abadi", Bandung (1969) * "Lelaki Tua dan Laut" (1973; terjemahan karya Ernest Hemingway) * "Mata Pisau" (1974) * "Sepilihan Sajak George Seferis" (1975; terjemahan karya George Seferis) * "Puisi Klasik Cina" (1976; terjemahan) * "Lirik Klasik Parsi" (1977; terjemahan) * "Dongeng-dongeng Asia untuk Anak-anak" (1982, Pustaka Jaya) * "Perahu Kertas" (1983) * "Sihir Hujan" (1984; mendapat penghargaan Puisi Putera II di Malaysia) * "Water Color Poems" (1986; translated by J.H. McGlynn) * "Suddenly the night: the poetry of Sapardi Djoko Damono" (1988; translated by J.H. McGlynn) * "Afrika yang Resah (1988; terjemahan) * "Mendorong Jack Kuntikunti: Sepilihan Sajak dari Australia" (1991; antologi sajak Australia, dikerjakan bersama R:F: Brissenden dan David Broks) * "Hujan Bulan Juni" (1994) * "Black Magic Rain" (translated by Harry G Aveling) * "Arloji" (1998) * "Ayat-ayat Api" (2000) * "Pengarang Telah Mati" (2001; kumpulan cerpen) * "Mata Jendela" (2002) * "Ada Berita Apa hari ini, Den Sastro?" (2002) * "Membunuh Orang Gila" (2003; kumpulan cerpen) * "Nona Koelit Koetjing :Antologi cerita pendek Indonesia periode awal (1870an - 1910an)" (2005; salah seorang penyusun) * "Mantra Orang Jawa" (2005; puitisasi mantera tradisional Jawa dalam bahasa Indonesia)
Musikalisasi Puisi
Musikalisasi puisi karya SDD sebetulnya bukan karyanya sendiri, tetapi ia terlibat di dalamnya.
* Album "Hujan Bulan Juni" (1990) dari duet Reda dan Ari Malibu. * Album "Hujan Dalam Komposisi" (1996) dari duet Reda dan Ari. * Album "Gadis Kecil" dari duet Dua Ibu * Album "Becoming Dew" (2007) dari duet Reda dan Ari Malibu * satu lagu dari "Soundtrack Cinta dalam Sepotong Roti", berjudul Aku Ingin, diambil dari sajaknya dengan judul sama, digarap bersama Dwiki Dharmawan dan AGS Arya Dwipayana, dibawakan oleh Ratna Octaviani.
Ananda Sukarlan pada Tahun Baru 2008 juga mengadakan konser kantata "Ars Amatoria" yang berisi interpretasinya atas puisi-puisi SDD.
Buku
* "Sastra Lisan Indonesia" (1983), ditulis bersama Subagio Sastrowardoyo dan A. Kasim Achmad. Seri Bunga Rampai Sastra ASEAN.
Menarik Mas Irwan. Bukunya ringan baik fisik dan isinya. Masih dengan gaya Sapardi. Cuma kali ini seperti dalam deskripsi tentang buku ini, dia bermain di wilayah short-short story. Dalam buku ini penamaannya tetap cerpen walau Sapardi bilang terserah mau dibilang apa, ia hanya merasa di kepalanya ada cerita yang mau tumpah: jadilah buku ini.
Sejauh ini memang yang utama adalah cerpen "Pengarang Telah Mati", namun ketika saya membacanya yang paling nyangkut di kepala adalah cerpen "Kalender dan Jam" dan "Gadis Berjilbab dalam Angkot". Di Kalender dan Jam, Sapardi dengan ringkas membuat polemik tentang waktu melalui dialog antara kalender dan jam, buat saya seperti membaca pembagian waktu ala seorang filosof Perancis (Berson?). Sementara di "Gadis Berjilbab dalam Angkot", Sapardi bermain antara realitas sosok si gadis dan abstraksi si tokoh tentang si gadis. Kesannya ribet yah? Tapi Sapardi ternyata berhasil denga gaya prosanya untuk mengangkat keribetan itu dalam tutur yang sangat sederhana.
Ada cerita lain yang juga menarik sih, macam "Sup Gibran", dan sebuah cerita yang pernah saya anggap identik dengan Sapardi yang suka bermain hujan dalam puisinya. Kali ini dalam cerita dua halaman "Tentang Gerimis". Dua baris kalimat yang membuka cerita itu, " Gerimis tidak memerlukan payung. Ia hanya suka bersijingkat dengan kaki-kakinya yang kadang hilang kadang tampak, ke sana ke mari". Serta cerita terakhir buku ini "Untuk Elisa" yang dua kalimat terakhirnya, "Setiap malam aku menemaninya ke bangunan di pinggir kampus itu, masuk ke dalam salah satu ruangannya. Ia main piano dan aku menjelma butir-butir udara, dihirup dan dihembuskannya."
Saya membaca sebagian besar ceritanya seperti membaca Sapardi yang berprosa dengan selipan puisi di setiap ceritanya.
Sapardi, nama yang tak perlu diragukan lagi.. jaminan mutunya.
membaca buku ini seperti diombang-ambing perasaan pak Sukram, tokoh utama dari cerita yg paling panjang dari kumpulan cerita pendek lainnya, seperti naik pesawat, seperti berlari di lapang, lalu bertemu padang bunga, terjerambab kesenengan, tapi ketika lanjut menapak ko sudah jurang??
kegundahannya, antara menjadi si tokoh pewayangan atau kembali pada ninuk dan anak2nya di dunia nyata, memetik si bunga mawar ato merantas di antara jalan menuju kampus dan rumah..
cerita ttg si gadis berkerudung di angkot, absurd, pendek, total.. rasanya begitu padat, pikiran lsg lari ke arah lelaki tua itu, dan hutan dimana teriakan minta tolong itu menggema..
kendati menghabiskannya cukup memakan waktu, hehehe :D
Oke. Saya membaca ulang buku ini untuk kedua kalinya dan Saya berubah pikiran. Bagi orang yang pernah baca karangan romantis-sentimentil-nrimo ala Sapardi Djoko Damono ("Aku Ingin" atau "Hujan di Bulan Juni"), mungkin agak kaget saat membaca buku ini. Buku ini merupakan kumpulan beberapa cerpen yang, menurut penuturannya (si Sapardi Djoko Damono tentunya), merupakan ide tiba-tiba yang ia tuangkan secara spontan.
Cerpen-cerpen didalamnya mengaburkan batas realita dan imajinasi. Sebut saja cerpen "Pengarang Telah Mati", yang menceritakan kegelisahan tokoh-tokoh dalam cerita mengenai kelanjutan kisah mereka masing-masing, yang seharusnya dituntaskan oleh pengarangnya (aneh, bukan? Tapi percayalah, menarik kok untuk dibaca). Namun favorit saya adalah "Adam" (kalau tidak salah ini judulnya, cerita pertama dalam buku ini), yang bercerita tentang permintaan maaf Adam kepada anak cucunya. Yang menarik dari "Adam" adalah penuturannya yang manusiawi dan jauh dari kisah kenabian yang selalu kita dengar.
Menarik untuk dibaca. Apalagi bagi yang suka berkhayal absurd.
Sapardi sebagai penyair dan Sapardi sebagai pembuat cerpen? Sama-sama TOP! Sebenernya, sulit juga buat saya membedakan gaya berprosa dan gaya bersyair beliau, apalagi pada bagian-bagian awal dari buku ini. Tapi di tengah-tengah buku, di cerpen Pengarang Telah Mati, kelihatan jelas bedanya. Tenang.. bagi para pecinta Sapardi, masih melekat jelas kok ke-Sapardi-annya.. lengkap dengan kepekaan Sapardi terhadap monolog benda-benda mati seperti jam dinding dan kalender (juga favorit saya, Rel Kereta). Aaaah! Sapardi memang gak ada matinya, deh! Hail yooouuuu! :)
cerita-cerita pendek, atau mungkin bisa dikatakan puisi yang bercerita. ada kisah mengenai kalender dan jam yang berdebat tentang waktu. keren. dan kisah-kisah yang lain yang ditulis dengan sederhana dan tata bahasa yang keren.
First time i read Sapardi's prose. Well second if you count the ones published on newspaper. Anyway, a friend borrowed this book and never returned it. :(
got it when jambore sastra (2001). now i'm going to read it (finally) i've read it. 'pengarang telah mati' will mix, stir your felings. my feelings have.