JADI IBU MUDA BEKERJA DI JAKARTA TIDAK MUDAH! Hannah Andhito adalah tipikal perempuan masa kini di kota besar; bekerja di perusahaan multinasional, mengikuti tren fashion dan gaya hidup terkini sambil berusaha menabung untuk keluarga kecilnya, sangat menyukai melukis dengan cat air (yang ternyata baru ia sadari ini adalah passion-nya!), memiliki suami yang tampan dan family-oriented, sahabat SMA yang masih in touch, serta si kecil Razsya yang usianya jalan 2 tahun.
Sempurna? Awalnya Hannah merasa begitu sampai Razsya bergumam bahwa ia menyayangi pengasuh yang sehari-hari selalu bersamanya. Perjalanan Hannah menemukan makna menjadi seorang ibu yang sesungguhnya dimulai sejak momen itu.
Sitta Karina Rachmidiharja merupakan penulis kelahiran Jakarta, 30 Desember 1980 yang karya-karyanya diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, Mizan, dan Lentera Hati Group.
Sebagian besar karyanya akan dirilis ulang oleh penerbit Buah Hati (Lentera Hati Group) mulai 2013, termasuk serial keluarga besar Hanafiah dan Magical Seira.
Ia pernah menjadi juri pada ajang apresiasi sastra Khatulistiwa Literary Award 2008, pengajar pada Coaching Cerpen Kawanku 2009 dan 2010, serta menjadi kontributor cerita dan feature article pada majalah remaja kenamaan seperti CosmoGIRL! , Gogirl!, Spice!, Kawanku, dan lainnya.
Selain menulis, Sitta sangat menyukai fashion, kopi, dan olahraga.
-----------------------------
Serial Magical Seira (akan rilis ulang bertahap 2012-2013):
Magical Seira 1: Seira and The Legend of Madriva Magical Seira 2: Seira and Abel's Secret Magical Seira 2.5: The Sand Castle Magical Seira 3: Seira and The Destined Farewell
Saya penggemar mbak Sitta sejak rajin mengoleksi novel, tapi belakangan cukup kangen dengan karyanya yang baru.. dan ketika membaca novel ini, saya sedikit banyak mengerti mengapa.
Kesibukan sebagai seorang ibu yang bekerja tertuang dalam buku ini. Pertengkaran dengan ibu, menumpang di rumah orang tua, godaan dari segi berbelanja, me-time, kongkow dengan sahabat, pria lain, dan masih banyak lagi kerap kali menjadi sesuatu yang wajar terjadi pada perempuan urban masa kini. Hebatnya lagi, buku ini nggak hanya harus dibaca oleh istri atau ibu, tapi setiap wanita Indonesia yang masih lajang maupun suatu saat nanti akan berkeluarga.
Karakternya sangat relate-able, kisahnya pun manis - salah satu kelebihan mbak Sitta yang selalu membuat jatuh cinta dengan bukunya. Karakter Hannah terasa three-dimensional dan nyata, sang ibu muda yang emosinya gampang meledak-ledak tapi determined dan selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi keluarganya. Sosok Wigra pun membumi dan membuat perempuan klepek-klepek. Keduanya membuat pembaca mudah mengasosiasikan diri dan tidak langsung menghakimi, bahkan merasa 'gue banget' :)
Saya hanya berharap, karakter lain lebih banyak tergali sehingga tidak terasa hanya cameo dan two-dimensional, seperti Smith dan Banyu yang secepat kilat mampu membuat kita merasa antipati, tanpa merasakan depth dalam kedua orang tersebut. Sekelibat kita diperlihatkan apa alasan Banyu menjadi semenyebalkan dia sekarang, tapi sisanya hanya membuat saya membenci karakter tersebut sepenuh hati. Begitu juga dengan karakter Upik, Razsya, Eyang Ti, dan orang-orang terdekat Hannah.
Satu lagi, konfliknya cukup berlapis dan saya suka solusi yang membalut setiap konflik dengan manis, tapi cukup beragam sehingga membuat lelah karena konflik baru tak kunjung surut. Misalnya, masalah dengan Banyu cukup membuat ribet, kemudian disusul oleh konflik Olivia Chow dan Ara, yang dipertunjukkan sesaat sebelum cerita berakhir, sehingga terasa pincang dan berlebihan. Menurut saya, jika konflik utama diperluas dan diberikan cabang-cabang secukupnya akan cukup memperkaya inti cerita :)
Overall, bacaan yang membuat kita mikir, bagaimana baiknya mengasuh anak di zaman sekarang, pentingnya komitmen saat banyak orang di sekitar kita yang berusaha menggoyahkan hal tersebut, dan pentingnya sebuah keluarga.
Rumah Cokelat memberi saya pelajaran bahwa membangun keluarga, bahkan dengan orang yang sangat sepadan denganmu pun, tidak pernah mudah.
Dari point of view yang diberikan penulis, diceritakan bahwa si suami, adalah lelaki yang sangat berkualitas. Fisiknya gagah dan tampan; sifatnya pengertian, tenang, dan bertanggung jawab; kemampuan intelektualnya pun di atas rata-rata. Sementara dirinya, tokoh utama dalam cerita, juga adalah perempuan yang mengerti tujuan hidupnya. Ia tahu apa yang ia suka, bisa, dan ahli ketika mengerjakannya.
Dalam urusan berumah tangga, mereka ditemani dengan eyang yang tidak kalah berwawasan. Bahkan kata teman-teman perempuan tokoh utama, eyang adalah sosok ibu yang diidam-idamkan oleh mereka. Cantik dan mengikuti jaman, bisa menjadi orang tua sekaligus teman. Belum lagi, ia juga dibantu juga penjaga anak yang kerasan. Masih muda, tapi setiap pekerjaan rumah dan mengurus anak yang dibebankannya selalu dikerjakannya dengan cekatan.
Namun yang menarik, dari semua spesifikasi terbaik yang keluarga ini miliki, tetap saja ada konflik mendasar yang jika tidak diselesaikan dengan baik, akan merusak seluruh tatanan keluarga yang mungkin bagi orang lain diidam-idamkan ini.
Konflik tsb berupa kehilangan jati diri ibu karena merasa tidak utuh menjadi manusia: harus merelakan karier dan menjadi seorang ibu, lelah dengan cibiran para tetangga yang mencela kegiatan ibu yang bekerja, hingga saling tengkar dengan ibunya sendiri perihal perbedaan prinsip dalam mendidik anak.
Walaupun bagi saya cerita seperti ini tidak jauh dengan cerita Disney yang selalu berakhir bahagia, tetapi paling tidak Rumah Cokelat memberikan saya gambaran bahwa setiap orang memiliki keresahannya masing-masing, bahkan orang-orang yang menurutmu adalah orang yang paling tidak memiliki beban hidup.
Satu hal penting lagi, sangat penting utk berkomunikasi dengan baik ketika sebuah konflik terjadi. Kalaupun ada kata buruk yang terlepas, saat otak sudah dingin, meminta maaflah dengan tulus.
Manusia memang pada dasarnya jahat, ingin menang sendiri. Tapi ketika sudah berkomitmen utk menjalin hubungan dengan orang lain, bukankah mengiris ego memang menjadi pekerjaan seumur hidup?
Setelah lama menunggu, Sitta Karina akhirnya kembali menelurkan karya, kali ini bertemakan mom-lit, yaitu jenis novel yang (mengutip pendeksripsian yang dicantumkan di halaman belakang buku) "menyajikan kisah-kisah yang dialami oleh para ibu sebagai sosok ibu, istri, wanita karier, ibu rumah tangga, atau kesemuanya". Sepertinya sinopsis mengenai inti cerita ini tidak perlu saya tulis lagi, so let's go straight to my opinion of this book.
Saya adalah salah satu penggemar terbesar Sitta Karina. Sejak pertama membaca novel Lukisan Hujan di bangku SMP, saya langsung jatuh cinta dengan penulis yang menurut saya menjadi salah satu pelopor 'menulis itu keren' di kalangan anak muda ini. Saya melahap tiap novel yang Sitta Karina tulis dengan penuh semangat, because her writing is *that* good. Dan setelah lebih dari satu tahun menunggu sejak novel terakhirnya terbit, saya akui bahwa saya memiliki ekspektasi raksasa terhadap Rumah Cokelat ini. So, did it live up to my expectation?
With great sadness (because I truly am a fan), the answer is No. Jujur, saya sendiri terkejut begitu menyadari bahwa saya kecewa dengan buku ini. Kasarnya, "Yang nulis Sitta Karina, gitu loh!". Saya pun berusaha untuk menganalisis alasan kekecewaan ini. Apakah karena temanya yang tidak nyambung dengan kehidupan saya, alias 'I can't relate to the mommy situation'? Tapi sepertinya tidak. Kisah-kisah tentang Hanafiah JAUH lebih unrelatable bagi saya yang sama sekali bukan jetsetter, tapi saya sangat menikmati membaca cerita-cerita mereka. Apakah karena jalan ceritanya yang terlalu ringan? Saya tidak yakin itu alasannya. Banyak buku 'ringan' yang saya gemari.
Mungkin, hanya MUNGKIN, yang membuat saya kecewa adalah cara sang penulis mendeksripsikan Wigra, suami dari karakter utama buku ini. Di sini Wigra digambarkan sebagai Eric Dane versi Indonesia yang sensitif terhadap kata-kata kasar, tidak temperamental, serta bisa bertutur kata dengan baik dan benar. Sosok suami sempurna. So perfect, in fact, that it felt unrealistic. Kemana perginya sosok gentleman namun keras kepala macam Diaz atau dingin namun perhatian macam Austin? Selama ini Sitta Karina selalu berhasil menciptakan sosok laki-laki yang 'sempurna karena ketidaksempurnaannya', yang penuh konflik personal namun kuat dan tegar untuk menghadapi konflik batin tersebut. Sosok Wigra di sini terdengar sangat sempurna, bahkan seringkali malah terkesan kaku dengan penuturannya yang baku dan 'panjang lebar'. Mungkin saya terlalu terpengaruh oleh ajaran pak Stephen King dalam buku beliau mengenai teknik menulis berjudul On Writing, dimana beliau menyatakan bahwa penulis harus bisa menggambarkan penuturan karakter secara realistis dan conversational-like, tapi pada kenyataannya Wigra (bagi saya) seringkali terdengar seperti 'berpidato' tentang parenting, yang membuat cerita tidak terasa...'greget'nya. But hey, sejak awal saya sudah bilang "MUNGKIN" kan? :)
Saya tidak mengatakan buku ini jelek. SAMA SEKALI TIDAK. Bahkan, bagi kalangan muda yang ingin segera memulai bahtera rumah tangga (which is a lot), novel ini bisa menjadi bacaan yang sangat membantu dan highly recommended. Kritikan saya mengenai sosok Wigra (sangat)bisa diabaikan, mengingat inti dari novel Rumah Cokelat ini adalah bercerita dari sudut pandang Hannah, sang ibu muda. Dan untuk kak Sitta Karina, I'm still a huge fan. Saya tunggu petualangan keluarga Hanafiah selanjutnya. :)
Ada yang tahu bagaimana perasaan seorang ibu yang memiliki double job yah? Sebagai wanita karir, istri dan seorang ibu? Now it’s triple job then. Pasti repot, rumit, seru, lucu kadang stress juga. Itulah kira-kira yang dirasakan Hannah Andhito, seorang wanita sukses masa kini yang bekerja di perusahaan multinasional. Hannah bersuamikan Wigraha Andhito (Wigra) dan mempunyai putra yang sangat lucu dan cerdas berusia 2 tahun, Razsya.
Dilemma menjadi seorang ibu dan wanita karir sekaligus kerap mewarnai konflik-konflik kecil di novel ini. Dari Razsya yang lebih dekat dengan nanny dan eyangnya, kebiasaan buruk Hannah yang lebih mentingin baca People daripada berinteraksi dengan putranya, sampai perbedaan pendapat dengan ibunya tentang bagaimana mengurus Razsya dengan baik. Proses bagaimana Hannah bertransformasi dari wanita karir super sibuk hingga memahami bahwa seorang anak lebih baik dibesarkan sendiri oleh orang tuanya dituangkan dengan baik di novel ini.
Itulah sejumput cerita dari novel Rumah Cokelat oleh Sitta Karina. Ini adalah novel Sitta Karina yang saya baca pertama kali karena saya kira tadinya novel-novel Sitta bergenre teenlit. Melihat novel ini beraliran beda (momlit) dan rekomendasi teman yang bilang novel ini bagus, maka saya memutuskan untuk beli dan baca.
Memang benar, novel ini sungguh menginspirasi buat saya. Novel ini memberikan gambaran kira-kira seperti apa sih kehidupan seorang ibu rumah tangga kelak. Karena jujur, menjadi seorang Hannah adalah salah satu impian saya. Karir dan keluarga berjalan seirama. Tapi melihat apa yang terjadi pada Razsya yang cenderung lebih dekat dengan mbak Upiknya (yang saya ga mau banget anak saya nanti lebih dekat dengan orang lain daripada orang tuanya sendiri), saya jadi mikir kalo nanti enaknya kerja bisa dirumah sambil ngurus anak.
Tapi tetap saja ada sisi yang kurang dari novel ini. •Kita mulai dari Hannah sendiri, ntah mengapa saya rasa tokoh Hannah ini agak manja dan masih butuh bimbingan. Sedangkan saya berharap sosok Hannah bisa lebih kuat dan tangguh mengingat banyaknya tanggung jawab yang dia pikul. •Yang kedua tentang sosok Wigra, buat saya dia terlalu sempurna sebagai seorang suami. Terlalu baik dan sabar. Sedikit ngintip dari timeline @sittakarina, ada yang bertanya apa ada sosok seperti Wigra? Yang saya simpulkan bahwa sosok seperti Wigra bukan tidak ada tapi sangat jarang, hehe. •Yang terakhir masalah penulisan untuk dialog Razsya, saya sih berharapnya dialog Razsya ini sedikit dicadel-cadelkan khas anak kecil, biar lebih berasa lucunya :D.
Overall novel ini cocok untuk remaja-dewasa kok. Jadi buat yang belum married bisa banget menikmati novel ini sambil berandai-andai bagaimana jadi seorang ibu kelak, hihi.
Menjadi wanita karier sekaligus ibu selalu menjadi dilema. Apalagi jika anak yang ditinggalkan di rumah justru lebih dekat kepada pengasuhnya dibandingkan pada ibunya. Hal ini dialami Hannah, ketika mendapati anaknya mengucapkan “Razsya sayang Mbak Upik” dalam tidurnya. Padahal Hannah dan Wigra suaminya telah berusaha meluangkan waktu untuk bisa dekat dengan anak semata wayang mereka. Hannah merasa terbebani ketika tumbuh kembang anaknya justru lebih banyak diketahui oleh Upik, pengasuh Razsya. Apalagi ketika dia mengetahui bahwa anaknya sangat dimanjakan oleh ibunya, Eyang Yanni. Hannah kelimpungan. Selama ini dia berusaha menerapkan pola disiplin untuk anaknya, tetapi eyangnya malah membuat Razsya melanggar aturan ibunya.
Akhirnya perlahan Hannah mulai mendekati anaknya kembali. Tidak mudah bagi Hannah. Untungnya suaminya yang kalem tapi bijaksana selalu punya cara untuk meredamkan hati dan kepala Hannah yang panas. Puncaknya ketika Hannah memutuskan untuk berhenti bekerja kantoran demi anaknya. hari-hari menjadi fulltime mommy dilalui Hannah dengan ketegangan.
Kisah momlit ini dipenuhi dengan berbagai pilihan. Memilih menjadi ibu rumah tangga, memilih menghindari permasalahan keluarga, memilih jalan keluar. Salah satu contoh adalah ketika Hannah memilih menjadi “wanita rumahan”, ternyata dia tetap dihadapkan pada masalah perhatiannya disita penuh oleh anaknya, sehingga dia tidak bisa bekerja sambilan. Bahkan untuk melakukan me-time pun terasa sulit.
Rumah Cokelat ini menarik untuk dibaca oleh para ibu. Hanya saja, walaupun ada begitu banyak konflik yang dihadapi Hannah, kisah ini cenderung datar dan bisa ditebak akhirnya. Tapi, saya suka dengan banyak quote (terutama dari Wigra) di dalam buku ini. Salah satunya adalah berikut ini.
Funny things do happen in life. So let’s dance in the rain too. Instead of just surviving the storm.
Saya memang bercita-cita menjadi seorang wanita karir di masa depan karena saya pikir buat apa susah2 kuliah tapi ga kerja. Saya pun berencana untuk kerja di multinational company setelah lulus kuliah nanti.
Namun, setelah membaca buku ini, saya merasa,"Wah ternyata susah ya memiliki dua peran yaitu seorang ibu rumah tangga dan pekerja di suatu perusahaan, apalagi multinational company.". Saya pun berpikir bagaimana caranya nanti bisa mendidik anak namun tetap bisa menghasilkan uang sendiri. Nah, buku Rumah Cokelat ini memberikan saya ide untuk bekerja kantoran dan mengumpulkan uang sebanyak2nya sebelum menikah dan setelah menikah saya ingin menjadi seorang entrepreneur (dengan menggunakan uang yg telah dikumpulkan sebelumnya dan ilmu yang saya dapatkan semasa kuliah), misal membuat cafe/butik/salon atau usaha kreatif lainnya (hahaha dasar cewe) dengan tetap mengurus rumah tangga dan mendidik anak untuk menjadi generasi bangsa yang baik hehehe, karena dengan menjadi entrepreneur waktu saya di rumah akan jauh lebih banyak dibandingkan dengan menjadi pegawai kantoran. Saya juga berpikir bahwa untuk menjadi seorang Ibu haruslah pintar dan berpendidikan karena Ibu yang kurang pintar tidak akan mendidik anaknya dengan cara yang pintar. Semoga harapan saya ini berjalan dengan lancar ya, amiin :)
Ceritanya manis, seperti kebanyakan buku Sitta yang lain. Karakter Hannah sangat real, dan relatable. Sayangnya, saya nggak bisa mengatakan hal yang sama tentang Wigra, suami Hannah di buku ini.
Memang buku ini ditujukan untuk perempuan, apalagi melihat label yang menempel di depannya 'mom-lit' dan mungkin karena itulah buku ini 'dihiasi' dengan tokoh laki-laki sempurna yang akan membuai para perempuan yang membaca buku ini.
Tapi di sisi lain... apa iya dalam buku tentang perempuan para laki-lakinya harus digambarkan selalu sempurna, karena bukankah hal seperti itu sebenarnya kurang mendidik. Kenapa dalam novel2 manis yang ditujukan untuk perempuan tokoh2 perempuannya malah membiarkan para laki-laki tadi "menyelesaikan" masalah mereka. Atau kalaupun tidak menyelesaikan, tapi para lelaki ini diceritakan memiliki kepala yang lebih dingin, pemikiran yang lebih matang, akal yang lebih sehat dibandingkan dengan perempuan tadi. Bukankah hal itu agak sedikit tidak empowering?
Tapi mungkin sang penulis hanya ingin "memanjakan" para pembacanya saja...
Hmm...mungkin karena emang saya belum ngalamin sendiri ya, but I can't relate to Hannah. Buat saya, semua curhatan dan kekesalannya itu nyebelin untuk dibaca. Hey...call me old school or whatever, tapi buat saya sih keluarga (terutama anak-anak) should always comest first. Kalo itu artinya harus sedikit mengorbankan karir, then be it.
Tapi mungkin emang karena saya belum pernah ngalamin. Mungkin karena saya gak tahu gimana jenuhnya nungguin rumah dan ngurusin anak doang sementara teman-teman saya sibuk ngejar karir di luar sana. Mungkin juga karena saya belum pernah ada dalam posisi dilematis ketika harus milih antara karir dan keluarga. Makanya saya enteng aja bilang bakal lebih ngutamain keluarga daripada karir. Mungkin gitu sih.
Di luar itu, gaya penulisan Sitta masih keren seperti biasa. Walo aura "gaul dan borju" juga masih kerasa. But that's okay. Toh gaya kayak gitu yang membentuk karakter seorang Hannah.
Sejujurnya klo gak karena klub buku mungkin saya ga akan baca sampai tamat. Awalnya tokoh utamanya si Hannah ngeselin banget, tapi lama-lama endearing juga terutama karena ya dibalik semuanya ternyata dia toh masih cewek yang konservatif. Pantas aja milih Wigra :)
Core valuesnya sih tradisional ya, tapi apa iya sih cewek2 Jakarta se-childish itu dalam memulai berkeluarga? Sedih juga ya ketika trappings dunia modern dianggap keren. Ya sebuah snapshot keluarga urban dengan solusi yang fairy tale abis. Lumayanlah, kek sebatang coklat :)
Akhirnya, terbit juga buku baru dari kak Arie, walau sampai sekarang saya masih menunggu kelanjutan seri Hanafiah, tak apalah itung-itung melepas kangen, karena ciri khas kak Arie adalah semua tokoh yang ada dalam bukunya mempunyai benang merah. Saya adalah penggemar berat tulisan kak Arie, hampir semua bukunya saya punya, kecuali yang satu cerpen nyungsep di buku kompilasi terbitan nulis buku, nyesel dulu nggak beli sekarang nyarinya susah
Kali ini, penulis hadir dengan genre terbaru MomLit, novel yang menyajikan kisah-kisah yang dialami oleh para ibu sebagai sosok ibu, istri, wanita karier, ibu rumah tangga, atau kesemuanya. Selain sebagai tempat berbagi pengelaman dalam pengasuhan anak dan menjalani kehidupan berumah tangga, kisah-kisah dalam MomLit akan membuat anda tertawa, terharu, dan terinspirasi secara bersamaan, begitulah yang tertulis dalam buku ini tentang pengertian MomLit .
Mungkin buku ini juga menjadi ajang curhat penulis kali ya, hehehe, menginggat setelah berkeluarga dan mempunyai dua orang anak kesibukan penulis untuk menulis sangat terbatas, bagaimanapun anak adalah prioritas, jadi maklumlah kalau lama banget buku barunya terbit.
Saya pernah mengalami hal seperti masalah yang dihadapi Hannah, mungkin lebih tepatnya adalah adik saya. Dulu semasa kecil adik 'diasuh' oleh orang lain karena ibu saya bekerja, menjadikannya lebih dekat dengan pengasuh, yang dicari-cari bukan ibu saya, tapi si pengasuh tersebut, yeah agak miris memang tapi mau bagaimana lagi?
Kadang anak kecil bisa sangat dekat seseorang karena terbiasa, sering bertemu dan meluangkan waktu untuk bermain bersama. Tapi mau dipungkiri bagaimana pun ikatan anak dan ibu itu tidak bisa diputus, toh dengan berjalannya waktu ibu tetaplah seorang ibu, peran yang sangat penting bagi seorang anak, tinggal kita menemukan ritme kehidupan sebagai ibu rumah tangga. Saya ingat pesan Abah waktu saya memilih jurusan kuliah, beliau membebaskan saya memilih sesuai dengan minat saya, hanya dia berpesan hendaknya ketika saya lulus dan bekerja sesuai dengan jurusan itu dan ketika saya berkeluarga nanti, tidak menganggu urusan rumah tangga, gampangannya profesi saya nantinya tidak membuat saya melupakan kewajiban saya sebagai ibu, tugas yang paling utama adalah mengurus suami dan anak. Bukannya melarang untuk bekerja, malah bapak sangat menyarankan, karena untuk berjaga-jaga suatu waktu hal yang tidak kita inginkan dan harapkan terjadi, selain itu biar ngak jenuh juga dengan rutinitas yang sama setiap harinya. Jadi ibu rumah tangga juga termasuk profesi nggak gampang loh, apalagi ketika kita mempunyai anak kecil, itulah yang saya temukan dari diri Hannah.
Bagi Hannah, Upik termasuk berkah, asisten rumah tangga yang mengurus Razsya. Hannah kerja kantoran dari Senin hingga Jumat, tidak jarang pulang malam, waktu untuk Razsya terasa sedikit sekali, Sabtu dan Minggu adalah hari yang sangat berharga untuk bisa menemani Razsya di playground kompleks. Sayangnya, karena tubuh diforsir bekerja, kadang selama wiken dihabiskan untuk istirahat dan melukis. Razsya lebih banyak menghabiskan waktu bersama Upik. Untuk menebus kesalahannya, Hannah sering membelikan mainan, agar Razsya mempunyai 'teman kecil' yang dapat mengantikan dirinya. Semuaya berubah ketika Hannah mendengar Razsya mengigau "Razsya sayang Mbak Upik..." rasanya Hannah ingin muntah, dia tidak bisa membiarkan ini.
Aku nggak ingin Razsya mengenal kita hanya sebagai orang yang ngasih makan dan ngebeliin mainan saja, Wigra. Aku ingin Razsya tahu bahwa kita juga ada di situ karena sayang sama dia, karena ingin bermain bersama dia.
Sikap Hannah pada Razsya pun lebih menuntut, ingin memandikannya sendiri, ingin bermain dengannya. Dia ingin Razsya tidak mencari Upik. Tapi sewaktu bersama dengan Razsya, Hannah tidak bisa berkonsentrasi membaca majalah People, gagal membeli barang branded dengan harga murah hanya dengan sekali klik karena Razsya mencoba makan wortel mentah, tidak bisa kongkow dengan sahabatnya Smith seperti dulu, belum lagi Razsya sangat cerewet dan kalau bertannya tidak bisa berhenti, membuat pusing Hannah.
Memang susah, Sayang. Namanya juga jadi orangtua.
Ditambah, Razsya sangat dimanjakan oleh Eyang Yanni -ibu Hannah- yang cara mendidiknya agak tidak bisa diterima Hannah, hanya memanjakan dan tidak mengindahkan pesan-pesan Hannah dan Wigra demi mendidik dan mendisiplinkan Razsya sejak kecil. Contohnya memperbolehkan Razsya makan permen, nonton TV sambil makan cornflake, main drum menggunakan panci dan centong setelah itu tidak dibereskan lagi, memainkan alat-alat elektronik, sampai kalau sedang merengek minta sesuatu pasti langsung dikabulkan Eyang Yanni demi tidak berlama-lama tantrum. Hannah tidak bisa membiarkan itu, tidak ingin menjadi kebiasaan Razsya.
Ibu punya cara Ibu, begitu juga aku. I read many things, Mom. Time's Changed. Hal-hal yang dulu mungkin tidak apa-apa dilakukan -karena belum ditemukan dampak negatifnya- sekarang sudah tidak bisa lagi.
Cara sayang orang ternyata beda-beda, ya.
Hannah pun berusaha untuk menjauhkan Razsya dari kebiasaan Eyang yang tidak sejalan dengan pemikirannya, dia membawa Razsya ke kantor dan menitipkan ke nursery room, yang sayangnya juga bukan kegiatan sehari-hari yang 'sehat'. Pelan-pelan, Razsya ikut mencomot batang kecil cokelat tersebut dan meneliti wajah ibunya. "Ibu kenapa kerja melulu? Razsya kan pengen main sama Ibu." Melelehlah hati Hannah, lagi dan lagi, mendengar ungkapan sepolos ini. Ia langsung merangkul putranya erat-erat. Betapa jungkir baliknya perasaan seorang Ibu; dari kesal ke senang ke sedih ke gemas ke protektif, namun semua dapat diwakilkan hanya dengan satu kata, yaitu cinta. Keputusan besar pun diambil Hannah, ia mengundurkan diri dari kantor dan memutuskan jadi ibu rumah tangga -dan freelance ilustrator. Dan kembali ke misi pertamanya: memenangkan perhatian Razsya atas Upik.
Ada pengalaman berharga yang tak bisa dirasakan pada kejadian apa pun, kecuali dengan berkeluarga dan punya anak.
Bagian yang paling saya sukai adalah ketika Wigra mengajak Razsya bermain ke playground komplek. "Wow..." Gumam pelan Razsya menunjukkan rasa kagumnya belum juga sirna. "Razsya senang, ya?" "Iya. Tapi kalau sama Ibu, pasti nggak boleh keluar malam-malam begini. Pasti dimarahin Ibu." Wigra tertawa kecil. "Ibu biasanya marah karena khawatir - dan sayang sama Rasya." Razsya diam, menelaah kalimat sederhana yang baginya berarti rumit itu. "Raz..." "Ya, Ayah." "Jagain Ibu ya, nak. Hormati perempuan. Kalau nanti Razsya sudah besar dan mau berbuat seenaknya ke perempuan, ingat Ibu. Menyakiti mereka sama dengan menyakiti Ibu." Kalimat rumit berikutnya dari sang ayah. Ada nggak sih laki-laki kayak Wigra? Nikahi akuh! ) Dan bagian yang bikin trenyuh selain di atas adalah ketika Hannah tanya sama Upik, "Dulu... waktu saya masih ngntor, Razsya nyariin saya, nggak?" Penggen meluk Hannah.
Jaman sekarang esensi keluarga sudah 'kopong'. In my humble opinion, kalau sudah berkeluarga tapi masih pergi sama temen-temen melulu berarti elo alien di antara keluarga elo sendiri. Atau elonya kesepian. Dan yang paling penting -paling menarik buat gue- adalah kalau elo nggak bisa bermain sama anak elo sendiri lebih dari sejam dan prefer untuk nyuruh nanny menggantikannya, you're not ready for family.
Yang saya tahu sejak dulu adalah nikah itu nggak gampang, apalagi punya anak, tanggung jawabnya besar. Jadi nggak sembarangan kalau kita mau melangkah ke arah sana. Harus siap secara materi dan hati. Rencana punya anak berapa, biaya melahirkan, biaya DP rumah, transportasi pribadi, bahkan biaya pendidikan perlu direncanakan. Itu juga yang saya temukan di buku ini, membuat saya mengerti bagaimana susahnya menjadi seorang Ibu dengan berbagai masalah yang menimpanya. Hannah ingin membuat keluarga kecilnya bahagia dan tidak kekurangan, terlebih dalam kasih sayang. Hannah orang yang tegas, berkemauan tinggi, dan kadang tidak bisa santai, lihat bagaimana dia mencoba mengambil hati Razsya, hanya saja di awal dia terlalu memaksakan, ingin instan padahal waktu yang diberikan lebih banyak ke urusan kerja daripada ke Razsya, sewaktu bermain dengan Razsya pun dia masih fokus ke gadget dan majalah daripada keanaknya sendiri.
Dia tidak ingin Razsya lebih menyukai pengasuhnya daripada dirinya, dia tidak ingin Razsya salah didik. Menemukan ritme kehidupan sebagai peran barunya, itulah langkah yang diambil Hannah. Berbeda dengan Wigra, dia santai menghadapi masalah, tenang dan penuh pemikiran, bertanggung jawab, suami idaman wanita deh pokoknya, hehehe. Suka bagaimana dia mengahadapi Hannah yang lagi stress, suka ketika dia menggendong Razsya, Wigra ini semacam obat penenang bagi sang istri, tugas sebagai kepala keluarga dia jabat dengan amat sangat baik. Selain jatuh cinta dengan Wigra, saya juga jatuh cinta dengan kepolosan Razsya, entah kenapa setiap ada tokoh anak kecil di konflik orang dewasa, membuat dia menjadi magnet buku tersebut, begitu pula dengan kehadiran Razsya dibuku ini. Tulisannya masih khas Sitta Karina, karakter tokohnya yang tidak bisa dilupakan, yang membuat saya jatuh cinta kepada mereka, masih menyisipkan tentang fashion dan ilustrasi hasil karyanya (kalau di buku ini tidak tahu apakah karya penulis atau bukan, karena tidak ada namanya), saya membayangkan kalau Hannah ini mirip dengan kak Arie, hehehe. Saya kasih contoh salah satu gambar yang saya ambil dari blognya penulis, ada di buku ini juga.
Buku ini bisa dibilang suara hati para Ibu yang sibuk bekerja dan sibuk menjadi Ibu rumah tangga, kita yang belum menikah pun bisa belajar, menjadi seorang Ibu, seorang istri, dan belajar bagaimana kita menyelesaikan masalah yang akan muncul ketika kita berkeluarga nanti.
Pertama kali saya menyelesaikan ini waktu masih kuliah sekitar tahun 2013. Setelah selesai baca, saya meniatkan untuk kembali membaca buku ini lagi nanti ketika sudah mulai "membangun" keluarga baru.
Ini cerita tentang motherhood, perjalanan Hannah (tokoh utama) menemukan makna menjadi seorang ibu yang sesungguhnya. Ceritanya ringan, tetapi konfliknya terasa relatable dengan kehidupan para ibu bekerja dengan beragam tantangannya.
"Bersama anaknya, seorang ibu pun jadi belajar menyelami dirinya lebih dalam lagi."
"Ia akan selalu ingat dirinya menyusui Razsya sampai 6 bulan, bukannya 2 tahun, seperti ibu-ibu pejuang ASI lakukan. Walau susah, kini ia pun melepaskan serpihan penyesalan satu per satu. Yang sudah terjadi tak dapat diulang kembali. ASI di payudaranya sudah lama kering. Tapi, tidak begitu dengan kasih sayangnya. Segala kekurangan dan kekeliruan di masa lalu berusaha dipeluknya dengan ikhlas, dijadikannya fondasi untuk melangkah ke masa depan."
"Betapa jungkir baliknya perasaan seorang ibu: dari kesal ke senang ke sedih ke gemas ke protektif, namun semua dapat diwakilkan hanya dengan satu kata, yaitu cinta."
Salah satu pesan Wigra (suami Hannah) untuk Razsya : "Jagain Ibu ya, Nak, hormati perempuan.. Menyakiti mereka sama dengan menyakiti Ibu."
Dan dengan segala tantangan yang dialami dalam keluarga, melalui buku ini Sitta Karina mengingatkan kita untuk terus menjalani segala kesulitan dengan ikhlas dan menikmati kebahagiaan-kebahagian kecil yang ada. Intinya, menjalani hidup dengan sadar penuh, namun tidak terbebani.
Di antara buku-buku Sitta Karina yang lain, jujurnya Rumah Coklat ga terlalu aku suka. Mungkin karena temanya parenting, dan alur cerita ntah kenapa seperti buru-buru ditamatin. Jadi kesannya agak membosankan dan kayak, 'hah, udah nih ceritanya?' . Hannah Andhito, wanita karir, yang juga seorang seniman spesialis water color, yang merasa galau saat tahu anaknya lebih akrab Ama babysitter. Tapi di satu sisi, dia juga rindu dengan kehidupan bebas di masa-masa lajang dan pacaran dulu. Bisa keluar malam sepuasnya, ga mikirin ada anak di rumah. . Ketika harus dihadapkan dengan dua pilihan, anak atau karir, Hannah memilih yang pertama. Dia rela keluar dari kerjaan kantor yang menjanjikan demi bisa memberikan perhatian full terhadap Razsya, si bayi besar yang sudah mulai ceriwis dan jelas-jelas memilih babysitter daripada ibunya sendiri untuk teman bermain. . Dalam bayangan Hannah, dengan resign nya dia dari kantor, maka misi membuat Razsya berpaling dari babysitter, pasti akan jauuh lebih mudah. Beneraaaaan bakal gampang??? 😁. . Karena godaan pasti selalu ada. Termasuk ajakan clubbing dan perhatian dari cowo keren seperti Banyu yang naksir dirinya, ga peduli bahwa dia ibu beranak satu.Belum lagi ditambah masalah baru ketika Hannah tahu mantan suaminya yang bernama Ara, jelas masih mengejar sang suami dan ga keberatan untuk dijadiin wanita simpanan 😅. . See, dengan konflik yang lumayan banyak, tapi tebal buku ini hanya 226 halaman, yang menurutku sangat singkat untuk menguraikan semua masalah di atas. Makanya aku bilang ending seperti ditulis buru-buru. Bikin ga klimaks 😁
Novel pertama Kak Sitta tentang motherhood, dulu waktu SMA baca ini nggak begitu paham, baca karena memang selalu suka dengan gaya penulisannya Sitta Karina. Years later, setelah menjadi ibu dan baca novel ini, cerita Hannah sangat relatable! Meskipun bukan ibu pekerja, tapi rasanya juggling antara ngurus balita, ingin me time, mendadak ada kerjaan itu emang dirasakan banget. Belum lagi mendengar komentar-komentar orang lain (termasuk the in laws... ehm) yang bikin baper.
Novel ini aku rekomendasikan banget untuk ibu-ibu muda di luar sana yang butuh bacaan ringan untuk menemani me time mereka di saat si kecil bobo.
Though it was ended like classic Disney's fairytale, the plot was ultimately naked. It twas Jakartans portrayal with its "template" troubleshoot. Then the "template" itself that make the story true frank. It could be happens to anyone who choose to live in big cities. In some parts of the lines, several times it feels just like tickled my center ego. Real man should read Mom Lit. Really. Wkwk
Sebetulnya aku cukup suka dengan moral values yang ada di buku ini. Tapi aku bener-bener kurang cocok dengan gaya penulisan Sitta Karina di sini dan sangat tidak cocok dengan tokoh utama di buku ini, Hannah. Jadi pada akhirnya hanya 3 bintang untuk buku ini.
Tidak sepenuhnya salah jalan aku baca momlite sekarang kan. Keren banget bukunya, menurutku bisa jadi healing juga saat menyimak cerita Hannah dan Wigra yang bisa sehangat cokelat. Love this book so much <3
Kisah yang heart warming dengan tokoh utama wanita yang superb. Aku suka sekali buku ini. Hampir-hampir tidak percaya penulis pernah membuat genre fantasi yang aduhai. Selengkapnya bisa dibaca di sini ^o^/ https://www.reviewimpy.my.id/2021/12/...
novel yang membuat pembacanya selalu gemas, suka sekali dengan cara Kak Sitta menuliskannya. kisah tentang ibu - ibu muda ini memang sangat menarik untuk diperhatikan dan diceritakan. sukses selalu kak Sitta Karina
Sekali lagi, saya nemu buku yang bikin saya tertarik baca karena covernya yang cakep.
Hannah Andhito, punya karir keren di Bliss & Hunter, sebuah multinational company, penggagas UberSound yang sukses besar dan bikin Hannah makin sibuk, sehingga dia harus pulang malam dan waktu buat anaknya, Raszya, 20 bulan makin sedikit.
Cerita dimulai, waktu dia mendengar anaknya itu ngoceh kalo anaknya lebih sayang pada Mbak Upik, pengasuhnya.
Sebetulnya, ceritanya bisa ketebak. Hannah berusaha jadi ibu yang sempurna di rumah, di mata anak, suami juga ibunya, tapi di sisi lain dia juga mesti bekerja secara profesional karena kesuksesan acara yang digagasnya sebelumnya, mengantarkannya pada proyek selanjutnya.
Nah, di sini, Hannah menganggap Upik, pengasuh anaknya, sebagai saingan berat dalam mendapatkan perhatian Raszya.
And the story goes....
Struggling antara pilihan mau tetep kerja di B&H, jadi ibu rumah tangga full yang bisa ngawasin Raszya 24 jam, berantem sama Eyang Yanni (mama Hannah) karena pola asuh yang berbeda dengan yang dimaunya, belum lagi serangan tetangga sebelah yang termasuk ASI militan, termasuk gaya hidup sahabatnya, Smitha, plus ada laki-laki buaya yang selalu punya cara buat ngedeketin Hannah.
dan seterusnya.
Hummm...
Ini buku...
GUE BANGET!
hahaha...
Terutama di bagian: dilema antara kudu berangkat kerja dan masalah anak di rumah. Bedanya, anak-anak saya ada di bawah pengasuhan eyangnya langsung, nggak pake pengasuh dari luar. Selain faktor ga percaya orang laen selain eyangnya, saya nggak mau ada orang dari luar keluarga yang ikut berperan dalam pengasuhan anak-anak saya. Kecuali guru di sekolah, ya. Eh, tapi guru kan laen. Bukan pengasuh :P
Cuma, bagian doyan merokok, minum liquor, clubbing, baca People-nya, itu bukan saya banget :))
Berhubung gaji saya ga sebanyak alaihim gambreng, saya cukup tahu diri untuk nggak pengguna barang bermerk terbitan luar negeri, KW sekalipun :D Saya milih jadi pengguna brand lokal aja. Lebih jelas. *malah curcol*
Nah, masalah struggling antara mau berangkat kerja dengan harus menyaksikan wajah anak-anak saat saya mau berangkat kerja, itu makanan terpahit yang harus saya rasakan sehari-hari. Walau, banyak sih, yang udah nyerang saya dari dulu, "trus kenapa milih kerja?" Dan saya merasa ga perlu curhat lagi di sini kenapa untuk saat ini saya milih bekerja di luar rumah :D #udahbosen, ceritanya.
Ya, saya tahu rasanya diserang oleh ASI militan. Ngalamin banget waktu anak pertama, walau anak pertama lulus ASI sampai 2,5 tahun :D. Dan untuk anak kedua, dia lulus ASI eksklusifnya selama 6 bulan dan masih minum ASI sampai hari ini, di usianya yang menjelang 19 bulan. Alhamdulillaah. Nah, karena saya tahu rasanya diserang oleh para ASI militan, saya nggak mau ngejudge orang-orang yang ga kasih ASI ke anaknya. Really, dijudge itu sama sekali tidak mengenakkan :'( Tahu apa mereka?
Cuma, nih... ada beberapa keganjilan yang saya temukan...
#1. Di usianya yang ke-20, Raszya sudah bisa berkomunikasi dua arah dengan sangat lancar. Bisa bercerita, malah. Bisa nanya-nanya layaknya anak umur 4-5 tahun. Mudah-mudahan, cuma saya yang aneh.
Soalnya, saya mengamati anak-anak di usia segitu, kayaknya belum ada yang ngomongnya selancar itu sampai dia berusia 3 tahun, mungkin?
Maksud saya, walau dia sudah bisa berkomunikasi dua arah, biasanya nggak sampai satu kalimat lengkap. Eh, tapi, mungkin, ini pengalaman pribadi penulis. Jadi, ya, kalo pengalaman pribadi penulis, saya aja yang terlalu merasa aneh :D
#2. Di situ ada salah satu sobatnya Hannah, namanya Ditha gitu, ya, yang kepaksa resign karena anaknya termasuk penyandang Sindroma Asperger. Dikasih keterangannya, sih. Oh, well, meski cuma dua frasa istilah aja, cuma penjelasannya agak... bikin gerah. Di situ dibilangnya "salah satu bentuk autism", walau memang penulis kasih sumber dari mana dia dapat keterangan itu.
Kenapa saya agak gerah? Soalnya, anak saya juga didiagnosa Sindroma Asperger. Asperger itu berbeda dengan autisme dan bukan salah satu bentuk autisme. Walau pun di Wikipedia disebutnya begitu. Ciri-cirinya sekilas sama, tapi sebetulnya jauh berbeda. Jadi, yah, nggak bisa dibilang sama, dong... Sebab, treatment-nya pun berbeda :)
#3. Err.. saya nemu kata "memagut bibir Hannah" di situ. Saya udah lamaaaaa banget ga nemu kata ini. Terakhir saya nemu kata "berpagutan" atau "memagut" itu di novel keluaran tahun 80-an. Jadi... saya agak geli aja bacanya... heuheu... Rasanya so last decade... :D *walau saya tahu, tentu ini bahasa Indonesia sesuai EYD, tapi tetep aja... geli geli gimana gitu...*
soalnya, kalo menurut KBBI daring, pagut itu adalah....
1pa·gut v, me·ma·gut v mematuk; mencatuk; menggigit (tt ular); pa·gut·an n 1 hasil memagut; 2 mangsa yg dipagut
ihik...
Nggak nemu typo, saya cukup puas :D Dari ide cerita, bagus. Saya cukup kesepet dan sempet mikir banyak :D
Well, saya belum terbiasa dengan gaya cerita mbak Sitta Karina ini, jadi kayaknya 3 bintang will be okay :D
Judul: Rumah Cokelat Penulis: Sitta Karina Penerbit: Buah Hati Halaman: 226 halaman Terbitan: Januari 2012
Hannah Andhito adalah tipikal perempuan masa kini di kota besar; bekerja di perusahaan multinasional, mengikuti tren fashion dan gaya hidup terkini sambil berusaha menabung untuk keluarga kecilnya, sangat menyukai melukis dengan cat air (yang ternyata baru ia sadari ini adalah passion-nya!), memiliki suami yang tampan dan family-oriented, sahabat SMA yang masih in touch, serta si kecil Razsya yang usianya jalan 2 tahun.
Sempurna? Awalnya Hannah merasa begitu sampai Razsya bergumam bahwa ia menyayangi pengasuh yang sehari-hari selalu bersamanya. Perjalanan Hannah menemukan makna menjadi seorang ibu yang sesungguhnya dimulai sejak momen itu.
Review
Salah satu dari 2 buku yang saya rencanakan untuk baca sebelum lanjut lagi dengan permainan membaca saya. Sekalian buat mengisi salah satu tantangan baca saya :D
Sebenarnya label "mom lit" di buku ini agak bikin keder juga. Soalnya saya kan bukan seorang ibu dan juga tidak ada rencana untuk menjadi seorang ibu. Jadi membaca buku yang ada embel-embel "mom lit" itu rasanya gimana gitu. Cuma saya pikir-pikir lagi, sudahlah. Toh, tidak ada salahnya saya "mengintip" ke dalam dunia yang asing bagi saya itu.
"Rumah Cokelat" pada dasarnya bercerita tentang Hannah, seorang wanita, ibu, istri, anak, dan pekerja yang menghadapi lika-liku kehidupan di ibu kota. Saat anaknya mengigau bahwa dia sayang sama pengasuhnya, Hannah berhenti sejenak dan mulai memikirkan lagi posisinya sebagai seorang ibu.
Topik yang diangkat di sini cukup menarik. Saya suka pada tantangan-tantangan yang Hannah hadapi sehari-hari. Baik dari kerjaan, mengasuh anak, ibunya sendiri yang terlalu memanjakan cucunya, anaknya yang lebih memilih pengasuhnya, sampai ke teman yang rada gak beres karena membawa seorang laki-laki yang pengin menggoda Hannah walau tahu kalau dia sudah berkeluarga. Untungnya ada Wigra, suaminya yang kalem dan siap meringankan perasaan Hannah. Eh tapi, kok belakangan Wigra kembali rutin berolahraga? Lalu siapa cewek yang mengirim pesan ke ponselnya? Nah, loh.
Nuansa metro pop sangat kental di buku ini. Terbukti dari penggunaan Inglish, Indonesia-English, yang bertebaran di buku ini. Mulai dari dialog sampai ke narasi. Merek-merek papan atas? Tidak usah ditanyakan lagi. Sudah pasti ada.
Soal Inglish ini ada 3 tempat yang sempat bikin saya berhenti pas baca. Pertama waktu Hannah dan Eyang Yanni, ibunya Hannah yang berusia sekitar 60-an, tiba-tiba bicara dalam bahasa Indonesia-Inggris. Saya sempat mikir, gaul amat nih eyang. Cuma selanjutnya dijelaskan kalau Eyang Yanni ernah kerja di IBM, jadi wajar kalau bisa bahasa Inggris. Tapi tetep kerasa aneh.
Kedua, waktu di halaman 173 ada narasi, "Belakangan ia jadi terbiasa mingle tanpa banyak bicara dengan para asisten rumah tangga [...]."
Saya sampai buka Google Translate dulu biar paham apa maksud kalimat itu. Ooh, mingle itu maksudnya bergaul.
Terakhir di halaman 176 pas ada narasi, "Tentu saja Hannah amused melihat hal ini."
Hal lain yang terasa aneh buat saya adalah si-anak-yang-namanya-susah- dieja itu. Si Razsya. Saya harus selalu lihat ulang catatan saya di GR ini biar ingat cara menulis namanya.
Entahlah, saya merasa dia terlalu dewasa untuk ukuran anak 2 tahun. Entah mengapa saya merasa usia anak ini lebih tua 5-6 tahun dari usianya di novel. Tapi, ya, itu cuma perasaan aja sih. Berhubung saya sendiri bukan ahli tumbuh kembang anak, jadi tidak tahu anak seumur Razsya biasanya bisa apa saja. Kan, saya harus lihat cara tulis namanya lagi.
Secara keseluruhan, bukunya cukup menarik dan menghibur. Ini pertama kalinya saya membaca karya Sitta Karina dan rasanya saya akan membaca karyanya lagi di masa depan.
Hannah Andhito, ibu seorang anak dan istri dari Wigra Andhito, menjalani kehidupannya dengan predikat perempuan bekerja yang terjebak dalam kompleksitas manusia modern. Kompleksitas yang melekat sebagai bagian dari kaum urban Ibukota. Tinggal di daerah pinggiran dengan mobilitas dan rutinitas yang menjenuhkan. Karenanya, ia seringkali kehilangan waktu untuk menemani Razsya.
Hannah kemudian menemukan tantangan dari babak kehidupan selanjutnya yang tidak pernah mudah. Membesarkan anak dan menemukan kembali gairah dalam pernikahan. Ketergantungan Razsya terhadap pembantu rumah tangganya, Upik, menghadirkan konflik tersendiri dalam batin Hannah. Hannah mulai menanyakan perannya sebagai Ibu. Kehidupan pernikahan yang telah dijalaninya pun ia coba untuk susun kembali demi sebuah kehangatan atas nama cinta.
Setelah berjibaku dengan beberapa kenyataan yang menyeruak dihadapannya, Hannah mengambil sebuah keputusan besar. Keputusan yang tidak pernah mudah. Hannah memutuskan untuk berhenti dari kantornya dan menjadi seorang freelancer agar mempunyai lebih banyak waktu bersama Razsya. Ujian sesungguhnya pun dimulai. Upik, memutuskan untuk berhenti bekerja. Sulit bagi Hannah untuk menerima kenyataan itu tapi ia harus merelakan Upik pergi. Maka sejak itu bertambahlah beban Hannah. Belum lagi perbedaan sudut pandang dalam membesarkan anak yang sering kali bertentangan dengan cara pandang mertua.
Untungnya, figur suami seperti Wigra cukup sabar dan telaten untuk menghadapi lika-liku kehidupan rumah tangga yang telah mereka bina.wigra mampu menjadi layar sekaligus haluan yang cukup kuat bagi Hannah. Wigra lebih dari sekedar figur suami idaman yang sangat sabar dan memahami perasaan istri. Rumah Cokelat menawarkan pengalaman yang berbeda dalam memahami kehidupan berumah tangga. Konflik yang ada didalamnya pun sederhana dan seringkali dialami dalam keseharian. Konflik-konflik eksternal antara pasangan muda, kehidupan bertetangga, dan berdamai dengan cara pandang mertua hadir silih berganti ditambah masa lalu yang menyeruak kembali. Pun, konflik dalam diri Hannah yang tidak ingin diingat Razsya sebagai orang yang mampu membelikannya mainan saja.
Penuturan yang sederhana atas konflik yang disajikan membuat buku ini lebih mudah dicerna bagi siapa saja yang ingin menemukan makna dibalik sebuah potret kehidupan Penggalan konteks kehidupan dalam berumah tangga dalam Rumah Cokelat memberi nilai dan wawasan positif dalam menjalin mahligai rumah tangga. Marriage was never easy.
Catatan Seorang Kolumnis Dadakan
JADI IBU BEKERJA DI JAKARTA TIDAK MUDAH!
Agaknya, kalimat di bagian sampul belakang buku ini yang membuat saya tergerak untuk kemudian membacanya. Dari kalimat diatas, saya dapat mengambil kesimpulan awal bahwa Rumah Cokelat bercerita tentang seorang working mom yang tidak ingin kehilangan momen-momen kebersamaan dalam keluarga sekaligus tidak mau lepas dari kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri. Hipotesis itu ternyata tidak terlalu salah.
Mengejutkan rasanya untuk membaca buku yang mengalir seperti Rumah Cokelat ini. Seakan hanyut dalam gelombang kehidupan yang memang sangat dekat dengan keyataan sehari-hari. Fenomena yang kini banyak dialami oleh rata-rata perempuan bekerja. Dengan segala kompleksitasnya, hidup kemudian memberikan suatu pengalaman untuk menghandle itu semua.
Hannah, hanyalah figur kecil dalam kompleksitas manusia modern yang serba instan, serba cepat, dan serba artifisial. Hannah berhasil lepas dari jeratan yang mengantarkannya pada suatu pengalaman lain dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Membesarkan anak dengan segala kerumitan yang membutuhkan lebih dari sekedar ketelitian. Berjuang sekuat tenaga dalam ikatan pernikahan dengan segala konsekuensinya.
Rumah Cokelat berhasil menggambarkan suatu potret kehidupan yang benar-benar dialami oleh warga Ibukota lengkap beserta konflik-konflik yang melingkupinya. Potret seorang ibu muda yang perlahan tapi pasti sanggup menaklukkan berbagai tantangan dalam kehidupan keluarganya. Interaksi dalam kehangatan keluarga adalah sesuatu yang harus diperjuangkan. Demi tercapainya satu tujuan akan makna berartinya seorang Ibu bagi keluarganya.
First review in Indonesian. Brace yourself. Righttt, just kidding about that last part.
*****
Um. Penasaran. Dari segini banyak yang baca, apa cuma aku ya yang berasa bukunya "biasa"? 3 bintang, yang dalam kamusku artinya "oke". Standar, enak sih buat dibaca, tapi bukan tipe yang keren banget sampe ga bisa ditaro. Padahal biasanya bukunya kak Arie kukasih rating 4 bintang ke atas.
Alasannya, bisa jadi gara-gara genre. I'm 15, for God's sake! Iya tahu, itu salahku juga, ngapain beli padahal jelas-jelas ada tulisan 'Mom-Lit' -_-' Penasaran kali ya, soalnya biasanya cerita-cerita Arie are just sooo relatable. Tapi buat yang ini, nggak deh makasih.
Bisa juga gara-gara... brand-drop. (just a word I created for an action similar to name-drop) Biasanya, kalo di novelnya ka Arie yang lain, apalagi Hanafiah, nyantai aja ngadepin brand-drop. Kadang malah jadi referensi kayak apa hidup orang kaya itu :P Tapi... ga tau lah ya. Yang kejadian di Rumah Cokelat malah jadi berasa nyebelin. Sesekali aku pasti nggak tahan buat komentar, "Ya udah ga usah segitunya juga kaleeeee." *rolls eyes* Apalagi, mengingat kondisi keluarga Hannah yang lagi berusaha hemat, nabung, dll. Ya kalo mau hemat bersikaplah kayak keluarga "normal". Atau mungkin definisiku tentang keluarga "normal" aja yang udah out of date. Entah ya, kadang pandangannya Hannah soal hidup dan dunia terasa terlalu... high-class. And I expected something more relatable from her. Maybe I hoped for too much.
Yes, I'm 100% aware that I'm getting TOO worked up over it, like I always do to small flaws in some novels. Tapi bahkan walaupun ga ada segala hal yang bawa-bawa soal orang kaya, kayaknya aku bakal tetep ngasih nih novel bintang 3. It just wasn't good enough to keep me awake through the night. Lack of events, maybe. Bukannya ga ngerti plotnya--ya emang keseluruhan plotnya kan soal Hannah yang berusaha dapetin Razsya kecilnya lagi, tapi ya kasih apa lagi gitu supaya novelnya berwarna. Banyak yang komentar, ini novel isinya kegiatan sehari-hari yang tetep berasa seru dibaca. Semua novel, cerpen Arie kan emang kaya gitu, dan intinya toh tetep bagus. Jadi kalo boleh jujur, mending sesekali didramatisir sedikit deh kak Arie... hmm, mungkin kayak di Titanium. Yang sampe ada kejadian Tejas diculik ke Belanda segala. Toh kalo dia yang dramatisir ga bakal lebay juga hasilnya, so what's the harm?
Kalo ternyata ada yang kebetulan baca ini dan sebel... silakan. Komentar juga silakan. Review di Goodreads kan ga ada yang sepenuhnya objektif; semuanya pendapat pribadi dan pasti ada beberapa yang beda pendapat. This review is simply one of many.
Rumah coklat adalah salah satu novel terbaru Sitta Karina yang bergenre momlit. Novel ini bercerita tentang seorang ibu muda yang bernama Hannah Anandhito. Hannah adalah tipikal perempuan masa kini di yang hidup di kota besar; bekerja disalah satu perusahaan multinasional, mengikuti trend fashion dan gaya hidup terkini sambil berusaha menabung untuk keluarga kecilnya, sangat menyukai melukis dengan cat air yang pada akhirnya disadari Hannah adalah passion-nya, memiliki suami yang tampan dan family-oriented., sahabat SMA yang masih in touch, serta si kecil Razsya yang usianya jalan 2 tahun.
Sempurna? Awalnya Hannah merasa begitu sampai Razsya bergumam bahwa ia menyayangi pengasuh yang sehari-hari selalu bersamanya. Disinilah perjalanan Hannah menemukan makna menjadi seorang ibu sesungguhnya dimulai. Ada perasaan tak terima ketika putranya yang bermimpi, mengucapkan ia menyayangi pengasuhnya. Ada perasaan cemburu, ketika pengasuh Razsya lebih tahu tentang Razsya dibanding dia yang notabene adalah ibunya. Hannah tak ingin, kelak Razsya mengenalnya hanya sebagai orang yang selalu membelikannya mainan. Sejak itu, Hannah berusaha meluangkan lebih banyak waktu untuk Razsya, tapi tetap tak mudah, tak banyak waktu yang bagi seorang karyawan yang dituntut untuk bekerja,ditambah tinggal di Jakarta yang macet, membuat sangat sedikit waktu yang bisa Hannah luangkan untuk puteranya. Hanya weekend, itu pun Hannah terkadang ingin mengisinya dengan melukis. Hal ini selalu membuat Hannah uring-uringan. Beruntungnya dia memiliki suami yang sangat pengertian. Tak hanya itu masalah yang dihadapi Hannah, pola mendidik Razsya yang beda antara dia dan ibunya pun bikin Hannah uring-uringan dan akhirnya selalu cekcok dengan ibunya.
Ketika pengasuh Razsya harus mengundurkan diri karena urusan keluarga, akhirnya Hannah memutuskan berhenti kerja, dan berusaha meneruskan passionnya melukis dengan cat air yang bisa dikerjakannya dirumah sambil mengasuh anaknya. Hannah yang biasanya sibuk, harus dirumah seharian, ini membuat ia bosan dan pada akhirnya sering keluar hang out dengan teman masa SMA nya. Godaan dari wanita lain, dan pria lain dalam rumah tangga Hannah. Pada akhirnya, usaha Hannah untuk menjadi ibu yang baik buat Razsya membuahkan hasil.
Aku paling suka salah satu quote di buku ini,
” life is also about dancing in the rain,instead of just surviving the storm”
Menurutku, Rumah Coklat sangat cocok dibaca oleh ibu-ibu muda, buat wanita-wanita yang lagi bersiap membina rumah tangga. :) i’m sure, you will get something after read this book.
Rumah Cokelat adalah potret pasangan muda dari kelas middle-up yang hidup di kota besar (baca: Jakarta). Potret pasangan suami-istri yang berusaha bekerja profesional demi menciptakan kenyamanan keluarga. Betapa membagi waktu antara pekerjaan di kantor dengan kenyamanan di rumah menjadi hal yang memang perlu diperjuangkan. Betapa waktu 24 jam seperti selalu kurang kalau minimal 4 jam harus dihabiskan di tengah kemacetan ibukota selama perjalanan dari/ke rumah-kantor.
Saya adalah penggemar seluruh buku Hanafiah yang ditulis Sitta Karina. Jadi, saya terbiasa menikmati alur yang kompleks, gaya hidup glamor khas socialite dan setting tempat yang high-class. Tetapi, itu semua justru tidak ada di Rumah Cokelat. Rumah Cokelat dikemas dengan alur ringan dan menampilkan gaya hidup sederhana tetapi nyaman yang banyak dianut pasangan muda bekerja di Jakarta. Mungkin menyesuaikan dengan label ‘Momlit’ yang cenderung ingin bacaan ringan :p Apakah saya kecewa? Tentu saja tidak karena penggambarannya justru sesuai dengan kenyataan sehari-hari. Masih ingin have fun dengan teman-teman, tetapi sering terhambat karena bagaimana pun ketika sudah berkeluarga, maka urusan rumah harus menjadi prioritas.
Satu hal yang saya suka dari buku ini adalah ada sisipan solusi dari setiap permasalahan yang muncul. Saya suka bagaimana Hannah-Wigra tetap menjaga masalah tertutup diantara mereka saja, tidak diumbar ke teman terdekat sekalipun. Saya suka bagaimana Hannah-Wigra berusaha menyelesaikan masalah dengan keterbukaan komunikasi. Saya suka Hannah-Wigra termasuk pasangan dengan komitmen kuat, sekalipun godaan datang dari mana-mana.
Saya agak terusik memang dengan passion Hannah yang sepertinya kurang dieksplorasi, pun akhir cerita yang sepertinya tanggung. Tetapi, saya tetap merekomendasikan buku ini untuk dibaca oleh siapa saja yang ingin tahu realita hidup berumah tangga di kota besar.
"Kata kasihan lebih cocok dberikn utk org yg ingin kaya, tp ga mau bkrja atau yg br bs mrasa senang stlh mengintimidasi org lain"
"Ada pengalaman berharga yang tak bisa dirasakan pada kejadian apapun, kecuali dengan berkeluarga dan punya anak"
Dua quote tadi adalah kata-kata dari Wigra, suami Hannah dan papa dari Razsya. Entah kenapa dari awal membaca novel ini, sosok Wigra begitu menonjol dalam menenangkan suasana pada kehidupan rumah tangga Hannah dan Wigra. Penggambaran tokoh suami yang tenang, yang mampu menenangkan ketidakstabilan istrinya, serta kemampuannya sebagai ayah yang selalu dinantikan anaknya menjadikan tokoh Wigra begitu sempurna. Untuk seorang Hannah, sosok ibu yg merasa bersalah karena tidak menjadi pejuang ASI untuk anaknya, juga ibu pekerja yang kehidupan sosialnya menuntut untuk terus eksis, serta kesibukan dengan pekerjaan juga hobinya yang diawal cerita sangat sulit untuk disesuaikan dengan kebutuhan anaknya. Namun pada akhirnya, keputusan untuk berhenti bekerja dan pure sebagai ibu rumah tangga juga merupakan tantangan tersendiri untuk Hannah juga Wigra. cobaan yang datang dari pihak luar, mampu diatasi oleh mereka berdua. Yang pada akhirnya bisa membawa mereka pada rencana masa depan yang lebih baik untuk mereka bertiga. Ada sebuah pelajaran berharga yang lagi-lagi saya dapatkan dari kata-kata Wigra diakhir cerita pada Novel ini. Bahwa, berjuang mempertahankan rumah tangga, tidak hanya untuk kebahagiaan anak saja. Lebih dari itu, Mempertahankan rumah tangga adalah untuk memperjuangkan kebahagiaan mereka seluruhnya yang ada di rumah tangga; ayah, ibu, juga anak-anaknya. Well, 3 bintang dari saya untuk Momlit satu ini.
saya mendapatkan buku ini di sebuah toko buku kecil di kota ini. karena suntuk bangte, kahirnya ngeloyor ke toko buku dan kecewa karena buku yang tresedia terbatas. Dari rumah sudah janji hanya akan membeli buku ringan, dan ini sulit. Buku ynag selalu menarik perhatian saya selalu buku berat (serius). Singkat cerita, mulailah saya membaca. hemm..ringan ya bahasanya. Tidak perlu mengulang ulang paragraf agar bisa memahami benar. mungkin karena saya yang meskipun masih lajang begitu memahami situasi Hannah, Wigra, dan sempat pula mengalami yang dirasakan Rasya. Novel ini berhasil mendoktrin saya lebih dalam lagi, tentang pilihan hidup setelah memiliki anak adalah menjadi ibu rumah tangga. kembali ke kodrat. saya engineer, mungkin akan aneh di mata sebagian besar orang kenapa saya memilih itu. Tak ada yang sia-sia, termasuk gelar saya. Bukankah mengurus anak dengan tangan sendiri, lalu mendidik anak dengan pengetahuan yang kita punya, itu adalah bakti seorang wanita yang sudah berkeluarga? Jangan sampai anak kita mengenal kita hanya sebatas sebagai seseorang yang membelikan mainan. Dan justru si anak lebih mengenal si nanny (babysitter) sebagai seorang yang memberikan kehangatan serta rasa aman. Baby sitter hanya sementara bersama dia, jika kita mengandalkan sepenuhnya tanggung jawab mengasuh anak ke orang lain berarti kita belum siap berkeluarga. Salah satu hal yang harus saya lakukan kelak jika sudah berkeluarga yaitu akan bersama suami rajin berolahraga. hehehe Kata rumah cokelat yang dijadikan judul buku ini hanya terbaca 1x di bagian akhir :)
Pertama, buku ini sebenernya tidak diperuntukkan orang seumur saya. Nikah belom apalagi punya anak. Umur belakangnya masih teen-teen-an. So? Kenapa saya beli buku ini? Karena pengarangnya hehe. Saya suka sama bukunya kak sitta karina.
Selesai baca buku ini, yang pertama kali terpikir sama saya adalah nyeletuk, "ibu-ibu jaman sekarang banget sih." kisah yang bener-bener down to earth deh hahaha sok pake bahasa keren gini. Dan saya langsung menyadari. Gak enak ya ternyata di gituin. Saya juga, kalau ada di posisi ceweknya bakal ngerengek-rengek mungkin. Mana nih me time nya? Kapan? Kapan? Mentang-mentang jadi emak-emak gak bisa seneng gitu? Tapi ngeliat ada wigra di sampingnya (wigra atau wirga lupa) yang apa teh? Family-man ya? Pokoknya cowok yang punya sifat kekeluargaan, saya langsung. Wah begini nih yang harus di cari hehe padahal umur ge baru berapa. Maksudnya langsung ngangguk-ngangguk aja gitu. Secara wigra itu orangnya sabar paeh. Lebih bisa berpikir jernih dan gak rempong kayak emak-emak.
Dan saya sadar, gak hanya di hubungan pernikahan aja. Semua permasalahan, harus diselesain dengan kepala yang jernih dan penglihatan yang keluar dari lingkaran. Pelajaran pertama yang mendasar sih, kalau udah jadi ibu-ibu berkeluarga harus bersikap dewasa. Itu untuk saya. Dan juga, harus belajar serba sendiri dan gak tergantung sama nanny-nanny itu ya. Ngomong sekarang sih gampang. Entar pas di coba? Saya tau, susah banget. Apalagi kalau udah nyangkut kebiasaan.