Buku ini merupakan memoar perjalanan hidup Tan Malaka yang ia tulis sendiri di tahun 1947. Bercerita tentang kisah beliau dari waktu ketika masih bersekolah di Kweekschool (sekolah guru) Bukit Tinggi, melanjutkan sekolah ke Belanda, bekerja di Deli, tinggal di Semarang & bersinggungan dengan Sarekat Islam (SI), ditangkap di Bandung & diasingkan ke Belanda, bertualang ke Jerman, Rusia, China, Filipina, Hongkong, Birma, Singapura lalu kembali ke Indonesia (Medan, Jakarta & Bajah, Banten) pada zaman penjajahan Jepang, saat Perang Dunia 2 sedang berlangsung.
Ada banyak hal menarik dari Tan Malaka yang saya pahami & dapat dijadikan sebagai suri tauladan.
Pertama, sosok Tan Malaka yang idealis, tahan pada kondisi yang sulit & begitu jenius. Hal ini terlihat pada kemampuan beliau dalam menganalisa kondisi sosial-politik-ekonomi di tiap era & tempat melalui bacaan & pengalaman beliau, luasnya bidang ilmu yang ia kuasai (filsafat, astronomi, kimia, matematika, sejarah, hukum, politik, sosial, ekonomi & linguistik). Khusus dalam bidang linguistik, Tan Malaka menguasai setidaknya 6 bahasa (Jerman, Inggris, Prancis, Tiongkok, Tagalog & Melayu) yang bukan hanya menunjukkan intelektualitas beliau, tetapi juga turut membantu ia dalam beradaptasi & bertahan hidup selama berpindah-pindah daerah guna menghindari kejaran kolonial Belanda beserta sekutunya (Inggris, Prancis & AS).
Selain itu, beliau masih menyempatkan diri untuk membaca & menulis catatan/buku meski dalam kondisi fisik, keuangan & sosial yang buruk. Hal ini tentunya menjadi tamparan bagi orang yang hidup seleluasa zaman sekarang.
Kedua, kemampuan beliau dalam menyamar, memalsukan identitas (nama, ras, riwayat hidup, pendidikan, bahkan kewarganegaraan!) & berpindah-pindah negara. Menurutku, kemampuan Tan Malaka yang satu ini sudah melebihi intel & penjahat kelas kakap. Semua itu dilakukan bukan dengan jimat/ilmu mistik, tapi dengan dialektika & logika! Ditambah nasib baik tentunya.
Ketiga, ia masih dapat menjalin relasi dengan tokoh-tokoh penting di negara lain, terutama yang berhaluan komunis, seperti Stalin & dr. Sun Yat Sen meski dalam pelarian & tanpa status kewarganegaraan. Meski awalnya ia warganegara Belanda selama diasingkan, akan tetapi status tersebut dicabut karena beliau sudah meninggalkan Negeri Kincir Angin tersebut lebih dari 5 tahun.
Empat, tetap memikirkan kemerdekaan rakyat Indonesia meski berada di luar negri & dirinya sendiri menghadapi banyak kesulitan.
Lima, mudah menjalin relasi & berbaur dengan masyarakat lokal, terutama yang berlatar belakang buruh, petani & intelektual. Kekejaman imperialisme-kapitalisme & ketidaksetaraan hukum di zaman penjajahan juga menimbulkan empati pada diri beliau terhadap masyarakat yang tertindas. Oleh karena itu, beliau tak segan berbaur dengan mereka. Dari relasi inilah Tan Malaka juga dapat bertahan hidup & belajar banyak hal, seperti ketika beliau di Kanton, Manila & Iwe (China).
Meski aku harus membaca buku ini dengan lambat guna memahami tulisan dalam bahasa Indonesia gaya melayu lama & ada banyak kesalahan penulisan seperti kata "dari" yang malah ditulis jadi "dan", secara garis besar buku ini bagus sekali. Pembaca dibawa masuk ke dalam suasana saat suatu peristiwa berlangsung beserta pemikiran Tan Malaka itu sendiri.
Entah kapan lagi muncul sosok pejuang & pendidik sejati sekelas Tan Malaka di Indonesia. Kita berdoa semoga saja kelak ada...