Kau bilang Adam berdosa gara-gara hasutanku? Kalau begitu, atas hasutan siapa aku melakukan dosa? Aku sebenarnya melakukan apa yang Dia perintahkan, dan aku sepenuhnya patuh pada keinginan Allah. Mau bagaimana lagi? Tak ada ruang yang luput dari kuasa-Nya. Aku bukanlah tuan bagi keinginanku sendiri.
Aku menyembah Allah selama 700 ribu tahun! Tak ada tempat tersisa di langit dan bumi di mana aku tak menyembah-Nya. Setiap hari aku berkata pada-Nya, “Ya Allah, anak keturunan Adam menolak-Mu, namun Engkau tetap bermurah hati dan meninggikan mereka. Tapi aku, yang mencintai dan memuja-Mu dengan pemujaan yang benar, Engkau buat menjadi hina dan buruk rupa.”
Lihatlah segala penderitaan dan kesengsaraan yang telah ditimpakan-Nya atas dunia ini. Lihatlah betapa Monster itu melakukan semuanya hanya untuk menghibur diri! Jika ada yang terlihat murni, dibuat-Nya ternoda! Jika ada yang manis, Dia buat masam! Jika ada yang bernilai, dibuat-Nya jadi sampah! Dia tak lebih dari sekadar Badut dan Pesulap Murahan, Pembohong Gila! Dan kegilaan-Nya masih terus membuatku lebih gila lagi!
The Madness of God menjadikan ketergelinciran Iblis, dan dakwaannya kepada Tuhan karena telah “menyesatkannya”, sebagai landasan bagi pertanyaan-pertanyaan mengenai kemungkinan kehendak-bebas di hadapan kemahakuasaan Tuhan. Pertanyaan yang berulang kali diajukan adalah: jika Tuhan Mahakuasa, dan tiada sesuatu pun yang dapat terjadi di luar kehendak-Nya, maka bagaimana mungkin makhluk dapat disalahkan karena dosa-dosanya?
Seiring dengan bergulirnya cerita, pembaca akan tenggelam dalam keyakinan tentang keesaan, kemahakuasaan, dan keadilan Tuhan. The Madness of God penting dibaca oleh para monoteis yang kritis. Shawni meramu adikaryanya ini dengan gayanya yang amat unik dan khas. Novel ini, terlepas dari judulnya yang provokatif, merupakan usaha Shawni dalam menyelaraskan keimanannya dengan akalnya.
buku ini berbahaya. jika tidak yakin jangan sentuh buku ini namun jika selembar saja anda baca buku ini anda diwajibkan membaca buku ini sampai selesai. membaca setengah-setengah akan berdampak buruk bagi pikiran dan kejiwaan anda. namun satu hal yg perlu di ingat bahwa buku ini sangat super briliant.
it's a good book. Dialog Iblis yang merasa dia lebih taat kepada Allah benar2 meyakinkan. Apalagi Shawni menggunakan rujukan ayat2 Quran yang tepat. Buku ini menjawab kisah terkutuknya Syaitan dengan sangat apik. Sedangkan pada kisah The Man who rides an elephant kupikir sangat perlu di baca oleh orang-orang fanatik agama apapun.
Dalam buku ini, Shawni menegaskan nilai-nilai universal yang terkandung dalam mitos2 agama.
Jika kau kata 'kejahatan' itu berpunca dari Iblis, maka dari Iblis yang berbuat jahat itu berpunca dari siapa?
Ketika Iblis tidak mahu 'tunduk' kepada Adam, kau katakan bahawa Iblis itu angkuh dan sombong. Persoalan sekarang; dari mana datangnya angkuh dan sombong itu? Jika kau memalitkan 'nafsu' kepada Iblis, mana mungkin itu terjadi. Kerana Iblis adalah seorang malaikat, malaikat tidak bernafsu.
Kau beriman dan percaya bahawa tak ada kekuatan atau daya apa pun kecuali dengan izin Allah. Dia menguasai bukan apa yang baik-baik sahaja, tetapi yang jahat itu juga dari kekuatan-Nya.
Jika kau beriman dan percaya bahawa Allah tidak pernah memerintah perkara yang memalukan, maka jika begitu apa yang kau percaya bahawa Iblis yang berpaling dari Allah itu tidak boleh disebut perkara yang memalukan. Tak ada yang mungkin terjadi kecuali atas perintah-Nya.
Buku ini amat bahaya. Ya, amat bahaya. Jika kau tidak berniat untuk membaca keseluruhan buku ini, maka aku larang untuk kau membaca sebahagian buku ini.
Apa gunanya keimanan tanpa pernah dibenturkan pada keraguan-keraguan? bukankah hal seperti itu lebih menyerupai kedunguan? ketidaktahuan yang dijustifikasi menjadi iman.
Jika membaca buku seperti ini, selesaikanlah. Seperti kata Tan Malaka: "Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk!"
The Madness of God menjadikan ketergelinciran Iblis dan dakwaannya kepada Tuhan karena telah menyesatkannya, sebagai landasan bagi pertanyaan-pertanyaan mengenai kehendak-bebas di hadapan kemahakuasaan Tuhan. Pertanyaan yang berulang kali diajukan adalah: Jika Tuhan Mahakuasa dan tiada sesuatupun yang dapat terjadi di luar kehendak-Nya, maka bagaimana mungkin makhluk disalahkan karena dosa-dosanya? Dan seiring dengan bergulirnya cerita, pembaca akan tenggelam dalam keyakinan tentang keesaan, kemahakuasaan, dan keadilan Tuhan.
Shawni meramu novel ini dengan gaya yang unik yaitu mengambil sudut pandang dari Iblis/Setan atas Sang Maha Pencipta. Novel ini terlepas dari judulnya yang provokatif, merupakan usaha Shawni dalam menyelaraskan keimanannya dengan akalnya (well....to be honest, seringkali saya juga mendapatkan diri saya mempertanyakan tentang Tuhan dengan menggunakan akal/logika yang akhirnya malah memperlebar dan memperbanyak daftar pertanyaanku ha..ha..)
Tapi ada suatu bagian yang sangat aku suka yang menjawab semua pertanyaanku tentang-Nya,"Allah bukanlah untuk dihakimi. Jika kita menerima-Nya sebagai Pencipta segala sesuatu di dunia ini, maka kita juga harus menerima bahwa perbuatan-Nya tidak untuk dan tidak dapat dinilai berdasarkan hukum-hukum penalaran umat manusia. Jangan tanyakan pada Tuhanmu apa yang sesungguhnya tak sanggup engkau dengar. Allah Mahaperkasa. Engkau tunduk pada-Nya bahkan tanpa disadari. Tapi akan jauh lebih baik untuk tunduk dengan sedikit pemahaman dariapada tanpa disadari. Penghambaan sepenuhnya pada Allah bermakna bahwa perbuatan-Nya bukanlah untuk engkau pahami. Yakinilah hal yang satu ini, niscaya engkau akan termasuk dalam golongan orang-orang yang bijak. Jika engkau berusaha untuk memahami hal lainnya tanpa mampu memahami dan meyakini yang satu ini, maka engkau tak ada bedanya dengan iblis".
Well......jika kamu ragu atas keimanan dirimu atau malah mau menambah rasa keyakinan terhadap Sang Pencipta, ga ada salahnya untuk membaca buku ini:)
Sudah 1 tahun sejak baca buku ini, terus terang gw sampe baca berulang2 karena kemampuan otak gw yang gak mudeng2 *nyengir* seru banget ceritanya kayak baca novel Nicholas Flamel (Alchemyst), ROMA, yang menceritakan mitos, legenda, menyerempet dengan logika dan juga kepercayaan.
Gambaran bagaimana Iblis terbuang dari surga, bagaimana bisa Muhammad terpilih sebagai rasul, apakah pilihan dalam hidup itu benar2 ada atau semuanya sudah diatur dengan setiap detailnya oleh Tuhan, semua disuguhkan dengan "seru" dalam buku ini.
yah emang bener harus hati2 banget baca buku ini, dan gak disarankan berhenti membaca di tengah2, dari seluruh kesimpulan membaca buku ini ada 1 yang paling mewakili seluruh kesimpulan yang ada, yaitu bahwa tipu daya Iblis sangatlah nyata!
Menceritakan tentang kisah pertemuan antara pendeta Buhairo dengan Nabi Muhammad SAW ketika Muhammad SAW kecil sedang menemani pamanya Abu Thalib Berdagang di Syiria. Diceritakan oleh Sawni bahwa sang pendeta dibawa oleh Muhammad kecil untuk bertemu dengan seekor Iblis untuk berdiskusi tentang apa yang selama ini telah menganggu pikiran Buhairo, yaitu tentang keesaan Tuhan (Tauhid) dan juga pengusiran Adam dan golongan Jin yang belakangan disebut sebagai Iblis dari Surga.
Dalam pertemuan sang pendeta dengan iblis tersebut, terjadi perdebatan yang sangat panjang dan juga pelik.
Inti dari buku ini adalah penulis ingin menyampaikan sebuah pesan, bahwa setiap usaha manusia untuk menemukan dan mengerti siapa Tuhanya, manusia hanya diperbolehkan mengerti dan melakukan sekedar apa yang disampaikan oleh Tuhan melalui wahyunya. Manusia harus sadar bahwa dirinya memiliki banyak keterbatasan dan tak akan mampu untuk menerima kenyataan yang hakiki tentang penciptaan dan Sang Pencipta.
Penulis juga kelihatanya ingin menyindir beberapa golongan Tasawuf yang “menuhankan” diri mereka sendiri.
let's go read, ini buku bagus bagi orang yang tidak tahu atas ke-Esa-an tuhan.
This is the greatest philosophy book I've ever read, really!!! Full of religion philosophy (especially Islam) and very daring to all monotheism follower. Mainly discuss about mankind's freewill before God's will. Is there?
The content is a story about Christian Priest who was very faithful to his religion before met Rasullah SAW. He then met people who questioned his believe and religion so great that made him doubt his own. In order to find the answer for himself he took a journey and asked wise people he met in his journey. There he find himself in a conversation with Rasulullah SAW and even the Devil himself.
Devil's incitement is so great that confused the Priest. However can the Priest defend his believe? Well, just read it okay, hehe....
PS: Do not "blank" when you read this!!! Might make you crazy you know. And don't often cut your reading. Read as continuously as you can.
31/03/07 Kalau ada yang mau buku ini, silakan! Saya punya 1 dan dengan senang hati memberikannya kepada siapapun yang mau. Mau ngepost di medsos terlalu berisiko wkwk but seriously though, klau ada yg mau.. yang serius mau dan asal bener2 mau saya kasihkan. biar bisa bermanfaat. It was a handover book given to me but because one thing and another I don't need it anymore and I really need to give this book away asap. But as a book lover I'd consider myself a 'sinner' if just give this to just anyone who's not really know and appreciate the value of written words. So yea.. Anyone?
Gila bener! Permainan kata-kata yang memukau dari Shawni. Sebuah dialog filsafat kritis namun cerdas yang amat membahayakan keimanan kalangan penganut monoteisme. Benar saran dari seorang kawan : jangan baca buku ini setengah-setengah. Baca sampai selesai, dan berikanlah penilaian akhir siapa sesungguhnya yang salah : iblis, atau "sang tergugat dalam buku ini"
Pengetahuan berjalan tertatih dengan kaki yang patah. Tapi kematian datang menyeruduk tak kenal ampun. Kalimat tersebut ada di halaman pembuka buku Iblis Menggugat Tuhan / The Madness of God karya Shawni. Penerbit Dastan Books (2013). Buku ini terdiri dari 2 bab cerita. Pertama berjudul The Madness of God, yang dijadikan judul buku, dan cerita kedua berjudul The Man Who Have the Elephant. Dalam the Madness of God, dikisahkan Buhairah yang berdialog dengan Iblis tentang Allah, tentang dikutuknya Iblis, mengapa Iblis tidak mau sujud kepada Adam dan juga tujuannya menggoda manusia. Sementara dalam the Man who have the Elephant ada Bal'am dan Abrahah. Dialog-dialog yang terjalin dalam buku ini cukup padat, dan penuh kalimat filosofis. Iblis ingin melakukan pembelaan atas perbuatannya yang menyebabkan dia dikutuk. Menariknya, dari kalimat-kalimat Iblis yang mencari pembenaran, sebenarnya kita diajak untuk menguatkan keyakinan kita kepada Allah. Adam dan Iblis melakukan kesalahan, tetapi mengapa Allah memaafkan Adam dan mengutuk Iblis? Jawabannya serupa dengan kisah Nabi Musa, Nabi Harun dan Samiri. Buku ini pesan moralnya bagus, mengajak pembaca semakin yakin dengan keesaan Allah, pengampunan, dan keadilan Allah. Hanya memang harus hati-hati dalam memahaminya, kemudian ada sedikit yang perlu diketahui, seperti peristiwa qurban, bagi pembaca muslim mungkin agak sedikit bingung karena dalam buku ini yang dikorbankan adalah Ishaq. Hal ini karena referensi yang digunakan dari agama Kristen, oleh karena itu buku ini sudah menyertakan catatan kaki untuk menjelaskan hal-hal yang membutuhkan penjelasan lebih. "Di hadapan Yang Maha Pengasih, adalah sebuah dosa untuk sampai merasa putus asa terhadap pengampunan-Nya"
Kau bilang Adam berdosa gara-gara hasutanku? Kalau begitu, atas hasutan siapa aku melakukan dosa? Aku sebenarnya melakukan apa yang Dia perintahkan, dan aku sepenuhnya patuh pada keinginan Allah. Mau bagaimana lagi? Tak ada ruang yang luput dari kuasa-Nya. Aku bukanlah tuan bagi keinginanku sendiri.
Aku menyembah Allah selama 700 ribu tahun! Tak ada tempat tersisa di langit dan bumi di mana aku tak menyembah-Nya. Setiap hari aku berkata pada-Nya, "Ya Allah, anak keturunan Adam menolak-Mu, namun Engkau tetap bermurah hati dan meninggikan mereka. Tapi aku, yang mencintai dan memuja-Mu dengan pemujaan yang benar, Engkau buat menjadi hina dan buruk rupa.
Lihatlah segala penderitaan dan kesengsaraan yang telah ditimpakan-Nya atas dunia ini. Lihatlah betapa Monster itu melakukan semuanya hanya untuk menghibur diri! Jika ada yang terlihat murni, dibuat-Nya ternoda! Jika ada yang manis, Dia buat masam! Jika ada yang bernilai, dibuat-Nya jadi sampah! Dia tak lebih dari sekadar Badut dan Pesulap Murahan, Pembohong Gila! Dan kegilaan-Nya masih terus membuatku lebih gila lagi!
The Madness of God menjadikan ketergelinciran Iblis, dan dakwaannya kepada Tuhan karena telah "menyesatkannya, sebagai landasan bagi pertanyaan-pertanyaan mengenai kemungkinan kehendak-bebas di hadapan kemahakuasaan Tuhan. Pertanyaan yang berulang kali diajukan adalah: jika Tuhan Mahakuasa, dan tiada sesuatu pun yang dapat terjadi di luar kehendak-Nya, maka bagaimana mungkin makhluk dapat disalahkan karena dosa-dosanya?
Seiring dengan bergulirnya cerita, pembaca akan tenggelam dalam keyakinan tentang keesaan, kemahakuasaan, dan keadilan Tuhan. The Madness of God penting dibaca oleh para monoteis yang kritis. Shawni meramu adikaryanya ini dengan gayanya yang amat unik dan khas. Novel ini, terlepas dari judulnya yang provokatif, merupakan usaha Shawni dalam menyelaraskan keimanannya dengan akalnya.
a must read book for those who think that they know GOD already
buku ini memiliki 2 jalan cerita didalamnya, seperti judul aslinya...keduanya tidak berhubungan tetapi memberikan makna mendalam tentang agama dan Tuhan
bagian pertama, "the madness of GOD", menceritakan tentang perdebatan seorang yang mencoba mencari makna pengabdiannya kepada Tuhan dengan berbincang iblis yang sengaja menjadikan dirinya jahat sebagai bentuk pengabdian tertingginya kepada Tuhan. dan yang kedua, "The Men Who Have Elephant" menceritakan raja yang merasa mengerti maksud Tuhan tetapi sesungguhnya dikendalikan oleh nafsunya semata untuk menghancurkan bangsa lain yang dianggapnya "kafir".
bagi orang-orang kristen, mungkin merasa tersindir dalam buku ini, tetapi saya berpendapat bahwa buku ini memiliki penalaran yang jauh lebih luas dan cerdas daripada sekedar dipandang dari sisi agama. buku ini memberikan pelajaran bagaimana manusia seharusnya tidak bersandar pada pengetahuanhya sendiri tentang Tuhan dan tentunya makna baru tentang siapa sesungguhnya YANG MAHA KUASA itu tanpa merusak citra kemahakuasaan-NYA.
"kalau Tuhan tidak berkuasa atas yang jahat, maka Dia tidak layak disebut YANG MAHA KUASA"
Satu kalimat sebelum anda membaca buku ini : Tolong tuntaskan membaca hingga akhir atau bakar buku ini sebelum anda membuka halaman pertama demi menjaga pikiran anda tetap waras! . Buku karya Shawni ini memuat dua kisah berbeda yaitu, The Madness of God dan The Men Who Have The Elephant. Saya akan memusatkan kepada cerita pertama, karena menurut saya ini kisah yang paling menarik sekaligus dapat membuyarkan keyakinan saya--arti harfiah . Kisah dimulai ketika pertemuan seorang pendeta Kristen yang telah menanti sebuah ramalan(munculnya Nabi Muhammad SAW. Ketika mereka berdua bertemu, si Pendeta diajak Rasulullah ke tempat yang jauh dari hiruk-pikuk keramaian, yang hanya diterangi kerlip dan redupnya bintang. di situlah ia bertemu dengan sesosok mahkluk. Iblis. Di sini mulai diceritakan gugatan-gugatan Iblis atas kegilaan Tuhannya beserta pembelaan diri bahwa ia tak bersalah. . Shawni memperindah kisah ini dengan diksi yang elok nan aduhai, ia membuat pembaca hampir saja percaya bahkan membenarkan gugatan Iblis kepada Tuhan. Setelah akhirnya ia menjawab semua gugatan itu di akhir dengan mulus. . Akhirnya 5 dari 5 bintang saya persembahkan untuk keseluruhan isi buku ini.
Konsep yang cukup ekstrim, mengenai argumentasi Iblis dengan Buhairah. Saya tak habis pikir bagaimana bisa seorang manusia, seorang sastrawan, bisa menciptakan skenario yang ketika saya membacanya membuat saya benar-benar merinding. Saya begitu terbawa suasana ketika membaca tentang argumentasi tersebut, seakan saya berada pada suasana tersebut. Iblis di sini memang benar-benar dibuat setara, dalam arti tidak dapat disalahkan sepihak, karna yang sebagaimana kita ketahui bahwa di literatur mana pun iblis sudah jelas menjadi kambing hitam atas segala tindak kebinatangan manusia. Namun tidak di sini, Iblis di sini selayaknya benar-benar diperlakukan, diperankan sebagai ex-angel dari Tuhan. Dikembalikan lagi sejarah-sejarah atau literatur di mana iblis pernah menjadi "malaikat" Tuhan, yang pernah begitu disayang oleh-Nya.
Ya, buku ini memang benar berbahaya, saya pribadi ketika membacanya sering kali lupa bahwa argumentasi di buku ini hanyalah fiktif, tidak fakta. Membaca buku ini harus pula diikuti dengan kesadaran awal bahwa skenario dalam buku ini adalah fiktif.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Menuru saya novel yang tipis ini yang seharusnya dikategorikan "Kontroversi", karena begitu beraninya sang pengarang mempertanyakan arti "kemahakuasaan" Tuhan. Seperti review dari Majalah Gatra "Novel nakal yang apabila tak dibaca hati-hati bisa menggelincirkan"
karya sastra yg menarik, cara berpikir yg tak lazim tp cerdas, gaya bahasa yg menarik, cuman harus berhati-hati dalam membedakan mana kutipan kisah yg benar dan yg fiktif
Akhirnya kebaca juga buku ini, buku yang sudah lama muncul dan berseliweran mungkin karena judulnya yang provokatif dan dianggap katannya bisa "menggoyahkan" iman para pembaca berdaya nalar rendah seperti saya, hehehe. Sinopsis singkat pada cover belakang buku seolah memancing serta menambah menariknya dialektika yang akan dibahas didalamnya. Mempertanyakan koherensi logika dengan dogma agama yang dianut sebagian besar besar para agamawan kemudian menyelaraskankannya pada titik yang dapat diterima keduanya. Kritis dan menarik. Berani. Bahkan terlalu berani, menurutku. Membuka dan menjawab ketergelinciran logika yang diagungkan oleh Iblis. Keindahan dan keseimbangan daya logika dalam setiap kata dan analogi semakin menghanyutkan, luar biasa seolah ada momen klimaks yang menembus dimensi keimanan dengan menjawabnya tuntas. ^_^
Beberapa kutipan didalamnya: "Dari puncak akal, ruang keesaan-Nya tersembunyi. Singkirkan keraguanmu. Sesuatu yang ada di dalam Keesaan-Nya begitu berbahaya dan pengembara akan mudah tersesat. Kau tidak dapat menanggung pengetahuan yang kau inginkan. Apakah kau tak akan percaya dan memiliki iman kepada Tuhan? Dia akan mencukupimu. Kau tidak dapat mengetahui tujuan dari semua ini. Haruskan seorang pria rabun dekat menilai wujud puncak gunung? Tahan dirimu dari logika dan penilaian dalam hal ini". "Kau berbicara tentang keesaan Tuhan, tetapi kau menyembunyikan diri di dalamnya seolah-olah kau dibebaskan olehnya. Ketika kau berbicara tentang keesaan, aku hanya mendengar kata 'kesetaraan' ". "Tuhan menciptkan Adam sebagai cermin-Nya. Dengan menghembuskan ruh-Nya ke dalam Adam, Dia kemudian mengujimu melalui dia. Dia Berkata, 'Bersujudlah kepada Adam'. Tapi kau berkata 'Tidak selain-Mu!' seolah-olah kau setia dalam ketidaktaatanmu. Dan ketika kau mengamati Adam, kau tidak dapat melihat Tuhanmu. Rabun jauh, kau hanya melihat cermin; kau buta terhadap keindahan wajah-Nya tercermin didalamnya". "Kau mencintaiku untuk dirimu sendiri dan dengan demikian gagal mengenaliku dalam bentuk apapun kecuali apa yang diizinkan oleh khayalan kosong dan imajinasi sia-siamu". "JIka kau menerima bahwa Dia berkuasa atas segala sesuatu, maka kau juga harus menerima bahwa perbuatan-Nya tidak tunduk pada hukum pemahaman manusia. Segala sesuatu yang diwahyukan kepada manusia sesuai dengan kemampuan manusia untuk memahami, bukan sesuai dengan kebenaran keadaan-Nya". "Jangan salah mengira jikalau peta sebagai tujuan. Tawaf, berputar mengelilingi ka'bah tidak selamanya membuatmu dapat dianggap beribadah haji yang sebenarnya" "Analogi adalah kompas bagi yang hilang. Ketika kalian telah sampai di tujuan, singkirkanlah. Beberapa pertanyaan tidak bisa dijawab dengan itu". "Hati bodoh ini tidak akan tahu cara merasakan, ketika Dia dekat, maka tidak ada lagi yang terasa nyata" "Jika kau mengatakan Dia adalah Seniman dan dunia adalah lukisan-Nya, kau akan mengatakan bahwa kita dapat belajar sedikit tentang Dia dari lukisan-Nya". "Dia melampaui ukuran kira; Mengapa kau harus mengukur-Nya?" Jika ada keindahan dan keagungan di alam semesta ini, Dialah yang paling indah dan agung. Setiap kali seseorang berbicara tentang 'kebetulan', dia berbicara tentang ketidakpahamannya sendiri". "Apakah kita ini? Beberapa saat yang lalu, tidak ada. Sesaat dari sekarang, tidak ada lagi".
Namun, terlepas dari semuanya dengan anugerah serba sedikit dan terbatasnya akal yang diberikan/dititipkan dalam rangka untuk mengenali-Mu, Engkau tetaplah rahasia itu sendiri. Biarlah air pengetahuan yang Engkau titipkan ini menjadi jalan menuju tempat yang Engkau ridhoi, setidaknya untuk memandang lukisan-Mu mungkin sesekali tangan-Mu yang melukis. Dan Engkau Ridho dengan semuanya ya Tuhanku ^_^ Karena sejatinya kebenaran hanya Engkau Sang Mahakuasa yang Maha Mengetahui segalanya. "Jika kata-kata mampu mengungkapkannya, itu berarti kau belum menemukannya sama sekali", "Pengetahuan melangkah dengan tertatih, sedangkan kematian menghampiri penuh daya".
Terima kasih atas beribu kata yang manis dari bacaan ini, Semoga menjadi sebuah doa agar kebaikan-Nya dilimpahkan kepada kita semua. Sampai pada saat Dia mengangkat tangan-Nya dari halaman dunia dan dunia tidak ada lagi ^_^ Da'ud Ibn Tamam Ibn Ibrahim al-Shawni
Dalam buku ini, saya dihadapkan pada pertanyaan besar: jika Tuhan ada, mengapa Iblis bisa mengajukan gugatan? Sepertinya, penulis dengan cerdik menggoda saya untuk merenungkan kembali fondasi keyakinan yang telah saya pegang. Iblis, yang biasanya diidentikkan dengan kejahatan, di sini berfungsi sebagai pembela kebenaran—atau setidaknya, sebagai pengacara yang sangat percaya diri.
Novel ini menciptakan paradoks yang menarik. Iblis, si pemberontak, seolah-olah menjadi suara akal sehat yang menantang dogma-dogma kaku. Di saat yang sama, saya diajari bahwa mempertanyakan Tuhan adalah tindakan yang berbahaya. Dengan kata lain, apakah kita semua diharuskan untuk menjadi pengacara bagi diri kita sendiri dalam menghadapi dogma yang tak tertandingi? Seandainya Iblis benar-benar mengajukan gugatan, mungkin saya bisa berargumen bahwa Tuhan seharusnya memiliki tim hukum yang lebih baik.
Dalam konteks agama, novel ini seolah-olah menantang saya untuk mempertanyakan peran Tuhan dalam dunia yang penuh dengan penderitaan. Jika Tuhan maha kuasa dan penuh kasih, mengapa Iblis memiliki alasan untuk menggugat? Apakah ini hanya sebuah alegori untuk menggambarkan ketidakpuasan manusia terhadap keadaan dunia yang tidak adil? Di sisi lain, mungkin ini adalah bentuk kritik terhadap kebebasan beragama yang sering kali dibungkam. Iblis di sini bisa jadi simbol bagi mereka yang berani mempertanyakan apa yang dianggap benar.
Buku ini adalah sebuah cermin bagi saya untuk melihat kebodohan diri sendiri dalam mengidentifikasi yang baik dan yang jahat. Tak lupa, penulis mengajak pembaca untuk tertawa—bukan hanya pada Iblis yang menggugat, tetapi juga pada kita yang terjebak dalam pertarungan antara iman dan akal sehat.
Jika Iblis bisa menggugat Tuhan, maka kita juga seharusnya bisa menggugat ketidakadilan dan kebodohan yang ada di sekitar kita.
Perlu kehati-hatian dalam membaca buku ini. Jika biasanya saat membaca novel–ini karya fiksi, ya, bukan nonfiksi–saya cenderung mengosongkan pikiran, maka untuk buku yang satu ini, saya cenderung sudah memantapkan hati dan membentengi otak saya terlebih dahulu. Apa sebab? Tentu saja dari judul yang terkesan provokatif, mencari gara-gara sekaligus membuat saya penasaran, juga blurb yang berisi kalimat-kalimat pembenaran. Makanya, untuk menikmati buku ini, perlu situasi yang khusus.
Meski buku ini terdiri atas dua cerita, tetapi tidak ada keterkaitan secara langsung antara kisah pertama dengan yang kedua, sebab peristiwa pertama terjadi saat Muhammad masih kecil, dan yang kedua ketika Muhammad belum lahir. Meski demikian, keduanya sama-sama membicarakan tentang kuasa Tuhan dengan tokoh yang berbeda.
Iblis Menggugat Tuhan merupakan buku yang mengangkat paradoks ketuhanan. Dalam buku ini, penulis berhasil membuka khazanah atas interpretasi ketuhanan, tanpa terkesan menggurui pastinya.
Buku ini penuh dengan dialog-dialog yang berlembar-lembar, dan setiap dialog yang diucapkan mengandung muatan filosofis yang menguji keyakinan sekaligus logika berpikir manusia. Percakapan panjang yang terjadi antara Buhaira dan Iblis berujung adu argumen tersebut membawa ketegangan sebab Iblis memberikan dakwaan-dakwaannya berupa analogi logis lagi kritis tingkat tinggi. Iblis mengatakan dirinya sebagai hamba Tuhan yang paling patuh, paling taat, paling setia, kekasih Tuhan, daripada makhluk lainnya. Iblis terjatuh dan dikutuk oleh Tuhan hingga kiamat karena enggan bersujud kepada Adam merupakan takdir dan skenario Tuhan. Tidak ada hal lain selain apa yang menimpa pada diri Iblis merupakan rancangan Tuhan.
"Aku menyembah Allah selama 700 ribu tahun! Tak ada tempat tersisa di langit dan bumi di mana aku tak menyembah-Nya. Setiap hari aku berkata pada-Nya, “Ya Allah, anak keturunan Adam menolak-Mu, namun Engkau tetap bermurah hati dan meninggikan mereka. Tapi aku, yang mencintai dan memuja-Mu dengan pemujaan yang benar, Engkau buat menjadi hina dan buruk rupa.”
Kalimat ini begitu menyentuh sampai ketika membacanya saya langsung mencari buku ini dan membelinya.
Ini adalah novel yang provokatif dan sangat filosofis yang berisi pertanyaan -pertanyaan teologis dan eksistensial yang kompleks. Tesis utamanya adalah tentang keimanan, keraguan, dan keangkuhan manusia dalam berpikir bahwa kita mengetahui sesuatu tentang Tuhan dan kehendak-Nya.
Buku ini terbagi menjadi 2 chapter dimana pada chapter pertama penulis merenungkan masalah filosofis tentang keberadaan iblis dan kejahatan; mengapa Tuhan yang begitu bijaksana menciptakan iblis dan penderitaan di muka bumi? Dengan menghadirkan Iblis sebagai sosok yang mempertanyakan keputusan Tuhan, buku ini mendorong pembaca untuk mengkaji secara kritis keyakinan dan ajaran iman mereka. Hal ini menunjukkan bahwa keraguan dan pertanyaan dapat menjadi bagian penting dari pemahaman yang lebih mendalam tentang iman.
Pada chapter kedua yang diberi judul "The Man Who Have the Elephant" penulis mengilustrasikan bagaimana seseorang dengan kepercayaannya seringkali menjadi angkuh dan menganggap diri mereka mengetahui dan memahami sesuatu tentang Tuhan, kebenaran, serta kehendakNya. Pada bagian ini Shawni menggunakan sebuah alegori untuk menggambarkan bagaimana pemahaman manusia seringkali terbatas dan subjektif, menekankan pentingnya kerendahan hati dan keterbukaan terhadap berbagai perspektif dalam memahami kebenaran yang kompleks. Kisah ini mengajarkan pentingnya kerendahan hati dalam pencarian kita akan pengetahuan. Menyadari bahwa kita tidak dapat sepenuhnya memahami segala sesuatu terutama berkaitan dengan Tuhan.
Seperti yang saya duga sebelumnya, ketika membaca buku ini, banyak sekali hal yang membuat saya berhenti untuk berpikir dan melakukan refleksi diri. Kalimat demi kalimat dituangkan dengan sangat sempurna oleh penulis, membuat siapa saja yang membacanya akan sejenak berhenti dan memikirkan betapa selama ini kita telah larut dalam kepercayaan yang kita yakini dan melupakan bahwa tanpaNya kita adalah bukan apa-apa.
Cetakan yang saya baca terdapat beberapa kesalahan dalam penamaan tokoh, bahkan nama tempat pun berubah-ubah. Hal ini cukup membingungkan saya dalam memahami setiap bab. Namun, terlepas dari kekurangan itu, saya sangat mengapresiasi pemikiran penulis yang menurut saya berani—sangat berani. Bagaimana tidak? Dari judulnya saja, 'gugatan terhadap Tuhan', orang mungkin akan langsung mengira bahwa ini adalah buku yang menyesatkan. Tapi setelah saya menyelesaikannya, kesan yang saya dapat justru sebaliknya. Isinya begitu mengagungkan Tuhan. Bahkan untuk sekadar menyebut nama-Nya saja kita sebenarnya tidak pantas, apalagi dengan angkuh mencoba untuk memahami kehendak-Nya.
Buku ini sarat makna, dan tidak semuanya bisa saya tangkap karena keterbatasan ilmu yang masih seumur jagung. Memang tidak mudah untuk mencapai pemahaman tertinggi, tetapi saya percaya bahwa pikiran yang terus berkecamuk dengan 'benturan-benturan filsafat' akan melahirkan kesadaran baru.
Iblis menggugat Tuhan, sebuah buku dengan judul yang asli, bikin aku penasaran, akhirnya bisa selesai baca. Sebuah sudut pandang yang baru, tapi gak bikin sesat koq. Dengan otak manusia kita, aku rasa memang bisa saja itu terjadi, "Aku memuji dan memuliakan Mu dengan segenap hati, tapi Kau malah mengutukku?"
Buku ini ditulis Muslim, tapi bagus dibaca oleh semua. Memang isinya mengacu pada isi kitab suci, tetapi balik lagi, itu menambah perspektif kita. Ada juga menyebut agama Kristen tapi bukan yang menghakimi atau menjelekkan.
The Madness of God is a striking exploration of faith, doubt, and the fragile architecture that holds them together. Reading it during my own process of religious deconstruction, I found it less about losing belief and more about refining it. Shawni doesn’t offer comfort; he provokes. In wrestling with doubt, you end up confronting not just your faith, but the very essence of what it means to seek and know the divine.
buku ini entah mengapa membuat saya lebih mencintai sang maha pencipta.. pemahaman-pemahaman yg awal-awal baca bikin saya tersadar dan shock trus dalam hati bilang "iya! bener!" dan sempet nyesel karena merasa di Ombang-ambing oleh buku ini..
tapi.. pada akhirnya sungguh melegakan... bacaan yang bagus untuk terus mengingatkan siapa kita :)
Novel ini menjelaskan berbagai kisah manusia yang me-logika-kan Tuhan dan Eksistensinya. Penjelasan melalui kisah, membuat cerita ini mengalir. Novel ini memiliki judul yang provokatif. Dan mungkin ketika kalian baca di depan umum. Masyarakat bakalan sinis melihat kalian membaca novel ini dan mempertanyakan keimanan kalian. Santai saja, karena emang orang yang tidak paham akan selalu begitu 🙂