Saat membeli, saya memiliki harapan tinggi pada buku ini. Akan tetapi sayangnya harapan tersebut tidak benar-benar tercapai. Ini buku yang bagus, tapi bukan pula buku yang luar biasa. Saya sangat menyayangkan, dengan tema yang besar (bom bali, pelecehan seksual, keharmonisan antaragama) dan faktor penulis yang kompeten, buku ini seharusnya dapat melejit menjadi karya sastra kontemporer yang memikat.
Ada beberapa hal yang menganggu saya sewaktu membaca buku ini. Yang pertama adalah eksekusi penulisan dan editingnya. Oke, saya termasuk orang yang tidak begitu rewel apabila ada kesalahan EYD yang tidak terlalu kentara. Pernah berprofesi sebagai editor buku pun membuat saya paham bahwa mengedit sebuah buku itu adalah pekerjaan yang membutuhkan ketelatenan dan ketelitian ekstra. Tampaknya, Mbak Gita sedang sibuk sekali sewaktu mengedit buku ini sehingga banyak sekali kata, kalimat, serta tanda baca yang luput dari editannya. Saking banyaknya saya sampai merasa frustrasi.
Gangguan yang kedua adalah alur ceritanya yang maju, tapi kemudian mundur sedikit, lalu maju lagi, mundur sedikit lagi. Alhasil, alur cerita jadi tersendat dan saya mengalami disorientasi timeline ceritanya. Dan terbukti, terjadi kesalahan setting setting waktu di cerita. Contohnya adalah perlombaan qiraah. Tokoh Samihi mengatakan bahwa dia menjadi perwakilan desanya untuk ikut lomba qiraah yang akan dilaksanakan dua minggu lagi. Pernyataan itu diungkapkan sebelum bulan Ramadhan. Jadi, logikanya, lomba tersebut paling lambat dilaksanakan pada pertengahan bulan Ramadhan. Namun, apa yang terjadi? Lomba itu baru diceritakan setelah Lebaran selesai! Artinya, minimal sebulan kemudian. Nah lho? Ini apa yang terjadi? Apa acaranya 'diundur' karena peristiwa bom bali? Kalau diundur, kenapa tidak diceritakan? "Kesalahan setting waktu" ini saya rasakan beberapa kali, tapi yang paling kentara adalah perlombaan qiraah itu.
Untungnya, buku ini diselamatkan oleh chemistry Samihi dan Yanik yang terasa natural tapi memikat. Tokoh Samihi kurang lebih mengingatkan pada diri saya sewaktu kecil, yang cenderung penakut dan lemah. Tokoh Yanik mampu bersinar di cerita, dan nasibnya mampu membuat saya bersimpati kepadanya. Atmosfer Bali-nya pun cukup mudah divisualisasikan meski barangkali bukan hal yang sulit mengingat Bali sudah sangat banyak diliput oleh berbagai media, sehingga pembaca awam sekali pun akan mudah menerjemahkan suasana Pulau Dewata tersebut di benak mereka masing-masing.