Tahukah kau mengapa Tuhan menciptakan langit dan laut? Semata agar kita tahu, dalam perbedaan, ada batas yang membuat mereka tampak indah dipandang.
Aku melihat lagi langit di atas Laut Lovina. Kenangan bersamamu menyerbu masuk ke ingatanku. Laut dan mimpi-mimpi kita. Apa kabar hidupmu?
Kita memang berbeda. Aku tahu. Sama tahunya seperti dirimu. Warna yang mengalir di nadimu tak sewarna dengan yang mengalir di nadiku. Namun, bukankah kita tak pernah bisa memilih dengan warna apa kita lahir? Kita lahir, lalu menemukan tawa bersama. Menyatukan cerita bersama. Menjumputi mimpi bersama.
Mengapa kini kau lari menjauh?
Lalu, apa kabarmu? Mengangakah masih lukamu yang dulu? Atau, kini sudah terpilihkan bagimu akhir yang bahagia? Maafkan aku. Maafkan karena tak bisa selalu menjadi laut yang tetap menyimpan rahasiamu.
Saat membeli, saya memiliki harapan tinggi pada buku ini. Akan tetapi sayangnya harapan tersebut tidak benar-benar tercapai. Ini buku yang bagus, tapi bukan pula buku yang luar biasa. Saya sangat menyayangkan, dengan tema yang besar (bom bali, pelecehan seksual, keharmonisan antaragama) dan faktor penulis yang kompeten, buku ini seharusnya dapat melejit menjadi karya sastra kontemporer yang memikat.
Ada beberapa hal yang menganggu saya sewaktu membaca buku ini. Yang pertama adalah eksekusi penulisan dan editingnya. Oke, saya termasuk orang yang tidak begitu rewel apabila ada kesalahan EYD yang tidak terlalu kentara. Pernah berprofesi sebagai editor buku pun membuat saya paham bahwa mengedit sebuah buku itu adalah pekerjaan yang membutuhkan ketelatenan dan ketelitian ekstra. Tampaknya, Mbak Gita sedang sibuk sekali sewaktu mengedit buku ini sehingga banyak sekali kata, kalimat, serta tanda baca yang luput dari editannya. Saking banyaknya saya sampai merasa frustrasi.
Gangguan yang kedua adalah alur ceritanya yang maju, tapi kemudian mundur sedikit, lalu maju lagi, mundur sedikit lagi. Alhasil, alur cerita jadi tersendat dan saya mengalami disorientasi timeline ceritanya. Dan terbukti, terjadi kesalahan setting setting waktu di cerita. Contohnya adalah perlombaan qiraah. Tokoh Samihi mengatakan bahwa dia menjadi perwakilan desanya untuk ikut lomba qiraah yang akan dilaksanakan dua minggu lagi. Pernyataan itu diungkapkan sebelum bulan Ramadhan. Jadi, logikanya, lomba tersebut paling lambat dilaksanakan pada pertengahan bulan Ramadhan. Namun, apa yang terjadi? Lomba itu baru diceritakan setelah Lebaran selesai! Artinya, minimal sebulan kemudian. Nah lho? Ini apa yang terjadi? Apa acaranya 'diundur' karena peristiwa bom bali? Kalau diundur, kenapa tidak diceritakan? "Kesalahan setting waktu" ini saya rasakan beberapa kali, tapi yang paling kentara adalah perlombaan qiraah itu.
Untungnya, buku ini diselamatkan oleh chemistry Samihi dan Yanik yang terasa natural tapi memikat. Tokoh Samihi kurang lebih mengingatkan pada diri saya sewaktu kecil, yang cenderung penakut dan lemah. Tokoh Yanik mampu bersinar di cerita, dan nasibnya mampu membuat saya bersimpati kepadanya. Atmosfer Bali-nya pun cukup mudah divisualisasikan meski barangkali bukan hal yang sulit mengingat Bali sudah sangat banyak diliput oleh berbagai media, sehingga pembaca awam sekali pun akan mudah menerjemahkan suasana Pulau Dewata tersebut di benak mereka masing-masing.
Awalnya saya kira buku ini bergenre romance, ternyata oh ternyata bukan. Hehe. Terus terang naksir buku ini karena judulnya, cover depannya dan sinopsis di belakangnya yang menggoda buat baca lebih lanjut. Ternyata cukup worthed untuk dibaca. Saya selalu suka buku yang bercerita tentang persahabatan. Those kind of story never failed to bring a warm feeling to my heart.
Alkisah kedua bocah yang tinggal di daerah Pantai Lovina, Singaraja, Kabupaten Buleleng Bali. Yang satu bernama Samihi, ayahnya berasal dari Sumatra dan telah dua puluh tahun lebih tinggal di Singaraja. Singaraja adalah salah satu daerah di Bali dimana kebanyakan penduduk muslim bermukim. Kakak laki-laki Samihi tewas tenggelam di laut, oleh karena itu Ibundanya melarang Samihi untuk mendekati laut. Tidak lama kemudian Ibunda Samihi pun meninggal dunia. Meninggalkan ia, ayahnya dan adik perempuannya Syamimi.
Bocah yang satu bernama Wayan Manik atau seringkali dipanggil Yanik. Yanik beberapa tahun lebih tua dari Samihi. Ia menjadi putus sekolah karena Ibunya telah sakit2an dan tidak mampu lagi membiayai. Ayah Yanik bekerja di Legian, sudah menikah lagi dan menetap disana. Meninggalkan Yanik dan Ibunya menghadapi hidup berdua. Yanik membiayai hidup mereka berdua dengan menjadi tour guide untuk turis2 asing yang berminat snorkling dan menonton lumba2 yang memang sekali2 terlihat di Pantai Lovina. Itulah mengapa sebabnya Yanik sangat mencintai lautan dan terobsesi pada ikan lumba-lumba. Hehe.
Samihi bertemu Yanik karena suatu hari Yanik membelanya dari bocah-bocah berandalan yang bermaksud merebut sepeda Samihi. Semenjak saat itu mereka berdua seringkali menghabiskan waktu bermain bersama. Perbedaan agama sama sekali tidak menghalangi mereka untuk menjalin persabatan. Bahkan dengan kondisi seperti itu mereka belajar untuk saling mentoleransi satu sama lain. Sebagaimana umumnya masyarakat Hindu dan Muslim di Singaraja hidup berdampingan dalam kondisi yang rukun.
Suatu ketika Samihi memiliki keinginan untuk mengikuti perlombaan mengaji. Ketika menunjukkan kebolehannya kepada Yanik yang Samihi dapatkan adalah cemoohan. Namun Yanik tidak semata-mata mengejek, ia pun kemudian membantu Samihi untuk memperindah kemampuan mengajinya dengan mendorong Samihi untuk mempelajari kesenian bernyanyi khas Bali yang bernama Merkidung.
Bersamaan dengan proses belajar Samihi, ternyata Yanik selama ini menyimpan rahasia gelap yang membuat dirinya luar biasa terbebani.
“Ketika hari ini Yanik membuka rahasianya padaku, yang terlintas dikepalaku adalah ia sudah terlalu lelah menyimpan rahasia. Terlalu banyak kesedihan yang ia rasakan. Saat ini, ia membutuhkan rasa lega dengan membiarkan rahasia itu terbuka kepadaku.”
Terungkapnya rahasia Yanik yang cukup menggemparkan masyarakat berlangsung bersamaan dengan kejadian bom bali di Legian. Keharmonisan toleransi antar agama di Singaraja pun mulai sedikit terganggu. Samihi merasa bersalah karena ketakutannya pada air menyebabkan Yanik tertimpa bencana lebih lanjut.
“Tuhan tengah menguji kami dengan takdirnya yang tak bisa diterka.”
Pada saat itu, berkat bantuan Yanik, Samihi terpilih untuk mewakili Singaraja untuk mengikuti lomba Sekabupaten Buleleng. Telah 3 bulan Samihi tidak bertemu dengan Yanik. Seketika sebelum mengikuti lomba tiba2 Samihi meragukan kemampuannya sendiri. Di saat itu, seperti sudah meramalkan suasana hati Samihi, Yanik tiba-tiba muncul untuk memberinya semangat.
“Suatu saat aku pasti melihat kau mengalahkan laut. Berselancar, snorkeling, seperti anak-anak Singaraja lain. Samihi jangan pernah takut lagi, karena Tuhan akan menjaga dan melindungi orang-orang yang selalu berdoa.”
Samihi bahagia sekaligus sedih luar biasa. Bahagia karena memenangkan lomba. Sedih luar biasa karena melalui kalimat di atas Yanik mengucapkan kata perpisahannya. Itu adalah pertemuan terakhir Samihi dengan Yanik.
Demi Yanik, Samihi berusaha sekuat tenaga untuk melawan ketakutannya hingga ia berada di posisi yang ia sendiri tidak pernah impikan. Semua karena Yanik. Jika bukan karena dorongan Yanik, Samihi tidak akan berani mengambil langkah pertamanya. Langkah pertama yang kelak akan membawanya menuju jalan hidup yang tak terbayangkan.
“Rasa takut adalah belukar yang siap membelit siapa saja yang membiarkan dirinya dicekam perasaan itu.”
Akankah Samihi dapat mengucapkan terimakasihnya kepada Yanik. Huaaaa. Walaupun saya sangat menyukai tema persahabatan, ending buku ini sangat menyakitkan sehingga saya mendiskon bintang buku ini di goodreads dari 4 bintang jadi 3 bintang saja. Terlalu menyedihkan ah karena sebenarnya selalu ada kemungkinan. Intinya, for me the ending is not acceptable. Fighters never give up.
“Tak ada yang lebih berat dan rumit selain menyembunyikan rasa sayang di depan orang yang dicintai. Menahan diri mengungkapkan isi hati, terkadang merupakan kemustahilan yang menyakitkan.”
kisah yang dipaparkan sangat menarik, namun cara penuturan yang disaji kalo boleh jujur masih mudah ditebak.
misalnya saja ketika terjadi perubahan emosi tingkah laku secara mendadak yanik didepan samihi ketika melihat sosok yang pernah manjadikan yanik sebagai tumbahan kelainan napsu seorang turis. meskipun dijelakan diakhir, namun sebagai pembaca, entah bagaimana mudah untuk mengira bahwa yanik memang sedang dalam traumatik dan terancana ketika melihat turis tersebut (maapin lupa namanya, soalnya 3 hari lalu baru selesai dan tidak langsung membuat review).
tapi. ada satu hal yang membuat saya sedih adalah sad ending yang menimpa yanik dalam carita ini :( mengapa dia harus digambarkan bunuh diri di tengah lautan ombak? bahkan setelah adik Samihi telah menerima cinta dalam pucuk surat terakhirnya.
sebenarnya temanya menarik, persahabatan antara dua anak berbeda agama. sayang ceritanya hanya menarik hingga di tengah-tengah. setengah terakhir seperti hanya dikebut, tidak menarik, tidak dalam.
proses editing yang sangat jelek juga cukup mengganggu. tidak tahu apakah memang buku ini diterbitkan terburu-buru karena filmnya pun akan segera tayang, tapi kalau saja editornya mau lebih teliti, kesalahan pemenggalan kata, tanda baca, termasuk kalimat yang tidak selesai bisa dikurangi. atau ini memang sering terjadi pada buku cetakan pertama? tapi banyaknya kesalahan yang ada membuat saya menganggap memang editornya kurang teliti dalam bekerja.
karakter-karakter yang ada juga terlalu hitam atau putih. sekali baik ya baik selamanya, tidak pernah diceritakan sisi hitam dari karakter tersebut. karakter yang memang jahat akan jahat terus sampai akhir, tidak ada proses perkembangan menuju arah yang lebih baik. padahal setiap manusia pasti punya sisi baik dan sisi buruk. bagaimana kepribadian seseorang berkembang lebih menarik daripada melihat karakter dasar yang datar dari awal hingga akhir.
Di Kalidukuh, Singaraja, Bali Utara, sepasang sahabat bernama Samihi Ismail dan WayanYanik bershabat dalam indahnya perbedaan mereka. Samihi, pemeluk agama Islam yang tekun beribadah, dan Wayan Yanik, pemeluk Hindu yang selalu sumarah dan taat terhadap agamanya, saling berteman akrab, berbagi cerita, merangkai pahit manisnya jalan kehidupan bersama. Mereka saling mendukung bersama, misalnya, pada saat Lebaran, Yanik ikut merayakannya bersama keluarga Samihi, sedangkan saat Nyepi, Samihi menghormatinya dengan tidak keluar dari rumah dan ikut menyepi bersama. Kemudian Yanik membantu Samihi untuk latihan sebelum lomba qiraah dimulai di kampung mereka. Qiraah adalah lomba melantunkan ayat-ayat Al-Quran dengan tembang yang merdu. Samihi adalah wakil kampung mereka dalam kompetisi Qiraah se-Bali Utara.
Cerita demi cerita yang berhubungan dengan Bali pun banyak dikupas di dalam novel ini, seperti kejadian bom Bali di Kuta, Legian, pada tahun 2002, agama Islam dan Hindu sebagai sosiologis latar agama di Singaraja, Pantai Lovina dan ikan lumba-lumba, juga masalah pelecehan seksual turis asing terhadap anak-anak lokal Bali diceritakan pula di dalam novel ini.
Rumah di Seribu Ombak menceritakan kepada kita secara apik bagaimana persahabatan dapat dibangun di atas peliknya perbedaan. Contoh kecil perdamaian dunia dapat digambarkan lewat Samihi dan Yanik. Mimpi dan perjuangan diceritakan dengan mengalir oleh penulisnya, Erwin Arnada. Tampak betul betapa telitinya penulis melakukan riset sebelum menulis novel Rumah di Seribu Ombak ini. Initnya, buku ini ingin memberitahu kepada pembaca bahwa persahabatan dan masa depan berjalan beriringan. Sahabat adalah manusia yang mampu menghilangkan ketakutan terbesar sahabatnya dan salah satusistem pendukung terbesar bagi keberhasilan sahabatnya.
"Sebenarnya, rahasia yang kami jaga untuk menjadi juara adalah konsentrasi dan doa." - Rumah di Seribu Ombak (halaman 330)
Arnada, Erwin. 2011. Rumah di Seribu Ombak. Jakarta: Gagas Media.
Also known as the idealist's guide to tolerance, this book aims to teach the readers the noble value of just that - accepting others' differences, particularly in terms of religion. It is a strong theme, I must say, and a particularly tricky one, but Erwin handles it with grace, though it's not without its shortcomings. Its main shortcoming is the ending. I feel that it's glorifying suicide - Yanik has gotten through his troubles, and although his mother has passed away, he could easily start a new life, especially since he now had a lover in form of his bestfriend's little sister. But he chose not to and killed himself instead, because "he doesn't have anything else to live for". I found that disturbing, since, having dealt with suicidal thoughts myself in my adolescence, it is not a simple thing. Nor it is beautiful as the writer made it seem to be in this book. Suicide is also a strong, tricky topic - and the writer didn't handle this one gracefully. Yanik could have still made his home amongst the waves with other, more rational plot twists, such as an accident in the sea. It would make much more sense and not romanticizing suicide.
Another shortcoming is that it upholds lofty ideals and it didn't bring those ideas down to Earth very successfully - it follows a lot of fiction common tropes like the protagonist (Samii) conquering his fear through a combination of hard work and an amazing luck anyone would envy, and finally managed to become a pro surfer (Hero's journey trope). I get the feeling that Erwin loves his characters too dearly and didn't want to put them through real hell.
But in the end, it makes one very interesting read, a breath of fresh air among Indonesian books in particular - and two thumbs up for the writer's gut to raise the issue of pedophilia. He also managed to capture the common, rural Balinese's day-to-day life and culture - and it's these things that count.
Saya meyakini Erwin Arnada sebagai penulis handal. Pengalamannya selama bertahun-tahun sebagai jurnalis membuat Erwin Arnada mampu merangkai kata dan meramu konflik hingga menjadi cerita yang ciamik.
Rumah di Seribu Ombak ini contohnya. Ceritanya sederhana, seorang anak kecil yang tumbuh di sebuah desa di Bali dan kelak menjadi jawara surfing. Tentu tidak sesederhana itu. Permasalahan timbul silih berganti sehingga anak yang tadinya trauma terhadap air bisa mencintai olahraga yang pastinya butuh lautan.
Erwin Arnada seperti berusaha merangkum dua peristiwa besar yang terjadi sepanjang dekade kemarin: Bom Bali dan pelecehan seks yang terjadi pada anak-anak di Bali. Bagaimana Erwin mengetengahkan kedua peristiwa itu ke dalam cerita di novel ini, okelah. Runut, ringan, dan mudah diikuti.
Tapi kenapa cuma bintang dua? Justru karena saya meyakini Erwin Arnada sebagai seorang penulis handal - bahkan pernah menjabat posisi pemimpin redaksi majalah franchise terkenal, maka seharusnya dia tidak lagi membiarkan kesalahan-kesalahan kecil dalam penulisan muncul dalam novel ini. Mulai dari salah ketik (pada tetap ditulis p-ada), ketidak-sinkronan (aku tiba-tiba menjadi kami - hal. 267 dan 268), dan satu yang sulit sekali saya terima:
Awalnya saya kira buku ini adalah sebuah novel dengan cerita cinta romansa antara lelaki dan perempuan. Seperti yang saya tangkap dari tulisan di halaman belakang buku yang ditulis penulis selama di penjara. Ternyata saya salah. Walaupun ada juga kisah manis di akhir cerita. Tetapi buku ini lebih menceritakan tentang sebuah kehidupan sosial antara dua bocah yang bersahabat. Persahabatan yang hadir bukan karena persamaan, melainkan perbedaan.
Samihi dan Yanik. Dua manusia yang berbeda latar belakang bersahabat karena perbedaan. Seperti yang tertulis pada buku, persahabatan mereka menjadi contoh sesuatu bernama toleransi. Terlebih ketika tiba pada cerita dengan latar belakang kejadian bom yang terjadi di Pulau Seribu Pura itu. Apapun yang terjadi, ketika sebuah toleransi itu kuat, semuanya akan baik-baik saja.
Buku setebal 387 halaman ini juga mencoba memberi contoh tentang sebuah mimpi. Semua orang punya mimpi. Ingin ini ingin itu. Dan yang penting adalah bangaimana kamu menggapai mimpi itu. Dan Samihi memutuskan untuk menuntaskan mimpi Yanik, sahabatnya itu.
Tulisan Erwin membuat saya ingin sekali pergi ke desa Kalidukuh. Tempat dimana keharmonisasian hidup manusianya hadir dengan perbedaan. Karena sepatutnya perbedaan itu adalah indah..
Ekspektasi awal saya terhadap buku ini besar. Saya sudah membayangkan bagaimana menariknya tema pluralisme dan persahabatan yang diangkat, plus Bali sebagai latar tempat. Rumah di Seribu Ombak bercerita tentang persahabatan dua anak Bali yang berbeda kepercayaan yaitu Samihi dan Wayan Manik. Sejujurnya pada bagian awal pendeskripsian cerita sangat baik, konflik-konflik yang menarik. Namun, di bagian menjelang akhir buku ini seperti kehilangan 'greget'nya. Meski ending cukup tak mudah ditebak, namun menurut saya beberapa bagian terlalu datar. Namun pun saya tetap mengagumi penggambaran detail cerita yang baik, sehingga pembaca mendapat visualisasi pernik Bali. Serta keberanian penulis untuk mengangkat konflik sosial seperti peristiwa bom bali dan kekerasan seksual pada anak. Pembaca dapat menangkap sudut pandang positif penulis dalam memandang perbedaan.
Persahabatan Wayan Manik dan Samihi memang digambarkan dengan sangat baik oleh Erwin Arnada. Ketika kita membaca buku ini, kita hanyut dalam persahabat dua tokoh utamanya. Bagaimana keduanya yang berbeda dapat saling melengkapi dan menyatu. Sungguh indah memang gambaran persahabatan keduanya. Kisah-kisahnya juga seru dan menarik. Sayangnya Erwin Arnada tidak dapat mempertahankan hal tersebut sampai di akhir cerita. Awal sampai pertengahan kita dibuai oleh keindahan persahabatan Yanik dan Samihi, tapi ketika Yanik pergi dan meninggalkan Samihi, ceritanya lantas menurun. Dikejar! Mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan alur cerita setelah kepergian Yanik. Kisah persahabatan di awal yang ditulis dengan indah dan menarik, diakhiri dengan cepatnya. Terkesan dipaksa malah bagi saya. Sehingga akhirnya buku ini hanya menjadi menarik di awal, tapi tidak di akhir.
Novel RDSO sebagian besar menceritakan tentang kuatnya toleransi agama Hindu dan Islam di Kalidukuh, Kaliasem, Singaraja lewat persahabatan dua anak yaitu Wayan Manik (Hindu) dan Samihi (Islam). Daerah Kaliasem memang terlihat berbeda dengan wilayah Bali lainnya. Mayoritas penduduk Kaliasem beragama Islam dan dalam soal toleransi, Kaliasem memang dikenal sangat erat antar satu sama lain. Banyak dialog antar agama yang dilakukan rutin guna mempererat sikap keterbukaan dan toleransi antar pemeluk agama, khususnya Hindu dan Islam. Persahabatan Yanik dan Samihi berjalan dengan sangat harmonis, apalagi ketika ada kasus pedophilia yang dilakukan oleh pendatang asal Australia kepada Yanik, terlihat Samihi membela dan menyelamatkan Yanik secara sungguh-sungguh. Pada saat Idul Fitri, Yanik pun tidak pernah melewatkan momen berlebaran kepada keluarga Samihi.
I was very excited to read the book because of the poetic lines on the back cover. Pada bagian-bagian awal, identitas penulis sebagai jurnalis seperti membawa warna yang unik pada tulisannya. Mengalir dengan manis ketika mengurai kenangan, tertata rapi ketika mengungkap peristiwa-peristiwa.
Tapi, lama-lama terasa kering. Peristiwa demi peristiwa dikupas sekedarnya. Seakan hilang melankoli yang dibangun dengan baik di depan.
Sama seperti Samihi berusaha mengisi hari-harinya yang berlalu tanpa Yanik, tulisan di bab-bab terakhir juga turut menggelepar tanpa Yanik. Datar. Mengambang. Tidak lagi menarik.
ㅤㅤㅤ Belum pernah aku temukan kisah kasih persahabatan sedekat dan sehangat Yanik dan Mii. Keduanya berbeda, tapi mampu berdamai dalam perbedaan yang sungguh banyak tidak terhitung.
Kalau Kamu ingin membaca kisah dua sahabat yang sama-sama saling mengasihi, Kamu harus baca buku ini. Kalau mau tau bagaimana sebenarnya masyarakat Bali menerima keberadaan muslim di tanah nenek moyang mereka, Kamu harus baca buku ini. Kalau Kamu ingin memahami bagaimana suasana kehidupan penduduk desa Kalidukuh yang amat damai, Kamu bisa baca buku ini.
Dari sini aku dibisikkan perihal pedihnya peristiwa bom Bali yang dulu hanya masuk ke kuping kanan lalu keluar lewat kuping kiri. Rasa iba hanya singgah seadanya. Tapi sekarang tidak lagi. Rangkaian kata di buku ini yang merubahku.
Biasanya aku menangis karena menyambungkan tragedi dengan apa yang aku alami secara nyata. Tapi ini, tidak sama sekali. Aku menangisi Mii dan Yanik dengan sedalam-dalamnya kesedihan. Aku dipaksa masuk ke dalam dunia mereka lalu menangis sesegukan.
Rasa kesal, sedih, marah, kecewa, berkecamuk di dalam dada. Bertabrakan dengan tulusnya kasih sayang Yanik dan Mii yang selalu mereka gambarkan dengan caranya.
Mereka saling melengkapi satu sama lain. Mereka saling menjaga. Melawan rasa takut dan tidak segan berkorban demi yang lainnya.
Ah, aku sungguh mengeluarkan banyak air mata untuk Yanik. Yang dengan luka parahnya pun ia tetap bisa menjaga sikap juga perilaku. Kepada siapa dia harus marah. Kepada siapa dia harus bersabar.
Sungguh aku harus belajar banyak dari Yanik perkara memaafkan, menebalkan keyakinan pada apa yang harusnya aku yakini. Menyayangi mereka yang memang sudah seharusnya aku sayangi. Kebesaran hatinya untuk berdamai dengan keadaan yang aku yakin pasti sulit sekali. Melawan rasa takut. Percaya diri. Tetap terlihat bahagia untuk orang lain yang tidak perlu tahu perihal kepedihannya.
Kesan pertama saat saya membaca sinopsis buku ini adalah kekaguman akan toleransi beragama dua manusia di suatu tempat tanpa memandang status sosial dan suku bangsa mereka. Sosok Samihi digambarkan sebagai anak yg polos dan sedikit penakut karena perangainya dan Yanik dengan sikapnya yg pemberani dan berjiwa petualang. Pada bab-bab awal saya merasa terhipnotis dan terbawa oleh suasana keharmonisan di tanah Singaraja dengan tingkat toleransi yg tinggi. Namun dari sisi penjabaran cerita, penulis cenderung monoton dan kurang spesifik untuk menggambarkan sikap dan karakteristik masing-masing tokoh. Hampir 70% konten bab diisi dengan narasi penulis sedangkan dialog antar tokoh begitu kurang menonjol. Saya seperti membaca karangan esai dibandingkan novel. Penulis kurang dapat menggali keunikan dan ciri khas tiap tokoh di dalam buku ini. Alur cerita begitu cepat dan kurang mendetail, sehingga pembaca harus benar2 hapal kejadian sebelumnya yang digambarkan.
Semoga feedback dapat diterima penulis sehingga bisa menghasilkan karya yg lebih baik ke depannya.
Waktu baca ini dulu banget kelas 1 SMA tapi sampai sekarang masih teringat bagaimana kisah hidup yanik dan bahkan jadi buku yang saya masih ingat jalan ceritanya. Sekarang saya sudah lulus kuliah. Begitu melekatnya sosok yanik bagi saya.
Dulu waktu sma baca ini tentu saja terkagum kagum karena pikiran yang masih belim banyak hal saya ketahui. Baca buku ini seperti memberi banyak pelajaran. Dibuat senang oleh persahabatan
Di awal cerita menurut saya lumayan menjanjikan dgn mengangkat persahabatan antara Samihi dan Yanik yang berbeda latar belakang dan agama. Tetapi saya menyayangkan beberapa part terakhirnya yang justru tidak mengembangkan perjalanan persahabatan Samihi dan Yanik. Ada hal-hal dari kisah persahabatan mereka yg menurut saya bisa dikembangkan lebih.
saya tertarik membaca buku ini karena settingnya adalah Bali. ya, saya memang sangat mengagumi alam Bali sehingga saya tertarik membaca buku ini.
esensi dari buku ini sangat bagus yaitu tentang toleransi umat bergama khususnya antara Hindu dan Islam. kisah persahabatan Wayan Manik dengan Samihi sangat menyentuh hati. beberapa scene yang menunjukkan hal itu antara lain saat Yanik berkunjung ke rumah Samihi dengan mengenakan kopiah dan ketika Samihi berlatih qiraah melalui para ahli mekidung di Bali. selain itu, berbagai kejadian yang mewarnai persahabatan mereka terkadang membuat saya sangat takjub. seperti ketika Wayan menjadi korban pelecehan seksual dan akhirnya terungkap berkat bantuan Samihi.
namun beberapa kekurangan adalah banyaknya kesalahan penulisan, plot antar kejadian yang kurang pas, lalu ada tokoh yang tidak terlalu dibicarakan di depan, tetapi diakhir tokoh tersebut dibahas seakan-akan di depan sudah diangkat kisah hidupnya. tokoh tersebut adalah Me' Yanik. di awal, tokoh tersebut hanya sebagai "pelengkap", tidak diceritakan secara detail. bahkan dialog Me'Yanik sangat sedikit. tetapi di akhir, saat kematiaannya, Yanik diceritakan seperti sangat kehilangan lentera hidupnya. dia seperti tidak bisa hidup tanpa ibunya. saya yang membaca jadi aneh sendiri. di depan tidak ditunjukkan seberapa sayang Yanik pada ibunya. kok di belakang menjadi seperti itu? pembaca menjadi berharap lebih dan agak kecewa.
Saya jujur suka bukunya. Sangat menginspirasi, meskipun saya bukan beragama Muslim maupun Hindu, tapi saya jadi banyak belajar dan tahu hal baru dari buku ini. Saya gak merasa rugi bacanya. Saya suka alur cerita dan gaya bahasa yang digunakan pengarang, ceritanya mengalir indah dan deskripsinya pas. Lugu anak-anaknya dapet, keseharian Samihi dan Yanik terasa normal dan nggak dipaksakan.
Hanya saja, mungkin endingnya yang kurang pas, menurut saya. Seperti ada yang kurang. Kurang dijelaskan bagaimana kehidupan Yanik selama menghilang dari Kalidukuh. Kurang dijelaskan emosi Syamimi saat Yanik pergi untuk selamanya di laut. Kurang dijelaskan akhir dari Samihi, apakah ia lantas menjadi surfer profesional, dan ketika di prolog ia kembali ke Laut Lovina, apakah ia sekedar singgah atau bagaimana? Masih banyak rasanya rasa ingin tahu yang belum terpuaskan.
Beberapa istilah Bali juga tidak diterjemahkan di catatan kaki. Memang tidak banyak dan masih bisa dikira-kira artinya, tetapi alangkah baiknya kalau juga disertakan. Untuk keseluruhan, karya yang bagus dan patut dibaca :)
This entire review has been hidden because of spoilers.
"Kepasrahan dan rasa putus asa sangat tipis garis batasnya." --hal.220
"Kau belum tahu rasanya berada di tengah laut, makanya belum tahu rasa tenang yang sesungguhnya." --hal.276
"Keberanian akan selalu membawa perubahan, ketakutan akan jadi beban yang menenggelamkan," --hal.278
"Jika tak punya nyali besar, anak laki2 akan kehilangan kehormatannya saat dewasa karena tumbuh sebagai pria penakut. Tidak mengambil risiko. Laki2 yang tidak berani mengambil risiko, cerminan pria kurang bertanggung jawab."
"Sedikit getir, tetapi tetap terasa indah. Aku ingin memelihara kenangan dan harapan ini sampai kapanpun. Mungkin kelak ia akan hadir untuk memelukku di saat kuraih keberhasilan dan kesuksesan lain. Dan ini, buatku jauh lebih berharga dari sekadar meraih trofi dan seribu poin." --hal.327
"Rasa takut adalah belukar yang siap membelit siapa saja yang membiarkan dirinya dicekam perasaan itu." --hal.337
"Tak ada yang lebih berat dan rumit selain menyembunyikan rasa sayang di depan orang yang dicintai. Menahan diri mengungkap isi hati, terkadang merupakan kemustahilan yang menyakitkan." --hal.356
Hal yang paling menonjol dari buku ini adalah kalimat-kalimatnya yang indah. Sepertinya ini kali pertama saya menggunakan kata "indah" untuk mendeskripsikan sebuah buku dan kalimat-kalimat indah ini berhasil menyentuh emosi sehingga bisa membuat saya merasakan peristiwa yang sedang diceritakan (dengan kata lain, buku ini berhasil membuat saya nangis). Ceritanya berjalan lambat tetapi hal ini memang perlu, untuk menggambarkan perjalanan persahabatan antara Wayan Manik dan Samihi (dan juga Syamimi).
Sayangnya, hal kedua yang paling menonjol dari edisi yang saya baca adalah kesalahan-kesalahan gramatikal yang ternyata bukanlah sebuah kesengajaan. Karena saya ini paling gemes kalau menemukan kesalahan yang kecil-kecil itu saat membaca, jelas ini merupakan sesuatu yang sangat mengganggu. Semoga di edisi-edisi berikutnya kesalahan-kesalahan ini dapat diperbaiki agar pembaca dapat lebih menikmati kisah yang indah ini.
A heart-warming story about brotherhood, loyalty, love, and beliefs. It doesn't take a blood to have a brother and a friend. It definitely requires courage to fulfill a dream. Yanik chose his, Samihi chose his, and Imi chose hers.
***
Kisah haru tentang persahabatan, kesetiaan, cinta dalam segala jenis bentuk, kepercayaan, impian. Semuanya!
Setiap karakter utama di buku ini memiliki keberanian baja saat mengambil sebuah keputusan, sebuah pesan moral yang menarik, walaupun menurutku tertutup bermacam kisah kesempurnaan Samihi.
Aku tidak suka Samihi, he's too freaking perfect! Aku ingin tahu Yanik, aku ingin cerita dari sisi Yanik. Aku menunggu dan menunggu dan menunggu. Yang aku dapatkan Yanik menutup cerita, and it's a freaking cool ending too mind you. Kisah penutup ini sedikit mengobati kekecewaanku. Semoga hidupmu menyenangkan di rumahmu kawan, rumah di seribu ombak itu.
ceritanya menarik, melihat Bali dari sudut pandang yang lain dari biasanya; toleransi antarumat beragama di Bali, kehidupan desa di Bali, dan pelecehan seksual yang kadang dilakukan oleh turis asing kepada penduduk lokal. saya suka banget nih sama temanya. kemudian terlihat bagaimana tokoh-tokoh dalam cerita ini berkembang dan melampaui keterbatasan dalam dirinya sendiri.
tapi ada beberapa hal yang mengganggu saya, yang paling membuat saya terganggu adalah alur penceritaan yang terasa redundant. ibaratnya, seharusnya harusnya sudah lanjut dari A ke B, di B malah membahas A lagi. banyak ditemukan di novel ini, dan jujur mengurangi kenikmatan membaca. dan menurut saya, ada beberapa bagian dalam novel ini yang seakan-akan hanya dilempar ke permukaan, tanpa kemudian menyelami topik yang baru diangkat tersebut. gak dapet 'feel'nya kata orang mah.