Jump to ratings and reviews
Rate this book

T(w)ITIT!

Rate this book
Jika biasanya banyak buku yang terbit dari twitter berisi kumpulan tweet semata, maka T(w)ITIT! karya Djenar Maesa Ayu ini lebih dari sekadar itu.

Memiliki 61.000 lebih follower, akun twitter milik Djenar adalah salah satu akun terbesar dan terpopuler penulis perempuan Indonesia. Dari akun ini terpilih sebelas tweet Djenar yang kemudian dikembangkan menjadi cerita pendek.

‘Kehilangan adalah proses awal menemukan’, ‘Hidup bukan untuk mencari perhentian tapi untuk melakukan perjalanan’, ‘Jika ada anak panah yang menusukmu, berharaplah itu bukan berasal dari busur jenuhku’, adalah contoh beberapa tweet yang dikembangkan menjadi cerita di dalam buku ini. Banyak pembaca Djenar yang kemudian meneruskan kalimat-kalimat itu dengan me-retweet-nya, tapi kadang ada juga yang salah arti dan salah tangkap hingga kege-eran. Untuk hal yang satu ini, Djenar pun menuliskan: "Status twitter oleh beberapa orang sering ditengarai sebagai isyarat. Sorry, kamu salah alamat!".

106 pages, Mass Market Paperback

First published January 1, 2012

9 people are currently reading
164 people want to read

About the author

Djenar Maesa Ayu

30 books302 followers
Djenar Maesa Ayu started her writings on many national newspapers. Her first book "Mereka Bilang Saya Monyet!" has been reprinted more than 8 times and shortlisted on Khatulistiwa Literary Award 2003.

Her short story “Waktu Nayla” awarded the best Short Story by Kompas in 2003, while “Menyusu Ayah” become The Best Short Story by Jurnal Perempuan and translated to English by Richard Oh with title “Suckling Father”.

Her second book "Jangan Main-main (dengan Kelaminmu)" was launch February 2005 and also received great success. The amazing part is this book reprinted two days after the launching.

Other books by Djenar:
* Nayla
* Cerita Pendek Tentang Cerita Cinta Pendek

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
42 (13%)
4 stars
63 (19%)
3 stars
139 (43%)
2 stars
51 (15%)
1 star
24 (7%)
Displaying 1 - 30 of 47 reviews
Profile Image for Teguh.
Author 10 books333 followers
February 27, 2014
JELEK!!!!

SETELAH buku kelimanya yang berjudul 1 Perempuan 14 Laki-laki, kini Djenar kembali dengan kumpulan cerita dengan tajuk T(w)itit! Kesan nakal pada judul ini menjadi suatu trade mark pada Djenar. Bisa kita lihat pada judul tiga kumpulan cerpen pertamanya, Mereka Bilang, Saya Monyet!, Jangan Main-main (dengan Kelaminmu), Cerita Pendek Tentang Cerita Pendek. Meski pada buku ketiganya kesan nakal pada judul berkurang.

Djenar, kali ini menceritakan sosok Nayla dalam berbagai episode cerpen. Hal ini mengingatkan terhadap beberapa cerpenis senior yang konsisten memakai sebuah nama tokoh dalam cerpen karyanya. Bisa dilihat pada karya Seno Gumira Ajidarma yang sudah dinisbatkan pemilik tokoh Sukab, Putu Wijaya berkutat dengan nama Pak Amat, Bu Amat, Ami dan Taksu dalam berbagai cerpennya. Dan Djenar dalam sebelas cerita ini menggunakan Nayla sebagai master cerita. Nayla diperkenalkan Djenar dalam cerpen Waktu Nayla, yang menyabet cerpen terbaik Kompas 2003. Kemudian Nayla dinovelkan dengan judul yang sama Nayla.

Hal lain yang selalu dikonsistensikan oleh Djenar adalah tema, tema-tema yang diangkat selalu tidak jauh-jauh dari wanita, seks, dan kekerasan. Maka beberapa waktu setelah kemunculan Djenar yang menggemparkan itu sastrawan-sastrawan menilai Djenar dengan label satra selangkangan. Ini dapat ditemukan pada kumpulan-kumpulan cerpen sebelumnya. Kisah seorang anak yang disiksa ibunya, diperkosa ayahnya, pelecehan seksual terhadap wanita, dan senadanya.

Dalam T(w)itit!, tema-tema itu sedikit terbiaskan. Seksual dan kekerasan tidak terlalu terekspos secara jelas, meski beberapa cerpen masih begitu tendensius terhadap tema tersebut. Salah satu penggalan kalimat dalam cerpen Bung, “Seorang Malaikat yang rajin menggeliat di atas tubuh Ibu yang tak lagi liat. Dan di atas tubuh Nayla saat Ibu tengah mengeluarkan suara dengkur yang teramat berat.” Atau dengan jelas pada cerpen Nayla.

Keberanian Djenar mengungkap ketabuan memang sudah diakui beberapa pihak. Bahkan ketika pertama muncul dalam dunia sastra Djenar mengagetkan banyak penikmat sastra. Merasa risih membacanya atau malu-malu saat orang tahu. Benar. Karena cerpen Djenar terkesan nakal dan sangar.

Djenar dalam cerpen T(w)itit!, menceritakan seorang perempuan yang dikejar deadline menulis oleh sebuah redaksi. Memaksanya menulis sesuai keinginan redaksi tanpa memperhatikan suara hati dari Nayla si tokoh utama. Nayla merasa menjadi wanita seutuhnya ketika memilih berpisah daripada dipoligami suami. Meski hati tak bisa dipungkiri. Sedihnya menyayat. Sakitnya berkarat dalam hati. Sedang dia diminta redaksi menulis tentang apa yang berlawanan kutub dengan hatinya, yaitu menulis keikhlasan hati istri untuk dipoligami. Maka ia menulis yang tidak sehati dengannya.

Maka Nayla menulis tentang rembulan. Walaupun ia ingin menulis tentang hujan. Nayla menulis tentang garam. Padahal ia ingin menulis tentang geram. Nayla menulis tentang sinar matahari. Padahal ia ingin menulis tentang sinar matahati. Matahati yang sinarnya padam saat ini. Karena ia harus menulis naskha tentang keikhlasan hati seorang istri yang dipoligami.

Ketika Djenar menceritakan bahwa Nayla sedang dikejar deadline penerbit, tiba-tiba ingatan tertuju pada waktu dan rentang penulisan cerpen. Sebelas cerpen ini ternya hanya ditulis dalam jangka waktu 26 September 2011 hingga 2 januari 2012. Bahkan hanya cerpen UGD yang ditulis pada September 2011. Delapan lainnya hanya pada 23, 24, 27, 28, 29 dan 30 Desember 2011. Dua terakhir ditulis pada 1 dan 2 januari 2012. Pada 23 dan 28 Desember 2011, Djenar menciptakan dua cerpen sekaligus dalam sehari. Benar-benar suatu kerja keras menuju deadline dimana buku ini diterbitkan pada 14 Januari 2012. Dua belas hari setelah cerpen terakhir dikreasikan.

Dari rentang waktu yang sedikit ini ada dua sisi dari Djenar. Pertama kerja keras dan rasa kreatifitasnya sangat tinggi. Namun di sisi lain dapat dirasakan oleh pembaca kumpulan cerpen ini kurang menggigit dibandingkan empat kumpulan cerpen lainnya. Asumsi awal adalah kurang greget karena menulis terlalu dikejar waktu, seperti Nayla ceritakan.

Cerpen lain yang menarik adalan Mimpi Nayla, cerpen ini jauh dari fulgarisme. Justru kematian dan kesedihan perempuan yang dirundung kematian. Kematian orang tuanya, suaminya, kemudian anak sulungnya. Hingga ia merasakan segera bangunkan ia dari mimpi ini. Buku tangannya Nayla dicubit. Sebagai cara untuk meyakinkan bahwa kepiluan ini nyata bukan mimpi seperti harap Nayla.

Djenar dalam semua cerpen selalu bermain rima. Kesamaan bunyi setiap kalimat dalam satu paragraf. Sebagai keindahan dari Djenar, namun beberapa kali ini terkesan sangat memaksakan. Satu hal lain dalam cerpen Kosong, Djenar menulis “Malam mulai berangin. Kopi di dalam cangkir sudah tak lagi dingin.” Dalam hukum kausalitas seharusnya ketika sudah ada angin, maka kopi di dalam cangkir yang semuala panas, akan dingin. Bukan “sudah tak lagi dingin”. Meski rimanya tepat, namun kurang masuk akal. Rima yang seharusnya menjadi titik berat keindahan Djenar selain tema, sedikit menganggu pembaca.

Lebih dari itu, bagi penggemar Djenar atau follower twitter Djenar @djenarmaesaayu, cerpen ini adalah kehausan dahaga para penggemarnya. Dahaga akan karya nakal-nakal dari Djenar. Dan Nayla akan menyebar bersama pembaca.


Profile Image for drg Rifqie Al Haris.
74 reviews5 followers
April 15, 2012
REVIEW

Sebelas twit yang menjelma menjadi sebelas cerita pendek yang menarik yang selalu saja ditokohi oleh seorang perempuan bernama Nayla. Hanya saja setiap cerita pendek nampaknya menyajikan Nayla dengan latar belakang dan nasib yang berbeda-beda. Nayla adalah gambaran sosok perempuan yang dihadapkan masalah-masalah yang cukup mengusik dari segi gender. Dari mulai keluarga, kehidupan sosial, dan seksualitas dengan segala macam tempaan yang begitu menyakitkan. Nayla yang di sebelas cerita akan menjelma menjadi sosok anak-anak, sosok remaja, sosok Ibu dan sosok janda akan menghadapi relita kehidupan yang cukup keras yang membuatnya menjadi sosok yang tangguh.


OPINI

Jika kita menyandingkan buku "Kicau Kacau" nya Indra Herlambang dengan buku ini tentu saja satu persamaan mendasar adalah bahwa kedua buku tersebut adalah pengembangan sttus Twitter menjadi sebuah cerita pendek. Tapi di sisi lain perbedaannya pun sangat signifikan jika kit telah membaca keduanya. Tulisan Indra lebih pop, ringan, cenderung ke komedi dan motivatif. Sedangkan Djenar menyajikannya dalam cerita yang gaya bahasanya cukup serius.

Masih dengan tema yang menjadi ciri khas Djenar, cerpen-cerpen di buku ini masih kental dengan bahasa vulgar yang jujur, mengalir dan dahsyat dalam menuturkan sebuah kisah. Memang secara keseluruhan kisah yang disajikan di sini cukup "gelap". Tapi dengan membacanya kita akan dihadapkan sebuah realita yang akan selalu ada dalam masyarakat.

Dalam memilih tema dan kata-kata yang vulgar, Djenar bisa disandingkan dengan Ayu Utami. Hanya saja Djenar nampaknya lebih banyak memasukkan gaya bahasa prosa di tulisannya. Kalau kita amati, setiap paragraf demi paragraf, Djenar menyusunnya sedemikian rupa dan memilih kata-katanya hingga selalu saja terbentuk rima bak puisi. Menjadikan sebuah kekuatan tersendiri ketika kita membacanya.


DID YOU KNOW?

Buku ini adalah buku keenam yang ditulis Djenar Maesa Ayu. Djenar menyelesaikan 10 dari 11 cerita dalam 10 hari saja. ”Satu cerpen saya tulis di bulan September, sisanya baru saya tulis sejak 23 Desember. Buku ini gila,” ujarnya.

Buku ini dirilis bertepatan dengan ulang tahun Djenar genap berusia 39 tahun pada 14 Januari 2012. Tulisan ini adalah sebuah cerita yang dikembangkan dari twit Djenar. Dari sebelas twit yang dipilih, jadilah sebelas cerita pendek yang mengagumkan khas Djenar.

Tentang makna judul "T(w)ittit!" Djenar mengaskan, "Judul T(w)ITIT! sendiri sebenarnya juga upaya mengaduk imajinasi. Pembaca bisa menghubungkannya dengan twitter, atau langsung menghubungkannya dengan twitter minus huruf w."
Profile Image for Afina.
10 reviews1 follower
June 23, 2014
Mungkin ini terkesan membanding-bandingi, tapi saya penggemar karya-karya Ayu Utami; yang membuat saya tertarik membaca karya Djenar, karena mereka berdua menulis dalam genre yang sama (sastra wangi/literatur feminis). T(w)ITIT! adalah buku pertama Djenar yang saya baca, namun saya cukup familiar dengan gaya tulisannya yang selalu berakhir dengan rima (saya pernah membaca buku seorang penulis amatir yang mengaku belajar menulis dari Djenar -- hasil karyanya juga sarat dengan gaya rhymes).

Djenar menulis cerpen dengan gaya berpuisi. Terus terang, saya tidak menikmati buku ini. Setiap membaca awal kalimat baru, saya sambil menebak-nebak kira perkataan apa di akhir kalimat, yang ujungnya sama dengan kata terakhir di kalimat sebelumnya. Rasanya jadi ingin ikut-ikutan 'berpantun'. Dan tentu saja, setiap susunan kalimat yang diakhiri dengan rhymes itu terlalu panjang untuk ukuran sebuah pantun (gurindam Melayu saja mana ada yang sepanjang itu), namun rasanya terlalu pendek dalam penceritaan sebuah prosa. Membacanya jadi seperti terhenti-henti. Makanya membaca buku ini terasa annoying . Terkadang Djenar seperti terkesan memaksa, mencari-cari kata yang pas, tetapi akhirnya maknanya rancu. Bahkan ada satu paragraf yang menurut saya wasted, retorikal, tidak perlu ditulis, contohnya seperti cerpen Kosong:

"Nayla merasa yakin, jika perasaannya tak yakin, maka segala sesuatu yang mungkin, bisa menjadi tak mungkin. Sebaliknya, jika perasaannya yakin, segala yang tak mungkin, bisa menjadi mungkin. Jadi jika saat ini Nayla merasa tak yakin, untuk apa menunggu? Tidakkan ia hanya akan membuang-buang waktu?"

O iya, ketika membaca buku ini saya hampir lupa kalau T(w)ITIT! adalah kumpulan cerpen, bukan novel. Setiap tokoh utamanya pasti perempuan bernama Nayla, meski ia adalah orang yang berbeda-beda dalam setiap cerpen. Terkadang saya keliru, saya membaca tentang Nayla dalam cerpen yang baru, tapi Nayla 'lama' masih terbayang-bayang dari cerpen sebelumnya, haha :))

Anyway... I cannot enjoy this book. So I rate it 1 out of 5 stars.


Profile Image for Dharma Putra.
7 reviews3 followers
May 9, 2012
saay pikir, buku ini ditiap bagian ceritanya, saling berkaitan. ternyata beda bab, beda cerita. maklumlah, saya terperangkap dengan nama tokoh yang sama: NAYLA.
banyak konflik disini. mulai dari keluarga, sosial, seksualitas. kehidupan yang keras, kasar, rumit menjadikan sosok nayla dikenal dengan seorang pemberontak.

dari sebelas cerita yang ada di dalam buku ini, saya suka dengan MIMPI NAYLA. seperti belajar tentang tak ada keabadian, tak ada yang kekal. semua akan hilang, dan pergi dengan tenang.
"bagaimana mungkin mengelak dari luka dan kebahagiaan, pertemuan dan perpisahan, jika kita tak kuasa memilih kelahiran dan menunda kematian?". Ah, nayla, nayla, mengapa kamu takut akan kematian dan hilangnya kebahagiaan?

djenar sangat pintar dalam memilih kata. bila kita perhatikan, ditiap paragrafnya, seperti membentuk rima puisi dengan akhiran a/a/a/a. dengan gaya bahasa yang khas dan kaya makna, terasa ada kenikmatan tersendiri ketika membaca buku ini.

dan terakhir, saya rasa di halaman cover depan buku ini perlu ditulis : "UNTUK DEWASA, JAUHKAN DARI JANGKAUAN ANAK-ANAK"

Profile Image for Ayu Kusumaningrum.
19 reviews2 followers
October 13, 2012
"Hidup bukan untuk mencari perhentian, tapi untuk melakukan perjalanan." Nice quote.
Profile Image for Puspa.
168 reviews2 followers
August 11, 2020
Nayla adalah salah satu karya Djenar Maesa Ayu yang melambungkan namanya. Tak heran apabila kemudian Djenar menjadikan Nayla sebagai karakter favoritnya. Dan di kumpulan cerpen bertajuk T(w)itit! ia mengupas serba-serbi kehidupan Nayla. Karena proses membaca Nayla sudah beberapa tahun silam, saya tidak terlalu yakin apakah Nayla dalam novel ini karakter yang sama dengan yang terdapat dalam buku Nayla.

Ada 11 cerita dalam buku keenam Djenar ini. Cerita awal bertajuk UGD berkisah tentang pertemuan yang gagal antara seorang pria dan wanita. Pria yang memasuki masa senja dan beristri menunggu si wanita di rumah makan. Sementara si wanita yang memiliki rentang usia 30 tahun dengan si pria, terjebak macet berjam-jam. Cinta terlarang itu mengalami dilema, apakah berlanjut ataukah dihentikan saat masih bisa berpikir logis.

Kisah berikutnya memiliki judul Nayla dengan karakter utama Nayla yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Ia mencoba membuka kelim roknya agar bisa lebih panjang. Ia tak enak hendak meminta uang ke ibunya yang terpaksa bekerja apa saja untuk menghidupi mereka berdua. Rupanya ada satu rahasia yang tak diceritakan Nayla kepada ibunya, sebuah kejadian yang mengerikan baginya.

Sedangkan di kisah bertajuk T(w)iTIT! mengisahkan kegelisahan melakukan pekerjaan yang tak disukainya. Yaitu membuat sinopsis untuk layar gelas dengan topik yang tak sesuai dengan idealismenya. Ia ingin berontak tapi ia sadar ia memerlukan uang untuk membiayai sekolah putrinya. Ia sulit mengelak dan ingin berbagai perasaannya di twiter namun ia jengah jika status di twitternya dikait-kaitkan dengan sesuatu oleh stalker. Ia menyebutnya di awal ‘Status twitter oleh beberapa orang sering ditengarai sebagai isyarat. Sorry, kamu salah alamat!’

Meskipun mengambil judul dengan unsur twit tapi tidak banyak kisah yang tertuang mengungkapkan tentang twitter atau kicauan. Saya jadi menduga-duga ada alasan mengapa Djenar membubuhkan tanda kurung di dalam ‘w’-nya karena selama ini Djenar bermain-main di topik sensual.

Ya, di buku ini masih terdapat ciri khas Djenar dengan gaya sensualnya meski tidak terlalu vulgar seperti karya-karyanya yang lain. Buku ini agak homogen berkisar tentang kehidupan Nayla dari kecil hingga menua. Namun ketika membacanya saya merasa ketidakkonsisten cerita satu dengan cerita lainnya tentang timeline, seperti usia ketika ayah Nayla meninggal, kisah hidup Nayla, dan sebagainya. Ini membuat saya bertanya-tanya apakah tokoh Nayla di tiap cerita tersebut adalah karakter yang sama atau Nayla yang beragam.

Yang membuat buku ini menarik adalah pilihan kata yang digunakan Djenar menyusun kisahnya. Memiliki rima yang enak dibaca. Seperti paragraf berikut. Asap kopi yang melingkar di atas cangkir tak lagi hadir. Mungkin kehangatan di dalam kopi itu sudah menyingkir. Kopi di dalam cangkir itu sudah dingin. Seperti Nayla yang sudah kehilangan rasa ingin.

Oleh karena buku ini memuat topik perselingkuhan maka buku ini tidak bisa dibaca semua kalangan. Lebih pas dibaca oleh kaum dewasa.

Ulasan juga tayang di: https://dewipuspasari.net/2015/05/27/...
4 reviews
April 28, 2025
keren, ceritanya mengangkat tema yang penting untuk diangkat di masyarakat.
Profile Image for Ayu Fitri.
Author 8 books12 followers
February 23, 2017
Aku kasih 3.5 bintang.
Pertama kalinya baca tulisan mbak Djenar dan langsung cocok, suka deh.
Gaya tulisannya simpel, lugas, dan sedikit sarkas gitu, aku selalu kebawa tiap baca karena memang mengalir banget.
Tertarik baca buku mbak Djenar lainnya nih.
Ini juga bukunya nggak sengaja nemu di diskonan :))
Profile Image for Meta Morfillah.
670 reviews23 followers
August 25, 2016
Judul: T(w)itit!
Penulis: Djenar Maesa Ayu
Penerbit: Gramedia
Dimensi: ix + 99 hlm, cetakan ketigavjuni 2012
ISBN: 978 979 22 7967 2

Ada sebelas cerita pendek dengan tokoh Nayla, namun berbeda kisah. Di cerpen "UGD" berkisah tentang perselingkuhan dengan usia yang terpaut cukup jauh. Di cerpen "Nayla" berkisah tentang ironi rok sekolah yang kependekan dengan akhir perkosaan Nayla. "Mimpi Nayla" berkisah tentang kematian yang dianggap mimpi oleh Nayla. Sementara di kisah "Jinxie", Nayla digambarkan sebagai wanita dengan kepribadian ganda yang berteman dengan seekor anjing. "T(w)itit" berkisah tentang ketidakjujuran seorang penulis demi menyambung hidup dan pendidikan anaknya. "Kosong" berkisah tentang kegalauan seorang penulis wanita yang jatuh hati pada pemilik kafe kopi tempatnya menulis. "Bung" berkisah tentang kebimbangan seorang anak yang hamil karena diperkosa pacar ibunya dan pilihan hendak aborsi atau tidak, dan jadi ibu macam apakah dia nanti. "It takes two to tattoo" berkisah kandasnya hubungan 5 tahun karena tato. "Check in" berkisah perselingkuhan suami istri yang ternyata keduanya adalah lesbian dan gay (juga biseks). "Petasan, setan" berkisah tentang taman imajinasi dan kebencian Nayla pada hari besar yang berujung kebakaran dan matinya kedua orangtuanya. Dan cerpen terakhir "Coffeewar" berkisah tentang kopi yang semakin dingin bagai hubungan yang kandas.

Usaha penulis menghadirkan twist di tiap cerpennya cukup oke. Beberapa diksi, satire/sindiran sosial dan puitisnya pun menarik. Tapi beberapa di antaranya tak saya mengerti. Tentu saja penulis sudah dikenal sebagai penulis dengan aliran sastra basah, yang tak jauh dari membahas ranjang dan judulnya fantastis ke arah sana. Sejujurnya cerpen yang dijadikan judul utama buku ini menurut saya justru tak menarik. Saya lebih suka twist di cerpen "Nayla". Tapi sepertinya itu strategi menjual buku ini. Tapi saya kurang menikmati tulisan ini. Sebab memakai nama tokoh yang sama untuk 11 cerpen dengan kisah yang tak memiliki benang merah tapi temanya hampir semua ironi, pemerkosaan, dan eksploitasi membuat saya bosan dan lelah membacanya. Pantaslah buku ini saya dapatkan seharga 10 ribu

Saya apresiasi 3 dari 5 bintang.

Meta morfillah
Profile Image for Ursula.
305 reviews19 followers
March 6, 2012
Masih Nayla yang biasanya, pemberontak, berkata kasar, hidup sarat dengan siksaan, konflik dengan pria, dan perselingkuhan. Tetap dengan lika liku kejiwaan yang rumit. Kumpulan cerpen Djenar Maesa Ayu yang terinspirasi dari beberapa tweet nya ini, cukup menarik untuk dibaca.

Terdiri dari 11 cerita pendek dengan berbagai macam tema, tapi tokoh utamanya hanya seorang, Nayla. Kita akan melihat berbagai macam peristiwa dari mata Nayla, yang peran, karakter, usia, dan perilakunya berbeda semua di tiap cerita. Isi cerita masih seperti Djenar pada umumnya, berselibat antara perselingkuhan, seks, pemberontakkan, dan lainnya. Sejujurnya, untuk saya buku ini agak sedikit membosankan. Tidak terlalu menawarkan hal yang baru, tapi tetap enak dibaca.

Dalam kumpulan cerpennya kali ini, cerita favorit saya jatuh kepada "COFFEEWAR" dan "Mimpi Nayla". Entah mengapa, dua cerita ini terasa berbeda saja, terutama "Mimpi Nayla". Dalam cerpen ini, saya melihat kisah yang sedikit tenang, sedikit umum, dan Nayla yang entah mengapa hatinya lebih lembut ketimbang Nayla-Nayla lainnya. Demikian "COFFEEWAR", Nayla di sini juga terkesan berbeda. Karena itulah dua kisah ini menurut saya sangat menarik. Lebih tenang, lebih lembut, lebih... berkesan.
Profile Image for Silviana Maya.
49 reviews1 follower
March 19, 2016
T(w)ITITmerupakan buku pertama Djenar yang saya baca, walaupun sudah cukup lama mendengar nama besar penulis.

Kesan nakal sangat sarat dengan semua tulisan-tulisan Djenar, hal tersebut dapat langsung terlihat pada judul-judul karangannya.

Dalam buku ini, penulis sangat konsisten dalam menggunakan nama Nayla pada setiap judul cerpennya. Sebagaimana konsistennya ia mengusung tema untuk dipaparkan. Tentang Perempuan, Seks dan pelecehan seksual. Walaupun pada beberapa judul, hal tersebut tidak terlalu gamblang dituturkan.

Selain pemilihan tema dan nama tokoh, Djenar juga konsisten memainkan rima kata dalam satu paragraph, hal ini bagus, hanya saja pada beberapa bagian justru menimbulkan kesan dipaksakan. Dan ini cukup mengganggu.

Well, setidaknya saya cukup mendapat ide baru untuk terus menggunaan satu nama pada setiap cerita yang saya tulis nanti sebagaimana yang Djenar lakukan- yang ternyata sebelumnya sudah dilakukan penulis besar lainnya.

Untuk kali pertama membaca tulisannya, saya merasa kurang puas. Karena ekspetasi saya tentang penulis ini cukup tinggi... dan sayangnya tidak terpenuhi pada kumcer ini.


#phie #tobuki #pireview
@silviana_maya
Profile Image for Sulin.
332 reviews56 followers
December 17, 2016
I love the way she makes plot-twist. Yay!
Almost all of "Nayla" thingy make me crayyyy hahaha. Djenar got dictions, Djenar got rhymes!
Probably the last book I finished in 2016
Also, I have one thing to say:

I believe in love without proof.

-pg. 48-


yeah, you.
Profile Image for Aulia.
16 reviews2 followers
March 18, 2014
well, this is a great book!

"Kematian tak akan bisa mati.
Deeper than my fear of what might happen to this country is my despair.
Bagaimana mungkin mengelak dari luka dan kebahagiaan, pertemuan dan perpisahan, jika kita tak kuasa memilih kelahiran dan menunda kematian?
Kehilangan adalah proses awal menemukan.
I believe in love without proof.
Bung, di hari ulang tahunmu yang cerah ini ada segumpal awan yang mengandung mendung. Mungkin ia tahu, saya masih berkabung.
Jika ada anak panah yang menusukmu, berharaplah itu bukan berasal dari busur jenuhku.
Status twitter oleh beberapa orang sering ditengarai sebagai isyarat. Sorry, kamu salah alamat!
We're not born to be something we're not.
Jadilah mimpi, yang menyelinap saat ia tak sadar diri dan terbangun tanpa tahu jika hatinya telah tercuri.
Hidup bukan untuk mencari perhentian tapi untuk melakukan perjalanan."
Profile Image for Riri.
61 reviews1 follower
April 21, 2012
ini adalah kumpulan cerpen ke dua Djenar yg saya baca...
isinya tidak beda jauh dengan buku yg sebelum nya 'mereka bilang saya (monyet)'
masi mencoba menceritakan hal hal yg mungkin masi di anggap 'kurang pantas' bagi orang lain kebanyakan yang tinggal dan hidup dengan budaya 'ketimuran'..

kalo boleh saya bilang... berupa luapan pemberontakan dari diri si penulis..menarik untuk di ketahui, tapi tidak untuk di rasakan sendiri...

trauma kadang bisa mendewasakan tapi lebih banyak menghancurkan.
orang yang bisa coping dg trauma pasti dewasa.., tapi untuk dewasa tidak harus di awali dg trauma..belajar dari pengalaman orang lain rasanya lebih baik daripada harus menunggu hal yg sama terjadi pada kita.

Profile Image for Rose Gold Unicorn.
Author 1 book143 followers
January 20, 2014
sorry mbak djenar saya cuma bisa kasih 2 bintang.

saya merasa jenuh dengan topik yang disuguhkan mbak djenar dalam buku ini. mblunder kui-kui wae. bahasanya juga berima bikin saya merasa mbak maksa menulisnya (meskipun saya tahu mbak sudah expert soal ini, pastinya) tapi tetap saja saya merasa begitu. jadi saya kurang bisa menikmati keindahan bahasanya (padahal ya indah kok) hehehe...

terus kenapa setiap tokoh namanya harus nayla? kenapa jadi terasa kayak SGA yang mengusung tokoh sukab? atau memang itu seni sastra yang otak saya tidak sanggup mencernanya? entahlah. pokoknya saya merasa bosan...

overall sih bagus. saya suka. ending yang wow, tapi saya tidak bisa mengunyahnya satu-satu. sedang saya juga tidak mau menelannya bulat-bulat. jadi, dua bintang saja deh... :D
Profile Image for Intan Kirana.
Author 6 books13 followers
December 7, 2013
Ada ide lain ga? Bentuk penokohan lain? Premis lain selain premis ala Mbak Djenar yang sudah kita kenal? Bosen saya bacanya. Mbak Djenar ibarat koki yang setiap hari menghidangkan nasi goreng : hari ini nasi goreng ayam, besok nasi goreng kambing,lusa nasi goreng beras merah, hari habis lusa nasi goreng campur mi alias minastel, lusanya lusa makan nasi goreng pake bumbu indofood. Enak, tapi lama2 orang bosen. Masak makan nasi digoreng mulu.
Cuma yah, memang Mbak Djenar jago dalam membuat dialog yang natural. Tetep sih ada satu cerita yang membuat saya jatuh cinta, dalam buku ini, saya suka yang it takes two to tattoo.

-Jika ada anak panah yang menusukmu, berharaplah itu bukan berasal dari busur jenuhku- DMA
Profile Image for Sitinurbaya.
12 reviews
February 7, 2012
I love Djenar Maesa Ayu works. Saya senang membaca setiap kalimat yang Djenar ciptakan dan berakhir dengan berima. Dalam kumpulan cerpen terbarunya ini, T(W)ITIT! berisi 11 cerita pendek yang salah satunya berjudul Nayla. Menurut saya, cerita pendek tersebut memiliki konteks mengenai pemerkosaan di dalam angkutan umum yang kini tengah ramai dibicarakan.

Selain itu, kutipan favorit saya dalam kumpulan cerita tersebut adalah "I believe in love without proof"

Sayangnya buku ini hanya berisi 97 halaman. Kurang puas untuk membaca karya Djenar. But it's still worth to read. I can't wait for the next works :)
Profile Image for Resqi Utomo.
5 reviews
October 6, 2012
Tipis namun padat dengan cerita keseharian. Begitulah, T(w)ITIT! Buku yang lahir dari serangkaian tweet Djenar di sepanjang timeline. Gaya bahasanya tajam, walau kadang sulit dimengerti khalayak.
Beberapa ceritanya sangat nyata menggambarkan problema hidup di kota besar, kata-katanya yang berima seakan mencoba menggapai daun telinga yang sibuk mendengarkan sekitar.
Dari cerita-ceritanya, saya salut dengan Djenar, beliau mampu merangkum segala rumit ke dalam potongan cerita pendek. Walau kadang ada beberapa penggunaan kata yang 'frontal' tapi yah itulah gaya Djenar menuturkan sebuah cerita/permasalahan, tidak ada sensor, tidak ada 'cut', semua bergulir dengan natural, orisinil.
Profile Image for Ryan.
Author 2 books17 followers
July 16, 2014
Another short stories, another Nayla, another rhyme.
Sepertinya saya mulai lelah membaca kumcer Djenar yang berpola seperti ini setelah sebelumnya saya membaca Saia yang kurang lebih berpola sama. Hanya berbeda pada cerita (yang meskipun tetap saja berpusat pada wanita dengan segala permasalahannya).

Satu kelebihan Djenar, meski tidak menyuguhkan cerita yang benar-benar mencapai klimaks, namun membuat pembaca berimajinasi sendiri akan bagaimana akhir dari masing-masing tokoh.

Harapan saya pada karya beliau selanjutnya, semoga tidak mengulang pola ini lagi agar tidak menjemukan pembaca. Sebab kalau pola ini terulang kembali, mungkin beliau sudah lelah.
Profile Image for Melita.
41 reviews2 followers
April 29, 2012
Pertama kali membaca Djenar.
Cerita-cerita yang disampaikan cukup menarik, namun beberapa cerita mengalir terlalu terburu-buru. Sehingga beberapa kali terasa aneh dan kurang 'nendang'. Seringkali kenikmatan membaca bersumber dari permainan rima kata Djenar. Permainan rima ini, menurutku, menjadi kekuatan tulisan Djenar sekaligus batu sandungan. Kadang memberi nuansa puitis dan nada unik, tapi di banyak tempat membuat 'gerah'. Seperti terlalu sengaja, sementara menurutku lebih baik dibuat mengalir polos saja.
Profile Image for Irrestry Naritasari.
4 reviews3 followers
February 26, 2016
ini adalah kali pertama saya membaca karya Djaenar Maesa Ayu. Kesan saya saat membaca jujur saja saya jenuh membacanya. Hampir di setiap cerita penuh dengan kisah 'perempuan dan selangkangan' it's all about vagina. Rima yang disajikan pun berulang ulang. Pengulangan yang terjadi secara terus menerus ini yang membuat saya merasa jenuh. Selain itu, saya merasa ada kesan dipaksakan sehingga harus tercipta sebuah karya, seolah tidak matang dalam proses penulisannya. Hal ini yang membuat saya pada akhirnya memberikan bintang 2.
Profile Image for Dodi Prananda.
Author 18 books41 followers
April 15, 2013
Kadang, muncul pikiran, bosan membaca cerita yang terkesan diulang. Pusaran cerita tak lepas dari situ-situ saja. Tapi, kelihaian bercerita Djenar, membuat saya seperti diikat untuk terus betah membaca. Khayal dan fantasi saya dibawa berkelana. Deskripsinya membuat kita masuk ke alam cerita.

Kadang, terpikir untuk 'meninggalkan' Djenar, tapi daya pikatnya sulit untuk membuat kita pergi. Djenar tahu cara membuat pembacanya terlena.
Profile Image for Sutresna.
225 reviews14 followers
July 11, 2014
Gaya cerita khas Djenar, dengan isu dan teknik berceritanya. Intonasi pada setiap akhir kalimat juga masih dipertahankan. Pasti sulit banget bikin macam gitu.

Tapi kurang terlalu WAH, tidak seperti kumcer SAIA yang ide tiap ceritanya brilian. Yang ini beberapa ceritanya biasa aja bagi yang sebelumnya pernah baca karya djenar yang lain, seperti saya, mungkin. Semacam terjadi pengulangan antar cerita yang saling ditukar dan dikombinasikan.
Profile Image for Primadonna.
Author 50 books374 followers
September 11, 2014
Ketika baca, rasanya tanggung. Seolah ditulis dengan terburu-buru (barangkali memang demikian?) mengejar tenggat. Pun rimanya terlalu banyak dan diksinya kok sepertinya itu-itu saja. Ada banyak kata berakhiran 'a' dan 'in' misalnya, atau barangkali aku terlalu berharap banyak pada buku ini dan berharap akan menyajikan kosakata yang lebih kaya. Rima itu bukannya membebaskan imajinasiku dalam membayangkan berbagai adegan dalam cerita, malah cenderung membelenggu.

Profile Image for Dee.
12 reviews
August 17, 2013
Kisah pendek oleh Djenar seperti biasanya padat dan tiap kalimat dalam tiap paragrafnya dijalin dengan 'pas' (a-a-a-a-a....). Tokoh wanita dalam tiap kisah pendeknya ini bernama sama: Nayla. Banyak orang dengan nama yang sama dengan kisah yang berbeda...itulah dunia dalam faktanya. Walaupun menunggu lama untuk setiap karyanya, kisah Djenar layak untuk dinantikan kelanjutannya.
1 review2 followers
September 30, 2016
Bosan ya.

Ini adalah paparan pertamaku dengan karya Djenar Mahesa Ayu. Buku ini kupilih karena tipis dan lagi diskon. Awalnya, aku cukup terpikat dengan tema dan bahasa yang edgy dan lugas. Namun, belum habis setengah buku aku sudah merasakan kemonotonan tema dan cara bercerita. Ironisnya, nama para tokoh utamanya pun sama, hahaha...
Profile Image for december.
21 reviews6 followers
February 1, 2012
gaya penuturan djenar masih sama, tanpa sensor, apa adanya, vulgar, dan akhir yang menggantung. ini merupakan kumpulan cerpen djenar, dengan Nayla sebagai tokoh utama di setiap cerita. Walaupoun memang tidak ada korelasi diantara semua cerita tersebut. Ada apa dengan Nayla, hey Djenar?
Profile Image for Seno.
14 reviews
February 18, 2012
tema2 'standar' Djenar-- perselingkuhan, keluarga broken home, dll-- menyelipkan rasa bosan. namun cerita2 lain yg bergaya misteri/thriller menjadi penyelamat. nilai plus perlu diberikan kpd Djenar krn mampu memanfaatkan twitter utk memperluas kanvas kreativitasnya
Displaying 1 - 30 of 47 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.