Buku ini merupakan hasil penelitian Julia Suryakusuma di sebuah perkebunan karet Citandoh, Jawa Barat, dengan meneliti kegiatan PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga) di Desa Buniwangi, Sukabumi, sebagai studi kasus untuk melihat konstruksi sosial keperempuanan di indonesia. Julia menggunakan konsep ibuisme negara dan memperlihatkan peribuan sebagai perantara hegemoni negara, dalam hal ini Orde Baru, otoriter paternalistik di segala bidang kehidupan dalam menjamin kepatuhan rakyat secara menyeluruh. PKK sebagai “organisasi wanita” ciptaan Orde Baru merupakan upaya terselubung negara untuk menguasai masyarakat.
Pak Harto memimpin Indonesia layaknya sebuah kerajaan, dan ia memandang dirinya sebagai sebuah raja. Idealnya seorang raja, tentunya ditemani ratu. Ibuisme negara merupakan manifestasi ideologi negara, dalam hal ini Orde Baru, guna memposisikan konsep sosial keperempuanan yang mengatur tindak tanduk perempuan.
Studi sosiologis berbalut metodologi feminis ini merupakan tesis penulis yang mengulik bagaimana cara-cara pemerintah Orde Baru "mengatur" peran perempuan melalui studi kasus organisasi PKK dan Dharma Wanita serta penelitian perdesaan di Buniwangi.
Melalui buku ini, pembaca akan paham bahwa di Orde Baru nya Soeharto hingga saat ini cirinya masih hierarkis dan patriarkal. Hal ini yang menjadikan perempuan terdomestifikasi dan kerja rumah tangga tidak diakui menjadi sesuatu yang produktif.
Pola pikir bahwa perempuan hanya hidup untuk urusan sumur, dapur, dan kasur inilah yang berusaha dicari akarnya oleh penulis, dan pola pikir konvensional tersebut wajib kita tolak untuk memberikan kebebasan yang sama entah itu dari sesama perempuan maupun laki-laki.
Setelah membaca buku ini, saya jadi berpikir betapa mengerikannya si penguasa negara 32 tahun melebarkan tangkapan matanya hingga pada tingkatan sebuah keluarga, untuk memastikan semua gerak masyarakat sesuai dengan apa yang diinginkan negara.
Kalau boleh saya bilang, pemerintah saat itu ternyata manipulator ulung. Lewat organisasi semacam PKK dan Dharma Wanita, pemerintah membawa negara agar sesuai dengan paham patriarki, dengan cara memberikan peran semu pada perempuan di luar urusan domestik.
Buku ini walau sebenarnya disusun berdasarkan sebuah tesis, tapi saya rasa sangat ringan dan mudah dipahami. Sangat jelas sekali penulis menjelaskan konsep ibuisme secara global dan contoh nyata implementasinya ke masyarakat, hingga metode penelitian yang dilakukan penulis pun juga dijelaskan di buku ini.
Sebagai perempuan, ada banyak sekali hal yang saya pertanyakan, contoh tentang "budaya ikut suami" atau tentang kenapa hingga sekarang perempuan yang sudah menikah baru dianggap "lengkap" dan statusnya naik di mata sosial, atau tentang hal 'sepele' seperti pertemuan RT/RW/Desa yang hingga saat ini hanya melibatkan laki-laki, dan saya menemukan jawaban-jawabannya di buku ini. Sebuah doktrin yang diberi oleh negara untuk perempuan yang dianggap menjadi sebuah kebenaran. Perempuan yang sebenarnya berperan besar dalam kehidupan sosial, tapi dikerdilkan agar posisinya di bawah laki-laki.
Karena latar waktu penelitian di buku ini di tahun 1980-an, buku ini memberikan pertanyaan baru bagi saya tentang ibuisme saat ini. Apakah secara persentase 'penganut' paham tersebut berkurang? Karena toh, jumlah perempuan yang bisa bersekolah saat ini juga jauh lebih banyak dibanding dulu. Atau mungkin ternyata jenjang pendidikan tidak berpengaruh terhadap jumlah penganut ibuisme ini?
Jadi menurut saya, buku ini selain menjelaskan 'sejarah' ibuisme, juga sanggup membuka ruang diskusi lebih jauh tentang peran perempuan saat ini.
"PKK tidak mewakili kaum wanita di Indonesia, tetapi mewakili kepentingan-kepentingan politik, ekonomi, dan ideologi elite penguasa".
This book pointed out that being a woman means that you have to be (instantly as) a mother; the one that should take care of the family, as a part of the country's development. In other words, you're expected to make money, take care of the family, AND take care of the country 🤦♀️
This is a very well-written, honest, eye-opening yet humble book; considering it was written by a scholar.
Finally, my very first Indonesian read this year. Welp, I’m almost lured to flip this book upside down, where in the case of this book, there’s the original Indonesian writing on one side, and the English one on the other side. Shocked at first, googled it later, and just found out that such a fun format named recto verso, AKA the double-sided book, exists, which I love to find more books with a similar format in the future. By the way, let’s go down to the book…
State Ibuism is a non-fiction genre that explores feminism and women's roles in Indonesian society during the early years of Indonesia’s development under the New Order regime led by the notorious former second president, Soeharto. Through her research and direct field observations, Julia aims to debunk the true purpose of the PKK and Dharma Wanita, two prominent organizations initiated by the regime designed to provide better opportunities and improve the prosperity of women across the country through various economic activities during their gatherings. However, these organizations instead became entities that curtailed their members freedom, closely controlling their activities and secretly enslaving them to advance the visions of higher elites and men in power, without warning or consent, employing tactical brainwashing. Especially concerning PKK, which is given the most emphasis in this book, Julia presents tangible evidence of how the institution turned into a hotbed of corruption, causing disaster for marginalized communities in a West Java region and exposing the dangerous side of the successful propaganda campaign during that period.
As a typical reader of fiction and literature, this book surprises me a lot. From the very first page, we are introduced to David Reeve’s and Robert Cribb’s opening, which turns out to be Julia’s advisor for her thesis. Yes, I’m a bit lost to finally realize that this book is actually a thesis later published in book form by “Komunitas Bambu” as the publisher. It’s unusual for me to read a thesis in book format, but I’m not mad because it turns out much more enjoyable than I thought, and it’s also easier to read compared to typical thesis papers published in reputable journals. What’s even more exciting is that this book isn’t just a dry theoretical discussion of how the “Ibuism” ideology is presented and exploited, but it also demonstrates the real-life effects on the people of Citandoh and Buniwangi village. The narration, the prose, and the documented portrait of the modest life of rural folks in what looks like an anthropologist’s diary format are so touching and feel very personal to me as a reader. On the other side, the photos of women’s gatherings, Julia’s words highlighting the lives of women before and after the PKK program, her findings about the PKK’s mismanagement of funds, and the inefficiency and misdirection of the programs, all of these facts bolster the argument that these programs aimed to domesticate women rather than empower them.
State Ibuism is an important work and a must read if you like to know about how the mangled, rushed, sloppily made programs by the dictator could majorly affect the lives of vast population of the country (also perfect if you still believe glorifying the Soeharto’s regime is still valid and necessary nowaday just because he once succesfully raised the currency value and then created a dazzling and sparkling city civilized only by the crazy rich as the icon for propaganda that worth the international exposure). It totally makes sense to refer to Julia’s work as one of the first breakthroughs in feminist studies that helps the science to intervene in Indonesia, as she boldly criticized how the regime demeaned and treated women, where they put them in a support role, underestimated women as unworthy to hold a great responsibility in a strategist position just because undefined reasons that lead to patriarchal and misogynistic believes. This work is very scientific, but it contains strong messages that could be a reminder for us about the cruelty of the regime order at the time. For me, this work would help to nail the dark history in the back of our mind, and remind us always that democracies are the only things that could emerge the political system grounded in humanity and justice, and there should be no place left for such dictators in this world anymore.
Buku ini sebenarnya adalah karya thesis studi master Julia Suryakusuma di ISS Belanda. Selama puluhan tahun karya Julia ini hanya bisa dinikmati umumnya oleh akademisi dan mahasiswa dalam bentuk naskah fotokopi yang disebarluaskan secara bawah tanah.
Ibuisme dirumuskan sebagai ideologi yang mendukung setiap tindakan yang diambil oleh ibu yang mengurus keluarga, kelompok, kelas, perusahaan, atau negaranya tanpa menuntut kekuasaan atau prestise sebagai imbalan (Djajadiningrat:44)
Dalam pemerintahan orde baru, negara memiliki kepentingan dalam mempertahankan kekuasaan dan kontrolnya atas masyarakat dan khususnya perempuan dengan membentuk sebuah konstruksi sosial resmi keperempuanan yang berideologi Ibuisme dalam bentuk contohnya Dhama Wanita dan PKK.
PKK yang menjadi objek penelitian Julia (di Desa Buniwangi) merupakan ideologi ibuisme yang terwujud di tingkat desa. Ideologi ibuisme negara sangat feodal, struktur, hirarki, tidak demokratis dan berorientasi pada status. Seorang istri kepala desa otomatis akan menjadi ketua PKK di desanya, tidak mempedulikan apakah dirinya kompeten atau tidak. Perempuan tidak memiliki otonomi bagi dirinya dan organisasinya.
Selain itu menurut Julia, PKK tidak sesuai dengan gaya hidup masyarakat wanita desa yang kebanyakan miskin pada tahun 1984 ketika penelitian dilakukan, dan programnya sangat Jawasentris tidak cocok apabila diterapkan misal di Papua.
Banyak ahli sosial berkomentar bahwa karya Julia ini merupakan karya klasik yang masih cukup relevan dengan kondisi politik dan sosial Bangsa Indonesia saat ini.
Buat saya karya Julia ini sangat enak dibaca, kaya, mendalam, cerdas dan berani. Walaupun menurut saya untuk menjadi sebuah buku non fiksi kajiannya cukup sedikit yaitu hanya di Desa Buniwangi dan kampung kebun karet Citondoh, Sukabumi. Saya tetap ingin membaca karya Julia yang lainnya.
Akhirnya! Pertanyaan saya sejak kecil tentang mengapa dan bagaimana perempuan Indonesia selalu diidentikan dengan pupur, dapur, kasur, terjawab di sini. Bukan karena semata-mata unsur pembatasan pendidikan, tapi jauh lebih besar dari itu. Sebuah konstruksi sosial, melibatkan negara dan aparatusnya, menjadikan negara menyentuh hal paling privat masyarakatnya yaitu keluarga.
Julia Suryakusuma tidak menggunakan bahasa gading dalam menjabarkan bagaimana konstruksi sosial ini terjadi. Sehingga saya yang bukan akademisi pun mampu menikmati jalan cerita penelitian dengan secangkir spanish latte hangat. Julia sangat gamblang menjelaskan fenomena sosial yang terjadi di dalamnya dan membuatku termanggut2 ketika membaca. Buku ini sangat pantas menjadi rujukan mengenai berbagai penulisan mengenai keperempuanan dan narasi keibuan di Indonesia, masih sangat relevan meskipun ditulis hampir 2 dekade lalu. Bahkan mungkin relevan hingga 100 tahun ke depan, seperti yang ditulisnya pada bagian pengantar.
"Perempuan hanya eksis dan dilihat dalam relasi dengan kepentingan karier suaminya." Bacaan yang wajib untuk memahami konstruksi keperempuanan yang ideal pada masa rezim Soeharto yang masih sangat relevan dan tetap terjadi hingga sekarang, Pada saat itu tidak hanya dikendalikan oleh wacana norma, adat, dan kodrat tetapi juga kekuasaan negara berperan. Membahasa tentang organisasi seperti PKK dan Dharma Wanita yang dimana mereka seolah-olah memperkuat posisi perempuan dalam masyarakat, namun justru membuat mereka tidak berdaya dengan konsep-konsep ibu rumah tangga, domestikasi, priyayisasi yang beberapa kali disebutkan dalam buku ini.
[edited] Bagian paling menarik bagi saya justru refleksinya terhadap metodologi yang digunakan dan proses penelitiannya. Konsep 'pembebasan' yang utopis dikontraskan dengan realita di lapangan. Buku yang menarik untuk memberikan gambaran mengenai konsep state ibuism pada rentang tahun '80-an, dan sedihnya masih relevan untuk menggambarkan model pendisiplinan perempuan sampai sekarang.
sebuah penelitian yang dilakukan oleh Julia Suryakusuma mengungkapkan secara detail mengenai salah satu perjalanan perpolitikan orde baru indonesia dari perspektif kaum feminis.
Ada satu fakta menarik, meski pendek belaka: pernah ada masa ketika ketua organisasi istri tidak dijabat oleh istri pucuk tertinggi organisasi tersebut.
Sehabis membaca buku ini aku jadi punya tiga hal yang menghantui pikiran. Pertama, membaca buku ini seolah membabat habis soal Orde Baru dengan "Demokrasi Terkontrol" melalui pembentukan organisasi perempuan yang memang perlu dikuliti. Sambil agak misuh sih saat membacanya, hiks hiks hiks.
Kedua, membaca buku ini seolah besok pagi kamu siap akan skripsi, hehehe. Ya, bagaimana tidak. Buku ini memang sebenarnya adalah tesis Bu Julia yang dibukukan dengan pembaharuan konsep, mulai kemasannya yang lebih ciamik, penataan bahasanya yang lebih santai, sampul depan-belakang yang "nyeni abis" itu. Ternyata setelah ditelisik sampulnya memang lukisan salah satu seniman perempuan Indonesia.
Ketiga, membaca buku ini sama halnya dengan menguliti sejarah masa lalu. Dan kamu akan dimanjakan dengan pemikiran-pemikiran baru yang menjalar kemana-mana. Meski membahas soal organisasi perempuan bentukan orba sejenis Dharma Wanita, Dharma Pertiwi, Kowani, dan PKK, mungkin pikiranmu akan senantiasa memikirkan juga hal lainnya. Memikirkan soal "Oo pantes yaa ada ini" "Oo pantes ya ada itu" atau yang lebih besar lagi "Oo pantes yaa Indonesia seperti ini".
Singkatnya, kamu akan menjadi bulat dengan "O" sambil manggut-manggut macam mendengarkan lagu yang disukai.
Meski bahasanya santai, ada beberapa hal dasar yang sebenarnya harus menjadi pedoman diri sendiri. Namanya juga tesis, ya. Ada beberapa istilah asing dan nyeleneh yang masih nyempil untuk nimbrung di paragraf tertentu. Tapi tenang, untuk menyikapi hal tersebut kamu bisa sambil siap sedia kamus di sampingmu. Kalau sudah tahu makna leksikalnya sepertinya sih aman-aman saja. Kamu bisa melanjutkan pada bab-bab berikutnya.
Kesimpulan dan ringkasan yang menjadi penutup pada buku ini pada dasarnya bukan benar-benar menjadi akhir. Ia menjelma menjadi langkah awal untuk menulusuri hal-hal lainnya. Soal orba, soal PKK, soal organisasi wanita yang katanya bernafas gerakan dan pembangunan.
Ibuisme Negara semula adalah tesis Julia Suryakusuma di Institute of Social Studies, Den Haag, Belanda pada tahun 1988. Walaupun disusun 34 tahun yang lalu, buku ini masih relevan dengan kondisi perempuan saat ini. Aku juga setuju kalau buku ini bisa dibilang sebagai kajian wajib terkait isu keperempuanan di Indonesia.
Ibuisme negara sendiri merupakan sebuah teori yang diperkenalkan oleh Julia Suryakusuma. Menurutnya, Ibuisme negara adalah proses domestikasi perempuan yang bersifat sangat membatasi dan mengontrol untuk tujuan pembangunan nasional. Teoi ini sekilas mirip dan megandung unsur-unsur "pengiburumahtangaan" serta "ibuisme", namun menurut Julia, konsep Ibuisme negara lebih tepat untuk konteks Indonesia. Ibuisme negara langgeng di Indonesia karena teori ini sejalan dengan nilai-nilai feodalisme, kapitalisme, dan konservatif.
Lewat buku ini, Julia menjabarkan bagaimana pemerintahan Orde Baru begitu mengontrol masyarakat Indonesia lewat Dharma Wanita dan PKK. Kedua organisasi itu menjadi wadah berkembangnya Ibuisme negara. Ketika Dharma Wanita merangkul istri-istri pegawai negri, PKK merangkul perempuan-perempuan lainnya baik dari kota ataupun desa. PKK (pada masa Orba) memiliki program-program berorientasi kota untuk perempuan kelas bawah di kota dan desa, yang pada kenyataannya seringkali bertentangan dengan kehidupan masyarakat di desa dan justru memberatkan perempuan desa.
Aku sempat mengira Ibuisme Negara akan sangat teoritis, namun ternyata gaya penulisan Julia sangat mudah dimengerti untuk aku yang bukan akademisi. Cuman memang sedikit merasa miris karena apa yang dijabarkan oleh Julia di buku ini masih bisa aku temukan di masa kini. Meskipun praktiknya sudah sedikit berbeda, tapi tetap mengakar kepada Ibuisme negara. Seperti yang dikatakan Julia dalam kata pengantar, "Semakin berubah, semakin tetap sama."
"This ideology of state ibuism was extremely feudalistic in nature: in its structure, hierarchy, in its undemocratic with organisational positions derived from being someone’s wife and not necessarily as a result of any merit of their own. Women were given activities that on the surface provide them with a certain importance and status. But instead of strengthening women and increasing their power, policies and programmes derived by the state from the gender ideology of state ibuism rendered them powerless. Furthermore as with priyayization, state ibuism was urban-oriented, propagating activities and values that were often unrelated to the realities of rural women."
Indonesian concept of feminism is questioned through this book. The brilliant Julia Suryakusuma comes with her challenge and statement that the notion is somehow controlled not only by the discourses of norm, adat, and kodrar but also the state power. Through those government organisations such as PKK and Dharma Wanita, women are somehow given the freedom and acknowledgement yet is controlled by the higher power which- in this case, the socio-cutural laws and the state power. They seemed strengthening the women's position in the society yet they make them powerless with the concepts of housewification, domestication, priyayization which are mentioned several times in this book. Overall, the Indonesian feminism is only limited to the discourses and often being 'taken down' in the Indonesian patriarchal system.
The book is available at affordable price. Contact @bukukobam for purchasing your own.
Karena pekerjaan & program studi kuliah saya, saya sudah cukup sering mendengar istilah Ibuisme Negara, yang kerap digunakan untuk menjelaskan peran penting negara dalam mengontrol gerak-gerik dan peran perempuan, terutama pada masa Orde Baru. Istilah ini berangkat dari penelitian Julia Suryakusuma dengan ISS, Den Haag dengan judul yang sama.
Ternyata setelah saya baca bukunya, isu yang Julia teliti pada tahun 1980-an masih tetap relevan sampai saat ini. Isu tentang perkawinan anak, pembagian kerja gender, beban ganda yang ditanggung perempuan, kemiskinan struktural, dan ketimpangan antarkelas, adalah sekian dari isu-isu yang masih terus diperjuangkan saat ini.
Kesan pribadi saya saat membaca ini adalah, ternyata saya dulu nggak belajar apa-apa saat belajar sejarah. Tentu, saya tahu sedikit soal Orba dan sebagainya, tetapi banyak sekali dimensi dan lapisan-lapisan kehidupan sosial kemasyarakatan, utamanya bagi kaum perempuan, yang tidak saya pelajari dalam buku-buku sejarah di sekolah. Buku ini adalah titik berangkat untuk memahami sekelumit kompleksitas era sepanjang 32 tahun tersebut.
Salah satu kekurangan buku ini menurut saya, karena ini adalah buku 'klasik' yang ditulis dalam bahasa Inggris dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, saya merasa bahwa gaya penulisan buku ini juga masih sangat klasik, misalnya dengan penggunaan istilah 'wanita'. Padahal buku ini adalah soal gender, dan saya paham betul bahwa istilah 'wanita' sudah lama ditinggalkan oleh para aktivis. Buku ini baru dicetak ulang tahun 2021, dan menurut saya soal penulisan juga perlu untuk terus di-update. Terlepas dari itu, kekurangan tersebut tidak mengurangi esensi dari buku ini.
Pernah mendengar organisasi PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) atau Dharma Wanita? Nama-nama ini mungkin akrab di telinga banyak orang. Terutama bagi mereka yang tumbuh besar di lingkungan tempat para ibu rutin mengikuti kegiatan “ibu-ibu” semacam ini. Dari rapat bulanan, arisan, hingga program-program yang katanya demi keluarga dan masyarakat. Tapi sebenarnya apa tujuan dibentuknya organisasi-organisasi ini? Apakah sekadar wadah kegiatan sosial, atau justru ada kepentingan yang lebih besar di baliknya? Melalui Ibuisme Negara: Konstruksi Sosial Keperempuanan Orde Baru, Julia Suryakusuma membongkar realitas di balik organisasi perempuan era Orde Baru—apa yang mereka lakukan, mengapa mereka lahir, dan bagaimana negara menjadikan tubuh dan peran perempuan sebagai instrumen politik. Namun, bentuk kontrol tubuh perempuan sebenarnya tidak hanya berhenti setelah orde baru runtuh. Tetapi terus bertransformasi lewat budaya dan agama yang masih didominasi oleh nilai patriarki. Di pengantar Julia mengatakan demikian, bahwa bentuk “ibuisme negara” akan terus bertransformasi entah itu lewat aturan “terinspirasi Islam” atau bentuk kontrol lewat kebijakan lainnya.
I read the different version than this. The one that I read is published by Komunitas Bambu in 2011 where it has 2 language in one book: Indonesian and English. I only read the Indonesian version.
State ibuism (ibuisme negara) is a basically a concept thought by Julia to describe the gender regime during New Order. In her analysis, Julia categorize state ibuism as a condition where the state power is being used to domesticate women in various aspect of their life from ideology, politic, economic, social, and culture. The state used PKK, an organization support by government as their instrumen to domesticated women.
This book is actually Julia's thesis on PKK specifically in Buniwangi village and Citandoh (a clove farming insidr Buniwangi village), West Java province, Indomesia. The field study was done around 1980.
This book is classics and I had hard time finding myself a copy even though I heard of this book often. Super glad to finally able to read this book. It gave me glimpse of an era in the past that I can still trace the roots till now.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Saya sudah pernah pegang buku ini di ruang baca fakultas sekitar 11-12 tahun lalu dan baru tertarik baca di tahun ini.
Ternyata konten buku berguna sebagai inspirasi dalam melakukan penelitian lapangan karena penulis menjabarkan dengan detail. Tidak mengherankan jika buku ini dianggap sebagai salah satu masterpiece yang masih relevan dengan masa kini.
The master thesis from the 1980s is still a relevant and very readable book about gender-roles defined by the state. A fine piece of social research and feminist theory. "What has changed is he role of the state... the dominant social construction has become an Islamic one - or at any rate, the version of Islam Muslim conservatives would like us to believe requires subordinate, compliant Muslim women" (from the author's 2011 introduction titled 'The More It Changes, the More It Stays the Same')