Ali Akbar Navis was a journalist and potential writer. He was a full time writer for Sripo and writes so many stories.
His famous books was “Robohnya Surau Kami” which became a monumental work for Indonesian literature. His last work is "Simarandang" a social-culture journal which been published on April 2003.
Ini sebuah kumpulan cerita/renungan yang sering dielu-elukan karena “kearifan lokal”-nya, terutama dalam konteks budaya Minangkabau. Tapi kalau saya mau jujur, buku ini juga punya sisi yang layak dikuliti.
Pertama, soal tema “alam sebagai guru”. Kedengarannya luhur, ya—seolah-olah manusia tinggal duduk manis, memandangi sawah, lalu tercerahkan. Masalahnya, penulis kadang menyajikan konsep ini seperti resep instan kebijaksanaan. Alam diposisikan sebagai entitas yang selalu benar, selalu bijak, dan—anehnya—tidak pernah kontradiktif. Padahal, realitas tidak seindah itu. Alam juga brutal, acak, dan sering tidak “mengajari” apa-apa selain bagaimana bertahan hidup. Tapi di tangan Navis, semuanya jadi terlalu rapi, terlalu moralistik—seakan dunia ini adalah kelas filsafat dengan kurikulum yang sudah disetujui tetua adat.
Kedua, ada kecenderungan mengidealkan tradisi secara agak berlebihan. Budaya Minangkabau digambarkan seperti sistem yang hampir tanpa cacat—harmonis, penuh nilai, dan selalu relevan. Ini menarik, tapi juga problematik. Karena di balik glorifikasi itu, kritik terhadap sisi gelap tradisi terasa setengah hati. Seolah-olah penulis ingin terlihat kritis, tapi tidak terlalu jauh sampai merusak “kesakralan” yang sedang ia bangun sendiri. Hasilnya? Kritik sosial yang aman—tajam di permukaan, tapi tumpul ketika menyentuh inti.
Ketiga, gaya penyampaian moralnya kadang terasa seperti ceramah yang menyamar jadi sastra. Alih-alih membiarkan pembaca menyimpulkan sendiri, penulis sering “membimbing” dengan cukup agresif—seperti guru yang takut muridnya salah paham, lalu akhirnya menjelaskan semuanya sampai tidak ada ruang interpretasi tersisa. Ironis, mengingat judulnya sendiri menyuruh saya belajar dari alam—yang justru ambigu, terbuka, dan tidak pernah memberi jawaban tunggal.
Namun, bukan berarti buku ini tidak bernilai. Justru di situlah letak ironi yang menarik: di balik semua kecenderungan menggurui dan romantisasi tradisi, tetap ada kegelisahan intelektual yang nyata. Penulis sebenarnya sedang bergulat antara mempertahankan nilai lama dan menghadapi modernitas—hanya saja, ia sering memilih jalan yang “aman secara moral” daripada benar-benar mengguncang pembaca.
Singkatnya, ini adalah karya yang ingin terlihat bijak—dan sering berhasil—tapi juga tidak bisa lepas dari kebiasaan lama sastra kita: terlalu senang memberi jawaban, terlalu takut membiarkan pertanyaan tetap hidup.