Judul Buku: Bob Marley dan 11 Cerpen Pilihan Sriti.com (Bob Marley) Editor: P. Chusnato Sukiman Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Tebal: 128 halaman Cetakan 1, Desember 2009
Cerpen-cerpen di media-media cetak tak pernah luntur peminatnya. Selalu saja ada orang yang membacanya. Para pembaca akan menganggap bahwa kisah-kisah tak akan pernah habis diceritakan. Hari berganti, kisah berganti. Setiap kisah mengandung daya tersendiri dalam membangkitkan suatu kesadaran tentang hakikat hidup manusia dan kemanusiaan -- karena cerpen-cerpen ditulis oleh manusia.
Kenyataan itulah yang ditangkap oleh para pendiri Sriti.com, sebuah situs yang mendokumentasikan cerpen-cerpen koran. Pada tanggal 15 Agustus 2000, di sana hanya terdapat 186 cerpen saja. Namun, kini sudah lebih dari 3000 cerpen tertampung di dalamnya; berasal dari 52 media yang berbeda. Sebuah pencapaian dari dedikasi yang tak tanggung-tanggung.
Pada tahun 2009, lahirlah niat dalam diri para pendiri Sriti.com yakni P. Chusnato Sukiman, Bany Akbar, dan Anggoro Gunawan, untuk membuat sebuah buku kumpulan cerpen. Seleksi pun dilakukan atas cerpen-cerpen yang dimuat di koran-koran dalam rentang Agustus 2008 hingga Agustus 2009. Maka lahirlah buku kumpulan cerpen Bob Marley dengan cover yang manis ini.
Cerpen pertama dan utama dalam buku ini adalah Kematian Bob Marley yang ditulis Hasan Al Banna. Cerpen yang dimuat di Koran Tempo 9 Maret 2009 ini unik sekali. Tokoh utamanya yang bernama Jusmar Ghozali bin Hoesin, oleh orang-orang sekampungnya dijuluki Bob Marley. Sebabnya ia berkulit gelap dan berambut gimbal secara alami.
Kehidupan Bob Marley yang tak tertata, ganjil, tanpa arah-tujuan, begitu kuat digambarkan oleh Hasan. Bob Marley bahkan suka mengganja dan minum tuak -- walau ia akan marah-marah bila mendapati pemuda desa melakukan dua hal yang sama itu. Kepergiannya di usia muda -- 39 tahun -- telah menyisakan kegagapan di antara orang-orang yang ditinggalkannya. Kepergiannya mengingatkan saya pada Michael Sullivan dalam film Road to Perdition: Setelah sang ayah meninggal dan kemudian membuahkan berbagai kabar simpang-siur dan anggapan orang yang beragam tentang dirinya, si anak hanya bisa berkata, "Dia adalah ayahku."
Setelah Kematian Bob Marley, sidang pembaca akan disuguhi cerpen-cerpen dengan tema-tema lain. P. Chusnato Sukiman, editor buku ini, menyatakan kalau cerpen-cerpen yang ada di buku ini mempunyai "... karakter, pesona, warna, dan aroma" yang berbeda. Masing-masing cerpen memiliki karakter dan ciri yang susah dicari kesamaannya. Kemiripan-kemiripan yang ada paling-paling berkisar seputar tema yang diangkat.
Cerpen Induak Tubo karya Zelfeni Wimra mempunyai kemiripan dengan Tanah Lalu karya Yetti A.KA dan Batubujang karya Benny Arnas. Ketiganya bernuansa kedaerahan. Di antara ketiganya, yang terunik adalah Induak Tubo.
Dalam Induak Tubo, pertama-tama pembaca akan menikmati kisah seseorang yang sedang menulis surat kepada saudaranya. Namun kemudian, sudut pandang penceritaan berubah dengan mulus sekali ketika surat itu dilampiri sebuah dongeng yang menyayat-nyayat tentang seorang ibu tua yang tetap gigih bertahan hidup dengan bertani di desa. Cerpen ini mengajak kita menyusuri sekilas budaya Padang.
Dalam cerpen ini dikisahkan dilema hidup yang menggigit, yang dihadapi sebuah keluarga kecil: Ibu yang tinggal setia di kampung halaman, semakin tua namun tetap gigih bekerja, akankah ia ditinggal merantau oleh anak-anaknya di kota; atau adakah salah satu anaknya tetap mau menunjukkan bakti dengan hidup bersamanya hingga tutup usia, sementara keadaan di desa serba statis?
Ada juga dua cerpen yang bertema cinta. Pertama adalah Malam Basilisk karya Dinar Rahayu. Kedua adalah Cinta pada Sebuah Pagi karya Eep Saefulloh Fatah. Malam Basilisk menggunakan bahasa yang terlalu absurd, terkesan mengambang. Fokus bercerita pun kurang jelas: ada teh, malam, basilisk yang konon adalah raja ular dalam legenda Eropa, dan cinta sebagai tema besar.
Cinta pada Sebuah Pagi jauh lebih nyaman diikuti. Bagian awal kisahnya hingga menjelang akhir sangat romantis -- terbaca oleh remaja hingga orang dewasa. Di sini juga ada guyonan mesra yang nakal, yang rasanya akan disukai pembaca: "Lebih baik berhidung pesek tapi dengan dua bukit mancung dan terurus di bawahnya." Namun, Eep tidak hanya sedang bermain-main dengan romantika. Kisah yang begitu manis di empat per lima bagian awal cerita, ditutup dengan sindiran yang cukup tajam pada seperlima bagian akhir: sindiran atas isu-isu feminisme. Eep dengan jeli menangkap realitas kehidupan metropolis yang sedang berkembang saat ini.
Entah kebetulan atau tidak, ada dua cerpen dengan judul yang menggunakan kata "kunang-kunang". Pertama adalah Satu Kunang-kunang, Seribu Tikus karya Intan Paramaditha. Kedua adalah Malam Kunang-kunang karya Rama Dira. Intan menggunakan alur ganda dalam penceritaannya. Sambung-menyambung kisah yang ia bagi dalam dua alur terjalin apik dan penuh kejutan. Sementara Rama lebih menggali keindahan bahasa dan keriangan dunia anak-anak kecil yang suka bermain-main dengan kunang-kunang dalam cerpennya. Tema kedua cerpen ini mirip, tentang dunia arwah, namun cerpen Intan memuat nuansa magis yang terasa lebih kental daripada cerpen Rama.
Sudah delapan cerpen disebutkan di atas. Bagaimana dengan empat cerpen yang lain? Kandang karya Yanusa Nugroho, Kunti Tak Berhenti Berlari karya Berto Tukan, Guru Safedi karya Farizal Sikumbang dan Aku Bercerita dari Pesawat yang Sedang Terbang karya Bamby Cahyadi adalah cerpen-cerpen yang mencelat dari tema-tema yang sudah disebut di atas.
Yanusa menyampaikan ejekan yang telak lewat Kandang-nya. Ia resah dengan kehidupan di perkotaan yang kian individualistis. Ia mengisahkan seorang tokoh yang menginginkan sebuah hubungan bertetangga, berkomunitas, langgeng dan guyub. Niat baik pun dikerahkan: menolong orang asing. Namun, niat baik itu ternyata tak cukup. Orang yang ditolong balas nyolong. Akhir cerpen pun jadi terkisah begitu satiris. Dalam satu hal ini, cerpen Guru Safedi karya Farizal bisa dimiripkan. Cerpen ini memuat ejekan atas dunia pendidikan di negeri ini. Saya teringat lagu Oemar Bakri karya Iwan Fals ketika membacanya: Guru Safedi hanya digaji 60 ribu sebulan, masih disalahmengerti dan dimaki oleh salah satu orang tua muridnya -- begitu miris.
Kunti Tak Berhenti Berlari adalah cerpen dengan imajinasi yang liar dan susah diikuti. Kalimat-kalimat Berto tertuang seperti ceracau orang tak sadar. Ia sedang menjalin relasi antara realitas dan mimpi dalam cerpennya ini. Untunglah alur yang ia bangun cukup kuat, sehingga menjadikan ceritanya bisa diikuti sampai akhir.
Aku Bercerita dari Pesawat yang Sedang Terbang karya Bamby Cahyadi adalah cerpen yang terbangun mantap sejak awal. Dalam cerita ini Bamby menghadirkan kalimat-kalimat yang liris dan runut. Keisengan beberapa anak remaja SMP dalam cerita Bamby yang nonton bioskop menjelang ujian nasional terkisah amat wajar -- ya, mereka perlu hiburan sesekali. Namun, dengan wajar -- dan tak mengada-ada pula -- keisengan itu berbuntut sebuah kejadian yang akan mengubah selama-lamanya hidup salah seorang anak iseng tadi.
Cerita Bamby ini mirip dengan film Sleepers tentang empat orang anak beranjak remaja yang suka guyon -- guyonan melulu. Hingga suatu ketika guyonan mereka menewaskan seorang penjual hotdog di sebuah stasiun kereta. Dari situ penyesalan demi penyesalan terus bergaung, menyisakan kemelut dan gejolak yang sukar ditepis sepanjang hayat. Akhir cerita Bamby yang meliuk begitu tajam menyisakan renungan dan tanda tanya: keisengan dan kekonyolan apa sajakah yang sudah kita buat dalam hidup ini, yang membuat satu sisi hidup kita jadi porak-poranda?
***
Demikianlah cerpen-cerpen yang ada dalam buku ini mengajak para pembaca mengembara, menyimak kisah-kisah yang beda warna dan ciri. Di zaman ini, saat cerpen dapat kita baca lewat situs-situs koran, rasanya kita masih tetap membutuhkan buku sebagai media untuk dibaca. "Kita mengalami sensasi yang lain ketika membolak-balik lembar demi lembar buku cerita," kata seorang pecinta buku. Ya, membolak-balik lembar-lembar yang bercerita dalam kumpulan Bob Marley tak sama dengan kalau kita menyimak cerita dengan menekan scroll mouse menurun dan terus menurun di depan laptop atau komputer.
Akhirnya, kiranya Sriti.com di masa depan menghadirkan kumpulan cerita serupa Bob Marley yang diproses secara selektif dengan melibatkan berbagai pihak yang sudah "hidup-mati dengan cerpen", mengingat cerpenis dan cerpen-cerpen koran Minggu begitu variatif, dan masing-masing di antaranya tetap punya kemungkinan yang sama untuk menghadirkan sensasi yang asyik bagi sidang pembaca yang budiman: yang setia membaca cerpen demi cerpen, yang tersisip di antara lembar-lembar koran Minggu. -- Sidik Nugroho
cerita dan topik dari 12 cerpen dalam buku ini beragam, ada satu yg bikin aku tersenyum, judulnya "Cinta Pada Sebuah Padi" karya Eep Saefullah Fatah, ya...yg suka jadi bintang tamu pada acara bincang-bincang politik di TV. ceritanya simple, cuma semppat kaget dengan tikungan *hallah* pada akhir cerita. keren!! begitulah pendongeng yg hebat harusnya bercerita.
Sebagai sebuah situs, Sriti.com punya kelangkaan spirit yang belum dimiliki situs-situs sastra di masa sekarang. Aku rajin mengunjungi Sriti.com di setiap hari Selasa, sebab hari itu akan bisa membaca beberapa cerpen Indonesia sekaligus (tanpa perlu membeli korannya) sekaligus mendapatkan banyak cerpen yang sekiranya belum memungkinkan dicari (karena koran lokal / daerah-daerah yang belum memiliki situs). Dan lihat, itu kejadian di tahun 2000-an awal, saat internet menjadi barang mewah. Buku Bob Marley ini memiliki kekhasan yang tidak dimiliki oleh seleksi / kumpulan cerpen-cerpen media, karena ia memuat banyak sekali cerpen dari koran daerah. Ada nama-nama besar, tapi menyelip beberapa nama baru yang segar. Kumcer ini mengambil sikap pada sebaran tema yang tidak dimiliki oleh kumcer pilihan lain. Kesan indienya berasa banget. Aku suka ini. Sayangnya, Situs ini lenyap dari peredaran ketika gawai mulai menyediakan kemudahan internet.
Sebelas cerpen yang awalnya diterbitkan oleh Sriti.com ini berasal dari koran Minggu baik yang berskala nasional seperti Koran Tempo dan Kompas, maupun media lokal seperti Batam Pos, Suara Merdeka, dll.
Dari kesebelas cerpen itu, tidak semuanya saya mengerti. Ada yang buat saya terlalu absurd, atau karena saya perlu memahami budaya dari setting cerpen itu (buat saya, ada cerpen terentu yang membutuhkn pengetahuan budaya setempat untuk memahami cerpen tersebut). Ada cerpen yang bahasanya ringan, mengalir, dan asyik diikuti.
Hampir kesemua cerpen itu meninggalkan sebuah perenungan selesai membaca, sebuah kritik yang disampaikan oleh penulisnya mengengai permasalahan-permasalahan yang muncul ketika cerpen tersebut ditulis.